• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam paham demokrasi, dikenal dua bentuk (role model) demokrasi secara garis besar, yakni demokrasi langsung (direct democracy) dan demokrasi tak langsung atau yang juga sering diistilahkan demokrasi perwakilan (representative democracy). Untuk konteks Indonesia, model yang dijalankan adalah demokrasi perwakilan, dimana kekuasaan rakyat didelegasikan kepada wakil-wakilnya yang dipilih melalui pemilihan umum (general election). Menurut Jimly Asshiddiqie, Dalam rangka pelaksanaan prinsip kedaulatan rakyat itu di lapangan, diperlukan mekanisme yang secara substansial menjamin penyaluran aspirasi, pendapat, kehendak rakyat yang berdaulat itu. Karena itu, orang menciptakan lembaga perwakilan rakyat dan lembaga partai politik sebagai penyalurnya. Bahkan, kepala pemerintahan eksekutif juga dipilih langsung ataupun tidak langsung oleh rakyat, sehingga – baik pejabat yang menjalankan fungsi legislatif maupun eksekutif – merupakan wujud dari rakyat yang berdaulat11. Lebih lanjut menurut Jimly, Malah, di negara demokrasi, para hakim agung juga dipilih melalui mekanisme di parlemen, sehingga dapat dikatakan bahwa para pejabat di lingkungan cabang kekuasaan judikatif

11 Jimly Asshiddiqie , dalam makalah yang berjudul, Gagasan Kedaulatan Lingkungan : Demokrasi vs Ekokrasi. Dapat diakses di:

http://www.jimly.com/makalah/namafile/128/Demokrasi_dan_Ekokrasi.doc.

Kedaulatan Rakyat Menurut UUD NRI Tahun 1945 83 juga mencerminkan prinsip kedaulatan rakyat itu, meskipun hanya secara tidak langsung12.

Perdebatan beirkutnya berada pada pemahaman makna “pendelegasian kekuasaan” dalam model demokrasi perwakilan yang diterapkan di Indonesia. Faktanya, setelah kekuasaan rakyat itu didelegasikan kepada wakil-wakil yang terpilih, terdapat kecenderungan “mandat rakyat” itu tidak lagi dijalankan secara konsekuen, tetapi berjalan secara elitis dan eksklusif dimana kebijakan-kebijakan penting Negara dan Pemerintahan berjalan sendiri tanpa melibatkan sipemberi mandate. Badan-badan perwakilan, termasuk Presiden yang dipilih langsung, terkesan membangun menara gading yang terpisah jauh dari rakyat. Ini yang menjadi permasalahan dalam sistem demokrasi perwakilan. Untuk itu, dibutuhkan suatu skema sistem yang mampu memberikan kontrol kekuasaan tetap ditangan rakyat. UUD 1945 dengan naskah asli, secara eksplisit menyerahkan kontrol kekuasaan kepada MPR, sebagai pemegang mandat. Maka dari itu, MPR juga secara langsung memegang kekuasaan tertinggi diantara lembaga-lembaga Negara lainnya. Namun karena dinamika ketatanegaraan, meluasnya tuntutan perubahan pada saat reformasi tahun 1998, dan ditambah pengalama historis praktek sistem ketatanegaraan Indonesia, maka amandemen UUD 1945 “melikuidasi” peran MPR sebagai pemegang mandat langsung rakyat dalam mengontrol kekuasaan. Dimana sebelumnya kedaulatan dijalankan melalui MPR, bergeser menjadi dijalankan berdasarkan Undang-Undang Dasar. Artinya, role model demokrasi sangat ditentukan norma yang diatur dalam konstitusi (constitution norm). sementara dalam konstitusi, wujud dari pelaksanaan kekuasaan rakyat, hanya tersimbolisasi dalam pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat semata.

Padahal secara prinsip, karena kedaulatan berada ditangan rakyat, maka seharusnya rakyat secara otomatis (ex-oficio) juga punya kewenangan penuh dalam mengontrol agar kekuasaan dapat berjalan dengan baik pula. Namun pada kenyataannya, rakyat hanya diberi

12 Ibid,-

84 Kedaulatan Rakyat Menurut UUD NRI Tahun 1945

kesempatan sekali dalam lima tahun melalui pemilihan umum tersebut, dan itupun hanya diberi waktu selama beberapa menit saja. Selebihnya, kita tidak menemukan mekanisme kontrol rakyat terhadap badan-badan perwakilan yang telah dipilihnya melalui pemilihan umum, baik dilevel kekuasaan legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Artinya, kita tidak memiliki sistem yang memungkinkan rakyat untuk melakukan proses evaluasi terhadap kinerja wakil-wakil yang telah dipilihnya, khususnya ditengah masa jabatan berlangsung.Untuk itu penting untuk membangun sistem evaluasi ditengah masa jabatan tersebut, sebagai bentuk pelaksanaan kekuasaan rakyat sepenuhnya. Dalam beberapa referensi, kita mengenai istilah “jajak pendapat atau referendum”, yakni proses pemungutan suara semesta untuk mengambil keputusan13. Untuk menjamin agar kekuasaan rakyat tetap memang suara mayoritas, referendum ditengah masa jabatan patut dipertimbangkan sebagai alternatif. Intinya, referendum ditengah masa jabatan ini adalah upaya rakyat untuk melancarkan evaluasi terhadap kinerja wakil-wakil terpilih. Jika kinerja wakil-wakil tersebut tidak sejalan dengan aspirasi, maka referendum ini dapat dijadikan alat untuk mencabut mandat yg telah diberikan.

Sebagai contoh, di Amerika dikenal istilah pemilu ditengah masa jabatan (election in the middle of power), dimana cara tersebut digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan pemilih terhadap pemerintahan terpilih. Setidaknya ada 3 (tiga) tujuan referendum ditengah masa jabatan ini. Pertama, referendum dapat dijadikan sebagai pemicu (trigger) pembangunan kesadaran politik rakyat secara luas dan terbuka. Dengan cara inilah partisipasi politik dapat dibangun dengan baik, dimana rakyat diberikan kesempatan untuk terlibat seluas-luasnya melakukan koreksi terhadap wakil-wakilnya. Kita tidak boleh bertumpu hanya kepada mekanisme pemilihan umum regular, yang hanya dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali. Kedua, referendum ini dapat digunakan sebagai kesempatan rakyat untuk belajar mengorganisir sebuat protes dan tuntutan. Hanya dengan cara seperti ini, politik bottom-up dalam dilakukan secara terpimpin. Meminjam

13 Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Referendum. Diakses tanggal 10 Mei 2014. Pukul 14.50 Wita.

Kedaulatan Rakyat Menurut UUD NRI Tahun 1945 85 istilah Pramoedya Ananta Toer, “didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Ketiga, referendum ini dapat dijadikan sebagai wadah untuk melakukan proses “penghakiman” terhadap wakil-wakil rakyat yang terpilih. Artinya, wakil-wakil rakyat yang mengkhianati mandat yang telah diberikan, dapat dijatuhkan melalui cara ini.

Di Indonesia sendiri, istilah referendum ini bukanlah hal yang asing. Timor-Timur yang dulunya merupakan Provinsi ke-27 di Indonesia, pada akhirnya harus melepaskan diri dari Indonesia dengan cara referendum. Asal-usul referendum bersamaan dengan permintaan yang dibuat oleh Presiden Indonesia, B.J. Habibie ke Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan pada 27 Januari 1999, bagi PBB untuk mengadakan referendum, di mana provinsi di Indonesia akan diberikan pilihan lebih besar otonomi dalam Indonesia atau merdeka14. Memang istilah referendum selalu diidentikkan dengan kemerdekaan. Tetapi pada prinsipnya mekanisme pengambilan keputusan melalui referendum ini, sesungguhnya dapat dilakukan tehadap isu apapun. Sedangkan menyangkut prasyarat referendum, dapat ditentukan berdasar konvensi ketatanegaraan dengan menggunakan beberapa referensi umum. Di Swiss misalnya, referendum dapat diusulkan oleh setiap individu yang berhasil mengumpulkan 50.000 tanda tangan untuk mendukung atau menantang sebuah hukum yang ada. Swiss juga memiliki mekanisme suara populer, yang dapat digerakkan oleh siapa saja yang berhasil mengumpulkan 100.000 tanda tangan untuk memulai perubahan konstitusi15.

14 Sumber : http://news.merahputih.com/nasional/2015/08/30/mengenang-referendum-timor-timur-1999/24796/. Diakses pada tanggal 10 Mei 2016. Pukul 15.05 Wita.

15 Sumber : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2014-09-18/6-hal-yang-perlu-diketahui-mengenai-referendum/1369803.

3

86 Kedaulatan Rakyat Menurut UUD NRI Tahun 1945

KONSTRUKSI KEDAULATAN NEGARA KESATUAN