• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Deskripsi atau Karakteristik Obyek Penelitian

Berdasarkan (Undang-Undang nomor 32 tahun 2004), Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas – batas wilayah yuridis, berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal – usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan/atau dibentuk dalam sistem Pemerintah Nasional dan berada di Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

a. Letak dan Luas Wilayah

Desa Bonto Bunga dengan luas wilayah ± 9,1Km2.merupakan salah satu dari lima Desa di Wilayah Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros yang berbatasan dengan :

Sebelah Timur : Desa Moncongloe Bulu, dan _Desa Purna Karya Kec. Tanralili Sebelah Utara : Desa Bonto Marannu

Sebelah Barat : Kota Makassar Sebelah Selatan : Desa Moncongloe

: Desa Moncongloe Bulu

b.Keadaan Sosial Ekonomi dan jumlahPenduduk

Desa Bonto Bunga mempunyai Jumlah Penduduk 1314 Jiwa, dan diantara lima desa di kecamatan Moncongloe, Desa Bonto Bunga dengan penduduk yang paling sedikit yang tersebar dalam tiga wilayah Dusun, lima wilayah RW sepuluh wilayah RT dengan Perincian sebagaimana tabel berikut;

Tabel 2: Jumlah Penduduk dan KK Desa Bonto Bunga

No

Sumber : Dokumen Kantor Desa Bonto Bunga 2014 c. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan masayarakat Desa Bonto Bunga bisa dilihat dalam tabel yang digambarkan berikut ini:

Tabel 3: Tingkat Pendidikan

Pra Sekolah SD SMP SLTA Sarjana

133 Org 581 Org 347 Org 232 Org 21 Org

Sumber : DokumenKantor Desa Bonto Bunga 2014

d. Mata Pencaharian

Karena Desa Bonto Bunga merupakan Desa Pertanian, maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, Pedagang, buruh selengkapnya sebagai berikut:

Tabel 4: Mata Pencaharian

Petani Pedagang Pns Buruh

351 Org 135 Org 11 Org 193 Org

Sumber : DokumenKantor Desa Bonto Bunga 2014 Tabel 5 : Jenis Usaha

No Jenis Usaha Manjalling

Je’ne Tallasa

Bonto Bunga

Jumlah

1 Warung 8 5 4 16

2 Penggilingan padi 5 - - 5

3 Usaha Gaplek - 2 1 3

4 Penjualan Pupuk

Subsidi 1 - - 1

5 Bengkel 3 - - 1

6 RPH 1 - - 1

7 Usaha Atap Nipa 1 1 1 1

8 Usaha Krupuk Ubi - 1 - 1

9 Usaha Batu Bata 1 - - 1

10 Peternakan ayam

potong - 1 - 1

11 Pabrik aspal - - 1 1

Sumber : DokumenKantor Desa Bonto Bunga 2014 e. Pola Penggunaan Tanah

Wilayah Desa Bonto Bunga terdiri dari pegunungan, persawahan, dan kebun sehingga Penggunaan Tanah di Desa Bonto Bunga sebagian besar diperuntukan untuk area persawahan tanaman padi. Area perkebun tanaman, Ubi Kayu, ubi jalar, Sayur-sayuran serta Untuk area pegunungan tanaman jagung merah,pisang kayu jati. sedangkan sisanya untuk Tanah kering yang merupakan bangunan dan fasilitas-fasilitas lainnya.

f.Pemilikan Ternak

Jumlah kepemilikan hewan ternak oleh penduduk Desa Bonto Bunga adalah sebagai berikut :

Tabel 6 : Pemilik Ternak

Ayam/Itik Kambing Sapi Kerbau Lain-Lain

6.685 Ekor 89 Ekor 163 Ekor 0

Sumber : Dokumen Kantor Desa Bonto Bunga 2014

g. Sarana dan Prasarana Desa

Kondisi sarana dan prasarana umum desa Bonto Bunga secara garis besar adalah sebagai berikut :

Tabel 7 : Sarana Dan Prasarana Desa

Balai Desa Jalan Kab. Jalan Kec. Jalan Desa Masjid Dll

1 - 2.Km 11.Km 3

Sumber : Dokumen Kantor Desa Bonto Bunga 2014 h. Sarana Ibadah

Sumber : Dokumen Kantor Desa Bonto Bunga 2014 i. Sejarah Pemerintahan Desa

Desa Bonto Bunga adalah pemekaran dari Desa Moncongloe Bulu.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk Dusun Manjalling. Pada Tahun 1993 Wilayah Dusun Manjalling dijadikan Desa persiapan dengan Nama Desa persiapan Bonto Bunga yang menjabat kepala Desa persiapan Muh. Ilyas MS.

Wilayah Dusun Manjalling di mekarkan menjadi tiga Dusun yaitu : 1. Dusun Manjalling,dengan Kepala Dusun M. Dg. Tarru 2. Dusun Je’ne Tallasa, dengan Kepala Dusun H. Saing Dg. Leo

3. Dusun Bonto Bunga, dengan Kepala Dusun Abd. Karim Dg. Siama Tiga bulan kemudian Status Desa Bonto Bunga di tetapkan menjadi Desa Definitif Yaitu pada bulan Pebruari 1994. Dan Akhirnya pada bulan Juli 1997 Masyarakat Desa Bonto Bunga mengadakan proses Pemilihan Kepala Desa yang pertama dengan calon kepala Desa ada 2 (dua) calon Kepala Desa yaitu:

1. H. Muh Bakri, 2. Muh. Ilyas. MS

Dalam proses pemilihan Kepala Desa Muh. Ilyas. MS mengungguli H.

Muh. Bakri dalam memperoleh suara . Pada pertengahanTahun 2005 Jabatan Muh. Ilyas. MS menjadi kepala Desa berakhir namun belum dilaksanakan pemilihan kepala desa. Pemerintah Kabupaten Maros mengangkat H. Sattu Sos.Menjadi pejabat Kepala Desa sementara. Dan Tahun 2006 kembali masyarakat Desa Bonto Bunga adakan pemilihan kepala desa yang Kedua.

Dengan ada tiga calon Kepala Desa yaitu : 1.Saharuddin,

2.Haeruddin. S, Ag.

3.Muh. Ilyas. MS.

Setelah pemilihan, kembali Muh. Ilyas. Ms. Terpilih menjadi kepala desa Bonto Bunga dengan suara terbanyak pada pemilihan Kepala Desa. Pada tahun 2008 Saat Pesta demokrasi dilaksanakan di Republik Indonesia Muh.

Ilyas. MS yang menjadi Kepala Desa Bonto Bunga Maju mencalonkan diri Sebagai Calon Anggota Legislatif DPRD Kab, Maros Dan Sekertaris Desa

Bonto Bunga, Muh. Ridwan HN di Lantik sebagai pejabat sementara Kepala Desa Bonto Bunga. Dan tanggal 28 Agustus 2009. Muh. Ilyas MS aktif kembali menjadi kepala desa sampai dengan jabatan Kepala desa sampai dengan tahun 2012. Pada tanggal 22 September 2012 Masa Jabatan Muh. Ilyas.

MS sebagai Kepala Desa Bonto Bunga berakhir. Adapun Pejabat sementara Kepala Desa Bonto Bunga ialah Camat Moncongloe, Abd. Haris MM. Dan Pada Hari Minggu tanggal 07 Oktober 2012 Pemilihan Kepala Desa Bonto Bunga di adakan dengan 4 calon Kepala Desa Yaitu:

Nomor Urut 1 : M. Nawir

Nomor Urut 2 : Baharuddin Sirajang Nomor Urut 3 : Masariah Ilyas Nomor Urut 4 : Hamzah

Hasil dari pemilihan ini yang perolehan suara terbanyak adalah M.

Nawir dan kemudian pada tanggal 31 Oktober 2012 Kepala Desa Bonto Bunga M. Nawir dilantik di Aula Kantor Camat Tompo Bulu oleh Bupati Maros Ir.

Hatta Rahman. MM.

B. Bentuk- Bentuk Konflik Politik dalam Pemilihan Kepala Desa a. Bentuk konflik Pra Pilkades

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) merupakan proses untuk memilih atau dipilihnya orang yang mampu untuk memimpin jalannya roda pemerintahan di wilayah desa tertentu sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Proses politik ini tentunya memberikan kesempatan dan hak yang sama kepada warga masyarakat desa untuk menunjukkan partisipasi politiknya, baik sebagai hak pilih maupun sebagai hak untuk dipilih.

Adanya persamaan hak diantara warga masyarakat akan menimbulkan persaingan sosial untuk memperoleh kekuasaan yang diinginkan dengan berbagai cara dan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Masing-masing person akan melakukan pendekatan tersendiri terhadap masyarakat dengan maksud untuk menarik perhatian dan simpati warga. Seiring dengan hal ini pemelihan kepala desa tidak selalu seperti yang diharapkan masih saja terjadi berbagai macam bentuk konflik padahal masyarakat desa yang kita ketahui masih sangat kental dengan rasa persaudaraan dan kekeluargaan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Kepala Desa Bonto Bunga kepada peneliti yaitu sebagai berikut,

“....Bentuk-bentuk konflik yang terjadi pada saat sebelum pemilihan, itu adanya permusuhan antara masing-masing pendukung, juga kebencian dan rasa jengkel calon Kepala Desa kepada calon-calon Kepala Desa yang lain bagaimana tidak, tidak ada yang mau mengalah semua mau jadi kepala desa padahal keluarga semua yang maju, apalagi tahap-tahap awalkan tahap untuk mencarari pendukung jadi kita harus melakukan pendekatan dari rumah kerumah akhirnya terjadilah permusuhan tidak baku baik silaturrahmi terputus seperti kalau tidak ada hubungan keluarga ”. (wawancara MN, 19 mei 2014)

Konflik dalam pemilihan Kepala Desa memang sulit untuk dihindari apalagi kalau yang maju sebagai kandidat masih memiliki hubungan darah atau hubungan keluarga disinilah mulai terjadi perpecahan keluarga karena mereka harus memilih satu dari beberapa calon yang adadan mereka sulit untuk menentukan pilihan., sesuaidengan yang dikatakan olehSekertaris Desa Bonto Bungakepada peneliti berikut ini,

“....konflik seperti kasus pemilihan Kepala Desa kemarin memang tidak bisa dihindari, bagaimana tidak yang maju sebagai calon kepala desa itu masih satu keluarga besar , jadi kamisebagai keluarga jugasangat sulit untuk memilih mana yang baik,kami pilih yang satu, marah yang

satu tapi mau tidak mau kita harus memilih salah satu diantara calon yang ada, akhirnya timbullah kebencian antara masing-masing pendukung calon kepala desa, sama tetangga bermusuhan bahkan kalau tetanngganya ambil sambungan listrik dari rumahnya di cabut dan warga yang ada utangnya dipaksa bayar, ada uang ataupun tidak ada harus dibayar dengan cara apapun, itu semua karena perbedaan dukungan”.(wawancara MR, 20 Mei 2014)

Person sebagai Calon Kepala Desa yang juga sebagai bagian dari warga desa tertentu dituntut untuk menjalin komunikasi dan hubungan yang baik terhadap warga yang lain.Dengan memulai dari lingkungan keluarga dan kerabat terdekat sebagai kekuatan politik yang pertama. karena kekuasaan dan kekerabatan merupakan dua hal yang saling berkaitan dan berpengaruh bahkan saling mendukung dalam konteks politik. Mengingat kekerabatan merupakan sebuah sistem melibatkan sangat banyak orang yang terdapat didalamnya dan masih adanya hubungan darah ataupun hubungan kekeluargaan memungkinkan seseorang lebih mudah untuk melakukan pendekatan dengan cepat. Dan kegagalan seseorang didalam menjalin hubungannya terhadap kerabat dekatnya akan menimbulkan kesulitan untuk mencapai dukungan dari pihak lain.

Pemilihan Kepala Desa sebagai sebuah proses terdiri dari beberapa tahapan-tahapan dan memerlukan waktu sesuai dengan tahapan yang ada.

Mulai dari rapat yang dihadiri oleh Kepala Desa, lembaga musyawarah Desa dan Camat dua bulan sebelum berakhirnya masa jabatan. Setelah itu rapat dipimpin oleh Kepala Desa untukmenyusun kepanitiaan pencalonan dan pelaksanaan pilkades selanjutnya membahas hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan misalnya pembiayaan. Hasilnya diajukan kepada Bupati untuk memperoleh pengesahan. Kemudian panitia akan menentukan jadwal

pelaksanaan pemilihan dengan syarat sudah mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada tahap pencalonan panitia akan mengadakan pendaftaran, dan disahkan sesuai dengan persyaratan administratif, yang akan diumumkan dipapan pengumuman yang terbuka dengan mencantumkan nama-nama bakal calon dan daftar pemilih yang telah disahkan. Setelah mengetahui orang-orang yang bakal calon, keadaan akan mengalami perubahan ditengah masyarakat. Perubahan dalam hal ini ditandai oleh hubungan dan jalinan komunikasi diantara warga desa sudah berkurang.

Dan yang lebih memprihatinkan adalah mereka cenderung membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah calon yang ada.

Sesuai dengan pernyataanKetua BPD Desa Bonto Bunga, kepada peneliti yaitu sebagai berikut,

“Setelah di ketahui nama-nama calon, maka masyarakat membentuk kubu masing-masing sesuai jumlah calon yang ada, jumlah calon pada pemilihan Kepala Desa kemarin ada empat calon jadi masyarakat juga terbagi menjadi empat kubu diantara empat kubu ini tidak ada lagi komunikasi, hubungan keluarga dekatpun seperti tidak ada lagi, yang rumitnya kemarin adalah kami masyarakat disini kebanyakan sulit untuk menentukan pilihan karena yang maju sebagai calon Kepala Desa itu keluarga semua, jadi bentuk konfliknya itu konflik batin atau konflik interindividu, konflik individu dengan individu dalam hal ini calon dengan calon dan juga konflik antar kubu atau pendukung dengan pendukung.(wawancara I,20 Mei 2014)

Hasil wawancara dan observasi diatas penulis menganalisis dan menyimpulkan bahwa berkurangnya hubungan yang baik tidak hanya diantara para calon saja tetapi juga diantara masyarakat pendukung masing-masing calon dalam konteks ini hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok ataupun sebaliknya sudah tidak

baik lagi, tetapi hubungan itu hanya ada diantara mereka yang mempunyai calon yang sama.

Konflik yang terjadi di Desa Bonto Bunga Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros Pra Pilkades adalah konflik interindividu dan konflik individu dengan individu.Masyarakat telah terkotak-kotak sesuai dengan calon yang ada dan interaksi sosial menunjukkan adanya nilai-nilai budaya yang mengalami pergeseran dan perubahan kearah yang kurang baik.

b. Konflik Saat Penghitungan Suara

Melihat dari berbagai tahapan mulai dari tahap pencalonan sampai tahap pencoblosan ditahap perhitungan suara inilah yang paling di tunggu-tunggu dan merupakan tahap yang paling menegangkan, karena disinilah puncak dan penentuan siapa yang memiliki suara terbanyak maka secara legitimasi hukum pemilik suara terbanyak itulah yang berhak terpilih sebagai kepala Desa yang baru.

Minggu tanggal 07 Oktober 2012 Pemilihan Kepala Desa Bonto Bunga di laksanakandengan empat ( 4 )Calon Kepala Desa yaitu:

Nomor urut 1 : M. Nawir Nomor urut 2 : Baharuddin.S Nomor urut 3 : Masariah Nomor urut 4 : Hamzah

Dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Desa Bonto Bunga Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros sebagai berikut:

Tabel 9 : Daftar Pemilih Tetap Desa Bonto Bunga

NO Jenis Kelamin Jumlah

1 Laki-laki 428 Orang

2 Perempuan 439 Orang

Jumlah Total 867 Orang

Sumber : Dokumen, Kantor Desa Bonto Bunga 2012

Tujuh (7) harisebelum pemilihan Kepala Desa (PILKADES), Panitia Pilkades, Ketua BPD,Panitia Pengawas, Tim Pembantu dan juga dihadiri Para Calon Kepala Desa, Para Saksi beserta unsur-unsur terkait, melakukan rapat persiapan mengenai langkah-langkah pemungutan suara.

Dalam rangka rapat telah dilaksanakan, kegiatan sebagai berikut:

a. Kegiatan persiapan dimulai pukul 07.00 WITA s/d 08.00 WITAmeliputi:

1..Perlengkapan pengecekan TPS tempat duduk calon Kepala Desa, ....pemeriksaan bilik suara dan kotak suara.

2. Pemeriksaan surat mandat Saksi.

3..Penerimaan pemilih untuk memasuki TPS sejumlah tempat duduk yang ....ditentukan.

b. Kegiatan pemungutan suara dimulai pukul 08.00 WITA s/d 13.00 WITA...dengan urutan:

1. Ketua Panitia Pemilihan membuka rapat pemungutan suara pada pukul 07.00 2. Pembukaan kotak suara dan memastikan kotak suara dalam keadaan ...kosong.

3. Pemasangan kunci kotak suara dan di segel Panitia Pemilihan.

4. .Ketua Panitia Pemilihan mengumumkan jumlah pemilih yang tercantum ,,,,,...dalam daftar pemilihan tetap dan jumlah surat suara.

5. Ketua Panitia Pemilihan memberikan penjelasan mengenai tata cara ...pemungutan/memberikan suara kepada pemilih yang hadir.

c. Pemberian suara oleh pemilih yang diatur berdasarkan prinsip urutan ...kehadiran

d. Penutupan pemungutan suara pada pukul 13.00 WITA

Ketua Panitia Pemilihan mengumumkan bahwa pemungutan suara selesai dan dilanjutkan rapat perhitungan suara.

Minggu, tanggal 07 oktober tahun 2012, Pukul 13:00 WITA, Panitia Pemilihan Kepala Desa Bonto Bunga Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros melaksanakan rapat perhitungan suara pemilihan Kepala Desa yang dihadiri oleh Para Calon Kepala Desa, Para Saksi, Panitia Pengawas, Tim Pemantau, dan warga masyarakat bertempat di Balai Desa Bonto Bunga Kecamatan Moncongloe.

Dalam rangkaian rapat telah dilaksanakan kegiatan sebagai berikut a. Persiapan perhitungan suara dengan urutan:

1.Pembukaan rapat perhitungan suara pada pukul 13.30 WITA

2.Mengumumkan dan mencatat jumlah pemilih berdasarkan daftar pemilih ...tetap yang memberikan suara dan yang tidak memberikan suara.

3. Memasang catatan hasil perolehan suara masing-masing calon kepala desa ...di tempat pemungutan suara.

b. Pelaksanaan Perhitungan Suara Dengan Urutan:

Setelah meliputi proses tersebut diatas, terjadi pengajuan dan komplain dari salah satu pendukung calon kepala desa kepada panitia mengenai kartu suara yang kurang lengkap (ada yang belum bersetempel dan tanda tangan panitia). sehingga panitia mengambil langkah untuk menghentikan perhitungan kartu suara dengan perolehan sementara masing-masing calon kepala desa sebagai berikut:

Tabel 10 : Perolehan Suara Sementara No

Sumber: Dokumen, Panitia PilkadesDesa Bonto Bunga 2012

Setelah dihentikan penghitungan, panitia mengumpulkan para calon kades dan saksi di salah satu ruangan di kantor desa, untuk mengadakan pemufakatan-pemufakatan tentang kartu suara yang kurang tanda tangan dan stempel panitia, yang difasilitasi oleh panwas dan disaksikan unsur-unsur terkait dan tokoh masyarakat/agama.

Pemufakatan tersebut dilaksanakan sampai akhirnya semua sepakat untuk melanjutkan perhitungan suara, dan pada pukul 14:30 WITA, dilanjutkan kembali perhitungan suara sampai pukul 15:45 WITA, dengan perolehan suara perhitungan lanjutan masing-masing calon adalah sebagai berikut:

Tabel 11 : Jumlah Suara Perhitungan Lanjutan No Urut Nama Calon Perhitungan

Lanjutan

Sumber: Dokumen, Panitia Pilkades Desa Bonto Bunga 2012

Jumlah perhitungan suara jika di gabungkan antara hasil sementara dengan perhitungan lanjutan adalah sebagai berikut:

Tabel 12 : Total Jumlah Suara

No Urut Nama Calon Jumlah Suara Total

1 M. Nawir 127 + 124 251 suara

2 Baharuddin.S 102 + 73 175 suara

3 Masariah 108 + 39 147 suara

4 Hamzah 121 + 106 227 suara

Suara Tidak SahMurni 15 + 13 28 suara

Tidak Sah Karena Kurang Lengkap 8 + 5 13 Suara

Total Tidak Sah 28 + 13 41 Suara

Tidak Menggunakan Hak Suara ________ 26 Orang Sumber: Dokumen Panitia Pilkades Desa Bonto Bunga 2012

Pemungutan suara dimulai pukul 8:00 WITA sampai pukul 13:00WITA, sesuaiKeputusanPanitia pemilihan Kepala Desa Bonto Bungapasal 2 ayat 4nomor 01 tahun 2012tentangtata tertib pemilihan kepala desa Bonto BungaKecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, yaitu“Pemungutan suara dimulai pukul 08.00 WITA dan berakhir sampai dengan pukul 13.00 WITA, dan apabila sampai batas waktu yang ditentukan masih terdapat pemilih yang telah mendapat surat undangan dan berada di ruang tunggu, maka diselesaikan sampai habis”.

Menurut pernyataan Ketua Panitia Pilkades kepada peneliti bahwa,

“Pukul 8:00 WITA pemilihan dimulai tapi belum sampai pukul 13:00 WITA peserta pemilih sudah tidak ada lagi, jadi saya sebagai Ketua Panitia meminta kepada Ketua BPD untuk segera melakukan perhitungan suara akan tetapi permintaan saya di protes keras oleh pendukung masing-masing calon akhirnya kami menunggu sampai pukul 13:00, setelah sampai pukul 13:00 kira-kira lewat 30 menit perhitungan suara di mulai, saling mengejek antara masing pendukung tidak bisa di hindari apalagi setelah ada kertas suara yang tidak bertanda tangan panitia dan kertas suara itu dianggap tidak sah, perkelahian antara pendukung yang terpilih di kertas suara dengan pendukung calon yang lain hampir saja terjadi untungnya cepat di amankan oleh pihak kepolisian, perhitungan suara sempat di hentikan sementara, suasanasemakin memanas setelah itu tapi tidak ada lagi aksi serupa setelahnya hanya suasana yang semakin tegang, saya sendiri sudah merasa was-was karena saya akui kesalahan itu adalah murni kesalahan kami sebagai panitia”.(wawancara MR,20 Mei 2014)

Hasil wawancara diatas dibenarkan oleh Saksi nomor urut 1 yang menyatakan bahwa,

“...kesalahan pada pemilihan Kepala Desa, itu terletak pada Panitia Pilkades karena kelalaian mereka ada kertas suara yang tidak ditanda tangani, bagaimana orang tidak marah kalau begitu, seharusnya kertas suara itu sah karena pengaruh tidak berstempel dan tidak bertanda tangan panitia akhirnya dianggap tidak sah, setelah selesai penghitungan suara kira-kira jam empat, calon nomor urut 4 tidak mau bertanda tangan di berita acara hanya saksinya yang bertanda tangan dan itu sudah cukup untuk mewakili. karena biar mau menuntut apa yang mereka mau tuntut, sekalipun semua suaranya yang tidak sah di anggap sah pak hamzah tetap kalah”.( wawancara S, 22 Mei 2014) Dengan diadakannya Pilkades Bonto Bunga ini masyarakat Desa Bonto Bunga pecah menjadi dua kubu pendukung yang sebelumnya empat kubu yaitu kubu M. Nawir, kubu Baharuddin.S, kubu Masaria dan kubu Hamzah tapi setelah perhitungan suara, pendukung Baharuddin. S dan pendukung Masariah ada yang bergabung kekubu M. Nawir, adayang bergabung kekubu Hamzahdan ada juga yang memilih netral. karena calon yang mereka dukung tidak memungkinkan lagi untuk menang.

Menurut Coser dalam Nurina,( 2003:50) konflik antara dua orang yang saling tidak kenal akan kurang tajam dibanding dengan dua orang yang saling kenal. Dalam hubungan yang intim orang dapat mencoba menekan rasa musuhan demi menghindari konflik, tetapi tindakan itu sendiri dapat menyebabkan akumulasi permusuhan yang akan meledak bila mana konflik tersebut berkembang. Tidak adanya konflik tidak bisa dianggap sebagai petunjuk kekuatan dan stabilitas dari hubungan. Konflik yang diungkapkan dapat merupakan tanda-tanda dari hubungan-hubungan yang hidup, sedangkan

tidak adanya konflik itu dapat berarti penekanan masalah-masalah yang menandakan kelak akan ada suasana yang benar-benar kacau.

Konflik yang terjadi disini adalah antar massa pendukung calon Kades adalah saling bertetangga bahkan sebagian masih punya hubungan saudara dengan adanya pilkades tersebut konflik yang terjadi justru sangat tajam hal ini dikarenakan massa pendukung antar kades ini saling kenal sehingga konflik yang pernah terjadi diangkat ke permukaan ditambah konflik yang sedang terjadi.

Konflik juga bisa mengarah pada hal yang positif atau negatif seperti yang dijelaskan Coser dalam Susan,(2009:62)bahwa:Ketegangan sosial yang berujung pada konflik dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konflik yang bersfat fungsional (positif dan konflik yang bersifat disfungsional (negatif)bagi hubungan-hubungan dan struktur-struktur sosial. Konflik bersifat fungsional jika tidak mempertanyakan dasar-dasar hubungan atau menyangkut subtansi perbedaan potensi konflik dan konflik tersebut dapat memperbaiki atau setidaknya mempertaankan struktur-struktur sosial yang ada. Sedangkan konflik bersifat disfungsional akan terjadi bila konflik sosial menyerang pada nilai-nilai inti subtansi perbedaan hubungan sosial yang secara ilmiah potensial menjadi pemicu konflik, sehingga konflik tersebut menimbulkan perpecahan serta merusak struktur yang sudah ada.

Konflik yang terjadi di Desa Bonto BungaKecamatan Moncongloe Kabupaten Maros merupakan konflik disfungsional, karena terjadi perpecahan antara pendukung M. Nawir dan pendukung Hamzah.

Perpecahan kedua kubu tersebut terlihat ketika dilaksanakannya pemilihan calon Kepala Desa Bonto Bunga. Semakin hari, intensitas konflik itu semakin meninggi, itu terlihat dari terpolarisasinya kedua kubu, para pendukung Hamzah menaruh dendam pada para pendukung M. Nawir meski di permukaan seakan tenang, tidak ada konflik terbuka, tapi di dalam, dendam itu seakan menunggu untuk disalurkan. kedua belah pihak saling melemahkan, ancaman dan intimidasiseakan menjadi hantu yang menakutkan bagi pendukung kedua belah pihak. Tidak ada lagi keluarga, keluarga hanya bagi

Perpecahan kedua kubu tersebut terlihat ketika dilaksanakannya pemilihan calon Kepala Desa Bonto Bunga. Semakin hari, intensitas konflik itu semakin meninggi, itu terlihat dari terpolarisasinya kedua kubu, para pendukung Hamzah menaruh dendam pada para pendukung M. Nawir meski di permukaan seakan tenang, tidak ada konflik terbuka, tapi di dalam, dendam itu seakan menunggu untuk disalurkan. kedua belah pihak saling melemahkan, ancaman dan intimidasiseakan menjadi hantu yang menakutkan bagi pendukung kedua belah pihak. Tidak ada lagi keluarga, keluarga hanya bagi

Dokumen terkait