• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian

2. Desain penelitian

Desain penelitian dan pengembangan yang akan ditempuh mengarah pada desain pengembangan yang dilakukan oleh Sugiyono yang dimodifikasi meliputi 6 langkah yaitu, analisis masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, dan uji coba produk.

Dalam penelitian R&D, uji coba produk adalah tahap penting yang berguna untuk menilai kelayakan produk yang sedang dikembangkan.

Kelayakan ini meliputi kelayakan proses dan kelayakan hasil. Desain penelitian yang direkomendasikan untuk uji coba produk adalah eksperimental. Dalam penelitian ini peneliti berusaha untuk membangun kemungkinan sebab-akibat antara variabel terikat dan variabel bebas.

Dalam hal ini, peneliti ingin mengungkap sebab-akibat pada variable bebas (LKS berbasis mind mapping) terhadap variable terikat (pemahaman konsep) menggunakan pre-experiment non equivalent group posttest only design.

Di bawah ini merupakan langkah-langkah dalam penelitian dan pengembangan (R&D) ditunjukkan pada bagan sebagai berikut :

39

Bagan 1. Alur Modifikasi R&D (Sugiyono, 2011:408)

Berdasarkan langkah-langkah di atas, prosedur penelitian pengembangan Lembar Kerja Siswa berbasis mind mapping terhadap pemahaman konsep siswa pada mata pelajaran IPS materi PETA mengacu pada langkah-langkah yang telah dikembangkan oleh Sugiyono.

Namun, pada penelitian dan pengembangan ini dimodifikasi menjadi 6 langkah yaitu hanya sampai pada uji coba produk (skala terbatas). Hal ini dikarenakan peneliti hanya melakukan penelitian pada satu lembaga (sekolah) dan melihat adanya keterbatasan waktu, tenaga, serta biaya.

Dapat dijelaskan seperti pada bagan berikut Analisis

Masalah

Pengumpulan Data

Validasi Desain

Validasi Uji Ahli Revisi Produk

Uji Coba Terbatas (Uji Skala Terbatas)

40

Bagan 2. Langkah-langkah Desain Research and Development (R&D) Dimodifikasi (Sugiyono, 2014:409)

Analisis Masalah

Analisis Kurikulum Analisis Materi Analisis Kebutuhan

Pengumpulan Data Materi, Gambar

Berwarna

Desain Produk

Cover, Pendahuluan, dan Isi

Penutup

Validasi Desain / Uji Ahli

Desain

Materi

Revisi Desain

Uji Coba Produk (Uji Coba Terbatas)

Hasil Akhir

Siswa/i Kelas IV SD

41 3. Prosedur Pengembangan

Dalam penelitian ini seperti yang telah disebutkan sebelumnya tahapan penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Sugiyono.

Akan tetapi, penelitian hanya dibatasi sampai pada tahap ke-9 yaitu hanya sampai pada tahapan revisi tahap akhir. Adapun penjelasan mengenai langkah-langkah yang dikemukakan oleh Sugiyono, sebagai berikut:

a. Analisis Masalah

Analisis masalah yang ditemukan peneliti dapat digunakan untuk merancang pemecahan masalah. Temuan di lapangan terkaitanalisis masalah dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran IPS di SDN Panancangan 3 Kota Serang menunjukkan bahwa masih ditemukan permasalahan pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial antara lain guru kurang kreatif dalam pembelajaran, guru belum menggunakan pembelajaran yang inovatif, guru belum memanfaatkan media pembelajaran, dan penggunaan LKS yang belum maksimal sehingga mengakibatkan siswa pasif, kurang memahami materi, dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Penggunaan alat belajar yang tidak optimal terbukti kurang efektif dalam daya nalar siswa.

Hasil dari tidak efektifnya penggunaan alat belajar yang tidak optimal adalah rendahnya perolehan nilai pada siswa. Permasalahan tersebut berdampak pada hasil belajar yang tidak mencapai ketuntasan belajar dan kurangnya pemahaman konsep siswa. Selain itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial cenderung merupakan pelajaran yang kurang diminati oleh siswa. Hal ini disebabkan kesukaran dalam penyajian materi atau belum tepat dalam memilih model pembelajaran sehingga siswa terkesan kurang menyenangkan. Guru hanya menggunakan model Terangkan Catat Latihan (TCL) di depan kelas tanpa ada keterlibatan siswa secara langsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa, pada kenyataannya guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung

42 berlangsung satu arah, Artinya guru hanya mentransformasi ilmu pengetahuannya dan siswa tinggal menerima.

Pembelajaran yang dilakukan oleh guru seperti ini menyebabkan pembelajaran berpusat pada guru sedangkan siswa hanya dijadikan obyek belajar bukan subyek belajar.

LKS adalah lembar yang berisi pedoman bagi siswa yang untuk melaksanakan kerja atau tugas yang terprogram. LKS selain digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran, juga berfungsi sebagai alat evaluasi dari setiap pokok bahasan yang diajarkan berdasarkan kurikulum program pembelajaran. Keberadaan LKS sangat berperan penting untuk mengarahkan siswa dalam mempelajari dan menemukan konsep-konsep melalui aktivitas individu atau kelompok karena dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin pesat tidak mungkin seorang guru dapat menyampaikan seluruh pengetahuannya kepada siswa. Tetapi banyak siswa yang kesulitan memahami LKS , karena petunjuk yang kurang lengkap. Di lapangan guru banyak menggunakan LKS yang telah disediakan dalam buku paket yang terkadang perintah dan isinya kurang lengkap sehingga siswa kurang memahami perintah LKS tersebut. Selain tidak lengkapnya isi/perintah dalam penggunaan LKS, dari segi penampilan pun kurang menarik, karena kebanyakan guru menggunakan LKS dari buku paket yang telah yang dipotocopy dan dibagikan kepada siswa untuk dikerjakan sehingga LKS tidak menarik. LKS seharusnya dibuat lebih menarik agar siswa tertarik dan semangat mengerjakan. Materi yang ditemukan terdapat permasalahan tersebut yaitu pada bahasan materi PETA pada kelas IV Sekolah Dasar.

b. Mengumpulkan Informasi

Pengumpulan informasi dimaksudkan untuk digunakan sebagai bahan perencanaan produk. Pengumpulan informasi untuk mengetahui kebutuhan dari masyarakat pemakai terhadap produk yang ingin dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan.

43 Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantarannya yaitu dengan melaksanakan studi pustaka, observasi, dan wawancara agar kebutuhan di lapangan dapat disesuaikan dengan produk yang akan dikembangkan. Adapun produk tersebut adalah LKS berbasis Mind Mapping .

c. Desain Produk

Pada penilitian ini, akan dilakukan pengembangan pada desain produk yang akan dikembangkan adalah Lembar Kerja Siswa (LKS).

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan dilapangan nantinya media akan disesuaikan dengan LKS yang hendak dirancang sehingga LKS yang dihasilkan sesuai dengan permasalahan yang ada dilapangan.

d. Validasi Desain

Validasi desain merupakan proses penilaian rancangan produk yang dilakukan dengan memberi penilaian berdasarkan pemikiran rasional tanpa uji coba lapangan terlebih dahulu, dengan kata lain validasi desain berfungsi untuk menguji kelayakan produk sementara sebelum di uji cobakan di lapangan. Tahap ini dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau ahli, diperlukan dua ahli yaitu pada ahli materi dan ahli media. Setiap pakar diminta untuk menilai produk yang dirancang sehingga dapat menilai kekurangan dan kelebihan dari produk. Ahli materi memiliki kualifikasi sebagai dosen di Perguruan Tinggi dalam bidang studi yang bersangkutan, pada penelitian ini adalah bidang studi IPS dan juga melibatkan guru kelas sebagai ahli materi. Kualifikasi LKS memiliki pengetahuan , keterampilan, dan pengalaman pada media grafis atau media cetak seperti halnya Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping.

Uji validasi desain dilakukan dalam 2 kategori yaitu:

1) Uji Ahli Materi

Ahli materi yang diperlukan pada bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial ini yaitu Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa untuk memberikan

44 saran dan penilaian terhadap LKS berbasis mind mapping yang dikembangkan secara khusus pada materi PETA.

2) Uji Ahli Media

Ahli media diperlukan untuk menilai media yang akan dikembangkan. Uji ahli ini dilakukan oleh Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah DasarnUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa. Untuk mengetahui penilaian dari uji ahli ini digunakan instrument penilaian berupa angket agar produk tersebut dapat dapat dinilai agar siap diuji cobakan.

e. Perbaikan Desain

Setelah produk divalidasi oleh tim ahli atau Penilaian pakar, peniliti selanjutkan melakukan revisi terhadap produk yang dianggap sebagai kekurangan pada produk yang dirancang berdasarkan masukan atau saran dari pada ahli materi dan ahli media.

f. Uji Coba Produk (Kelompok Kecil)

Penelitian pengembangan ini tidak hanya sampai pada uji validasi ahli, akan tetapi juga diadakan pengujian terhadap produk yang dikembangkan melalui tes pemahaman konsep siswa setelah menggunakan LKS. Berikut akan dijelaskan secara rinci mengenai desain uji coba dan subyek uji coba produk.

1) Desain Uji Coba Produk

Setelah dilakukan revisi pada LKS yang dikembangkan, tahap selanjutnya yaitu melakukan uji coba produk kepada siswa di Sekolah. Penelitian ini melibat kelas eksperimen, maka disain penelitian yang digunakan adalah model pre-experiment non equivalent group posttest only design.

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Grup pertama diberi perlakuan (X) dan grup yang lain tidak. Berikut ini bagan terkait dengan model pre-experiment non equivalent group posttest only design.

45 pengaruh perlakuan dianalisis dengan uji beda menggunakan statistik t-test. Jika ada perbedaan yang signifikan antara grup eksperimen dan grup kontrol maka perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan.

2) Subjek Uji Coba Produk

Subjek penelitian dan pengembanga ini adalah siswa kelas IVA dan kelas IVB SDN Panancangan 3 Kota Serang yang dipilih secara acak menggunakan simple random sampling.

Kelas yang akan diberi perlakuan adalah IVB berjumlah 30 siswa dan di kelas IVA sebagai kelas kontrol berjumlah 30 siswa.

4. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian a. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini, yaitu:

1) Angket (Kuesioner)

Angket (kuesioner) digunakan sebagai alat pengumpul data dalam penelitian dan pengembangan berupa lembaran yang berisi pernyataan. Pernyataan atau pertanyaan tersebut diisi oleh responden dengan cara diberi ceklist pada kolom yang disediakan, dengan menggunakan skala likert 1, 2, 3, 4, dan 5.

46 Angket tersebut digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif berupa penilaian dari ahli uji validitas sebagai responden yang kemudian diubah menjadi data kualitatif berupa deskripsi.

2) Tes Pemahaman Konsep

Tes digunakan untuk mengumpulkan data posttest mengukur perbedaan pemahaman konsep siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang diberi perlakuan menggunakan LKS berbasis mind mapping dan yang tidak diberi perlakuan . Tes dilakukan saat tahap uji coba produk terbatas di kelas IV SDN Panancangan 3 Kota Serang.

3) Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data di lapangan sebagai bukti dan syarat administrasi penelitian.

Dokumentasi yang digunakan diantaranya yaitu, foto kegiatan, video kegiatan, surat-surat yang dibutuhkan misalnya surat keterangan melaksanakan penelitian di Sekolah tersebut, dan data penelitian lain yang relevan dan dibutuhkan.

b. Instrument Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1) Angket (Kuesioner)

Angket (kuisioner) merupakan instrument penelitian berupa daftar pertanyaan atau pernyataan secara tertulis yang harus dijawab atau diisi oleh responden seseuai dengan petunjuk pengisiannya. Angket dalam penelitian ini digunakan untuk penilaian pengembangan LKS berbasis mind mapping.

a) Angket Uji Ahli Media

Lembar penilaian media oleh uji ahli digunakan untuk mengukur kelayakan pada LKS berbasis mind mapping yang peneliti kembangkan. Berikut kisi-kisi instrumen uji ahli media pada tabel 1 di bawah ini.

47 Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Uji Ahli Media

Aspek yang di nilai Nomor

Butir Jumlah

(Sumber: diadaptasi dari Wahono, 2006 dan Arsyad, 2008) b) Angket Uji Ahli Materi

Angket ini ditujukan untuk mengetahui dan mengukur kelayakan media LKS berbasis mind mapping yang peneliti kembangkan dari segi materi yang disampaikan dalam media pembelajaran. Adapun kisi-kisi angket untuk mengukurnya adalah sebagai berikut pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Uji Ahli Materi Aspek yang dinilai Nomor Butir Jumlah

1. Tujuan

48

(Sumber:diadaptasi dari Wahono, 2006 dan Arsyad, 2008)

2) Tes Pemahaman Konsep

Instrumen tes yang digunakan untuk mengukur pemahaman konsep siswa adalah LKS berbasis mind mapping yang dikembangkan oleh peneliti. Selain itu, melalui tes pemahaman konsep dengan menggunakan LKS berbasis mind mapping tersebut juga dapat menilai kelayakan dan efektifitasnya terhadap siswa. Apabila nilai tes siswa mencapai standar ketuntasan, maka LKS berbasis mind mapping yang dikembangkan dapat sementara dinyatakan efektif untuk digunakan pada siswa di Sekolah.

3) Dokumentasi

Dokumentasi pada penelitian dan pengembangan ini digunakan sebagai instrumen pendukung, untuk melengkapi data-data ataupun berkas administrasi yang dibutuhkan berupa foto, video, surat-surat, dan data lain yang relevan.

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan untuk mengukur LKS berbasis mind mapping yang layak digunakan dan berkualitas serta memenuhi kriteria validitas baik menurut ahli ataupun di lapangan. Langkah–langkah dalam menganalisis produk yang dikembangkan yaitu, sebagai berikut:

a. Angket Validasi Ahli

Penilaian dari hasil uji ahli dan respon siswa dilakukan berdasarkan data masukan berupa lembar penilaian menggunakan skala Likert dengan skor 1, 2, 3, 4, dan 5. Langkah – langkah analisis tersebut antara lain:

1) Mengubah penilaian yang kualitatif menjadi kuantitatif sesuai dengan aturan pemberian skor sebagai berikut:

Tabel 3. Kriteria Penilaian Uji Validasi Ahli

49

2) Skor yang diperoleh dari penilaian kelayakan oleh uji ahli akan dihutung dengan menggunakan rumus berikut:

(Purwanto, 2013:102) Keterangan:

NP = Nilai rata-rata dalam persen (%) yang diberi.

R = Skor yang diperoleh dari setiap aspek.

SM = Skor maksimum dari seluruh aspek.

100 = Bilangan tetap.

Hasil yang sudah diperoleh dalam bentuk prosentase kuantitatif diubah menjadi bentuk kualitatif sesuai dengan aturan yang diuraikan pada tabel 3 untuk menentukan kategori kelayakan dan kelayakan implementasi LKS berbasis mind mapping yang dikembangkan yang telah diujikan kepada para ahli dan diujicobakan kepada siswa di Sekolah. Hasil uji oleh ahli dapat dinyatakan layak apabila memenuhi minimal kategori kelayakan yaitu layak dengan rata-rata 61% - 80%.

Tabel 4. Interprestasi Kategori Kelayakan Media Pembelajaran Skor Prosentase (%) Kategori Kelayakan

NP  20%

50 60% < NP  80% >

80% < NP  100%

Layak Sangat layak

(Arikunto, 2012:56)

B. Indikator Keberhasilan

Indikator dalam penelitian ini adalah terselesaikannya pengembangan LKS berbasis mind mapping . LKS berbasis mind mapping ini dikatakan berhasil apabila telah melalui 6 tahap penelitian pengembangan yang dikemukakan oleh Sugiyono dan memenuhi kriteria keberhasilan. Adapun kriteria keberhasilannya yaitu; penilaian validasi ahli minimal dapat dinyatakan dengan kategori layak.

51 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Tahapan dalam pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping ini meliputi 6 tahapan pengembangan yang meliputi Analisis Masalah, Mengumpulkan Informasi, Desain Produk, Validasi Desain, Perbaikan Desain, Uji Coba Produk (Kelompok Kecil).

1. Analisis Masalah

Tahap studi pendahuluan dilakukan untuk menetapkan potensi masalah. Penetapan potensi masalah dilakukan dengan cara melakukan studi literatur dari berbagai sumber dan studi lapangan. Studi literatur diawali dengan analisis kurikulum, penetapan Kompetensi Dasar (KD) dan analisis Materi. Sedangkan untuk memperoleh data dilapangan diambil berdasarkan hasil wawancara dengan para guru.

2. Pengumpulan Data

Pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan disekolah, analisi kurikulum dan analisis materi. Analisis kebutuhan dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada salah satu guru di SDN Panancangan 3.

Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan disekolah. Hasil kuisioner menunjukkan bahwa terkait dengan penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) guru bidang studi di SDN Panancangan 3 mengenai materi Peta Lingkungan Setempat guru bidang studi di SDN Panancangan 3 secara umum menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang terdapat dalam buku paket. Serta berdasarkan hasil kuisioner, para guru setuju dengan adanya Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Mind Mapping disekolah, karena Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Mind Mapping diharapkan dapat lebih meningkatkan ketertarikan minat siswa dalam belajar dan mempermudah siswa memahami materi.

52 Setelah melakukan analisis kebutuhan, selanjutnya dilakukan analisis kurikulum, yaitu dengan menggunakan analisis standar isi dengan menjabarkan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) menjadi indicator pembelajaran. Aspek tersebut perlu ditentukan karena setiap aspek kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran (Amri & Ahmadi,2010:63).

Setelah melakukan analisis kebutuhan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan analisis kurikulum langkah selanjutnya yaitu melakukan analisis materi. Analisis materi disesuaikan dengan dengan kompetensi dasar.

Tujuan dilakukannya analisis materi yaitu agar materi dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) berbasis Mind Mapping sesuai dengan Kompetensi Dasar yang terdapat pada materi Peta Lingkungan Setempat.

3. Desain Produk

Desain produk dilakukan dengan cara pengumpulan data dan desain. Pengumpulan data disini terdiri dari pengumpulan gambar dan materi Peta Lingkungan Setempat dari buku SD kelas 4. Sedangkan untuk pembuatan story board dilakukan sebagai produk awal dari Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping. Berikut adalah gambaran dari Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping :

a. Media Penyimpanan : Media Cetak b. Ukuran Kertas : A4

c. Jumlah Halaman : 18 halaman + Cover dan Daftar Isi d. Jenis Huruf : Arial

e. Font : 16

f. Materi : Peta Lingkungan Setempat

Tampilan awal Lembar Kerja Siswa (LKS) ini diawali dengan

“Cover”, “Daftar Isi”, “Materi”, “Langkah kerja pembuatan Mind Mapping

53

“, dan “Latihan soal”. Berikut gambaran dari isi Lembar Kerja Siswa tersebut :

Gambar 1 cover lks

Cover depan berisikan judul Lembar Kerja Siswa (LKS) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tentang “Peta Lingkungan Setempat dengan berisi gambar siswa Sekolah Dasar (SD) sedang belajar mengenai Peta serta diberi nama penulis, Lembar Kerja Siswa (LKS) diperuntukkan kelas 4 SD. Selain itu cover juga berisikian logo Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

54

Gambar 2 judul lks

Halaman pembuka berisikan judul Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping (Peta Pikiran) untuk siswa kelas 4 SD, terdapat gambar peta Indonesia serta dihalaman bawah terdapat nama penulis besesrta NIM.

Gambar 3 Kata Pengantar dan Daftar Isi

55 Pada halaman ini terdapat kata pengantar dan daftar isi .Kata pengantar tersebut ucapan terimakasih dan puji syukur kepada Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping. Serta daftar isi yang mempermudah siswa untuk membacanya.

Gambar 4 Identitas Siswa

Pada halaman ini terdapat identitas siswa yaitu kolom kosong yang berisikan nama lengkap siswa dan kelas siswa.

56

57

Gambar 5. Standar Kompetensi (SK) , Kompetensi Dasar (KD) dan Tujuan

Dihalaman selanjutnya terdapat Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang diambil yaitu Standar Kompetensi 1.1 Memahami sejarah, kenampakan alam dan keragaman suku bangsa dilingkungan kabupaten/kota dan provinsi dan Kompetensi Dasar (KD) Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota provinsi) dengan menggunakan skala sederhana dan Tujuan pembelajaran.

58

59

60

61

Gambar 6 s/d 11. Materi PETA

Pada halaman ini terdapat sedikit materi mengenai materi PETA yaitu terdapat Pengertian PETA beserta contoh peta dan disebutkan Manfaat Peta, Jenis Peta , Komponen Pada Peta, dan Symbol- symbol yang terdapat pada peta. Materi yang terdapat di Lembar Kerja Siswa (LKS) ini dimaksudkan untuk mempermudah siswa dalam pembelajaran. Selain materi pun terdapat gambar peta Indonesia dan gambar symbol- symbol PETA.

62

Gambar 12. Lembar Kerja Siswa

Pada halaman ini terdapat Lembar Kerja Siswa yaitu berisikan petunjuk, alat dan bahan yang harus disediakan serta langkah kerja. Dalam Lembar Kerja Sisiwa (LKS) ini siswa diperintahkan membuat Mind Mapping (Peta Konsep) sesuai dengan materi yang dipelajari. Alat bahan yang harus dipersiapkan yitu pulen/pensil, pensil warna/crayon, penggaris dan penghapus. Selain alat dan bahan terdapat langkah kerja pembuatan Mind Mapping (Peta Konsep). Langkah kerjanya yaitu :

a. Dengarkan instruksi dari guru b. Persiapkan pensil warna atau spidol c. Persiapkan pensil dan pulpen

d. Buatlah Mind Mapping (Peta Konsep)

e. Mulailah dengan menuliskan kalimat atau pokok bahasan utama ditengah kertas

f. Setelah itu, buatlah cabang untuk setiap judul sesuai dengan materi yaitu Peta g. Gambar dan warnai sekreatif mungkin.

63

Gambar 13 cara menggambar Mind Mapping (Peta Konsep)

Dalam halaman ini terdapat cara membuat dan menggambar Mind Mapping (Peta Konsep) dari mulai awal pembuatan sampai akhir pembuatan dijelaskan pada halaman ini sehingga membuat siswa mempermudah membuat Mind Mapp (Peta Konsep).

Gambar 14 contoh gambar Mind Mapping

64 Pada halaman ini terdapat contoh gambar Mind Mapping, yang dimaksudkan untuk mempermudah siswa. Dan siswa lebih paham dalam membuat Mind Mapping dengan materi PETA. Contoh atau gambar Mind Mapping tersebut berwarna dan siswa dapat membuat seperti contoh atau sesuai dengan imajinasi masing-masing siswa. Namun, tetap sesuai dengan materi yang dipelajari yaitu PETA.

Gambar 15 Lembar Kerja Siswa

Pada halaman ini terdapat lembar kosong yang harus diisikan oleh siswa, yaitu diberikan ruang untuk membuat dan menggambar mind mapping sesuai imajenasi dan sekreatif mungkin namun tetap sesuai dengan materi yaitu PETA.

65

Gambar 16. Post-Test atau latihan soal

Pada halaman ini terdapat Post Test sebanyak 5 soal yang sesuai dengan materi, bertujuan untuk melihat dan mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa pada saat pembelajaran yaitu pada materi PETA.

66

4. Validasi Desain

Tahap validasi desain dilakukan untuk mengetahui kelayakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang telah dibuat. Penilaian ini dilakukan oleh ahli materi sebanyak 1 ahli yang terdiri dari dosen pendidikan guru sekolah dasar dan ahli media yang dinilai oleh 1 ahli yang terdiri dari dosen pendidikan guru sekolah dasar. Instrument penilaian kelayakan yang digunakan adalah instrumen yang diadaptasi dari Wahono, 2006 dan Arsyad, 2008. Instrument penilaian tersebut terdiri dari beberapa aspek yaitu aspek media dan aspek materi sebagaimana penjelasan tersebut dibawah ini :

a. Validasi Ahli Media

Validasi media terdiri dari beberapa aspek yang dinilai yaitu aspek kriteria tampilan Lembar Kerja Siswa (LKS), Aspek penyajian materi dan petunjuk Lembar Kerja Siswa (LKS) dan ketertarikan media pembelajaran (LKS). Dimana berdasarkan hasil angket yang disebarkan kepada responden diperoleh nilai kelayakan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping (Peta Pikiraan) pada materi PETA dari ahli media yaitu 70%. Hasil tersebut berdasrkan kriteria kategori interpretasi kedalam kategori layak. Maka dengan demikian penelitian terkait Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Mind Mapping (Peta Pikiran) pada materi PETA dapat dikembangkan karena telah memenuhi tuntutan aspek yang diminta.

Tabel 5. Hasil Validasi Ahli Media

No Aspek Penilaian Skor Kategori kualitas dari ahli media Layak

No Aspek Penilaian Skor Kategori kualitas dari ahli media Layak

Dokumen terkait