• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data

Objek penelitian yang digunakan adalah Perusahaan sub sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2013-2017 (lima tahun). Penelitian ini melihat apakah Debt Ratio, Long Term Debt to

Equity Ratio, dan Kepemilikan Institusional berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset.

Seluruh sub sektor Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ada 18 perusahaan Makanan dan Minuman. Kemudian yang memenuhi kriteria sampel keseluruhan dari jumlah populasi yaitu 13 perusahaan. Berikut 13 perusahaan yang dipilih menjadi objek dalam penelitian :

Tabel IV.1

Daftar Sampel Penelitian

No Emiten Nama Perusahaan

1 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, PT 2 ALTO Tri Banyan Tirta Tbk, PT

3 CEKA

Wilmar Cahaya Indonesia Tbk, PT (d.h Cahaya Kalbar Tbk, PT)

4 DLTA Delta Djakarta Tbk, PT

5 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT 6 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk, PT 7 MYOR Mayora Indah Tbk, PT

8 PSDN Pradisha Aneka Niaga Tbk, PT 9 ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk, PT 10 SKBM Sekar Bumi Tbk, PT

11 SKLT Sekar Laut Tbk, PT 12 STTP Siantar Top Tbk, PT

13 ULTJ Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk, PT Sumber: Bursa Efek Indonesia

45

a. Return On Asset

Variabel terikat (Y) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return

On Asset. Return On Asset adalah rasio yang digunakan perusahaan untuk

menilai tingkat laba bersih terhadap total aset perusahaan. Artinya sejauh mana perusahaan dapat menghasilkan laba dari aset yang dimiliki.

Berikut ini adalah hasil perhitungan Return On Asset pada masing-masing Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar do Bursa Efek Indonesia selama periode 2013-2017.

Tabel IV.2

Return On Asset Pada Perusahaan Makanan dan Minuman

Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2017

NO KODE RETURN ON ASSET

2013 2014 2015 2016 2017 1 AISA 6,91% 5,13% 4,12% 7,77% -9,71% 2 ALTO 0,80% -0,82% -2,06% -2,27% 5,67% 3 CEKA 6,08% 3,19% 7,17% 17,51% 7,71% 4 DLTA 31,20% 29,04% 18,50% 21,25% 20,87% 5 ICBP 10,51% 10,16% 11,01% 12,56% 11,21% 6 MLBI 65,72% 35,63% 23,65% 43,17% 52,67% 7 MYOR 10,44% 3,98% 11,02% 10,75% 10,93% 8 PSDN 3,13% -4,54% -6,87% -5,61% 4,65% 9 ROTI 8,67% 8,80% 10,00% 9,58% 2,97% 10 SKBM 11,71% 13,72% 5,25% 2,25% 1,59% 11 SKLT 3,79% 4,97% 5,32% 3,63% 3,61% 12 STTP 7,78% 7,26% 9,67% 7,45% 9,22% 13 ULTJ 11,56% 9,71% 14,78% 16,74% 13,72% RATA-RATA 13,72% 9,71% 8,58% 11,14% 10,39% Sumber :Bursa Efek Indonesia (data diolah)

Berdasarkan tabel IV.2 diatas dapat dilihat pada tahun 2013 Return On

Asset paling baik adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 65,72%

dan yang paling rendah pada PT. Tri Banyan Tirta, Tbk yaitu sebesar 0,80%. Pada tahun 2014 Return On Asset yang paling baik adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 35,63% dan yang paling rendah pada PT. Pradisha Aneka Niaga yaitu sebesar -4,54%. Pada tahun 2015 Return On Asset yang paling baik adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 23,65% dan yang paling rendah pada PT. Pradisha Aneka Niaga yaitu sebesar -6,87%. Pada tahun 2016 Return On Asset yang paling baik adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 43,17% dan yang paling rendah pada PT. Pradisha Aneka Niaga yaitu sebesar -5,61%. Pada tahun 2017 Return On Asset yang paling baik adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 52,67% dan yang paling rendah pada PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk yaitu sebesar -9,17%.

Perusahaan dengan nilai Return On Asset diatas rata-rata menunjukkan bahwa perusahaan mampu memperoleh keuntungan atas keseluruhan aset yang diinvestasikan, hal ini akan berdampak pada nilai perusahaan dimata para investor semakin tinggi, dan sebaliknya pada perusahaan yang nilainya dibawah rata-rata , dikhawatirkan akan mempengaruhi nilai perusahaan dimata investor karena dianggap kurang mampu mengelola aset dengan baik untuk memperoleh keuntungan.

47

b. Debt Ratio

Variabel bebas (X1) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt

Ratio. Debt Ratio merupakan rasio yang mengukur seberapa besar perusahaan

mengandalkan hutang untuk membiayai asetnya. Debt Ratio dalam penelitian inidiukur dengan membagi total hutang dengan total aset.

Berikut ini disajikan tabel hasil perhitungan Debt Ratio perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang menjadi sampel dalam penelitian ini periode 2013-2017 sebagai berikut :

Tabel IV.3

Debt Ratio Pada Perusahaan Makanan dan Minuman

Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2017

NO KODE DEBT RATIO

2013 2014 2015 2016 2017 1 AISA 53,06 51,37 56,22 53,92 60,97 2 ALTO 63,91 57,01 57,04 58,73 62,21 3 CEKA 50,61 58,14 56,93 37,73 35,16 4 DLTA 21,97 22,93 18,17 15,48 14,64 5 ICBP 37,62 39,62 38,30 35,99 35,72 6 MLBI 44,59 74,73 63,52 63,93 57,57 7 MYOR 59,90 60,15 54,20 51,52 50,69 8 PSDN 38,75 39,03 47,72 57,13 56,66 9 ROTI 56,80 55,20 56,08 50,58 38,15 10 SKBM 59,59 51,06 54,99 63,22 36,96 11 SKLT 53,76 53,75 59,68 47,88 51,66 12 STTP 52,78 51,91 47,45 49,99 40,88 13 ULTJ 28,33 22,35 20,97 17,69 18,86 RATA-RATA 47,82 49,02 48,56 46,45 43,09 Sumber :Bursa Efek Indonesia (data diolah)

Berdasarkan tabel IV.3 diatas dapat dilihat pada tahun 2013 Debt Ratio paling tinggi adalah pada perusahaan PT. Tribanyan Tirta, Tbk yaitu sebesar 63,91 dan yang paling rendah adalah PT. Delta Djakarta, Tbk yaitu sebesar 21,97. Pada tahun 2014 Debt Ratio paling tinggi adalah pada PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 74,73 dan yang paling rendah adalah PT. Ultrajaya

Milk Industry and Trading Company, Tbk yaitu sebesar 22,35. Pada tahun 2015

Debt Ratio paling tinggi adalah pada PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu

sebesar 63,52 dan yang paling rendah adalah PT. Delta Djakarta, Tbk yaitu sebesar 18,17. Pada tahun 2016 Debt Ratio paling tinggi adalah pada PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk yaitu sebesar 63,93 dan yang paling rendah pada PT. Delta Djakarta, Tbk yaitu sebesar 15,48. Pada tahun 2017 Debt Ratio paling tinggi adalah pada PT. Tribanyan Tirta, Tbk yaitu sebesar 62,21 dan yang paling rendah adalah PT. Delta Djakarta, Tbk yaitu sebesar 14,64.

Debt Ratio yang tinggi menandakan perusahan menggunakan hutang untuk mendanai asetnya. Semakin rendah Debt Ratio maka semakin kecil tingkat hutang yang digunakan perusahaan dan kemampuan untuk membayar hutang semakin tinggi, begitu juga sebaliknya apabila semakin tinggi Debt Ratio maka semakin semakin besar tingkat hutang yang digunakan perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban semakin kecil.

c. Long Term Debt to Equity Ratio

Variabel bebas (X2) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Long

Term Debt to Equity Ratio. Rasio ini mengukur seberapa besar modal

perusahaan didanai oleh hutang jangka panjang. Rasio ini diukur dengan membagi total hutang jangka panjang dengan total modal. Berikut ini disajikan tabel hasil perhitungan Long Term Debt to Equity Ratio perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang menjadi sampel dalam penelitian ini periode 2013-2017 sebagai berikut :

49

Tabel IV.4

Long Term Debt to Equity Ratio Pada Perusahaan Makanan Dan

MinumanYang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2017

NO KODE LONG TERM DEBT TO EQUITY

2013 2014 2015 2016 2017 1 AISA 53,75 63,99 59,08 58,29 41,62 2 ALTO 70,94 87,85 63,54 73,35 121,78 3 CEKA 4,24 5,19 4,60 3,81 5,01 4 DLTA 4,94 4,78 5,68 4,70 4,94 5 ICBP 24,91 24,20 25,46 21,25 21,98 6 MLBI 7,30 15,97 15,54 15,61 13,25 7 MYOR 80,62 75,02 57,69 44,26 41,99 8 PSDN 8,81 11,75 10,68 15,62 19,22 9 ROTI 90,83 91,15 94,39 80,15 25,26 10 SKBM 20,92 23,50 35,45 44,60 8,62 11 SKLT 26,23 23,98 43,36 34,71 38,11 12 STTP 25,49 42,07 35,32 52,30 43,23 13 ULTJ 8,07 7,11 6,47 4,48 3,74 RATA-RATA 32,85 36,66 35,17 34,86 29,90

Sumber :Bursa Efek Indonesia (data diolah)

Pada tahun 2013 nilai Long Term Debt to Equity Ratio yang paling tinggi adalah PT. Nippon Indosari Corporindo, Tbk sebesar 90,83 dan yang paling rendah pada PT. Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk sebesar 4,24. Pada tahun 2014 nilai Long Term Debt to Equity Ratio yang paling tinggi adalah PT. Nippon Indosari Corporindo, Tbk sebesar 91,15 dan yang paling rendah adalah PT. Delta Djakarta, Tbk yaitu sebesar 4,78. Pada tahun 2015 nilai Long Term Debt

to Equity Ratio yang paling tinggi adalah PT. Nippon Indosari Corporindo, Tbk

sebesar 94,39 dan yang paling rendah adalah PT. Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk sebesar 4,60. Pada tahun 2016 nilai Long Term Debt to Equity Ratio yang paling tinggi adalah PT. Nippon Indosari Corporindo, Tbk sebesar 80,15 dan yang paling rendah adalah PT. Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk sebesar 3,81. Pada tahun 2017 nilai Long Term Debt to Equity Ratio yang paling tinggi adalah PT. Tri Banyan Tirta Tbk sebesar 121,78 dan yang paling rendah pada PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk sebesar 3,74.

Nilai nilai Long Term Debt to Equity Ratio yang paling tinggi mengindikasikan suatu perusahaan menggunakan hutang jangka panjang untuk mendanai modalnya

d. Kepemilikan Institusional

Variabel bebas (X3) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kepemilikan Institusional. Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh pihak eksternal yaitu lembaga keuangan non bank, lembaga hukum, yayasan serta institusi luar negri yang memiliki hak atas saham dari suatu perusahaan. Berikut tabel kepemilikan institusional pada perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017.

Tabel IV.5

Kepemilikan Institusional Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode 2013-2017 NO KODE KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL 2013 2014 2015 2016 2017 1 AISA 55,71 62,09 63,02 63,05 62,38 2 ALTO 80,73 80,73 81,19 81,14 75,81 3 CEKA 92,01 92,01 92,01 92,01 92,01 4 DLTA 81,67 81,67 81,67 81,67 81,67 5 ICBP 80,53 80,53 80,53 80,53 80,53 6 MLBI 83,67 83,67 81,78 81,78 81,78 7 MYOR 33,07 33,07 33,07 59,07 59,07 8 PSDN 72,1 72,1 72,1 72,1 65,81 9 ROTI 70,75 70,75 70,76 69,38 70,3 10 SKBM 80,92 81,42 80,48 80,61 82,8 11 SKLT 96,09 96,09 96,09 83,55 84,05 12 STTP 56,76 56,76 56,76 56,76 56,76 13 ULTJ 46,6 46,6 44,52 37,1 36,86

Sumber :Bursa Efek Indonesia (data diolah)

Pada tahun 2013 kepemilikan institusional tertinggi adalah PT. Sekar Laut, Tbk yaitu sebesar 96,09 dan yang paling rendah adalah PT. Mayora Indah, Tbk yaitu sebesar 33,07. Pada tahun 2014 kepemilikan institusional tertinggi adalah PT. Sekar Laut, Tbk yaitu sebesar 96,09 dan yang paling rendah adalah PT.

51

Mayora Indah, Tbk yaitu sebesar 33,07. Pada tahun 2015 kepemilikan institusional tertinggi adalah PT. Sekar Laut, Tbk yaitu sebesar 96,09 dan yang paling rendah adalah PT. Mayora Indah, Tbk yaitu sebesar 33,07. Pada tahun 2016 kepemilikan institusional tertinggi adalah PT. Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk yaitu sebesar 92,01 dan yang paling rendah adalah PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk sebesar 37,1. Pada tahun 2017 kepemilikan institusional tertinggi adalah PT. Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk yaitu sebesar 92,01 dan yang paling rendah adalah PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk sebesar 36,86.

Kepemilikan Institusional sangat diperlukan dalam suatu perusahaan karena Kepemilikan Institusional merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengurangi agency conflict. Semakin tinggi tingkat kepemilikan institusi maka semakin kuat tingkat pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan sehingga agency conflict yang terjadi didalam perusahaan akan semakin berkurang sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Dokumen terkait