(SEBUAH KAJIAN PSIKOLINGUISTIK) Muhammad Doni Sanjaya
B. KELAINAN ANAK
3.2. Deskripsi Hasil Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengecek hal-hal yang dianggap masih belum jelas dalam tidakan observasi. Di samping untuk keperluan tersebut, wawancara juga dilaksanakan untuk memperjelas serta melengkapi data yang diharapkan. Deskripsi hasil wawancara ini menggambarkan jawaban dari guru beserta orang tua Nanda dalam upaya-upayanya menangani kelainan yang dialami Nanda, yakni siswa kelas VI SDLB tempat peneliti mengambil data penelitian. Deskrpsi hasil wawancara ini membahas tentang beberapa hal, antara lain sebagai berikut : (1) metode yang digunakan guru dalam memberikan materi pelajaran kepada anak yang mengalami gangguan perilaku, interaksi sosial dan keterlambatan bicara (Nanda) di SLB Negeri Baturaja, (2) alasan guru menggunakan metode tersebut dalam
Prosiding Seminar Nasional Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Baturaja bicara, baik dari aspek menyimak, membaca, menulis, ataupun berbicaranya, (3) sejarah atau gejala awal kelainan yang dialami Nanda, (4) upaya orang tua dalam menangani perilaku, interaksi sosial dan keterlambatan atau gangguan bicara yang dialami oleh Nanda. Berikut ini akan dijabarkan secara satu per satu mengenai hal-hal diperoleh saat melakukan wawancara.
3.2.1. Metode yang Digunakan Guru dalam Mengatasi Anak dengan Gangguan Perilaku, Interaksi Sosial dan Keterlambatan Bicaranya
Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada Bapak Aria Puja Kusuma selaku guru kelas yang mengajar di kelas VI SLB Negeri Baturaja, dapat diketahui bahwa beliau telah menangani anak dengan keterlambatan atau gangguan bicara sejak tahun 1991 yang semula menjadi guru honor di SLB Baturaja. Berdasarkan pengalaman yang telah bertahun-tahun menjadi guru di SLB, beliau memiliki kiat-kiat atau metode dalam menangani anak dengan berbagai ragam gangguan perilaku, interaksi sosial dan keterlambatan bicara (bahasa) seperti yang dialami Nanda. Gangguan perilaku pada Nanda ini guru membaginya menjadi dua macam yaitu gangguan perilaku sosial dan gangguan komunikasi. Untuk mengatasi kedua gangguan tersebut guru menggunakan metode memberikan perhatian khusus pada ekspresi sosial mereka seperti menjerit, menangis, atau tertawa yang sedalam-dalamnya, tidak memaksakan kehendak guru dalam mengubah perubahan sosial dalam lingkungan anak-anak autis karena anak-anak autis lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh; mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furniture di dalam kelas berubah dari semula, memperlihatkan perilaku positif yang dapat merangsang dirinya anak-anak autis sendiri seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping) mengayun-ayun tangan ke depan dan ke belakang.
Sementara metode yang digunakan guru SLB Negeri Baturaja dalam menangani perilaku komunikasi pada anak autis adalah berlatih dan belajar bahasa yang termasuk ke dalam pembentukan kata-kata, belajar aturan-aturan untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat dan mengetahui maksud atau suatu alasan menggunakan bahasa, melatih dan mengajarkan bentuk komunikasi yang dapat dilakukan secara verbal dan non verbal. Seperti dapat dijalin melalui gerakan tubuh, melalui isyarat atau dengan menunjukkan gambar atau kata-kata, mengaktifkan tindakan komunikatif seperti menjawab orang lain, mengomentari sesuatu, mengungkapkan perasaan atau menggunakan etika sosial dalam pengucapan terimakasih atau meminta maaf.
Dilain pihak upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi interaksi sosial Nanda adalah melakukan terapi bermain (melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain), menjembatani instruksi antara guru dan anak, mengendalikan perilaku anak di kelas, membantu anak untuk tetap berkonsentrasi, membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya dan menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran di kelasnya.
Sementara disatu sisi upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi keterlambatan bicara (bahasa), yakni dengan menggunakan bahasa yang sederhana dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga anak dapat menangkap apa yang kita sampaikan. Keterbatasan ingatan pada otak anak, khususnya Nanda merupakan salah satu faktor penghambat daya serap otaknya sehingga perlu secara perlahan dalam menanganinya. Disisi lain juga, anak seperti Nanda tidak bisa diberi beban pikiran yang berlebih, karena dapat menghambat sistem perkembangan otaknya yang dapat juga berpengaruh pada keinginannya untuk belajar. Jika ia merasa guru terlalu cepat mengajar atau bahasanya terlalu sulit diserap, maka ia akan acuh kepada pelajaran. Namun, sebaliknya jika guru mangajar dengan bahasa yang santai dan sederhana, maka ia akan dapat dengan antusias memerhatikan gurunya.
Selain itu juga dapat digunakan bahasa yang singkat dan padat, kemudian dilihat perkembangan anak. Jika sang anak dirasa belum mengerti, maka digunakanlah bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pembelajaran sampai anak benar-benar mengerti dengan apa yang dimaksud. Setelah itu, dilanjutkan kembali penyampaian materi dengan bahasa Indonesia atau dengan memasukan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit.
3.2.2. Alasan Guru Menggunakan Metode yang Dipilih
Alasan guru menggunakan cara atau metode-metode di atas ialah agar sang anak mudah memahami apa yang ingin kita sampaikan kepadanya. Menurut Bapak Aria Puja Kusuma, melalui metode tersebut, sang anak telah dapat menunjukkan perkembangannya dan memahami materi yang diajarkan. Hal terpenting yang tidak bisa dilupakan adalah kesabaran. Melalui penyampaian materi dengan bahasa ibu yang kemudian disisipkan secara perlahan bahasa Indonesia, sang anak menunjukkan ketertarikannya terhadap guru dan apa yang diajarkan. Oleh karena itu, metode tersebut terbukti ampuh dalam mendekati anak dengan keterlambatan bicaranya.
Anak yang mengalami keterlambatan bicara, menyimak, menulis, maupun membaca seperti yang dialami Nanda tersebut tidak bisa dipaksakan untuk cepat mengerti dengan apa
Prosiding Seminar Nasional Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Baturaja sederhana sehingga dipilihlah metode dengan menggunakan bahasa yang fleksibel atau sederhana pula. Jadi, sang anak akan dapat memahami dan mengembangkan materi pelajaran yang disampaikan guru.
3.2.3. Sejarah atau Gejala Awal Kelainan yang Dialami Nanda
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Suparman, yakni Bapak dari Nanda, dikatakan bahwa gejala awal anak autis tidak mau berbicara atau sulit bicara disebabkan oleh step/panas pada badan yang berlebihan, jatuh atau kecelakaan, trauma dengan sesuatu hal seperti sering dikucilkan dalam pergaulan dengan kawan sebayanya. Beberapa faktor tersebut menyebabkan anak menjadi autis yang ditandai dengan atau sering berbuat yang aneh-aneh, sukar diajak bicara kecuali dengan orang-orang tertentu, berbicara hanya sepatah dua patah kalimat, mudah bosan dengan kata-kata yang selalu berulang-ulang dan terkadang hiperaktif dan memiliki banyak tingkah laku.
3.2.4. Upaya Orang Tua dalam Menangani Gangguan Perilaku, Interaksi Sosial dan Keterlambatan atau Gangguan Bicara (bahasa) yang Dialami Oleh Nanda
Upaya yang pernah dilakukan orang tua Nanda ialah membawanya kedokter dengan cara penanganan yang sesuai dengan kondisi anak karena tidak setiap anak membutuhkan cara penanganan yang sama, mengupayakan model perkembangan, pembelajaran terstruktur, terapi bicara dan bahasa, terapi keterampilan sosial, memberikan stimulasi 2 arah, mengaktifkan berbicara pada anak dan memberikan dorongan pada anak sehingga anak mau bertanya, mengajak bermain dan mendengarkan anak, lebih mengaktifkan kegiatan yang mengolah pola pikirnya seperti bila menjelang tidur dibacakan cerita, menunjukan benda pada saat mengajarkan suatu nama benda, mengajarkan lagu yang disukai dan lain sebagainya.
3.3. Langkah-langkah Penanganan Terhadap Gangguan Perilaku, Interaksi Sosial dan