• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.3 Desain Pendidikan dan Latihan (Diklat)

pembelajar memperhatikan gerak mata pengajar. Pengajar yang mendemonstrasikan disebut dengan model sedangkan kegiatan tersebut disebut permodelan (Sagala, 2010:90).

Perkembangan ilmu dan teknologi menuntut sumber belajar yang yang semakin beragam, sehingga permodelan ini juga berlaku untuk video pembelajaran. Guru yang memperagakan simulasi bercerita disebut dengan model dan simulasi bercerita yang dilakukan dalam video tersebut disebut permodelan.

2.3 Desain Pendidikan dan Latihan (Diklat)

a. Pendidikan dan Latihan

Program diklat pada dasarnya diselenggarakan sebagai sarana untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi gap (kesenjangan) antara kompetensi yang ada saat ini dengan kompetensi standar atau yang diharapkan untuk dilakukan oleh seseorang. Demikian pula dengan guru TK yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan bercerita dengan berbagai latihan, salah satunya adalah berlatih dengan menggunakan video pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan bercerita. Jika selama ini guru bercerita dengan langkah-langkah yang belum tepat diharapkan dengan adanya video pembelajaran ini keterampilan guru akan lebih baik. Maka dibuatlah desain pendidikan dan latihan menggunakan video pembelajaran bercerita.

Desain pendidikan dan latihan ini menggunakan model pembelajaran ADDIE yang merupakan suatu model desain pembelajaran yang digunakan untuk pelatihan. Pemilihan model ADDIE ini dengan pertimbangan konsepnya yang sederhana tetapi mewakili keseluruhan sistem proses pembelajaran. Ada lima langkah yang dilakukan berpedoman pada desain pembelajaran model ADDIE (Pribadi, 2009:106-114) yaitu sebagai berikut:

1. Analysis (analisa), yaitu melakukan Performance analysis (analisis kinerja), need analysis (analisis kebutuhan). Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar. Analisis kinerja dilakukan untuk mengetahui apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran (misalnya kurang keterampilan yang menyebabkan rendahnya kinerja) atau perbaikan manajemen (misalnya rendahnya, motivasi, prestasi, kejenuhan dalam bekerja). Sedangkan analisis kebutuhan untuk mengetahui kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari untuk meningkatkan kinerja atau prestasi, hal ini dapat dilakukan apabila program pembelajaran dianggap sebagai solusi dari masalah pembelajaran yang dihadapi. Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, pengetahuan awal pembelajar, kompetensi apa yang perlu dimiliki pembelajar, indikator apa yang digunakan untuk menentukan bahwa pembelajar telah mencapai kompetensi yang ditentukan, kondisi apa yang diperlukan pembelajar agar dapat memperlihatkan kompetensi yang telah dipelajari.

Dalam penelitian ini analisis kinerja dan analisis kebutuhan dilakukan dengan melihat langsung kemampuan bercerita guru TK yaitu di TKIT Rabbani, TK Kartika II-27 dan TK Kuntum Mekar-2. Dalam analisis kinerja didapatkan kenyataan bahwa guru belum memiliki keterampilan tentang tehnik bercerita yang benar, dan pada analisis kebutuhan didapatkan bahwa kebutuhan guru adalah pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tehnik bercerita. Guru- guru TK yang diteliti belum semuanya sarjana dan sebagian besar bukan sarjana dari pendidikan TK/PAUD, sehingga pengetahuan tentang tehnik bercerita didapat dengan otodidak. Hal ini menyebabkan anak TK tidak tertarik untuk mendengarkan cerita.

2. Design (desain/perancangan). Pada langkah ini perhatian difokuskan untuk menyelidiki masalah pembelajaran yang sedang terjadi, yaitu mempelajari masalah dan menemukan alternatif solusi yang akan ditempuh untuk mengatasi masalah pembelajaran yang telah diidentifikasi pada langkah analisi kebutuhan. Langkah yang harus dilakukan pada tahap desain adalah menentukan pengalaman belajar yang perlu dimiliki pembelajar selama mengikuti aktivitas pembelajaran. Desain yang dibuat harus dapat menjawab pertanyaan apakah desain yang dibuat dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesenjangan yang terjadi yaitu antara kemampuan yang harus dimiliki dengan kemampuan yang telah dimiliki dengan, (1) Menentukan SK- KD. (2) Indikator untuk mengukur keberhasilan dalam mengikuti program pembelajaran. (3) Kondisi bagaimana yang diperlukan agar dapat melakukan unjuk kompetensi-pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mengikuti program pembelajaran. (4) Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat

digunakan dalam mendukung program pembelajaran. Maka dibutuhkan latihan yang tepat bagi guru tanpa harus menunggu pelatihan diadakan yaitu dengan dikembangkannya video pembelajaran bercerita.

3. Development (pengembangan). Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli, dan memodifikasi bahan ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Langkah ini merupakan tahap produksi dimana segala sesuatu yang ada pada langkah desain dibuat menjadi nyata misalnya pengadaan bahan ajar perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang spesifik yang telah dirumuskan oleh desainer atau perancang program pembelajaran. Dalam melakukan langkah pengembangan ada dua tujuan penting yang perlu dicapai antara lain adalah:

1) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. 2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk

mencapai tujuan pembelajaran.

Langkah pengembangan dalam penelitian ini adalah membandingkan bahan ajar yang ada dengan bahan ajar yang diperlukan oleh guru. Bahan ajar yang ditemukan adalah buku pedoman teknik bercerita dari kemedikbud tahun 2012, tetapi sayangnya buku ini belum dimiliki oleh semua TK. Selain itu dengan hanya membaca buku belum dapat memenuhi kebutuhan guru karena adanya perbedaan kecepatan cara belajar oleh masing masing individu. Sehingga buku ini dimodivikasi menjadi sebuah video pembelajaran bercerita.

4. Implementation. Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita buat yaitu penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan itu sendiri. Tiga Tujuan utama dari langkah ini antara lain:

1) Membimbing pembelajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi.

2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah/solusi untuk mengatasi kesenjangan hasil belajar yang dihadapi oleh pembelajar.

3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, pembelajar memiliki kompetensi keterampilan, dan sikap yang diperlukan.

Implementasi yang dilakukan setelah mendesain video pembelajaran adalah memberikan video ini pada guru TKIT Rabbani, TK Kartika II-27 dan TK Kuntum Mekar 2 untuk dipelajari secara mandiri dan dilihat kemajuan guru- guru tersebut.

5. Evaluation (evaluasi). Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap program pembelajaran, yaitu proses untuk melihat apakah desain pembelajaran yang sedang dibangun berhasil sesuai dengan harapan awal atau tidak. Evaluasi dapat dilakukan dengan membandingkan antara hasil pembelajaran yang telah dicapai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Evaluasi terhadap program pembelajaran bertujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu:

1) Sikap guru dalam menggunakan video pembelajaran secara keseluruhan. 2) Peningkatan kompetensi guru, yang merupakan dampak dari

Beberapa pertanyaan penting yang harus dikemukakan perancang program pembelajaran dalam melakukan langkah-langkah evaluasi, antara lain:

1) Apakah guru menyukai video pembelajaran dibelajarkan?

2) Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh guru dalam mengikuti program pembelajaran?

3) Seberapa besar guru mampu mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dipelajari?

b. Desain Diklat

A. LATAR BELAKANG

Peningkatan keterampilan bercerita guru taman kanak-kanak maka memerlukan diklat bercerita. Tetapi ternyata tidak semua sekolah mengadakan pelatihan bercerita atau mengirimkan utusannya karena keterbatasan dana dan jumlah guru di TK sehingga jika mengirimkan guru maka ia akan meninggalkan kelasnya. Waktu diadakan pelatihan juga tidak tetap, dan harus menunggu undangan pelatihan sedangkan guru yang telah mengikuti pelatihan belum bisa melatih teman-teman sejawat seperti yang didapatkannya karena keterbatasan waktu. Berdasarkan hal tersebut maka guru memerlukan video pembelajaran bercerita untuk memperbaiki cara bercerita yang dapat digunakan secara mandiri maupun berkelompok dan waktu yang fleksibel. Video pembelajaran ini bersifat komplemen dan perlu diadakan diklat cara menggunakan video ini kepada guru agar didapatkan hasil yang maksimal.

B. Permasalahan

1. Belum semua guru TK memiliki kemampuan teknik bercerita yang baik. 2. Belum tersedianya media pembelajaran yang memungkinkan guru berlatih

secara mandiri.

3. Belum semua TK mengadakan pelatihan bercerita untuk guru disekolah.

C. Tujuan

Tujuan diadakan diklat ini adalah untuk :

1. Membelajarkan pada guru cara menggunakan video pembelajaran. 2. Memotivasi guru untuk selalu melatih keterampilannya bercerita. 3. Meningkatkan keterampilan bercerita.

D. Peserta Diklat

Peserta pendidikan dan pelatihan ini adalah guru TK yang berasal dari TK Kartika II-27, Kuntum Mekar 2 dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu ( TKIT) Rabbani dengan jumlah 12 orang guru.

E. Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari pelatihan ini adalah :

1. Guru dapat menggunakan video pembelajaran bercerita. 2. Guru termotivasi untuk berlatih bercerita secara mandiri. 3. Meningkatnya keterampilan bercerita.

F. Mata Diklat

Petunjuk penggunaan video pembelajaran, dengan sub materi keterampilan bercerita

G. Nara Sumber

Nara sumber dalam pendidikan dan pelatihan ini adalah: 1. Iin Muthmainah (Pelatih Bercerita se- Provinsi Lampung) 2. Mei Setiarini (Juara 1 Bercerita se-Provinsi Lampung) 3. Amna Hasnawati

H. Metode Diklat

Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, diskusi dan simulasi, yang diawali dengan pemberian pree test dan diakhiri dengan post test.

I. Media dan Alat Bantu 1. LCD

2. Laptop 3. Speaker

4. CD Video Pembelajaran

J. WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan pendidikan dan latihan menggunakan video pembelajaran bercerita dilaksanakan selama 1 (satu) hari yaitu tanggal 7 Juni pukul 13.00 – 15.00 di TK Kartika II-27 Bandar Lampung

K. Jadwal Kegiatan Diklat No Hari/

Tanggal Waktu Materi Nara Sumber

1

Sabtu 7 Juni 2014

13.00-13.15 Pree test Amna Hasnawati

2 13.15-13.45 Perangkat yang dibutuhkan untuk menggunakan video pembelajaran Amna Hasnawati 13.45-14.00 Petunjuk penggunaan video pembelajaran Amna Hasnawati Iin Mutmainah 14.00-14.30 Guru diberi kesempatan untuk memutar ulang yang materi diinginkan dalam video pembelajaran. Amna Hasnawati, Iin Mutmainah 14.30-14.45 Simulasi bercerita oleh guru TK berdasarkan video yang telah dilihat

Iin Mutmainah, Mei Setiarini

3 14.45-15.00 Post test Amna Hasnawati

Dokumen terkait