DISTRICT, BANGKALAN DISTRICT) Abstract
II. DESKRIPSI DESA PANGPONG
Pangpong adalah satu di antara tiga belas desa yang ada di wilayah administrasi Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan. Dari arah Surabaya, Desa Pangpong terletak di sebelah kiri jalan lingkar luar Bangkalan. Sebagian besar penggunaan tanah di Desa Pangpong untuk tanah tegalan (75,2%). Penggunaan tanah tegalan yang dominan karena keterbatasan kondisi air. Sumber pengairan hanya mengandalkan hujan sehingga hanya dapat diusahakan sawah tadah hujan. Hal ini berakibat tidak adanya perubahan penggunaan tanah yang luas di Desa Pangpong pasca pembangunan Jembatan Suramadu. Tanaman yang ditanam oleh masyarakat Desa Pangpong relatif tetap meliputi padi, jagung, kacang tanah, dan ketela pohon.
Pembangunan Jembatan Suramadu membawa perubahan lebih banyak pada ketersediaan sarana dan prasarana. Sebelum dibangun Jembatan Suramadu, lokasi antara desa satu dengan lainnya berbatasan langsung sehingga hubungan antara desa satu dengan lainnya relatif mudah. Setelah adanya pembangunan Jembatan Suramadu, maka ada beberapa desa yang dilalui jalan lingkar luar Bangkalan, sehingga ada beberapa wilayah terpisah. Oleh karena itu, agar akses wilayah yang terpisahkan tersebut tidak terganggu, maka pemerintah memberi fasilitas berupa jembatan sebanyak dua buah, sehingga memberi keamanan warga masyarakat yang ingin bepergian ke wilayah lain.
Pembangunan jembatan penghubung antardesa di wilayah Kecamatan Labang membawa dampak terhadap kondisi sarana dan prasarana di daerah yang terkena atau berdekatan dengan jalan lingkar luar Bangkalan. Jalan-jalan desa banyak yang diaspal maupun diperkeras. Berdasarkan BPS Kabupaten Bangkalan tahun 2003, panjang jalan di Desa Pangpong yang diaspal 1,0 km, dan berdasarkan BPS Kabupaten Bangkalan tahun 2010, panjang jalan di Desa Pangpong yang diaspal pada tahun 2010 meningkat menjadi 4 km.
Kepemilikan kendaraan bermotor masyarakat Desa Pangpong selama kurun waktu 7 tahun mengalami perubahan. Kepemilikan truk masyarakat Desa Pangpong 2 buah pada tahun 2003, meningkat menjadi 6 buah pada tahun 2010. Peningkatan kepemilikan sepeda motor cukup tinggi dibandingkan dengan kendaraan lainnya, dua kali lipat. Beberapa informan menuturkan, kondisi ini tidak lepas dari dampak pembangunan Jembatan Suramadu. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, transportasi yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura hanya melalui laut. Namun, semenjak dibukanya Jembatan Suramadu, pemanfaatan penyeberangan laut melalui Pelabuhan Kamal semakin berkurang. Jarak tempuh antardua pulau tersebut semakin dekat, mudah dan murah. Dengan memanfaatkan kendaraan sepeda motor, Bangkalan - Surabaya cukup ditempuh selama 5-10 menit dengan biaya sekali jalan Rp. 3.000,00. Kondisi ini menjadi alasan atau latar belakang semakin banyaknya kepemilikan sepeda motor pada masyarakat Madura, di antaranya masyarakat Desa Pangpong.
Tabel 1. Jumlah Kepemilikan Kendaraan Bermotor Penduduk Desa Pangpong pada Tahun 2003 dan 2010
Sumber: BPS Kab. Bangkalan, 2003 dan 2010
Dengan dibangunnya Jembatan Suramadu, membawa perkembangan pada wilayah Pulau Madura, terutama wilayah yang berdekatan dengan lokasi Jembatan Suramadu, wilayah di sekitarnya semakin ramai. Toko-toko kelontong maupun warung-warung mulai bermunculan, jasa kursus ketrampilan juga mulai tumbuh, misalnya kursus bahasa Inggris, komputer, musik. Masyarakat Desa Pangpong mendapatkan kemudahan dalam memperoleh jasa ketrampilan seperti disebut di atas. Dulu, masyarakat Desa Pangpong yang ingin memperoleh ketrampilan tertentu, harus pergi ke Kota Bangkalan yang jaraknya relatif jauh, atau ke Surabaya. Sejak dibukanya Jembatan Suramadu, mereka lebih mudah mendapatkan fasilitas pendidikan informal tersebut.
Desa Pangpong relatif mempunyai sarana prasarana sosial ekonomi yang lebih memadai apabila dibandingkan dengan desa lain yang ada di Kecamatan Labang. Sarana dan prasarana bidang pendidikan yang paling banyak terdapat di Desa Pangpong. Berdasarkan Kecamatan Labang Dalam Angka tahun 2011, jumlah sekolah tingkat TK, Desa Pangpong memiliki paling banyak. Prasarana pendidikan tingkat SD terdapat di semua desa. Fasilitas pendidikan untuk tingkatan SMP hanya terdapat di 5 desa, yaitu di Desa Pangpong, Sukolilo Barat, Ba'Engas, Jukong, dan Sendang Daya. Demikian pula untuk fasilitas pendidikan tingkat SMU di Kecamatan Labang terdapat 7 sekolah, yaitu di Desa Pangpong, Sukolilo Barat, Ba'Engas, dan Sendang Daya.
Dari sebaran fasilitas pendidikan di kecamatan Labang, Desa Sukolilo Barat perkembangan jumlah prasarana pendidikan paling pesat diantara desa-desa lain yang ada di Kecamatan Labang. Perkembangan fasilitas pendidikan di Desa Pangpong memang tidak sepesat di Desa Sukolilo Barat. Namun, karena letak Desa Pangpong berbatasan langsung dengan Desa Sukolilo barat, kondisi ini memberi peluang bagi penduduk di Desa Pangpong untuk mendapatkan fasilitas pendidikan. Seperti yang dituturkan oleh Kepala Desa Pangpong:
“...Fasilitas pendidikan di Desa Pangpong, awalnya memang relatif memadai, sebab di desa ini ada SMP negeri. Padahal di Kecamatan Labang hanya ada dua SMP, yaitu 1 di Desa Pangpong (SMP negeri) dan satu lagi di Desa Sukolilo Barat, tetapi SMP swasta. Namun setelah adanya Jembatan Suramadu, di Desa Sukolilo Barat memang jumlah sekolahnya tambah banyak. Ya... mungkin lokasinya yang paling dekat dengan jembatan, dan karena adanya pembebasan tanah saat akan dibangunnya jembatan. Nah, bagi kita-kita penduduk Desa Pangpong justru diuntungkan dengan keadaan itu. Sebab, anak-anak dapat memperoleh pelayanan pendidikan lebih luas dan lebih tinggi. Banyak sekolah bermunculan, baik di tingkat Taman kanak-Kanak, SD, SMP, maupun SMU. Selain itu, perkembangan yang cukup pesat adalah sekolah Islam...”
Memang benar apa yang disampaikan oleh Kepala Desa Pangpong. Masyarakat di desa ini tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, terutama untuk tingkat SMP dan SMU. Belum lagi sekolah-sekolah Islam yang tumbuh di Kecamatan Labang. Apabila dibandingkan antara tahun 2003 dan 2010, perkembangan kuantitas fasilitas pendidikan sekolah swasta yang bersifat umum (bukan keagamaan) lebih sedikit dibandingkan dengan
Jumlah kepemilikan kendaraan Tahun 2003 Tahun 2010
Truk 2 6
Sedan - 2
Colt/pick up 41 48
sekolah yang bersifat/berbasis keagamaan (MD,MI, MTs,MA).
Berdasarkan kedua tabel di atas nampak bahwa selama kurun waktu 7 tahun, jumlah sekolah Madrasah Diniyah mengalami peningkatan kuantitas di semua desa di Kecamatan Labang. Hal ini cukup relevan apabila dikaitkan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Madura yang sangat kental dengan nuansa Islami. Pendidikan agama menempati posisi lebih tinggi daripada pendidikan umum. Pernyataan ini didasarkan pada pengamatan di lapangan bahwa setelah anak-anak pulang sekolah, pada sore harinya mereka mengikuti sekolah pendidikan Islam (istilah penduduk setempat, sekolah Madrasah) hingga magrib. Setelah magrib, anak-anak belajar mengaji hingga jam 8 malam. Mayoritas penduduk di Desa Pangpong menerapkan pendidikan anak seperti itu. Seperti penuturan informan:
“...anak-anak di sini mempunyai aktivitas pendidikan, yaitu pagi hari sekolah, kemudian nanti pulang sekolah, istirahat sebentar, mereka ikut madrasah. Nanti, malamnya mereka ikut ngaji. Hampir semua anak-anak di sini melakukannya. Seperti anak saya, saya tidak punya pembantu, sementara saya dan suami sama-sama bekerja jadi PNS. Tempat saya bekerja lumayan jauh. Jadi bila anak-anak pulang sekolah, mereka biasanya pergi ke tempat neneknya untuk makan siang di sana. Nanti anak-anak itu sudah bisa pergi sendiri ke madrasah bersama-sama temannya. Nanti malamnya mereka ngaji lagi di masjid sampai jam 8 malam. Sampai rumah sudah capek, biasanya terus ngantuk. Jadi waktu untuk belajar mereka ya semaunya. Kalau belum ngantuk, pulang ngaji ya belajar, tapi kalo sudah ngantuk, ya terus tidur...”
Fasilitas pendidikan untuk tingkat pendidikan tinggi di Madura adalah Universitas Trunojoyo yang berada di Kabupaten Bangkalan. Beberapa penduduk Desa Pangpong yang mampu secara finansial dan intelektual meneruskan di perguuran tinggi, ada yang menyekolahkan anaknya di Bangkalan atau di Surabaya. Dengan adanya Jembatan Suramadu, akses mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi semakin terbuka. Mereka yang sekolah di Surabaya tidak perlu mencari tempat tinggal di Surabaya, sebab mereka bisa nglaju.
Fasilitas kesehatan yang terdapat di Desa Pangpong adalah Polindes (Poliklinik Desa). Selain berobat ke ke Polindes, di Desa Pangpong juga ada bidan dan dukun bersalin. Pada umumnya masyarakat di Desa Pangpong pergi ke bidan apabila sakit. Jadi, bidan di Desa Pangpong selain membantu melahirkan/persalinan, juga membantu melayani penduduk yang sedang sakit. Selain pergi ke bidan, ada juga penduduk yang menggunakan dukun bersalin untuk membantu persalinan. Akan tetapi pengguna jasa dukun bersalin tidak sebanyak ke bidan. Seperti penuturan seorang informan:
“.... orang di sini biasanya kalo sedang sakit pergi ke bidan. Selain orang yang hamil atau yang melahirkan, orang-orang sini kalo sakit cukup pergi ke bidan. Bisanya dengan periksa ke bidan dan diberi obat pada cocok. Kecuali kalo penyakitnya dah parah, bisanya harus ke rumah sakit. “
Fasilitas kesehatan juga relatif mudah diperoleh penduduk Desa Pangpong. Apabila menginginkan periksa kesehatan ke dokter, maka mereka cukup ke desa sebelahnya yaitu di Desa Sukolilo Barat. Penduduk Desa Pangpong yang harus mendapatkan perawatan kesehatan lebih intensif, ada yang pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Bangkalan atau ke Surabaya. Seperti penuturan informan:
“...orang-orang di sini kalau sakit ringan cukup pergi ke Puskesmas atau bidan terdekat. Akan tetapi kalo sakitnya berat, maka akan pergi ke rumah sakit. Di Bangkalan ini ada RSUD. Tetapi menurut pengalaman keluarga saya, pelayanan di RSUD kurang bagus, sehingga ketika isteri saya sakit, saya memilih untuk ke rumah sakit di Surabaya. Alhamdulillah, setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit Surabaya, isteri saya dapat tertolong jiwanya. Meskipun biaya perawatannya lebih mahal, tetapi saya puas. Saya juga bersyukur dengan adanya Jembatan Suramadu, karena dapat bolak-balik Surabaya Bangkalan dengan mudah dan murah. Andaikata belum ada jembatan Suramadu, saya tidak bisa membayangkan betapa repotnya saya...”
Sebelum Jembatan Suramadu dibangun, warga masyarakat yang membutuhkan jasa kesehatan untuk rawat inap, selain di Bangkalan dapat juga di Surabaya. Menurut penuturan beberapa informan, fasilitas maupun pelayanan kesehatan di rumah sakit milik pemerintah yang berada di Bangkalan terkadang kurang atau bahkan tidak memuaskan. Untuk penyakit tertentu, peralatan di rumah sakit Bangkalan sangat terbatas, sehingga apabila ada pasien yang membutuhkan penanganan khusus, biasanya dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Ketika belum ada Jembatan Suramadu, bila ada warga yang harus dirawat di rumah sakit Surabaya yaitu di SHC (Surabaya Hospital Centre), maka mereka harus melalui Pelabuhan Kamal. Namun, setelah adanya Jembatan Suramadu, tidak sedikit warga Madura yang pergi berobat ke rumah sakit di Surabaya, yang terdekat adalah rumah sakit Dokter Sutomo.
Wilayah Kabupaten Bangkalan secara fisik mengalami perkembangan cukup pesat pasca pembangunan Jembatan Suramadu. Apabila dilihat dari bangunan perkantoran, nampak bahwa terjadi perubahan kenampakan “wajah” kantor-kantor, baik swasta maupun pemerintah. Prasarana jalan juga banyak yang diaspal, baik di jalan kabupaten, jalan kecamatan maupun jalan desa. Prasarana perekonomian juga mengalami perkembangan. Hypermart sudah masuk ke Kabupaten Bangkalan, meskipun masih agak sepi karena baru saja selesai dibangun. Tetapi toko-toko waralaba belum nampak masuk di kabupaten ini.
Kabupaten Bangkalan termasuk wilayah yang sangat minim hiburan. Obyek wisata belum ada yang tergarap secara baik, sehingga tidak ada daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini kecuali untuk ke sentra batik Tanjung Bumi. Untuk mengakomodasi kebutuhan warga masyarakat Kabupaten Bangkalan, maka dalam mengembangkan wilayahnya, selain aspek perekonomian, juga aspek hiburan. Adapun pembangunan sarana prasarana hiburan bagi masyarakat Kabupaten Bangkalan yaitu dengan dibangunnya sport centre atau gedung olahraga. Warga masyarakat bisa beramain maupun berolahraga di sport centre tersebut. Meskipun belum selesai pembangunannya, namun sport centre tersebut setiap sore sudah dimanfaatkan oleh warga.
Masyarakat Madura pada umumnya adalah bekerja di bidang pertanian dan peternakan, demikian pula masyarakat Madura di Desa Pangpong. Meskipun kondisi tanahnya tandus, namun sebagian besar penduduknya sangat tergantung pada kegiatan pertanian. Selain bekerja di bidang pertanian, ada pula masyarakat Desa Pangpong yang bekerja di bidang perikanan, perdagangan, dan jasa. Masyarakat Desa Pangpong ada yang bekerja di Surabaya menjadi tukang parkir dan ada pula yang bekerja sebagai sopir angkutan, pedagang, buruh bangunan.
Pada masyarakat Madura, berlaku sistem uxorilocal dimana setelah menikah, pasangan suami isteri tinggal di rumah isterinya. Dengan demikian, seolah-olah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua Madura untuk menyediakan tempat tinggal bagi anak perempuannya (Muthmainnah, 1998:23). Sistem uxorilocal hingga kini masih nampak dalam kehidupan orang Madura, termasuk juga masyarakat Desa Pangpong.
Citra tentang kepatuhan, ketaatan atau kefanatikan orang Madura pada agama Islam yang dianut sudah lama terbentuk. Secara harfiah orang Madura sangat patuh menjalankan syariat agama. Hasrat mereka untuk menunaikan kewajiban naik haji besar sekali, sebagaimana keinginan untuk belajar agama di pesantren. Itulah sebabnya mengapa seorang kiai haji sebagai guru dan panutan keagamaan mendapat tempat yang terhormat di mata masyarakat lingkungannya, sehingga secara keseluruhan ajaran Islam sangat pekat mewarnai budaya dan peradaban Madura ((Rifai, 2007:45). Demikian juga pada masyarakat Desa Pangpong yang merupakan orang Madura, mereka juga taat dalam menjalankan syariat Islam. Kepatuhan, ketaatan dan kefanatikan pada agama Islam nampak dari kegiatan keagamaan yang cukup kental mewarnai kehidupan masyarakat Desa Pangpong. Ada kegiatan atau sekolah khusus
belajar agama yang disebut madrasah. Kegiatan belajar ini dilakukan setelah pulang sekolah, yaitu sore hari. Malam harinya, mereka masih harus mengaji di masjid atau langgar sampai sekitar jam 8 malam. Selain untuk anak-anak, ada juga kegiatan pengajian bagi ibu-ibu atau perempuan, dan ada juga pengajian bapak-bapak. Pengajian itu bergilir dari rumah ke rumah. Seperti penuturan seroang informan:
“... saya memang bekerja di Surabaya. Setiap hari saya pulang balik Bangkalan Surabaya karena keluarga saya di Bangkalan, pekerjaan saya di Surabaya. Terkadang saya pulang kerja sudah malam hari. Ketika ada pengajian bapak-bapak, saya tetap berusaha datang. Saya lebih memilih libur bekerja daripada tidak mengikuti pengajian. Ya kalau bekerja bisa setiap hari, tetapi kalo pengajian kan tidak setiap hari, jadi kalau pas waktunya pengajian, saya memilih pamit pulang duluan atau izin tidak masuk kerja.”
Ketaatan, kepatuhan mereka terhadap kegiatan keagamaan nampak pada hampir semua orang Madura, termasuk masyarakat di Desa Pangpong. Walaupun banyak penduduk yang melakukan kegiatan keluar desa secara ulang alik, namun mereka masih tetap berusaha ikut berpartisipasi pada berbagai kegiatan di desanya, termasuk hari-hari besar keagamaan. Hari-hari besar Islam seperti Maulud Nabi Muhammad SAW, Isra' Mi'raj, Nuzulul Quran dan terutama Idul Fitri dan Idul Adha selalu diperingati dan dirayakan secara besar-besaran. Khataman Al Quran dan khitanan terkadang diselamati dengan mengarak anak yang dikhitan berkeliling kampung. Namun, meskipun merupakan pemeluk Islam yang teguh, banyak juga orang Madura yang tanpa sadar berbuat bid'ah (perilaku keagamaan yang tidak disunahkan Nabi Muhammad SAW) seperti pergi ke makam-makam yang dianggap suci dan keramat untuk menyampaikan permohonan agar mendapat berkah dan restu sebelum melakukan sesuatu kegiatan. Sebagian lagi masih percaya bahwa kuburan, mata air, pohon besar yang dianggap angker pasti dihuni makhluk halus (Rifai, 2007:48).
Mengenai bahasa, mayarakat Desa Pangpong menggunakan dua bahasa. Bahasa untuk percakapan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Madura. Mereka menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan orang lain (bukan orang Madura) dan ketika belajar di sekolah. Sekalipun masyarakat Desa Pangpong menggunakan bahasa Madura untuk percakapan sehari-hari, namun untuk anak-anak dan remajanya, kurang begitu memahami bahasa yang halus dan kasar. Bahkan sesama teman, mereka menggunakan bahasa Indonesia, atau campuran bahasa Indonesia dan bahasa Madura kasar atau bhâsa mabâ. Sebagaimana penuturan seorang informan:
“... mengenai bahasa, anak-anak muda sekarang ini tidak tau bahasa yang benar. Mereka biasanya menggunakan bahasa sehari-hari dengan bahasa Madura kasar. Sama orang tua terkadang bahasa Indonesia atau pakai bahasa Madura kasar. Ya... pengaruh di televisi itu yang menjadikan anak-anak seperti itu. Saya sebenarnya ya sedih, tetapi mau gimana lagi. Ya karena zamannya sudah berubah...”
Betapapun telah banyak yang berubah dalam sistem sosial Madura, satu hal yang patut dicatat adalah masyarakat Madura hingga kini tetap tunduk pada kiai. Peran kiai sangat besar dalam masyarakat Madura. Kiai tetap menjadi pemimpin. Ketundukan masyarakat Madura terhadap kiai tergambar dari struktur sosial masyarakat Madura. Buppà-Babù-Guruh-Ratoh
adalah unsur-unsur dalam bangunan sosial masyarakat Madura. Jika Buppà (bapak) dan Babù
(ibu) adalah elemen penting dalam bangunan keluarga Madura, maka Guruh (tokoh panutan) dan Ratoh (pemerintah) adalah unsur penentu dalam dinamika kehidupan sosial, budaya dan politik di Madura (Muthmainnah, 1998:26). Demikian pula pada masyarakat Desa Pangpong, peran kiai masih mewarnai dalam sistem sosial kemasyarakatan.
III. MOBILITAS PENDUDUK DESA PANGPONG