• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

B. Deskripsi Data

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Kelurahan Kebayoran Lama Utara, dengan merujuk kepada kisi-kisi instrumen, maka diperoleh data sebagai berikut:

1. Permainan Tradisional

a. Pengertian Permainan Tradisional Betawi

Pengertian permainan tradisional Betawi menurut Hj. Rosita adalah permainan yang berkembang diwilayah DKI Jakarta, permainan itu sudah turun-temurun diwariskan dari orang tua mereka. Permainan tradisional mengandung banyak nilai positif seperti rasa pertemanan dengan teman sebaya lebih erat. Permainan Tradisional Betawi juga sebagai sarana rekreasi bagi anak-anak karena dengan

bermain menggunakan permainan tradisional anak-anak dapat berolahraga dan berekreasi.1

Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Jarahnitra menyatakan bahwa permainan tradisional anak merupakan hasil budaya yang besar nilainya bagi anak-anak dalam rangka berfantasi, berekreasi, berkreasi, berolahraga sekaligus sebagai sarana berlatih untuk hidup bermasyarakat, keterampilan, kesopanan, serta ketangkasan.2

Dapat tarik kesimpulan bahwa permainan tradisional Betawi adalah permainan yang dimainkan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah DKI Jakarta, permainan itu merupakan warisan turun-temurun yang disampaikan orang tua dari masa ke masa. Permainan tradisional memiliki banyak manfaat diantaranya selain bermain untuk mendapat kesenangan dan kegembiraan permainan tradisional juga mengandung unsur olahraga sehingga dapat berguna untuk menyehatkan tubuh kita setelah bermain permainan tradisional tersebut.

b. Jenis Permainan Tradisional Betawi dan Cara Bermain

Jenis permainan tradisonal Betawi yang sering dimainkan di wilayah Keluran Kebayoran Lama Utara adalah Dampu Kapal, Petak Umpet, Bentengan, Karet, Galah Asin, Congklak, Kelereng (Gundu Kusir dan Gundu Lubang), dan Egrang. Permainan tersebut sampai saat ini masih berkembang di kalangan anak-anak Betawi.

Permainan tradisional betawi yang telah disebutkan diatas dimainkan oleh anak-anak, remaja bahkan orang dewasa. Permainan tersebut memiliki cara bermain tersendiri tergantung jenis permainan

1 Hasil wawancara dengan Kepala Sie Sarana dan Prasarana Umum Keluran Kebayoran Lama Utara pada tanggal 05 Januari 2015

2 Siti Ulfatun, Pelaksanaan Permainan Tradisional dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosi Anak (Studi Kasus di TK B ABA Rejodani Sariharjo Ngaklik, Sleman Yogyakarta), Skripsi pada sekolah Strata satu Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta, 2014, h. 49, tidak dipublikasikan.

nya. Berikut ini adalah jenis permainan dan cara bermain permainan tersebut:

1) Permainan Bentengan

Benteng atau bentengan adalah permainan tradisional yang memerlukan ketangkasan, kecepatan berlari dan strategi yang jitu. Inti dari permainan ini adalah menyerang dan mengambil

alih “benteng” dari lawan. 3

Cara bermain permainan tradisional Betawi Bentengan adalah kita harus mengenai benteng lawan sebelum itu pemain dibagi menjadi dua kelompok, jadi masing-masing kelompok harus menyerang benteng lawan dan bertahan dari serangan. Cara penentuan kelompok dengan cara suten atau hom pim pa.4 Hal ini sejalan dengan teori yang di dapatkan dari buku Folklore Permainan Anak-anak Betawi yang disusun oleh Yahya Andi dkk, cara bermain bentengan adalah peserta terdiri atas kelompok atau regu. Baik putra maupun putri. Setiap regu berusaha menduduki benteng lawan yang digambarkan dengan tiang bendera atau pohon, yaitu dengan memancing lawan agar keluar dari benteng untuk mengejar mereka saat mereka dikejar kawannya membantu dengan mengejar orang yang mengejar kawannya jika kena tangkep maka dia dijadikan tawanan. Yang dinyatakan pemenangnya adalah anggota yang paling banyak menduduki benteng

3 Sri Mulyani. Permainan Tradisional Anak Indonesia. (Yogyakarta: Langensari Publishing. 2013). h. 22

4 Hasil wawancara dengan Dea Nida I siswa kelas dua Sekolah Menengah Atas Negeri 29 Jakarta Kelurahan Kebayoran Lama Utara , Jakarta Selatan

lawan.5 Menurut Sri Mulyani Inti dari permainan ini adalah

menyerang dan mengambil alih “benteng” dari lawan. 6

2) Permainan Galasin

Permainan galasin asal kata dari galah asin, dalam permainan galah asin ada galah (garis lurus) yang ditoreh di tanah sebagai tanda lokasi asin, bebas jaga. Berdasarkan hasil observasi dalam prakteknya anak-anak yang memainkan permainan galah asin menggunakan lapangan bulu tangkis sebagai arena permainan.

Cara bermain permainan ini adalah permainan galah asin dimainkan oleh dua regu baik putra maupun putri, yang terdiri atas 5 orang setiap regu. Permainan berlangsung selama 2x25 menit dengan istirahat 10 menit. Regu penjaga menempati garis jaga masing-masing, sedangkan regu penyerang berusaha melewati garis tersebut dengan menghindari tangkapan penjaga. 7

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Yuli Astuti, cara bermain permainan galah asin adalah membagi anak menjadi 2 regu, penjaga menempati garis masing-masing sedangkan penyerang berusaha melewati garis dengan menghindar dari tangkapan lawan. 8

Dalam buku yang di terbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dikemukakan bahwa dalam permainan galah asin pemain yang berhasil melewati galah

yang dijaga akan teriak asin…asin… asin, suatu tanda benteng

5 Yahya Andi, dkk., Folklore Permainan Anak-anak Betawi, (Jakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2011), hal.75

6 Sri Mulyani. op. cit h. 22 7 Yahya Andi, dkk., op.cit., h. 76

8 Hasil wawancara dengan Ibu Yuli Astuti guru SDN Kebayoran Lama Utara 03 Pagi , Jakarta Selatan

pertahanan penjaga jebol dan bebaslah semua masuk. 9 Sedangkan berdasarkan hasil observasi dalam permainan tersebut ketika sudah melewati garis tidak ada teriakan

asin…asin…asin, dalam permainan tersebut juga tidak pernah

ditentukan berapa lama permainan berlangsung. Permainan akan berakhir jika mereka telah merasa lelah atau dipanggil oleh orang tua mereka karena hari terlalu sore.

3) Permainan Dampu Kapal

Dampu kapal adalah permainan menggunakan petak yang digambar ditanah menggunakan kapur tulis atau pecahan batu bata, alat permainan ini adalah pecahan genting.

Cara bermain, setelah diundi pemain pertama berdiri dibelakang garis, lalu melemparkan batu ketipe (pecahan genting) kedalam petak pertama. Kemudian dengan berdingkrik dia melomat-lompat melewati petak-petak. 10 Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan Hj. Rosita Kepala Sie Sarana dan Prasarana Kelurahan Kebayoran Lama Utara bahwa cara permainan dampu kapal adalah setelah di undi menggunakan suten atau hom pim pa bagi pemain yang menang akan jalan terlebih dahulu dengan cara melemparkan gaco berupa pecahan genting selanjutnya melewati petak-petak dengan cara berjingkring.11

4) Permainan Petak Umpet

9 Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Ragam Budaya Betawi, (Jakarta: Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta, 2002), h.81

10 Abdul Chaer, Folklor Betawi ( Jakarta: Mnasup Jakarta, 2012), cet. 1, h. 181

11 Hasil wawancara dengan Hj. Rosita Sie Sarana dan Prasarana Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan

Permainan petak umpet adalah permainan tradisional yang cara permainannya dengan cara bersembunyi di suatu tempat di area permainan yang telah disepakati.

Cara permainan petak umpet adalah setelah melakukan undian seorang anak yang kalah harus menjadi penjaga atau pencari. Anak ini harus duduk menelungkup dengan mata tertutup sementara yang lain bersembunyi secara tersebar dimana saja. 12 Hal ini sejalan dengan hasil observasi di Rt 001/007 Kebayoran Lama Utara anak-anak bermain petak umpet dengan cara melakukan hom pim pa anak yang kalah menjadi penjaga dan yang lainnya bersembunyi secara tersebar sesuai area yang disepakati.

5) Permainan Karet

Permainan karet adalah permainan yang biasanya dilakukan oleh anak perempuan dan dimainkan di lapangan. Cara permainan karet adalah Puluhan karet dirangkai menjadi tambang, lalu dua anak merentangkan tambang karet itu setinggi semester, kemudian anak lain berusaha meloncatinya. Biasanya dimainkan pada siang hari sepulang sekolah. 13 Hal ini sejalan dengan hasil observasi di Rt002/008 Kebayoran Lama Utara permainna karet dimainkan merentangkan karet yang telah dirangkai sebelumnya selanjutnya anak yang mendapat giliran bermain duluan ocat diatas karet sampai anak tesebut tidak mampu melewati tantangan dan dinyatakan kalah.

6) Permainan Congklak

12 Abdul Chaer, Folklor Betawi ( Jakarta: Mansup Jakarta, 2012), cet. 1, h. 185 13 Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, loc.cit.

Permainan congklak adalah permainan yang di dimainkan oleh anak perempuan. Alat permainan ini adalah sebuah papan yang disebut apan congklak, tebalnya sekitar 5 atau 6 cm, lebarnya sekitar 20 cm dan panjangnya sekitar 60 atau 70 cm.14 Cara permainan congklak adalah dengan cara memasukkan biji-biji yang dijalankan tersebut akhirnya harus dimasukkan

ke dalam “Gedongnya” (Rumahnya). Yaitu lubang induk yang

terletak di kedua ujung dengan istilah disebut “Punggah”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin selaku ketua Rt001/007 bahwa congklak adalah permainan yang sangat digemari oleh anak perempuan di kelurahan Kebayoran Lama Jakarta selatan terutama di Rt001/007. 15

7) Permainan Kelereng

Peremainan kelereng adalah permainan tradisional yang biasanya dimainkan oleh anak perempuan, alat permainan ini adalah kelereng atau gundu. Permainan kelereng atau gundu terdiri dari dua macam yaitu gundu lobang dan gundu kusir. Tetapi di Keluran Kebayoran Lama anak-anak lebih gemar memainkan gundu kusir.

Hal ini sejalan dengan wawancara dengan Ibu Ida Marlina yang menyatakan bahwa permainan gundu kusir lebih menyenangkan karena dapat menyetil gundu lawan sampai jauh sehingga gundu lawan kalah.16

Dilihat dari perbendaharaan kata Betawi “Gundu” berarti

kelereng atau keneker yakni suatu benda bulat yang terbuat dari kaca atau porselin. Kali ini gundu tersebut diberi tambahan

14 Abdul Chaer, Folklor Betawi ( Jakarta: Mnasup Jakarta, 2012), cet. 1, h. 181

15 Hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. 16 Hasil wawancara dengan Ibu Ida Marlina guru SDN 04 Pagi Kelurahan Kebayoran Lama Utara , Jakarta Selatan

“Kusir” . kata kusir berasal dari kata ngusir yang artinya menyuruh pergi jauh-jauh dengan berbagai cara. Kalau dalam permainan ini cara yang dipergunakan adalah menyentil (menjentik) gundu lawan jauh-jauh.17

8) Permainan Egrang atau Jangkungan

Permainan Jangkungan atau yang biasa dikenal egrang adalah permainan tradisional dengan menaiki dua buah bambu yang sudah dibuat pijakan pada bagian bawah bambu dan orang menaiki bambu tersebut sehingga dapat berjalan.

Nama permainan ini adalah “Jangkungan” asal katanya “Jangkung” yang mendapat imbuhan “an”. Kata Jangkungan berarti tinggi langsing. Tapi oleh masyarakat setempat sesuai

dengan logat bahasa daerah mereka kata “Jangkung” saja tidak

umum karena itu kata tersebut mendapat imbuhan yang akhiran an, sehingga permainan ini dikenal dengan nama

“Jangkungan”. 18

Di Kelurahan Kebayoran Lama jangkungan masih dimainkan tetapi hanya pada saat tertentu seperti saat lomba 17 Agustusan memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

c. Permainan tradisional yang sudah memudar

Permainan tradisional yang telah memudar di Kebayoran Lama Utara adalah permainan Si.., permainan torti, permainan perahu-perahuan, permainan tangkrep, serok kwali, ujungan, dododio, kukuruyuk ayam,

17

Abdurachman, dkk., Permainan Anak-anak Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, (Jakarta: 1991/1992.), h.6

belalang, galilio, kodok-kodokan dan sutil. Permainan ini mulai memudar disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya:

1) Orang tua tidak mewariskan pengetauan tentang permainan tersebut. 2) Tempat bermain yang tidak ada karena pembangunan yang dilakukan

dikota besar sehingga semakin berkurang lahan kosong.

3) Permainan tradisional kurang menarik minat anak-anak zaman sekarang.

d. Penyebab permainan tradisional Betawi memudar

Ada beberapa hal yang menyebabkan permainan tradisional sudah tidah diminati oleh masyarakat khususnya di daerah perkotaan terutama di DKI Jakarta. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan kepada Ibu Ida Marlina menyatakan bahwa penyebab permainan tradisional memudar adalah karena tempat bermain yang kurang memadai dan anak-anak perkotaan lebih tertarik kepada permainan modern.19

Lembaga Kebudayaan Betawi yang diwakilkan oleh Bapak Entong Sukirman menyatakan bahwa permainan tradisional memudar disebabkan oleh kekhawatiran orang tua jika anaknya bermain di luar rumah sehingga hanya bermain di dalam rumah menggunakan gedget serta banyak permainan tradisional yang memakai alat yang sulit didapatkan sehingga anak-anak mengaggap permainan tradisional tidak praktis.20

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penyebab permainan tradisional memudar atau tidak diminati lagi adalah sebagai berikut:

1) Banyak permainan modern yang lebih mudah dimainkan dan tidak memerlukan tempat yang luas.

2) Permainan modern tidak memerlukan banyak orang sehingga dapat dimainkan sendiri.

19 Hasil wawancara dengan Ibu Ida Marlina guru SDN 04 Pagi Kelurahan Kebayoran Lama Utara , Jakarta Selatan

20 Hasil wawancara dengan Bapak Entong Sukirman di Anjungan Betawi Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

3) Orang tua merasa lebih aman kalau anaknya bermain di dalam rumah, tidak bermain dilapangan.

4) Beberapa permainan tradisional menggunakan alat dan bahan yang saat ini sulit untuk menemukan apalagi dikota besar seperti Jakarta. 5) Gaya hidup saat ini yang berpandangan bahwa permainan tradisional

ketinggalan zaman sehingga lebih memilih gedget yang lebih canggih. 6) Perkembangan teknologi sehingga anak lebih menyukai permainan

yang hanya menggunakan jari dan otak tanpa menggerakan badan mereka.

e. Keunggulan permainan tradisional dibandingkan permainan modern

Terdapat banyak keunggulan permainan tradisional dibandingkan dengan permainan modern, hal ini diungkapkan oleh Ibu Yuli Astuti yaitu permainan tradisional memiliki banyak keunggulan diantaranya adalah permainan tradisional mengajarkan tentang kepedulian sosial secara tidak langsung karena permainan tradisional dilakukan secara berkelompok sehingga melatih komunikasi dengan teman sebaya, permainan tradisional juga memiliki banyak gerakan seperti berolahraga dapat menyehatkan tubuh.21

Hal ini sejalan dengan dengan yang diungkapkan oleh ketua RT 001/07 bahwa keunggulan permainan tradisional terleak pada melatih anak bersosialisasi dengan lingkungan melalui permainan berkelompok seperti permainan tradisional. 22

21 Hasil wawancara dengan Ibu Yuli Astuti guru SDN Kebayoran Lama Utara 03 Pagi , Jakarta Selatan

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dapat disimpulkan bahwa keunggulan permainan tradisional dibandingkan dengan permainan modern adalah sebagai berikut:

1) Permainan tradisional dimainkan secara berkelompok sehingga anak bisa bersosialisasi dibandingkan permainan modern yang hanya dimainkan sendiri.

2) Permainan tradisional lebih menyehatkan karena cara permainannya dengan cara menggerakan seluruh anggota badan sehingga seperti sedang berolahraga.

3) Permainan lebih mengutamakan kesenangan bukan

mengutamakan kemenangan seperti yang terdapat dalam permainan modern.

4) Permainan tradisional secara tidak langsung mengenalkan anak pada lingkungan sekitar sehingga anak lebih mengenal lingkungan tempat tinggal.

5) Permainan trasisional mengajarkan anak cara berkomunikasi dengan teman sebaya melalui bermain.

6) Permainan tradisional mengajarkan kerjasama anatar kelompok sehingga anak terhindar dari sifat individualis.

7) Permainan anak tradisional mengajarkan tanggung jawab dalam setiap permainannya.

8) Permainan tradisional mengajarkan sportivitas sehingga melatih kejujuran anak agar tidak berbuat curang.

9) Permainan tradisional mengajarkan anak agar peduli terhadap sesama sehingga anak dapat belajar untuk terbiasa menolong orang lain.

10) Permainan tradisional melatih anak membentuk karakter-karakter yang baik sehingga dapat melatih anak menjadi pribadi yang baik dimasa yang akan datang.

2. Karakter

a. Pengertian Karakter

Karakter secara bahasa (etimologis) berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassaein dan kharax, dalam bahasa Yunani character dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa inggris characther dan dalam bahasa Indonesia lazim diguanakan dengan istilah karakter.23 Sedangkan menurut Imam Ghozali menganggap bahwa karakter adalah lebih dekat dengan akhlak yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.24 Menurut hasil wawancara pengertian karakter adalah sifat atau watak yang ada dalam diri manusia. 25 Hal ini sejalan dengan hasil wawancara Ibu Sumriah berusia 38 tahun sekretaris PKK Kelurahan Kebayoran Lama macam-macam karakter yang diketahui atau dikenal masyarakat adalah jujur, tanggung jawab, peduli sosial, peduli lingkungan. 26 Menurut hasil wawancara dengan Dea Nida pengertian jujur yaitu:

“Jujur adalah sifat yang berkata sesuai dengan kenyataan tanpa adanya pengurangan atau penambahan dalam menyampaikan, tanggung jawab adalah sifat yang melaksanakan tugas yang diberikan kepada orang tersebut dengan baik, peduli lingkungan dan sosial adalah sifat peduli terhadap lingkungan sekitar dan lingkungan masyarakat”.27

Karakter-karakter tersebut sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat diterima dalam lingkungan sosial dan masyarakat.

23Ibid., h. 1.

24 Heri Gunawan, op. cit., h. 3.

25 Hasil wawancara dengan Ibu Sumriah sekretaris PKK Kelurahan Kebayoran Lama Utara , Jakarta Selatan

26 Hasil wawancara dengan Ibu Sumriah sekretaris PKK Kelurahan Kebayoran Lama Utara , Jakarta Selatan

27 Hasil wawancara dengan Dea Nida siswi SMAN 29 Jakarta Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan

Karakter-karakter tersebut dapat membentuk anak menjadi pribadi yang baik dimasa depan jika dilatih sejak dini, cara melatih anak adalah dengan cara memberikan contoh yang baik salah satu caranya dengan mengajarkan anak permainan tradisional.

a. Nilai karakter yang terkandung dalam permainan tradisional egrang, bentengan dan galah asin.

1) Permainan Bentengan

Peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.28 Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan permainan bentengan memiliki nilai karakter peduli sosial atau lebih tepatnya peduli terhadap teman sebaya kelompok bermainnya hal ini terlihat ketika salah satu pemain yang terjatuh atau kesulitan saat berlari merebut benteng lawan kita akan menolong rekan satu, regu akan menang jika seluruh pemain peduli terhadap rekan bukan bermain secara individual yang dapat menyebabkan perpecahan di dalam kelompok. 29 Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan Lembaga Kebudayaan Betawi Bapak Entong Sukirman bahwa di dalam permainan bentegan terdapat nilai peduli sosial yaitu tindakan yang bersedia membantu orang lain jika orang tersebut dalam kesulitan.30

Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya.31 Berdasarkan hasil observasi dapat terlihat bahwa karakter tanggung jawab

28Ibid., h. 5 29Ibid., h. 5

30 Hasil wawancara dengan Bapak Entong Sukirman di Anjungan Betawi Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

terdapat dalam permainan tradisional bentengan, setiap pemain satu regu bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing ada yang bertugas menjadi penjaga dan ada yang bertugas sebagai penyerang.32 Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan ketua RT 005 Bapak Sudarmin bahwa terdapat nilai karakter tanggung jawab terdapat dalam permainan bentengan tercermin dari setiap anak bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing.33 Bella Kinanti juga mengatakan bahwa nilai tanggung jawab sangat tercermin dalam permainan tradisional bentengan.34

Menurut hasil wawancara dengan Dea Nida pengertian jujur adalah

“Jujur adalah sifat yang berkata sesuai dengan kenyataan tanpa

adanya pengurangan atau penambahan dalam menyampaikan, tanggung jawab adalah sifat yang melaksanakan tugas yang diberikan kepada orang tersebut dengan baik,35

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yang di ungkapkan oleh Ibu Yuli Astuti, guru dari SDN Kebayoran Lama Utara 05 Pagi ini mengungkapkan tentang pengertian jujur yaitu:

“jujur adalah sifat yang berkata sesuai dengan fakta atau kenyataan yang sebenarnyatanpa menambahkan atau

mengurangi perkataan tersebut” 36

Berdasarkan hasil observasi karakter kejujuran tercermin dalam permainan ini adalah ketika lawan memegang benteng yang kita miliki bereka harus berkata jujur jika tidak permainan tidak akan berlanjut karena regu lawan akan menyangka jika regu kita curang.37

32 Observasi di RT 005/07 tanggal 05 Januari 2015 pukul 17.15 WIB

33 Hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan 34 Hasil wawancara dengan Bella Kinanti siswi SMAN 29 Jakarta Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan

35 Hasil wawancara dengan Dea Nida siswi SMAN 29 Jakarta Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan

36 Hasil wawancara dengan Ibu Yuli Astuti guru SDN Kebayoran Lama Utara 03 Pagi , Jakarta Selatan

Berdasarkan hasil observasi karakter kerjasama terdapat dalam permainan bentengan karena dalam permainan bentengan tidak akan menang salah satu tim jika pemain tidak bekerjasama dengan pemain lainnya dalam satu regu.38 Hal ini sejalan dengan pernyataan Ibu Yuli Astuti bahwa dalam permainan tradisional bentengan terdapat nilai kerjasama karena jika tidak ada kerjasama antar pemain satu regu tidak akan tercipta permainan yang baik. 39

Bersahabat atau komunikasi adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Karakter bersahabat atau berkomunikasi tercrermin ketika sesama pemain dalam permainan bentengan melakukan diskusi untuk strategi permainan agar dapat menang dalam permainan, diskusi tersebut termasuk dalam karakter bersahabat atau berkomunikasi dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan Dea Nida bersahabat/berkomunikasi adalah menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan teman sebaya atau yang berbeda usia dan dapat bekerjasama dengan orang lain.40 Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bella Kinanti bahwa bersahabat atau bekomunikasi adalah tindakan menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain dan mudah bergaul dengan orang lain. 41

Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda pada dirinya. 42 Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan Bella Kinanti bahwa toleransi adalah tindakan yang meltih diri menghargai

38 Observasi di RT 005/001 tanggal 30 Desember 2014 pukul 15.30 WIB

39 Hasil wawancara dengan Ibu Yuli Astuti guru SDN Kebayoran Lama Utara 03 Pagi , Jakarta Selatan

40 Hasil Wawancara dengan Dea Nida siswi SMAN 29 Jakarta Kelurahan Kebayoran Lama Utara,

Dokumen terkait