METODE PENELITIAN
4.1 Paparan Data Hasil Penelitian .1 Gambaran Perusahaan Sampel
4.1.2 Deskripsi Data
4.1.2.1 Analisis Rasio Profitabilitas
Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan bersih setelah dipotong pajak. Nilai NPM berada diantara 0 (nol) dan 1 (satu) atau nilai NPM semakin besar mendekati satu, maka semakin efisien biaya yang dikeluarkan, yang berarti semakin besar tingkat kembalian keuntungan bersih investor.
NPM 2010 2011 2012 2013 2014 AALI 22.8% 22.3% 21.8% 15.0% 16.1% ASII 13% 13% 12% 12% 11% INTP 29% 26% 28% 28% 26% ITMG 12% 23% 18% 9% 10% KLBF 12.6% 13.6% 12.7% 12% 11.9% LPKR 17% 17% 17% 18% 22% LSIP 28.8% 36.3% 26.5% 18.6% 19.4% PTBA 25.4% 29.2% 25% 16.5% 15.4% SMGR 25.3% 24% 31.5% 28.8% 26.5% TLKM 33.4% 30.8% 33.3% 33.6% 32.8% UNTR 10.4% 10.7% 10.3% 9.5% 10.1% UNVR 23.1% 23.7% 23.7% 17.4% 16.6%
Sumber: Data diolah dengan Microsoft Excel, 2016
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai tertinggi Net Profit Margin (NPM) adalah 36,3% pada tahun 2011 pada perusahaan PP London Sumatera Plantation Tbk. (LSIP). Sedangkan nilai terendah adalah 9% pada tahun 2013 pada perusahaan Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG). Perusahaan PP London Sumatera Plantation Tbk. (LSIP) memiliki nilai NPM yang baik pada tahun 2011,
Tabel4.2
dengan nilai tertinggi diantara sebelas perusahaan lainnya. Ini berarti nilai NPM LSIP semakin besar mendekati satu, maka semakin efisien biaya yang dikeluarkan, yang berarti semakin besar tingkat kembalian keuntungan bersih investor. Sebaliknya, pada tahun 2013 perusahaan Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) memiliki nilai NPM hanya sebesar 9%, nilai ini masih kurang mendekati angka 1 dan dinyatakan kurang efisien biaya yang dikeluarkan dan menimbulkan semakin kecilnya tingkat kembalian keuntungan bersih atau return investor.
Return On Asset (ROA)
Return On Asset (ROA) adalah rasio yang menunjukkan efektifitas
pemakaian total sumber daya oleh perusahaan. Return on Asset yang positif menunjukkan bahwa total aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan. Sebaliknya, Return on Asset yang negatif menunjukkan total aktiva yang digunakan perusahaan mendapatkan kerugian. Hal ini menunjukkan kesimpulan dari modal yang diinvestasikan secara keseluruhan belum mampu untuk menghasilkan laba.
ROA 2010 2011 2012 2013 2014 AALI 22.9% 23.6% 20.3% 12.7% 14.1% ASII 15% 14% 12% 10% 9% INTP 22.5% 21.5% 23.3% 21.1% 18.6% ITMG 19% 35% 29% 15% 15% KLBF 18.3% 17.9% 18.4% 17% 16.6% LPKR 3% 4% 4% 4% 7% LSIP 19.9% 27.5% 15.6% 9.9% 11% PTBA 23% 26.8% 22.8% 15.9% 13.6% SMGR 23.3% 20% 18.2% 17.4% 16.2% TLKM 11.5% 10.6% 11.5% 11.1% 10.4% UNTR 14.3% 15.5% 11.9% 9.0% 9.1% UNVR 52.2% 53.1% 54.2% 44.5% 42.5%
Sumber: Data diolah dengan Microsoft Excel, 2016
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Return On Asset (ROA) tertinggi adalah 54,2% pada tahun 2012 di perusahaan Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), sedangkan nilai ROA terendah adalah 3% pada tahun 2010 di perusahaan Lippo Karawaci Tbk. (LPKR). Dari gambar tersebut dapat terbaca bahwa perusahaan Unilever Indonesia Tbk. adalah perusahaan yang mempunyai nilai ROA tertinggi setiap tahunnya. Ini berarti pemakain total sumber daya atau total aset di Unilever Indonesia Tbk. adalah efektif dan mampu memberikan laba bagi perusahaan. Sebaliknya, perusahaan Lippo Karawaci Tbk. mempunyai nilai ROA terendah setiap tahunnya.Ini berarti perusahaan masih kurang efektif dalam memanfaatkan sumber daya atau asetnya dan memberikan laba yang kurang bagi perusahaannya.
Tabel4.3
Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) adalah rasio yang menunjukkan keberhasilan
perusahaan dalam menghasilkan laba bagi para pemegang saham. ROE dianggap sebagai representasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan. ROE digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari pengelolaan modal yang diinvestasikan oleh pemilik perusahaan. Angka ROE yang semakin tinggi memberikan indikasi bagi para pemegang saham bahwa tingkat pengembalian investasi makin tinggi (Lestari & Sugiharto: 2007).
ROE 2010 2011 2012 2013 2014 AALI 28.0% 29.6% 26.9% 18.5% 22.1% ASII 29% 28% 25% 21% 18% INTP 27.1% 25% 27.1% 24.6% 21.6% ITMG 28% 51% 43% 23% 22% KLBF 22.3% 22.8% 23.5% 22.6% 21% LPKR 7% 8% 10% 10% 16% LSIP 24.7% 32.7% 18.4% 11.9% 13.3% PTBA 31.2% 37.8% 34.1% 24.5% 23.3% SMGR 30.3% 27.1% 27.9% 25.7% 23.2% TLKM 26% 23.1% 24.9% 23.5% 21.6% UNTR 25.8% 27.0% 19.3% 14.2% 14.5% UNVR 112.3% 151.3% 163.7% 125.8% 124.8%
Sumber: Data diolah dengan Microsoft Excel, 2016
Dari tabel diatas diketahui bahwa nilai Return On Equity (ROE) tertinggi adalah 163,7% pada tahun 2012 di perusahaan Unilever Indonesia Tbk. (UNVR). Sedangkan nilai ROE terendah adalah 7% pada tahun 2010 di perusahaan Lippo Karawaci Tbk. (LPKR). Bukan hanya mempunyai nilai ROA yang tinggi saja, Unilever Indonesia Tbk. juga mempunyai nilai ROE yang tinggi. Hal ini dapat
Tabel4.4
disimpulkan bahwa Unilever Indonesia Tbk. berhasil menghasilkan laba yang besar bagi para pemegang saham.Karena ROE dianggap sebagai representasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan. Angka ROE yang semakin tinggi memberikan indikasi bagi para pemegang saham bahwa tingkat pengembalian investasi makin tinggi. Angka ROE dari Unilever Indonesia Tbk. dapat dikatakan baik karena bernilai positif dan lebih tinggi dari nilai ROE perusahaan lain. Sebaliknya, Lippo Karawaci pada tahun 2010 memiliki nilai ROE yang sama positif tetapi angka ROE Lippo Karawaci sangat kecil dibanding dengan perusahaan lain. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut dinilai kurang dalam memberikan keuntungan atau tingkat pengembalian pada pemegang saham.
4.1.2.2 Metode Economic Value Added (EVA)
Economic Value Added (EVA) sebagai pengukur kinerja dapat
mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai tambah. Jika EVA > 0 mengindikasikan bahwa tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan melebihi biaya modal atasinvestasi yang dilakukan pemegang saham. Hal ini berarti perusahaan telah menciptakan nilai (create value) bagi pemegang saham. Apabila EVA = 0 mengindikasikan bahwa perusahaan secara ekonomis berada pada titik impas, karena seluruh laba operasi yang dihasilkan habis digunakan untuk memenuhi kewajiban kepada penyedia dana, baik kreditur maupun pemegang saham. Namun jika EVA < 0 menandakan bahwa tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan tidak mencukupi biaya modal atas
investasi pemegang saham. Dengan demikian perusahaan bukannya menciptakan nilai tambah bagi perusahaan namun malah menghancurkan nilai pemegang saham (destroy value) karena laba yang tersedia tidak dapat memenuhi harapan-harapan penyedia dana khususnya pemegang saham. Untuk menghitung nilai Economic Value Added (EVA) ada beberapa langkah. Dan data-data yang
diperlukan dalam menghitung EVA diantaranya adalah sebagai berikut:
Kd (%) 2010 2011 2012 2013 2014 AALI 0.07338 0.05718 0.03547 0.01346 0.00618 ASII 0.00717 0.00472 0.00377 0.00426 0.00449 INTP 0.02112 0.03137 0.03330 0.03710 0.04241 ITMG 0.06422 0.03065 0.00951 0.02784 0.05034 KLBF 0.13218 0.07884 0.08169 0.12571 0.18010 LPKR 0.00153 0.00150 0.00085 0.00078 0.00081 LSIP 0.11773 0.09802 0.06890 0.05797 0.08489 PTBA 0.10341 0.08697 0.01788 0.02745 0.02104 SMGR 0.09113 0.04141 0.02289 0.02071 0.02862 TLKM 0.02362 0.04125 0.04301 0.04002 0.04370 UNTR 0.01170 0.01157 0.00728 0.00746 0.01222 UNVR 0.15677 0.13166 0.11623 0.08916 0.07713
Sumber: Data diolah dengan Microsoft Excel, 2016
Untuk menghitung biaya modal hutang (Kd), terlebih dahulu harus mencari nilai biaya bunga, jumlah hutang jangka panjang, suku bunga, tingkat pajak, dan faktor koreksi (1-T). Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Kd tertinggi yaitu perusahaan Kalbe Farma Tbk.(KLBF) pada tahun 2014 sebesar 0.18010.Sedangkan nilai Kd terendah yaitu perusahaan Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) pada tahun 2013 sebesar 0.00078.
Tabel4.5
Sumber: Data diolah dengan Microsoft Excel, 2016
Untuk menghitung biaya modal saham (Ke), terlebih dahulu harus mencari nilai tingkat bunga bebas risiko (Rf), ukuran risiko saham perusahaan (β), dan tingkat bunga investasi pasar (Rm). Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Ke tertinggi yaitu perusahaan Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) pada tahun 2011 sebesar 0.06843. Sedangkan nilai Ke terendah yaitu perusahaan Astra Internasional Tbk. (ASII) pada tahun 2012 sebesar -0.00259.
Ke (%) 2010 2011 2012 2013 2014 AALI 0.06377 0.02032 0.03620 0.10282 0.05902 ASII 0.06102 0.02950 -0.00259 0.01420 0.03753 INTP 0.06341 0.03072 0.05534 0.03054 0.07375 ITMG 0.06339 -0.00522 0.02839 0.04388 -0.00454 KLBF 0.06356 -0.00457 -0.00392 -0.00314 0.02687 LPKR 0.06141 0.00880 0.04731 -0.00373 0.04557 LSIP 0.06306 -0.00599 0.01395 0.06139 0.03864 PTBA 0.06216 0.00382 0.01330 0.04563 0.06733 SMGR 0.06313 0.02924 0.04135 0.00874 0.05987 TLKM 0.06337 0.06843 0.06313 -0.03727 0.10343 UNTR 0.06304 0.01902 0.00432 0.03880 0.03174 UNVR 0.06398 0.05477 0.04793 0.04224 0.05390 Tabel4.6
STRUKTUR MODAL (%) 2010 2011 2012 2013 2014 AALI 0.74276 0.86679 0.63434 0.44883 0.23177 ASII 0.10615 0.06459 0.05022 0.05231 0.04579 INTP 0.67214 0.68644 0.66731 0.67420 0.68674 ITMG 0.63229 0.57657 0.55233 0.54375 0.58916 KLBF 0.81683 0.79864 0.75488 0.74423 0.69615 LPKR 0.30070 0.24692 0.17900 0.14973 0.13066 LSIP 0.66955 0.61835 0.58712 0.55079 0.49783 PTBA 0.50401 0.44624 0.31956 0.38190 0.30977 SMGR 0.39573 0.21487 0.14183 0.13844 0.12805 TLKM 0.18058 0.20221 0.19902 0.18577 0.17985 UNTR 0.18699 0.17192 0.11083 0.10417 0.13309 UNVR 0.23422 0.18929 0.13698 0.10168 0.08541
Sumber: Data diolah dengan Microsoft Excel, 2016
Untuk menghitung sturktur modal, terlebih dahulu harus mencari nilai hutang jangka panjang, modal saham, jumlah modal, dan komposisi hutang jangka panjang. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai struktur modal tertinggi yaitu perusahaan Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) pada tahun 2011 sebesar 0.86679. Sedangkan nilai struktur modal terendah yaitu perusahaan Astra Internasional Tbk. (ASII) pada tahun 2014 sebesar 0.04579.
Tabel4.7 Nilai Struktur Modal
WACC (%) 2010 2011 2012 2013 2014