• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demografi responden

Dalam dokumen JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA (Halaman 113-119)

DESCRIPTION OF INSIDE COMMUNITY KNOWLEDGE SELF- SELF-TREATMENT (SWAMEDICATION) FOR ANALGESIC DRUGS

A. Demografi responden

Dari hasil penelitian didapat distribusi frekuensi responden yang melakukan pengobatan sendiri, dapat dilihat pada tabel 1

Tabel 1. Distribusi Responden terhadap Pengobatan sendiri (swamedikasi) pada Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukamajaya Depok

No Pengobatan sendiri Jumlah %

1 Ya 225 90

2 Tidak 25 10

Jumlah 250 100

Dari tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 25 responden (10%) belum pernah melakukan swamedikasi terhadap obat nyeri, dan sebanyak 225

responden (90%) melakukan

swamedikasi terhadap rasa nyeri dengan menggunakan analgesik.

1. Gambaran umur responden

Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Umur di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

No Kategori Umur Jumlah %

1 <30 tahun 99 39.6

2 ≥30 tahun 151 60.4

Jumlah 250 100

Dari tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 99 responden (39.6%) berusia <30 tahun, dan sebanyak 151 responden (60.4%) berusia ≥30tahun.

Dari hasil penelitian terhadap

karakteristik responden yang didapat bahwa responden dengan umur ≥30 tahun lebih menunjukan sikap antusias dan terbuka. Selain itu mereka sudah banyak melakukan pengobatan sendiri

231

untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan obat analgesik yaitu sebanyak 151 responden (60.4%).

2. Gambaran responden

berdasarkan jenis kelamin

Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

No. Jenis Kelamin Jumlah %

1 Laki-laki 114 45.6

2 Perempuan 136 54.4

Jumlah 250 100

Dari tabel 3 diatas dapat

diketahui bahwa sebanyak 114

responden (45.6%) adalah laki-laki, dan sebanyak 136 responden (54.4%) adalah perempuan. Berdasarkan jenis kelamin tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal jumlah responden yang melakukan swamedikasi. Hal ini

terlihat dari jumlah responden laki laki yaitu sebanyak 114 orang (45.6%), dan responden perempuan yaitu sebanyak 136 orang (54.4%).

3. Gambaran responden

berdasarkan pendidikan

Tabel 4. Distribusi Responden berdasarkan tingkat Pendidikan di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

No. Tingkat Pendidikan Jumlah %

1 Rendah 179 71.6

2 Tinggi 71 28.4

Jumlah 250 100

Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa 71 responden )28,4%) berpendidikan

tinggi (Perguruan Tinggi), dan sebanyak 179 responden (71.6%) berpendidikan

rendah SMA/SMP/SD). Tingkat

pendidikan responden yang

berpendidikan tinggi (perguruan tinggi) sebanyak 71 responden (28.4%) dan

pendidikan rendah (SD/SMP/SMA)

sebanyak 179 responden (71.6%).

Selama penelitian berlangsung

pendidikan tinggi lebih mudah

menyerap pertanyaan yang diberikan saat wawancara dibandingkan yang

berpendidikan rendah. Hubungan

tingkat pendidikan dengan pengobatan

sendiri untuk obat analgesik

menunjukan adanya hubungan yang signifikan, yaitu dengan menggunakan metode chi square dari hasil analisis diperoleh responden dengan pendidikan rendah mempunyai peluang 0,321 kali melakukan pengobatan sendiri.

JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA VOL.2 NO.3, 2020

232

4. Gambaran responden berdasarkan status pekerjaan

Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan Status Pekerjaan di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

No Pekerjaan Jumlah %

1. Bekerja 190 76

2. Tidak Bekerja 60 24

Jumlah 250 100

Dari tabel 5 diatas dapat

diketahui bahwa sebanyak 190

responden (76%) bekerja, dan sebanyak 60 responden (24%) tidak bekerja. Dari

hasil penelitian status responden

sebagian besar bekerja yaitu sebanyak

190 responden (76%), tingkat

penghasilan tidak ada perbedaan yang

bermakna, terlihat dari tingkat

penghasilan dibawah UMR yaitu

sebanyak 122 responden (48.8%)

dengan responden yang berpenghasilan diatas UMR yaitu sebanyak 128 responden (51.2%).

B. Gambaran pengetahuan

masyarakat tentang pengobatan sendiri (swamedikasi)

Tabel 6. Distribusi Responden tentang Pengetahuan Pengobatan Sendiri di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

No Gambaran Pengetahuan Jumlah %

1 Tinggi 180 72

2 Rendah 70 28

Jumlah 250 100

Dari tabel 6 dapat diketahui bahwa

sebanyak 180 responden (72%)

memiliki pengetahuan tentang

pengobatan sendiri tinggi, dan sebanyak

70 responden (28%) pengetahuan

tentang pengobatan sendiri rendah. Dari hasil penelitian, masyarakat di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok yang melakukan pengobatan sendiri yaitu sebanyak 225 responden

(90%). Sebagian besar responden

ternyata melakukan pengobatan sendiri untuk meredakan nyeri.

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang swamedikasi cukup tinggi yaitu

sebanyak 180 responden (72%).

Demikian juga pengetahuan responden terhadap analgesik yaitu sebanyak 147 responden (58.8%).

Hubungan pengetahuan

swamedikasi responden dengan

pengobatan sendiri terbukti adanya hubungan yang signifikan, yaitu dengan metode chi square, dari hasil analisis

diperoleh responden dengan

233

mempunyai peluang 3,193 kali untuk

melakukan pengobatan sendiri. 1. Hubungan umur dengan

pengobatan sendiri obat analgesik

Tabel 7. Distribusi Responden berdasarkan Umur dengan Pengobatan Sendiri obat analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

Umur Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % <30 tahun 10 10.1 89 89.9 1.000 1.019 ≥30 tahun 15 9.9 136 90.1 0.438-2.368 Total 25 10 225 90

Dari tabel 7 dapat diketahui bahwa responden umur <30 tahun yang melakukan pengobatan sendiri sebesar 89.9% sedangkan responden umur ≥30 tahun yang melakukan pengobatan sendiri sebesar 90.1%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value >0.05 sehingga secara statistik tidak terbukti adanya

hubungan yang signifikan antara umur dengan pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok.

2. Hubungan tingkat pendidikan dengan pengobatan sendiri obat analgesik

Tabel 8. Distribusi Responden berdasarkan tingkat Pendidikan dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

Pendidikan Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % Rendah 12 6.7 167 93.3 0.012 0.321 Tinggi 13 18.3 58 81.7 0.138-0.742 Total 25 10 225 90

Dari tabel 8 dapat diketahui bahwa responden dengan pendidikan rendah yang melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar

93.3% sedangkan responden dengan pendidikan tinggi yang melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar 81.7%. hasil uji statistik diperoleh nilai p value <0.05 sehingga

JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA VOL.2 NO.3, 2020

234

secara statistik terbukti adanya

hubungan yang signifikan antara

pendidikan dengan pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR= 0,321 artinya responden dengan pendidikan yang rendah mempunyai peluang 0,321 kali

melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik dibanding dengan tingkat pendidikan yang tinggi.

3. Hubungan status pekerjaan dengan pengobatan sendiri obat analgesik

Tabel 9. Distribusi Responden berdasarkan Status Pekerjaan dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

Pekerjaan Swamedikasi Obat analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya n % N % Bekerja 19 10 171 90 1.000 1.000 Tidak bekerja 6 10 54 90 0.380-2.631 Total 25 10 225 90

Dari tabel 9 dapat diketahui bahwa responden yang bekerja melakukan

pengobatan sendiri sebesar 90%

sedangkan responden yang tidak bekerja melakukan

Tabel 10. Distribusi Responden berdasarkan Tingkat Penghasilan dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

Dari tabel 10 dapat diketahui bahwa responden berpenghasilan tinggi melakukan pengobatan sendiri sebesar 91.8% sedangkan responden yang

berpenghasilan rendah melakukan

pengobatan sendiri sebesar 88.3%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value >0.05 sehingga secara statistik tidak terbukti adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengobatan Penghasilan Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % n % <2.700.000 10 8.2 112 91.8 0.473 0.673 ≥2.700.000 15 11.7 113 88.3 0.290-1.561 Total 25 10 225 90

235

sendiri pada obat analgesik di

Kelurahan Sukmajaya Depok.

4. Hubungan pengetahuan swamedikasi dengan pengobatan sendiri obat analgesic

Tabel 11. Distribusi Responden berdasarkan Pengetahuan Swamedikasi dengan Pengobatan Sendiri Obat Analgesik di RW 09 dan RW 10 Kelurahan Sukmajaya Depok

Dari tabel 11 dapat diketahui bahwa responden yang berpengetahuan rendah melakukan pengobatan sendiri sebesar 81.4% sedangkan responden yang

berpengetahuan tinggi melakukan

pengobatan sendiri sebesar 93.3%. hasil uji statistik diperoleh nilai p value <0.05 sehingga secara statistik terbukti adanya hubungan yang signifikan antara

pengetahuan swamedikasi dengan

pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok. Dari

hasil analisis diperoleh nilai OR= 3,193 artinya responden dengan pengetahuan swamedikasi yang tinggi mempunyai

peluang 3,193 kali melakukan

pengobatan sendiri pada obat analgesik

dibanding dengan pengetahuan

swamedikasi yang rendah.

5. Hubungan pengetahuan analgesik dengan pengobatan sendiri obat analgesik

Pengetahuan Analgesik Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % Rendah 12 11.7 91 88.3 0.607 1.359 Tinggi 13 8.8 134 91.2 594-3.113 Total 25 10 225 90

Dari tabel 12 dapat diketahui bahwa responden dengan pengetahuan

analgesik yang rendah melakukan

pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar 88.3% sedangkan responden

dengan pengetahuan analgesik yang tinggi melakukan pengobatan sendiri pada obat analgesik sebesar 91.2% Hasil uji statistik diperoleh nilai p value >0.05 sehingga secara statistik tidak

terbukti adanya hubungan yang

Pengetahuan Swamedikasi Swamedikasi Obat Analgesik P Value OR (95%CI) Tidak Ya N % N % Rendah 13 18.6 57 81.4 0.010 3.193 Tinggi 12 6.7 168 93.3 1.378-7.397 Total 25 10 225 90

JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA VOL.2 NO.3, 2020

236

signifikan antara pengetahuan analgesik dengan pengobatan sendiri pada obat analgesik di Kelurahan Sukmajaya Depok.

SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang sudah

dilakukan maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari 250 Responden, 225

responden (90%) pernah

melakukan swamedikasi dengan

obat analgesik, dan 72%

memiliki pengetahuan

swamedikasi cukup tinggi serta 58,8% memiliki pengetahuan tentang obat analgesiknya. 2. Responden dengan pendidikan

rendah mempunyai peluang

0,321 kali melakukan

pengobatan sendiri, sedangkan

responden yang memiliki

pengetahuan swamedikasi cukup tinggi mempunyai peluang 3,193

kali melakukan pengobatan

sendiri, dan alasan responden melakukan swamedikasi yaitu penyakit dianggap masih ringan.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kepada Akademi Farmasi Bhumi Husada Jakarta yang telah mendanai penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Asmarani, E., 2014, Gambaran

Pengetahuan dan Kerasionalan

Penggunaan Obat Bebas dan Bebas

Terbatas pada Swamedikasi oleh

Masyarakat di RW 015 Kelurahan Mampang Kecamatan Pancoran Mas Depok Tahun 2014. Karya Tulis Ilmiah. Jurusan Farmasi Poltekes II, Jakarta

Departemen Kesehatan RI. 2000. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Jakarta.

Supardi, S., Notosiswoyo, 2006, M.

Pengobatan Sendiri Sakit Kepala

Demam, Batuk, dan Flu pada

Masyarakat di Desa Ciwalen,

Kecamatan Warungkondang,

Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.2005.

from http://

jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2005/vo2n03.

Djunarko, I., dan Hendrawati, D. 2011. Swamedikasi yang Baik dan Benar Citra Aji Pratama. Yogyakarta.

Hermawati, D.,2012. Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan

Rasionalitas Penggunaan Obat

Swamedikasi Pengunjung di Dua

Apotek Kecamatan Cimanggis, Depok, Skripsi, Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam, Depok.

Dalam dokumen JURNAL RISET KEFARMASIAN INDONESIA (Halaman 113-119)

Dokumen terkait