• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Data

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 61-75)

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini meneliti tentang seberapa besar resistensi perempuan Jawa terhadap nasihat jenis proses dan substansi tentang budi pekerti yang diberikan konselor berdasarkan serat Wulangreh putri. Berdasarkan hasil analisis data wawancara informatif, pengisian kuesioner dan data FGD, resistensi perempuan Jawa terhadap pemberian nasihat budi pekerti dalam serat Wulangreh putri adalah rendah. Pernyataan ini akan dideskripsikan lebih lanjut dengan berbagai proses olahan data sebagai berikut.

1. Data Wawancara Informatif

Data wawancara informatif yang terkumpul melalui rekaman video maupun suara selama proses wawancara kemudian diolah menjadi teks verbatim wawancara informatif. Data verbatim wawancara informatif kemudian digabungkan dengan data hasil penskalaan resistensi dan data hasil wawancara FGD untuk mengecek validitasnya melalui metode trianggulasi. Selain itu, data akan ditambahkan dengan data hasil observasi sejawat. Berikut ini adalah data wawancara informatif yang

mendukung data grafik resistensi, data ini kemudian akan dibahas dalam pembahasan dari laporan penelitian. Verbatim wawancara informatif terdapat pada lampiran 3.

Tabel 3 : Tabel Data Wawancara yang Dianalisis

Nasihat Data Wawancara Informatif

Proses 1 Mawar

“Kalau menurut aku, dalam keluarga suami itu seorang ayah sudah menjadi kepala keluarga. Sebaiknya kita berkonsultasi dulu atau berunding dulu dengan suami. Misalnya kan ada suami yang suka atau tidak suka dengan wanita karir. Kita sendiri pinginnya kita cari uang jadi wanita karir. Tapi kita tanya ke suami dulu, “Pak, saya gini..gini..gini. Saya ingin bekerja. Boleh atau tidak?” Itu sebenarnya harus didiskusikan dulu. Nah kalau boleh kita baru bisa melangkah lagi lebih lanjut. Soalnya restu dari suami membawa pengaruh dari kita. Tetapi di sisi lain, kalau keputusan yang kita ambil itu sebenarnya baik menurut kita dan bagi semua orang itu baik, ya kita harus menanggung resiko walaupun suami belum bisa berpikir itu nanti baik buruknya gimana. Jadi bila suami tidak setuju tetapi kita bertekad bahwa itu bener-bener baik, kenapa tidak?” (WR/HWK/NP1/K1/1-19)

Proses 1 Melati

Kalau di agama Islam itu tidak boleh, tidak bagus. Karena menentang. Dia itu kayak durhaka sama suaminya. Istri harus manut dengan suaminya. (WR/HWK/NP1/K2/20-23)

Proses 2 Mawar

“Pengabdian istri kepada suami ya kita harus nurut kepada suami. Kita tidak boleh membangkang kepada suami. Kalau kita sudah nikah otomatis ikut suami. Tidak bergantung kepada orang tua. Itu suami yang nuntun kita, itu arahnya kita nanti kemana yang menuntun adalah suami. Dan kita itu juga harus menuruti apa kemauan suami. Kita sebagai wanita harus mencukupi lahiriah dan batiniah. Jadi kita harus patuh terhadap suami.” (WR/HWK/NP2/K1/24-32)

Proses 2 Melati

Sudah kodratnya wanita untuk berbakti kepada suami karena suami adalah kepala keluarga. Suami adalah imam keluarga. Jadi apapun yang terjadi, kita harus ngikut suami kita (WR/HWK/NP2/K2/33-36)

Nasihat Data Wawancara Informatif Proses 3

Mawar

Kalau aku sedang marah atau jengkel itu, biasanya saya mencoba menenangkan diri. Misalnya kalau waktu SMA dulu, kalau lagi marah biasanya pergi ke Gua Maria, trus naik ke gunungnya itu dan di situ aku menyadari marah itu gara-gara apa. Kadang nangis sendiri, kadang teriak,“Tuhan.. gini..gini..gini..” Nah, selain itu di sisi lain, aku bisa mengontrol kemarahanku dengan dengerin musik. Aku dengan mendengarkan musik kayaknya bisa luluh gitu. Nah, jadi bisa tenang, bisa damai. Tetapi kalau marahku udah bener-bener marah, gak kuat, aku tidak pernah menyakiti diri sendiri dan tidak berbuat apa-apa. Cuman orang yang membuat aku marah itu, aku sindir secara tapi itu nanti akan terasa seperti yang aku alami akhir-akhir ini, aku difitnah. Aku hanya menyindir secara halus halus di depanku aja kamu terlihat baik, tetapi di belakang kamu kok kayak gitu. Dia langsung kerasa, langsung minta maaf sendiri. Itu nanti kemarahan yang ada dalam sendiri langsung luluh sendiri. Dia yang mengakui.” (WR/HWK/NP3/K1/37-58)

Proses 3 Melati

Kalau aku mengelola kemarahan dengan atur nafas, kalau masih marah lalu air wudu, kalau masih marah lalu duduk sama mikirkan yang bagus-bagus. Dan dengan menyebut nama Allah.(WR/HWK/NP3/K2/59-62)

Proses 4 Mawar

Misalnya kayak mengerjakan tugas kelompok gitu, ketika saat dunia SMA masih sering menggantungkan. Tetapi ini udah di dunia perkuliahan, seharusnya pikiran sudah dewasa, udah maju. Kalau ada tugas kelompok kita kerjakan bareng-bareng. Tapi saya mengakui sendiri, di kelompok saya gak suka dengan teman saya yang tidak mau mengerjakan tugas. Kadang aku udah mengingatkan dia kalau kamu dah dewasa. Pikiran kamu seharusnya ke depan. Aku mikirnya kelompokku kalau maju nilainya bagus. Presentasinya bagus. Tetapi kok tidak sesuai cuman angan-angan. Soalnya ada salah satu temenku yang gak mau kerja. Rasanya ndongkol kayak pingin memberontak. Kamu gak usah ikut kelompokku. Aku bener-bener cari yang mau berfikir kritis, yang mau dengan bekerja keras. (WR/HWK/NP4/K1/63-79)

Proses 4 Melati

Yang saya ketahui tentang keselarasan batin itu antara pikiran dengan hati perasaan itu bisa seimbang. Jadi nggak pikirannya mikirin apa, tetapi hatinya gak selaras dengan pikiran. Atau sebaliknya. Jadi kalau aku yang merasakan hati dan pikiran gak seimbang itu langsung pusing. Soalnya aku juga masih ada bayang-bayang masa lalu. (WR/HWK/NP4/K2/80-87)

Nasihat Data Wawancara Informatif Substansi 1

Lily

Karena untuk menjalin sebuah komunikasi antara suami dan istri harus mengetahui watak masing-masing. Kalau kita menghargai suami pasti suami juga menghargai seorang istri. Seorang istri juga perlu mengetahui watak suami agar bisa bertukar pendapat, saling mengerti, saling menghargai tanpa memandang perbedaan antara status, misal statusnya suami mungkin bisa dikatakan orang kaya dan istri dari menengah kebawah, agar tidak terjadi perbedaan tersebut maka seorang istri harus mengetahui watak-watak suami dan suami harus juga menerima istri apa adanya. (WR/HWFGD/NS1/K3/72-95)

Substansi 1 Rosa

Karena tidak mudah untuk menerima sifat orang lain. Sebagai istri harus menerima suaminya walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetap harus menerima. Istri memang harus memahami suaminya, suami pun juga harus memahami istrinya. Jangan mau menang sendiri. (WR/HWFGD/NS1/K4/96-107)

Substansi 2 Lily

Hubungan antara jiwa, raga dan kebahagiaan itu saling berkaitan. Jika jiwa kita mengalami kebahagiaan, tentu raga kita juga mengalami bahagia, tidak tertekan, tidak depresi. Hubungan kebahagiaan itu tersebut bisa dikatakan antara raga kita berpikir tenang, maka jiwa kita merasa tenang jadi otomasi kebahagiaan akan datang dengan sendirinya walaupun tidak berupa materi ataupun kebahagiaan misalnya yang rumahnya bagus, mobil ada, itu tidak. Tetapi kebahagiaan itu ada dalam hati kita masing-masing. Jadi ketenangan hati tidak bisa tergantikan dengan materi apapun karena kebahagiaan ada dalam hati kita masing-masing.(WR/HWK/NS2/K3/107-119)

Substansi 2 Rosa

Kalau orang merasa merasa bahagia, pasti raganya juga kelihatan lebih segar. Jiwanya juga tidak terganggu dalam artian seperti itu. Tetapi kalau orang sudah tertekan dari segi kebahagiaan, maksudnya kebahagiaannya sudah dikekang, pasti akan berdampak ke jiwa sama ke raganya dia. Misal tidak dibolehin ini itu, padahal suka tetapi akan mempengaruhi ya walaupun gak banyak tetapi mempengaruhi banget. (WR/HWK/NS2/K4/120-128)

Substansi 3 Lily

wanita merawat kebatiniahnya dengan batin kan termasuk dalam jiwa hati juga. Wanita Jawa terkenal akan tutur kata yang sopan, lemah lembut dan unggah-ungguhnya. Dalam batin itu kalau seorang wanita berbicara sesuai dengan uanggah-ungguh atau tata krama dalam Jawa itu pasti batinnya udah selaras dengan pikiran. Tidak mungkin kalau kita mengucapkan sesuatu yang kasar, belum tentu hatinya kasar. (WR/HWK/NS3/K3/129-137)

Nasihat Data Hasil Wawancara Konseling Substansi 3

Rosa

Kalau batin itu bagian dalam, paling tidak mengikuti adat dalam arti kalau tidak boleh “gini” ya diikuti. Meskipun sekarang zaman modern, tetapi paling tidak adat-adat Jawa itu jangan sampai dilupakan. Misal kalau cewek Jawa itu gak boleh aneh-aneh, atau gak boleh apa, harus kalem, paling tidak harus ditunjukkan. Tetapi kita tetap gak boleh kolot, walaupun di jaman modern. Intinya menjaga ke-Jawa-annya.(WR/HWK/NS2/K4/138-146)

Substansi 4 Lily

Kesetiaan itu di mana seorang, salah satu pribadi bisa menghargai yang orang itu lakukan pada pasangannya. Setia juga bukan berarti selalu bertemu atau tatap muka, belum tentu hatinya juga setia, karena setia juga bisa dikatakan kita percaya pada masing-masing, saling melengkapi, bertukar pikiran, tidak saling egois, saling mengerti kesibukan masing-masing, itu juga bisa dikatakan setia. Setia juga misalnya dalam pacaran Long Distanceatau pacaran jarak jauh, itu juga bisa menguji kesetiaan kita di mana salah satu pasangan bisa menjaga pandangan kita, hati kita, yang mungkin kasarannya gampang tergoda dengan wanita lain atau pria lain.(WR/HWK/NS4/K3/147-159)

Substansi 4 Rosa

Menurut saya, komitmen di antara dua orang yang berhubungan untuk saling menghargai, saling menghormati. Setia dalam persahabatan ya saling menjaga, saling tolong menolong. Kan ada istilah setia kawan. Setia itu intinya adalah ikatan batin yang benar-benar kuat dan sulit dilepaskan dalam artian, kalau sudah setia dengan orang lain ya setia dengan orang itu saja. Kata “setia” hanya diucapkan untuk orang yang kita mau serius, atau kita mau menjalin hubungan yang serius dengan orang itu. Jangan sampai kita mematahkan kesetiaan atau kepercayaan itu. (WR/HWK/NS4/K4/160-171)

2. Data Kuesioner Skala Resistensi

Data kuesioner skala resistensi nasihat jenis proses dan substansi dideskripsikan berdasarkan proses pengolahan data.

a. Standar tinggi rendahnya skala resistensi

Peneliti menetapkan standar tinggi rendahnya skala resistensi dimaksudkan agar hasil penelitian valid dan konsisten. Standar skala

resistensi dalam penelitian ini dijelaskan peneliti bahwa semakin tinggi angka skala yang dipilih subjek, maka resistensi subjek terhadap nasihat serat wulangreh adalah rendah. Sebaliknya, semakin rendah angka skala yang dipilih subjek, maka resistensi subjek terhadap nasihat serat wulangreh adalah tinggi.

Grafik 1: Standar tinggi rendahnya skala resistensi

Berikut ini adalah penjelasan strandar skala resistensi. 1) Skala 1-4 , Resistensi Terhadap Nasihat Tinggi

Jika skala resistensi yang diberikan subjek menunjuk angka 1-4, maka resistensi subjek terhadap pemberian nasihat adalah tinggi. Penerimaan subjek terhadap nasihat adalah rendah.

2) Skala 5-7, Resistensi Terhadap Nasihat Sedang

Jika skala resistensi yang diberikan subjek menunjuk angka 5-8, maka resistensi subjek terhadap pemberian nasihat adalah sedang. Penerimaan subjek terhadap nasihat adalah sedang.

3) Skala 8-10, Resistensi Terhadap Nasihat Rendah

Jika skala resistensi yang diberikan subjek menunjuk angka 8-10, maka resistensi subjek terhadap pemberian nasihat adalah rendah. Penerimaan subjek terhadap nasihat adalah tinggi.

Skala resistensi dalam penelitian ini merupakan suatu kebalikan. Salah satu contohnya, jika subjek menunjuk angka 10 maka resistensi atau penolakan terhadap pemberian nasihat adalah rendah. Angka tertinggi dalam penskalaan resistensi merupakan resistensi yang paling rendah, artinya bahwa subjek sangat menerima pemberian nasihat dalam wawancara. Kuesioner skala resistensi terdapat pada lampiran 4. b. Angka skala resistensi subjek terhadap nasihat jenis proses dan

substansi dalam serat Wulangreh putri tentang budi pekerti

Pada proses pengumpulan data penskalaan resistensi, 4 subjek penelitian mengisi skala resistensi terhadap nasihat yang telah diberikan setelah proses wawancara informatif. Nama samaran subjek yaitu: Mawar, Melati, Lily dan Rosa. Berikut ini adalah tabel angka skala yang telah dipilih subjek dalam pengisian kuesioner skala resistensi.

Angka Skala Jenis

Nasihat Peserta Nasihat

1 Nasihat 2 Nasihat 3 Nasihat 4

Mawar 8 10 10 8 Proses Melati 8 9 8 8 Lily 9 8 10 8 Substansi Rosa 7 9 6 10

Tabel 4 : Skala Resistensi Subjek berdasarkan jawaban pada lembar Kuesioner

Tabel di atas kemudian diolah ke dalam grafik resistensi yang akan menunjukkan tinggi rendahnya resistensi perempuan Jawa terhadap nasihat jenis proses dan substansi dalam serat Wulangreh putri tentang budi pekerti.

c. Grafik skala resistensi subjek terhadap nasihat Wulangreh putri jenis proses dan substansi tentang budi pekerti

Grafik resistensi ini bertujuan untuk memudahkan peneliti maupun pembaca dalam mengetahui tinggi rendahnya resistensi subjek terhadap nasihat jenis proses dan substansi tentang budi pekerti dalam serat Wulangreh putri. Nasihat jenis proses diberikan pada subjek bernama Mawar dan Melati sedangkan nasihat jenis substansi diberikan pada subjek bernama Lily dan Rosa.

Grafik 2: Grafik resistensi subjek terhadap nasihat budi pekerti jenis proses dan substansi dalam serat Wulangreh Putri

Grafik di atas menunjukkan bahwa resistensi Mawar dan Melati terhadap nasihat jenis proses adalah rendah, sedangkan resistensi Lily dan Rosa terhadap nasihat jenis substansi adalah rendah dan sedang. Berikut ini ada deskripsi data dari pembacaan grafik skala resistensi masing-masing subjek.

1) Resistensi Mawar Terhadap Nasihat Wulangreh Putri Jenis Proses Berdasarkan hasil pengisian kuesioner skala resistensi, pada nasihat 1 Mawar memilih angka 8, menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat 1 adalah rendah. Nasihat 2 dan nasihat 3 Mawar memilih angka 10, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 2 dan

3 adalah rendah. Nasihat 4 Mawar memilih angka 8, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 4 adalah rendah.

2) Resistensi Melati Terhadap Nasihat Wulangreh Putri Jenis Proses Berdasarkan hasil pengisian kuesioner skala resistensi, pada nasihat 1 Melati memilih angka 8, menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat 1 adalah rendah. Nasihat 2 Melati memilih angka 9, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 2 adalah rendah. Nasihat 3 dan 4 Melati memilih angka 8, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 3 dan 4 adalah rendah.

3) Resistensi Lily Terhadap Nasihat Wulangreh Putri Jenis Substansi Berdasarkan hasil pengisian kuesioner skala resistensi, pada nasihat 1 Lily memilih angka 9, menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat 1 adalah rendah. Nasihat 2 Lily memilih angka 8, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 2 adalah rendah. Nasihat 3 Lily memilih angka 10, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 3 adalah rendah. Nasihat 4 Lily memilih angka 8, menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat 4 adalah rendah.

4) Resistensi Rosa Terhadap Nasihat Wulangreh Putri Jenis Substansi Berdasarkan hasil pengisian kuesioner skala resistensi, pada nasihat 1 Rosa memilih angka 7, menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat 1 adalah sedang. Nasihat 2 Lily memilih angka 9, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 2 adalah rendah. Nasihat

3 Lily memilih angka 6, menunjukkan resistensi terhadap nasihat 3 adalah sedang. Nasihat 4 Lily memilih angka 10, menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat 4 adalah rendah.

Grafik skala resistensi menunjukkan bahwa resistensi terhadap nasihat dalam serat Wulangreh putri tentang budi pekerti pada masing-masing subjek memiliki volume skala penerimaan yang tinggi. Sehingga resistensi perempuan Jawa terhadap nasihat tentang budi pekerti rendah. Nasihat sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat berbudaya Jawa. Namun pernyataan ini dibuktikan kembali validitasnya dengan menghitung skala resistensi nasihat keseluruhan. Penghitungan skala resistensi nasihat keseluruhan akan dideskripsikan pada point selanjutnya.

d. Rumus penghitungan skala resistensi subjek terhadap nasihat proses dan substansi

Pengolahan data skala resistensi digunakan peneliti dengan menggunakan rumus hitung secara manual. Pengolahan skala resistensi ini bertujuan untuk menemukan skala resistensi subjek dari skala pada 4 nasihat serat Wulangreh putri baik dalam jenis proses dan substansi yang kemudian digunakan sebagai kesimpulan skala resistensi.

Berikut ini adalah rumus yang digunakan peneliti dalam hitung manual.

atau

Keterangan:

Sn1 : Skala nasihat 1 Sn3 : Skala nasihat 3 Sn2 : Skala nasihat 2 Sn4 : Skala nasihat 4

Angka 4 merupakan jumlah nasihat yang diberikan dalam penelitian pada masing-masing subjek. Untuk mengetahui resistensi subjek terhadap pemberian skala resistensi, berikut ini adalah perhitungan skala resistensi subjek dan kesimpulan skala resistensi subjek melalui rumus yang telah ditentukan.

Tabel 5: perhitungan skala resistensi subjek dan kesimpulan skala resistensi subjek

Skala Resistensi Subjek Nasihat

Jenis Subjek Perumusan Hasil

Kesimpulan Skala Resistensi Subjek Mawar 8+10+10+8 4 9 Rendah Proses Melati 8+9+8+8 4 8.25 Rendah Lily 9+8+10+8 4 8.75 Rendah Substansi Rosa 7+9+6+10 4 8 Rendah Sn1 + Sn2 + Sn3 + Sn4 4

Jumlah Skala Nasihat Jumlah Nasihat

e. Rumus penghitungan skala resistensi keseluruhan nasihat proses dan substansi

Hasil penghitungan skala resistensi subjek terhadap nasihat baik proses maupun substansi, data kemudian diolah kembali untuk mendapatkan kesimpulan skala resistensi keseluruhan. Berikut ini adalah rumus skala resistensi keseluruhan.

= = 8.5 =

RENDAH

Hasil penghitungan skala resistensi keseluruhan ini mencapai angka 8.5 sehingga kesimpulan skala resistensi keseluruhan terhadap nasihat dalam serat Wulangreh putri adalah rendah. Resistensi rendah menunjukkan bahwa penerimaan nasihat serat Wulangreh putri oleh konselor adalah tinggi. Penghitungan skala resistensi ini juga terdapat pada lampiran 8.

3. Data Wawancara FGD

Data Wawancara FGD yang terkumpul melalui rekaman video maupun suara selama proses wawancara kemudian diolah menjadi teks verbatim wawancara FGD. Data ini kemudian diolah kembali dengan menggabungkan data hasil wawancara informatif dan data kuesioner skala resistensi. Data verbatim wawancara FGD terdapat pada lampiran 5.

Jumlah Hasil Resistensi Jumlah Subjek

9+8,25+8,75+8 4

Tabel 6 : Tabel Data Wawancara FGD yang Dianalisis

Nasihat Data Wawancara FGD

Proses 1 Mawar

Karena kalau sudah berumahtangga, istri hidup bersama suami, tidak bergantung lagi pada orangtua dan suami yang membimbing istri ke depan, kemana kita akan melangkah. (WR/HWFGD/NP1/K1/1-8)

Proses 1 Melati

Karena suami sebagai kepala keluarga, seorang istri harus gemati, manut. (WR/HWFGD/NP1/K2/9-11)

Proses 2 Mawar

karena seorang istri harus setia, gemati, tau kebutuhan suami, harus menghormati suami. (WR/HWFGD/NP2/K1/12-15) Proses 2

Melati

karena istri adalah pakaian suami, harus mengikuti suami, gemati, melayani suami.( WR/HWFGD/NP2/K2/16-19)

Proses 3 Mawar

Karena kita harus bisa mengontrol kemarahan itu. Kita harus bener-bener bisa ngontrol supaya nanti pedoman yang kita punya tidak lepas, jadi kita bisa pegang teguh pedoman kita. Kalau marah tidak terkontrol biasanya akan main fisik atau membanting benda bahkan sampai bunuh diri. (WR/HWFGD/NP3/K1/20-31)

Proses 3 Melati

Ketika kita marah kita harus diam. Kalau masih ada emosi kita meredam emosi dengan duduk, kalau masih ada emosi kita redam dengan tidur, kalau masih ada lagi kita redam emosi dengan ambil air wudu. Marah identik dengan kedekatan setan, semakin marah keras semakin setannya mendekati. Marah tidak boleh ada kata-kata yang jorok. Kalau sudah ada kata yang jorok itu setannya sudah ikut.

(WR/HWFGD/NP3/K2/32-48) Proses 4

Mawar

karena saya itu orangnya apa adanya, gak suka bohong. Ya itu tadi didepannya itu gak usah ngomong senang tapi dibelakangnya kayak gitu. Kalau aku mending jujur sama orangnya. (WR/HWFGD/NP4/K1/49-60)

Proses 4 Melati

karena ada waktunya untuk berbicara apa yang kita rasakan namun tetap berbicara apa adanya jika sudah tepat waktunya. Seorang wanita yang dewasa tau mana yang baik dan mana yang salah. Bisa mengukur dirinya sendiri dan jangan sampai mengeluh. (WR/HWFGD/NP4/K2/61-71)

Substansi 1 Lily

Karena untuk menjalin sebuah komunikasi antara suami dan istri harus mengetahui watak masing-masing. Kalau kita menghargai suami pasti suami juga menghargai seorang istri. Seorang istri juga perlu mengetahui watak suami agar bisa bertukar pendapat, saling mengerti, saling menghargai tanpa memandang perbedaan antara status, misal statusnya suami mungkin bisa dikatakan orang kaya dan istri dari menengah kebawah, agar tidak terjadi perbedaan tersebut maka seorang istri harus mengetahui watak-watak suami dan suami harus juga menerima istri apa adanya. (WR/HWFGD/NS1/K3/72-95)

Nasihat Data Wawancara FGD

Substansi 1 Rosa

karena tidak mudah untuk menerima sifat orang lain. Sebagai istri harus menerima walaupun suaminya walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetap harus menerima. Istri memang harus memahami suaminya, suami pun juga harus memahami istrinya. Jangan mau menang sendiri. (WR/HWFGD/NS1/K4/96-107)

Substansi 2 Lily

Sebagai istri harus menerima walaupun suaminya walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetap harus menerima.(WR/HWFGD/NS1/K4/98-103)

Substansi 2 Rosa

karena tidak mudah untuk menerima sifat orang lain Istri memang harus memahami suaminya, suami pun juga harus memahami istrinya. Jangan mau menang sendiri. (WR/HWFGD/NS1/K4/96, 103-107)

Substansi 3 Lily

karena kalau pikirannya jernih pasti hati kita juga ikut tenang, tapi kalau kita sedang emosi, mungkin banyak pikiran yang mengganggu dan membuat hati tidak tenang. (WR/HWFGD/NS2/K3/108-114)

Substansi 3 Rosa

karena kalau hati dan pikiran tidak singkron akan susah dan tidak enjoy. (WR/HWFGD/NS2/K4/115-118)

Substansi 4 Lily

karena sudah dijelaskan dalam pernikahan, kalau memang sudah mengikat pada perkawinan yang sakral pasti istri harus setia, suami juga harus setia. Ibaratnya istri juga harus tidak berpikiran negatif pada suami, suami juga harus percaya pada istri. (WR/HWFGD/NS4/K3/131-141)

Substansi 4 Rosa

karena kesetiaan adalah komitmen. Kesetiaan selalu dinilai baik. Ketika istri setia suami pun juga harus setia. (WR/HWFGD/NS4/K4/142-146)

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 61-75)

Dokumen terkait