2.4 Kinerja Ruas Jalan Perkotaan
2.4.3 Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan (DS) didefinisikan sebagai rasio arus jalan terhadap kapasitas, yang digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja simpang dan segmen jalan. Nilai DS menunjukkan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah kapasitas atau tidak. Persamaan dasar untuk menentukan derajat kejenuhan adalah sebagai berikut:
C Q
DS (2.2)
Keterangan:
DS = Derajat kejenuhan
Q = Arus lalu-lintas (smp/jam) C = Kapasitas (smp/jam)
2.4.4 Kecepatan
Kecepatan adalah jarak perjalanan yang ditempuh dalam satuan waktu (km/jam).
20 Klasifikasi utama dalam analisis kecepatan adalah :
- Kecepatan titik/sesaat ( spot speed ) adalah kecepatan yang diukur pada saat kendaraan melintasi suatu titik dijalan. Metode ini survai ini digunakan dalam survai kecepatan titik. Contoh dalam menghitung kecepatan kendaraan saat melewati zebra cross.
- Kecepatan rata-rata ruang ( space mean speed ) adalah kecepatan rata-rata dari semua kendaraan yang menempati suatu potongan jalan selama suatu periode waktu tertentu. Metode survai ini digunakan untuk menghitung kecepatan kendaraan yang melewati panjang segmen survai.
- Kecepatan rata-rata waktu ( time mean speed ) adalah kecepatan rata-rata dari semua kendaraan yang melintasi suatu titik di jalan selama periode waktu tertentu. Contohnya perhitungan kecepatan rata-rata suatu kendaraan pada potongan segmen jalan tertentu.
- Kecepatan bergerak ( Running Speed ) adalah panjang suatu potongan jalan tertentu dibagi waktu bergerak. Metode survai ini digunakan dalam perhitungan kecepatan rata-rata kendaraan berjalan pada lalu lintas. Contoh perhitungan kecepatan tempuh suatu kendaraan di segmen secara keseluruhan. - Kecepatan perjalanan ( journey speed ) adalah kecepatan efektif kendaraan
yang sedang dalam perjalanan antara dua titik pengamatan dibagi dengan lama waktu perjalanan yang diamati. Metode survai ini digunakan dalam survai suatu perjalanan dari asal hingga tujuan.
MKJI menggunakan kecepatan tempuh sebagai ukuran utama kinerja segmen jalan. Kecepatan tempuh merupakan kecepatan rata-rata (km/jam) arus lalu lintas dari panjang ruas jalan dibagi waktu tempuh rata-rata kendaraan yang melalui segmen jalan tersebut. (MKJI 1997). Rumus yang digunakan untuk mencari kecepatan rata-rata kendaraan ringan adalah sebagai berikut:
TT L
V (2.3)
Keterangan:
V = Kecepatan rata-rata kendaraan ringan (km/jam) L = Panjang segmen (km)
21 TT = Waktu tempuh rata-rata kendaraan ringan sepanjang sepanjang segmen
(jam)
a. Kecepatan Arus Bebas
Kecepatan arus bebas didefinisikan sebagai kecepatan pada saat tingkatan arus nol, sesuai dengan kecepatan yang akan dipilih pengemudi seandainya mengendarai kendaraan bermotor tanpa halangan kendaraan bermotor lain di jalan (yaitu saat arus = 0). Kecepatan arus bebas mobil penumpang biasanya 10-15% lebih tinggi dari jenis kendaraan lain. Persamaan untuk penentuan kecepatan arus bebas pada jalan perkotaan mempunyai bentuk sebagai berikut:
FV = (FV0 + FVW) x FFVSF x FFVCS (2.4)
Keterangan:
FV = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan pada kondisi lapangan (km/jam) FV0 = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan pada jalan dan alinyemen
yang diamati (km/jam)
FFVW = Penyesuaian kecepatan akibat lebar jalur lalu lintas (km/jam)
FFVSF = Faktor penyesuaian hambatan samping dan lebar bahu/jarak kereb ke penghalang
FFVCS = Faktor penyesuaian kota 1. Kecepatan Arus Bebas Dasar (FV0)
Berdasarkan Dep.PU (1997), kecepatan arus bebas adalah kecepatan kendaraan yang tidak dihalangi kendaraan lain. Kecepatan arus bebas dasar ditentukan berdasarkan jenis jalan dan jenis kendaraan. Untuk nilai kecepatan arus bebas dasar dapat dilihat pada Tabel 2.12.
22 Tabel 2.12 Kecepatan arus bebas dasar (FV0) untuk jalan perkotaan
Tipe Jalan
Kecepatan Arus Bebas (FVO) (km/jam) Kendaraan Ringan LV Kendaraan Berat HV Sepeda Motor MC Semua Kendaraan (rata-rata) Enam lajur terbagi
(6/2 D) atau tiga lajur satu arah ( 3/1 )
61 52 48 57
Empat lajur terbagi ( 4/2 D ) atau dua lajur satu arah ( 2/1 )
57 50 47 55
Empat lajur tak
terbagi ( 4/ 2 UD ) 53 46 43 51
Dua lajur tak terbagi
( 2/2 UD ) 44 40 40 42
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum ( 1997 )
2. Faktor Penyesuaian Lebar Jalur Lalu Lintas Efektif (FVW)
Penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas ditentukan berdasarkan jenis jalan dan lebar jalur lalu lintas efektif (Wc). Pada jalan selain 2/2 UD pertambahan atau pengurangan kecepatan bersifat linier sejalan dengan selisihnya dengan lebar standar (3,5 meter). Hal ini berbeda terjadi pada jalan 2/2 UD terutama untuk Wc (2 arah) kurang dari 6 meter. Nilai untuk penyesuaian kecepatan arus bebas untuk lajur lalu lintas dapat dilihat pada tabel 2.13.
23 Tabel 2.13 Faktor penyesuaian FFVW untuk pengaruh lebar jalur lintas pada
kecepatan arus bebas kendaraan ringan jalan perkotaan Tipe Jalan
Lebar Jalur Lalu Lintas Efektif (WC)
(m)
FVW (km/jam)
Empat lajur terbagi (4/2 D) atau jalan satu arah
Per lajur 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 -4 -2 0 2 4
Empat lajur tak terbagi (4/2 UD)
Per lajur 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 -4 -2 0 2 4
Dua lajur dua arak tak terbagi (2/2 UD)
Total dua arah 5 6 7 8 9 10 11 -9,5 -3 0 3 4 5 7
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum ( 1997 )
3. Faktor Penyesuaian Hambatan Samping (FFVSF)
Faktor penyesuaian hambatan samping ditentukan berdasarkan jenis jalan, kelas hambatan samping, lebar bahu (jarak kereb ke penghalang) efektif.
a. Jalan Dengan Bahu
Faktor penyesuaian untuk pengaruh hambtan samping dan lebar bahu (FFVSF) pada harus bebas kendaraan ringan untuk jalan perkotaan dengan bahu dapat dilihat pada Tabel 2.14.
24 Tabel 2.14 Faktor penyesuaian untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu (FFVSF) pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan untuk jalan perkotaan dengan bahu
Tipe Jalan Kelas Hambatan Samping
Faktor Penyesuaian Untuk Hambatan Samping dan Lebar Bahu (FFVSF)
Lebar Bahu efektif rata-rata (m)
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0 4/2 D Sangat Rendah 1,02 1,03 1,03 1,04 Rendah 0,98 1,00 1,02 1,03 Sedang 0,94 0,97 1,00 1,02 Tinggi 0,89 0,93 0,96 0,99 Sangat Tinggi 0,84 0,88 0,92 0,96 4/2 UD Sangat Rendah 1,02 1,03 1,03 1,04 Rendah 0,98 1,00 1,02 1,03 Sedang 0,93 0,96 0,99 1,02 Tinggi 0,87 0,91 0,94 0,98 Sangat Tinggi 0,80 0,86 0,90 0,95 2/2 UD atau jalan satu arah Sangat Rendah 1,00 1,01 1,01 1,01 Rendah 0,96 0,98 0,99 1,00 Sedang 0,91 0,93 0,96 0,99 Tinggi 0,82 0,86 0,90 0,95 Sangat Tinggi 0,73 0,79 0,85 0,91
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum ( 1997 )
b. Jalan Dengan Kereb
Faktor penyesuaian untuk pengaruh hambatan samping dengan kereb (FFVSF) pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan untuk jalan perkotaan dengan kereb dapat dilihat pada Tabel 2.15.
25 Tabel 2.15 Faktor penyesuaian untuk pengaruh hambatan samping dan kereb penghalang (FFVSF) pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan untuk jalan perkotaan dengan kereb
Tipe Jalan Kelas Hambatan Samping
Faktor Penyesuaian Untuk Hambatan Samping dan
Jarak Kereb Penghalang (FFVSF) Jarak Kereb Penghalang (m)
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0 4/2 D Sangat Rendah 1 1,01 1,01 1,02 Rendah 0,97 0,98 0,99 1,00 Sedang 0,93 0,95 0,97 0,99 Tinggi 0,87 0,90 0,93 0,96 Sangat Tinggi 0,81 0,85 0,88 0,92 4/2 UD Sangat Rendah 1 1,01 1,01 1,02 Rendah 0,96 0,98 0,99 1,00 Sedang 0,91 0,93 0,96 0,98 Tinggi 0,84 0,87 0,90 0,94 Sangat Tinggi 0,77 0,81 0,85 0,90 2/2 UD atau jalan satu arah Sangat Rendah 0,98 0,995 0,99 1,00 Rendah 0,93 0,95 0,96 0,98 Sedang 0,87 0,89 0,92 0,95 Tinggi 0,78 0,81 0,84 0,88 Sangat Tinggi 0,68 0,72 0,77 0,82
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum ( 1997 )
4. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FFVCS)
Faktor penyesuaian ukuran kota (FFVCS) ditentukan berdasarkan jumlah penduduk di kota tempat ruas jalan yang bersangkutan berada. Manual Kapasitas Jalan Indonesia (1997) menyarankan reduksi terhadap kecepatan arus bebas dasar bagi kota berpenduduk kurang dari 1 juta jiwa dan kenaikan terhadap kapasitas dasar bagi kota berpenduduk lebih dari 3 juta jiwa.
26 Tabel 2.16 Faktor penyesuaian FFVCS untuk pengaruh ukuran kota pada
kecepatan arus bebas kendaraan ringan jalan perkotaan
Ukuran Kota (juta jiwa) Faktor Penyesuaian Untuk Ukuran Kota
< 0,1 0,90
0,2 – 0,5 0,93
0,6 – 1,0 0,95
1,1 – 3,0 1,00
>3,0 1,03
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum ( 1997 )
5. Hubungan Kecepatan Arus Bebas Dengan Derajat Kejenuhan
Kecepatan arus bebas mempunyai suatu kaitan dengan derajat kejenuhan. Hal ini dapat dilihat dari grafik hubungan kecepatan sebagai fungsi dari derajat kejenuhan (Q/C) pada Gambar 2.4. Gambar tersebut digunakan dalam mencari tingkat pelayanan dari suatu jalan maupun kecepatan teoritis pada suatu jalan. Untuk mencari tingkat pelayanan, hal pertama yang dilakukan adalah memplot garis yang diambil berdasarkan kecepatan arus bebas secara sejajar dengan garis kecepatan rata-rata kendaraan ringan yang tersedia. Kemudian menarik garis keatas berdasarkan besarnya derajat kejenuhan. Pertemuan antara garis kecepatan arus bebas dengan derajat kejenuhan kemudian ditarik garis ke kiri untuk mendapatkan kecepatan perjalanan rata-rata teoritis. Selanjutnya pertemuan ketiga garis tersebut akan menentukan tingkat pelayanan jalan. Garis putus-putus pada grafik menunjukkan bahwa tingkat pelayanan sudah mencapai kondisi F dimana arus tertahan dan terjadi antrean kendaraan yang panjang, kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volume rendah serta terjadi kemacetan untuk durasi yang cukup lama, keadaan antrean, kecepatan maupun volume turun sampai 0.