• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Peran Pemerintah Desa

Dalam melestarikan kearifan lokal suatu daerah, pemerintah memiliki peran penting untuk hal tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa keputusan dari pemerintah daerah sangat mempengaruhi pencapaian tujuan daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintaan dan pembangunan. Kearifan dikenal sebagai identitas, kepribadian kultural masyarakat, yang berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, dan aturan khusus yang diterima oleh masyarakat.

Seperti yang dibahas pada bab sebelumnya bahwa peran berkaitan dengan fungsi dari segala kelompok atau perorangan untuk mencapai tujuan tertentu. Peran akan menjadi sesuaitu hal yang penting bagi pemegang kekuasaan atau seorang pemimpin dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa.

Mengenai bagaimana peran pemerintah desa Sorowako dalam melestarikan kearifan lokal, maka dibahas dalam indikator, sebagai berikut:

a. Penyelenggaraan Pemerintahan

Sebagai pihak yang mengakomodir atau pihak yang memiliki kewenangan besar dalam menjaga kearifan lokal kepala Desa Sorowako beranggapan bahwa sangat diperlukan menajga kearifan lokal suatu desa.Bagi kepala desa kearifan lokal adalah kekuatan

terbesar bagi daerah dan Negara.Selain itu masyarakat juga beranggapan bahwa kearifan lokal sangat perlu untuk dilestarikan dikarenakan untuk menciptakan kondisi daerah yang aman dan tertib.Bagi pihak pemerintah Desa, saat ini lebih coba memperkenalkan kearifan lokal secara tidak langsung. Berikut adalah pernyataan dari Kepala Desa Sorowako:

“Kalo untuk saat ini pemerintah desa itu belum sejauh itu melakukan mencoba memasukkan kearifan lokal itu dalam penyelenggaraan pemerintahan tetapi pemerintah desa itu selalu mencoba memperkenalkan kearifan lokal khususnya yang dimiliki danau matano ini dengan memajang beberapa gambar di dalam ruang kantor kami”. (Jihadin Peruge, 2 Maret 2020) Hal tersebut juga didukung dengan penyataan masyarakat yang beranggapan bahwa kearifan lokal sudah mulai berjalan dengan baik.

“Sejauh ini, semenjak saya di sorowako sudah cukup dikatakan lumayanlah pengembangan kearifan lokal” (Jabir, 1 Maret 2020) Namun untuk menjaga kearifan lokal di Desa Sorowako saat ini akan membuat peraturan-peraturan baru. Berikut penyampaian dari kepala desa:

“Saat ini kami mencoba menggodok peraturan desa mengenai penyelamatan endemik danau terutama hewan-hewan semacam ikan-ikan endemik dalam bentuk perdes, dan mudah-mudahan dalam tahun ini sudah bisa selesai karena kami sudah berdiskusi sama pemkab” (Jihadin Peruge, 2 Maret 2020)

Selain itu, masih ada juga masyarakat yang juga beranggapan bahwa tidak ada kepastian peraturan yang mengatur kearifan lokal.

“Kalau setau saya secara regulasi atau secara aturan mungkin perdes nya itu belum ada yang mengatur tentang itu” (Anton, 28 Februari 2020)

Selain itu Kepala Desa juga mengatakan tidak adanya peraturan yang pasti ini juga didukung, nyatanya juga tidak ada lembaga yang mengontrol khusus untuk kearifan lokal di Desa SorowakoPenyelenggaraan pemerintahan desa salah satunya berkaitan sejauhmana pelaksanaan hak dan kewajiban desa.

Melihat peraturan Menteri dalam negeri No. 84 Tahun 2015, salah satu tugas dari kepala desa atau pemerintah desa adalah penyelenggara pemerintah desa, seperti menetapkan aturan desa, membina terkait pertanahan, membina ketertiban, ketentraman, melindungi masyarakat, pengadministrasian penduduk, penataan serta mengelolah wilayahnya. Memiliki salah satu tugas penting adalah menyelenggarakan pemerintahan desa seperti penetapan peraturan desa, memperlihatkan dua tahun selama masa kepemimpinan kepala desa, nyatanya tugas utama belum bisa terpenuhi.Berdasarkan dengan hasil data yang ditemukan bahwa sampai saat ini kepala desa tidak memiliki acuan aturan dalam kearifan lokal, memperlihatkan bahwa tidak adanya upaya yang dilakukan pemimpin desa dalam menyelenggarakan kepemimpinannya.Melaksanakan suatu pembangunan apalagi berkaitan dengan kearifan lokal daerah sanagat membutuhkan hukum yang mengatur jalannya.Hal ini untuk menghindari masalah-masalah yang tidak diharapkan, baik itu dengan pihak swasta bahkan dengan pihak masyarakat daerah sendiri.

Seperi hasil wawancara dengan informan diatas khususnya dari masyarakat menyatakan bahwa memang mereka belum mengatahui bahwa menganggap kearifan lokal desa belum terlindungi dengan sebuah aturan yang mengikat. Kepala Desa tidak hanya terus-menurus selalu mengontrol jalannya kearifan lokal, tetapi juga perlu untuk menjaga hingga melestarikannya. Peraturan kepala desa akan menjadi penentu atau aturan yang nantinya akan mengatur kehidupan bersama hingga harus diataati oleh masyarakat.

Kearifan lokal sudah menjadi pandangan, ciri khas daerah dan bahkan menjadi strategi kehidupan yang berwujud aktifitas yang dilakukan masyarakat lokal dalam memenuhi kehidupan mereka (Alfian, 2013). Maka membuat aturan sudah menjadi hal penting untuk melestarikan kearifan lokal. Namun hal yang menjadi pertanyaan, sampai kapan kemudian pemerintah Desa memerintah tanpa adanya aturan yang mengikat untuk kearifan lokal Sorowako.

Dengan dipahamnya masyarakat terkait aturan tersebut, maka kebijakan atau aturan yang dibuat pemerintah desa akan melekat menjadi suatu hukum dan akhirnya akan ditaati oleh masyarakat setempat.

b. Pelaksanaan Pembangunan

Melaksanakan pembangunan juga menjadi peran dari pemerintah desa, tidak terkecuali dengan kearifan lokal.Pembaharuan ataupun pembangunan lokasi mengenai kearifan lokal Desa Sorowako

adalah salah satu upaya yang dilakukan pemerintah setempat.Seperti pada lokasi wisata alam dimana pemerintah desa berupaya semaksimal mungkin untuk memperbaiki lokasi tersebut. Hal tersebut seperti yang disampaikan kepada desa sebagai berikut:

“Dari sisi pembangunan, kita mencoba untuk memperkenalkan endemik danau di sorowako ini untuk memperkenalkan ciri khas dalam bentuk patung dan juga kita mencoba untuk melestarikan salah satu keariffan lokal sorowako itu terutama pesisir danau dengan melakukan penanaman bakau endemik danau di danau matano ini” (Jihadin Peruge, 2 Maret 2020)

Tidak hanya dari pihak pemerintah Desa tetapi masyrakat beranggapan yang sama juga. Berikut adalah pernyataan dari salah satu masyarakat Desa Sorowako

“Saat ini di Desa kami saya melihat ada pembangunan kearifan lokal dilokasi wisata alam, seperti pembuatan patung ikan butini, dan pembuatan nama taman menggunakan bahasa sorowako” (Jabir, 1 Maret 2020)

Tidak hanya Jabir, namun pernyataan yang sama juga muncul dari masyarakat lain sebagai berikut:

“Yah salah satu icon sebenarnya itu tidak secara langsung dengan patung tulisan taman iniaku yang menggunakan bahasa sorowako itumi kayaknya pembangunan menjaga kearifan lokal.

Dan pantai molino menggunakan bahasa asli sorowako” (Anton, 28 Februari 2020)

Pelaksanaan pembangunan daerah juga dipengaruhi sejauh mana partisipasi masyarakat setempat. Masyarakat diharapkan bisa aktif terlibat pada pelaksana pembangunan di desanya. Oleh sebab itu disinalah peran pemerintahaan setempat untuk mewujudkan partisipasi masyarakat melalui pembinaan.

Bagi masyarakat setempat, pembinaan pemerintah desa dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dengan cara memberikan pengawasan dengan turun langsung mengawal kearifan lokal. Berikut adalah pernyatan masyarakat desa.

“saya merasa pemerintah desa tetap memberikan pengawasan atau mengawal tentang terjaganya kearifan lokal di desa Sorowako ini dengan turun langsung” (Abdillah, 29 Februari 2020)

Pembangunan kearifan lokal sudah mulai aktif sejak tahu 2018.Selain itu dalam pelaksanana pembangunan kearifan lokal pemerintah setempat juga menggunakan tenaga dari stakeholder lainnya seperti dari pihak swasta.

“Selama ini kita masih bekerjasama langsung oleh pemerintah desa dan stakeholder perusahaan-perusahaan tambang yang beraktivitas di sorowako” (Jihadin Peruge, 2 Maret 2020)

Hubungan kerjasama tersebut perusahaan yang berada di Sorowako namun terdapat hal yang menjadi masalah bagi pemerintah dengan yaitu lahan.Hal tersebut dikarenakan dalam upaya pembangunan kearifan lokal lahan masih banyak dikuasai dengan perusahaan.Selain itu, jika mengacu pada pernyataan beberapa masyarakat diatas, bahwa sebenarnya tidak ada tindakan langsung partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan.Salah satu masyakat yang peneliti wawancarai juga menyatakan bahwa tidak tindakan pasti pemerintah setempat untuk memberikan peran masyarakat ikut serta dalam pembangunan.

“Kalau dalam pelaksana pembangunan saya lihat-lihat ini desa yang napake itu kerjasama dari pihak swasta, jadi kontraktor-kontraktor yang dipakai, tidak melibatkan masyarakat desa secara langsung dalam pembangunan” (Syukur, 3 Maret 2020) Berdasarkan hasil indikator tersebut memperlihatkan bahwa tidak terdapatnya peran masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan kearifan lokal secara pasti. Seperti yang dimaksud indikator tersebut bahwa semua masyarakat dapat dilihat partisipasinya melalui ikut serta dalam musyawarah, partisipasi materil dan non materil. Namun hal ini tidak terlihat di masyarakat dan hanya berada pada pihak stakeholder.

Selain itu peran pemerintah dalam menggerakkan partisipasi masyarakat terlaksana melalui aktifitas penggerak melalui perencana, motivator dan pelopor pembangunan kearifan lokal daerah. Adanya peran stakeholderpihak perusahaan swasta dalam pembangunan kearifan lokal, tidak cukup untuk memperlihatkan bahwa pemerintah memberikan ruang kepada masyarakat dalam memberikan kewenangan pandangan-pandangan mengenai pembangunan yang akan dilaksanakan. Stakeholkderperusahaan swasta tidak bisa dipandang sebagai masyarakat desa sorowako. Hal ini dikarenakan maksud dan tujuan dari pemerintah stakeholderperusahaan swasta dan masyarakat berbeda satu sama lain.

Pembangunan dalam suatu daerah sudah menjadi tanggungjawab bagi pemerintah daerah, tidak terkecuali melibatkan masyarakat desa. Kurangnya keterlibatan masyarakat desa seperti

hasil dari wawancara dengan informan diatas, memperlihatkan bahwa hak dari desa dalam hak ini masyarakat desa kurang terpenuhi. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 2015 sudah jelas bahwa desa memiliki hak untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal-usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa. Desa yang menjadi pihak yang lebih mengetahui dan merasakankeadaan kearifan lokal, harus merasakan keterhambatan atau peran yang kurang karena keberadaan pihak-pihak swasta yang dianggap menguntungkan untuk pembangunan kearifan lokal.

Salah satu hal yang menarik pada hasil wawancara diatas bahwa beberapa salah satu masyarakat menyatakan dengan pembangunan patung dengan tulisan bahawa daerah Sorowako, memperlihatkan adanya pelertarian kearifan lokal bagi masyarakat.Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat desa tersebut, sebenarnya menganggap pelestarian kearifan lokal bisa dimulai dari hal-hal kecil tanpa melibatkan peran besar pihak swasta.Seperti yang diketahui bahwa salah satu hak desa adalah adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat desa.Selain itu masyarakat desa sendiri berhak dalam ikut serta menyampaikan aspirasi seperti penyelenggaraan pembangunan daerah, tidak terkecuali untuk pelestarian desa seperti kearifan lokal.

Keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan kearifan lokal, bukanlah hal yang perlu untuk disalahkan. Hal ini dikarenakan, setiap

pembangunan pasti membutuhkan bantuan ataupun bentuk kerja sama dengan pihak lain. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat komponen utama yang lebih mengetahui keadaan desa dan sangat perlu dilibatkan perannya.

c. Pembinaan Kemasyarakatan

Menggerakkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kearifan lokal juga membutuhkan sebuah tindakan pembinaan. Pemerintah Desa Sorowako ternyata tidak dapat secatra konsisten memberikan perhatian lebih kepada masyarakat untuk bersama-samna menjaga kearifan lokal melalui pembinaan.

Kepala Desa menyatakan bahwa pembinaan selalu mereka usahakan untuk bisa diberikan kepada masyarakat setempat, melalu cara edukasi-edukasi. Berikut adalah pernyataan kepala Desa:

“Tiap tahun kami melakukan kegiatan pembinaan dengan memberikan edukasi-edukasi masyarakat kami untuk bisa menjaga kearifan local.” (Jihadin Peruge, 2 Maret 2020)

Pembinaan tersebut dilakukan sejak tahun 2017 dan dimulai dari sekola-sekolah. Pernyataan adanya pembinanaan juga dinyatakan oleh dari pihak masyarakat.

“pembinaan masyarakat untuk pelestarian kearifan lokal di Sorowako dilakukan dengan himbauan-himbauan dari pemerintah Daerah, seperti menjaga kebersihan kearifan lokal”

(Abdillah, 29 Februari 2020)

Namun beberapa masyarakat juga masih ada yang belum mengetaui pasti kapan biasnaya pemerintah desa turun melakukan pembinaan.

“Untuk turun melakukan pembinaan saya juga tidak tau menau pembinaannya pemerintah desa ini kapan dia lakukan” (Bayu, 5 Maret 2020)

Pembinaan masyarakat untuk menjaga kearifan lokal tidak hanya berfokus pada kearifan lokal alam tetapai juga seperti kesenian.

Dalam kearifan lokal seni, pemerintah daerah menfokuskan pada upaya penyanggaran dan sejenisnya. Hal ini dilakukan dengan adanya kerjasama antar sekolah dan dibukanya lembaga-lembaga sanggar.

“Dalam kesenian, kami berfokus untuk melakukan di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga untuk khusus seni kita arahkan ke sanggar” (Jihadin Peruge, 2 Maret 2020)

Walaupun terdapat pembinaan edukasi yang dikatakan pemerintah desa dan juga adanya sanggar-sanggar, nyatanya edukasi tersebut tidak berjalan dengan konsisten. Hal ini dikarenakan edukasi yang dikatakan tidak dilengkapi dengan bentuk program pasti yang menggambarkannya. Selain itu ternyata sanggar yang dikatakan ada oleh pemeritnah desa nyatanya tidak berfungsi lagi. Berikut tanggapan dari masyarakat:

“saya lihat lihat memang ada sanggar seni, tetapi itu sanggar sudah tidak aktif mi, dirasa juga ketidak aktifannya karena sudah tidak adaevent-event seni juga untuk melestarikan ini seni budaya sorowako” (Syukur, 3 Maret 2020)

Menjalankan tugas untuk memberikan pebinaan kepada masyarakat, pemerintah desa memiliki kewenangan untuk pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat, partisipasi masyarakat, sosial budaya masyarakat, keagamaan, dan ketenagakerjaan (Pemendagri No. 84 Tahun 2015). Berbagai bentuk untuk

menggerakkan ataupun melakukan pembinaan kepada masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai bentuk program seperti gotong royong dan sejenisnya. Di Desa Sorowako kemudian nyatanya tidak dilakukan oleh Pemerintah Desa. Hal ini dikarenakan bahwa tidak adanya bentuk program yang pasti, lembaga yang harusnya ada juga tidak dibuat, dan sanggar-sanggar yang diharapkan bisa berjalan dengan konsisten, tidak terlihat seperti tersebut dan juga tidak memenuhi apa yang diinginkan oleh aturan Pemendagri No 84 tahun 2015 yang dijelaskan sebelumnya.

Seperti yang dimaksudkan oleh indikator tersebut bahwa partisipasi masyarakat ditujukan untuk menciptakan ketertiban dan keamanan daerah. Maka suda saatnya pemerintah desa harus menyadari tugasnya untuk memberikan kewenangan kepada masyarakat menjaga kearifan lokal melalui pembinaan yang konsisten.

d. Pemberdayaan Masyarakat

Membentuk kelembagaan untuk melestarikan kearifan lokal juga perlu didukung dengan memberdayakan masyarakat. Dalam artian bagaimana masyarkat betul-betul diberikan peran yang baik ingga memberikan dampak baik bagi lingkungan kearifan lokal.

Seperti yang sudah dijelaskan pada indikator-indikator sebelumnya bahwa pemerintah desa belum memperlihatkan kekonsistenan dalam menjaga kearifan lokal. Hal ini juga yang terlihat melalui hasil indikator pemberdayaan masyarakat.

Pada hasil wawancara peneliti mendapatkan informasi bahwa nyatanya pemerintah desa memang ada tindakan untuk untuk memberdayakan masayarakat. Namun hal ini diperuntunkan pada kondisi-kondisi terntentu saja seperti pembukaan pariwisata.

“kita mengajak masyarakat untuk melestarikan kearifan lokal Sorowako seperti turut andil dalam untuk membuka destinasi pariwisata baru disalah satu dusun kami yakni Pantai Molino.

Disana masayrakat kami berdayakan dengan diberikan pekerjaan untuk mengangkas perumputan dan menghias pantai”

(Jihadin Peruge, 2 Maret 2020)

Sebagai pihak yang dimaksud, masyarakat juga menyatakan bahwa memang pemberdayaan yang didapatkan oleh mereka sangatlah minim.

“Kalau masalah pemberdayaan masyarakat memang ada (perhatikan hanya itu saja masyarakat yang diberdayakan, maksud saya hanya pada kelompok tertentu padahal banyak masyarakat di desa ini bisa diberdayakan” (Bayu, 5 Maret 2020) Pernyataan informan tersebut juga didukung dengan pernyataan masyarakat yang lain.

“Ada pemberdayaan kayak pembuatan pantai baru kemarin pemuda dipakai. Tapi disatu sisi pemuda yang diberdayakan saya perhatikan hanya kelompok tertentu. Pada saat itu juga pemerintah desa bekerjasama dengan organisasi luar sorowako, itu seingat saya.” (Abdillah, 29 Februari 2020)

Pemberdayaan masyarakat adalah salah tugas yang perlu dilakukan pemerintah desa.Pemberdayaan yang dimaksud seperti tugas sosialiasi dan motivasi kepada masyarakat dari berbagai bidang dan dilakukan pula dengan konsisten.Namun dengan hasil indikator tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah desa hanya

memberdayakan masyarakat pada kondisi-kondisi tertentu saja, dalam artian tidak konsisten.Selain itu masyarakat yang diberdayakan juga masih mengacu pada kelompok-kelompok tertentu saja.

Indikator ini memaksudkan bahwa pemberdayaan adalah proses yang berjalan dan bukan hal yang instan atau secara tiba-tiba.

Pemberdayaan perlu dilakukan secara continue atau tidak mengacu kapan akan dibuatkan pembuakaan pariwisata atau event-event saja.

Sebagai proses pemberdayaan harus mengedepankan untuk membuat masyarkat menjadi sadar terelebih dahulu. Penyadaran yang dimaksud adalah sejauh mana diberikannya masukan bahwasanya masyarakat berhak ikut andil memnjaga kearifan lokal.

Dalam pemberdayaan, pemerintah seharusnya membuka peluang besar agar masyarakatnya aktif pada agenda pelestarian. Hal ini dikarenakan dengan partisipasi masyarakat, maka dapat membantu penanaganan masalah yang dihadapi masayarakat desa.

D. Kebijakan atau Program Desa Dalam Melestarikan Kearifan Lokal

Dokumen terkait