BAB II LANDASAN TEORI/TINJAUAN PUSTAKA
E. Deposito
3. Deposito Mudharabah
Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada saat jatuh tempo. Dalam perbankan syariah deposito dengan akad akad mudharabah (bagi hasil).2
4. Perbankan Syariah
Perbankan Syariah adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah).
B. Alasan Memilih Judul 1. Secara Objektif
Dalam penelitian ini penulis akan membahas tentang “Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Bagi Hasil Terhadap Deposito Perbankan Syariah Di Indonesia Periode 2010-2015” Bank umum pertama di Indonesia yang menerapkan prinsip syariah islam dalam menjalankan operasionalnya didirikan pada tahun 1991 dengan total aset hingga triwulan III 2016 diklaim telah mencapai Rp331 triliun atau mencapai 5,13 persen dari total aset industri, hal tersebut menunjukkan bahwa
1Team Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasonal,2008), h.1045.
2 Ridwansyah, Mengenal Istilah-Istilah Dalam Perbankan Syariah (Raja Basa Bandar Lampung: AURA,2012), h.36.
pertumbuhan deposito perbankan syariah di Indonesia sangatlah baik sehingga penulis tertarik untuk menelitinya .
Salah satu alasan penulis memilih produk deposito sebagai variabel indevenden karena produk tersebut lebih diminati oleh nasabah jika di bandingkan dengan produk tabungan yang ada pada perbankan Syariah. Produk deposito adalah salah satu produk penghimpun dana yang berasal dari masyarakat yang sering kita kenal dengan sebutan dana pihak ketiga. Deposito itu sendiri adalah simpanan jangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dengan bank. Dalam aplikasiannya menggunakan prinsip mudhrabah. Produk deposito merupakan salah satu sumber dana bank yang digunakan bank dalam membantu oprasional bank dalam meningkatkan kinerja keuangan bank.
2. Secara Subjektif
a. Pokok bahasan skripsi ini sesuai dengan program studi penulis yakni perbankan syariah. Dimana bahasan tersebut merupakan kajian keilmuan yang mempunyai kaitan dengan akutansi keuangan Syariah, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, manajemen keuangan syariah, analisis laporan keuangan perbankan syariah beberapa mata kuliah yang penulis mampu.
b. Memberikan pengetahuan bagi penulis maupun pembaca tentang pengaruh jumlah pertumbuhan deposito terhadap perbankan syariah di Indonesia.
c. Literatur-literatur yang dibutuhkan tersedia perpustakaan ataupun sumber lainnya seperti jurnal.
C. Latar Belakang Masalah
Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang berperan penting dalam perekonomian suatu negara. Semakin berkembang industri perbankan maka semakin baik pula pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Bank sebagai lembaga keuangan berfungsi untuk menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.3
Ada dua jenis bank yang beroperasi di Indonesia saat ini, yakni bank konvensional dan bank syariah. Perbedaan antara keduanya terletak pada prinsip-prinsip yang dianut dalam operasionalnya. Bank konvensional beroperasi dengan menggunakan sistem bunga, yang bagi bank syariah dianggap sebagai sistem ribawi yang tidak sesuai dengan syariah. Sedangkan bank syariah menggunakan sistem yang tidak mengandung unsur riba. Salah satunya adalah penerapan bagi hasil dan risiko.
Dewasa ini bank syari’ah merupakan salah satu sistem perbankan yang sedang mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pemerintah. Perbankan syariah sebagai bagian dari sistem perbankan nasional mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Sebab bank syari’ah dimungkinkan akan menjadi alternatif sistem perbankan yang akan berlaku
3 Ifham Solihin. Ahmad, Pedoman Umum Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010), h.2.
di Indonesia.
Sejak diundangkannya UU No.7 Tahun 1992, tentang Perbankan, yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor.10 tahun 1998, industri perbankan di Indonesia terbagi menjadi bank yang beroperasi berdasarkan bunga yang disebut bank konvensional dan bank yang beroperasi berdasarkan bagi hasil atau syari’ah Islam disebut dengan bank syari’ah.
Keberadaan perbankan syariah diharapkan dapat mendorong perkembangan perekonomian suatu negara. tujuan dan fungsi perbankan syariah dalam perekonomian diantaranya adalah sebagai berikut :4
1. Kemakmuran ekonomi yang meluas, tingkat kerja penuh dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimum.
2. Keadilan sosial ekonomi dan distribusi pendapatan serta karyawan yang merata.
3. Stabilitas nilai uang.
4. Mobilisasi dan investasi tabungan yang menjamin adanya pengembalian yang adil serta pelayanan yang efektif.
Sebagai lembaga keuangan yang memiliki fungsi intermediasi keuangan, bank syariah melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang disebut dana pihak ketiga. Dana tersebut disalurkan melalui pembiayaan baik yang menggunakan prinsip bagi hasil, jual-beli maupun sewa- menyewa. pada dasarnya, produk yang ditawarkan
4 Rachmadi Usman, Aspek Hukum Perbankan Syariah Di Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), h.72.
oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga besar, yaitu: produk penyaluran dana (financing), produk penghimpunan dana (funding), dan produk jasa (service). Secara garis besar, produk pembiayaan (penyaluran dana) pada perbankan syariah dibagi menjadi empat kategori yaitu: pembiayaan dengan prinsip jual-beli, pembiayaan dengan prinsip sewa, pembiayaan dengan akad pelengkap, dan pembiayaan dengan prinsip bagi hasil.5
Pada dasarnya Bank Syariah ialah Bank atau lembaga keuangan yang berlandaskan prinsip Islam, yang di dalamnya bebas dari unsur-unsur riba,
ghurur, judi, dan transaksi-transaksi yang dilarang oleh hukum Islam. Dalam
pelaksaan kegiatan usaha bank Syariah, untuk menghindari terjadinya unsur-unsur yang dilarang dalam Islam, maka dalam mekanisme kegiatan usaha Bank Syariah dalam menghimpun dan menyalurkan dana terdapat berbagai macam akad, diantaranya, akad mudharabah, musyarakah, wadiah, ijarah.6
Salah satu alternatif dalam penyimpanan investasi dalam Bank Syariah adalah simpanan mudharabah pada Bank Syariah ini merupakan simpanan yang memiliki pengaruh yang cukup besar di bandingkan produk-produk lain yang ditawarkan oleh Bank Syariah. Simpanan ini sendiri terdiri atas dua jenis yaitu, mudharabah mutalaqah (tabungan mudharabah) dan
mudharabah muqayyadah (deposito mudharabah). Pada dasarnya produk
tersebut sama-sama melakukan penyimpanan uang ke Bank Syariah.
5Bambang Rianto Rustam, manajemen resiko perbankan syariah di Indonesia ( Jakarta: salemba empat,2013), h.21.
Perbedaan utama antara deposito mudharabah dengan deposito bank konvensional, antara lain deposito bank syariah menggunakan sistem bagi hasil, sedangkan deposito pada bank konvensional menggunakan sistem bunga. Dengan demikian pendapatan dari deposito mudharabah tidak tetap sebagaimana pada bunga, melainkan berfluktuasi sesuai dengan tingkat pendapatan Bank Syariah. Deposito mudharabah merupakan investasi nasabah kepada bank syariah, sehingga dalam akuntansinya kedudukan deposito tidak dicatat sebagai hutang bank, tetapi dicatat dan disebut sebagai investasi, biasanya disebut investasi tidak terkait (muadharabah muthlaqah).
Perbankan Syariah adalah salah satu representasi aplikasi ekonomi islam yang melarang penggunaan sistem bunga dalam perekonomian, karena system bunga di anggap riba yang dilarang oleh agama. Hal ini disebabkan penerapan ribawi tidak hanya membawa kehancuran ekonomi, tetapi juga kerusakan masyarakat.7
Allah SWT berfirman :
ٰﻮَﺑﱢﺮﻟٱ َمﱠﺮَﺣَو َﻊۡﯿَﺒۡﻟٱ ُ ﱠ ٱ ﱠﻞَﺣَأَو ۗ◌
٢٧٥
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS.Al-Baqarah:275)
ٗﻔ َٰﻌ ۡﺿَأ ْآٰﻮَﺑﱢﺮﻟٱ ْاﻮُﻠُﻛۡﺄَﺗ َﻻ ْاﻮُﻨَﻣاَء َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ ﺎَﮭﱡﯾَﺄَٰٓﯾ
ﱡﻣ ﺎ
َﻌ َٰﻀ
ُﻘﱠﺗٱَو ۖٗﺔَﻔ
ۡﻔُﺗ ۡﻢُﻜﱠﻠَﻌَﻟ َ ﱠ ٱ ْاﻮ
َنﻮُﺤِﻠ
١٣٠
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.(QS.Al-Imran:130).
َﻲِﻘَﺑ ﺎَﻣ ْاوُرَذَو َ ﱠ ٱ ْاﻮُﻘﱠﺗٱ ْاﻮُﻨَﻣاَء َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ ﺎَﮭﱡﯾَﺄَٰٓﯾ
ِﻣ
َﻦ
ﱢﺮﻟٱ
ُﻛ نِإ ْآٰﻮَﺑ
َﻦﯿِﻨِﻣ ۡﺆﱡﻣ ﻢُﺘﻨ
٢٧٨
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang
beriman”.(QS.Al-Baqaroh:278).8
Penelitian ini secara garis besar mengamati faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi deposito mudharabah. Penelitian secara khusus ingin menguji tentang pengaruh tingkat suku bunga, tingkat bagi hasil, terhadap jumlah dana deposito mudharabah pada bank syariah. Adapun produk deposito mudharabah merupakan pertumbuhan deposito yang sangat tinggi pada bank-bank syari’ah di Indonesia. Tabel berikut menunjukkan pertumbuhan deposito mudharabah di Bank Syari’ah Indonesia.
Tabel 1.1 menjelaskan adanya deposito mudharabah memberikan pilihan kepada masyarakat untuk memilih apakah menginvestasikan dananya pada deposito bank konvensional yang keuntungannya mengacu pada bunga yang berlaku, atau deposito mudharabah yang keuntungannya bergantung pada bagi hasil yang diperoleh. Saat ini hanya sebagian nasabah mengalihkan dananya ke bank syariah karena alasan menghindari ribawi. Sebagian masyarakat cenderung mengutamakan keuntungan sehingga memilih bank yang mampu memberikan imbal hasil terbaik di antara bank-bank lainnya, baik itu bank syariah maupun bank konvensional.
8 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Dan Terjemahan (Bandung: Hilal,2010). h.203.
Tabel 1.1.
Pertumbuhan deposito mudharabah di Bank Syari’ah di Indonesia
periode 2010 – 2015. (dalam milyar)
No Nama Bank Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 1 Bank Muamalat 9.942.07 17.354.89 20.587.57 24.641.50 31.387.47 27.751.03 2 Bank Syariah Mandiri 15.110.40 23.524.71 21.827.00 26.834.25 31.935.90 31.287.53 3 BNI Syariah 2.643.89 3.245.31 3.701.31 4.916.75 3.084.54 10.404.89 4 BCA Syariah 417.89 677.70 985.50 1.409.10 2.009.90 2.030.00 5 Bank Panin Syariah 290.50 393.01 1.006.04 2.430.83 4.176.15 5.086.65 6 BJB Syariah 19.466.419 21.603.753 24.365.828 21.050.581 19.104.512 29.918.811 7 BTPN Syariah 25.526.479 35.618.000 45.072.603 52.195.859 53.335.114 60.273.396 8 Bank Mega Syariah 4.040.980 4.933.556 7.108.758 7.736.248 5.881.057 8.073.000 9 Bank Syariah Bukopin 1.621.913 2.291.737 2.850.783 3.272.263 3.994.957 4.756.303 10 Bank Victoria Syariah 166.581 465.036 646.324 1.015.791 1.132.087 1.128.908 11 BRI Syariah 5.096.597 9.906.412 11.948.889 13.794.869 16.711.516 19.648.782 12 Maybank Syariah Indonesia 80.308 180.822 137.407 205.648 154.936 225.598
(Sumber : Laporan Keuangan Bank Indonesia.2010-20159; data diolah) Sebelum menginvestasikan dananya, nasabah akan membandingkan tingkat bagi hasil yang diperoleh dari deposito mudharabah dengan suku bunga deposito bank konvensional. Tingkat bagi hasil yang tinggi membuat lebih banyak nasabah memilih deposito mudharabah dibandingkan deposito konvensional. Sebaliknya, jika suku bunga tinggi, diperkirakan nasabah
9“Laporan Keuangan Bank Indonesia” (On-line), tersedia di: http://www.bi.go.id/id/Default.aspx (21 Agustus 2017).
cenderung mendepositokan dananya pada deposito bank konvensional.10
Sebagai contoh, pada pertengahan 2005 sebelum bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan pinjaman dinaikkan, tingkat bagi hasil nasabah bank syariah dapat mencapai 8,5%. Hasil itu lebih tinggi dibanding bunga bank konvensional yang saat itu hanya sekitar 7%. Namun setelah dinaikkan, bunga deposito bank konvensional dapat mencapai hingga 10%, sehingga mengakibatkan tingkat bagi hasil bank syariah menjadi kurang menarik.
Prinsip bagi hasil (profit sharing) merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank syariah secara keseluruhan. Secara syariah, prinsip ini berdasarkan pada kaidah al mudharabah. Berdasarkan prinsip ini, bank syariah akan berfungsi sebagai mitra, baik dengan penabung maupun dengan pengusaha yang meminjam dana. Dengan penabung, bank akan bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sementara penabung bertindak sebagai shahibul maal (pemilik dana). Antara keduanya diadakan akad mudharabah yang menyatakan pembagian keuntungan masing-masing pihak.
Tingkat bunga merupakan salah satu pertimbangan utama seseorang dalam memutuskan untuk menabung. Tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga. Tingkat bunga yang tinggi akan mendorong seseorang untuk menabung dan mengorbankan konsumsi sekarang untuk dimanfaatkan di masa yang akan datang. Tingginya minat masyarakat untuk menabung dipengaruhi oleh tingkat bunga. Hal ini berarti bahwa pada saat tingkat
10 Veitzal Rifai dan Arviyan Arifin, Islamic banking,cetakan ke satu (Jakarta:bumi aksara,2011). h.86.
bunga tinggi, masyarakat lebih tertarik mengorbankan konsumsi sekarang guna menambah tabungannya. Hubungan positif antara tingkat bunga dengan tingkat tabungan ini menunjukkan bahwa umumnya para penabung bermotif pada keuntungan atau profit motive.
Konsep ini berbeda dengan sistem perbankan syariah yang menggunakan sistem bagi hasil atas penggunaan dana oleh pihak peminjam (baik oleh pihak nasabah maupun bank). Pinjaman produktif yang disalurkan nantinya akan memberikan bagian bagi pemberi pinjaman, sebesar nisbah bagi hasil yang disepakati di awal transaksi. Sedangkan besarnya nominal yang diterima tentunya menyesuaikan dengan besarnya keuntungan yang di dapat oleh peminjam itu sendiri. Konsekuensi dari konsep ini adalah, jika hasil usaha peminjam menunjukan keuntungan yang besar, maka bagi hasilnya pun akan besar dan sebaliknya jika keuntungan kecil atau bahkan merugi maka pihak peminjam harus ikut pula menanggung kerugian tersebut. Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa salah satu perbedaan antara perbankan konvensional dan perbankan syariah adalah adanya suku bunga di perbankan konvensional dan nisbah bagi hasil pada perbankan syariah. Bisa dikatakan, bagi hasil dalam perbankan syariah merupakan pengganti suku bunga dalam perbankan konvensional. Penelitian ini menggunakan variabel yang terdiri dari:
a) Total Simpanan Mudharabah
Total simpanan mudharabah (tabungan dan deposito) adalah data yang bersumber dari laporan keuangan perbankan syariah di Indonesia.
Data ini diperoleh dengan cara menjumlahkan keseluruhan dana dalam bentuk tabungan dan deposito yang berjangka tahunan dan dalam satuan rupiah. Data ini bersumber laporan keuangan bank syariah di Indonesia. b) Tingkat Bagi Hasil
variabel tingkat bagi hasil adalah data yang diperoleh dengan cara membagi besarnya total bagi hasil simpanan mudharabah yang diterima nasabah dengan total simpanan mudharabah (deposito dan tabungan) dan data ini berupa data dalam bentuk persen data ini bersumber dari laporan keuangan perbankan syariah di Indonesia.
c) Tingkat Suku Bunga
variabel tingkat suku bunga adalah data yang bersumber dari statistik keuangan ekonomi berupa suku bunga deposito tahunan dari bank konvensional. Data ini berupa data dalam bentuk persen.
Adanya perpindahan dana nasabah dari bank konvensional ke bank syariah atau sebaliknya membuat dana yang dihimpun bank dari masyarakat bisa berubah-ubah, sehingga dalam melakukan kegiatan pembiayaan pada masyarakat pun, bank syariah harus bijak menentukannya, agar seimbang dengan dana yang dihimpun. Dalam menganalisisnya, bank syariah menggunakan rasio pembiayaan terhadap deposito (financing to deposit
ratio) yaitu rasio yang membandingkan dana yang disalurkan kepada
masyarakat dalam rangka pembiayaan dengan dana yang dihimpun dari masyarakat melalui deposito. Kebijakan bank syariah dalam menetapkan
berimbas pada pertumbuhan deposito bank syariah itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas mengenai penabung atau deposan bersifat motif keuntungan adalah dilihat dari segi tingkat suku bunga bank konvensional, jika tingkat suku bunga lebih tinggi dari tingkat bagi hasil maka nasabah memilih untuk menyimpan dananya di bank konvensional dan sebaliknya jika tingkat bagi hasil lebih besar dari tingkat suku bunga maka nasabah memilih untuk mendepositokan dananya dari pada menabung tabungan biasa, dengan alasan bahwa keuntungan yang didapat adalah lebih besar walaupun memang risiko yang dihadapi cukup besar.11
Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat bagi hasil dan suku bunga deposito secara simultan maupun parsial terhadap pertumbuhan deposito
mudharabah pada bank umum syariah di Indonesia.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah tingkat suku bunga bank mempengaruhi pertumbuhan deposito
perbankan syari’ah di Indonesia ?
2. Apakah tingkat bagi hasil mempengaruhi pertumbuhan deposito di perbankan syari’ah di Indonesia ?
11Sawaldjo Puspopranoto, Keuangan Perbankan dan Pasar Keuangan ( Jakarta: LP3ES, 2004), h. 7.
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah tingkat suku bunga bank berpengaruh terhadap pertumbuhan deposito perbankan syari’ah di Indonesia.
2. Untuk mengetahui apakah tingkat bagi hasil berpengaruh terhadap pertumbuhan deposito perbankan syari’ah di Indonesia.
F. Kegunaan dan Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a) Penelitian ini berguna untuk menganalisis pertumbuhan deposito dalam memberikan pengetahuan tentang keuangan.
b) Memberikan tambahan informasi yang bermanfaat bagi pembaca yang berkepentingan keilmuan dalam mengatasi masalah yang sama atau dimasa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
a) Penelitian ini dapat menjadi masukan ataupun saran guna lebih meningkatkan kinerja dalam bidang perbankan syariah.
b) Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi alternatif bagi penelitian perbankan syariah lebih lanjut sehingga menghasilkan penelitian yang lebih baik.
15 A. Bank Syariah.
1. Definisi
Bank Islam, atau yang biasa disebut dengan bank tanpa bunga, adalah lembaga keuangan/perbankan yang beroprasi dan produknya berkembangan berdasarkan pada Al-qur’an dan Hadist Nabi Saw, atau dengan kata lain, bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalulintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariat Islam.12 Berikut yang membedakan antara bank Islam dan bank yang beroperasi dengan prinsip syariah Islam. Bank syariah adalah: (1) Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam; (2) Bank yang tata cara beroprasi mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Quran dan Hadist. Sementara itu bank yang beroprasi sesuai dengan prinsip syariat adalah bank yang dalam oprasionalnya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariat Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam. Dikatakan lebih lanjut dalam tata cara bermuamalat itu dijauhi praktik-praktik yang
12 Kuraen Perwataatmadja Dan M. Safei Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam (Jakarta: PT. Dana Bakti Wakaf,1992), h. 37.
dihawatirkan mengandung unsur-unsur riba untuk di isi dengan kegiatan investasi dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan.13
Menurut ketentuan yang tercantum di dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/8/PBI/2000, pasal 1, Bank Syariah adalah bank umum sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 yang melakukan kegiatan Usaha berdasarkan prinsip syariat Islam, termasuk unit usaha syariah dan kantor cabang bank asing yang melakukan kegiatan usaha yang berdasarkan prinsip syariat Islam. Adapun yang dimaksud dengan Unit usaha syariat adalah unit kerja dikantor pusat bank konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah.14
Berdasarkan pengertian di atas bank syariah adalah bank yang menjalankan oprasional berdasarkan syariat Islam sehingga terbebas dari unsur riba. Sebagai negara muslim yang terbesar di dunia maka kebutuhan masyarakat akan adanya bank syariah meningkat, sehingga menjadi suatu keharusan untuk memenuhi transaksi masyarakat untuk bermualat yang sesuai dengan syariat Islam.
13 Kuraen Perwataatmadja Dan M. Safei Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam (Jakarta: PT. Dana Bakti Wakaf,1992), h.1.
14Veithzal Rivai, Islamic Banking Sebuah Teori, Kosep, Dan Aplikasi (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2010), h.30.
2. Dasar Hukum a. Al-qur’an
Dasar hukum tentang larangan riba terdapat dalam surat QS. Al-Baqarah (2) ayat 275.
َﻛ ﱠﻻِإ َنﻮُﻣﻮُﻘَﯾ َﻻ ْا ٰﻮَﺑﱢﺮﻟٱ َنﻮُﻠُﻛۡﺄَﯾ َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ
ﺎَﻤ
ﻮُﻘَﯾ
يِﺬﱠﻟٱ ُم
َﯾ
ۡﯿﱠﺸﻟٱ ُﮫُﻄﱠﺒَﺨَﺘ
َﻦِﻣ ُﻦَٰﻄ
ُﻊۡﯿَﺒۡﻟٱ ﺎَﻤﱠﻧِإ ْآﻮُﻟﺎَﻗ ۡﻢُﮭﱠﻧَﺄِﺑ َﻚِﻟ َٰذ ۚﱢﺲَﻤۡﻟٱ
ِﻣ
ٱ ُﻞۡﺜ
ْۗا ٰﻮَﺑﱢﺮﻟ
ٱ ُ ﱠ ٱ ﱠﻞَﺣَأَو
ْۚا ٰﻮَﺑﱢﺮﻟٱ َمﱠﺮَﺣَو َﻊۡﯿَﺒۡﻟ
ۥُهَءٓﺎَﺟ ﻦَﻤَﻓ
ُﮫَﻠَﻓ ٰﻰَﮭَﺘﻧﭑَﻓ ۦِﮫﱢﺑﱠر ﻦﱢﻣ ٞﺔَﻈِﻋ ۡﻮَﻣ
َﻣ ۥ
َﻠَﺳ ﺎ
ُﺮ ۡﻣَأَو َﻒ
ِۖﱠ ٱ ﻰَﻟِإ ٓۥُه
َدﺎَﻋ ۡﻦَﻣَو
َنوُﺪِﻠ َٰﺧ ﺎَﮭﯿِﻓ ۡﻢُھ ِۖرﺎﱠﻨﻟٱ ُﺐ َٰﺤ ۡﺻَأ َﻚِﺌَٰٓﻟْوُﺄَﻓ
٢٧٥
Artinya: 275. Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya.15
Maksud dari surat di atas Pada ayat diatas menjeleskan tentang orang yang memakan riba bahwa orang yang memakan riba hidupnya tidak tentram seperti orang yang kemasukan syetan. Pada hakikatnya
riba didalam Islam tidak di perbolehkan karena ada pihak yang
dirugikan dalam riba tersebut. Sama halnya dalam perbankan syariah dilarang untuk menerapkan bunga atau riba karena bisa merugikan salah satu pihak karena dalam Islam itu sendiri menjujung tinggi prinsip
15 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Dan Terjemahan (Bandung: Hilal, 2010), h.47.
keadilan. Oleh sebab itu perbankan syariah menjalankan oprasionalnya berdasarkan prinsip bagi hasil.
Dasar hukum tentang prinsip oprasional Bank Syari’ah surat Al-Maidah (5) ayat 2
َﺮِﺌَٰٓﻌَﺷ ْاﻮﱡﻠِﺤُﺗ َﻻ ْاﻮُﻨَﻣاَء َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ ﺎَﮭﱡﯾَﺄَٰٓﯾ
ٱ
ِﱠ
ﱠﺸﻟٱ َﻻَو
َﻻَو َماَﺮَﺤۡﻟٱ َﺮۡﮭ
َﻻَو َي ۡﺪَﮭۡﻟٱ
َﺘۡﺒَﯾ َماَﺮَﺤۡﻟٱ َﺖۡﯿَﺒۡﻟٱ َﻦﯿﱢﻣٓاَء ٓ َﻻَو َﺪِﺌَٰٓﻠَﻘۡﻟٱ
ُﻐ
َﻓ َنﻮ
ﻦﱢﻣ ٗﻼ ۡﻀ
ﱠر
ٗﻧ َٰﻮ ۡﺿِرَو ۡﻢِﮭﱢﺑ
اَذِإَو ۚﺎ
ۡﺻﭑَﻓ ۡﻢُﺘ ۡﻠَﻠَﺣ
َﻨَﺷ ۡﻢُﻜﱠﻨَﻣِﺮ ۡﺠَﯾ َﻻَو ْۚاوُدﺎَﻄ
َٔ
ۡﻮَﻗ ُنﺎ
َأ ٍم
ۡﻢُﻛوﱡﺪ َﺻ ن
ٱ ِﺪِﺠ ۡﺴَﻤۡﻟٱ ِﻦَﻋ
ِماَﺮَﺤۡﻟ
َﻮۡﻘﱠﺘﻟٱَو ﱢﺮِﺒۡﻟٱ ﻰَﻠَﻋ ْاﻮُﻧَوﺎَﻌَﺗَو ْۘاوُﺪَﺘ ۡﻌَﺗ نَأ
ٰۖى
َﻻَو
ﻮُﻧَوﺎَﻌَﺗ
َو ِﻢۡﺛِ ۡﻹٱ ﻰَﻠَﻋ ْا
ِۚن َٰو ۡﺪُﻌۡﻟٱ
َﻘِﻌۡﻟٱ ُﺪﯾِﺪَﺷ َ ﱠ ٱ ﱠنِإ َۖ ﱠ ٱ ْاﻮُﻘﱠﺗٱَو
ِبﺎ
٢
Artinya: 2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar
syi'ar-syi'ar Allah[389], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram[390], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[391], dan binatang-binatang-binatang-binatang qalaa-id[392], dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya[393] dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.16
Maksud dari surat di atas adalah pada dasarnya Islam ialah agama yang Rahmatan Lil’alamin sehingga Islam menganjurkan dalam melakukan usaha haruslah memperhatikan syariat, norma yang berlaku. Islam pula mengajarkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan atau saling membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan
sama halnya jika dikaitkan dengan kegiatan bank syariah yang mempunyai peranan sebagaimana fungsi bank yang lain untuk menghimpun dana dan menyalurkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan dan dalam menjalankan oprasiaonalnya haruslah sesuai dengan syariat Islam.
3. Tujuan Bank Syariah
Ada beberapa tujuan dari perbankan syariah adalah sebagai berikut: tujuan dasar dari perbankan syariah ialah menyediakan fasilitas keuangan dengan cara mengupayakan instrumen-instrumen keuangan (financial
instrumens) yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan norma-norma
syariah.17
Dalam pasal 3 Undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah menentukan tujuan dari perbankan syariah. Menurut pasal 3 Undang-Undang tersebut, perbankan syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.18
4. Jenis-Jenis Bank Syariah
Menurut kegiatan usaha, jenis kelembagaan perbankan syariah dapat dibedakan atas:
a. Bank Syariah, yaitu bank yang menjalakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas:
17 Khazarian, Handbook Of Islamic banking (Jakarta: Galia, 1993), h.51.
18 Sutan Remi Sjahdeini, Perbankan Syariah Produk-Produk Dan Aspek-Aspek Hukum (Jakarta: Kencana, 2014), h. 32.
1) Bank Umum Syariah, yaitu bank syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa lalu lintas pembayaran.
2) Bank Pembiyaan Rakyat Syariah, yaitu bank syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran.
3) Unit Usaha Syariah (UUS), yaitu unit kerja dari kantor pusat Bank Umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu usaha bank yang kedudukan diluar negeri, yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfugsi sebagai kentor induk dari