• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Pada penanganan covid-19 pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijkan yang harus dijalankan. Agar kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat diterapkan dan dijalankan oleh masyarakat, maka pemerintah juga perlu mengkomunikasikan apa maksud dan tujuan dari kebijakan tersebut dengan cara komunikasi yang baik dan jelas. Sehingga masyarakat dapat menerima atau memahami kebijakan yang di sampaikan.

1. Penyampaian ide adalah menyampaikan informasi yang sudah terstruktur, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah di pahami atau mengilustrasikan, sehingga masyarakat dapat memahami apa maksud dan tujuan dalam penanganan Covid-19 di Desa Rappoala Kabupaten Gowa.

2. Program komunikasi adalah bentuk pelaksanaan baik itu berupa barang atau jasa, program juga bisa menyangkut bidang politik, keagamaan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, guna memberi informasi yang bermaksud mencapai tujuan yang ditetapkan di Desa Rappoala Kabupaten Gowa 3. Gagasan adalah hasil pemikiran, usulan, keinginan, dan harapan yang akan

disampaikan, sehingga ide yang disampaikan bisa lebih menciptakan rasa kepedulian atau kesadaran dan lebih memahami betapa pentingnya kebijakan dalam penanganan covid-19 di Desa Rappoala Kabupaten Gowa.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan setelah pelaksanaan seminar proposal. Adapun lokasi pada penelitian ini bertempat di Desa Rappoala Kabupaten Gowa. Adapun alasan peneliti memilih tempat tersebut karena selama pandemi ini, awal kasus menyebarnya covid-19 di Indonesia pemerintah telah banyak melakukan penanganan covid-19 dengan harapan dapat mencegah penyebarannya. Akan tetapi beriring dengan berjalannnya waktu, covid-19 mulai masuk dari daerah kedaerah lainnya.

Sehingga pemerintah di setiap daerah termasuk di Desa diwajibkan menjalankan protokol kesehatan tetapi masih ada masyarakat yang tidak mematuhi dan menjalankan protokol yang ada, salah satunya di Desa Rappoala Kabupaten Gowa.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

33

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan yaitu studi lapangan atau kasus dengan mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung pada tempat atau objek penelitian. penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting social atau dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial. Caranya dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang diuji.

C. Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian ini adalah suatu subyek dari mana data dapat diperoleh. Untuk memperoleh data sehubungan derngan masalah yang diteliti, maka sumber data yang bersumber dari :

1. Sumber data primer, data yang diperoleh secara langsung dari dinas Kesehatan di kabupaten Gowa, pemerintah dareah dan Masyarakat di desa Rappoala kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa.

2. Sumber data sekunder, diperoleh dengan cara mengambil data dari buku, jurnal atau catatan atau laporan yang telah tersusun dalam arsip (data dokumen).

D. Informan Penelitian

Informan adalah orang-orang yang betul paham atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian. Informan yang dipilih adalah yang dianggap relevan dalam memberikan informasi.

Adapun yang yang menjadi informan dalam penelitian ini, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti sebagai berikut :

1. Wawancara

Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan

bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit.

2. Observasi

Observasi adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Jadi observasi yang digunakan ini dilakukan oleh peneliti telah tahu dengan pasti variabel apa yang akan diamati.

3. Studi Kepustakaan

Yaitu dengan membaca buku, majalah, surat kabar, dokumen-dokumen, undang-undang yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilaksanakan. Penelusuran data online, yaitu data diperoleh dengan mengakses internet untuk mencari sumber data yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilaksanakan.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain (Sugiyono, 2019).

Pada penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan peneliti menggunakan model Miles and Huberman. Analisis data dalam penelitian

kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Miles and Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu, data reduction, data display, dan conclusion drowing/verification (Sugiyono, 2019).

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan tiga prosedur perolehan data.

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan terhadap data yang dianggap kurang perlu dan tidak relevan, maupun penambahan data yang dirasa masih kurang. Data yang diperoleh di lapangan mungkin jumlahnya sangat banyak. Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang akan direduksi memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan (Sugiyono, 2019).

2. Penyajian Data/ Display

Dengan mendisplay atau menyajikan data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi selama penelitian berlangsung. Setelah itu perlu adanya perencanaan kerja berdasarkan apa yang telah dipahami. Dalam

penyajian data selain menggunakan teks secara naratif, juga dapat berupa bahasa nonverbal seperti bagan, grafik, denah, matriks, dan tabel. Penyajian data merupakan proses pengumpulan informasi yang disusun berdasarkan kategori atau pengelompokan-pengelompokan yang diperlukan.

Miles and Huberman dalam penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antarkategori, flowchart dan sejenisnya. Ia mengatakan “yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif” (Sugiyono, 2019).

3. Verifikasi Data (Conclusions drowing/verifiying)

Langkah terakhir dalam teknik analisis data adalah verifikasi data.

Verifikasi data dilakukan apabila kesimpulan awal yang dikemukan masih bersifat sementara, dan akan ada perubahan-perubahan bila tidak dibarengi dengan bukti-bukti pendukung yang kuat untuk mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Bila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten saat penelitian kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel atau dapat dipercaya (Sugiyono, 2019).

Dalam penelitian kualitatif, kesimpulan yang didapat kemungkinan dapat menjawab fokus penelitian yang sudah dirancang sejak awal penelitian. Ada kalanya kesimpulan yang diperoleh tidak dapat digunakan untuk menjawab permasalahan. Hal ini sesuai dengan jenis penelitian kualitatif itu sendiri bahwa

masalah yang timbul dalam penelitian kualitatif sifatnya masih sementara dan dapat berkembang setelah peneliti terjun ke lapangan.

G. Teknik Pengabsahan Data

Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang diperoleh. Wiliam Wiersma mengatakan triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu (Sugiyono, 2019).

1) Triangulasi Sumber

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan tiga sumber data (Sugiyono, 2019).

2) Triangulasi Teknik

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui wawancara, observasi, dokumentasi. Bila dengan teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar (Sugiyono, 2019).

3) Triangulasi Waktu

Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, akan memberikan data lebih valid sehingga lebih kredibel. Selanjutnya dapat dilakukan dengan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya (Sugiyono, 2019).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Kabupaten Gowa

Kabupaten Gowa merupakan salah satu daerah Kabupaten/Kota di lingkungan Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Gowa berada pada 119.3773° Bujur Barat dan 120.0317° Bujur Timur, 5.0829342862° Lintang Selatan. Kabupaten yang berada di daerah selatan dari Sulawesi Selatan merupakan daerah otonom ini, di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Bantaeng. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto sedangkan di bagian baratnya dengan Kota Makassar dan Kabupaten Takalar.

Wilayah administrasi Kabupaten Gowa terdiri dari 18 Kecamatan dan 167 desa/kelurahan dengan luas daerah sekitar 1.833,33 kilometer persegi atau sama dengan 3,10% dari luas wilayah provinsi sulawesi selatan. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26%. Ada 9 wilayah kecamatan yang merupakan dataran tinggi yaitu Parangloe, Mamuju, Tinggimoncong, Tombilipao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu.

41

Dari total luas Kabupaten Gowa 35,30% mempunyai kemiringan tanah di atas 40°, yaitu pada wilayah kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bongayya dan Tompobulu. Kabupaten Gowa dilalui oleh banyak sungai yang cukup besar yaitu ada 15 sungai. Sungai dengan luas daerah aliran yang terbesar adalah sungai Jeneberang yaitu seluas 881 km dengan panjang 90 km.

Grafik

Luas Daerah Administrasi Menirut Kecamatan di Kabupaten Gowa

Sumber Gambar : http:repository.umy.ac.id

Gambar

Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Gowa

Sumber Gambar : http:repository.umy.ac.id

a. Jarak Dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten

Wilayah kabupaten Gowa sebagian besar merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26% atau terdapat 9 Kecamatan yang merupakan dataran tinggi. Oleh karena itu, jarak antara wilayah kecamatan dengan Ibukota/

kabupaten relatif jauh. Jarak terjauh dari ibukota kabupaten adalah kecamatan biringbulu yang menempuh jarak 140 KM dan Kecamatan Bontolempangan dengan jarak 120 KM yang harus melewati Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Takalar. Sedangkan jarak terdekat adalah Kecamatan Pallanngga yang hanya menempuh 2,45 KM dan Kecamatan Bontomarannu dengan jarak 9 KM.

Di bawah ini rincian jarak antara kecamatan dengan ibukota kabupaten :

Tabel

Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten

No. Kecamatan Ibukota

Kecamatan

Jarak

(KM) Ket.

1 Bontonompo Tamallayang 16,00

2 Bontonompo Selatan Pabundukan 30,00

3 Bajeng Kalebajeng 12,00

4 Bajeng Barat Boromatangkasa 15,80

5 Pallangga Mangalli 2,45

6 Barombong Kanjilo 6,50

7 Sombaopu Sungguminasa 0,00

Ibukota Kabupaten

8 Bontomarannu Borongloe 9,00

9 Pattallassang Pattallassang 13,00

0 Parangloe Lanna 27,00

11 Mamuju Moncongloe 20,00

12 Tinggimoncong Malino 59,00

13 Tombolo Pao Tamaona 90,00

14 Parigi Majannang 70,00

15 Bungaya Sapaya 46,00

16 Bontolempangan Bontoloe 63,00

17 Tompobulu Malakaji 125,00

Melalui Jeneponto

18 Biringbulu Lauwa 140,00

Jumlah 100,00 167

Sumber: BPS Kabupaten Gowa

b. Penduduk

Penduduk Kabupaten Gowa tercatat sejumlah 691.309 jiwa yang terdiri dari 339.575 laki-laki 351.734 perempuan.

c. Jumlah Desa/Kelurahan, RT/RW menurut Kecamatan di Kabupaten Gowa Kabupaten Gowa merupakan salah satu wilayah terluas di Sulawesi Selatan, dengan jumlah desa/kelurahan dan RT/RW yang cukup banyak.

Di bawah ini adalah rincian jumlah desa/kelurahan, RT/RW menurut kecamatan di Kabupaten Gowa :

Tabel

Jumlah Desa/Kel, RT/RW Menurut Kecmatan Dikabupaten Gowa

No. Kecamatan Desa/Kelurahan Dusun RW RT

18 Biringbulu 11 66 132 227

Jumlah 167 675 1546 3530

Sumber: BPS Kabupaten Gowa

d. Profil Desa Rappoala

Sejarah geografis berada di ketinggian antara 800-1000 dpl (di atas permjukaan laut). Dengan keadaan curah hujan rata-rata dalam pertahun antara 135 hari s/d 160 hari, serta suhu rata-rata perahun adalah 10 s/d 25°C.

Desa Rappoala secara umum terdiri dari daratan dan lembah yang mempunyai unsur tanah yang subur, kemiringan tanah secara umum di desa Rappoala sekitar 15° s/d 45° untuk memenuhi kebutuhan akan air.

Desa Rappoala memiliki beberapa sumber air yaitu dari sumur biasa, mata air langsung dari pegunungan Lompobattan dan sungai, pemenuhan air untuk lahan pertanian bersumber dari air sungai, air hujan dengan sistem irigasi pertanian. Sedangkan untuk memenuhu kebutuhan air sehari-hari menggunakan air memngalir lansung dari pegunungan dan sumur.

Secara administrasi desa, disebelah utara berbatasan dengan gunung Lompobattang di sebelah selatan dengan desa Datara/kelurahan Malakaji, disebelah barat berbatasan dengan desa Bontolempangan, dan di sebelah timur berbatasan dengan desa Rappolemba. Jarak dari ibu kota kecamatan 27 km2 yang terdiri dari hutan desa/hutan adat seluas 386,ha, hutan

2. Wilayah dusun Garentong terdiri dari 2 RK dan 4 RT, 3. Wilayah dusun Taipakkodong terdiri dari 34 RK dan 6 RT, 4. Wilayah dusun Rappoala terdiri dari 3 RK dan 6 RT, dan 5. Dusun Kayumalle terdiri dari 2 RK dan 4 RT.

e. Visi dan Misi Kabupaten Gowa (2021-2025) Visi

Terwujudnya masyarakat yang unggul dan tangguh dengan tata kelola pemerintahan terbaik.

Misi

1. Meningkatkan kualitas hidup msyarakat yang unggul dan inklusif.

2. meningkatkan infrastruktur yang berkualitas, teringtegrasi dan berwawasan lingkungan.

3. memperkokoh kemandirian ekonomi daerah berbasis sumber daya lokal dan teknologi.

4. mengembangkan tata krlola pemerintahan inovatif melalui reformasi birokrasi dan pelayanan publik berkualitas.

B. Hasil Penelitian

1. Bentuk Komunikasi Pemerintah dengan Masyarakat Dalam Penanganan Covid-19 di Desa Rappoala

a. Penyampaian Ide

Komunikasi adalah jembatan kesuksesan dalam sebuah kebijakan, di era saat ini komunikasi pemerintah sangat penting dilakukan. Masyarakat pada saat ini mengalami pergeseran budaya. Masyarakat tidak lagi mudah menerima suatu kebijakan atau aturan yang ditetapkan oleh pemerintah tanpa mengetahui manfaat mengenai apa yang telah di tetapkan.

Erliana hasan (2005) menyatakan bahwa penyampaiakan ide adalah suatu proses penyampaian pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang lain guna menyatukan kekuatan sehingga orang-orang tersebut bergerak pada tindakan yang terorganisir.

Pada penanganan covid-19 pemerintah mengeluarkan kebijakan kebijakan yang harus dijalankan atau di terapkan. Agar masyarakat dapat menerima kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, maka pemerintah juga mengkomunikasikan apa manfaat dari kebijakan tersebut dengan baik dan jelas.

Komunikasi juga menjadi faktor yang utama yang sangat penting dalam tercapainya tujuan, karena hanya melalui komunikasi pemimpin dalam politik atau suatu organisasi, dapat merencanakan, memimpin, orang orang yang ada eksternal tersebut. Hal ini mengisyaratkan bahwa keterampilan komunikasi

setiap orang mempengaruhi keefektifan pribadi dan organisasi, tidak kecuali pada organisasi pemerintah

Komunikasi pemerintah mencakup penyampaian ide. Penyampaian ide adalah menyampaikan atau menyalurkan sebuah informasi. Dalam menyapaikan ide ada beberapa tahap menyampaikan dengan sederhana dan ringkas, menjelaskan dengan kalimat sendiri dan memberikan contoh mengilustrasikannya. Seperti pada wawancara yang diungkapkan oleh dr.

Gaffar sebagai Kabid P2P dinas kesehatan pemerintahan kabupaten Gowa yaitu :

“Penyampaian idenya itu salah satunya jaga jarak, kan protokol kesehatan. mengapa kita menjaga jarak, ketika masyarakat bertanya mengapa saya jaga jarak? Pernafasan awalnya dari udara masuk melalui hidung dan mulut. Kenapa orang disuruh menjaga jarak karena selain mengisap bisa meniup, bisa bicara seperti ini toh, itukan ada namanya air liur, orang bisa meludah bisa juga memasukkan cairan ke tubuh, kenapa orang berjarak karena pada saat berbicara dan apalagi tidak menggunakan masker, ada namanya drepled (percikan ludah yang kecil) bisa jadi kita tidak lihat, apa orang sini kalau orang bilang terpercitki ludahnu, nah gerimis. Itu gerimis jangkauannya berapa meter? Tidak ada mungkin 1KM tidak ji toh. Ha 1 m, 2 m, kalau keras-kerasmi suaranya bisa meloncatki itu sampai 1 m, 1 setengah m, makanya orang di suruh jaga jarak begitu toh. Dalam satu droplet itu bisa 500000, banyaknya itu virus toh, minimal itu, orang batuk menghambur 3 sampai 5 juta kuman makanya disuruh jaga jarak jadi yang mau juga msuk itu terhalangi”.

Dari hasil wawancara di atas, memberikan ide kepada masyarakat dalam penanganan covid-19, dan memberikan penjelasan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat untuk memakai masker jaga jarak dan mencuci tangan dengan memakai sabun.

Adapun hasil wawancara oleh dr.Gaffar yaitu :

“Apa yang diharap mencuci tangan, dan kita maunya cuci tangan pake apa? Supaya kuman itu mati dengan memakai sabun, virus itu sangat mudah mati dengan sabun, sabun yang bisa berbusa. “

Ide-ide yang di lakukan kepada masyarakat tentu perlu memberi dukungan atau partisipasi pemerintah kepada masyarakat seperti melakukan kregiatan. Kemudain di daerah pedesaan juga terdapat komunitas yang memang di khususkan untuk mensosialisasikan sehingga masyarakat juga dapat mengetahui protokol kesehatan.

Berdasarkan hasil wawanca dari dr. Gaffar :

“Ide apa saja yang dilakukan di masyarakat, ada namanya gerakan 1juta masker, terus ada supaya orang tahu di desa ada namanya kampung Rewako, di desa orang sosialisasi kampung rewako supaya mereka itu tahu protokol kesehatan.”

Pada penyampaian ide bukan hanya dari pihak kesehatan saja tetapi saling bekerja sama dengan pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Hasil wawancara dari dr. Gaffar :

“Ada peraturan daerah. Daerah mengatur peraturan daerah, jadi DPRD bahwa Perda no. 2 tahun 2020. Kegitan 3T (Testing, Treatment, Tracing). Testing yaitu mentes, swab anti gen, anti body. Treacing yaitu mencari orang yang positif kemudian ditanya protokol, isolasi diri selama 10 sampai 14 hari. Treatment yaitu mdengobati, memakai obat sesuai dengan dideritanya.”

Sebagaimana yang dinyatakan oleh informan di atas, bahwa telah menjelaskan satu persatu fungsi dari menjalangkan protokol kesehatan tersebut agar masyarakat dapat memahami dan menjalankannya. Berdasarkan hasil wawancara, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dan mewajibkan

untuk menjalankan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, menjaga jarak dan lain sebagainya.

Ide yang disampaikan kepada masyarakat dalam penanganan covid-19 sangat penting dalam mencegah terjadinya penyebaran secara pesat. Adapun ide yang disampaikan kepada masyarakat dalam penanganan Covid-19, dari hasil wawancara yang diungkapkan oleh pak Wahyu Hidayat yaitu :

“Yaitu kita harus mematuhi protokol kesehatan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tanga dengan air mengalir.”

Pemerintah di Desa menegaskan bahwa betapa pentingnya dalam menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat pun telah mengetahui apa saja yang harus diterapkan dalam penanganan Covid-19. Sesuai dengan kebijakan dalamm penanganan Covid-19 Kementerian Kesehatan RI yang telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor:

HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 diantaranya yaitu: selalu menjaga kebersihan tangan, hindari menyentuh bagian wajah, menerapkan etika ketika batuk dan bersin, selalu menggunakan masker, jaga jarak dengan yang lain, lakukan isolasi mandiri ketika merasa diri tidak sehat, menjaga kesehatan dengan mengkomsumsi makanan bergizi dan rajin olahraga, ketika kembali kerumah jangan bersentuhan dengan anggota keluarga sebelum kita mandi. Inilah protokol yang dikeluarkan pemerintahan dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI.

Adapun hasil wawancara dari Rahma (masyarakat di desa rappoala) yaitu :

“Program penanganan covid-19 menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker. Pemerintah juga menyediakan tempat cuci tangan seperti di masjid, pasar.”

Penyampaian ide dalam mencegah penularan Covid-19 yaitu menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker. Karena orang yang terpapar Covid-19 tidak secara langsung mengeluarkan gejalanya tapi terdapat beberapa hari kemudian baru kemudian menampakkan gejala-gejala seperti orang yang terpapar secara umumnya, maka kita perlu berhati-hati.

Komunikasi adalah proses interaksi, dalam menyampaikan suatu ide tentunya terdapat interksi antara dua pihak atau lebih yang bertujuan untuk mengumpulkan atau menyampaikan informasi kepada atau dari lawan bicara demi terwujudnya tujuan bersama. Adapun hasil dari wawancara pak Wahyu Hidayat yaitu :

“Tanggapan masyarakat sangat merespon dengan adanya pembagian masker, pembagian Hand Sanitizer dan menyediakan tempat cuci tangan.”

Dari tanggappan di atas terdapat partisifasi masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan yang menjadi peraturan saat ini. Adapun tanggapan masyarakat yang disampaikan oleh tidak secara langsung diterima oleh sebagaian masyarakat sehingga perlu melakukan perhatian penuh kepada masyarakat, sebagaiamana yang dikatakan oleh dr. Gaffar :

“Ada yang setuju langsung ada yang marah-marah sesuai dengan latar belakangnya masyarakat, ada mungkin pendidikannya rendah tapi mereka langsung paham. Diantara 10 orang (di lokasi penelitian) terlihat apa? semuanya pakai masker. selama mereka paham

harapannya masyarakat itu sadar, tidak semua orang langsung ikuti

harapannya masyarakat itu sadar, tidak semua orang langsung ikuti

Dokumen terkait