ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
C. Deskripsi Data Penelitian
2. Deskripsi Data Berdasarkan Aspek Penyesuaian Sosial
a. Analisis Data Aspek Penampilan Fisik
Tabel 9
Hasil Analisis Deskriptif Data Penelitian Aspek Penampilan Nyata
Nilai Teoritik Nilai Empirik
Skor Minimum 9 20
Skor Maksimum 36 35
Mean 22.5 27.81
Tabel 10
One-Sample Test
Aspek Penampilan Nyata
total Test Value = 22.5
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 19.173 119 .000 5.30833 4.7601 5.8565
Hasil analisis pada tabel 9 menampilkan bahwa nilai yang diperoleh mean teoritis sebesar 22,5 dan mean empiris 27,81. Pada hasil uji beda One Sample-test dalam tabel 10 diperoleh nilai p = 0,000. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara signifikan mean empiris lebih besar daripada mean teoritik dengan p = 0,000 (p < 0,05). Data tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Batak Karo memiliki kemampuan penyesuaian sosial pada aspek penampilan fisik yang rata-rata tinggi.
b. Analisis Data Penyesuaian Diri Terhadap Kelompok
Tabel 11
Hasil Analisis Deskriptif Data Penelitian Aspek Penyesuaian Diri Terhadap Kelompok
Nilai Teoritik Nilai Empirik
Skor Minimum 24 60
Skor Maksimum 96 93
Mean 60 74.78
Tabel 12
One-Sample Test
Aspek Penyesuaian Diri Terhadap Kelompok
total Test Value = 60
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 26.376 119 .000 14.77500 13.6658 15.8842
Hasil analisis pada tabel 11 menampilkan bahwa skor mean empiris lebih besar daripada mean teoritis dengan nilai 74,78 > 60. Pada tabel 12 menunjukkan bahwa secara signifikan mean empiris lebih besar daripada
mean teoritis dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05), sehingga diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan penyesuaian sosial mahasiswa Batak Karo di Yogyakarta pada aspek penyesuaian diri terhadap kelompok rata-rata tergolong tinggi.
c. Analisis Data Sikap Sosial
Tabel 13
Hasil Analisis Deskriptif Data Penelitian Aspek Sikap Sosial
Nilai Teoritik Nilai Empirik
Skor Minimum 26 62
Skor Maksimum 104 101
Mean 65 80.76
Tabel 14
One-Sample Test
Aspek Sikap Sosial
total Test Value = 65
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 22.061 119 .000 15.75833 14.3439 17.1727
Pada tabel 13 hasil penelitian menunjukkan nilai mean teoritis 65 dan mean empiris 80,76. Uji beda One Sample-test pada tabel 14 menunjukkan bahwa nilai mean empiris lebih besar daripada mean teoritis dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Data tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Batak Karo di Yogyakarta memiliki kemampuan penyesuaian sosial pada aspek sikap sosial yang rata-rata tinggi.
d. Analisis Data Kepuasan Pribadi
Tabel 15
Hasil Analisis Deskriptif Data Penelitian Aspek Kepuasan Pribadi
Nilai Teoritik Nilai Empirik
Skor Minimum 13 34 Skor Maksimum 52 51 Mean 32.5 41.18 SD 6.5 4.04 Tabel 16 One-Sample Test
Aspek Kepuasan Pribadi
total Test Value = 32,5
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 23.540 119 .000 8.67500 7.9453 9.4047
Tabel 15 menunjukkan skor yang diperoleh mean teoritis sebesar 65 dan mean empiris 80,76. Hasil uji beda One Sample-test pada tabel 16 diperoleh nilai p = 0,000. Aspek kepuasan pribadi memiliki nilai mean
empiris yang secara signifikan lebih besar dibanding mean teoritis dengan p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti penyesuaian sosial mahasiswa Batak Karo di Yogyakarta pada aspek ini rata-rata tinggi.
Kategorisasi setiap aspek penyesuaian sosial digambarkan pada tabel 17 di bawah ini:
Tabel 17
Kategorisasi Aspek-aspek Penyesuaian sosial Aspek
Penyesuaian Sosial
Skor Kategori Distribusi Subyek
Persentase
Penampilan fisik >29 Sangat Tinggi 33 27,5%
23 – 29 Tinggi 84 70% 16 – 22 Rendah 3 2,5% < 16 Sangat Rendah - - Penyesuaian diri terhadap kelompok > 78 Sangat Tinggi 28 23,33% 60 – 78 Tinggi 92 76,67% 42 – 59 Rendah - - < 42 Sangat Rendah - -
Sikap sosial > 85 Sangat Tinggi 33 27,5%
65 – 85 Tinggi 86 71,67%
46 – 84 Rendah 1 0,83%
< 46 Sangat Rendah - -
Kepuasan pribadi > 42 Sangat Tinggi 41 34,17%
33 – 42 Tinggi 79 65,83%
23 – 32 Rendah - -
< 23 Sangat Rendah - -
Pada tabel 17 di atas keempat aspek memiliki distribusi terbanyak pada kategori tinggi. Hasil perhitungan data menunjukkan bahwa aspek penampilan fisik memiliki distribusi terbanyak pada kategori sangat
tinggi yaitu 27,5% cacah subjek. Kategori tinggi memiliki 70% cacah subjek dan 2,5% cacah subjek lainnya pada kategori rendah.
Aspek penyesuaian diri terhadap kelompok diketahui memiliki 23,33% mahasiswa Batak Karo yang masuk dalam kategori sangat tinggi. Mahasiswa Batak Karo yang memiliki kategori tinggi sebanyak 76,67%.
Mahasiswa Batak Karo yang masuk dalam kategori sangat tinggi pada aspek sikap sosial diketahui 27,5%. Subjek yang berada pada kategori tinggi sebanyak 71,67% dan 0,83% lainnya tergolong dalam kategori rendah.
Aspek penyesuaian sosial keempat adalah kepuasan pribadi. Mahasiswa Batak Karo pada kategori sangat tinggi sebanyak 34,17% dan 65,83% berada pada kategori tinggi.
D. Pembahasan
Hasil penelitian tentang penyesuaian sosial mahasiswa Batak Karo di Yogyakarta menunjukkan bahwa 27,5% memiliki penyesuaian sosial sangat tinggi, 71,67% tinggi, dan 0,83% rendah. Pada penelitian ini penyesuaian sosial tidak memiliki mahasiswa dengan kategori sangat rendah.
Sebagian besar subjek (71,67%) memiliki penyesuaian sosial yang tinggi dan 27,5% sangat tinggi. Hal ini berarti bahwa mahasiswa Batak Karo telah memiliki penyesuaian sosial yang tinggi. Mahasiswa Batak Karo menunjukkan pentingnya menjalani kehidupan dan perannya sebagai mahasiswa dan anggota masyarakat. Penerimaan masyarakat Yogyakarta terhadap keberadaan mahasiswa Batak Karo merupakan hal penting dalam
proses penyesuaian sosial karena agar hubungan berjalan dengan baik dibutuhkan kerja sama dari kedua belah pihak . Penyesuaian sosial yang tinggi pada subjek dikarenakan penampilan fisik yang menarik, kemampuan menyesuaikan diri terhadap kelompok, sikap sosial yang menyenangkan, dan kepuasan pribadi selama melakukan penyesuaian.
Namun demikian, sebagian subjek (0,83%) mahasiswa Batak Karo masih kurang mampu dalam melakukan penyesuaian sosial. Hal ini berarti bahwa mahasiswa Batak Karo belum menunjukkan keberhasilannya dalam menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat di Yogyakarta. Mahasiswa Batak Karo yang kurang mampu dalam penyesuaian sosial disebabkan oleh ketidak-mampuan mereka dalam mengatasi konflik yang dihadapi. Salah satunya adalah perasaan kesulitan dalam memilih cara yang tepat untuk menghadapi masalah atau tuntutan dari lingkungan.
Pada kehidupan sehari-hari tidak semua orang mampu melakukan penyesuaian sosial dengan baik. Ketidak-mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial membuat mahasiswa Batak Karo bertindak secara tidak rasional dan tidak efektif. Mereka yang tidak mampu melakukan penyesuaian sosial kemudian memunculkan sifat egosentris, cenderung menutup diri, anti sosial dan mengalami hambatan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Hasil analisis data pada kategorisasi aspek penyesuaian sosial menunjukkan bahwa skor terbesar pada kategori sangat tinggi dimiliki aspek kepuasan pribadi (34,17%). Hasil ini berarti kepuasan mahasiswa Batak Karo selama melakukan penyesuaian sosial di lingkungan masyarakat Yogyakarta
termasuk tinggi. Rasa puas tersebut dimiliki mahasiswa Batak Karo sebagai hasil dari aktifitas di lingkungan sosialnya.
Skor terbesar pada kategori tinggi dimiliki oleh aspek penyesuaian diri terhadap kelompok, yaitu 76,67%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Batak Karo sudah memiliki kemampuan yang baik selama melakukan penyesuaian diri terhadap kelompok di tempat mereka mengidentifikasikan dirinya.
Aspek penampilan fisik adalah aspek yang memiliki skor terbesar pada kategori rendah. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian mahasiswa Batak Karo masih merasa kesulitan dalam menampilkan diri yang menarik agar diterima di lingkungannya. Kemungkinan lainnya adalah bahwa sebagian mahasiswa Batak Karo merasa dengan penampilannya yang ada mereka sudah diterima tanpa perlu melakukan penyesuaian apapun.
Penampilan nyata memiliki 70% subjek dengan kategori tinggi dan 27,5% dengan kategori sangat tinggi. Penampilan nyata yang tinggi dilakukan mahasiswa dengan berpenampilan menarik sehingga memberi kemudahan bagi subjek untuk diterima dengan baik di masyarakat dan pergaulan sehari-hari. Penerimaan sosial sangat dipengaruhi oleh penampilan mahasiswa secara kasat mata dan kesan keseluruhan yang ditampakkan kepada sekitarnya baik penampilan fisik maupun perilaku sosialnya (Mappiare, 1982).
Subjek yang memiliki penampilan menarik memiliki kemungkinan untuk lebih berbahagia dan lebih mudah menyesuaikan diri (Hurlock, 1980).
Penampilan menarik membuat mahasiswa Batak Karo lebih mudah diterima dalam pergaulan dan dinilai lebih positif oleh orang lain dibanding mereka yang berpenampilan kurang menarik. Kemampuan subjek dalam menyesuaikan penampilan fisik dipengaruhi oleh faktor kondisi dan konstitusi fisiknya. Hal ini karena kondisi fisik sangat mempengaruhi konsep diri individu (Kartono, 1989).
Subjek yang tidak menerima kondisi fisiknya menghasilkan perasaan kurang percaya diri sehingga mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Hal inilah yang kemungkinan dialami 2,5% mahasiswa Batak Karo yang masuk dalam kategori rendah terkait kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan penampilan fisiknya. Mappiare (1982) mengatakan bahwa subjek yang penilaian diri yang kurang atau bahkan tidak menerima dirinya akan memproyeksikan penolakan terhadap keadaan masyarakat.
Aspek penyesuaian diri terhadap kelompok sebagian besar memiliki kategori tinggi (76,67%) dan 23,33% sangat tinggi. Mahasiswa Batak Karo berarti memiliki penyesuaian diri terhadap kelompok yang sudah baik. Mahasiswa Batak Karo menunjukkan bahwa sebagai mahluk sosial mereka tidak mampu menghindar dari lingkungan sosialnya. Penyesuaian diri terhadap kelompok yang tinggi dikarenakan mahasiswa memenuhi kriteria-kriteria yang dipegang oleh kelompok tempatnya membaur. Penyesuaian diri terhadap kelompok membantu subjek mengubah perilakunya agar memiliki hubungan yang menyenangkan dengan orang lain.
Penyesuaian sosial berkaitan dengan keberhasilan subjek dalam menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan secara khusus terhadap kelompok tempat individu mengidentifikasikan dirinya (Kartono, 1985). Pada penyesuaian diri subjek belajar mengabaikan kepentingan pribadinya demi kepentingan bersama di dalam kelompok. Mut’tadin (2002) mengatakan bahwa tujuan penyesuaian diri baru tercapai ketika individu mampu memenuhi tuntutan dari lingkungan.
Sikap sosial memiliki sebagian besar subjek pada kategori tinggi (71,67%) dan sangat tinggi 27,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masiswa Batak Karo telah memiliki sikap sosial yang sudah baik. Mahasiswa Batak Karo menunjukkan bahwa hubungan dengan orang lain berjalan ketika individu bersikap menyenangkan dengan tidak mementingkan diri sendiri. Sikap sosial yang tinggi terjadi karena mahasiswa Batak Karo bersedia ikut berpartisipasi dan menjalankan perannya dengan baik sebagai bagian dari lingkungan masyarakat.
Mahasiswa Batak Karo yang merupakan pendatang di Yogyakarta memiliki posisi yang sama seperti di daerah asalnya, yaitu sebagai anggota masyarakat. Aturan dan norma yang berlaku kiranya perlu dipatuhi agar setiap kepentingan terpenuhi dengan baik. Pengenalan terhadap aturan, norma dan nilai sosial, kebudayaan, adat istiadat, dan kepercayaan tentunya diperlukan agar kedua belah pihak sama-sama merasa hak mereka tidak dilanggar dan meminimalisir kesalah-pahaman. Kematangan dan perkembangan diperlukan karena membantu subjek dalam mengembangkan
pola pikir yang lebih dewasa dalam merespon lingkungannya (Schneiders, 1964).
Mahasiswa Batak Karo yang masuk dalam kategori rendah (0,83) diduga disebabkan oleh kekurang-mampuan subjek berbaur dengan masyarakat di lingkungannya yang baru. Subjek memerlukan pengenalan yang lebih tentang tempat tinggalnya yang baru dan mematuhi nilai dan norma yang berlaku di sana. Kebersamaan dengan orang lain membantu subjek belajar tentang perilaku yang diterima dan dianggap tidak diterima oleh kelompok dan lingkungan (Hurlock, 1988).
Kepuasan pribadi memiliki skor terbesar pada kategori tinggi (65,83%) dan sangat tinggi 34,17%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiwa Batak Karo telah memiliki kepuasan pribadi yang sudah baik. Kepuasan pribadi ditandai dengan perasaan puas karena terlibat dalam aktivitas kelompok dan mampu menerima dirinya. Kepuasan pribadi yang tinggi terjadi karena subjek memiliki kepuasan dengan kontak sosial dan peran yang dimilikinya dalam masyarakat (Hurlock, 1980).
54 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN