• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desentralisasi Pendidikan

Dalam dokumen Galih W. Pradana M. Farid Ma ruf (Halaman 48-55)

BAB III KONSEP DASAR DESENTRALISASI PENDIDIKAN

A. Desentralisasi Pendidikan

Berlakunya Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada hakekatnya menjadi angin segar bagi perkembangan pemerintahan di daerah, karena Undang-Undang tersebut memberikan kewenangan serta keleluasaan bagi pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dari masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi daerah sebagai salah satu bentuk desentralisasi pemerintahan, pada hakikatnya ditujukan untuk memenuhi kepentigan bangsa secara keseluruhan, yaitu uoaya untuk lebih mendekati tujuan-tujuan penyelenggaraan pemerintahan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat yang lebih baik, lebih adil dan lebih sejahtera.

Desentralisasi diartikan sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri. Bidang pendidikan juga merupakan bidang yang termasuk dalam garapan kewenangan daerah otonom yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan. Kewenangan pengelolaan pendidikan berubah dari sistem sentralisasi kesistem desentralisasi, desentralisasi pendidikan berarti terjadinya pelimpahan kekuasaan dan wewenang yang lebih luas kepada daerah untuk membuat

41 perencanaan dan mengambil keputusannya sendiri dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.

Berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah Otonom, pada kelompok bidang pendidikan dan kebudayaan disebutkan bahwa kewenangan pemerintah meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar, serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional, serta pedoman pelaksanaannya;

2. Penetapan standar materi pelajaran;

3. Penetapan persyaratan perolehan dan penggunaan gelar akademik; 4. Penetapan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan;

5. Penetapan persyaratan penerimaan, pemindahan, sertifikasi siswa, warga belajar dan mahasiswa.

Sementara itu, kewenangan pemerintah provinsi meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Penetapan kebijakan tentang penerimaan siswa dan mahasiswa dari masyarakat minoritas, terbelakang, dan atau tidak mampu;

2. Penyediaan bantuan pengadaan buku pelajaran pokok/modul pendidikan untuk tamman kanak-kanak, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan luar biasa;

3. Mendukung/membantu penyelenggaraan pendidikan tinggi selain pengaturan kurikulum, akreditasi, dan pengangkatan tenaga akademis;

42

5. Penyelenggaraan sekolah luar biasa dan balai pelatihan dan atau penataan guru;

6. Penyelenggaraan museum provinsi, suaka peninggalan sejarah, kepurbakalaan, kajian sejarah dan nilai tradisional, serta pengembangan bahasa dan budaya daerah.

Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut, diantaranya :

1. Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai jawaban atas kekeliruan yang terjadi selama kurang lebih 20 tahun belakangan ini yang lebih mementingkan persoalan kuantitas;

2. Pada sisi otonomi daerah, otonomi pendidikan mengarah pada menipisnya kewenangan pemerintahan berlabel pendidikan yan harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipaso masyarakat; 3. Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah ketika menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan;

4. Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar otonomi pendidikan dapat berjalan sesuai pada relnya;

5. Pada tingkat persekolahan, otonomi pendidikan otonomi pendidikan harus berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, penataan kelembagaan pada level dan tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan.

43 6. Sudah selayaknya jika desentralisasi pendidikan harus mengedepankan prinsip akuntabilitas karena berkaitan erat dengan pendanaan dan pembiayaan pendidikan;

7. Pada level pendidikan tinggi, kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka otonomi keilmuan;

8. Dalam konteks otonomi daerah, kebijakan otonomi pendidikan tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah semata, melainkan pada kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional;

9. Secara makro, apapun yang terkandung di dalamnya, otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulan-keunggulannya. Desentralisasi pendidikan berbeda dengan desentralisasi bidang pemerintahan lainnya dalam hal praktik. Jika desentralisasi bidang-bidang pemerintahan lain berada pada pemerintahan di tingkat kabupaten/kota, maka desentralisasi di bidang pendidikan tidak berhenti pada tingkat kabupaten/kota, tetapi sampai pada lembaga pendidikan atau sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan peendidikan. Dalam praktik desentralisasi pendidikan, maka dikembangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sementara itu, menurut Depdiknas (Zainuddin, 2008: 60-63) fungi-fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan dan evaluasi program sekolah

Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaaan sesuai dengan kebutuhan nya, misalnya kebutuhan untuk meningkatkan mutu sekolah. Sekolah juga diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri.

44

2. Pengelolaan kurikulum

Sekolah dapat mengembangkan kurikulum, namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. Sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal. Selain pengelolaan kurikulum, sekolah juga memperoleh wewenang dalam pengelolaan: a) proses belajar mengajar, b) ketenagaan, c) peralatan dan perlengkapan, d) keuangan, e) siswa, f) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan g) iklim sekolah.

Dalam MBS, sekolah diberi otonomi yang lebih besar untuk mengelola sumber-sumber daya sekolah yang ada dengan melibatkan warga sekolah dan masyarakat setempat sebagai upaya meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Oleh karena itu terjadi perubahan pola manajemen pendidikan dari pola lama ke pola otonomi pendidikan (MBS). Pergeseran pola manajemen dijelaskan seperti pada tabel berikut.

Tabel 1. Pergeseran Pola Manajemen Sekolah

Pola Lama Berubah

ke

Pola MBS

Sentralistik

(Semua hal ditentukan di pusat)

Desentralisasi

(Daerah diberi wewenang untuk beberapa hal)

Subordinasi

(Pihak yang lebih rendah, seperti kabupaten, sekolah,

Otonomi

(Pihak yang lebih rendah, seperti sekolah dan guru,

45 guru hanya mengikuti

perintah dari atas)

mempunyai kewenangan untuk memutuskan sesuai tupoksinya)

Pengambilan keputusan terpusat

(Keputusan diambil oleh pemimpin, seperti bupati, kepala sekolah) Pengambilan keputusan partisipatif (Keputusan dilakukan berdasarkan hasil konsultasi semua pemangku kepentingan di dalam institusi) Pendekatan birokratik (Peran utama Kepala Sekolah dan guru, yang pada umumnya adalah PNS

adalah sebagai

perpanjangan tangan pemerintah, tanggung jawab utama mereka cenderung pada pemenuhan fungsi administrasi)

Pendekatan profesional (Kepala Sekolah dan Guru

adalah orang-orang

profesional, tugas utama

mereka adalah

meningkatkan mutu

pendidikan, dengan

demikian mereka juga bertanggung jawab kepada siswa dan orang tua siswa) Pengorganisasian yang

hirarkis

(Pengambilan keputusan top-down (dari atas ke bawah). Guru cenderung pasif dan hanya mengikuti

Pengorganisasian yang setara

(Pengambilan keputusan partisipatif. Guru dan pemangku kepentingan, Komite Sekolah adalah

46

perintah dan menjalankan keputusan)

bagian dari tim)

Mengarahkan

(Pimpinan memerintah atau memberi arahan kepada bawahannya)

Memfasilitasi

(Pimpinan membantu

timnya untuk mewujudkan tujuan bersama)

Dikontrol dan diatur

(Patuh dan menuruti perintah dari atas)

Motivasi diri dan saling mempengaruhi

(Berbagi, saling

membelajarkan, berinisiatif) Informasi ada pada yang

berwenang

(Kita tidak memiliki informasi yang dibutuhkan

untuk mengambil

keputusan)

Informasi terbagi

(Informasi yang

dibutuhkan terbuka dan ada pada semua pihak)

Menghindari resiko

(Tidak suka berubah karena takut salah)

Mengelola resiko

(Percaya diri untuk mencoba pendekatan baru dan siap mencari cara untuk menghadapi masalah yang timbul)

Menggunakan dana sesuai anggaran sampai habis

Menggunakan dana sesua kebutuhan dan seefisien

47 (Proses penganggaran

didasarkan pada uang yang tersedia: RAPBS)

mungkin (Penganggaran didasarkan pada apa yang perlu dilakukan oleh sekolah untuk memperbaiki proses belajar mengajar: RKAS)

Sumber : USAID, 2013: 144

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa pada pola lama, tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuatk sendiri oleh sekolah. Sementara itu, pada pola baru, sekolah memiliki kewenangan lebih besar dalam pengelolaan sekolahnya, pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partisipasi masyarakat semakin besar, sekolah lebih fleksibel dalam mengelola sekolahnya, pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi.

B. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Dalam dokumen Galih W. Pradana M. Farid Ma ruf (Halaman 48-55)