BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
Distribusi karakteristik responden yang berdasarkan dari jenis kelamin di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
Jenis Kelamin N %
Perempuan 27 77,1
Laki-Laki 8 22,9
Jumlah 35 100,0
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian responden terdiri dari perempuan yaitu sebanyak 27 orang (77,1%) dan laki-laki sebanyak 8 orang (22,9%).
4.2.2 Umur Responden
Distribusi karakteristik responden yang berdasarkan dari umur dibagi menjadi 6 kategori berdasarkan hasil perhitungan kelas interval. Umur pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
Umur (tahun) N % 35-39 4 11,4 40-44 7 20,0 45-49 8 22,9 50-54 12 34,3 55-59 3 8,6 60-64 1 2,9 Jumlah 35 100,0
Berdasarkan tabel di atas, umur pemetik teh paling banyak pada usia 50-54 tahun yaitu 12 orang (34,3%), dan sisanya pada usia 45-49 tahun sebanyak 8 orang (22,9%), usia 40-44 tahun sebanyak 7 orang (20,0%), usia 35-39 tahun
sebanyak 4 orang, usia 55-59 tahun sebanyak 3 orang (8,6%) dan 60-64 tahun sebanyak 1 orang (2,9%).
4.2.3 Masa Kerja Responden
Masa kerja pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong pada tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan masa kerja di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
Masa Kerja (tahun) N %
10-13 1 2,9 14-17 6 17,1 18-21 11 31,4 22-25 7 20,0 26-29 6 17,1 30-33 4 11,4 Jumlah 35 100,0
Berdasarkan tabel di atas, bahwa masa kerja pemetik teh paling banyak pada masa 18-21 tahun sebanyak 11 orang (31,4%), sisanya pada masa 22-25 tahun sebanyak 7 orang (20,0%), 14-17 tahun sebanyak 6 orang (17,1%), 26-29 tahun sebanyak 6 orang (17,1%), 30-33 tahun sebanyak 4 orang (11,4%) dan 10-13 tahun sebanyak 1 orang (2,9%).
4.2.4 Pendidikan Responden
Tingkat pendidikan pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong pada tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
Pendidikan N % Tidak Sekolah 5 14,3 SD 23 65,7 SMP 5 14,3 SMA 1 2,9 Sarjana 1 2,9 Jumlah 35 100,0
Berdasarkan tabel di atas, bahwa tingkat pendidikan pemetik teh paling banyak pada pendidikan SD yaitu sebanyak 23 orang (65,7%), sisanya pada tingkat pendidikan SMP dan tidak sekolah sebanyak 5 orang (14,3%), dan SMA dan Sarjana sebanyak 1 orang (2,9%).
4.2.5 Kelelahan Kerja Responden
Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan alat Flicker Fusion terhadap pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong maka kelelahan kerja dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.6 Hasil pengukuran kelelahan kerja berdasarkan Alat Flicker
Fusion pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014 No Responden Hasil Pengukuran Sebelum Bekerja (Hz) Hasil Pengukuran Setelah Bekerja (Hz) Kategori 1 38 40 Tidak Lelah 2 32 34 Tidak Lelah 3 37 40 Tidak Lelah 4 37 35 Lelah 5 37 36 Lelah 6 33 35 Tidak Lelah 7 38 35 Lelah 8 31 37 Tidak Lelah
Tabel 4.6 Lanjutann 10 38 36 Lelah 11 36 39 Tidak Lelah 12 35 37 Tidak Lelah 13 37 35 Lelah 14 38 36 Lelah 15 37 36 Lelah 16 35 40 Tidak Lelah 17 38 37 Lelah 18 36 33 Lelah 19 32 35 Tidak Lelah 20 39 37 Lelah 21 37 36 Lelah 22 32 36 Tidak Lelah 23 38 34 Lelah 24 33 37 Tidak Lelah 25 34 38 Tidak Lelah 26 41 35 Lelah 27 37 40 Tidak Lelah 28 36 32 Lelah 29 37 34 Lelah 30 38 35 Lelah 31 40 35 Lelah 32 37 36 Lelah 33 38 35 Lelah 34 37 35 Lelah 35 33 39 Tidak Lelah
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi kelelahan kerja berdasarkan Alat Flicker Fusion pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
No. Kelelahan Kerja (Flicker Fusion) N %
1. Lelah 20 57,1
2. Tidak Lelah 15 42,9
Jumlah 35 100,0
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa sebanyak 20 orang (57,1%) mengalami kelelahan dan sebanyak 15 orang (42,9%) tidak mengalami kelelahan.
4.2.6 Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.8 Produktivitas kerja pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
No
Responden Produktivitas Kerja Kategori
1 85 Produktivitas Sesuai
2 70 Produktivitas Sesuai
3 56 Produktivitas Tidak Sesuai
4 82 Produktivitas Sesuai 5 83 Produktivitas Sesuai 6 80 Produktivitas Sesuai 7 85 Produktivitas Sesuai 8 100 Produktivitas Sesuai 9 75 Produktivitas Sesuai 10 80 Produktivitas Sesuai 11 87 Produktivitas Sesuai 12 70 Produktivitas Sesuai
13 50 Produktivitas Tidak Sesuai
14 50 Produktivitas Tidak Sesuai
15 48 Produktivitas Tidak Sesuai
16 74 Produktivitas Sesuai
17 80 Produktivitas Sesuai
18 70 Produktivitas Sesuai
19 75 Produktivitas Sesuai
20 40 Produktivitas Tidak Sesuai
21 60 Produktivitas Sesuai 22 80 Produktivitas Sesuai 23 72 Produktivitas Sesuai 24 70 Produktivitas Sesuai 25 70 Produktivitas Sesuai 26 60 Produktivitas Sesuai 27 90 Produktivitas Sesuai 28 60 Produktivitas Sesuai 29 80 Produktivitas Sesuai
30 40 Produktivitas Tidak Sesuai
31 50 Produktivitas Tidak Sesuai
32 42 Produktivitas Tidak Sesuai
33 50 Produktivitas Tidak Sesuai
34 55 Produktivitas Tidak Sesuai
Tabel 4.9 Distribusi frekuensi produktivitas kerja pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014
No. Produktivitas Kerja N %
1. Sesuai 25 71,4
2. Tidak Sesuai 10 28,6
Jumlah 35 100,0
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong sebanyak 25 orang (71,4%) produktivitasnya sesuai dan sebanyak 10 orang (28,6%) produkivitasnya tidak sesuai.
4.3 Analisis Bivariat
Berdasarkan hasil yang didapatkan dari 35 pemetik teh diketahui bahwa 21 orang mengalami kelelahan kerja berdasarkan alat ukur Flicker Fusion. Selanjutnya dilakukan uji chi square untuk melihat apakah ada hubungan antara kelelahan kerja dengan produktivitas kerja pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014.
4.3.1 Hubungan Kelelahan Kerja dengan Produktivitas Kerja
Hubungan antara kelelahan kerja dengan produktivitas kerja dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.10 Analisis Uji Exact Fisher Kelelahan Kerja (Flicker Fusion) dengan Produktivitas Kerja pada Responden di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong Tahun 2014
Flicker Fusion
Produktivitas Kerja
Jumlah Sig. (p) Tidak Sesuai Sesuai
N % N % N %
Lelah 9 25,7 11 31,4 20 57,1
0,022 Tidak Lelah 1 2,9 14 40,0 15 42,9
Jumlah 10 28,6 25 71,4 35 100,0
Berdasarkan tabel hasil pengukuran di atas, dapat dilihat bahwa produktivitas kerja tidak sesuai yang mengalami kelelahan sebanyak 9 orang (25,7%) dan yang tidak mengalami kelelahan sebanyak 1 orang (2,9%) sedangkan produktivitas kerja sesuai yang mengalami kelelahan sebanyak 11 orang (31,4%) dan tidak mengalami kelelahan sebanyak 14 orang (40,0%).
Pada hasil uji Exact Fisher antara kelelahan kerja berdasarkan pengukuran Flicker Fusion dengan produktivitas kerja dapat diketahui nilai p = 0,022 dimana p < 0,05 artinya ada hubungan antara kelelahan kerja berdasarkan pengukuran Flicker Fusion dengan produktivitas kerja pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014, kelompok umur terbanyak adalah kelompok umur 50-54 tahun yaitu 12 orang (34,3%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, yaitu 27 orang (77,1%) sedangkan laki-laki sebanyak 8 orang (22,9%).
Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan pemetik teh paling banyak pada pendidikan SD yaitu sebanyak 23 orang (65,7%), sisanya pada tingkat pendidikan SMP dan tidak sekolah sebanyak 5 orang (14,3%), dan SMA dan Sarjana sebanyak 1 orang (2,9%).
Distribusi frekuensi responden berdasarkan masa kerja pemetik teh paling banyak pada masa 18-21 tahun sebanyak 11 orang (31,4%), sisanya pada masa 22-25 tahun sebanyak 7 orang (20,0%), 14-17 tahun sebanyak 6 orang (17,1%), 26-29 tahun sebanyak 6 orang (17,1%), 30-33 tahun sebanyak 4 orang (11,4%) dan 10-13 tahun sebanyak 1 orang (2,9%).
5.2 Kelelahan Kerja
Kelelahan (fatigue) adalah suatu kondisi yang telah dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kelelahan mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan, walaupun ini bukan satu-satunya gejala. Secara umum gejala kelelahan yang lebih dekat adalah pada pengertian kelelahan fisik dan kelelahan mental. Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot ditunjukan melalui gejala sakit nyeri yang luar biasa seperti ketegangan otot dan daerah sekitar sendi. Sebaliknya kelelahan umum dapat terlihat pada munculnya sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk melakukan aktivitas (Ramandhani, 2003).
Kelelahan kerja termasuk suatu kelompok gejala yang berhubungan dengan adanya penurunan efisiensi kerja, keterampilan serta peningkatan kecemasan atau kebosanan. Kelelahan kerja ditandai oleh adanya perasaan lelah, output menurun, dan kondisi fisiologis yang dihasilkan dari aktivitas yang berlebihan. Kelelahan akibat kerja juga sering kali diartikan sebagai menurunnya performa kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan yang harus dilakukan (Wignjosoebroto, 2008).
Alat Flicker Fusion atau Uji Hilangnya Kelipan digunakan untuk melihat kemampuan tenaga kerja dalam melihat cahaya kelipan yang dipancarkan. Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kerja untuk melihat cahaya kelipan akan berkurang dimana cahaya yang berkedip dianggap sebagai garis lurus. Pengukuran dilakukan 3 kali saat sebelum bekerja dan begitu juga setelah bekerja.
Sebelum dilakukan pengukuran, tenaga kerja dijelaskan dahulu mengenai cara kerja alat Flicker Fusion. Apabila tenaga kerja telah menganggap cahaya yang berkedip sebagai garis lurus maka diinstruksikan untuk menekan tombol stop. Frekuensi yang muncul di display dicatat. Setelah didapatkan hasil pengukurannya, dibandingkan antara sebelum kerja dan setelah bekerja. Contohnya, pada tenaga kerja I didapatkan rata-rata hasil pengukuran sebelum bekerja adalah 38 Hz dan rata-rata hasil pengukuran setelah bekerja adalah 40 Hz. Tenaga kerja I tidak mengalami kelelahan karena kemampuannya dalam melihat sumber cahaya berkedip meningkat, tidak mengalami penurunan. Contoh pada tenaga kerja II didapatkan rata-rata hasil pengukuran sebelum bekerja adalah 37 Hz dan rata-rata hasil pengukuran setelah bekerja adalah 35 Hz. Tenaga kerja II mengalami kelelahan karena kemampuannya dalam melihat sumber cahaya berkedip menurun.
Pengukuran sebelum kerja dilakukan sesaat sebelum bekerja, yaitu dimulai pukul 05:30 dan setelah bekerja dilakukan pengukuran pukul 14:00. Tenaga kerja dibagi menjadi dua kelompok, hari pertama terdiri dari 20 orang dan hari berikutnya terdiri dari 15 orang. Berdasarkan hasil pengukuran Flicker Fusion terhadap 35 orang tenaga kerja, menunjukkan bahwa terdapat 20 orang (57,1%) yang mengalami kelelahan kerja. Responden yang tidak mengalami kelelahan kerja sebanyak 15 orang (42,9%).
Proses kerja pemetik teh yang menggunakan gunting yaitu melakukan pengguntingan daun teh dengan menggunakan gunting yang telah dirancang khusus oleh pemetik itu sendiri dan kemudian hasilnya akan diletakkan di
keranjang yang berada di punggungnya. Isi dari keranjang tersebut adalah sekitar 25 kg daun teh. Dalam sehari, mereka menghasilkan daun teh minimal sebanyak 2-3 keranjang atau seberat 60 kg per hari per orang. Pemetikan teh dengan menggunakan gunting ini sangat membutuhkan ketelitian mata, konsentrasi yang tinggi serta daya fikir.
Dengan pola kerja seperti itu, pemetik teh mengeluhkan lelah setiap selesai bekerja. Bekerja yang lebih banyak melibatkan intensitas kontraksi otot dan dalam keadaan anaerob akan lebih cepat menimbulkan kelelahan karena asam laktat meningkat dan glukogen sebagai salah satu sumber energi tubuh cepat berkurang. Hal ini sebagaimana menurut Niels (dalam Santoso, 2013) bahwa dalam keadaan anaerob, tubuh menghasilkan asam laktat sehingga menimbulkan rasa lelah dan dalam hal ini glukogen dalam otot berkurang. Beberapa bentuk kelelahan yang terjadi pada dunia kerja merupakan suatu kondisi kronis ilmiah. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh suatu sebab tunggal seperti terlalu kerasnya beban kerja, namun juga oleh tekanan-tekanan yang terakumulasi setiap harinya pada suatu masa yang panjang (Ramadhani, 2003).
Dalam bekerja, harus dicari posisi alamiah atau posisi fisiologis agar tidak banyak melibatkan intensitas kontraksi otot, tidak mudah lelah, dan produktivitas kerja dapat meningkat. Bagi pekerja pemetik teh ini, tentu diperlukan kesiapan fisik, mental, dan kondisi lingkungan kerja yang baik. Karena jika tidak, kelelahan kerja dapat terjadi setiap saat dan dapat mengganggu kinerja pekerja yang nantinya mungkin akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja pada perusahaan tersebut.
5.3 Produktivitas Kerja
Secara umum, produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang atau jasa) dengan masukan yang sebenarnya atau dengan kata lain diartikan sebagai ukuran efisiensi produktif, perbandingan antara hasil input dan output (Sinungan, 2008). Input sering dibatasi dengan input tenaga kerja, sedangkan output diukur dalam kesatuan fisik bentuk dan nilai. Secara teknis produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dan keseluruhan sumber daya yang dipergunakan, sedangkan produktivitas tenaga kerja adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan pasar tenaga kerja per satuan waktu dan sebagai tolak ukur jika ekspansi dan aktivitas dari sikap sumber yang digunakan selama produktivitas berlangsung dengan membandingkan jumlah yang dihasilkan dengan setiap sumber yang digunakan. Jadi produktivitas kerja adalah ukuran yang menunjukkan pertimbangan antara input dan output yang dikeluarkan perusahaan serta peran tenaga kerja yang dimiliki per satuan waktu (Sunyoto, 2013).
Produktivitas kerja akan selalu dikaitkan dengan pengertian efektifitas dan efisiensi kerja. Produktivitas sering didefinisikan dengan efisiensi dalam arti suatu rasio antara keluaran (output) dan masukan (input). Rasio keluaran dan masukan ini dapat juga digunakan untuk menghampiri usaha yang dilakukan oleh manusia. Sebagai ukuran efisiensi atau produktivitas kerja manusia, maka rasio tersebut umumnya berbentuk keluaran yang dihasilkan oleh aktivitas kerja dibagi dengan
jam kerja (man hours) yang dikontribusikan sebagai sumber masukan dengan rupiah atau unit ptoduksi lainnya (Wignjosoebroto, 2008).
Produktivitas kerja pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Kebun Bah Butong dihitung dari jumlah daun teh yang dihasilkan oleh pemetik teh yang menggunakan gunting per hari per orang, yaitu 60 kg. Berdasarkan hasil penelitian produktivitas kerja pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014, menunjukan bahwa sebanyak 25 orang (71,4%) produktivitasnya sesuai dan sebanyak 10 orang (28,6%) produktivitasnya tidak sesuai. Produktivitas nantinya akan dikaitkan dengan adanya kelelahan kerja yang dialami oleh pemetik teh.
Produktivitas kerja yang tidak sesuai dapat disebabkan oleh kelelahan kerja yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Kelelahan mental dan fisik merupakan hal yang sangat penting untuk menjadi perhatian karena keadaan mental dan fisik yang lelah mempunyai hubungan yang erat dengan produktivitas kerja. Semakin tinggi tingkat kelelahan kerja fisik dan mental maka semakin dapat menurunkan produktivitas (Sedarmayanti, 2009).
5.4 Hubungan Kelelahan Kerja dengan Produktivitas Kerja
Terdapat keterkaitan yang erat antara kelelahan yang dialami oleh tenaga kerja dengan kinerja perusahaan. Apabila tingkat produktivitas seorang tenaga kerja terganggu yang disebabkan oleh faktor kelelahan fisik maupun psikis, maka akibat yang ditimbulkannya akan dirasakan oleh perusahaan berupa penurunan produktivitas perusahaan. Tenaga kerja sebagai aset investasi perusahaan perlu
dikelola dengan baik dan benar, antara lain dengan memperhatikan faktor-faktor kemungkinan timbulnya kelelahan (Ramadhani, 2003).
Pada hasil uji Exact Fisher antara kelelahan kerja berdasarkan pengukuran Flicker Fusion dengan produktivitas kerja dapat diketahui nilai p = 0,022 dimana p < 0,05 artinya ada hubungan antara kelelahan kerja berdasarkan pengukuran Flicker Fusion dengan produktivitas kerja pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kelelahan kerja diikuti dengan penurunan produktivitas tenaga kerja atau sebaliknya, yaitu penurunan kelelahan kerja yang diikuti dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muizzudin (2013) di industri kain tenun PT. Alkatex Tegal. Dari hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mengalami kelelahan kerja ringan sebagian besar produktivitas kerjanya sesuai dengan target produksi, yaitu sebesar 42,9% (12 orang). Responden yang mengalami kelelahan kerja sedang dan kelelahan kerja berat sebagian besar produktivitasnya tidak sesuai dengan target produksi perusahaan, yaitu juga sebesar 42,9% (12 orang). Berdasarkan hasil tabulasi silang diketahui bahwa terdapat hubungan antara kelelahan kerja dengan produktivitas kerja pada tenaga kerja bagian tenun di PT. ALKATEX Tegal yaitu dengan nilai p sebesar 0,001. Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan produktivitas kerja.
Hasil penelitian juga sesuai dengan penelitian Hasibuan (2010). Terdapat 28 orang (59,6%) perawat yang mengalami kelelahan dan 19 orang (40,4%)
perawat yang tidak mengalami kelelahan sedangkan produktivitas kerja yang tidak sesuai sebanyak 33 orang (70,2%) dan produktivitas yang sesuai sebanyak 14 orang (29,8%). Berdasarkan uji statistik didapatkan yaitu nilai p sebesar 0,006 yang berarti probabilitas lebih kecil dari 0,05 (0,006 < 0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti terdapat hubungan antara kelelahan kerja dengan produktivitas kerja perawat di ruang rawat inap RSU Dr. Tengku Mansyur Tanjung Balai
Hasil penelitian oleh Roshadi (2014) menyatakan terdapat hubungan yang negatif dan signifikan dari kelelahan kerja karyawan terhadap produktivitas kerja karyawan. Korelasi negatif ini menunjukkan hubungan variabel kelelahan kerja dan produktivitas kerja berlawanan, artinya apabila kelelahan kerja meningkat maka produktivitas kerja akan menurun. Kelelahan kerja berpengaruh sebesar 20,8 % terhadap produktivitas kerja, dan sisanya 79,2 % produktivitas kerja dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti umur, tempramen, motivasi, serta faktor eksternal seperti kondisi fisik pekerjaan, lingkungan sosial, dan upah.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan pernyataan Grandjean yaitu kelelahan kerja merupakan suatu kelompok gejala yang berhubungan dengan penurunan kesiagapan, kapasitas, dan efisiensi kerja, keterampilan, motivasi serta peningkatan kecemasana atau kebosanan yang dapat berakibat pada peningkatan kesalahan kerja, ketidakhadiran, keluar kerja, kecelakaan kerja, dan penurunan produktivitas kerja (Ambar, 2006).
Dengan peningkatan kinerja organisasi melalui penanganan tata cara kerja yang ergonomis adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas,
khususnya apabila organisasi tersebut tidak memiliki tambahan dana investasi. Oleh karena itu, perbaikan terhadap sistem kerja, rancangan piranti kerja dan faktor-faktor fisik serta lingkungan kerja harus segera dilakukan sehingga tercipta suasana lingkungan kerja yang aman, nyaman, sehat dan kondusif (Ramadhani, 2003).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Kebun Bah Butong tahun 2014, dapat disimpulkan sebagai berikut.
a. Kelelahan kerja pada 35 orang pemetik teh menunjukan bahwa terdapat 20 orang (57,1%) mengalami kelelahan kerja dan 15 orang (42,9%) tidak mengalami kelelahan kerja berdasarkan pengukuran alat Flicker Fusion di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014.
b. Produktivitas kerja pada 35 orang pemetik teh menunjukan bahwa terdapat 25 orang (71,4%) produktivitas sesuai dan terdapat 10 orang (28,6%) yang produktivitas tidak sesuai di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014.
c. Ada hubungan yang bermakna antara kelelahan kerja berdasarkan pengukuran alat Flicker Fusion dengan produktivitas kerja di PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong tahun 2014.
6.2 Saran
1) Bagi Pemetik Teh
a. Kelelahan kerja dapat meningkatkan risiko terjadinya kesalahan, kecelakaan dan cedera maka pekerja sebaiknya dapat mengelola
kelelahan kerja yang dialaminya misalnya dengan istirahat dan tidur yang cukup (pengaturan waktu tidur dan terjaga).
a. Peningkatan produktivitas kerja sangat penting oleh karena itu harus diikuti dengan peningkatan kualitas terutama gizi dan kesehatan, misalnya dengan pemenuhan zat gizi dengan cara penyediaan makanan oleh perusahaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi pekerja. 2) Bagi Perusahaan
a. Perusahaan perlu mengidentifikasi secara berkala pekerja mana yang memiliki resiko yang disebabkan oleh beban kerja yang mengarah pada timbulnya kelelahan yang berlebihan agar dapat ditindak lanjuti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kelelahan Kerja
Kelelahan (fatigue) adalah suatu kondisi yang telah dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kelelahan mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan, walaupun ini bukan satu-satunya gejala. Secara umum, gejala kelelahan yang lebih dekat adalah pada pengertian kelelahan fisik (physical fatigue) dan kelelahan mental (mental fatigue). Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan otot (muscular fatigue) dan kelelahan umum (general fatigue). Kelelahan otot ditunjukkan melalui gejela sakit nyeri yang luar biasa seperti ketegangan otot dan daerah sekitar sendi. Sebaliknya kelelahan umum terlihat pada munculnya sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk melakukan aktivitas (Budiono, 2003).
Menurut Suma’mur (2009), kata lelah (fatigue) menunjukkan keadaan tubuh fisik dan mental yang berbeda tetapi semuanya berakibat kepada penurunan daya kerja dan berkurangnya ketahanan tubuh untuk bekerja. Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan kelelahan umum. Kelelahan otot ditandai antara lain oleh tremor atau rasa nyeri yang terdapat pada otot. Kelelahan umum ditunjukkan oleh hilangnya kemauan untuk bekerja yang penyebabnya adalah keadaan persarafan sentral atau kondisi psikis-psikologis. Akar masalah kelelahan umum adalah monotonnya pekerjaan, intensitas dan lamanya kerja mental serta fisik yang tidak sejalan dengan kehendak tenaga kerja yang
bersangkutan, keadaan lingkungan yang berbeda dari estimasi semula, tidak jelasnya tanggung jawab, kekhawatiran yang mendalam dan konflik batin serta kondisi sakit yang diderita oleh tenaga kerja. Pengaruh dari keadaan yang menjadi sebab kelelahan tersebut seperti berkumpul dalam tubuh dan mengakibatkan perasaan lelah. Perasaan lelah demikian yang berkadar tinggi dapat menyebabkan seseorang tidak mampu lagi bekerja sehingga berhenti bekerja sebagaimana halnya kelelahan fisiologis yang mengakibatkan tenaga yang bekerja fisik menghentikan kegiatannya karena merasa lelah bahkan yang bersangkutan tertidur karena kelelahan.
Menurut Soedirman dan Suma’mur (2014), kelelahan didefinisikan
sebagai suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada setiap individu yang telah tidak sanggup lagi untuk melakukan aktivitasnya.
Kelelahan (kelesuan) adalah perasaan subjektif tetapi berbeda dengan kelemahan dan memiliki sifat bertahap. Tidak seperti kelemahan, kelalahan dapat diatasi dengan periode istirahat. Kelelahan dapat disebabkan secara fisik dan mental. Kelelahan fisik atau kelelahan otot adalah ketidakmampuan fisik sementara otot untuk tampil maksimal. Permulaan kelelahan otot selama aktivitas fisik secara bertahap, dan bergantung pada tingkat kebugaran fisik individu dan juga pada faktor-faktor lain seperti kurang tidur dan kesehatan secara keseluruhan. Hal ini dapat diperbaiki dengan istirahat. Kelelahan mental adalah ketidakmampuan sementara untuk mempertahankan kinerja kognitif yang optimal. Permulaan kelelahan mental selama kegiatan kognitif yang optimal. Permulaan kelelahan mental selama kegiatan kognitif secara bertahap dan bergantung pada
kemampuan kognitif seseorang dan juga pada faktor-faktor lain seperti kurang tidur dan kesehatan secara keseluruhan. Kelelahan mental juga telah terbukti menurunkan kinerja fisik. Hal ini dapat bermanifestasi sebagai mengantuk, lesu, atau diarahkan kelelahan perhatian (Kuswana, 2014).
Kelelahan kerja termasuk suatu kelompok gejala yang berhubungan dengan adanya penurunan efisiensi kerja, keterampilan serta peningkatan kecemasan atau kebosanan. Kelelahan kerja ditandai oleh adanya perasaan lelah, output menurun, dan kondisi fisiologis yang dihasilkan dari aktivitas yang berlebihan. Kelelahan akibat kerja juga sering kali diartikan sebagai menurunnya