• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan deskripsi data hasil penelitian dan pembahasan tentang manajemen sarana pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang dengan indikator perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, inventarisasi, pemeliharaan, penghapusan dan pengawasan. Deskripsi data untuk masing-masing indikator tersebut dapat dilihat pada bagian berikut dan dilanjutkan dengan pembahasannya.

1. Perencanaan Kebutuhan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Perencanaan kebutuhan merupakan langkah awal dari manajemen sarana pembelajaran di sekolah. Perencanaan kebutuhan perlu dilakukan agar sarana pembelajaran yang akan disediakan sesuai dengan kebutuhan baik dari segi jenis barang maupun jumlahnya, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif.

Hasil pengolahan data tentang perencanaan kebutuhan manajemen sarana pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 3 :

Tabel 3

Perencanaan Kebutuhan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah

F % F % F % F % F % N %

1 Menanyakan buku-buku pelajaran yang

diperlukan dalam pembelajaran 7 22,58 15 48,38 6 19,35 3 9,68 0 0 31 100 2 Menanyakan alat bantu/media pelajaran yang

diperlukan dalam pembelajaran 15 48,38 14 45,16 2 6,45 0 0 0 0 31 100 3 Menanyakan alat labor/pratikum yang

diperlukan dalam pembelajaran 11 35,48 18 58,06 2 6,45 0 0 0 0 31 100 4 Menanyakan jumlah buku-buku yang perlu

diadakan dengan membandingkan kebutuhan buku yang tersedia

9 29,03 19 61,29 2 6,45 1 3,22 0 0 31 100

5 Menanyakan jumlah alat bantu/media yang perlu diadakan dengan membandingkan kebutuhan dengan alat bantu yang tersedia

8 25,80 9 29,03 9 29,03 2 6,45 3 9,68 31 100

6 Menanyakan jumlah alat labor/pratikum yang perlu diadakan dengan membandingkan kebutuhan dengan alat bantu yang tersedia

9 29,03 12 38,70 7 22,58 2 6,45 1 3,22 31 100

Persentase Rata-rata 31,71 46,76 15,05 4,3 2,15

Dari Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai perencanaan kebutuhan sarana pembelajaran adalah kepala sekolah menanyakan alat bantu/media pelajaran yang diperlukan dalam pembelajaran dengan perolehan persentase (48,38%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari kepala sekolah menanyakan buku-buku pelajaran yang diperlukan dalam pembelajaran dengan persentase (22,58%) responden menjawab selalu. Secara umum perencanaan kebutuhan

sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (31,71%) responden menjawab selalu.

2. Pengadaan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Pengadaan sarana pembelajaran merupakan langkah kedua setelah perencanaan kebutuhan dalam manajemen sarana pembelajaran. Hasil pengolahan data tentang pengadaan sarana pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 4 :

Tabel 4

Pengadaan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah F % F % F % F % F % N %

1 Membuat sendiri alat bantu/media yang digunakan dalam

proses pembelajaran 12 38,70 11 35,48 7 22,58 1 3,22 0 0 31 100 2 Membuat sendiri alat labor/pratikum yang digunakan dalam

proses pembelajaran 12 38,70 12 38,70 6 19,35 0 0 1 3,22 31 100 3 Membuat sendiri alat buku-buku panduan/modul yang

digunakan dalam proses pembelajaran 13 41,93 11 35,48 5 16,12 2 6,45 0 0 31 100 4 Alat bantu/media pembelajaran yang akan digunakan dalam

pembelajaran dibeli oleh pihak sekolah 10 32,25 16 51,61 5 16,12 0 0 0 0 31 100 5 Pengadaan sarana pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan

proses pembelajaran 7 22,58 20 64,51 4 12,90 0 0 0 0 31 100 6 Kepala sekolah membelikan alat praktek yang akan digunakan

dalam praktek pembelajaran di kelas 16 51,61 10 32,25 3 9,67 1 3,22 1 3,22 31 100 7 Sekolah menerima bantuan sarana pembelajaran dari pihak

swasta untuk menunjang pembelajaran di kelas 12 38,70 13 41,93 5 16,12 1 3,22 0 0 31 100 8 Meminta kepada kepala sekolah untuk membeli media

pembelajaran sebagai alat bantu media pembelajaran di kelas 12 38,70 17 54,83 2 6,45 0 0 0 0 31 100 9 Membuat sendiri alat peraga yang akan digunakan dalam

proses pembelajaran di kelas 15 48,38 13 41,93 1 3,22 2 6,45 0 0 31 100 10 Membeli alat praktek yang akan digunakan dalam praktek

pembelajaran di kelas 8 25,80 15 48,38 6 19,35 0 0 2 6,45 31 100

Dengan memperhatikan Tabel 4 dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai pengadaan sarana pembelajaran adalah kepala sekolah membelikan alat praktek yang akan digunakan dalam praktek pembelajaran di kelas dengan perolehan persentase (51,61%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari pengadaan sarana pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan proses pembelajaran dengan persentase (22,58%) responden menjawab selalu. Secara umum pengadaan sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (37,73%) responden menjawab selalu.

3. Penyimpanan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Penyimpanan merupakan kegiatan pengurusan, penyelenggaraan dan pengaturan barang persediaan di dalam ruang penyimpanan baik yang belum maupun yang akan didistribusikan.

Penyimpanan manajemen sarana pembelajaran merupakan langkah ketiga dari proses manajemen sarana pembelajaran. Hasil pengolahan data tentang penyimpanan sarana pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 5 :

Tabel 5

Penyimpanan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah

F % F % F % F % F % N %

1 Penyimpanan sarana pembelajaran diurus

oleh guru yang bersangkutan 11 35,48 18 58,06 2 6,45 0 0 0 0 31 100 2 Alat labor/pratikum yang digunakan dalam

pembelajaran disimpan oleh wakil bidang sarana sekolah

8 25,80 12 38,70 10 32,25 0 0 1 3,22 31 100

3 Menyimpan sarana pembelajaran setelah

digunakan dalam proses kegiatan belajar 12 38,70 10 32,25 4 12,90 2 6,45 3 9,67 31 100 4 Mengatur penyimpanan sarana yang

digunakan sekolah menurut aturan sekolah 9 29,03 10 32,25 11 35,48 1 3,22 0 0 31 100 5 Mengatur penyimpanan media/alat labor

yang akan digunakan dalam pembelajaran 8 25,80 14 45,16 9 29,03 0 0 0 0 31 100 6 Meletakkan/menyimpan kembali dengan

rapi buku-buku pelajaran yang telah digunakan pada tempat yang telah ditentukan

12 38,70 12 38,70 5 16,12 2 6,45 0 0 31 100

Persentase Rata-rata 32,24 40,85 22,03 2,68 2,14

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai penyimpanan sarana pembelajaran adalah menyimpan sarana pembelajaran setelah digunakan dalam proses kegiatan belajar dengan perolehan persentase (38,70%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari alat labor atau pratikum yang digunakan dalam pembelajaran disimpan oleh wakil bidang sarana sekolah dan mengatur penyimpanan sarana yang digunakan dalam pembelajaran dengan persentase kedua pernyataan itu sama yaitu (25,80%) responden menjawab selalu. Secara

umum penyimpanan sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (32,24%) responden menjawab selalu.

4. Inventarisasi Manajemen Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Inventarisasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencatat dan menyususn daftar inventaris barang-barang milik Negara, daerah secara tertib, teratur, berdasarkan ketentuan dan aturan yang berlaku.

Hasil pengolahan data tentang inventarisasi sarana pembelajaran dapat diuraikan pada Tabel 6 :

Tabel 6

Inventarisasi Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah

F % F % F % F % F % N %

1 Ketika memakai sarana pembelajaran elektronik, wakil bidang sarana mencatat peminjaman alat-alat tersebut ke dalam buku peminjaman

7 22,58 15 48,38 9 29,03 0 0 0 0 31 100

2 Wakil bidang sarana memberi nomor kode/label pada setiap alat praktek pembelajaran di sekolah

9 29,03 13 41,93 7 22,58 2 6,45 0 0 31 100

3 Wakil bidang sarana pembelajaran membuat nomor kode/label barang inventaris berdasarkan klasifikasi barang pada sarana pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran

13 41,93 9 29,03 8 25,80 1 3,22 0 0 31 100

4 Wakil bidang sarana pembelajaran memberi nomor kode/label pada setiap media elektronik yang digunakan dalam proses pembelajaran

10 32,25 14 45,16 6 19,35 1 3,22 0 0 31 100

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai inventarisasi sarana pembelajaran adalah wakil bidang sarana pembelajaran membuat nomor kode/label barang inventaris berdasarkan klasifikasi barang pada sarana pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan perolehan persentase (41,93%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari ketika memakai sarana pembelajaran elektronik, wakil bidang sarana mencatat peminjaman alat-alat tersebut ke dalam buku peminjaman dengan persentase (22,58%) responden menjawab selalu. Secara umum inventarisasi sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (31,44%) responden menjawab selalu.

5. Pemeliharaan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Kegiatan pemeliharaan dilakukan agar setiap sarana pembelajaran senantiasa dalam keadaan siap pakai dalam proses pembelajaran. Kegiatan pemeliharaan ini perlu dilakukan, agar setiap barang senantiasa dapat berfungsi dan digunakan dengan lancar tanpa banyak menimbulkan gangguan atau hambatan, maka barang-barang tersebut perlu dirawat secara baik dan berkelanjutan untuk menghindarkan adanya unsure-unsur pengganggu atau perusaknya.

Pengolahan data tentang pemeliharaan sarana pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 7 :

Tabel 7

Pemeliharaan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah

F % F % F % F % F % N %

1 Membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada sarana pembelajaran setiap menggunakan sarana pembelajaran

9 29,03 18 28,06 3 9,67 1 3,22 0 0 31 100

2 Menyuruh siswa piket setiap hari untuk membersihkan debu yang menempel pada alat-alat praktek yang terdapat

dilaboratorium

10 32,25 14 45,16 7 22,58 0 0 0 0 31 100

3 Kepala sekolah menanyakan untuk mengganti alat praktek berdasarkan kondisi kelayakannya

7 22,58 11 35,48 7 22,58 1 3,22 5 16,12 31 100

4 Menyuruh siswa menjaga setiap sarana pembelajaran yang digunakan dengan baik dalam proses pembelajaran di kelas

10 32,25 18 58,06 3 9,67 0 0 0 0 31 100

5 Menggunakan alat praktek pembelajaran

dengan baik saat praktek pembelajaran 8 25,80 16 51,61 7 22,58 0 0 0 0 31 100 6 Menggunakan media elektronik dengan

benar saat pembelajaran 4 12,90 12 38,70 12 38,70 1 3,22 2 6,45 31 100 7 Kepala sekolah melakukan pengecekan

pada setiap alat pembelajaran yang ada di sekolah

9 29,03 17 54,83 5 16,12 0 0 0 0 31 100

8 Meminta Kepala sekolah memperbaiki dengan cepat sarana pembelajaran yang rusak

8 25,80 15 48,38 6 19,35 2 6,45 0 0 31 100

Rata-rata 26,55 43,27 19,77 2,03 1,66

Dengan memperhatikan Tabel 7 dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai pemeliharaan sarana pembelajaran adalah menyuruh siswa piket setiap hari untuk membersihkan debu yang menempel pada alat-alat praktek yang terdapat di laboratorium dan menyuruh siswa menjaga setiap

sarana pembelajaran yang digunakan dengan baik dalam proses pembelajaran di kelas dengan perolehan persentase kedua pernyataan itu sama yaitu (32,25%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari menggunakan media elektronik dengan benar saat pembelajaran yang ada di sekolah dengan persentase (12,90%) responden menjawab selalu. Secara umum pemeliharaan sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (26,55%) responden menjawab selalu.

6. Penghapusan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Kegiatan penghapusan sarana pembelajaran juga perlu dilakukan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Sarana pembelajaran yang tidak dapat difungsikan dikelola dengan cara penghapusan sesuai dengan prosedur yang ada.

Hasil pengolahan data tentang penghapusan sarana pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 8 :

Tabel 8

Penghapusan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah

F % F % F % F % F % N %

1 Melakukan pemusnahan terhadap sarana pembelajaran yang sudah tidak terpakai

15 48,38 7 22,58 6 19,35 3 9,67 0 0 31 100

2 Mengajukan pemusnahan untuk

sarana pembelajaran yang rusak 7 22,58 17 54,83 5 16,12 2 6,45 0 0 31 100 3 Kepala sekolah menanyakan

kepada untuk melakukan penghapusan sarana pembelajaran yang berlebih

8 25,80 15 48,38 7 22,58 1 3,22 0 0 31 100

4 Kepala sekolah melakukan musyawarah untuk melakukan penghapusan terhadap sarana pembelajaran

17 54,83 9 29,03 5 16,12 0 0 0 0 31 100

Persentase Rata-rata 37,89 38,7 18,54 4,83 0

Dengan memperhatikan Tabel 8 dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai penghapusan sarana pembelajaran adalah kepala sekolah melakukan musyawarah untuk melakukan penghapusan terhadap sarana pembelajaran dengan perolehan persentase (54,83%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari mengajukan pemusnahan untuk sarana pembelajaran yang rusak dengan persentase (22,58%) responden menjawab selalu. Secara umum penghapusan sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (37,89%) responden menjawab selalu.

7. Pengawasan Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Pengawasan sarana pembelajaran adalah kegiatan pengamatan, pemeriksaan dan penilaian terhadap pelaksanaan administrasi sarana pembelajaran sekolah agar berjalan sesuai rencana dan ketentuan yang berlaku dan terhindar dari penyimpangan dan penggelapan.

Hasil pengolahan data tentang pengawasan sarana pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 9 :

Tabel 9

Pengawasan Sarana Pembelajaran Di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

No Aspek yang diteliti

Selalu Sering

Kadang-kadang Jarang

Tidak

Pernah Jumlah

F % F % F % F % F % N %

1 Kepala sekolah melakukan pemeriksaan kondisi

sarana pembelajaran yang digunakan pada saat proses pembelajaran

12 38,70 15 48,38 3 9,67 0 0 1 3,22 31 100

2 Memeriksa kembali sarana pembelajaran setelah

menggunakannya 6 19,35 15 48,38 9 29,03 1 3,22 0 0 31 100

3 Setiap selesai menggunakan media elektronik, selalu

memeriksa keadaan barang tersebut 17 54,83 13 41,93 1 3,22 0 0 0 0 31 100

4 Memantau siswa dalam menggunakan alat

pembelajaran 8 25,80 13 41,93 10 32,25 0 0 0 0 31 100

5 Kepala sekolah memantau penggunaan sarana

pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran 12 38,70 8 25,80 8 25,80 2 6,45 1 3,22 31 100

6 Kepala sekolah langsung menegur bapak/ibu yang

kedapatan merusak sarana pembelajaran 3 9,67 17 54,83 10 32,25 1 3,22 0 0 31 100

7 Kepala sekolah langsung memberikan sanksi kepada

Bapak/Ibu yang berulang kali menyalahgunakan sarana pembelajaran

5 16,12 13 41,93 12 38,70 1 3,22 0 0 31 100

8 Bapak/Ibu langsung menegur siswa yang kedapatan

merusak sarana pembelajaran

7 22,58 15 48,38 6 19,35 3 9,67 0 0 31 100

9 Memberikan sanksi kepada siswa yang kedapatan

berulang kali merusak sarana pembelajaran

15 48,38 14 45,16 3 9,67 0 0 0 0 31 100

10 Kepala sekolah memberikan sanksi baik kepada

Bapak/Ibu maupun siswa yang menyalahgunakan alat pratikum pada saat pembelajaran

11 35,48 18 58,06 2 6,45 0 0 0 0 31 100

Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa, persentase tertinggi mengenai penghapusan sarana pembelajaran adalah setiap selesai menggunakan media elektronik, selalu memeriksa keadaa barang tersebut dengan perolehan persentase (54,83%) responden menjawab selalu. Sedangkan persentase terendah terlihat dari kepala sekolah langsung menegur bapak/ibu yang kedapatan merusak sarana pembelajaran dengan persentase (9,67%) responden menjawab selalu. Secara umum pengawasan sarana pembelajaran terlaksana dengan kurang baik dengan persentase rata-rata (29,83%) responden menjawab selalu.

8. Manajemen Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang

Dengan memperhatikan semua tabel persentase jawaban responden diatas, maka secara umum rekapitulasi hasil pengolahan data tentang manajemen sarana pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang dapat dilihat pada Tabel 10 :

Tabel 10

Rekapitulasi Persentase Manajemen Sarana Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kota Padang

No Indikator Sarana Pembelajaran SL(%) SR(%) KD(%) JR(%) TP(%) JML(%) 1 Perencanaa kebutuhan 31,71 46,76 15,05 4,3 2,15 100 2 Pengadaan 37,73 44,50 14,18 2,25 1,28 100 3 Penyimpanan 32,24 40,85 22,03 2,68 2,14 100 4 Inventarisai 31,44 41,12 24,19 3,22 0 100 5 Pemeliharaan 26,55 43,27 19,77 2,03 1,66 100 6 Penghapusan 37,89 38,7 18,54 4,83 0 100 7 Pengawasan 29,83 44,61 22,03 2,95 0,80 100 JUMLAH 32,48 42,83 19,39 3,18 1,14 100

Tabel 10 menyatakan bahwa, perencanaan kebutuhan terlaksana dengan kurang baik yaitu dengan perolehan persentase rata-rata (31,71%) responden menjawab selalu. Kemudian, pengadaan terlaksana kurang baik, hal ini dapat ditunjukkan perolehan persentase rata-rata (37,73%) responden menjawab selalu. Selanjutnya perolehan penyimpanan terlaksana kurang baik, yaitu perolehan persentase rata-rata (32,24%) responden menjawab selalu. Sementara itu persentase rata-rata (31,44%) responden menjawab selalu untuk inventarisasi juga terlaksana kurang baik. Kemudian, pemeliharaan terlaksana kurang baik, hal ini dapat ditunjukkan perolehan persentase rata-rata (26,55%) responden menjawab selalu. Selanjutnya perolehan penghapusan dapat dikategorikan kurang baik, yaitu perolehan persentase rata-rata (37,89%)

responden menjawab selalu. Sementara itu persentase rata-rata (29,83%) responden menjawab selalu untuk pengawasan terlaksana kurang baik juga.

Sehingga dari ketujuh rata-rata persentase indikator tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen sarana pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Kota Padang terlaksana dengan Kurang Baik, ini ditunjukkan oleh jumlah rata-rata dari ketujuh indikator tersebut adalah (32,48%) responden menjawab selalu.

Dokumen terkait