BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir diatas, berikut adalah deskripsi dari fokus penelitian tersebut, diantaranya:
1. Kesatuan Tindakan, yaitu penyesuaian tugas dengan anggota antara Dinas Sosial, PMD dengan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar tercipta keserasian dalam pelaksanaan tugas.
2. Komunikasi, yaitu penyampaian informasi atau saling bertukar ide dan gagasan dengan anggota, antara Dinas Sosial, PMD dengan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi
3. Pembagian Kerja, yaitu penempatan bagian kerja sesuai dengan bidang keahlian dari masing-masing anggota, antara Dinas Sosial, PMD dengan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi
4. Disiplin, yaitu patuh terhadap setiap aturan yang ada agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar antara antara Dinas Sosial, PMD dengan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
5. Faktor pendukung dan penghambat dalam koordinasi yaitu faktor yang mempengaruhi selama proses koordinasi yang dilakukan antara Dinas Sosial dengan Bidang Tenaga Kerja
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan. Penelitian akan dilakukan di Kabupaten Takalar dengan dinas-dinas yang terkait. Peneliti memilih lokasi ini karena belum adanya koordinasi yang efektif yang dilakukan dalam penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Takalar.
B. Tipe dan Jenis Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana peneliti turun langsung kelapangan untuk melihat bentuk koordinasi yang akan dilakukan oleh Dinas Sosial, Pembeerdayaan Masyarakat dan Desa dan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam hal penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Takalar. Selain itu peneliti juga akan melihat masyarakat yang berada dalam garis kemiskinan, sehingga dapat dihasilkan data tertulis ataupun lisan dari kejadian yang diamati.
2. Tipe Penelitian
Tipe yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Deskriptif dimana peneliti akan menggambarkan kejadian berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Sosial, Pembeerdayaan Masyarakat dan Desa dan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta dalam lingkup masyarakat miskin (Prof. Dr. Emzir, 2008).
C. Sumber Penelitian
1. Sumber Data Primer
Dalam melakukan penelitian ini, yang nantinya akan menjadi data primer adalah Dinas Sosial dan Bidang Tenaga Kerja serta Masyarakat Miskin.
Narasumber ini nantinya akan mempermudah peneliti dalam menemukan data yang sesuai dengan penelitian ini.
2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini menggunakan artikel ilmiah, buku-buku serta gambar. Sumber data ini akan menjadi pendukung dari pernyataan-pernyataan yang akan dihasilkan dari narasumber pada data primer.
D. Informan Penelitian
Adapun informan pada penelitian ini sesuai dengan teknik purposive dimana peneliti memilih informan yang dianggap paling mengerti dalam penelitian ini.
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini yaitu:
Tabel 3.1
Daftar Informan Penelitian
No. Nama Informan Inisial Jabatan
1. Drs. H. Muhammad
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati hal-hal yang terkait dengan masalah koordinasi dalam penanggulangan kemiskinan di Kab. Takalar.
Observasi ini memungkinkan peneliti untuk melihat dan meninjau secara langsung mengenai fakta yang ada dilapangan serta untuk mendapatkan informasi lebih, yang dapat digunakan dalam peneltiian ini.
2. Wawancara
Peneliti nantinya akan melakukan wawancara terbuka dengan semua narasumber yang terkait dengan penelitian ini, yaitu Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dan Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Masyarakat Miskin dengan cara tanya-jawab.
3. Dokumentasi
Dokumentasi akan membuat data yang didapatkan tidak akan hilang dengan mudah dan data yang diperoleh akan menjadi lebih akurat apabila peneliti menyimpan data dalam bentuk hard copy.
4. Triangulasi
Triangulasi ini di gunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan seluruh informasi yang didapatkan dari seluruh sumber data sampai pada teknik pengumpulan data yang telah dilakukan.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan yaitu analisis data kualitatif dengan mengumpulkan dan menyusun semua data yang telah didapatkan dilapangan agar memudahkan peneliti untuk mendapatkan kesimpulan. Adapun tahapan dalam analisis ini yaitu:
1. Reduksi
Dalam reduksi data, peneliti akan mengumpulkan serta memilah hal-hal penting dari data yang telah diperoleh dilapangan. Hal tersebut digunakan agar mampu memberikan informasi yang jelas dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
2. Penyajian Data
Setelah mereduksi data, peneliti kemudian akan menyajikan data berupa bagan serta uraian singkat atau lainnya agar dapat lebih mengerti tentang apa yang terjadi.
3. Penarikan Kesimpulan
Pada tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari seluruh data yang ada dan diperoleh berdasarkan pada bukti yang telah dikumpulkan selama proses pengambilan data dilapangan.
G. Pengabsahan Data
Dalam pengabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sebagai pengecekan dari seluruh sumber dengan berbagai teknik serta waktu dengan menggunakan hasil observasi, wawancara serta dokumentasi sebagai bahan untuk mendapatkan keabsahan data.
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi ini digunakan oleh peneliti untuk pengujian terhadap data yang telah diperoleh dari beberapa sumber. Setelah mencapai pemahaman dengan berbagai sumber maka data yang diperoleh terhitung valid.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik ini digunakan untuk menguji data dengan cara yang berbeda. Saat data yang didapatkan berbeda, maka peneliti akan kembali berdiskusi dengan sumber data agar mendapatkan data lebih valid.
3. Triangulasi Waktu
Dalam triangulasi ini, peneliti akan melakukan pengecekan data secara berkala jika terdapat ketidaksesuaian selama waktu pengumpulan data (Sugiyono, 2017).
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat Kab. Takalar
Setelah Kab. Takalar terbentuk, Kecamatan Polombangkeng dibagi menjadi 2 yaitu Polombangkeng Selatan dan Polombangkeng Utara. Kecamatan Galesong kemudian juga dibagi menjadi 2 yaitu Galesong Selatan dan Galesong Utara.
Kecamatan Topejawa, Takalar, Laikang serta Sanrobone menjadi kecamatan yang dikenal dengan nama TOTALLASA (Topejawa, Takalar, Laikang, dan Sanrobone) dimana hal ini kemudian diubah menjadi Kecamatan Mappakasunggu dan Mangarabombang. Kecamatan baru kemudian kembali dibentuk yaitu Kecamatan Sanrobone (hasil pemekaran dari kecamatan mappakasunggu) serta Kecamatan Galesong yang merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Galesong Selatan dan Galesong Utara. Sehingga Kab. Takalar memiliki 9 (sembilan) kecamatan yang menaungi 100 desa/kelurahan.
Maka dari itu, Kabupaten Takalar adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki 9 kecamatan yaitu, Galesong, Polombangkeng Selatan, Pattallassang, Sanrobone, Polombangeng Utara, Galesong Selatan, Mangarabombang dan Galesong Utara dan Mappakasunggu.
Kab. Takalar memiliki 566,51 km² dengan penduduk sebanyak ±250.000 jiwa.
Adapun wilayah administratif di Kab. Takalar sebagai berikut:
Tabel 4.1
Daftar Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan di Kab. Takalar
Kecamatan Jumlah Desa/Kelurahan
Sumber data: Takalar dalam Angka 2020 a. Aspek Astronomis dan Geografis
Kabupaten Takalar terletak antara 5º30´ sampai 5º038´ Lintang Selatan dan 199º22´ sampai 199º39´ Bujur Timur yang memiliki luas wilayah 566,51 km².
Untuk sampai di Kabupaten Takalar dengan menggunakan mobil atau motor harus menempuh jarak sekitar 45 km dari Kota Makassar dan melewati Kabupaten Gowa. Batas-batas wilayah Kab. Takalar adalah sebagai berikut:
1. Pada bagian Utara wilayah Kab. Takalar, berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
2. Pada bagian Timur wilayah Kab. Takalar, berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Gowa
3. Pada bagian Selatan wilayah Kab. Takalar berbatasan dengan Laut Flores 4. Pada bagian Barat wilayah Kab. Takalar berbatasan dengan Selat
Makassar
Tabel 4.2
Daftar Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Takalar
Kecamatan
Luas Wilayah (km²)
Luas Wilayah (%)
Mangarabombang 100,50 km² 17,74%
Mappakasunggu 45,27 km² 7,99%
Sanrobone 29,36 km² 5,18%
Polombangkeng Selatan 88,07 km² 15,55%
Pattallassang 25,31 km² 4,47%
Polombangkeng Utara 212,25 km² 37,47%
Galesong Selatan 24,71 km² 4,36%
Galesong 25,93 km² 4,58%
Galesong Utara 15,11 km² 2,67%
Kab. Takalar 566,51 km² 100,01 %
Sumber data: Takalar dalam Angka 2020 b. Aspek Topografi
Kabupaten Takalar terdiri atas pantainya yang beragam, daratan serta perbukitan. Sebelah barat terdapat pantai dan dataran rendah yang punya kemiringan sekitar 0-3 derajat sedangkan tinggi ruang yang beragam sekitar 0-25 m, diikuti dengan batuan dataran yang di dominasi oleh endapan alluvial, rawa, batuan, terumbu hingga batuan lelehan basal. Sebagain wilayah di Kab. Takalar terdiri dari daerah pantai sepanjang 74 km yang berada di kecamatan Mangarabombang, Mappakasungu, Galesong, Galesong Utara dan Galesong Selatan. Kab. Takalar sendiri dilalui oleh oleh 4 sungai besar yaitu sungai jenetallasa, jeneberang, jenemarrung dan sungai pamakkulu. Empat sungai
tersebut kini telah diubah menjadi bendungan untuk irigasi sawah masyarakat dengan luas sekitar 13.183 Ha
c. Aspek Demografis
Keadaan demografi adalah satu dari banyak indikator yang paling penting terkait pada pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi yang sangat mempengaruhi proses dari mobilitas sosial masyarakat. Dalam kondisi ini kependudukan berada pada posisi utama karena seperti yang diketahui pembangunan merupakan salah satu usaha manusia untuk bisa mengubah pola dan tingkat sosialnya agar bisa tetap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
a) Kependudukan
Jumlah penduduk di Kab. Takalar sebanyak 298.688 jiwa yang tersebar diseluruh kecamatan di Kab. Takalar. Kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk paling banyak yaitu Polombangkeng Utara sebanyak 50.762 jiwa, Galesong sebanyak 41.865 jiwa, Galesong Utara sebanyak 40.701 jiwa, Pattallassang sebanyak 40.119 jiwa dan Mangarabombang sebanyak 39.378 jiwa. Adapun jumlah penduduk yang relatif sedikit ada pada kecamatan Polombangkeng Selatan sebanyak 28.871 jiwa, Galesong Selatan sebanyak 26.443 jiwa, Mappakasunggu sebanyak 16.343 jiwa, dan Sanrobone sebanyak 14.206 jiwa.
Tabel 4.3
Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Di Kabupaten Takalar Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Jiwa
Mangarabombang 18.903 20.475 39.378
Mappakasunggu 7.694 8.649 16.343
Sanrobone 6.709 7.497 14.206
Polombangkeng Selatan 13.562 15.309 28.871
Pattallassang 18.944 21.175 40.119
Polombangkeng Utara 24.642 26.120 50.762
Galesong Selatan 12.585 13.858 26.443
Galesong 20.690 21.175 41.865
Galesong Utara 19.945 20.756 40.701
Kab. Takalar 143.674 155.014 298.688 Sumber data: Takalar dalam Angka 2020
Dari tabel diatas, bisa dilihat bahwasanya jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Adapun kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak ada pada kecamatan Polombangkeng Utara sebanyak 50.762 jiwa dan Kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk paling sedikit ada pada Kecamatan Sanrobone yaitu sebanyak 14.206 jiwa.
2. Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Takalar
Dinas Sosial, PMD Kab. Takalar yang berlokasi di JL. Syech Yusuf ini dulunya pernah bergabung dengan Dinas Tenaga Kerja menjadi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kemudian setelah adanya perubahan atas Perda Kabupaten Takalar Nomor 07 Tahun 2016, Dinas Sosial kembali menjadi dinas yang berfokus menjalankan urusan pemerintahan di bidang sosial. Setelah beberapa tahun berjalan, kembali dibentuk Perda Kab. Takalar Nomor 02 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kab. Takalar Nomor 07 Tahun
2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah dengan Dinas Sosial bergabung bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa menjadi Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.
a. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi adalah penggambaran mengenai hubunga kerja yang ada pada suatu organisasi dalam rangka menuju pada tujuan bersama yang kemudian dilakukan dengan menetapkan hubungan antara anggota dalam melaksanakan tugas, hingga memegang peran yang penting dalam pembagian wewenang, fungsi dan tanggung jawab dalam hubungan kerjasama antar anggota.
Struktur organisasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ditetapkan dalam Peraturan Bupati Nomor 14 Tahun 2019 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa diantaranya:
1. Kepala Dinas 2. Sekretaris
b. Sub-bagian Perencanaan c. Sub-bagian Keuangan
d. Sub-bagian Umum dan Kepegawaian
3. Bidang Rehabilitasi dan Perlindungan Jaminan Sosial a. Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia
b. Seksi Rehabilitasi Sosial, Penyandang Disabilitas, Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang
c. Perlindungan dan Jamian Sosial
4. Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin a. Seksi Identifikasi dan Penguatan Kapasitas
b. Seksi Pendampingan, Pemberdayaan Masyarakat, Penyaluran Bantuan Stimulan dan Penataan Lingkungan
c. Seksi Kelembagaan, Kepahlawanan dan Restorasi Sosial 5. Bidang Pemberdayaan Masyarakat
a. Seksi Pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan dan Adat
b. Seksi Pemberdayaan Sosial Dasar dan Usaha Ekonomi Masyarakat c. Seksi Pendayagunaan SDA dan Teknologi Tepat Guna
6. Bidang Pembinaan Pemerintahan Desa a. Seksi Penataan dan Kerjasama Desa
b. Seksi Pembinaan Administrasi Pemerintahan Desa c. Seksi Pembinaan Keuangan dan Aset Desa
7. UPTD
8. Jabatan Fungsional
b. Tugas Pokok dan Fungsi:
1. Kepala Dinas
Untuk menjalankan tugasnya, kepala dinas melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan urusan pemerintahan sesuai dengan bidangnya
b. Melaksanakan kebijakan terkait urusan pemerintahan pada bidang Sosial, PMD
c. Melaksanakan evaluasi dan laporan urusan pemerintahan pada bidang sosial, PMD
d. Melaksanakan urusan administrasi
e. Menjalankan fungsi lain sesuai dengan bidangnya 2. Sekretariat
Untuk menjalankan seluruh tugas tersebut sekretaris menyelenggarakan fungsi:
a. Koordinasi terkait pelaksanaan tugas antar anggota dinas
b. Koordinasi dalam menyusun rencana program, kegiatan, anggaran serta laporan
c. Koordinasi terkait urusan umum dan kepegawaian d. Koordinasi dalam mengelola administrasi keuangan
e. Melaksanakan tugas dinas yang lain sesuai dengan bidangnya 3. Bidang Rehabilitasi dan Jaminan Sosial
Kepala bidang dalam menjalankan tugasnya melakukan:
a. Merumuskan kebijakan terkait urusan pemerintahan pada bidang rehabilitasi dan perlindungan jaminan sosial
b. Melaksanakan urusan pemerintahan terkait bidangnya c. Melaksanakan evaluasi dan laporan urusan terkait bidangnya d. Melaksanakan administrasi terkait bidangnya
e. Melaksanakan fungsi yang lain sesuai dengan bidangnya 4. Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin
Kepala bidang dalam menjalankan tugasnya, melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan aturan terkait urusan pemerintahan yang sesuai dengan bidangnya
b. Melaksanakan tugas pemerintah sesuai dengan bidangnya
c. melaksanakan evaluasi serta pelaporan urusan pemerintahan sesuai dengan bidangnya
d. Melakukan urusan administrasi yang sesuai dengan bidangnya e. Menjalankan tugas lain terkait tugas dan fungsinya
5. Bidang Pemberdayaan Masyarakat Kepala bidang mempunyai fungsi:
a. Merumuskan kebijakan terkait urusan pemerintahan sesuai dengan bidangnya
b. Melaksanakan urusab pemerintahan sesuai dengan bidangnya c. Melaksanakan evaluasi serta pelaporan sesuai dengan bidangnya d. Melaksanakan administrasi bidang pemberdayaan masyarakat e. Melaksanakan tugas yang lain yang sesuai dengan bidangnya 6. Bidang Pembinaan Pemerintah Desa
Untuk menjalankan tugasnya, kepala bidang melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan aturan terkait urusan pemerintahan sesuai bidangnya b. Melaksanakan urusan pemerintahan sesuai dengan bidangnya c. Melaksanakan evaluasi terkait dengan bidangnya
d. Melaksanakan administrasi sesuai bidangnya e. Melaksanakan fungsi lain sesuai dengan bidangnya 7. UPTD
8. Jabatan Fungsional
Pengangkatan jabatan fungsional dilakukan berdasar pada hasil dari analisis kebutuhan dan sesuai dengan aturan perundang-undangan.
Pada tabel dibawah ini akan diperlihatkan perbandingan mengenai jumlah penduduk miskin menurut Kab/Kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai berikut:
Tabel 4.4
Jumlah Penduduk Miskin Menurut Kab/Kota di Provinsi Sul-Sel (ribu) 2015-2019
Sumber data: Takalar dalam Angka 2020
Data diatas menunjukkan bahwa Kab. Bone memiliki tingkat kemiskinan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Selata yaitu sebanyak 76,25 ribu pada tahun 2019. Kemudian Kota Makassar diperingkat kedua dengan jumlah sebanyak 65, 12 ribu dan Kab. Gowa sebanyak 57,99 ribu. Kab. Takalar sendiri berada diurutan ke 15 pada tahun 2019 dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 25,93 ribu.
3. Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Takalar
Sebelum bergabung dengan Dinas Penanaman Modal dan PTSP, Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi pernah bergabung dengan Dinas Sosial. Dengan dikeluarkannya Perda Kab. Takalar Nomor 07 Tahun 2016 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi kemudian bergabung dengan Dinas Koperasi dan UKM dengan nama Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Kemudian kembali dikeluarkan Perda Nomor 02 Tahun 2019 mengenai perubahan atas Perda Nomor 07 Tahun 2016 dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bergabung dengan Dinas Penanaman Modal dan PTSP menjadi Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kantor dinas ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 26 Kab. Takalar.
a. Struktur Organisasi
Struktur organisasi Bidang Tenaga Kerja disusun dan diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten
Takalar. Susunan organisasi Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi diantaranya:
1. Kepala Dinas 2. Sekretaris
a. Sub-bagian Perencanaan b. Sub-bagian Keuangan
c. Sub-bagian Umum dan Kepegawaian 3. Bidang Penanaman Modal
a. Seksi Perencanaan, Promosi dan Pengembangan Iklim Penanaman Modal b. Seksi Pengendalian, Pembinaan dan Pelaksanaan Penanaman Modal c. Seksi Pengolahan Data dan Sistem Penanaman Modal
4. Bidang Pelayanan Terpadu Satu Pintu
a. Seksi Administrasi Pelayanan Perizinan dan Nonperizinan b. Seksi Penerbitan Perizinan dan Nonperizinan
c. Seksi Pengaduan dan pelaporan 5. Bidang Tenaga Kerja
a. Seksi Pengembangan dan Produktivitas Tenaga Kerja b. Seksi Penempatan Tenaga Kerja
c. Seksi Hubungan Industrial 6. Bidang Transmigrasi
a. Seksi Penyiapan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi b. Seksi Pengembangan Ekonomi
c. Seksi Pengembangan Sosial Budaya
7. UPTD
8. Jabatan Fungsional
b. Tugas Pokok dan Fungsi 1. Kepala Dinas
Kepala dinas dalam menjalankan tugasnya, melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya b. Melaksanakan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya c. Melaksanakan evaluasi dan laporan sesuai bidangnya d. Melaksanakan administrasi
e. Menjalankan fungsi lain sesuai dengan bidangnya 2. Sekretariat
Sekretaris dalam melaksanakan tugasnya, menyelenggarakan fungsi:
a. Koordinasi dalam pelaksanaan tugas pada lingkup sekretariat
b. mengkoordinasikan serta menyusun rencana program, kegiatan, anggaran dan laporan
c. Koordinasi terkait urusan umum dan kepegawaian d. Koordinasi dalam mengelola administrasi keuangan e. Melaksanakan tugas kedinasan yang lain sesuai tugasnya 3. Bidang Penanaman Modal
Kepala bidang dalam melakukan tugas pokoknya melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya b. Melaksanakan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya c. Melaksanakan evaluasi dan laporan sesuai bidangnya
d. Melaksanakan administrasi
e. Melaksanakan fungsi yang lain sesuai dengan bidangnya 4. Bidang Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Kepala bidang dalam menjalankan tugasnya melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan aturan pemerintahan sesuai bidangnya b. Melaksanakan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya c. Melaksanakan evaluasi dan laporan sesuai bidangnya d. Melaksanakan administrasi dinas
e. Menjalankan fungsi lain sesuai dengan bidangnya 5. Bidang Tenaga Kerja
Kepala bidang dalam menjalankan tugas pokoknya melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya b. Melaksanakan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya c. Melaksanakan evaluasi dan laporan sesuai bidangnya d. Melaksanakan administrasi dinas
e. Menjalankan fungsi lain sesuai dengan bidangnya 6. Bidang Tramsmigrasi
Kepala bidang dalam menjalankan tugas pokoknya melaksanakan fungsi:
a. Merumuskan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya b. Melaksanakan kebijakan pemerintahan sesuai bidangnya c. Melaksanakan evaluasi dan laporan sesuai bidangnya d. Melaksanakan administrasi dinas
e. Menjalankan tugas lain sesuai dengan tugas dan fungsinya
7. UPTD
8. Jabatan Fungsional
Pengangkatan Jabatan Fungsional dilakukan berdasarkan atas hasil analisa formasi dan kebutuhan, dan sesuai dengan ketentuan dari peraturan perundang-undangan.
B. Koordinasi Pemerintah Daerah dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Takalar
Melakukan koordinasi bukanlah hal yang mudah dan pasti ada hambatan dalam pelaksanaannya. Hambatan yang bisa saja muncul yaitu kurang validnya data yang akan digunakan dikarenakan pendataan yang tidak merata atau data baru yang akan digunakan terlambat untuk di validasi. Koordinasi sering digunakan antar organisasi ataupun antar anggota untuk mempermudah pekerjaan yang biasanya sulit dilakukan. Koordinasi juga sering digunakan untuk mengurangi kemiskinan serta pengangguran yang ada ditiap daerah yang penanganannya tidak cukup jika hanya satu organisasi saja yang bergerak.
Melihat hal tersebut, kemiskinan adalah suatu hal yang kompleks yang penanganannya harus secara serius dan membutuhkan kontribusi dari seluruh kalangan pemerintahan baik itu Presiden, menteri-menteri, kepala daerah ataupun SKPD dan UPTD. Masing-masing dari mereka telah memiliki bagiannya sendiri untuk menurunkan angka kemiskinan. Suatu negara tidak ada yang bersih dari kemiskinan, maka dari itu kemiskinan yang tidak bisa dihilangkan setidaknya bisa dikurangi agar negara yang awalnya berkembang bisa menjadi negara maju.
Penelitian ini menggunakan indikator koordinasi yang dikemukakan oleh Hasibuan (2006) sebagai berikut:
a. Kesatuan Tindakan
Kesatuan tindakan merupakan tahap awal yang mesti dilakukan saat berkoordinasi. harus menyatukan pemikiran antara dua organisasi atau lebih agar dapat mencapai titik awal mengenai rencana hingga kegiatan yang akan dilakukan selama berkoordinasi. Kemiskinan erat kaitannya dengan pengangguran. Tingkat pengangguran yang tinggi dapat menjadi penyebab tingginya tingkat kemiskinan karena memiliki ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan pokoknya. Seperti yang disampaikan oleh Bapak B.I selaku Kabid Tenaga Kerja pada wawancara tanggal 6 Juli 2020:
“Memang benar pengangguran merupakan masalah yang erat kaitannya dengan kemiskinan. Kenapa orang miskin, karena mereka menganggur atau tidak punya pekerjaan.”
Hal seperti diatas juga dijelaskan oleh Bapak A. selaku Staf Dinas Sosial, PMD saat melakukan wawancara pada tanggal 16 Juli 2020:
“Salah satu faktor yang menjadi penyebab kemisinan sampai saat ini yaitu pengangguran. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengangguran memang faktor yang tidak bisa dipisahkan sebagai penyebab kemiskinan dan tingginya tingkat kemiskinan. Kurangnya pendidikan membuat masyarakat itu tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga kurang pemasukan untuk memenuhi kebutuhannya.”
Dari wawancara diatas dapat dilihat bahwa pengangguran adalah hal yang paling mempengaruhi tingkat kemiskinan. Kemiskinan dan penganguran adalah dua hal yang saling berkaitan yang penanganannya harus secara serius untuk mencegah bertambahnya angka kemiskinan. Pendidikan yang kurang juga merupakan faktor yang menghambat masyarakat agar bisa mendapatkan
pekerjaan. Mengingat saat ini persaingan kerja sudah sangat tinggi dan dibutuhkan kemampuan khusus agar bisa bersaing mendapatkan pekerjaan yang layak.
Kemampuan akan teknologi menjadi syarat yang penting dalam melamar pekerjaan. Hal ini dikarenakan banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan menggunakan komputer, laptop hingga barang-barang elektronik yang memungkinkan agar pekerjaan dapat selesai dengan cepat.
Dalam koordinasi, kesatuan tindakan adalah suatu hal yang harus dikerjakan
Dalam koordinasi, kesatuan tindakan adalah suatu hal yang harus dikerjakan