DESCRIPTION OF INSIDE COMMUNITY KNOWLEDGE SELF- SELF-TREATMENT (SWAMEDICATION) FOR ANALGESIC DRUGS
A. Demografi responden
Dari hasil penelitian didapat distribusi frekuensi responden yang melakukan pengobatan sendiri, dapat dilihat pada tabel 1
Tabel 1. Distribusi Responden terhadap Pengobatan sendiri (swamedikasi) pada Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukamajaya Depok
No Pengobatan sendiri Jumlah %
1 Ya 225 90
2 Tidak 25 10
Jumlah 250 100
Dari tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 25 responden (10%) belum pernah melakukan swamedikasi terhadap obat nyeri, dan sebanyak 225
responden (90%) melakukan
swamedikasi terhadap rasa nyeri dengan menggunakan analgesik.
1. Gambaran umur responden
Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Umur di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
No Kategori Umur Jumlah %
1 <30 tahun 99 39.6
2 ≥30 tahun 151 60.4
Jumlah 250 100
Dari tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 99 responden (39.6%) berusia <30 tahun, dan sebanyak 151 responden (60.4%) berusia ≥30tahun.
Dari hasil penelitian terhadap
karakteristik responden yang didapat bahwa responden dengan umur ≥30 tahun lebih menunjukan sikap antusias dan terbuka. Selain itu mereka sudah banyak melakukan pengobatan sendiri
231
untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan obat analgesik yaitu sebanyak 151 responden (60.4%).
2. Gambaran responden
berdasarkan jenis kelamin
Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
No. Jenis Kelamin Jumlah %
1 Laki-laki 114 45.6
2 Perempuan 136 54.4
Jumlah 250 100
Dari tabel 3 diatas dapat
diketahui bahwa sebanyak 114
responden (45.6%) adalah laki-laki, dan sebanyak 136 responden (54.4%) adalah perempuan. Berdasarkan jenis kelamin tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal jumlah responden yang melakukan swamedikasi. Hal ini
terlihat dari jumlah responden laki laki yaitu sebanyak 114 orang (45.6%), dan responden perempuan yaitu sebanyak 136 orang (54.4%).
3. Gambaran responden
berdasarkan pendidikan
Tabel 4. Distribusi Responden berdasarkan tingkat Pendidikan di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
No. Tingkat Pendidikan Jumlah %
1 Rendah 179 71.6
2 Tinggi 71 28.4
Jumlah 250 100
Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa 71 responden )28,4%) berpendidikan
tinggi (Perguruan Tinggi), dan sebanyak 179 responden (71.6%) berpendidikan
rendah SMA/SMP/SD). Tingkat
pendidikan responden yang
berpendidikan tinggi (perguruan tinggi) sebanyak 71 responden (28.4%) dan
pendidikan rendah (SD/SMP/SMA)
sebanyak 179 responden (71.6%).
Selama penelitian berlangsung
pendidikan tinggi lebih mudah
menyerap pertanyaan yang diberikan saat wawancara dibandingkan yang
berpendidikan rendah. Hubungan
tingkat pendidikan dengan pengobatan
sendiri untuk obat analgesik
menunjukan adanya hubungan yang signifikan, yaitu dengan menggunakan metode chi square dari hasil analisis diperoleh responden dengan pendidikan rendah mempunyai peluang 0,321 kali melakukan pengobatan sendiri.
JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA VOL.2 NO.3, 2020
232
4. Gambaran responden berdasarkan status pekerjaan
Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan Status Pekerjaan di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
No Pekerjaan Jumlah %
1. Bekerja 190 76
2. Tidak Bekerja 60 24
Jumlah 250 100
Dari tabel 5 diatas dapat
diketahui bahwa sebanyak 190
responden (76%) bekerja, dan sebanyak 60 responden (24%) tidak bekerja. Dari
hasil penelitian status responden
sebagian besar bekerja yaitu sebanyak
190 responden (76%), tingkat
penghasilan tidak ada perbedaan yang
bermakna, terlihat dari tingkat
penghasilan dibawah UMR yaitu
sebanyak 122 responden (48.8%)
dengan responden yang berpenghasilan diatas UMR yaitu sebanyak 128 responden (51.2%).
B. Gambaran pengetahuan
masyarakat tentang pengobatan sendiri (swamedikasi)
Tabel 6. Distribusi Responden tentang Pengetahuan Pengobatan Sendiri di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
No Gambaran Pengetahuan Jumlah %
1 Tinggi 180 72
2 Rendah 70 28
Jumlah 250 100
Dari tabel 6 dapat diketahui bahwa
sebanyak 180 responden (72%)
memiliki pengetahuan tentang
pengobatan sendiri tinggi, dan sebanyak
70 responden (28%) pengetahuan
tentang pengobatan sendiri rendah. Dari hasil penelitian, masyarakat di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok yang melakukan pengobatan sendiri yaitu sebanyak 225 responden
(90%). Sebagian besar responden
ternyata melakukan pengobatan sendiri untuk meredakan nyeri.
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang swamedikasi cukup tinggi yaitu
sebanyak 180 responden (72%).
Demikian juga pengetahuan responden terhadap analgesik yaitu sebanyak 147 responden (58.8%).
Hubungan pengetahuan
swamedikasi responden dengan
pengobatan sendiri terbukti adanya hubungan yang signifikan, yaitu dengan metode chi square, dari hasil analisis
diperoleh responden dengan
233
mempunyai peluang 3,193 kali untuk
melakukan pengobatan sendiri. 1. Hubungan umur dengan
pengobatan sendiri obat analgesik
Tabel 7. Distribusi Responden berdasarkan Umur dengan Pengobatan Sendiri obat analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
Umur Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % <30 tahun 10 10.1 89 89.9 1.000 1.019 ≥30 tahun 15 9.9 136 90.1 0.438-2.368 Total 25 10 225 90
Dari tabel 7 dapat diketahui bahwa responden umur <30 tahun yang melakukan pengobatan sendiri sebesar 89.9% sedangkan responden umur ≥30 tahun yang melakukan pengobatan sendiri sebesar 90.1%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value >0.05 sehingga secara statistik tidak terbukti adanya
hubungan yang signifikan antara umur dengan pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok.
2. Hubungan tingkat pendidikan dengan pengobatan sendiri obat analgesik
Tabel 8. Distribusi Responden berdasarkan tingkat Pendidikan dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
Pendidikan Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % Rendah 12 6.7 167 93.3 0.012 0.321 Tinggi 13 18.3 58 81.7 0.138-0.742 Total 25 10 225 90
Dari tabel 8 dapat diketahui bahwa responden dengan pendidikan rendah yang melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar
93.3% sedangkan responden dengan pendidikan tinggi yang melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar 81.7%. hasil uji statistik diperoleh nilai p value <0.05 sehingga
JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA VOL.2 NO.3, 2020
234
secara statistik terbukti adanya
hubungan yang signifikan antara
pendidikan dengan pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR= 0,321 artinya responden dengan pendidikan yang rendah mempunyai peluang 0,321 kali
melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik dibanding dengan tingkat pendidikan yang tinggi.
3. Hubungan status pekerjaan dengan pengobatan sendiri obat analgesik
Tabel 9. Distribusi Responden berdasarkan Status Pekerjaan dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
Pekerjaan Swamedikasi Obat analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya n % N % Bekerja 19 10 171 90 1.000 1.000 Tidak bekerja 6 10 54 90 0.380-2.631 Total 25 10 225 90
Dari tabel 9 dapat diketahui bahwa responden yang bekerja melakukan
pengobatan sendiri sebesar 90%
sedangkan responden yang tidak bekerja melakukan
Tabel 10. Distribusi Responden berdasarkan Tingkat Penghasilan dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
Dari tabel 10 dapat diketahui bahwa responden berpenghasilan tinggi melakukan pengobatan sendiri sebesar 91.8% sedangkan responden yang
berpenghasilan rendah melakukan
pengobatan sendiri sebesar 88.3%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value >0.05 sehingga secara statistik tidak terbukti adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengobatan Penghasilan Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % n % <2.700.000 10 8.2 112 91.8 0.473 0.673 ≥2.700.000 15 11.7 113 88.3 0.290-1.561 Total 25 10 225 90
235
sendiri pada obat analgesik di
Kelurahan Sukmajaya Depok.
4. Hubungan pengetahuan swamedikasi dengan pengobatan sendiri obat analgesic
Tabel 11. Distribusi Responden berdasarkan Pengetahuan Swamedikasi dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok
Dari tabel 11 dapat diketahui bahwa responden yang berpengetahuan rendah melakukan pengobatan sendiri sebesar 81.4% sedangkan responden yang
berpengetahuan tinggi melakukan
pengobatan sendiri sebesar 93.3%. hasil uji statistik diperoleh nilai p value <0.05 sehingga secara statistik terbukti adanya hubungan yang signifikan antara
pengetahuan swamedikasi dengan
pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok. Dari
hasil analisis diperoleh nilai OR= 3,193 artinya responden dengan pengetahuan swamedikasi yang tinggi mempunyai
peluang 3,193 kali melakukan
pengobatan sendiri pada obat analgesik
dibanding dengan pengetahuan
swamedikasi yang rendah.
5. Hubungan pengetahuan analgesik dengan pengobatan sendiri obat analgesik
Pengetahuan Analgesik Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % Rendah 12 11.7 91 88.3 0.607 1.359 Tinggi 13 8.8 134 91.2 594-3.113 Total 25 10 225 90
Dari tabel 12 dapat diketahui bahwa responden dengan pengetahuan
analgesik yang rendah melakukan
pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar 88.3% sedangkan responden
dengan pengetahuan analgesik yang tinggi melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar 91.2% Hasil uji statistik diperoleh nilai p value >0.05 sehingga secara statistik tidak
terbukti adanya hubungan yang
Pengetahuan Swamedikasi Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % Rendah 13 18.6 57 81.4 0.010 3.193 Tinggi 12 6.7 168 93.3 1.378-7.397 Total 25 10 225 90
JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA VOL.2 NO.3, 2020
236
signifikan antara pengetahuan analgesik dengan pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang sudah
dilakukan maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari 250 Responden, 225
responden (90%) pernah
melakukan swamedikasi dengan
obat analgesik, dan 72%
memiliki pengetahuan
swamedikasi cukup tinggi serta 58,8% memiliki pengetahuan tentang obat analgesiknya. 2. Responden dengan pendidikan
rendah mempunyai peluang
0,321 kali melakukan
pengobatan sendiri, sedangkan
responden yang memiliki
pengetahuan swamedikasi cukup tinggi mempunyai peluang 3,193
kali melakukan pengobatan
sendiri, dan alasan responden melakukan swamedikasi yaitu penyakit dianggap masih ringan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada Akademi Farmasi Bhumi Husada Jakarta yang telah mendanai penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Asmarani, E., 2014, Gambaran
Pengetahuan dan Kerasionalan
Penggunaan Obat Bebas dan Bebas
Terbatas pada Swamedikasi oleh
Masyarakat di RW 015 Kelurahan Mampang Kecamatan Pancoran Mas Depok Tahun 2014. Karya Tulis Ilmiah. Jurusan Farmasi Poltekes II, Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 2000. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Jakarta.
Supardi, S., Notosiswoyo, 2006, M.
Pengobatan Sendiri Sakit Kepala
Demam, Batuk, dan Flu pada
Masyarakat di Desa Ciwalen,
Kecamatan Warungkondang,
Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.2005.
from http://
jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2005/vo2n03.
Djunarko, I., dan Hendrawati, D. 2011. Swamedikasi yang Baik dan Benar Citra Aji Pratama. Yogyakarta.
Hermawati, D.,2012. Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan
Rasionalitas Penggunaan Obat
Swamedikasi Pengunjung di Dua
Apotek Kecamatan Cimanggis, Depok, Skripsi, Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam, Depok.