BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
H. Deskripsi Fokus Penelitian
Kecepatan dalam hal ini meliputi: a) kesiapsiagaan; b) ketulusan; c) memenuhi permintaan masyarakat.
2. Kecermatan
Kecermatan dalam hal ini meliputi: a) ketelitian; b) sungguh-sungguh; c) kewaspadaan
3. Tepat Waktu
Tepat waktu dalam hal ini yaitu Brigade Siaga Bencana harus memberikan kepastian kepada seluruh masyarakat berdasarkan waktu dan jarak tempuh yang telah ditetapkan dalam memberikan pelayanan di lokasi masyarakat yang mengalami bencana kebakaran.
4. Kurangnya Personil
Kurangnya personil adalah salah satu faktor penghambat Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng.
5. Jarak Tempuh
Jarak tempuh yang jauh adalah salah satu faktor penghambat Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng.
6. Keadaan Lalulintas
Keadaan lalulintas yang padat adalah salah satu faktor penghambat Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng.
7. Sumber Air yang Jauh
Sumber air yang jauh adalah salah satu faktor penghambat Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng.
8. Keadaan Terkendali
Keadaan terkendali adalah suatu keberhasilan Brigade Siaga Bencana dalam menangani bencana kebakaran yang terjadi di Kabupaten Bantaeng.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan selama lebih dua bulan setelah seminar proposal. Lokasi penelitian dilakukan di kantor Brigade Siaga Bencana (BSB) di Kelurahan Bonto Sunggu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Pertimbangan bahwa responsivitas Brigade Siaga Bencana (BSB) dianggap tidak tanggap dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Bogdam dan Taylor (2001), mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diambil yang didukung oleh data-data tertulis maupun data-data hasil wawancara.
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah fenomenologi yaitu penelitian yang menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi pada Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam hal ini responsivitas Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng selama penelitian.
30
C. Sumber Data 1. Data Primer
Data ini diperoleh melalui hasil wawancara atau observasi langsung di lapangan, tepatnya di Brigade Siaga Bencana dan beberapa lokasi masyarakat yang pernah mengalami bencana kebakaran.
2. Data Sekunder
Data ini diperoleh melalui hasil pengumpulan informasi dari pihak terkait dalam hal ini Brigade Siaga Bencana dan beberapa masyarakat yang pernah mengalami bencana kebakaran.
D. Informan Penelitian
Penentuan narasumber (informan) dalam penelitian ini untuk diwawancarai secara mendalam dilakukan dengan cara, peneliti memilih orang tertentu yang dipandang memiliki pengetahuan dan informasi mengenai permasalahan yang diteliti mengenai responsivitas Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng. Adapun informan tersebut adalah:
Tabel 2. Informan Penelitian
No. Nama Inisial Jabatan Ket
1. Abd. Rahman A. R Sekretaris Pemadam Kebakaran 1
2. Ilham IL Bendahara 1
3. Kamaruddin KM Komandan Regu I 1
4. Hasruddin HS Sopir Armada (Driver) 1
5. Sahlam Salam S. S Sopir Armada (Driver) 1
6. Dedi Hariyadi D. H Personil 1
7. Hj. Lamakka H.L Masyarakat 1
8. Suriani SR Masyarakat 1
9. Alwi A Masyarakat 1
10. Muh. Basir M. B Masyarakat 1
11. A. Taqdir Jaya A. J Masyarakat 1
Jumlah 11
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab. Wawancara yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk memperoleh sejumlah data yang diperlukan dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berkompeten dalam badan (lembaga) tersebut maupun pihak-pihak terkait lainnya.
Tehnik pengumpulan data, wawancara merupakan hal pokok untuk mengetahui apa yang menjadi rumusan masalah, sehingga peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan demi untuk menyatukan persepsi pegawai Pemadam Kebakaran dan perspsi masyarakat yang juga pernah terlibat langsung dalam penanganan Pemadam Kebakaran di Kabupaten Bantaeng, peneliti melakukan wawancara dengan cara merekam dan mencatat hal-hal penting yang dianggap berhubungan dengan rumusan masalah peneliti, peneliti juga melakukan tehnik wawancara dengan cara tanya jawab yang sederhana dan santai sehingga informan yang menjadi objek peneliti tidak menyadari wahwa peneliti sedang melakukan wawancara, tehnik ini bertujuan untuk menhindari adanya kebohongan atau manipulasi yang akan diterima oleh peneliti.
2. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu informasi tertulis, visual atau fakta yang bisa dinyatakan dalam bentuk dokumen-dokumen dan buku. Kegiatan yang
dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan menelusuri dan mempelajari dokumen-dokumen yang sudah ada, hal ini dimaksud untuk mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan materi penelitian.
Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh peneliti ada beberapa kendala dan kekeliruan yang dialami oleh peneliti, ini disebabkan data yang diperoleh peneliti adalah data sebelum direvisi, sehingga peneliti beberapa kali meminta penjelasan dan data yang terbaru, hal ini karena dokumentasi juga termasuk data yang memang harus dipahami oleh peneliti karena dapat menyebabkan kesalah pahaman dan membingunkan peneliti.
3. Observasi
Observasi yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Nasution (dalam Sugiyono, 2014: 226) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan secara langsung pada objek penelitian mengenai Responsivitas Brigade Siaga Bencana dalam Menangani Bencana Kebakaran di Kabupaten Bantaeng.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti mengenai masalah penanganan Pemadam Kebakaran (DAMKAR) dalam menangani bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng memang sudah cukup baik, karena petugas atau personil Pemadam Kebakaran selalu siapsiaga dan mempunyai respon yang cukup baik, dan tidak membutuhkan waktu yang
lama dalam pelayanannya jika terjadi suatu bencana kebakaran selain itu juga keseriusan para personil Pemadam Kebakaran juga terlihat disaat peneliti melakukan observasi lapangan, kesungguhan personil dalam melakukan apa yang menjadi tugas dan fungsinya memang betul-betul patut dijadikan contoh bagi kabupaten atau provinsi lain.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel.
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data (Data display)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.
Akan tetapi yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam
penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
3. Penarikan kesimpulan/verifikasi (Conclusion Drawing/verification)
Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. (Sugiyono, 2014)
G. Pengabsahan Data
Menurut Sugiyono (2014), dalam pengujian pengabsahan data, metode penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif meliputi uji, credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektivitas).
1. Uji Credibility
Dalam bukunya, Sugiyono (2012) menjelaskan uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Perpanjangan pengamatan
Dengan perpanjangan pengamatan berarti penelitian kembali kelapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab, semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi disembunyikan lagi (Sugiyono, 2012).
b. Meningkatkan ketekunan
Melakukan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan, maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.
Dengan melakukan hal ini, dapat meningkatkan kredibilitas data (Sugiyono, 2012)
c. Triangulasi
Menurut William Wiersma (dalam Sugiyono, 2012) triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
d. Analisis kasus negatif
Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Melakukan analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, bererti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Tetapi bila peneliti masih mendapatkan data-data yang bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan merubah temuannya. Hal ini sangat tergantung seberapa besar kasus negatif yang muncul (Sugiyono, 2012)
e. Menggunakan bahan referensi
Bahan referensi adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Sebagai contoh, data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara sehingga data yang didapat menjadi kredibel atau lebih dapat dipercaya (Sugiyono, 2012).
f. Mengadakan memberchek
Memberchek adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan memberchek adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka peneliti perlu
melakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus mengubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
2. Pengujian Transferability
Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif, agar orang lain dapat memahami hasil penelitian kualitatif sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian yang telah didapat, maka peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya. Dengan demikian pembaca menjadi jelas atas hasil penelitian yang telah didapat sehingga dapat memutuskan atau tidaknya hasil penelitian diaplikasikan di tempat lain (Sugiyono, 2012).
Sanafiah Faizal (dalam Sugiyono, 2012) menjelaskan bahwa bila pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang sedemikian jelasnya,
“semacam apa” suatu hasil penelitian dapat diberlakukan (transferability), maka laporan tersebut memenuhi standar transferabilitas.
3. Pengujian Dependability
Pengujian dependability dalam penelitian kualitatif adalah uji dependability yang dilakukan dengan cara audit terhadap keseluruhan proses penelitian oleh auditor yang independen, atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Sanafiah Faizal menyatakan bahwa jika peneliti tidak mempunyai dan tidak dapat menunjukkan “jejak aktivitas lapangan” maka dependabilitas penelitiannya dapat diragukan (dalam Sugiyono, 2012).
4. Pengujian Confirmability
Pengujian konfirmability dalam penelitian kualitatif adalah uji konfirmability mirip dengan uji dependability, sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan.
Menurut Sugiyono (2014: 274), ada 3 macam triangulasi yaitu:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berarti membandingkan dengan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Kemudian peneliti membandingkan hasil wawancara antara apa yang dikatakan secara pribadi dan secara umum, dalam perbandingan ini peneliti mendapat dua pendapat yang berbeda sehingga peneliti kemudian melakukan perbandingan kembali antara apa yang dikatakan secara umum dan apa yang peneliti dapatkan dari hasil observasi lapangan, dalam perbandingan kali ini peneliti sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa reponsivitas Brigade Siaga Bencana (BSB) dalam menangani bencana kebakaran sudah baik, hal ini berdasarkan perbandingan antara beberapa sumber yang diperoleh peneliti.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
Peneliti kemudian menguji kredibilitas data yang diperoleh dari hasil wawancara dari beberapa informan, pada bagian ini peneliti terlibat langsung dalam penanganan yang dilakukan oleh Pemadam Kebakaran, setelah
pengujian ini peneliti sudah dapat menarik kesimpulan bahwa apa yang dikatakan secara pribadi dan umum itu sudah benar, penanganan Pemadam Kebakaran memang sudah cukup baik, adapun informan peneliti yang mengatakan kurang baik itu karena disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya jarak tempuh yang jauh, sumber air yang susah serta pemberi informasi yang kurang cepat melaporkan kejadian kebakaran, hal tersebut adalah salah satu penyebab yang dapat disimpulkan peneliti berdasarkan informan yang mengatakan penanganan Pemadam Kebakaran kurang baik.
3. Triangulasi Waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data, peneliti melakukan wawancara dipagi hari disaat informan masih segar serta peneliti juga beberapa kali melakukan perbincangan (wawancara) dengan salah satu informan di malam hari yang dilakukan di rumah informan tersebut, hal ini sebenarnya informan tidak menyadari bahwa peneliti sedang melakukan wawancara karena kedatangan peneliti dianggap sebagai tamu bukan peneliti, serta peneliti juga tidak mengajukan pertanyaan ke informan akan tetapi mengarahkan informan untuk melakukan cerita panjang tentang apa yang ingin diperoleh peneliti, dengan teknik ini peneliti dapat mendapatkan data yang lebih kredibel.
Pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji mengahasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga ditemukan kapastian datanya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Atau Krakteristik Objek Penelitian
1. Gambaran Umum
Kabupaten Bantaeng dikenal dengan sebutan “Butta Toa” terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten ini mempunyai luas wilayah 395,83 km. Terdiri atas 8 (delapan) Kecamatan, 67 Desa dan Kelurahan, 502 Rukun Warga (RW) dan 1.108 Rukun Tetangga (RT). Kedelapan Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Bissappu, Kecamatan Bantaeng, Kecamatan Eremerasa, Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Pajukukan, Kecamatan Uluere, Kecamatan Gantarangkeke dan Kecamatan Sinoa.
2. Karakteristik Lokasi dan Wilayah
Kabupaten Bantaeng secara geografis terletak ± 120 km arah selatan Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan posisi 5°21’13”-5°35’27”
Bujur Timur. Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat ke timur kota yang salah satunya berpotensi untuk perikanan, dan wilayah daratannya mulai dari tepi laut Flores sampai ke pegunungan sekitar Gunung Lompobattang dengan ketinggian tempat dari permukaan laut 0-25 m sampai dengan ketinggian lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut.
Kabupaten Bantaeng dengan ketinggian antara 100-500 m dari permukaan laut merupakan wilayah yang terluas atau 29,6 persen dari luas wilayah seluruhnya, dan terkecil adalah wilayah dengan ketinggian 0-25 m atau hanya 10,3 persen dari luas wilayah. Kabupaten Bantaeng terletak di bagian selatan
41
Provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan: a) Sebelah Utara: Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bulukumba; b) Sebelah Timur: Kabupaten Bulukumba; c) Sebelah Selatan: Laut Flores; d) Sebelah Barat: Kabupaten Jeneponto.
3. Keadaan Iklim
Letak geografis Kabupaten Bantaeng yang strategis memiliki alam tiga dimensi, yakni bukit pengunungan, lembah daratan dan pesisir pantai, dengan dua musim. Iklim di daerah ini tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan tahunan rata-rata setiap bulan 200 mm. Dengan adanya kedua musim tersebut sangat menguntungkan bagi sektor pertanian.
4. Demografi
Adapun presentase jumlah penduduk di Kabupaten Bantaeng berdasarkan rasio jenis kelamin dari kedelapan Kecamatan dapat dilihat data di bawah ini yang mencakup jumlah penduduk di tahun 2010 s/d 2014. Adapun jumlah penduduk adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Jumlah Penduduk
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantaeng
Dari tabel yang ada di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Bantaeng meningkat setiap tahunnya. Jumlah penduduk Kabupaten
Tahun
Jenis Kelamin
Rasio Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan
2010 85.591 91.108 93.9
2011 86.452 92.025 94
2012 86.950 92.555 94
2013 87.413 93.593 93
2014 88.012 94.271 93
Bantaeng menurut hasil SP 2010 sebanyak 176.699 jiwa yang dimana terdiri dari laki-laki 85.591 jiwa dan perempuan 91.108 jiwa dengan rasio jenis kelamin 93.9.
5. Struktur Organisasi Brigade Siaga Bencana (BSB)
Struktur organisasi Brigade Siaga Bencana (BSB) di dalamnya terdapat beberapa satuan tugas yang saling bekerja sama dan berada dalam satu atap, dalam struktur organisasinya terdapat di dalamnya PAM, Bantuan Medis, DAMKAR, PMI, SAR, ORARI, SATGASOS PBP, dan TAGANA keseluruhannya berada dalam satuan tugas Tim Emergency Service. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar struktur Brigade Siaga Bencana di Kabupaten Bantaeng di bawah ini:
Gambar 2. Struktur Organisasi Brigade Siaga Bencana
Sumber: Brigade Siaga Benacana Kabupaten Bantaeng BUPATI
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pemadam kebakaran termasuk dalam struktur Brigade Siaga Bencana sebagai salah satu bagian dari beberapa satuan tugas lainnya. Pemadam Kebakaran ini terbagi menjadi 4 struktur yaitu struktur organisasi posko induk, posko I, posko II dan posko III yang terletak di beberapa Kecamatan diantaranya Kecamatan Bantaeng sebagai posko induk, kecamatan Tompobulu posko I, Kecamatan Pa’jukukang posko II dan Kecamatan Bissappu posko III.
6. Visi dan Misi Pemadam Kebakaran
Visi Pemadam Kebakaran adalah Terselenggaranya perlindungan masyarakat dari ancaman bahaya kebakaran melalui terciptanya sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang handal. Sedangkan misi Pemadam Kebakaran di bagi menjadi 4 yaitu: a) Meningkatkan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat mengenai kebakaran dini; b) Meningkatkan profesionalitas aparat pemadam kebakaran serta mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat; c) Melaksanakan upaya pemadaman kebakaran secara cepat, tepat dan efesien; d) Terpenuhinya sarana dan prasarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran 7. Tugas Pokok dan Fungsi Pemadam Kebakaran (DAMKAR) Kabupaten
Bantaeng
Adapun tugas pokok dan fungsi badan pemadam kebakaran Kabupaten Bantaeng adalah merumuskan, membina, mengandalikan kebijakan dibidang pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana kebakaran di Kabupaten Bantaeng yang di bagi dalam bebrapa posko di beberapa kecematan di Kabupaten Bantaeng demi tercapainya penanggulangan bencana kebakaran yang cepat
terjangkau dari daerah peristiwa bencana dengan cepat tanpa adanya kemungkinan kerugian yang besar terhadap masyarakat daeah terpencil.
8. Karakteristik Informan
Karakteristik informan akan dipaparkan berdasarkan jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan.
a. Karakteristik Informan Berdasrakan Jenis Kelamin
Karakteristik informan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin
Keterangan Frekuensi Persentase %
Laki-Laki 10 90.91 %
Perempuan 1 9. 09 %
Jumlah 11 100 %
Sumber: Diolah dari data primer, September 2016
Distribusi informan mengenai jenis kelamin berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 10 orang laki-laki atau sebesar 90.91 persen, dan 1 orang perempuan atau sebesar 9.09 persen dari keseluruhan jumlah informan.
b. Karakteristik Informan Berdasarkan Umur
Karakteristik informan berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Karakteristik Informan Berdasarkan Umur
Keterangan Frekuensi Persentase %
21-30 6 54. 55 %
31-40 4 36. 36 %
41-50 1 9. 09 %
Jumlah 11 100 %
Sumber: Diolah dari data primer, September 2016
Distribusi informan mengenai umur berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa kebanyakan informan memiliki umur yang berkisar dari 21-30 tahun sebanyak 6 orang informan atau sebesar 54.55 persen, informan yang berumur 31-40 sebanyak 4 orang informan atau sebesar 36.36 persen, sedangkan informan yang memiliki umur berkisar 41-50 sebanyak 1 orang atau sebesar 9.09 persen dari keseluruhan informan.
c. Karakteristik Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 6. Karakteristik Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Keterangan Frekuensi Persentase %
S1 4 36.36 %
SMA 5 45.46 %
SMP 2 18.18 %
SD 0 0 %
Jumlah 11 100 %
Sumber: Diolah dari data primer, September 2016
Distribusi informan mengenai tingkat pendidikan berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 4 orang yang berpendidikan S1 atau sebesar 36.36 persen, informan yang berpendidikan SMA sebanyak 5 orang atau 45.46 persen, serta informan yang berpendidikan SMP sebanayak 2 orang atau 18.18 persen dan informan yang berpendidikan SD sebanyak 0 persen dari keseluruhan informan.
d. Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan
Karakteristik informan berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 7. Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan
Keterangan Frekuensi Persentase %
Pegawai 4 36.36 %
Personil Pemadam 5 45.46 %
Wiraswasta 2 18.18 %
Jumlah 11 100 %
Sumber: Diolah dari data primer, September 2016
Distribusi informan mengenai pekerjaan berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 4 orang yang bekerja sebagai pegawai atau sebesar 36.36 persen, dan 5 orang yang bekerja sebagai personil Pemadam atau sebesar 45.46 persen, serta 2 orang yang bekerja sebagai wiraswasta atau sebesar 18.18 persen dari keseluruhan jumlah informan.
e. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendapatan Perbulan
Karakteristik informan berdasarkan pendapatan perbulan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 8. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendapatan Perbulan
Keterangan Frekuensi Persentase %
Rp. 2.000.000-Rp. 3.000.000 5 45.46 %
Rp. 4.000.000-Rp. 6.000.000 6 54.54 %
Jumlah 11 100 %
Sumber: Diolah dari data primer, September 2016
Distribusi informan mengenai pendapatan perbulan berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 5 orang yang berpenghasilan dari Rp. 2.000.000-Rp.
3.000.000 perbulan atau sebesar 45.46 persen, dan 6 orang yang berpenghasilan Rp. 4.000.000-Rp. 6.000.000 perbulan atau sebesar 54.54 persen dari keseluruhan jumlah informan.
9 Fasilitas Yang Dimiliki
Fasilitas Pemadam Kebakaran (DAMKAR) Kabakaran Bantaeng berdasarkan alat yang di gunakan dapat dilihat melalui tabel berikut:
Tabel 9. Fasilitas Pemadam Kebakaran Yang Dimiliki
Tabel 9. Fasilitas Pemadam Kebakaran Yang Dimiliki