BAB IV PEMBAHASAN
IV.2.1 Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian
INFORMAN 1 JASINDA (XIN ER)
Sebagai warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, Jasinda tentu mempunyai nama Tionghoa yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Untuk nama Tionghoa yang di milikinya, Jasinda mampu memberikan pemaknaan terhadap nama Tionghoanya tersebut.
“Nama Tionghoa aku itu tuh, Xin Er. Kalo artinya hati matahari atau cahaya matahari. Orangtua aku pengen aku kayak matahari selalu terang. Hehee”2
Jasinda mampu mengenali identitas etnisnya, dari mana ia berasal dan dimana seharusnya ia berada berdasarkan wujud fisik yang dimilikinya.
“Kalo dilihat dari fisik saya, orang tahu kalo saya orang China, dan saya juga menganggap seharusnya saya itu memang jadi bagian dari orang-orang di Negara China sana, tetapi karena saya lahir dan besar di Medan, ya saya jadi bagian negara inilah bang, bukan negara China itu”.3
Menjadi etnis Tionghoa beragama Buddha, merupakan identitas utama yang ia miliki, karena etnis Tionghoa itu umumnya dikenal dengan masyarakat kulit putih bermata sipit yang beragama Buddha.
Identitas etnis Tionghoa yang selanjutnya ada pada Jasinda adalah pekerjaan orangtuanya. Ibunya merupakan seorang wiraswasta, sama halnya dengan pekerjaan warga Tionghoa pada umumnya, dan ini menunjukkan salah satu identitas etnis yang di tonjolkannya dalam kategori pekerjaan orangtua.
Mengenai nilai-nilai yang dimiliki sebagai seorang etnis Tionghoa, Jasi menjelaskan bahwa sebagai seorang etnis Tionghoa, nilai-nilai yang ia pegang adalah nilai-nilai tradisi seperti cara berpakaian dan cara berbicara, yang mana keduanya harus sopan dan santun. Menurut Jasi, etnis Tionghoa itu akan terlihat menonjol dari cara berpakaiannya yang sopan dan cara berbicaranya yang santun, bukan dari warna kulitnya yang putih ataupun bola matanya yang kecil alias sipit.
Sebagai etnis Tionghoa yang ber-studi di kampus yang mayoritas mahasiswa nya pribumi, penting bagi Jasi untuk menunjukkan identitas etnis dirinya sebagai seorang etnis Tionghoa. Bagi Jasi cara yang paling sering ia lakukan adalah dengan berperilaku yang baik kepada semua orang supaya hal itu juga dapat berpengaruh terhadap pandangan orang akan etnis nya.
“Untuk perilaku, saya harus menunjukkan sikap yang baik kesemua orang yang saya temui, karena kalo saya bersikap baik kan pasti image saya di mata orang itu akan baik, dan itu akan berpengaruh pula pada pandangan orang terhadap etnis saya.”4
Ketika peneliti menanyakan apakah jika di beri kesempatan untuk jadi etnis lain, apakah Jasi ingin berpindah menjadi etnis lain atau akan tetap menjadi seorang Tionghoa, Jasi menjawab bahwa ia mempunyai keinginan untuk menjadi etnis lain, menjadi bagian dari orang-orang Barat. Ia menganggap bahwa orang-orang Barat itu segala sesuatu nya lebih bebas dan lebih maju, di bandingkan orang-orang Asia. Tetapi itu hanya keinginan, khalayan yang belum tentu bisa terjadi. Jasi mengatakan seperti itu karena di dalam ajaran agama nya ada ajaran yang mengatakan bahwa mereka bisa terlahir kembali. Nah, karena itu lah Jasi ingin menjadi bagian dari kehidupan yang lain. Tetapi menjadi etnis
Tionghoa tetap menjadi hal yang harus Jasi syukuri sekarang dan harus di cintai dan di jaga.
“Saya ingin menjadi orang barat, karena lebih bebas dan lebih maju hahahaa. Saya hanya ingin menjadi sesuatu yang beda aja dari sekarang. Karena di agama kami kan, terlahir kembali itu ada, dan saya ingin jadi diri saya yang lain.”5
Untuk menambah kecintaanya terhadap etnis Tionghoa, Jasi juga ikut bergabung dengan suatu kegiatan organisasi kampus yaitu Keluarga Mahasiswa Buddhist (KMB). Organisasi yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswi Tionghoa beragama Buddha dari seluruh Fakultas di Universitas Sumatera Utara. Organisasi ini tidak hanya beranggotan etnis Tionghoa dari 1 golongan status sosial saja, melainkan dari berbagai golongan status sosial. Tetapi karena memang mayoritas status sosial sebagian besar mahasiswa Tionghoa adalah keluarga wiraswasta atau pedagang, jadi terlihat seolah-olah yang menjadi anggota dari organisasi itu adalah mereka yang dari keluarga pedagang saja.
Perihal harapan mengenai masa depan etnis Tionghoa, Jasi menanggapi nya dengan bijaksana. Jasi menginginkan masa depan yang cerah bagi semua etnis Tionghoa, serta kedepannya etnis Tionghoa juga mempunyai visi dan misi yang lebih baik lagi. Menurutnya, nilai-nilai Tionghoa sekarang ini sudah mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Sama hal nya juga seperti nilai-nilai yang di miliki oleh etnis-etnis lainnya yang ada di Indonesia.
Untuk makna dari identitas etnis sendiri bagi Jasi, Jasi memaknai nya sebagai pegangan atau nilai, dan identitas tersebut tentu nya akan sangat penting, khususnya untuk dapat membedakan dirinya dengan yang lain. Jasi menambahi, identitas etnis bermakna sebagai ciri khas bagi setiap etnis Tionghoa, khususnya bagi dirinya, memiliki kebudayaan, tradisi, dan adat-istiadat yang beraneka-ragam.
“Yaa menjadi ciri khas bagi setiap etnis Tionghoa, memiliki kebudayaan, tradisi, dan adat-istiadat yang beraneka-ragam. Jadi saya harus banggalah dengan etnis saya.”6
Kesimpulan Kasus:
Secara umum, dapat dikatakan bahwa Jasi memiliki identitas etnis yang cukup tinggi. Ia mampu memaknai nama Tionghoa yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Ia mampu mengenali daerah daratan China sebagai tempat etnisnya berasal. Ia menganggap agama Buddha sebagai pengenal identitas etnisnya. Pekerjaan orangtua sebagai wiraswasta dan pegawai swasta juga menjadi salah satu penambah identitas etnis yang ia miliki. Ia menganggap sebagai etnis Tionghoa, ia harus menjaga serta mensyukuri apa yang telah diberikan kepadanya, meskipun pada kenyataannya Jasi mempunyai keinginan untuk dilahirkan kembali menjadi bagian dari etnis lain, tetapi itu hanyalah sebatas keinginan kedua yang memang ada di dalam ajaran agama nya. Tetapi pada dasarnya, Jasi tetap bangga menjadi bagian dari etnis Tionghoa.
Perihal identitas etnisnya, Jasi yakin dapat mengenali in-group nya, dan tentunya itu dapat membuktikan bahwa Jasi mampu mengenali etnisnya sendiri dan mampu mengenali perbedaan yang ada di antara kelompok etnis Tionghoa dengan kelompok mahasiswa pribumi. Untuk sikap sense of belonging dan komitmen Jasi terbilang cukup tinggi, tetapi Jasi belum mempunyai pemahaman perihal kecintaannya tersebut. Jasi hanya sekedar mengatakan bahwa ia bangga menjadi seorang etnis Tionghoa, tetapi ia tidak mengatakan dengan jelas alasan perihal kecintaannya tersebut.
INFORMAN 2 Mimi R.G (Li Zia)
Mimi Regina Gunawan, atau yang di kenal dengan Mimi, mempunyai nama Tionghoa, Li Zia. Ia tidak mampu memberikan pemaknaan terhadap makna nama Tionghoa yang ada pada dirinya. Menurutnya, nama Tionghoa yang ia sandang memang tidak mempunyai arti. Ia menganggap bahwa nama Tionghoa itu juga sama seperti nama- nama Indonesia yang juga tidak mempunyai arti, meskipun terdengar bagus.
Menurut Mimi, nilai-nilai yang dimilikinya sebagai seorang etnis Tionghoa itu terlihat jelas melekat pada perilakunya yang merupakan cerminan dari tradisi dan kebudayaan Tionghoa, seperti bersopan-santun kepada semua orang, menghormati kedua orangtua, dosen-dosen, teman-teman yang berbeda tradisi dan kebudayaan, dan lain-lain.
“Nilai yang melekat pada saya memang dapat dilihat dari perilaku saya, dan perilaku saya merupakan cerminan dari tradisi dan kebudayaan saya sebagai seorang etnis Tionghoa. Kebudayaan yang saya punya itu ya cara saya bersopan-santun kepada semua orang, menghormati kedua orangtua, dosen-dosen, teman-teman yang berbeda tradisi dan kebudayaan, dan lain-lain nya lah.”7
Mimi mengatakan bahwa tradisi Tionghoa itu berasal dari tradisi Buddha. Meskipun Mimi beragama Protestan, tetapi nilai-nilai Buddha itu tetap ada di dalam tradisi. Salah satunya yaitu menghidupkan dupa di depan halaman rumah dan ruko tempat kerja.
Mimi lebih lanjut menambahkan perihal identitas etnis Tionghoa,
“Etnis Tionghoa cenderung bersikap resolusi terhadap etnis, dan itu membuat etnis Tionghoa mengerti bagaimana perasaan terhadap etnis dan menyukai kehidupan serta budaya etnis Tionghoa, karena 100 % dari mahasiswa etnis Tionghoa pasti menyatakan kadang-kadang dan tidak pernah pada pernyataan ”Saya tidak mengerti
bagaimana perasaan saya terhadap etnis Tionghoa”, atau “Saya tidak suka hidup saya dipengaruhi oleh budaya etnis Tionghoa”.8
Jadi, dalam hal ini wujud konkret yang dilakukan Mimi untuk menunjukkan identitas etnis Tionghoa mereka, yaitu dengan menunjukkan citra baik kepada siapa saja dan bersembahyang sebagai kaum yang bersopan santun dan menjalankan nilai-nilai Buddha. Mimi juga menambahkan, sebagai seorang etnis Tionghoa yang berstudi di kampus pribumi, Mimi harus mampu menjadi diri sendiri, tetapi tetap memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang harus dan akan terjadi di dalamnya.
Mimi mengatakan bahwa menjadi seorang Tionghoa itu adalah sebuah keunikan tersendiri baginya, dan jika dilahirkan kembali, Mimi tetap akan memilih terlahir sebagai etnis Tionghoa, karena Mimi mengatakan bahwa dirinya sudah nyaman dengan etnis ini.
Bayangan Mimi perihal masa depan etnis Tionghoa ke depannya akan kekal sepanjang masa. Mimi berharap etnis Tionghoa untuk lebih menjadi kelompok yang berbudaya, dengan itu etnis Tionghoa beserta budaya nya akan terlihat lebih besar lagi oleh budaya lainnya.
Mengenai sikap sense of belonging yang identik ada pada setiap etnis, Mimi mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu penganut asumsi seperti itu. Meskipun hidup dan bergaul dengan berbagai etnis, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya akan tetap mencari dan menomor satukan etnis nya dimanapun ia berada. Mimi mengatakan bahwa identitas etnis Tionghoa itu merupakan jati dirinya sebagai manusia. Ia yang kebetulan terlahir sebagai seorang keturunan Tionghoa, yang mempunyai kebudayaan, tradisi, serta adat-istiadat yang beraneka ragam, dan Mimi tentunya bangga dengan semua itu.
“Identitas etnis Tionghoa bermakna, jati diri saya sebagai manusia yang kebetulan dilahirkan sebagai seorang Tionghoa yang berkebudayaan, tradisi, dan adat-istiadat yang beranekaragam, dan saya harus bangga dan mensyukurinya.”9
Kesimpulan Kasus:
Mimi memiliki nilai-nilai identitas etnis yang cukup tinggi. Mimi mampu mengenali in group maupun out group nya. Komitmen dan rasa sense of belonging nya terhadap kelompok etnis nya juga sangat tinggi, dan hal tersebut mampu mendorongnya sering terlibat dalam aktivitas kelompok. Mimi juga memahami akan rasa kecintaannya tersebut pada kelompok dan budayanya sebagai suatu hal yang mendorongnya untuk tetap mempertahankan nilai-nilai Tionghoa yang dimilikinya dan Mimi juga mampu memberikan harapan-harapan positif untuk masa depan etnis Tionghoa ke depannya.
Identitas etnis yang cukup tinggi tidak menjadikan Mimi sebagai seorang etnis yang etnosentris. Tidak ada masalah mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya nya dengan mahasiswa pribumi. Mimi tidak merasakan adanya kecemasan karena perbedaan budaya khususnya perbedaan nilai-nilai.
INFORMAN 3
KRISNAWATI (GOH LIE YUNG)
Identitas etnis utama yang di miliki oleh Krisna adalah nama Tionghoa. Mempunyai nama Tionghoa, Goh Lie Yung menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Meskipun tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa, tetapi nama tersebut mampu memberikan pemaknaan terhadap identitas etnisnya sebagai etnis Tionghoa.
Krisna sebagai informan kedua menjelaskan bahwa nilai-nilai yang ia miliki sebagai etnis Tionghoa itu, nilai kesopanan dan nilai-nilai agama. Salah satu nya yaitu bersembahyang, sebagai seorang Buddist yang taat. Bersembahyang akan dapat menunjukkan identitas nya sebagai etnis Tionghoa yang taat kepada agama dan tradisi, begitu penuturannya.
“Ohh, nilai kesopanan dan agama. Misalnya bersembahyang. Sembahyang menunjukkan identitas saya sebagai seorang Tionghoa yang taat kepada agama dan tradisi.”10
Krisna menuturkan bahwa memang etnis Tionghoa itu identik dengan agama Buddha, jadi orang Tionghoa biasanya membawa nilai-nilai Buddha.
Jika dilahirkan kembali, Krisna memilih untuk terlahir kembali menjadi etnis lain, menjadi orang dari bagian barat. Pernyataan Krisna ini tentunya diiringi oleh alasannya. Jasi mengatakan bahwa tujuannya ia ingin lebih mengenal kebudayaan dari etnis lain. Krisna membayangkan perihal maha depan etnis Tionghoa untuk lebih maju dari sekarang, dan etnis Tionghoa semakin banyak komunitasnya di seluruh dunia.
Jasi mampu mengenali perbedaan identitas etnis Tionghoa asli dengan identitas etnis Tionghoa peranakan. Perbedaan identitas etnis tersebut berhubungan dengan ciri fisik kedua kelompok tersebut. Tubuh merupakan unsur pokok yang paling jelas terlihat dalam identifikasi. Tubuh adalah unsur biologis yang tidak dapat dibantah, diperoleh sebagai warisan yang paling penting.
“Pada mahasiswa etnis Tionghoa asli ciri fisik masih sangat terlihat karena berasal dari orang tua yang memiliki ciri fisik etnis Tionghoa yang jelas misal mata sipit, kulit putih dan rambut lurus, sedangkan pada mahasiswa etnis Tionghoa peranakan biasanya hanya mewariskan campuran dari ciri fisik etnis Tionghoa dan ciri fisik masyarakat Indonesia misal memiliki mata sipit dengan kulit coklat dengan rambut
lurus atau sebaliknya sehingga mahasiwa etnis Tionghoa peranakan lebih menyerupai masyarakat Indonesia asli”11.
Berdasarkan kriteria yang dilakukannya tersebut, Krisna merasa bahwa ia masih termasuk etnis Tionghoa asli, karena sesuai dengan kriteria-kriteria yang ia ucapkan tadi. Dalam keluarga juga tidak ada pernikahan campuran yang dilakukan dengan masyarakat pribumi.
Bagi Krisna, etnis Tionghoa itu adalah etnis yang ulet, pekerja keras dan bisa diandalkan. Etnis Tionghoa terkenal karena keuletannya. Oleh sebab itu pula etnis Tionghoa penuh dengan kesuksesan. Sebagai anak dari seorang pedagang, Krisna juga berniat untuk menerusi usaha keluarganya suatu saat nanti. Menurutnya menjadi seorang pedagang mempunyai kepuasan tersendiri akan hasil usaha yang di dapat. Sebagai anak dari seorang wiraswasta, Krisna tidak pernah membeda-bedakan teman dalam pergaulan sesama etnis. Tidak ada alasan buatnya untuk membeda-bedakan teman.
Kesimpulan Kasus:
Identitas etnis yang tinggi juga dimiliki oleh Krisna. Krisna mengakui bahwa dirinya tidak terlalu kaku dalam mengenali in-group nya. Rasa sense of belonging serta komitmen pada kelompok etnisnya juga sangat tinggi, dan tentu hal tersebut mendorong minatnya di dalam kelompok, dan oleh sebab itu ia sering terlibat dalam aktivitas kelompok seperti organisasi-organisasi ke-etnis-an yang ada di lingkungan kampus. Krisna juga memahami akan rasa kecintaannya pada kelompok budaya etnisnya sendiri dan menjadikannya untuk tetap mempertahankan nilai-nilai Tionghoa yang dimilikinya.
Krisna mampu memberikan pemaknaan terhadap perbedaan identitas etnis Tionghoa asli dengan etnis Tioghoa peranaka, dan ia menganggap bahwa ia termasuk pada golongan etnis Tionghoa asli, berdasarkan kriteria yang telah diutarakannya.
Dalam hal ini, Krisna juga memberikan harapan positif tentang masa depan etnis Tionghoa ke depannya. Krisna menginginkan masa depan yang lebih maju lagi bagi semua komunitas etnis Tionghoa di seluruh dunia. Krisna juga mampu memberikan evaluasi positif terhadap etnisnya, yaitu perihal ibadah dan cara melakukannya yang berbeda antara agama Islam dengan tradisi Buddha. Kecintaanya terhadap etnis Tionghoa ditambahinya dengan berspekulasi bahwa etnis Tionghoa itu adalah etnis yang pekerja keras, ulet. Oleh sebab itulah etnis Tionghoa di seluruh dunia itu maju.
INFORMAN 4
JOHN THEDY (YONG AN)
John, begitu ia di panggil, ketika ditanya mengenai nilai-nilai budaya Tionghoa yang dimilikinya, John hanya menjawab singkat.
“Nilai-nilai Tionghoa terkenal dengan nilai-nilai kemanusiaannya, keagamaan, sopan-santun, dan tata tertib”.12
Sama seperti nilai-nilai yang di anut oleh oleh timur pada umumnya. Menurutnya, nilai- nilai seperti itu kemungkinan juga dimiliki oleh etnis Tionghoa, dan kebungkinan tidak. Perbedaan fisik dengan masyarakat pribumi juga menjadi salah satu identitas etnis yang ada pada dirinya, sehingga menyebabkan ia merasa berbeda dengan mahasiswa etnis asli Indonesia dan timbul sikap afirmasi terhadap etnis dengan cara mencari orang yang sama dengan mereka, berkelompok dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan etnis mereka.
Misalnya sama-sama menjalankan upacara adat istiadat, melakukan ritual-ritual dan kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya dengan etnis mereka. Hal ini ditunjukkan dengan menyatakan tidak pernah pada pernyataan,
”Saya merasa terpaksa menjalankan adat istiadat, kebiasaan dan norma etnis Tionghoa dalam keluarga dan kehidupan saya”.13
Mempunyai nama Tionghoa, meskipun tidak dapat menyebutkan makna dari nama Tionghoanya tersebut dikarenakan tidak mempunyai arti sama sekali, tetapi ia merasa mempunyai kebanggan tersendiri perihal namanya tersebut, karena menjadi suatu identitas penting dalam dirinya sebagai etnis Tionghoa.
“Arti nama Tionghoa aku tuh nggak ada lah bang, memang nggak ada artinya lah. Hehehe. Hhhmm.. gimana ya? Memang nggak ada artinya. Tapi aku tetap bangga lah punya nama Tionghoa, selain keren kayak nama-nama orang Korea, aku jadi punya kebanggaan sama nama Tionghoaku itu, biarpun nggak ada artinya. Hahaa”14
Menjadi etnis Tionghoa beragama Buddha dan kedua orangtua berprofesi sebagai pedagang, juga menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri. Sesuai dengan stereotype warganegara Tionghoa pada umumnya, dan hal tersebut juga menjadi satu identitas etnisnya sebagai etnis Tionghoa.
“Aku bersyukur dan bangga juga lah lahir jadi orang China, agama Buddha, kerjaan ortuku juga pedagang sekarang ini. Jadi, sesuai lah sama orang-orang China yang lain. Jadi, itukan juga jadi identitas etnis aku kan bang”.15
Mempunyai nilai-nilai seperti itu tentunya menimbulkan kebanggaan buat John. Itu merupakan suatu warisan yang harus dijaga dan dibanggakan. John mengunggapkan, nilai-nilai lainnya yang umunya dimiliki oleh etnis Tionghoa adalah nilai kasih sayang sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya.
13 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 13 Juni 2011.
“Kasih sayang antar sesama, manusia, maupun makhluk hidup harus tetap dijaga, karena itu adalah nilai budaya yang sudah dilakukan semenjak dahulu kala.”16
John juga tergabung di dalam suatu organisasi kampus yang beranggotakan dari mahasiswa-mahasiswa Buddha yang ada di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara. Organisasi yang sebenarnya hanya diikuti oleh etnis Tionghoa ber agama Buddha, tetapi ada juga mahasiswa Buddha Non-Tionghoa yang pernah ikut dalam organisasi tersebut.
“Sebenarnya organisasi yang saya ikuti itu yaitu KMB (Keluarga Mahasiswa Buddhis) yaitu organisasi mahasiswa Buddhis, namun pernah ada juga yang ikut bergabung dalam organisasi ini meski ia bukan Tionghoa ataupun minoritas.”17
Menurut John, wujud konkret yang sering ia lakukan untuk menunjukkan identitasnya sebagai etnis Tionghoa adalah dengan menunjukkan sikap rendah hati. Menunjukkan sikap rendah hati tentunya dengan tujuan supaya orang-orang tahu bahwa etnis Tionghoa itu baik. John juga membayangkan perihal masa depan etnis Tionghoa kedepannya akan seperti apa. John berharap, untuk kedepannya etnis Tionghoa dalam mengerjakan segala sesuatunya, tidak harus memandang dari sisi etnisnya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan supaya etnis lain tahu bahwa etnis Tionghoa itu tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.
Makna dari identitas etnis itu sendiri bagi John sangat berharga. Apa yang sudah ada pada diri kita harus kita hargai. Tidak hanya sebagai etnis Tionghoa, tetapi jika John terlahir sebagi etnis lain pun, John akan berusaha untuk menghargainya.
“Identitas etnis Tionghoa itu sama halnya dengan identitas etnis yang lain, ini tergantung kitanya, tergantung dari diri kita masing-masing bagaimana memaknai identitas etnis tersebut. Nah, kalo bagi aku sih,
etnis Tionghoa bermakna segalanya bagi aku. Aku terlahir sebagai seorang Tionghoa dan aku harus menghargainya. Mungkin kalo aku terlahir sebagai orang batak, aku juga akan tetap menghargainya. Karena pada dasarnya kita hanyalah manusia.”18
Kesimpulan Kasus:
John memiliki identitas etnis yang tinggi. Ini dapat disimpulkan secara sederhana dari kemampuannya dalam mengenali dentitas etnis yang ada pada dirinya, mulai dari arti nama Tionghoa bagi hidupnya, agama Buddha yang di anutnya, pekerjaan orangtuanya berdasarkan stereotype etnis Tionghoa, sampai pada nilai-nilai budaya dan tradisi etnis Tionghoa pada umumnya. Rasa sense of belonging yang dimiliki juga menjadikan John pada kriteria mampu mengenali identitas etnisnya, karena ia akan membutuhkan orang- orang dari etnisnya terlebih dahulu dalam mencari kecocokan.
John yakin bahwa dirinya mempunyai pengetahuan terhadap etnisnya, baik mengenai bahasa serta nilai Tionghoa lainnya, jadi ia tidak takut akan kehilangan nilai- nilai tersebut selama ia masih menjaganya.
INFORMAN 5
RUDI KIRANA (ZHENG HAO)
Menurut Rudi, nilai-nilai yang dimilikinya sebagai seorang yang beretnis Tionghoa adalah menjunjung tinggi kebersamaan dan saling menghormati perbedaan satu sama lainnya. Nilai-nilai lainnya yaitu menghormati leluhur dan tradisi imlek. Baginya nilai-nilai Tionghoa adalah nilai-nilai yang baik, yang patut untuk di jaga dan di pertahankan.
Untuk menunjukkan identitas etnisnya sebagai seorang Tionghoa, selain warna