• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2013

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Berdasarkan data-data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Jenis-jenis kayu yang mengalami perubahan warna yang mencolok setelah fumigasi amonia selama 48 jam adalah kayu nangka, jati, mahoni, sawo dan rasamala, sedangkan kayu yang kurang mencolok adalah kayu afrika, angsana dan kaboril.

2. Fumigasi amonia dapat meningkatkan daya tahan kayu hutan rakyat terhadap serangan rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus), dimana kehilangan berat contoh uji yang difumigasi lebih kecil dibandingkan kehilangan berat contoh uji yang tidak difumigasi.

3. Finishing dengan menggunakan bahan finishing berpelarut air (waterbased) memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia rumah tangga dalam interval waktu 1 jam dan 24 jam dan memiliki daya tahan yang baik terhadap panas dan dingin.

4. Lapisan finishing waterbased mempunyai daya lekat yang baik pada permukaan kayu.

SARAN

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai ketahanan organisme perusak lainnya seperti bubuk kayu kering pada contoh uji setelah fumigasi. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut megenai uji kilap terhadap bahan

finishing waterbased dengan menggunakan alat microgloss reflektometer.

DAFTAR PUSTAKA

Adidarma. 1998. Pengetahuan dasar wood finishing. Propan Raya. Jakarta. Anisah LN. 2001. Zat ekstraktif kayu tanjung (Mimusops elengi Linn) dan kayu

sawo kecik (Manilkara kauki Dubard) serta pengaruhnya terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignatus Holmgren) dan jamur pelapuk (Schizophyllum commune Fries). [Tesis]. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Anonim. 2008. Jenis bahan finishing kayu. http://www.tentangkayu. com/2008/01/jenis-bahan-finishing-kayu.html (diakses tanggal 20 November 2012)

Anonim. 2010. http://blogs.itb.ac.id/igist/2012/05/19/peluang-bisnis/ (diakses tanggal 20 November 2012)

Anonim. 2012.Amonia. http://id.wikipedia.org/wiki/Amonia (diakses tanggal 08 November 2012)

[ASTM] American Society for Testing and Material. Standart test methode for evaluation of paintered or coated specimen subject to corrosive environtments. ASTM D 1654-92.

[ASTM] American Society for Testing and Material. standard test methods for measuring adhesion by tape test. ASTM D 3359.

Batubara R. 2006. Teknologi pengawetan kayu perumahan dan gedung dalam upaya pelestarian hutan. http:// library.usu.ac.id/download/fp/06010040. pdf. (diakses tanggal 08 November 2012)

Bavaro JJ, Mossman TL. 1996. The furniture of Gustav Stickley. Linden Publishing Co., Fresno, pp. 84-87

Darmawan W, Rahayu IS, Padlinurjaji IM, Pandit KN. 2011. Pengerjaan kayu: Ilmu-ilmu penunjang dan teknologi proses. Bogor: IPB Press.

Djauhari D. 2012. Pengaruh konsentrasi bahan pengawet boron terhadap retensi dan penetrasi pada kayu rakyat. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Dresdner M. 2005. http://www.woodworkersjournal.com/ezine/archive/40/ qanda cfm#2. (diakses tanggal 21 November 2012)

Effendi H. 2003. Telaah kualitas air. Yogyakarta : Kanisius.

Hestiningsih I. 2012. Pengolahan citra. http://images.moedy9.multiply.com (diakses tanggal 07 November 2012)

Jauhari AM. 2012. Karakteristik lapisan finishing pelarut minyak (Polyurethane) dan pelarut air (Waterbased Lacquer) pada kayu jati dan mahoni. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Kramer JK. 1989. The traditional way the colorization of wood.

http://www.kramers.org/color.htm (diakses tanggal 05 November 2012) Krisdianto. 2012. Anatomi dan kualitas serat tujuh jenis kayu kurang dikenal dari

jawa barat (Anatomy and Fiber Quality of Seven Lesser Known Wood Species from West Java). http://forda-mof.org/ (diakses tanggal 28 November 2012)

Luza W. 2009. Perubahan warna kayu nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) dengan teknik fumigasi amonia. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Maragia J. 2007. Kajian karakterisitik mutu bunga gladiol (Gladiolus hybrydus) dengan teknik pengolahan citra. [Skripsi]. Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Mandang YI, Pandit IKN. 2002. Pedoman identifikasi jenis kayu di lapangan. Seri Manual. Yayasan PROSEA. Bogor.

Martawijaya A, Kartasujana I. 1977. Ciri umum, sifat dan kegunaan jenis-jenis kayu Indonesia. Publikasi Khusus No. 41. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Departemen Pertanian Bogor.

Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Prawira SA. 1981. Atlas kayu Indonesia jilid I. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Bogor.

Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Kadir K, Prawira SA. 1989. Atlas kayu Indonesia jilid II. Balai Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Muhtar DP. 2008. Pengembangan tehnik fumigasi amonia untuk pewarnaan alami beberapa jenis kayu. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Mulyana D. 2007. Kajian sifat-sifat finishing interior pada beberapa jenis kayu cepat tumbuh. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Murwetianto B. 2003. Perubahan sifat keasaman kayu nangka (Artocarpus Heterophyllus), manii (Maesopsis Eminii) dan sengon (Paraserianthes Falcataria) selama proses pengeringan. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap biologi dan pengendaliannya. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Nurmeryteni I. 1995. Uji kubur kayu afrika (Maesopsis emanii) yang diawetkan dengan bahan pengawet impralit CKB. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Pandit IKN, Kurniawan D. 2008. Struktur kayu: sifat kayu sebagai bahan baku dan ciri diagnostik kayu perdagangan di Indonesia. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

Prayitno, Kismolo E, Nurimaniawati. 2003. Proses ekstraksi bahan pewarna alam dari limbah kayu mahoni. Prosiding Pertemuan dan Presentasi Dasar Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta. 23 Juli 2003. hlm 208-213.

Rose J. 1997. Ammonia fuming: frequently asked question. http://www.servtech.com/html (diakses tanggal 05 November 2012)

Seprina AII. 2010. Pengembangan teknik fumigasi amonia sebagai metode pewarnaan beberapa jenis kayu rakyat. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Seng OD. 1990. Berat jenis dari jenis-jenis kayu Indonesia dan pengertian beratnya kayu untuk keperluan praktek. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Shahnaz N. 2010. Pengembangan fumigasi amonia sebagai metode pewarnaan beberapa jenis kayu rakyat. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Sjostrom E. 1995. Kimia kayu, dasar-dasar dan penggunaan edisi kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

[SNI] Standarisasi Nasional Indonesia.2006. Uji ketahanan kayu dan produk kayu terhadap organisme perusak kayu. SNI 01-7207-2006.

Tim Jurusan THH. 1990. Pengujian karakteristik sifat dasar kayu afrika. [Laporan]. Bogor : Fakultas Kehutanan IPB.

Tsoumis G. 1992. Science and technology of wood: structure, properties, utilization. New York : Van Nostrand Reinhold.

Yusuf S, Utomo S. 2006. Hama permukiman indonesia pengenalan, biologi, dan pengendalian. Bogor : UKPHP Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

JENIS KAYU DARI HUTAN RAKYAT

ELA MARLIANA

E24080039

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2013

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Karakteristik Hasil Fumigasi Amonia dan Daya Tahan Lapisan Finishing Berpelarut Air Pada Beberapa Jenis Kayu dari Hutan Rakyat adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan manapun diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2013

Ela Marliana NRP. E24080039

ABSTRAK

ELA MARLIANA. Karakteristik Hasil Fumigasi Amonia dan Daya Tahan Lapisan Finishing Berpelarut Air Pada Beberapa Jenis Kayu dari Hutan Rakyat. Dibimbing oleh I WAYAN DARMAWAN.

Kayu rakyat pada umumnya memiliki warna pucat, tidak awet, dan memiliki penampilan yang kurang diminati. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan proses finishing pada kayu. Fumigasi adalah salah satu cara untuk mengubah warna alami kayu menjadi lebih gelap dengan menggunakan bantuan larutan amonia. Produk mebel sebelum dipasarkan biasanya dilapisi terlebih dahulu agar penampilan produk kayu tersebut lebih menarik dan mengurangi terjadinya kerusakan permukaan. Pelapis yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan pelapis dengan pelarut air (Finishing waterbased), dimana bahan pelapis tersebut tidak mengandung racun sehingga lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna dan daya tahan kayu rakyat setelah proses fumigasi terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephallus Light), mengetahui daya lekat (cross cut) bahan finishing waterbased, serta untuk mengetahui daya tahan lapisan finishing waterbased terhadap bahan kimia rumah tangga, panas dan dingin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perubahan warna yang mencolok terjadi pada kayu nangka, mahoni, jati, sawo dan rasamala, sedangkan perubahan warna yang kurang mencolok terjadi pada kayu angsana, manii dan kaboril. Fumigasi amonia dapat meningkatkan ketahanan kayu terhadap serangan rayap kayu kering, dimana kehilangan berat contoh uji yang difumigasi lebih kecil dibandingkan kehilangan berat contoh uji yang tidak difumigasi. Finishing dengan menggunakan bahan finishing berpelarut air memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia rumah tangga pada interval waktu satu jam dan 24 jam serta panas dan dingin. Hasil uji cross cut menunjukkan bahwa, bahan finishing waterbased memiliki daya lekat yang baik pada permukaan kayu.

Kata kunci: kayu rakyat, fumigasi amonia, finishing waterbased, rayap kayu kering

ABSTRACT

ELA MARLIANA. Characteristic of Result of Ammonia Fumigation and Finishing Waterbased Coat Durability on Several Community Wood Species. Supervised by I WAYAN DARMAWAN.

Wood from community forest in general have a pale color, not durable, and has a less attractive appearance. Wood finishing was one of the ways to solve these problem. Ammonia fumigation was one method to change the natural

wood’s color. Before marketed, furniture usually coated in order to make the better appearance and reduce the surface erosion. Waterbased wood finish used in this study did not containe toxic and ecofriendly. The purpose of study is to determine color change and durability of wood from community forest after the fumigation of dry wood termites (Cryptotermes cynocephallus Light), determine the cross cut of finishing waterbased, and to determine the durability of finishing waterbased layer for chemical household, hot, and cold. Result of this study showed that jackfriut wood, mahogany wood, teak wood, manilkara wood, and

rasamala wood occur significant color changes while angsana wood, manii wood, and kaboril wood didn’t occur significant color change. Ammonia fumigation can increase the resistance of wood to dry wood termite attack, where the weight loss of ammonia fumigated wood was smaller than weight loss sample of unfumigated wood. Waterbased wood finished have good resistance to chemical household at one hour and 24 hours intervals and have good resistance to heat and cold. Cross cut result showed that waterbased wood finished have good adhesion at wood surface.

Key words : social forest, fumigation of ammonia, finishing waterbased, dry wood termite

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada

Departemen Hasil Hutan

KARAKTERISTIK HASIL FUMIGASI AMONIA DAN DAYA

TAHAN LAPISAN FINISHING BERPELARUT AIR PADA BEBERAPA

JENIS KAYU DARI HUTAN RAKYAT

Dokumen terkait