• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN SUMBER DAN METODE BERKARYA

1) Depth of Field (DOF)

Depth of Field (DOF) adalah teknik memainkan ketajaman objek. Pada kamera, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi sempit atau luasnya depth of field, yaitu apertur, jarak pengambilan objek dan focal length yang terdapat pada lensa. Diafragma atau f/number yang semakin kecil akan mempersulit depth of field, begitu juga sebaliknya. Jarak pemotretan yang semakin dekat dengan objek akan menjadikan objek utama tampak lebih tajam, sehingga sekelilingnya yang

berada di luar fokus akan tampak blur. Panjang focal length dapat mempengaruhi ketajaman ruang gambar karena panjang focal length bertalian dengan F-stop. DOF merupakan salah satu teknik pemotretan yang digunakan oleh penulis untuk memperjelas objek utama.

2) Motion atau Stop Action

Teknik seperti ini digunakan pada objek yang bergerak cepat untuk memberikan kesan pembekuan yang lebih kental. Gerakan seperti melompat, berlari, meninju, dan menendang adalah yang lazim untuk dibekukan. Cara mendapatkan foto dengan teknik motion adalah fokus pada shutter speed. Shutter speed harus dipasang pada tingkat yang tinggi. Pada pembuatan karya fotografi ini, penulis juga menggunakan teknik motion. Teknik ini sangat tepat digunakan untuk menangkap objek yang bergerak, sehingga gerakan objek dapat terhenti dan terekam di kamera. Foto yang dihasilkan dari teknik ini adalah focus terhadap detail dan ketajaman objek. Teknik ini sangat membantu penulis dalam merekam moment, karena setiap moment berlangsung cepat dan tidak terprediksi dimana letak puncak dari moment tersebut. Shutter speed digolongkan menjadi empat jenis, antara lain low speed kecepatan berada pada 1 – 1/8, slow speed 1/16 – 1/30, normal 1/60 – 1/250 dan high speed 1/500 – 1/2000.

3) Komposisi

Komposisi adalah sebuah proses pengabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan yang utuh, dalam fotografi komposisi sangatlah penting. Tujuan menyusun komposisi adalah untuk mengorganisasikan berbagai komponen foto yang saling berlainan menjadi sedemikian rupa, sehingga gambar tersebut menjadi

suatu kesatuan yang saling mengisi, serta mendukung satu sama lainnya. Disamping menambah nilai – nilai artistik dan estetika, pengaturan komposisi mampu menonjolkan objek utama foto. Di dalam sebuah komposisi fotografi selalu ada bagian objek yang ditonjolkan agar menjadi pusat perhatian, inilah yang disebut dengan point of interest (PoI), yang membuat pengamat foto langsung melihat pada objek utama. Pada pembuatan karya fotografi ini, sebagian besar yang dijadikan point of interest oleh penulis adalah interaksi dan perilaku subjek manusianya itu sendiri.

Komposisi sangat berkaitan dengan estetika dan bersifat mengikat, karena dalam fotografi terdapat format, dengan pengertian bahwa suatu komposisi yang baik dan pas pada format tertentu belum tentu cocok atau sesuai dengan format yang lain. Secara sederhana bisa dikatakan, bahwa komposisi adalah seni untuk menciptakan harmoni pembagian bidang dengan memanfaatkan berbagai elemen visual yang tersedia: garis, bentuk, cahaya dan bayangan, warna, dan teksur (Sukarya, 2009: 31). Berikut ini beberapa macam aturan dasar komposisi yang dapat diterapkan untuk menciptakan komposisi yang efektif:

a) Rule of thirds atau komposisi sepertiga bidang

Rule of thirds didapat dengan membagi bidang foto dalam tiga bagian vertikal dan tiga bagian horisontal. Garis – garis pembagi biasanya diisi garis cakrawala untuk foto – foto landscape. Pada pembuatan karya fotografi human interest ini, penulis lebih menggunakan imajinasinya dalam menempatkan objek yang ingin dipotret, tanpa meninggalkan aturan rule of thirds untuk mendapatkan gambar yang harmonis serta enak dipandang. Komposisi seperti halnya moment dan

ekspresi, tidak dapat dibuat auto pada kamera dan tidak dapat diperbaiki melalui photoshop jika tidak sesuai.

Rule of thirds merupakan penyederhanaan dari golden ratio (rasio emas). Dari sisi historis, kaidah golden ratio banyak dipergunakan oleh seniman dan arsitek dari Abad Renaisans untuk acuan proporsi lukisan, bangunan, relief dan juga patung. Kaidah ini juga masih sangat relevan untuk diterapkan pada fotografi (Dharsito, 2015: 31).

Gambar 3: Komposisi rule of thirds dan golden mean

Sumber: http://rebel-dezigns.com/community/index.php?threads/11691/

b) Komposisi diagonal

Komposisi diagonal adalah kesan garis yang memotong dari sudut ke sudut persegi panjang, Komposisi diagonal biasanya digunakan untuk menciptakan kesan dinamis atau memunculkan dinamika sebagai estetika gambar. Subjek manusia memiliki kesan arah tegak yang sering memberikan kesan kaku, sehingga untuk mendapatkan kesan dinamis pada pemotretan ini penulis memiringkan kamera, menempatkan subjek utama pada titik potong.

Gambar 4: Komposisi diagonal

Sumber: http://djerugangsiji.blogspot.com/2012/04/10-kaidah-dalam-komposisi-foto.html

c) Komposisi Ruang Kosong dan Arah Pandang

Menurut pendapat Dharsito (2015: 35), bahwa sebuah foto tidak harus penuh berisi PoI dan elemen pelengkap, seringkali dibutuhkan adanya area tidak berisi objek atau ruang kosong. Ruang kosong pada foto bisa digunakan untuk menggambarkan arah pandang atau gerakan, sedangkan arah pandang bisa juga didapatkan dengan memberikan ruang luas didepan atau dibelakang objek.. Penerapan dari komposisi ini menciptakan arah dan kesan yang berbeda-beda, karena interpretasi kesan juga sangat tergantung pada selera dan pengalaman penikmat foto.

Disamping elemen – elemen visual dan macam komposisi, di dalam fotografi juga terdapat pendukung komposisi untuk membuat sebuah karya fotografi tampil menarik dan memberi nilai tambah, antara lain:

a) Framing

Framing dalam fotografi adalah memberikan elemen–elemen tertentu diantara objek utama sehingga membuat kesan objek utama tersebut berada dalam sebuah bingkai atau frame. Frame tersebut dapat berbentuk apa saja, dedaunan, bidang gelap, jendela rumah, dan lain–lain yang tidak terbatas jumlahnya. Pada beberapa karyanya, penulis menciptakan framing dengan pepohon, rerumputan, barang yang dibawa oleh subjek, dan segala sesuatu yang berada di dekat subjek yang menarik untuk dijadikan sebagai frame. Efek dari penerapan framing adalah mengarahkan perhatian pemirsa menuju point of interest, menambah kreasi untuk membentuk subjek tampil lebih menarik dan menambah keindahan pada bentuk.

Gambar 5: Framing

b) Sudut Pandang

1) Sudut Pandang Normal

Sudut pandang normal atau terkadang disebut eye level adalah sudut pengambilan gambar dimana objek dan kamera sejajar atau setinggi mata memandang. Efek penggunaan eye level adalah foto yang lebih akrab, ekspresi yang lebih natural, dan lebih mengena dalam memberikan sudut pandang dari objek.

2) Low angle

Low angle disebut juga frog eye viewing, pandangan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di bawah atau lebih rendah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak diarahkan ke atas, tetapi mendatar dan dilakukan sambil tiarap sehingga objek terkesan membesar, kuat, tinggi, dan megah.

3) High angle

High angle disebut juga pandangan burung (bird eye viewing), pemotretan ini dengan menempatkan objek foto lebih rendah daripada kamera, efek yang tampak objek terlihat rendah, pendek dan kecil. Untuk memotret subjek manusia pada tradisi nyadran ini, sebisa mungkin menciptakan kesan yang lebih akrab dan nyaman dipandang dengan pemotretan dari ketinggian mata objek.

c) Format gambar

Format gambar digunakan untuk menciptakan daya tarik objek dan bagaimana menampilkan objek dengan baik bersama suasana di sekitarnya. Ada dua jenis format gambar dalam fotografi, yaitu vertikal dan horizontal. Format vertikal biasanya digunakan untuk menimbulkan kesan tinggi, kuat, kokoh, agung

dan angkuh, sedangkan format horizontal digunakan untuk menimbulkan kesan tenang, santai, luas, damai dan kalem.

Gambar 6: Format vertikal dan horizontal

Sumber: http://www.andisucirta.com/blog_detail.php?id=107

d) Dimensi

Di dalam fotografi, dimensi dapat mengangkat rasa, dapat memberikan kesan ruang dan mengangkat suasana aslinya, sehingga menghadirkan kesan hidup. Hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan dimensi antara lain, menggunakan garis arah, mengatur pembagian ruang, perbandingan ukuran, mengendalikan kedalaman ruang, susunan warna dan susunan kecerahan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mendukung terjadinya dimensi ruang, antara lain permainan perspektif, permainan lensa, permainan gelap terang (tone), permainan cahaya, dan permainan foreground dan background

e) Balance

Balance berkaitan dengan keseimbangan objek foto yang akan dibidik. Di dalam fotografi balance berarti mengisi frame dengan memaksimalkan komposisi

dengan meletakkan objek atau elemen pelengkap pada sisi berlawanan untuk memberikan kesan keseimbangan pada foto. Elemen itu bisa berupa gambar, gelap terang atau pun kontras.

f) Foreground

Foreground adalah bagian utama yang ada di sebuah foto yang berada paling depan atau luar pada komposisi foto. Pemotretan ini menempatkan objek lain di depan objek utama dengan tujuan sebagai pembanding dan memperindah objek utama. Objek yang berada di depan objek utama ini dapat dibuat tajam (focus) maupun tidak tajam (blurring).

g) Background

Background adalah latar yang berada paling belakang dalam komposisi foto. Berkebalikan dengan foreground, background menempatkan objek lain di belakang objek utama dengan tujuan sebagai pembanding dan memperindah objek utama.

h) Middleground

Middleground adalah space yang berada diantara foreground dan background. Pada beberapa kondisi tertentu, middleground digunakan sebagai tempat untuk meletakkan posisi objek utama. Objek pada posisi ini harus dalam kondisi fokus, sementara foreground dan background adalah softly blurred.

Di dalam fotografi, kemampuan menempatkan diri atau mencari angle wajib dikuasai seorang fotografer untuk mendapatkan moment yang diinginkan. Sudut pemotretan yang tepat akan memunculkan beberapa aspek pendukung keindahan dan keberhasilan (Sugiarto, 2014: 27).

2. Tinjauan Fotografi Human Interest

Terdapat beberapa jenis fotografi human interest, seperti sport, war, people, jurnalistik. Pada awalnya, fotografi human interest dianggap foto jurnalistik. Jurnalistik bisa masuk dalam kategori human interest, akan tetapi human interest sendiri belum tentu jurnalistik karena pada kategori jurnalistik harus memenuhi syarat yang lebih kompleks (Sugiarto, 2003: 85). Jika ditinjau dari asal usul kata, arti human interest adalah human berarti manusia, bersifat manusia, demikian menurut John Echols dalam Kamus Inggris – Indonesia (1984: 306). Sedangkan interest berarti perhatian, minat, kepentingan, berminat pada, menarik perhatian. Pengertian human interest dalam lingkup fotografi menurut Soelarko (1975: 9) adalah, apabila suatu karya fotografi yang lebih menekankan pada aspek ceritanya daripada aspek keindahan visualnya. Hal ini dapat diartikan bahwa, nilai foto human interest lebih ditekankan pada aspek yang berada dibalik apa yang tidak tampak atau tersirat daripada aspek yang tampak. Jadi, foto human interest tidak hanya dilihat dan dinilai dari aspek visualnya, tetapi juga dari aspek emosionalnya. Foto human interest yang baik adalah yang berhasil menampilkan emosi subjek. Berdasarkan pengertiannya, maka foto human interest bertujuan untuk menggambarkan adegan-adegan kehidupan manusia di dalam aktivitas kehidupan sehari–hari.

Menurut Soelarko (1975: 9), foto–foto yang menyajikan kehidupan manusia sehari–hari atau yang dapat menimbulkan asosiasi dengan kehidupan manusia dapat dimasukkan ke dalam kategori foto human interest. Wilsen Way (2014: 3) juga mengungkapkan bahwa fotografi human interest adalah jenis fotografi yang

menampilkann sisi kemanusiaan dari pengalaman personal fotografernya. Fotografi ini menyampaikan pesan emosi yang ada, berkaitan dengan interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya, bisa benda, alam, binatang ataupun manusia. Dari teori Soelarko dan Wilsen Way tersebut dapat disimpulkan bahwa, human interest adalah foto tentang kehidupan manusia yang menarik, tidak hanya menekankan pada aspek keindahan visualnya tapi juga makna atau cerita dari sisi pengalaman fotografer.

Soelarko (1981) menuliskan tiga kriteria fotografi human interest sebagai berikut:

a. Kemampuan Foto untuk Menyentuh Perasaan Khalayak Umum

Seorang fotografer harus berupaya bagaimana menampilkan sisi kemanusiaan atau emosi yang menggugah perasaan yang melihatnya, baik itu dalam kehidupan sehari–hari maupun saat momen–momen tertentu. Tidak hanya aspek visual saja yang menjadi perhatian penulis dalam menciptakan karya foto human interest ini, akan tetapi juga aspek emosional. Pilihan nuansa hitam-putih membuat penulis lebih tertantang dalam menampilkan karyanya untuk menciptakan kesan dramatis, dimana dengan warna yang terbatas yaitu hitam putih, penulis harus bisa menyuguhkan foto human interest yang bisa menyentuh sisi emosi para penikmat karyanya.

b. Kealamian atau Keaslian Foto

Foto human interest yang bagus adalah yang diambil secara alami, asli tanpa dibuat–buat. Sifat alami tersebut akan semakin memberi kekuatan pada foto. Untuk mendapatkan hasil foto yang alami di setiap adegannya, penulis melakukan

pemotretan dengan cara candid. Penulis melakukan pemotretan secara diam–diam dan diambil dari jarak tertentu supaya subjek tidak mengetahui sedang dipotret, sehingga subjek yang dipotret pun tidak sengaja berpose dan tidak merasa terganggu. Penulis pun juga tetap melakukan pendekatan sosial dengan masyarakat setempat sebelum mengambil gambar. Foto yang didapatkan pun terlihat alami, apa adanya dan tidak ada kesan dibuat–buat dengan menggunakan teknik candid.

c. Hitam Putih yang Dramatis

Fotografi human interest berhubungan dengan sisi kemanusiaan dan bertujuan menyentuh perasaan orang lain, maka warna foto yang ada dibuat sederhana, soft dan cenderung sedikit warna (hitam putih, kekuningan atau kecoklatan). Guna mendorong keberhasilan dalam menciptakan foto human interest, penulis memilih nuansa hitam putih untuk karyanya, karena kompleksitas warna terkadang dapat membiaskan makna dari foto tersebut. Warna hitam putih yang sederhana akan lebih membantu penulis dalam menciptakan karya foto yang emosional dan dramatis.

Pada karya fotografi human interest yang bertema kebudayaan dengan topik tradisi masyarakat ini, penulis menggambarkan kegiatan masyarakat pada tradisi nyadran Gunung Balak, baik dilihat dari prosesinya, interaksi manusia dengan manusia, maupun manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Dokumen terkait