• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDAM Tirta Asasta Kota Depok didirikan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Air Minum Kota Depok dan Pedoman Penetapan Tarif Air Minum. Tirta sendiri berarti “Air” dan Asasta berdasarkan bahasa Sansekerta berarti “Sejahtera”, maka yang dimaksud dengan Tirta Asasta adalah Air Kesejahteraan. Hal ini menjadikan PDAM Tirta Asasta sebagai lembaga yang melalui pelayanan air publiknya dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat dengan memberi banyak manfaat dan keberkahan.

Sebelum tahun 2013 PDAM Tirta Asasta Kota Depok masih merupakan UPT Kota Depok yang bermitra dengan PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor. PDAM Tirta Asasta Kota Depok sesuai dengan amanat peraturan daerah memiliki tujuan memenuhi kebutuhan pelayanan air bersih bagi masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Secara struktur Direktur PDAM Kota Depok bertanggung jawab langsung kepada dewan pengawas dan Walikota Depok. Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Depok Nomor 82.22/69/Kpts/PDAM/Huk/2013 tentang pengangkatan Direksi PDAM Kota Depok, pada tanggal 29 Januari 2013 telah ditetapkan M.Olik Abdul Holik, Ak, M.Si sebagai Direktur PDAM Kota Depok.

Berdasarkan SK Direktur Nomor 821.1/01/SK-PDAM/I/2013 telah ditetapkan pengangkatan pegawai PDAM Kota Depok dengan latar belakang pendidikan SLTA sebanyak 28 orang, D3 sebanyak 6 orang, S1 sebanyak 12 orang, S2 sebanyak 3 orang. Bagan struktur organisasi dapat dilihat ada Gambar 5.

32

Gambar 5 Bagan Struktur Organisasi PDAM Tirta Asasta Kota Depok Sumber : PDAM Tirta Asasta Kota Depok (2013)

PDAM Tirta Asasta Kota Depok saat ini melayani sekitar 1,9% dari luas wilayah Kota Depok yaitu kecamatan Cimanggis dan Sawangan dan sekitarnya.

Namun kedepannya PDAM Tirta Asasta Kota Depok berencana untuk memperluas wilayah pelayanannya hingga ke wilayah Cinere-Limo yang akan bekerja sama dengan pihak swasta dan wilayah Bojongsari yang akan bekerja sama dengan pemerintah pusat.

PDAM Tirta Asasta Kota Depok mempunyai dua unit pelayanan yaitu unit pelayanan Cimanggis dan Sawangan. Kapasitas distribusi untuk unit pelayanan Cimanggis sekitar 60-68 liter per detik, sedangkan unit Sawangan sekitar 25-42 liter per detik. Sampai saat ini jumlah pelanggan yang dilayani sejak tahun 2004 hingga tahun 2013 adalah sebanyak 7440 pelanggan. Gambar 5 menunjukan

33

Gambar 6 Perkembangan jumlah pelanggan PDAM Tirta Asasta Kota Depok Tahun 2004- 2013.

Sumber : PDAM Tirta Asasta Kota Depok (2013), diolah 5.5 Karakteristik Responden

Responden yang diambil secara umum merupakan pelanggan air PDAM Tirta Asasta Kota Depok golongan 3B. Golongan 3B dipilih dikarenakan merupakan golongan pelanggan yang diberlakukan tarif dasar dan merupakan golongan pelanggan yang paling banyak yaitu mencapai 97% dari total pelanggan PDAM Tirta Asasta Kota Depok pada tahun 2013.

5.5.1 Jenis Kelamin Responden

Jenis kelamin responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden berjenis kelamin wanita yaitu sebanyak 74 %. Hal ini disebabkan waktu pengambilan data primer pada siang hari. Pada waktu ini umumnya pria yang berperan sebagai kepala keluarga tidak berada di rumah dikarenakan pekerjaan.

141 449

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah pelanggan baru per tahun Jumlah pelanggan sampai dengan tahun

34

Gambar 7 Perbandingan jenis kelamin responden.

Sumber : Data Primer (2015)

5.5.2 Umur Responden

Umur responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden yang berumur 31 tahun hingga 40 tahun yaitu sebanyak 42 %. Secara umum responden masuk kedalam kategori usia yang mampu untuk berfikir matematis terhadap bid.

Gambar 8 Umur Responden.

Sumber : Data Primer (2015)

5.5.3 Jumlah Tanggungan Responden

Jumlah tanggungan dalam penelitian ini didominasi oleh responden yang mempunyai jumlah tanggungan sebanyak 3 orang (biasanya 1 orang istri dan 2 orang anak) yaitu sebanyak 68 %. Responden sebagian besar telah menikah dan memiliki anak.

26%

74%

Pria Wanita

1%

38%

42%

17%

2%

<=20 21-30 31-40 41-50

>50

35

Gambar 9 Jumlah Tanggungan Responden.

Sumber : Data Primer (2015)

5.5.4 Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan responden dalam peneltian ini didominasi oleh responden yang mempunyai tingkat pendidikan hingga Strata 1 (S1) yaitu sebanyak 57 % kemudian disusul oleh responden yang mempunyai tingkat pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Gambar 10 Tingkat Pendidikan Responden.

Sumber : Data Primer (2015)

5.5.5 Pendapatan Responden

Pendapatan responden dalam penelitian ini didominasi oleh tingkat pendapatan antara 2,6 juta hingga 3,5 juta rupiah. Hal ini kemungkinan

36

berhubungan dengan tingkat Upah Minimum Relatif (UMR) Kota Depok yaitu sekitar 2,7 juta rupiah.

Gambar 11 Pendapatan Responden.

Sumber : Data Primer (2015)

4%

46%

24%

21%

5%

1,5 Juta - 2,5 Juta 2,6 Juta - 3,5 Juta 3,6 Juta - 5 Juta Lebih dari 5 Juta Lebih dari 10 Juta

37

HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Penerapan Tarif Air PDAM Tirta Asasta Kota Depok PDAM Tirta Asasta Kota Depok sesuai dengan amanat Perda Kota Depok Nomor 10 Tahun 2011 diharuskan memenuhi kebutuhan pelayanan air bersih dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pendapatan asli daerah (PAD).

Agar dapat memenuhi kewajibannya, PDAM Tirta Asasta Kota Depok diharuskan mendapatkan keuntungan. Keuntungan berasal dari pendapatan dikurangi seluruh komponen biaya. Biaya yang ditanggung PDAM Tirta Asasta Kota Depok terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Biaya langsung merupakan biaya yang langsung berhubungan dengan penjualan air seperti biaya sumber air, biaya instalasi pengolahan, dan biaya transmisi dan distribusi. Pada tahun 2013 biaya sumber air yang terdiri dari beban pemeliharaan pompa, beban air baku, beban penyusutan adalah sebesar Rp 3.699.508.918. Tidak seperti PDAM lainnya, PDAM Tirta Asasta Kota Depok belum dapat memproduksi air sendiri sehingga masih membeli air sebesar Rp 2.000/m3 kepada PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor. Biaya instalasi pengolahan adalah sebesar Rp 150.829.006. Biaya transmisi dan distribusi terdiri dari beban bahan, beban pemeliharaan instalasi transisi dan distribusi, dan beban penyusutan adalah sebesar Rp 3.331.843.142.

Biaya tidak langsung merupakan biaya yang tidak langsung berhubungan dengan penjualan air seperti biaya administrasi dan biaya umum. Pada tahun 2013 biaya administrasi dan biaya umum adalah sebesar Rp 6.524.639.784 yang terdiri dari beban pegawai, beban kantor, beban hubungan langganan, beban penelitian dan pengembangan, beban keuangan, beban pemeliharaan, beban penyisihan piutang usaha, rupa-rupa beban umum, dan beban penyusutan instalasi non-pabrik. Beban yang terbesar terdapat pada beban umum, beban pegawai dan beban penelitian dan pengembangan masing-masing sebesar Rp 1.026.865.563, Rp 3.688.468.451, Rp 879.289.152. Adapun biaya di luar usaha sebesar Rp 3.731.247.

38

Tabel 4 Biaya Usaha PDAM Tirta Asasta Kota Depok Tahun 2013.

Komponen Biaya PDAM Tirta Asasta 2013 Jumlah Biaya (Rupiah/Tahun)

2. Biaya Tidak Langsung Usaha

Beban Pegawai 3.688.468.451

Sumber : PDAM Tirta Asasta Kota Depok (2013)

Beban penyusutan instalasi transmisi dan distribusi sebesar Rp 3.223.064.372 terjadi akibat banyaknya instalasi distribusi yang rusak berat, pencurian air, dan banyaknya meteran pelanggan yang rusak. Hal in menyebabkan tingginya persentase kebocoran air dari distribusi ke keran pelanggan. Pada tahun 2013 jumlah volume air yang terdistribusikan tercatat sebanyak 2.167.508,74 m3, akan tetapi jumlah volume air yang terjual hanya sebesar 1.533.389 m3 sehingga persentase kebocoran air mencapai angka 29,25%. Sebanyak 634.119,74 m3 air yang hilang ini menyebabkan tidak maksimalnya pendapatan air yang diterima oleh PDAM Tirta Asasta Kota Depok.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada PDAM,

39

struktur penetapan tarif PDAM terdiri dari tiga jenis yaitu tarif rendah, tarif dasar, dan tarif penuh. Tarif dasar adalah tarif yang sama dengan biaya dasar dalam produksi air. Tarif dasar ini tidak disubsidi dan tidak pula mensubsidi, tidak seperti kelompok tarif lainnya. Tarif dasar ini dapat diperoleh dengan membagi total biaya usaha dengan volume air yang terjual. Tabel 5 menunjukan perhitungan tarif dasar PDAM Tirta Asasta Kota Depok untuk tahun 2013.

Tabel 5 Perhitungan Tarif Dasar PDAM Tirta Asasta Kota Depok.

No Uraian Satuan Jumlah Keterangan

1 Biaya Dasar a Total Biaya Usaha

(TBU) Rp/Tahun 13.710.552.100

b Faktor inflasi (i) %/Tahun 8.36 Data Bank

Indonesia c Volume Air

Terproduksi (VAP) m3/Tahun 2.167.508,74 Data Produksi d Volume Kehilangan

Air (VKA) m3/Tahun 634.119,74 Data Produksi e Tingkat Kehilangan

Air (TKA) %/Tahun 29.25 Rataan

Kehilangan f Biaya Dasar (BD) Rp/m3 8.941

BD

= TBU

VAP − VKA 2 Tarif Dasar

a Biaya Dasar (BD) Rp/m3 8.941

b Tarif Dasar (TD) Rp/m3 8.941 TD=BD

Sumber : PDAM Tirta Asasta Kota Depok (2013), diolah

Tarif dasar yang didapatkan dari hasil perhitungan menunjukan tingkat tarif yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp 8.941/m3. Hal ini disebabkan karena tingginya tingkat volume kehilangan air. Bila diasumsikan volume penjualan air tidak mengalami kebocoran maka tarif dasar yang didapatkan adalah sebesar Rp 6.325/m3. Gambar 12 menunjukan perbandingan antara tarif dasar dengan tarif PDAM Tirta Asasta yang berlaku per Agustus 2014.

40

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000

I IIA IIB IIIA IIIB IIIC IVA IVB IVC IVD IVE

Pemakaian 0-10 m3 Pemakaian >10 m3 Tarif Dasar

Gambar 12 Perbandingan Tarif Dasar (FCR) dengan Tarif PDAM Tirta Asasta Kota Depok yang berlaku per Agustus 2014.

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa tarif yang diterapkan PDAM Tirta Asasta Kota Depok belum memenuhi aspek Full Cost Recovery (FCR). Tarif pelanggan golongan I (sosial umum) hingga golongan IVC (industri kecil) masih berada dibawah tarif dasar meskipun dengan pemakaian lebih dari 10 m3. Hanya golongan IVD (niaga besar) dan IVE (industri besar) yang memiliki tarif di atas tarif dasar. Hal ini menyebabkan keuangan PDAM Tirta Asasta Kota Depok defisit, tercatat pada tahun 2013 perusahaan defisit sebesar Rp 4.005.071.527.

Tarif rendah adalah tarif bersubsidi yang nilainya lebih rendah daripada biaya dasar. Tabel 6 menunjukan hasil perhitungan tarif rendah untuk PDAM Tirta Asasta Kota Depok untuk tahun 2013.

41

Tabel 6 Perhitungan Tarif Rendah PDAM Tirta Asasta Kota Depok.

No Uraian Satuan Jumlah Keterangan

A Tarif Dasar (TD) Rp/m3 8.941

B Volume air terjual sosial umum

(VATU) m3/tahun 22572 Data Produksi

C Volume air terjual sosial khusus dan

rumah sangat sederhana (VATK) m3/tahun 55772 Data Produksi D Volume air terjual instansi pemerintah

(VATI) m3/tahun 4297 Data Produksi

E Subsidi golongan sosial umum (SU) % 77.5 F Subsidi golongan sosial khusus dan

rumah sangat sederhana (SK) % 35.5

G Subsidi instansi pemerintah (SI) % 8

H Nilai subsidi golongan sosial umum

(NSU) Rp/m3 6929 NSU=TDxSU

I Nilai subsidi golongan sosial khusus

dan rumah sangat sederhana (NSK) Rp/m3 3174 NSK=TDxSK J Nilai subsidi instansi pemerintah

(NSI) Rp/m3 715 NSI=TDxSI

K Tarif rendah untuk pelanggan

sosial umum (TSU) Rp/m3 2012 TSU=TD-NSU

M Tarif rendah untuk instansi

pemerintah (TSI) Rp/m3 8226 TSI=TD-NSI

N Total subsidi golongan sosial umum

(TU) Rp/tahun 156.401.388 TU=NSUxVATU

O Total subsidi golongan sosial khusus

dan rumah sangat sederhana (TK) Rp/tahun 177.020.328 TK=NSKxVATK P Total subsidi instansi pemerintah (TI) Rp/tahun 3.072.355 TI=NSIxVATI

Sumber : PDAM Tirta Asasta Kota Depok (2013), diolah

Menurut Esanawati (2009) penetapan tarif rendah diharapkan tidak lebih rendah daripada biaya produksi air. Subsidi ditetapkan agar dapat menutupi biaya produksi sekaligus mencapai ketersediaan air yang adil bagi seluruh masyarakat.

Persentase subsidi dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga yaitu untuk pelanggan sosial umum, pelanggan sosial khusus dan rumah sangat sederhana, dan instansi pemerintah. Nilai persentase didapatkan dari perhitungan persentase dari tarif golongan IIIB (rumah tangga) yang berlaku saat ini di PDAM Tirta Asasta Kota Depok.

42

Pelanggan golongan sosial umum mendapatkan subsidi sebesar 77,5 %, pelanggan golongan sosial khusus dan rumah sangat sederhana sebesar 35,5 % dan instansi pemerintah sebesar 8%. Besarnya nilai subsidi didapatkan dengan mengalikan persentase subsidi dengan tarif dasar sehingga diperoleh Rp 6.929/m3 untuk pelanggan sosial umum, Rp 3.174/m3 untuk pelanggan sosial khusus dan rumah sangat sederhana, dan Rp 715/m3 untuk instansi pemerintah. Tarif rendah didapatkan dengan mengurangi tarif dasar dengan nilai subsidi untuk masing-masing golongan pelanggan.

Tarif rendah untuk pelanggan sosial umum, sosial khusus dan rumah sangat sederhana, dan instansi pemerintah masing-masing sebesar Rp 2.012/m3,Rp 5.767/m3, dan Rp 8.226/m3. Total subsidi didapatkan dengan mengalikan nilai subsidi dengan volume air terjual untuk masing-masing golongan pelanggan. Total subsidi untuk pelanggan sosial umum, sosial khusus dan rumah sangat sederhana dan instansi pemerintah masing-masing sebesar Rp 156.401.388, Rp 177.020.328 dan Rp 3.072.355.

Tarif penuh adalah tarif yang nilainya lebih besar daripada tarif dasar, mensubsidi pelanggan tarif rendah dan mengandung keuntungan. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2006 tingkat keuntungan yang wajar adalah sebesar 10% dari aktiva produktif. Aktiva produktif terdiri dari aktiva lancar dan aktiva tetap nilai buku. Tabel 7 menunjukan hasil perhitungan tarif penuh PDAM Tirta Asasta Kota Depok untuk tahun 2013.

Tabel 7 Perhitungan Tarif Penuh PDAM Tirta Asasta Kota Depok

No Uraian Satuan Jumlah Keterangan

A Tarif Dasar (TD) Rp/m3 8941

43

No Uraian Satuan Jumlah Keterangan

G Volume Air Terjual

I Total Subsidi (TS) Rp/tahun 336.494.071 TS=TU+TK+TI, (Lihat Tabel 5) J Rata-rata Subsidi

Silang (RSG)

Rp/m3 228 RSG=TS/VVPTK

K Tarif Penuh (TP) Rp/m3 11.401 TP=TD+RRTK+RSG Sumber : PDAM Tirta Asasta Kota Depok (2013), diolah

Dari hasil perhitungan didapatkan aktiva produktif PDAM Tirta Asasta Kota Depok adalah sebesar Rp 32.886.722.340. Keuntungan yang wajar menurut peraturan adalah sebesar 10% dari aktiva produktif yaitu Rp 3.288.672.234.

Volume air yang terjual kepada golongan tarif penuh dan khusus sebesar 1.473.320 m3/tahun diluar golongan pelanggan sosial umum, sosial khusus, rumah sangat sederhana, dan instansi pemerintah.

Rata-rata tingkat keuntungan didapatkan dengan membagi tingkat keuntungan dengan volume air terjual kepada golongan tarif penuh dan khusus sehingga didapatkan rata-rata tingkat keuntungan adalah Rp 2.232/m3. Total subsidi didapatkan dengan menjumlahkan semua total subsidi untuk pelanggan golongan sosial umum, sosial khusus, rumah sangat sederhana, dan instansi pemerintah sehingga didapatkan total subsidi sebesar Rp 336.494.071. Rata-rata subsidi silang yang akan dibebankan kepada golongan tarif penuh dan khusus didapatkan dengan membagi total subsidi dengan volume air terjual kepada golongan tarif penuh dan khusus sehingga didapatkan rata-rata subsidi silang sebesar Rp 228/m3. Tarif penuh didapatkan dengan menjumlahkan tarif dasar, rata-rata tingkat keuntungan, dan rata-rata subsidi silang sehingga diperoleh tarif penuh untuk PDAM Tirta Asasta Kota Depok sebesar Rp 11.401/m3.

Tabel 8 menunjukan perbedaan antara tarif hasil perhitungan dengan tarif yang berlaku saat ini di PDAM Tirta Asasta Kota Depok.

44

Tabel 8 Perbandingan Tarif yang Berlaku Saat Ini dan Tarif Berdasarkan Perhitungan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2006.

Golongan selisih dengan perhitungan berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2006. Berdasarkan perhitungan tersebut penetapan tarif dasar adalah sebesar Rp 8.941/m3, sedangkan tarif golongan rumah tangga menengah yang merupakan jumlah pelanggan terbanyak hanya sebesar Rp 6.200/m3, terjadi perbedaan sebesar Rp 2.741. Hal ini tentu berpengaruh pada kelangsungan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan amanat Perda Kota Depok Nomor 10 Tahun 2011 yang mempunyai tiga tujuan yaitu memenuhi kebutuhan pelayanan air bersih bagi masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan menjadi salah satu sumber pendapatan daerah (PAD).

Tarif rendah untuk golongan pelanggan sosial umum adalah Rp 1.400/m3, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan sebesar Rp 2.012/m3 membutuhkan peningkatan tarif sebesar Rp 612 untuk mencapai tarif yang memenuhi seluruh biaya. Tarif rendah untuk golongan pelanggan sosial khusus dan rumah sangat sederhana adalah Rp 4.000/m3, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan sebesar

45

Rp 5767/m3 membutuhkan peningkatan tarif sebesar Rp 1767 untuk mencapai tarif yang memenuhi seluruh biaya. Tarif rendah untuk instansi pemerintah adalah Rp 5.700/m3, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan sebesar Rp. 8.226/m3 membutuhkan peningkatan tarif sebesar Rp.2.526 untuk mencapai tarif yang memenuhi seluruh biaya.

Penetapan tarif penuh berdasarkan hasil perhitungan adalah sebesar Rp 11.401/m3 terdapat selisih sebesar Rp 4.101 untuk golongan rumah mewah, kantor, dan lembaga perwakilan asing, Rp 3.901 untuk golongan niaga kecil, Rp 3.401 untuk golongan industri kecil, Rp 1.401 untuk golongan niaga besar, dan Rp 249 untuk golongan niaga besar.

Pelanggan sosial umum di PDAM Tirta Asasta kota Depok tidak termasuk tarif progresif sehingga untuk penggunaan serendah atau sebanyak apapun tidak berpengaruh pada besarnya tarif. Pelanggan tarif rendah lainnya mengalami tarif progresif, namun berbeda kenaikan persentasenya.

Penekanan harus dilakukan pada konsep PDAM sebagai suatu unit usaha yang juga memiliki fungsi sosial yaitu tercapainya keadilan pemenuhan kebutuhan air. Penjualan volume air untuk tarif penuh ditingkatkan tetapi dengan tetap melakukan pelayanan untuk sarana-sarana sosial. Perbaikan mutu pelayanan merupakan pertimbangan yang harus dijadikan dasar peningkatan tarif.

Pencapaian target pemulihan biaya penuh dilakukan untuk transparansi biaya dan hasil positif berupa keuntungan sehingga dapat digunakan untuk penambahan area pelayanan dan fasilitas penyediaan air bagi masyarakat Kota Depok kedepannya secara menyeluruh.

6.2 Willingness To Pay Masyarakat Terhadap Air Bersih

Analisis Willingness to Pay (WTP) masyarakat terhadap air bersih digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan membayar masyarakat untuk mendapatkan air bersih dimana tingkatan harga yang ditawarkan merupakan harga air yang ingin dibayar oleh masyarakat per meter kubiknya. Sehingga dapat dilihat sejauh mana masyarakat merasakan manfaat air dan menginginkan perbaikan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas dari sumber air yang ingin mereka terima.

46

Contingen Valuation Method (CVM) digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan nilai Willingness to Pay (WTP) masyarakat Kota Depok terhadap air bersih. Teknik yang dilakukan untuk mendapatkan besarnya nilai WTP untuk air bersih adalah dengan menggunakan metode turnbull (Fauzi,2013) dan menggunakan analisis regresi logistik biner yaitu variabel respon bersifat dikotomi (Dichotomous Choice Model) atau memiliki dua peluang kejadian dimana dalam penelitian ini responden memilih bersedia atau tidak bersedia membayar sejumlah uang untuk mendapatkan air bersih.

Dengan menggunakan metode dichotomous choice CVM, nilai bid yang ditawarkan kepada responden terdiri dari empat kategori kelas WTP yaitu sebesar Rp 2.000, Rp 5.700, Rp 8.200, dan Rp 11.400. Masing-masing bid ditanyakan kepada 25 responden yang berbeda secara acak. Tiap responden memilih bersedia atau tidak bersedia membayar nilai bid yang ditawarkan oleh peneliti. Hasil struktur elisitasi untuk single bounded dichotomous choice CVM dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Apakah Saudara Sanggup Untuk Membayar ?

Rp 2.000 Rp 5700 Rp 8200 Rp 11400

Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak

25 0 18 7 10 15 5 20

Dari hasil yang didapatkan, distribusi responden yang menjawab setuju pada nilai bid Rp 2.000 sebanyak 25 orang sedangkan distribusi responden dengan jawaban tidak nol orang. Pada nilai bid Rp 5.700 distribusi responden yang menjawab setuju sebanyak 18 orang sedangkan distribusi responden dengan jawaban tidak sebanyak 7 orang. Distribusi responden yang menjawab setuju pada nilai bid Rp 8.200 ada 10 orang sedangkan distribusi responden dengan jawaban tidak sebanyak 15 orang. Untuk nilai bid terakhir yaitu Rp 11.400 distribusi

47

responden yang menjawab setuju hanya 5 orang sedangkan distribusi responden dengan jawaban tidak sebanyak 20 orang. Perhitungan nilai WTP dari dichotomous choice CVM dalam penelitian ini menggunakan metode turnbull.

Perhitungan WTP dengan menggunakan metode Turnbull

Untuk menghitung nilai WTP dari dichotomous choice CVM digunakan metode turnbull. Prinsip metode ini cukup sederhana. Jika responden menjawab

“tidak” terhadap nilai bid yang ditawarkan, maka nilai maksimum WTP akan lebih rendah dari nilai bid. Sebaliknya jika responden menjawab “ya” maka WTP nya akan lebih besar atau paling tidak sama dengan nilai bid yang ditawarkan (Fauzi, 2013).

Sumber : Data Primer (2015), diolah

Tabel 9 menunjukan distribusi responden yang menjawab tidak pada masing-masing bid. Nilai expected WTP [E(WTP)] dengan metode Turnbull didapatkan dengan mengalikan nilai bid dengan nilai yang merupakan pengurangan dari selang atas dan selang bawah distribusi responden yang menjawab tidak. Hasil WTP didapatkan dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :

Tabel 9 Hasil Nilai Penawaran (Bid) WTP Masyarakat Nilai Bid

48

Sehingga E(WTP) yang didapatkan adalah sebesar Rp 6.304. WTP agregat atau total WTP dapat diperoleh untuk menduga WTP seluruh pelanggan air PDAM Tirta Asasta Kota Depok. TWTP didapatkan dari perkalian nilai WTP dengan jumlah pelanggan yang tercatat 7440 pelanggan pada tahun 2013. Total WTP yang didapatkan sebesar Rp 46.901.760. Proporsi WTP terhadap pendapatan rumah tangga adalah sebesar 0.13%.

Nilai variance dari WTP adalah sebagai berikut : 𝑉(𝐸𝐿𝐵(𝑊𝑇𝑃)) = ∑𝐹𝑗(1 − 𝐹𝑗)

Varian yang didapatkan dari hasil di atas adalah sebesar 235932.16. Nilai varian/keragaman ini dapat digunakan untuk menghitung seberapa besar tingkat kepercayaan kita terhadap pendugaan nilai rataan WTP. Dari hasil varian, didapatkan standard error yaitu sebesar 485.73. Selang kepercayaan (confidence interval) 95% untuk lower bound WTP menjadi 6304 ± (1.96)485.73 atau Rp 5352 dan Rp 7256.

6.3 Evaluasi Tarif Air PDAM Tirta Asasta Kota Depok dengan Hasil WTP Setelah didapatkan hasil analisis tarif air dan nilai estimasi WTP masyarakat pelanggan layanan air PDAM Tirta Asasta Kota Depok, hasil yang didapatkan akan ditujukan untuk mendapatkan gambaran perbandingan tarif air dan preferensi harga konsumen yang dapat dilihat pada gambar 8.

Penetapan besaran tarif air PDAM Full Cost Recovery yang berpedoman pada Permendagri No 23 Tahun 2006 tentang pedoman teknis dan tata cara pengaturan tarif air minum lebih tinggi daripada tarif dasar yang kini ditetapkan oleh PDAM Tirta Asasta Kota Depok dan WTP masyarakat. Hal ini dkarenakan masih tingginya biaya dasar akibat kebocoran air yang mencapai 30 persen dan jumlah pelanggan yang terlayani masih sedikit. Kebocoran air menyebabkan

49

adanya pemasukan yang hilang dan besarnya biaya perbaikan infrastruktur sehingga biaya dasar atau tarif dasarnya menjadi tinggi dan tidak dapat ditutupi dengan tarif yang berlaku.

Kenaikan tarif yang mencapai kriteria Full Cost Recovery tidak diberlakukan PDAM Tirta Asasta karena menimbang kemampuan membayar masyarakat (WTP). WTP menggambarkan permintaan sedangkan harga menggambarkan suplai. Pasar akan terbentuk apabila terjadi pertemuan antara suplai dan permintaan. Tarif air yang terlalu tinggi akan menyebabkan tidak terbentuknya pasar.

Gambar 13 Perbandingan tarif yang berlaku saat ini dengan hasil

Gambar 13 Perbandingan tarif yang berlaku saat ini dengan hasil

Dokumen terkait