A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Singkat Berdirinya Griya Al Qur’an Al Furqon.
Pendidikan non formal Griya Al-Qur‟an Al-Furqon Jl. Dr. Sutomo No. 72 Ponorogo berdiri pada tanggal 1 Oktober 2014. Dan terdaftar sebagai Lembaga Taman Pendidikan Al-Qur‟an di Kementerian Agama Kantor Kabupaten ponorogo pada tanggal 03 Februari 2015. Berdirinya Griya Al-Qur‟an Al-Furqon Jl. Dr. Sutomo No. 72 Ponorogo sebagai tuntunan peserta didik untuk menjadikan generasi Qur‟ani.
Berawal dari kegelisahan melihat kondisi bangsa Indonesia ke depan, yakni ketika menyaksikan kondisi para remaja dan pemuda yang jauh dari Al-Qur'an berarti juga jauh dari kebaikan. Membayangkan akan hal tersebut, bagaimana negeri ini ke depannya jika dipimpin oleh orang-orang yang jauh dari kebaikan. Padahal pada dasarnya karakter jiwa yang baik itu lahir dari generasi Qur'ani. Di sisi lain pembelajaran Al-Qur'an terkesan membosankan dan tidak diminati oleh anak-anak. Dari situ muncul gagasan untuk memusyawarahkan sekiranya apa pembelajaran yang tepat untuk anak-anak.
Pada akhirnya Allah mempertemukan dengan belajar Al-Qur'an menggunakan otak kanan yang tentunya lebih kreatif dan inovatif. Dan setelah dikenalkan dan diterapkan, alhamdulillah mendapat respon yang
baik dari peserta didik dan peserta didik lebih bersemangat dalam belajar Al-Qur'an.
Pada awal merintis Griya Al-Qur‟an Al-Furqon santrinya kira-kira berjumlah 15 santri. Dengan seiring waktu lembaga Griya Al-Qur‟an Al-Furqon sekarang santrinya sekitar 300. Masyarakat sangat antusias untuk memasukkan putra-putrinya di lembaga Griya Al-Qur‟an Al-Furqon mengingat zaman yang tidak menentu di era global seperti saat ini56
2. Letak Geografis Griya Al Qur’an Al Furqon Ponorogo
Dari hasil penelitian, bahwa lokasi Griya Al Qur‟an Al Furqon memiliki lokasi sangat strategis karena berada di daerah perkotaan yaitu di jalan Dr. Sutomo No. 72 Ponorogo yaitu:
a. Sebelah barat 100 m dari rumah Rumah Sakit Darmayu dan Rumah Sakit Aisyiyah.
b. Sebelah timur bertepatan dengan Jalan Jaksa Agung c. Sebelah selatan bertepatan bundaranTonatan
d. Sebelah utara bertepatan bundaran Luwes.57
3. Visi Misi Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo a. Visi
56 Lihat lampiran transkrip dokumen:01/D/12-5/2016
57 Lihat lampiran transkrip dokumen:02/D/12-5/2016
Menjadi lembaga pendidikan Al-Qur'an terdepan dalam mencetak generasi Qur'ani b. Misi
a) Melaksanakan pembelajaran secara komprehensif 5T 7M b) Melaksanakan standarisasi mutu pendidikan Al-Qur'an
c) Membangun kemitraan dengan lembaga-lembaga atau instansi negeri ataupun swasta dalam pendidikan Al-Qur'an.58
4. Struktur Organisasi
Ketua yayasan Al-Furqon : Agus Yahya
Direktur Utama : Imam Musta'in Sekertaris : Ahmad Sabar
Bendahara : Kristin 59
5. Keadaan Ustadz-ustadzah Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo
Adapun ustadz-ustadzah pembimbing di Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo ini berjumlah 27 orang dengan latar belakang pendidikan yang cukup memadai.Di antaranya dari kalangan dosen, guru dan mahasiswa. Para ustadz-ustadzah yang dipilih harus sesuai dengan standar mutu guru Wafa yang telah ditetapkan. Untuk lebih jelasnya lihat dalam lampiran.60
6. Keadaan Santri di Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo
Dalam setiap bulan data seluruh peserta didik bisa berubah. Itu dikarenakan ada yang masuk mendaftar dan ada juga sebagian yang keluar. Secara keseluruhan jumlah santri di Griya Al-Qur'an berjumlah 288 santri. Yang terdiri dari tingkat Wafa 1 berjumlah 90 santri, tingkat Wafa 2 berjumlah 55 santri, tingkat Wafa 3 berjumlah 60 santri, tingkat Wafa 4 berjumlah 36 santri dan tingkat Wafa 5 berjumlah 47 santri.61
58 Lihat lampiran transkrip dokumen:03/D/12-5/2016
59 Lihat lampiran transkrip dokumen:04/D/12-5/2016
60 Lihat lampiran transkrip dokumen:05/D/12-5/2016
61 Lihat lampiran transkrip dokumen:06/D/12-5/2016
7. Sarana dan Prasarana
Dalam penyelenggaraan proses pendidikan yaitu pembelajaran sarana prasarana memiliki peran penting dalam membantu berlangsungnya proses pembelajaran. Sarana dan prasarana tersebut mulai dari bangunan fisik atau gedung yang meliputi ruang kelas, kantor, bangku sekolah, alat-alat pendukung pembelajaran, sumber-sumber belajar dan sebagainya. Adapun sarana prasarana yang dimiliki lembaga Griya Al-Qur'an Al-Furqon ini antara lain, 1 ruang Direktur Utama, 1 ruang administrasi, 20 ruang kelas, 1 unit komputer, 322 unit meja lipat, 25 alat peraga dan 1 ruang koperasi.62
B. Deskripsi Data
a) Latar Belakang Pelaksanaan Pembelajaran Al-Qur'an melalui Metode Wafa di Griya Al-Qur’an Al-Furqon Ponorogo
Pada dasarnya setiap lembaga atau instansi pendidikan formal maupun non formal mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin para peserta didiknya mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran, baik itu dari segi sikap maupun pengetahuan. Dengan tujuan yang demikian pihak sekolah ataupun lembaga sudah semestinya memberikan pengajaran yang terbaik agar tujuan tersebut bisa terwujud sehingga fungsi sekolah atau lembaga sebagai wahana untuk belajar dan menuntut ilmu bisa berjalan lancar.
Sama halnya dengan Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo, lembaga pendidikan Al-Qur'an ini selalu berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran supaya bisa mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Di antaranya mencetak lulusan generasi Qur'ani yang berkualitas. Untuk itu para dewan ustadz-ustadzah
62 Lihat lampiran transkrip dokumen:07/D/12-5/2016
dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, kreatifitas berinovasi dalam pembelajaran, dan mampu memilih dan menerapkan strategi serta metode yang tepat yang akan membantu proses berjalannya pembelajaran.
Metode merupakan komponen terpenting yang sangat berpengaruh pada keberhasilan proses belajar mengajar. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu dan tenaga dengan percuma. Sebuah metode dikatakan tepat apabila bisa mengantarkan pada tujuan yang telah ditetapkan. Yakni di mana peserta didik dengan mudah bisa menerima dan memahami materi yang telah diberikan.63
Dalam hal ini Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo untuk mencapai tujuan pembelajarannya akan selalu memilih metode pembelajaran Al-Qur'an yang tepat. Karena dalam pembelajaran Al-Qur'an diperlukan metode yang tepat yang menyenangkan dan mampu mengatasi kebosanan peserta didik serta peserta didik merasa semangat belajar Qur'an sehingga mereka bisa membaca Al-Qur'an dengan baik, fasih sesuai dengan hukum bacaannya. Untuk mencapai tujuan tersebut Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo memilih metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur'an bagi siswa-siswinya.
Latar belakang implementasi pembelajaran Al-Qur'an melalui metode Wafa di Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo ini adalah pembelajaran Al-Qur'an yang ada terkesan kaku dan monoton sehingga anak-anak merasa tidak nyaman dalam mengikuti pelajaran. Selain itu banyaknya pembelajaran Al-Qur'an dilaksanakan dengan sistem yang tidak terprogram dengan baik. Sedangkan pembelajaran Al-Qur'an yang menyenangkan dengan hasil yang memuaskan
63 Al Rasyidin & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Historis Teoritis Praktik (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 65
harus segera terwujud. Kebutuhan lembaga pendidikan Al-Qur'an dari PAUD (Pendidikan Al-Qur'an Usia Dini sampai PAUS (Pendidikan Al-Qur'an Usia Senja). Dan metode Wafa adalah metode yang tepat dalam pembelajaran Al-Qur'an dengan lagu hijaz yang enak didengar dan dihayati maknanya.
Sebagaimana hasil wawancara dengan ustadz Imam Musta'in yang menyatakan bahwa:
Selama ini pembelajaran Al-Qur'an terkesan kaku dan monoton.
Sehingga anak merasa tidak nyaman. Selain itu juga pembelajaran Al-Qur'an dilaksanakan dengan sistem yang tidak terprogram dengan baik, sedangkan pembelajaran Al-Qur'an yang menyenangkan dengan hasil yang memuaskan harus segera terwujud. selain itu juga kebutuhan lembaga pendidikan Al-Qur'an sejak dari PAUD (Pendidikan Al-Qur'an Usia Dini sampai PAUS (Pendidikan Al-Qur'an Usia Senja). Dan metode Wafa adalah metode yang tepat dalam pembelajaran Al-Qur'an dengan lagu hijaz yang enak didengar dan dihayati maknanya.64
Metode Wafa adalah metode belajar Al-Qur‟an holistic dan komprehensif dengan otak kanan yang berada di bawah naungan Yayasan Syafa‟atul Qur‟an Indonesia (YAQIN). Komprehensivitas pembelajaran ini terlihat dari produk 5T Wafa yang meliputi tilawah, tahfidz, tarjamah, tafhim dan tafsir. Metode Wafa juga sering disebut dengan metode otak kanan yang mana dalam pembelajarannya menggunakan aspek multisensorik atau perpaduan dari berbagai indera, seperti visual, auditorial dan kinestetik. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Ustadz Imam Musta'in yang menyatakan bahwa:
Metode Wafa adalah metode belajar Al-Qur'an dengan otak kanan yang menyenangkan di mana pembelajarannya melibatkan modalitas belajar anak yakni visual, auditorial dan kinestetik (VAK) . Di dalamnya ada cerita dan kisah-kisah yang membangun karakter baik pada anak.
Selain membaca dengan tartil yang menggunakan nada hijaz juga dilatih untuk menulis Arab. Sehingga mereka tidak hanya bisa membaca akan tetapi juga menulis Arab.65
64 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :01/W/12-5/2106
65 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :01/W/12-5/2016
Hal tersebut juga diungkapkan oleh salah satu peserta di Griya Al-Qur'an Almer dalam wawancara sebagai berikut:
Metode Wafa adalah metode belajar Al-Qur'an yang menyenangkan. Saya merasa senang belajar di Griya Al-Qur'an ini. Yang dulunya saya belajar Al-Qur'an itu membosankan, saya merasa dengan metode Wafa ini metode belajar yang menyenangkan. Dengan ini saya bisa semangat dalam belajar Al-Qur'an, pembelajarannya dikemas secara asyik dan tentunya membaca Al-Qur'an dengan lagu hijaz yang enak didengar dan dihayati maknanya.66
Pada umumnya semua metode belajar Al-Qur'an mempunyai tujuan yang sama. Di antaranya yaitu memberantas kebutaan huruf Arab dan mempermudah para pembacanya untuk mempelajari apa yang ada dalam Al-Qur'an. Begitupun juga dengan metode Wafa ini. Griya Al-Qur'an Al-Furqon ini memilih metode Wafa sebagai metode pembelajaran Al-Qur'an karena bertujuan untuk membuat para peserta didik mencintai dan dekat dengan Al-Qur'an serta menciptakan pembelajaran yang menyenangkan melekat di hati para santri dengan manajemen Wafa ini diharapkan pembelajaran terkontrol dengan baik sehingga hasil yang diharapkan maksimal. Di antaranya yaitu akan tercipta generasi-generasi Qur'ani untuk membangun peradaban bangsa Indonesia ke depannya semakin baik.
Sebagaimana hasil wawancara dengan ustadz Imam Musta'in yang menyatakan bahwa:
Kami bertujuan untuk mencetak generasi Qur'ani untuk membangun peradaban Indonesia. Dengan metode Wafa ini, kami berharap pembelajaran Al-Qur'an lebih menyenangkan dan melekat di hati para santri. Dengan menggunakan manajemen Wafa ini, kami berharap pembelajaran terkontrol dengan baik sehingga hasil yang diharapkan bisa maksimal.67
b) Implementasi Pembelajaran Qur'an melalui Metode Wafa di Griya Al-Qur’an Al-Furqon Ponorogo
66 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor:07/W/8-5/2016
67 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :01/W/12-5/2016
Sesuai amanat Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang dikembangkan adalah standar proses yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 41 tahun 2007. Standar proses meliputi perencanaan atau persiapan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal (apersepsi), kegiatan inti, dan kegiatan akhir serta evaluasi pembelajaran.
Adapun langkah langkah pembelajarannya Al-Qur'an melalui metode Wafa di Griya Al-Qur'an Al-Furqon sebagai berikut:
1) Persiapan Pembelajaran.
Dalam tahap ini sebelum masuk ke inti pembelajaran guru sebelumnya menyiapkan pokok materi yang diajarakan. Dalam tahap ini disebut dengan perancangan pembelajaran smart teaching. Yaitu di mana seluruh materi smart teaching akan bermuara kepada bagaimana penerapannya di dalam kelas, terutama ketika seorang guru sedang menjalankan rencana pembelajaran yang sudah dipersiapkannya.68
2) Proses Pembelajaran.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an melalui metode Wafa di Griya Al-Qur'an ini, menggunakan langkah-langkah yang sudah ditetapkan dalam buku panduan Wafa yaitu buku pintar guru Wafa. Di antaranya dalam proses pembelajaran metode Wafa ini dikemas dengan strategi pembelajaran quantum teaching (TANDUR) yaitu Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan. Hal ini seperti hasil wawancara dengan ustadz Shalehudin Al-Khalili yang menyatakan bahwa:
68 Lihat lampiran transkrip dokumen nomor:08/D/22-7/2016
Pelaksanaan metode Wafa TANDUR yaitu Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan. Yang menekankan pada stategi pembelajaran quantum teaching.69
Adapun langkah-langkah pembelajarannya sebagai sebagai berikut:
a) Ustadz atau ustadzah masuk kelas memberi salam kepada peserta didik b) Ustadz atau ustadzah menyiapkan atau memberi aba-aba kepada peserta
didik untuk duduk rapi persiapan berdoa.
c) Membaca doa Al-Fatihah dan doa sebelum belajar d) Memberi game atau cerita anak sholeh
e) Sambung ayat ( yaitu hafalan surat-surat secara berkesinambungan) f) Pemahaman konsep materi
g) Baca simak
h) Do'a akhir pelajaran i) Salam
Hal tersebut juga diketahui dari hasil observasi yang dilakukan ketika pembelajaran Al-Qur'an metode Wafa berlangsung sebagai berikut:
Ketika sudah tiba jam masuk yaitu pukul 16.00 WIB. ustadz-ustadzah segera masuk kelas. Pertama kali ustadz-ustadz-ustadzah mengucapkan salam dan peserta didik memjawab dengan kompak. Setelah itu ustadz-ustadzah menanyakan kabar kepada peserta didik dan peserta didik menjawab dengan '' Al-hamdulillah, subhanallah, Allahu akbar". Setelah itu ustadz-ustadzah menyiapkan peserta didik duduk rapi dan berdoa membaca surat al-Fatihah dan do'a sebelum belajar. Setelah itu ustadz-ustadzah memberi sedikit permainan tepuk-tepuk atau cerita islami anak soleh untuk membangkitkan semangat siswa. Sebelum pelajaran dimulai ustadz-ustadzah mengajak untuk hafalan ayat-ayat al-Qur'an secara bergantian per ayat (sambung ayat). Kemudian hafalan bersama-sama.
Setelah itu pemahaman konsep materi. Yaitu menjelaskan materi yang akan dipelajari sesuai dengan tajwidnya. Setelah itu baca simak penilaian harian atau penilaian kenaikan buku satu persatu peserta didik. Bagi peserta didik yang belum mendapat giliran maju diberi tugas menulis Arab. Setelah selesai berdoa dan salam.70
69 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :02/W/10-5/2016
70 Lihat lampiran transkrip observasi nomor:01/O/16-5/2016
3) Evaluasi
Evaluasi pembelajaran Al-Qur'an melalui metode Wafa di Griya Al-Qur'an Al-Furqon Ponorogo dilaksanakan untuk melihat seberapa jauh peserta didik sudah memahami dan menerima materi yang disampaikan dalam proses pembelajaran. Melalui evaluasi dapat diketahui pencapaian standar kebeerhasilan yang telah ditentukan dari tiap kegiatan yang berjalan.
Penilaian ini merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan kepuutusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Evaluasi pembelajaran Al-Qur'an melalui metode Wafa di Griya Al-Qur'an Al-Furqon ini melalui berbagai cara penilaian. Seperti penilaian harian, bulanan dan penilaian akhir. Adapun aspek yang dinilai di antaranya adalah tilawah, menghafal dan menulis. Sebagaimana hasil wawancara dengan ustadz Shalehudin Al-Khalili sebagai berikut:
Cara mengukur tingkat keberhasilannya yaitu dengan cara penilaian harian, kenaikan buku dan penilaian akhir. Adapun aspek yang dinilai adalah tilawah, menghafal dan menulis. Dan semua itu ketentuannya sudah ada di buku pedoman Wafa71
Lebih jelasnya prosedur ini sesuai dengan yang tercantum dalam buku pintar guru Wafa sebagai berikut
1. Penilaian harian
Ketentuan kenaikan halaman
1) Penilaian kenaikan halaman dilakukan oleh guru masing-masing kelas.
2) Hasil penilaian ditulis di kartu prestasi siswa 2. Penilaian kenaikan buku
71 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :02/W/10-5/2106
Ketentuan kenaikan buku sebagai berikut:
1) Siswa telah menyelesaikan buku tilawah Wafa 2) Guru kelas mengajukan ke koordinator guru Al-Qur'an.
3. Penilaian akhir
Siswa yang lulus akan mendapatkan sertifikat kelulusan dengan ketentuan nilai memuaskan dan sangat memuaskan. Adapun aspek yang dinilai adalah sebagai berikut:
1. Tilawah dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Kelancaran (tilawah tanpa pikir)
b) Fashohah (makhorijul huruf dan ketepatan vokal a-i-u) c) Tajwid (panjang, tekan, dengung, pantul, tanda baca) d) Waqof dan ibtida'
2. Menghafal
a) Kelancaran (tilawah tanpa pikir)
b) Fashohah (makhorijul huruf dan ketepatan vokal a-i-u) c) Tajwid (panjang, tekan, dengung, pantul, tanda baca) d) Waqof dan ibtida'
3. Menulis
a) Ketepatan kaidah penulisan b) Kerapian72
Dari hasil penilaian tersebut maka akan diketahui seberapa jauh siswa dapat menyerap dan menerima materi yang diberikan. Adapun hasil dari penerapan metode Wafa di Griya Al-Qur'an selama ini adalah bagus, peserta
72 Lihat lampiran transkrip Dokumen nomor :09/D/22-7/2106
didik mengalami perkembangan yang positif. Hal ini disebabkan karena para peserta didik lebih cepat faham menerima terhadap materi yang telah disampaikan. Dan lebih cepat menguasai apa yang diajarkan dengan tartil dan nada yang indah. Selain itu para peserta didik juga terlatih dalam menulis Arab. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan ustadzah Dilla dalam wawancara sebagai berikut:
Sejauh ini menurut saya hasilnya sangat bagus. Karena dengan metode Wafa ini anak-anak lebih cepat faham menerima terhadap materi yang telah disampaikan. Lebih cepat menguasai apa yang diajarkan dengan tartil dan nada yang indah. Selain itu mereka menjadi terlatih dalam menulis arab.73
Sama halnya yang diutarakan ustadz Ahmad Sabar dalam wawancara sebagai berikut:
Berbicara mengenai hasil alhamdulilah hasilnya tidak mengecewakan. Anak-anak selama ini bisa dibilang mengalami kemajuan dalam membaca Al-Qur'an. Hal ini karena mereka merasa nyaman dan suka terhadap pembelajaran yang diberikan.
Salah satunya belajar Al-Qur'an dengan lagu hijaz yang indah dan enak dihayati. Hal ini yang membuat mereka semakin bersemangat dalam belajar untuk bisa.74
Selain itu berdasarkan wawancara dengan peserta didik Foleta Alda juga menyatakan dalam wawancara sebagai berikut:
Saya sebenarnya masuk sini sudah bisa membaca Al-Qur'an. Akan tetapi sekedar bisa tidak menguasai. Tidak faham yang namanya hukum bacaan tajwid. Dan setelah masuk di Griya Al-Qur'an ini al-hamdulillah perlahan bisa membaca Al-Qur'an dengan baik sesuai hukum bacaannya.75
Dalam kegiatan pembelajaran perlu adanya sarana prasarana yang memadai untuk menunjang berlangsungnya proses pembelajaran. Adapun yang digunakan sebagai sumber dan alat pendukung dalam proses pembelajaran
73 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :05/W/8-5/2016
74 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :03/W/12-5/2016
75 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :08/W/8-5/2016
Qur'an metode Wafa di antaranya adalah buku Wafa jilid 1 sampai 5, buku tajwid dan buku ghorib. Selain itu alat pendukung berupa alat peraga, gambar dan meja lipat.76
Dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an di Griya Al-Qur'an dalam satu minggu ada 5 kali pertemuan yaitu pada hari Senin sampai Jumat. Khusus untuk hari Jum'at materinya adalah setoran hafalan juz 30. Dalam setiap pertemuan alokasi waktunya 60 menit. Yaitu jam pertama masuk pada pukul 15.00 sampai dengan 16.00 WIB. sedangkan jam ke dua masuk pada pukul 16.00 sampai dengan 17.00 WIB. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan ustadz Ahmad Sabar sebagai berikut:
Di Griya Al-Qur'an ini kita masuknya dalam satu minggu ada 5 kali pertemuan. Yaitu pada hari Senin sampai Jum'at. Dalam setiap pertemuan alokasi waktunya itu 60 menit. Namun khusus hari Jum'at materinya berbeda dengan hari-hari yang lain. Pada hari Jum'at materinya adalah setoran hafalan juz 30.77
Setiap kegiatan yang dilakukan perlu adanya program penataan sebaik mungkin yang terencana demi kelancaran sebuah kegiatan tersebut. Tidak lain dalam proses pembelajaran Al-Qur'an. Terutama dalam penataan atau pengelompokan kelas. Di Griya Al-Qur'an pengelompokkan kelas disesuaikan umur dan kemampuan.78 Karena setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang basik membaca Al-Qur'annya sudah bagus ada juga yang masih perlu dibimbing lagi. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan ustadzah Mukarromah sebagai berikut:
Bahwasanya kemampuan peserta didik yang masuk di sini awalnya ada yang memang sudah bagus ada juga yang masih jauh sekali kemampuannya dan semuanya masih perlu dibimbing. Karena pada
76 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor:04/W/2-5/2016
77 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor :03/W/12-5/2016
78 Lihat lampiran transkrip wawancara nomor : 03/W/12-5/2016
dasarnya yang dikatakan sudah bisa itu bukan sekedar bisa membaca saja akan tetapi juga sesuai dengan bacaan tajwid dan makhrojnya. 79
Hal tersebut diperjelas dengan pernyataan ustadz Ahmad Sabar dalam wawancara sebagai berikut:
Kemampuan anak awal masuk di sini berbeda-beda. Ada yang memang awalnya sudah bagus dan sebaliknya. Karena pada dasarnya pasti yang namanya kemampuan orang itu berbeda-beda. Namun di sini semua itu masih perlu diperbaiki dan dibimbing. Maka dari itu untuk pengelompokan kelas, prosedur penentuannya sesuai umur dan kemampuan juga. Masing-masing kelas berisi 15 anak. Selain itu sekarang ini kita sistemnya sama dengan sekolah formal. Untuk penerimaan santri barunya setiap 3 bulan sekali.80
Untuk mempermudah proses pembelajaran maka diperlukan faktor penunjang yang memadai. Seperti ruang kelas, ventilasi udara yang cukup, sumber-sumber belajar dan media yang tersedia. Hal tersebut bertujuan agar proses pembelajaran bisa berjalan lancar dan optimal. Begitu juga proses pembelajaran di Griya Al-Qur'an ini. Adapun faktor pendukung di antaranya adalah media pembelajaran yang tersedia yaitu buku Wafa 1-5 dan perangkat
Untuk mempermudah proses pembelajaran maka diperlukan faktor penunjang yang memadai. Seperti ruang kelas, ventilasi udara yang cukup, sumber-sumber belajar dan media yang tersedia. Hal tersebut bertujuan agar proses pembelajaran bisa berjalan lancar dan optimal. Begitu juga proses pembelajaran di Griya Al-Qur'an ini. Adapun faktor pendukung di antaranya adalah media pembelajaran yang tersedia yaitu buku Wafa 1-5 dan perangkat