3.1. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian
3.1.2. Desain Penelitian
Penelitian eksperimental berhubungan erat dengan adanya pengaruh, yakni adanya variabel X yang diberikan dalam suatu kondisi atau keadaan khusus, diatur dan dikelola oleh peneliti sehingga dapat memberikan kesan atau akibat pada variabel Y. Sugiyono (2010: 110) menyebutkan terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu: “Pre eksperimental design, true eksperimental design, factorial design, dan quasi eksperimental
design”.Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan bentuk pre-eksperimental
design.
Menurut Sugiyono (2010: 108) penelitian dikatakan pre-eksperimental
design karena desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena
masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat (variabel dependen). Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat
(variebl dependen) itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas (variabel independen). Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara random.
Bentuk pre-eksperimental design yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design. Di dalam bentuk rancangan penelitian ini akan dipilih satu kelompok yang akan diberikan tes awal (pre-test) untuk mengukur kondisi awal (O1) terkait kebiasaan belajar siswa. Selanjutnya pada kelompok yang sama akan diberi perlakuan (X) berupa layanan penguasaan konten dan setelah selesai perlakuan, kelompok akan diberi tes lagi sebagai
post-test (O2). Pre-test diberikan sebelum peneliti memberikan perlakuan berupa
layanan penguasaan konten kepada siswa dan post-test diberikan setelah peneliti memberikan perlakuan berupa layanan penguasaan konten kepada siswa. Dengan demikian hasil perlakuan lebih akurat karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi treatmen.
Peneliti menggunakan one group pretest-posttest design karena peneliti ingin melihat keadaan sampel setelah diberikan perlakuan dan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa. Peneliti menggunakan satu kelompok untuk diberikan perlakuan tanpa menggunakan kelompok kontrol lain. Siswa yang satu tentu berbeda dengan siswa lain. Begitu juga ketika siswa yang satu diberikan perlakuan berupa layanan penguasaan konten tentu hasilnya akan berbeda dengan siswa yang lain. Oleh karena itu, peneliti menggunakan satu kelompok untuk dijadikan sampel dengan pertimbangan tidak mengambil pembanding dari kelompok kontrol tetapi dibandingkan keadaan sampel sebelum dan setelah
diberikan layanan. Karena keadaan siswa yang menjadi kelompok eksperimen tentu berbeda dengan keadaan siswa yang menjadi kelompok kontrol sehingga tidak dapat dibandingkan. Desain pre-testdan post-testnya adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1
Desain Penelitian Pre Experimental dengan One Group Pre Test dan Post Test
Keterangan :
O1 : Nilai pre-test(sebelum diberi perlakuan) X : Perlakuan berupa penguasaan konten O2 : Nilai post-test(setelah diberi perlakuan)
Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah pemberian perlakuan dengan menggunakan instrumen yang sama yaitu skala kebiasaan belajar siswa.
Tahap-tahap rancangan penelitian eksperimen adalah sebagai berikut:
3.1.2.1. Pre-test
Pre-test ini menggunakan skala kebiasaan belajar siswa untuk mengetahui
kebiasaan belajar siswa sebelum diberikan perlakuan layanan penguasaan konten.
3.1.2.2. Materi Treatment
Pemberian treatment berupa layanan penguasaan konten memperhatikan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa untuk mengubah kebiasaan belajar siswa. Materi-materi layanan penguasaan konten yang diberikan oleh peneliti adalah:
Tabel 3.1
Rancangan Materi Layanan Penguasaan Konten
Pertemuan Materi Waktu
Pertemuan ke-I Berlatih mendengarkan aktif 40 menit Pertemuan ke-II Berlatih membuat jadwal kegiatan 40 menit Pertemuan ke-III Meningkatkan motivasi belajar 40 menit Pertemuan ke-IV Mengurangi rasa kantuk saat belajar 40 menit Pertemuan ke-V Belajar kelompok yang menyenangkan 40 menit
Pertemuan ke-VI Berlatih menghafal 40 menit
Pertemuan ke-VII Berlatih membaca 40 menit
Pertemuan ke-VIII Berlatih pengorganisasian pengetahuan dengan peta konsep
40 menit
Menurut Prayitno (1997: 86) “Materi yang dapat diangkat melalui layanan pembelajaran ada berbagai macam, salah satunya adalah pengembangan keterampilan belajar seperti membaca, mencatat, bertanya dan menjawab serta menulis”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang pertama diisi dengan latihan strategi mendengarkan aktif untuk meningkatkan aspek penggunaan keterampilaan belajar. Pemberian latihan strategi mendengarkan aktif bertujuan agar dapat menerapkannya selama mengikuti pelajaran di kelas sehingga siswa mampu memahami materi yang disampaikan oleh guru. Apabila siswa mampu mendengarkan aktif diharapkan dapat berdampak positif terhadap kebiasaan belajar siswa selama di kelas.
Menurut Prayitno (1997: 89), “layanan pembelajaran dalam bimbingan belajar salah satunya pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik diwujudkan dengan mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun di rumah, membuat jadwal belajar”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang kedua diisi dengan pemberian latihan membuat jadwal kegiatan untuk mengembangkan aspek ketepatan waktu menyelesaikan tugas-tugas akademik. Dengan adanya jadwal kegiatan diharapkan siswa dapat membagi waktu dengan proporsional antara waktu untuk istirahat, belajar, bermian dan aktifitas lainnya. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan tidak membuang-buang waktu.
Menurut Prayitno (1997: 89), “layanan pembelajaran dalam bimbingan belajar salah satunya peningkatan motivasi belajar siswa diwujudkan dengan memperjelas tujuan-tujuan belajar dan menyesuaikan pelajaran dengan kemampuan, bakat dan minat”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang ketiga diisi dengan pemberian penugasan atribusi belajar, komitmen belajar dan tujuan belajar mengenai meningkatkan motivasi belajar untuk meningkatkan aspek menghindarkan diri dari hal-hal yang memungkinkan tertundanya penyelesaian tugas. Tujuan pemberian layanan penguasaan konten ini adalah agar siswa mampu mengembangkan strategi meningkatkan motivasi belajar belajar. Dengan motivasi belajar yang tinggi diharapkan dapat membentuk sikap positif dalam belajar.
Menurut Prayitno (1997: 88) “layanan pembelajaran dalam bimbingan belajar salah satunya peningkatan motivasi belajar siswa diwujudkan dengan
menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang keempat diisi dengan pemberian latihan mengatasi rasa kantuk saat belajar untuk meningkatkan aspek menghilangkan rangsangan yang mengganggu konsentrasi belajar. Pemberian materi mengatasi rasa kantuk saat belajar dengan tujuan siswa diharapkan dapat mengatasi rasa ngantuk yang kerap timbul ketika proses belajar mengajar di kelas. Dengan demikian diharapkan kegiatan belajar yang siswa lakukan dapat lebih optimal.
Menurut Prayitno (1997: 88) “layanan pembelajaran dalam bimbingan belajar salah satunya peningkatan motivasi belajar siswa diwujudkan dengan menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan serta menciptakan hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan siswa, siswa dan siswa”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang kelima diisi dengan strategi belajar kelompok yang menyenangkan untuk meningkatkan aspek cara belajar yang efektif dan efisien. Pemberian latihan strategi belajar kelompok bertujuan agar siswa dapat belajar materi yang kurang dipahami dengan teman ataupun belajar mengerjakan soal-soal latihan bersama teman. Selain itu, belajar kelompok juga dapat sekaligus berlatih bersosialisasi dengan orang lain. Dengan belajar kelompok, siswa dapat membantu siswa lain dalam memahami materi pelajaran.
Menurut Prayitno (1997: 86) “Materi yang dapat diangkat melalui layanan pembelajaran ada berbagai macam, salah satunya adalah pengembangan keterampilan belajar seperti membaca, mencatat, bertanya dan menjawab serta
menulis”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang keenam diisi dengan pelatihan strategi menghafal untuk meningkatkan aspek penggunaan keterampilaan belajar. Pemberian latihan strategi menghafal bertujuan agar siswa dapat mengingat kembali materi yang pernah dia pelajari. Menghafal disini tidak hanya sekedar mengingat materi pelajaran, tatapi lebih mamahami materi pelajaran sehingga apa yang sudah dipelajari siswa lebih lama diingat.
Menurut Prayitno (1997: 86) “Materi yang dapat diangkat melalui layanan pembelajaran ada berbagai macam, salah satunya adalah pengembangan keterampilan belajar seperti membaca, mencatat, bertanya dan menjawab serta menulis”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang ketujuh diisi dengan latihan strategi membaca untuk meningkatkan aspek penggunaan keterampilaan belajar. Pemberian latihan strategi menghafal bertujuan agar siswa dapat lebih mudah dalam memahami materi pelajaran yang dia baca. Siswa juga diharapkan dapat mempraktikkan strategi membaca tersebut setiap kali dia belajar baik di kelas maupun di rumah.
Menurut Prayitno (1997: 88) “layanan pembelajaran dalam bimbingan belajar salah satunya peningkatan keterampilan belajar diwujudkan dengan mrmbuat ringkasan dari bahan yang dibaca”. Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan layanan penguasaan konten yang kedelapan diisi dengan latihan strategi pengorganisasian pengetahuan dengan membuat peta konsep untuk meningkatkan aspek penggunaan keterampilaan belajar. Pemberian latihan strategi pengorganisasian pengetahuan dengan membuat peta konsep bertujuan agar siswa
dapat lebih mudah memahami materi pelajaran dan lebih mudah dalam dalam menghafal. Dengan peta konsep dapat dilihat kesalingterkaitan antar satu konsep dengan konsep yang lain yang diperoleh dari beberapa kali pertemuan.
3.1.2.3. Perlakuan/Treatment
Perlakuan diberikan melalui layanan penguasaan konten. Materi yang diberikan kepada kelompok eksperimen adalah berkaitan dengan kebiasaan belajar siswa. Frekuensi dan lamanya pertemuan layanan penguasaan konten adalah 40 menit. Metode yang digunakan metode ceramah, pelatihan, diskusi dan tanya jawab. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah:
(1) Perencanaan
Perencanaan layanan penguasaan konten meliputi (a) menetapkan subjek atau peserta layanan, (b) menetapkan dan menyiapkan konten yang akan dipelajari secara rinci dan kaya, (c) menetapkan proses dan langkah–langkah layanan, (d) menetapkan dan memfasilitasi layanan, termasuk media dengan perangkat keras dan lemahnya, dan (d) menyiapkan kelengkapan administrasi.
(2) Pelaksanaan
Layanan penguasaan konten dilaksanakan dengan kegiatan berupa (a) melaksanakan kegiatan melalui pengorganisasian proses pembelajaran penguasaan konten dan (b) mengimplementasikan high-touch dan high-tech
dalam proses pembelajaran. (3) Evaluasi
Pelaksanaan kegiatan layanan penguasaan konten memerlukan evaluasi yaitu dengan cara (a) menetapkan materi evaluasi, (b) menetapkan prosedur
evaluasi, (c) menyusun instrumen evaluasi, (d) mengaplikasikan instrumen evaluasi, dan (e) mengolah hasil aplikasi evaluasi.
(4) Analisis hasil evaluasi
Setelah evaluasi dilaksanakan, hasilnya perlu dianalisis agar dapat diketahui hal-hal yang perlu diperbaiki. Analisi dilakukan dengan (a) menetapkan norma/standar evaluasi, (b) melakukan analisis, dan (c) menafsirkan hasil evaluasi.
(5) Tindak lanjut
Tindak lanjut dari hasil evaluasi dapat dilaksanakan dengan (a) menetapkan jenis dan arah tindak lanjut, (b) mengkomunikasikan rencana tindak lanjut kepada peserta layanan dan pihak–pihak terkait, (c) melaksanakan rencana tindak lanjut.
(6) Laporan
Setelah layanan penguasaan konten selesai dilaksanakan, kegiatan selanjutnya adalah (a) menyusun laporan pelaksanaan layanan penguasaan konten, (b) menyampaikan laporan kepada pihak terkait, (c) mendokumentasikan laporan layanan.
3.1.2.4. Post Test
Post-test adalah pengukuran kebiasaan belajar setelah diberikan perlakuan
layanan penguasaan konten. Post test bertujuan untuk mengetahui keberhasilan dalam pelaksanaan perlakuan dan untuk mengetahui peningkatan kebiasaan belajar setelah diberikan perlakuan.