BAB III KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT
3. Tujuan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
3.3. Demokratisasi dan Kepentingan Untuk Membendung
Selama ini Amerika Serikat telah menjadi negara adidaya dan nyaris belum
ada negara yang hampir menyaingi keberadaannya. Di mana sebelumnya Amerika
Serikat dan Uni Soviet masing-masing berusaha menjadi negara yang paling
berkuasa dan berpengaruh di dunia internasional. Namun, sejak Uni Soviet
terpecah, Amerika Serikat kini berdiri menjadi negara superpower dan tidak
memiliki saingan atau musuh lagi.
67 John J. Mearsheimer and Stephen M. Walt, ―The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy‖, Journal Compilation Middle East Policy Council, 2006, hal. 41.
60
Sayangnya, paradigma bahwa negaranya telah menjadi negara superpower
seakan-akan runtuh pasca terjadinya peristiwa pada 11 September 2001 atau yang
lebih dikenal dengan 9/11. Tiba-tiba Amerika Serikat menjadi negara yang
paranoid dan menjadi sangat anti dengan terorisme yang pada akhirnya berujung
pada stigma negatif mengenai islam itu sendiri. Hal ini disebabkan karena konon
penyerangan terhadap gedung WTC tersebut dilakukan oleh militant islam. Hal ini
berujung pada sasaran Amerika Serikat berikutnya yaitu, kelompok ekstimis
islam, khususnya umat islam di Timur Tengah yang ia anggap radikal.
Semenjak itu, islam kemudian sering dikait-kaitkan dengan terorisme dan
secara tidak langsung hal tersebut berhasil membentuk opini masyarakat
internasional bahwa ciri-ciri teroris adalah beragama islam, memiliki penampilan
yang mencolok dengan sorban serta berjanggut, dan lain-lain. Amerika Serikat
berhasil memengaruhi negara-negara lain untuk ikut memerangi terorisme,
menjadikan terorisme sebagai agenda utama yang mesti diperangi, dan tanpa
disadari membentuk citra yang buruk akan islam di mata dunia.
Beberapa saat setelah gedung dua gedung kembar World Trade Center
runtuh, Presiden George W. Bush langsung memberikan pidato di depan publik. Ia
mengatakan bahwa ―Amerika berikut sahabat dan aliansi kami akan bergabung
dengan semua pihak yang menginginkan perdamaian dan keamanan di dunia ini.
Kita akan bersama-sama berdiri melawan dan memenangkan perlawanan terhadap
terorisme‖. Semenjak itu ancaman terorisme menjadi ancaman utama bagi
Amerika Serikat yang berujung pada invasi ke Irak pada Januari 2004 silam.
Afghanistan pun tidak luput dari target Amerika Serikat, bersama Irak,
61
persembunyian atau markas dari jaringan teroris terbesar di dunia, yaitu Al-Qaeda
yang dipimpin oleh Osama Bin Laden.69
Bagaimanapun juga, ada visi dan misi yang dibawa oleh Amerika Serikat
untuk Kawasan Timur Tengah pasca peristiwa 9/11, yaitu upaya untuk
mempromosikan demokrasi di kawasan tersebut.
As an ongoing response to the terrorist attacks of September 11, 2001, and a justification for the U.S. invasion of Iraq, the Bush Administration has made the promotion of democracy in the Middle East a national security priority, stating that greater political freedom can undercut the forces of Islamic radicalism and indoctrination.70
Lebih lanjut, dalam laporan yang dirilis oleh Congressional Research
Service (CRS) tersebut, ia menambahkan bahwa
Since the September 11, 2001, terrorist attacks, the United States has significantly increased funding for democracy promotion in the Arab world. Measuring its effectiveness is difficult since democracy cannot be quantified or measured like traditional U.S. foreign assistance for tangible projects, such as road construction, water resource development, and school improvement. Further, proponents of current policy say that the United States continues to spend far more resources on military assistance to the region than on reform.71
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa masalah
terorisme menjadi salah satu alasan dan media bagi Amerika Serikat untuk
mengaplikasikan kebijakan luar negerinya di Timur Tengah. Tidak
tanggung-tanggung, Amerika Serikat bahkan berani meningkatkan anggaran biayanya untuk
mendukung program demokratisasi tersebut. Diharapkan dengan
69 Agus N. Cahyo, loc cit, hal. 78-79.
70 Jeremy M. Sharp (Middle East Policy Analyst Foreign Affairs, Defense, and Trade Division), CRS Report for Congress: ―U.S. Democracy Promotion Policy in the Middle East: The Islamist Dilemma‖, diterbitkan pada tanggal 15 Juni 2006. Diunduh dari situs
https://www.fas.org/sgp/crs/mideast/RL33486.pdf pada tanggal 19 Februari 2014.
62
diperkenalkannya sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan kepada
negara-negara di Timur Tengah, sistem tersebut mampu menumpas
gerakan-gerakan islam radikal yang dianggap dekat dengan terorisme. Dengan demikian,
impian untuk menciptakan kedamaian di kawasan dan di seluruh dunia dapat
tercapai.
Tidak hanya atas dasar tuduhan terorisme, Irak disebut-sebut menyimpan
senjata pemusnah massal oleh karenanya perlu untuk diserang. Padahal isu-isu
mengenai kepemilikan senjata pemusnah massal yang selama ini didengungkan
hanyalah isu belaka agar Amerika Serikat memiliki pembenaran untuk menginvasi
Irak dan negara-negara di sekitarnya. Ditambah lagi dengan fakta bahwa sampai
sekarang tidak pernah ditemukan senjata pemusnah massal yang telah
dituduhkannya selama ini.
Seolah telah kehabisan tuduhan, Amerika Serikat kembali menuduh Suriah
terlibat jaringan terorisme, memiliki senjata nuklir, dan senjata pemusnah massal
lainnya, seperti senjata kimia dan senjata biologi. Serangkaian tuduhan yang tidak
masuk akal dan tidak mempunyai bukti tersebut pada dasarnya menjadikan
masalah ini semakin membingungkan dan semakin mengaburkan pandangan
masyarakat akan kebenaran dari krisis ini. Bahkan, bukan tidak mungkin apabila
rezim Suriah telah dimasukkan dalam daftar utama Amerika Serikat yang akan
digulingkan.72
Di samping itu, ada keterkaitan antara dukungan yang diberikan Amerika
Serikat terhadap Israel dengan masalah terorisme. Berawal pada tahun 1990-an
dan terutama pasca tragedi 9/11, dukungan Amerika Serikat terhadap Israel telah
63
dibenarkan melalui klaim yang mengatakan bahwa kedua negara berada di bawah
ancaman kelompok teroris yang berasal dari Arab atau ―muslim world‖. Akhirnya,
hal ini terkesan bahwa Amerika Serikat harus memberikan kebebasan kepada
Israel untuk berurusan dengan Palestina dan kelompok-kelompok semacam
Hezbollah. Amerika Serikat juga pada akhirnya merasa perlu melawan
negara-negara seperti Republik Islam Iran, Saddam Hussein dari Iraq, dan Bashar al-Asad
dari Suriah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Israel merupakan sekutu
penting dalam perang melawan teror dikarenakan musuhnya adalah musuh
Amerika juga.73