• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demokrasi dalam Pemilu 2009

BERDEMOKRASI PADA PEMILU 2009 DALAM SUATU TINJAUAN FILOSOFIS

B. Kearifan Demokrasi

7. Demokrasi dalam Pemilu 2009

Semua kita tahu bahwa pemilihan umum adalah sebuah syarat, meskipun syarat yang amat mahal di Indonesia, untuk memenuhi sebuah prosedur demokrasi. Namun, demokrasi bukan sekadar sebuah prosedur atau jalan, tetapi mempunyai tujuannya sendiri yang dirumuskan dalam nilai-nilai universal yang diakui di semua negara demokratis. Menganggap demokrasi hanyalah sebuah prosedur adalah asumsi yang bisa berbahaya karena demokrasi hanya diperlakukan sebagai suatu sarana instrumental, yang boleh ditinggalkan begitu saja, apabila tidak membawa manfaat yang dikehendaki.

Kalau pelaksanaan demokrasi di Indonesia tidak membawa kesejahteraan, apakah demokrasi boleh ditinggalkan, dan kita sebaiknya kembali lagi ke pemerintahan yang otoriter tetapi menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan? Pada titik itu perlu diingat kembali bahwa demokrasi bukan sekadar jalan prosedural, bukan sekadar sarana instrumental, tetapi suatu cita-cita dengan tujuan-tujuan yang bersifat substantif, yaitu kebebasan, persamaan, keadilan, dan kesejahteraan. Para saudara kita yang akan lolos sebagai pemenang dalam pemilihan umum legislatif kali ini sebaiknya sadar bahwa kemenangan mereka barulah keberhasilan melewati sebuah lorong prosedur dan bukanlah akhir perjuangan mereka. Di ujung lorong itu masih menanti berbagai tugas untuk memberi isi kepada kehidupan demokrasi yang dirumuskan dalam berbagai nilai yang diakui oleh semua negara demokratis.

Prosedur-prosedur demokrasi itu harus ditempuh untuk memberi jaminan bahwa kekuasaan politik yang diperoleh benar-benar berasal dari rakyat dan diberikan oleh rakyat. Akan tetapi, perwujudan kebebasan, persamaan, keadilan, dan kesejahteraan sebagai tujuan-tujuan substantif menjadi jaminan

bahwa demokrasi adalah pemerintahan dan kekuasaan untuk rakyat dan bukan untuk satu atau beberapa golongan terbatas.

Pemilu 2009 juga paling ”mendebarkan” dari sisi potensi eskalasi konfl ik. Hal ini dipicu oleh lompatan perubahan sistem pemilu dan perwakilan politik, kerasnya persaingan elite dan pertarungan antarcaleg, ketatnya aturan parliamentary

threshold, terbukanya berbagai kemungkinan jebakan dalam

koalisi partai, hingga disorganisasi dan malaadministrasi penyelenggaraan. Dapat dikatakan, inilah pemilu paling menguras energi, baik fi nansial maupun sosial. Pemilu ini sekaligus merupakan pertaruhan ”kesabaran” kita sebagai bangsa untuk menatap optimistis persandingan antara cita-cita demokrasi dan kesejahteraan.

Pemilu kali ini adalah momentum dalam mempertegas arah konsolidasi demokrasi dan penguatan pelembagaan politik. Harapan kita, Pemilu 2009 tidak berhenti pada sekadar ritual sirkulasi elite dan power sharing kekuasaan, tetapi lebih dari itu dapat memberi pesan penting bahwa demokrasi bekerja untuk perbaikan kesejahteraan bangsa, mengingat Pemilu 2009 kali ini adalah pencerminan prinsip demokrasi yang sesungguhnya yaitu adanya prinsip “one man one vote”, dimana tidak adanya pembedaan kualitas apakah seorang individu itu seorang agamawan, apakah seorang tukang becak, keduanya tetap sama-sama hanya memiliki satu suara dalam konteks pemilihan atau pelaksanaan hak-hak politik (Political equality).

Namun disisi lain, bukan rahasia lagi bahwa persiapan pemilihan umum kali ini menelan biaya yang amat besar, baik dari pihak KPU sebagai penyelenggara dan penanggung jawab maupun dari para kontestan pada berbagai tingkat pemilihan umum. Maka, patut diantisipasi bahwa biaya uang sebelum pemilihan umum bakal disusul dengan biaya manusia yang sama tingginya setelah pemilihan umum, yaitu biaya yang diakibatkan oleh kekecewaan dan frustrasi para kontestan yang kalah bersaing dalam pemilihan legislatif. Untuk mendapat gambaran dalam angka, 560 kursi yang ada di DPR RI diperebutkan oleh 11.225 kontestan. Jadi, yang akan kalah dalam pemilihan adalah sebanyak 10.665 orang. Seterusnya, 1.998 kursi yang merupakan

jumlah total kursi di semua provinsi diperebutkan oleh tidak kurang dari 112.000 kontestan. Ini artinya ada 110.002 orang yang akan mengalami kekecewaan. Paling fantastis adalah pemilihan legislatif untuk tingkat kabupaten/kota, di mana yang menjadi kontestan adalah 1.500.000 orang yang memperebutkan total kursi sebanyak 16.720. Mereka yang tidak beruntung dan mengalami kekecewaan besar adalah sebanyak 1.483.280 orang.

Tingkat kekecewaan bergantung kepada berapa besar jumlah uang yang sudah mereka keluarkan, kesiapan mental mereka dalam menghadapi kekalahan, dan kesanggupan mereka menerima hasil pemilihan legislatif karena prosedur pemilihan dianggap telah berjalan dengan benar. Kalau hasil-hasil pemilihan bakal dipersoalkan oleh demikian banyak orang, kita harus siap menghadapi post-election syndrome yang barangkali semakin memperberat nasib rakyat, akibat ulah orang-orang yang semula berkeinginan menjadi wakil rakyat, tetapi kemudian menjelma menjadi beban masyarakat dan Negara.

Pemilu 2009 juga akan menjadi ujian kualitas elite politik Indonesia. Momentum ini menegaskan tentang siapa yang memiliki kualitas kepemimpinan sebatas politisi dan siapa berkualitas negarawan. Sejarah akan mencatat sikap menerima kemenangan dan kekalahan, memberi selamat dan dukungan moral kepada ”pemenang”, dan mengajak serta yang ”kalah” untuk berkontribusi. Itulah bentuk sikap dan tindakan yang dirindukan bangsa ini. Untuk itu, sikap elite politik mengajak masyarakat untuk mengikuti dan menerima hasil pemilu secara damai. Konsensus elite ini amat penting guna mendorong pendulum kematangan demokrasi.

Ke depan, karakter ”negarawan” elite politik dihadapkan tantangan untuk tidak saja memiliki visi kebangsaan, tetapi juga peradaban. Mereka dituntut menjadi suara bangsa, aktif menawarkan solusi kemacetan peradaban. Kita dihadapkan fase tidak mudah berupa merosotnya perekonomian global yang membutuhkan hadirnya arsitektur baru ekonomi dunia, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, ancaman pandemi penyakit menular dan sebagainya. (Piliang, Pemikir di Forum

Studi Kebudayaan (FSK) FSRD-Institut Teknologi Bandung). Situasi ideal akan tercapai kalau para wakil rakyat dalam DPR bersaing tentang bagaimana dengan merujuk kepada ideologi partai mereka masing-masing, mereka dapat menerjemahkan aspirasi dan kebutuhan rakyat serta program politik menjadi keputusan politik yang sebaik-baiknya, yang menguntungkan sebanyak mungkin orang. Sebaliknya, situasi parodis akan muncul kalau DPR dijadikan ajang masing-masing politisi partai untuk memperjuangkan kepentingan partainya dan kepentingan dirinya sendiri. Seorang anggota DPR yang terpilih adalah utusan partainya, tetapi dia menjadi wakil rakyat, bukan wakil partainya. Partai politiknya dianggap membekali dia dengan segala perlengkapan untuk menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat.

C. Golput dalam Pemilu 2009 Sebuah Kecacatan