• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Profil Informan

4. Deskripsi Informan 4 (ID)

Informan keempat dalam penelitian ini adalah seorang laki-

laki berusia 22 tahun dengan inisial ID. IDmemiliki postur tubuh yang

pendek, kurus dan berkulit sawo matang. ID juga menggunakan

anting-anting. Selain itu, subjek ID merupakan pendiam dan

terkesansangat menutup diri terhadap orang yang dikenal sehingga

sulit untuk diajak berbicara. ID merupakan seorang mahasiwa etnis

Nusa Tenggara Timur dan sedang menempuh kuliah di sebuah

universitas di Yogyakarta. ID sudah berada di Yogyakarta selama 3

Tabel 7. Rangkuman Tema Hasil Analisis Tematik

Informan 1 (YD) Informan 2 (JB) Informan 3 (RS) Informan 4(ID)

Faktor Sosial Lingkungan tempat

tinggal :

1. Tindakan agresi bawaan dari kecil karena pengaruh lingkungan. Disana kehidupan

keras(1/YD/12-17) 2. Semua anak laki-laki

dituntut untuk menjadi pemimpin dalam hal dapat melindungi keluarga (1/YD/455-459)

Orang tua :

1. Orang tua di Timor mendidiknya dengan

cara “diujung rotan ada emas” sehingga

mau tidak mau kita terima rotan dulu baru dapat emas di

Lingkungan tempat tinggal :

1. Lingkungan menyelesaikan masalah dengan duel (2/JB/289- 292)

2. Orang tua dan orang-orang hebat di NTT cenderung menggunakan kekerasan (2/JB/705-709)

3. Laki-laki di NTT berstatus sebagai om, menjadi panglima dan

pelindung keluarga (2/JB/1143- 1147)

4. Laki-laki dituntut untuk menjadi pelindung di lingkungan

pertemanan (2/JB/1172-1175) 5. 80% orang NTT menyelesaikan

masalah dengan kekerasan (2/JB/ 1199-1201)

Orang tua :

1. Tindakan agresi dilakukan semenjak SMA karena pengaruh lingkungan, orang tua (sering ditinggal) dan asrama (2/JB/7-15)

Lingkungan tempat tinggal :

1.Lingkungan keras dan didikannya buat rusak, kehidupan keras dari kecil sampai besar, dan banyak yang tidak sekolah (3/RS/281-291) 2.Penyelesaian masalah dengan kekerasan (3/RS/306-312) Orang tua: 1.Orang tua mendisiplinkan anak dengan kekerasan seperti memukul (3/RS/326-342) 2.Orang tua mendisiplinkan dengan memukul dan menggunakan kata-kata kasar (3/RS/343-349)

Lingkungan tempat tinggal :

1. Rata-rata anak laki-laki yang berajak dewasa sudah

mengkomsumsi alkohol dan membut keributan (4/ID/181-191) 2. Lingkungan kebanyakan menyelesaikan masalah dengan kekerasan (4/ID/228-229)

3. Tetangga atau keluarga awalnya menyelesaikan masalah dengan kekerasan baru damai (4/ID/231-239) 4. Kebiasaan buruk

dilingkungan terus bawa ke Jogja (4/ID/268-270) 5. Biasa mabuk terus

terpengaruh dengan

lingkungan (4/ID/274-275)

ujung rotan (1/YD/542-547) 2. Tidak sering pukul

tapi saya lebih memilih keluar rumah dari pada harus kena pukul (1/YD/550-556) 3. Sering dipukul

sewaktu kecil karena kenakalan bahkan SMA juga masih di pukul. Biasanya ditampar (1/YD/561- 567) Kelompok pertemanan : 1. Perkumpulan anak kompleks di Timor (Motabuik) mempunyai slogan

“apabila satu disakiti semua disakiti”

(1/YD/284-289) 2. Dari generasi ke generasi memiliki

satu slogan “satu

2. Pada saat ada masalah maka akan dimarahi orang tua, tidak dicarikan solusi walaupun posisi adalah korban. Menjadi beban secara psikis dan mencari jalan pintas (2/JB/446-464)

3. Saat masalah orang tua marah- marah, tidak percaya dengan anak dan sulit membangun komunikasi. Masalah privasi lebih banyak terbuka ke teman (2/JB/470-485) 4. Dulu sandaran terakhir orang tua ketika tidak mendapat sandaran dari orang tua mak mencari keluar (2/JB/493-498)

5. Tindakan kekerasan merupakan hal biasa karena karakter dan didikan orang tua (2/JB/524-519)

6. Pendidikan orang tua membunuh karakter (2/JB/532-546)

7. Orang tua disiplinkan anak dengan rotan dan berlutut (2/JB/553-556) 8. Saat pulang larut malam sangsinya

cuci piring (SD) (2/JB/615-617) 9. Tindakan kekerasan merupakan

modeling dari kecil (2/JB/658-668) 10.Kekerasan merupakan karakter

yag dibentuk sejak kecil

Kelompok pertemanan :

1.Awal datang ke Jogja terpengaruh dan bergabung dengan teman melakukan tindakan tidak baik (3/RS/6-9)

2.Lingkungan pertemanan semuanya pemabuk kalau tidak ikut

dikatakan bencong dan penakut (3/RS/294-303) 3.Lingkungan pertemanan

akan mencap bencong dan penakut kalau tidak minum mabuk dan melakukan kekerasan (2/RS/ 317-321) 4.Melakukan tindakan

agresi maka akan dapat teman yang banyak (3/RS/406-407)

Rasa Solidaritas :

1. Setuju ikut tawuran karena rasa setia kawan dan merasa susah

Saat mabuk atau pajak maka bapak atau om akan pukul depan umum (4/ID/344-349)

Kelompok pertemanan :

1.Tidak minum alkohol dikatakan sombong dan dijauhi oleh teman sehingga tidak bisa menghindar (4/ID/196-202)

2.Tidak ikut minum dan pajak dikatakann sombong dan tidak tahu bergaul (4/ID/206-207)

3.Minum mabuk, pajak dan buat rusuk akan mendapat banyak teman kalau tidak maka akan dianiaya dan tidak dianggap (4/ID/209- 214)

4.Kalau tidak minum, pajak, dan berkumpul saat bertemu dijalan akan dipukul dan dipajak (4/ID/217-223)

Rasa Solidaritas :

1. Terlibat tawuran karena diajak teman dan membawa

disakiti semua

disakiti” dan akan

membalas jika ada kesempatan (1/YD/305-310) 3. Saat di Jogja orang

NTT adalah saudara semua jadi kalau mereka disakiti maka saya juga merasa sakit (1/YD/396-398) 4. Sampai sekarang

masih tetap pegang slogan tersebut walaupun tinggal di daerah yang berbeda (1/YD/402-404) 5. Slogan tersebut

sudah turun temuru dari angkatan kakak- kakak (1/YD/655- 663)

Rasa Solidaritas :

1. Ikut tawuran karena rasa solidaritas antar sesama teman. Tidak

(2/JB/711-716)

Lingkungan sekolah dan asrama :

1. Pola disiplin di sekolah

menggunakan kekerasan (rotan) (2/JB/559-568)

2. Saat tidak mengerjakan tugas sangsinya berlutut, hormat tiang bendera, dan dipukul

menggunakan kabel (2/JB/570- 573)

3. Saat di srama tidak masuk 10 besar maka buka baju dan di pukul menggunakan kabel sebanyak 5 kali. Bolos maka guling di kerikil (2/JB/580-589)

4. SMP dianiaya dan dipaksa bersaing (2/JB/624-636)

5. SMA dianiaya dan di tampar tidak mau sekolah (pindah sekolah 3 kali) (2/JB/638-645)

6. Di sekolah setiap melakukan kesalahan selalu dihukum dengan kekerasan (2/JB/678-679)

7. Saat diasrama sudah menjadi budaya adik asrama harus patuh pada kakak asrama dan setiap melakukan kesalahan akan dipukul

senang sama-sama (3/RS/28-31) 2. Tindakan kekerasan

yang dilakukan untuk membantu teman menyandra orang (3/RS/54-67) 3. Setuju ikut tawuran

karena teman meminta tolong (3/RS/ 79-82) 4. Melakukan kekerasan

karena diajak teman untuk memukul orang yang sudah memukul temannya (3/RS/176- 184)

5. Tujuan melakukan tindakan agresi yaitu untuk membantu teman yang kesusahan karena sama-sama anak rantau dan susah senang sama- sama (3/RS/189-195) 6. Setuju melakukan

kekerasan pada orang lain karena ingin membalas orang yang sudah memukul

nama daerah sehingga tidak bisa menolak (4/ID/94-98) 2. Setuju terlibat karena

dipengaruhi oleh teman (4/ID/297-303)

3. Setuju ikut terlibat perkelahian karena tidak terima teman diperlakukan seperti itu oleh orang lain (4/ID/306-316)

4. Setuju ikut berkelahi karena diajak teman satu daerah (Timor) (4/ID/327-340)

tega melihat teman di keroyok. Hal ini tidak bisa dirubah karena sudah mendarah daging (1/YD/39-44) 2. Kalau di Jogja ikut

tawuran karena rasa solidaritas

(1/YD/72-73) 3. Setuju terlibat

tawuran karena rasa solidaritas. (Saya punya kena tumbuk masa saya harus diam?) Apa lagi kita sesama dari Timor (1/YD/171-175) 4. Setuju ikut tawuran

karena rasa

solidaritas. Merasa saudara mendapat masalah jadi sudah jadi kewajiban untuk saling melindungi (1/YD/244-249) 5. Rasa solidaritas

tidak selalu ikut

(2/JB/686-693)

Kelompok pertemanan :

1. Banyak bergaul dengan pemabuk (2/JB/33-36)

2. Senang bisa masuk dalam dunia para pemabuk dan tidak mampu menghindarinya (2/JB/38-44) 3. Tidak berkelahi dan minum

mabuk di cap bencong, tidak ada teman, semua teman pemabuk jadi terjerumus dan tidak bias keluar atau menghindar (2/JB/88-100) 4. Tidak minum mabuk dijauhi dan

tidak punya teman dan saat masa kritis tersebut sangat

membutuhkan teman sehingga pertemanan dalam bentuk apapun harus terlibat (2/JB/104-113) 5. Lingkungan pertemanan semua

pemabuk bahkan dalam kelas saat pelajaran minum mabuk

(2/JB/123-136)

6. Topik paling menarik yang diceritakan para pemuda adalah pengalaman minum mabuk dan berkelahi jadi tergerak untuk meniru (227-237)

temannya (3/RS/237- 245)

7. Ikut terlibat perkelahian karena merasa kasian pada teman. Sesama anak rantau dan hidup bersama tidak terima teman diperlakukan seperti itu (3/RS/248- 251)

8. Ikut terlibat perkelahian karena ikut-ikut dan diajak teman yang berasal dari satu daerah (Timor) (3/RS/255-268) 9. Ikut terlibat tawuran

karena diajak senior- senior dan sebagai adik merasa tidak terima senior diperlakukan seperti itu (3/RS/426- 435)

berkelahi namun sekarang untuk menempuh jalan damai (1/YD/330- 334) 6. Ikut melakukan tindakan agresi karena merasa sesama orang NTT dan perantau jadi mereka mendapat masalah saya juga harus terlibat sebagai bentuk rasa

solidaritas (1/YD/342-345)

7. Doktrin yang ditamankan oleh kakak-kakak “kesana (Jawa) harus

tunjukkan diri keras” saat datang

ke Jogja (2/JB/260-265) 8. Kakak-kakak di (Jogja) cerita

setiap berkumpul “kesana (Jawa)

harus keras (kekerasan) kalau tidak kamu diinjak-injak” dan topik pembahasan yang dibahas adalah kekerasan sehingga banyak mahasiswa yang terjerumus (2/JB/267-285)

9. Awal datang ke Jogja mencari kakak yang hebat untuk bisa dilindungi dan untuk masuk kelompok tersebut harus minum mabuk, berkelahi dan sering di tempat hiburan (2/JB/318-332) 10.Masuk ke kolompok kakak-kakak

harus berkelahi misalnya ada yg singgung kakak-kakak maka adik yang memukul terlebih dahulu sebelum kakak-kakak (2/JB/336- 341)

11.Lingkungan yang mabuk-

mabukan dan teman yang dimiliki semuanya pemabuk (2/JB/501- 504)

12.Tidak ikut minum mabuk

dikatakan bencong, “anak tidak tahu bergaul”, dan diasingkan

(2/JB/509-519)

13.Awalnya ikut-ikut kemudian kalau sudah pernah berkelahi depan orang banyak maka akan dapat banyak pengikut (2/JB/778-782) 14.Kebanyakan tawuran hasil

provokasi teman (2/JB/1241- 1930)

Rasa Solidaritas :

1. Tawuran yang dilakukan karena provokasi dari pihak lain karena memanfaatkan kata persaudaraan (2/JB/751-755)

2. Terlibat tawuran karena ikut- ikutan dan persaudaraan (2/JB/784-788)

3. Senior-senior kalau berkelahi biasa membawa adik-adik dan mau tidak mau harus terlibat karena tidak tega tega teman di keroyok (2/JB/1064-1072) 4. Setuju ikut tawuran karena ikatan

emosional (persaudaraan) dimana satu disakiti kita juga merasa

disakiti dan sudah jadi tradisi (2/JB/1248-1261)

5. Setuju ikut tawuran karena persaudaraan (2/JB/1263-1265) 6. Kebanyakan provokasi yang

dilakukan merupakan hasil memanfaatkan kata persaudaraan sehingga ketika ada masalah langsung panggil (2/JB/1271- 1274)

Faktor Individu / Kepribadian Emosi negatif :

1. Memukul orang lain karena tidak suka dan tersinggung karena orang yang dihargai tidak dihargai oleh orang lain (1/YD/97-103) 2. Lebih tersinggung

karena tidak menghargai antar sesama dan sesama kakak juga tidak menghargai (1/YD/89-92) 3. Tawuran diawali

dengan saling

Emosi negatif :

1.Saat dipukul merasa terus emosi memuncak jadi langsung ambil parang dan cari orang tersebut. Kalau emosi sudah memuncak mati itu urusan kedua (2/JB/359-369) 2.Pada saat itu berniat kalau ketemu

maka akan ditikam hingga mati karena merasa sangat disakiti (2/JB/372-379)

3.Merasa puas ketika bisa membalas orang tersebut (2/JB/394-398) 4.Sudah menjadi kebiasaan kalau ada

yang pukul maka akan berusaha balas bahkan sering berpikir untuk membunuh (2/JB/435-443)

Emosi negatif :

1.Disekolah saling senggolan dan terjadi keributan seperti caci maki maka pulang akan berkelahi (3/RS/38-42) 2.Ada rasa kasian tapi

saat memukul dan hajar orang yang kita ingat hanya kesalahannya yang menjengkelkan (3/RS/84-88)

3.Rasa jengkel masih ada jadi kalau ada orang yang cari hal pasti terjadi keributan (3/RS/136-139)

Emosi negatif :

1. Tawuran terjadi karena saling baku lihat terus tidak suka (4/ID/25-28)

2. Tindakan agresi adalah tindakan yang secara pribadi sudah hilang kontrol dan karena tersinggung dengan orang lain maka berbuat tanpa berpikir (4/ID/354- 360)

senggolan di lapangan bola dan benturan keras sehingga tim lawan tidak terima perlakuan tersebut (1/YD/159-163) Menunjukkan kehebatan : 1. Tawuran karena saling senggolan terus ada yang merasa lebih hebat dan miss communication (28- 31) 2. Berkelahi untuk menunjukkan siapa paling kuat. Istilahnya untuk mencari jati diri siapa yang paling kuat diantara semua. (1/YD/62-67) 3. Mengambil tindakan

lebih anarkis dari korban karena

5.Selalu membawa parang karena tidak ada penyelesaian masalah dalam setiap masalah. Damai urutan ke-100 dan yang pertema adalah balas dendam (2/JB/925-933) 6.Saya punya tipikal kalau marah dan

emosi, saya ingin bacok orang (2/JB/ 975-979)

7.Saat dimarahi atau dipukul didepan umum tidak membalas tapi tertawa. Tertawa yang mengdung arti orang itu sudah mati dalam pikiran. Saat pulang cari orang tersebut untuk diculik sebagai bentuk balas dendam buat orang tersebut (2/JB/1075-1092)

8.Dulu emosi selalu harus angkat parang dan harus kesana (2/JB/1125-1126)

Menunjukkan kehebatan :

1.Laki-laki didominasi oleh maskulin sehingga berorientasi pada

kekuasaan jadi ketika mabuk menunjukkan kehebatan (2/JB/187- 196)

2.Ada teman yang memprovokasi

“kalau berani coba”. Mencoba

4.Saat jalan-jalan terus di parkiran saling senggol- segolan kemudian saling lihat dan kemudian berakhir dengan keributan (3/RS/215-234)

korban tidak mengkui kesalahan malah mengambil tindakan anarkis (1/YD/603-608) 4. Mengambil tindakan memukul karena merasa tidak puas dan tidak dianggap atau dianggap lebih kecil dari orang lain (1/YD/510-516)

dalam hal ini memukul (2/JB/203- 209)

3.Memukul orang di depan teman- teman maka akan mengubah presepsi mereka kemudian mereka akan merasa segan (2/JB/211-226).

Faktor Situasional Alkohol :

1. Sering komsumsi alkohol sendiri dan dengan teman (1/YD/ 496-498) 2. Pernah berkelahi dibawah pengaruh alkohol dan faktor tersinggung (1/YD/503-505) 3. Memukul orang saat

dalam pengaruh alkohol (1/YD/ 142- 146)

Alkohol :

1.Pada saat mabuk kalau ada yang lihat berarti habis (2/JB/894-898) 2.Melakukan berbagai penerangan

dan penodongan di tempat jualan saat mabuk (2/JB/935-953)

Alkohol :

1.Memukul orang pada saat mabuk karena merasa tidak puas dimaki oleh

teman(3/RS/95-102) 2.Pada saat mabuk

sensitif jadi kalau ada orang yang lihat langsung terjadi keributan (3/RS/120- 130)

3.Pada saat mabuk sensitif jadi apa yang dibicarakan orang lain

Alkohol :

1. Saat mabuk biasanya pajak dan ada yang melawan langsung dipukull (4/ID/ 37-40)

2. Saat mabuk biasa makan diwarung tidak bayar dan buat kasar dengan penjaga warung (4/ID/62-64) 3. Saat mabuk sering ke kos

teman yang tidak disukai terus merusak kamar dan memukul teman (4/ID/78- 84)

dirasa tidak baik (3/RS/164-167) 4.Sering komsumsi

alkohol bersama teman sampai kehilangan kesadaran (3/RS/351- 358) 5.80% kekerasan terjadi saat mabuk (3/RS/363- 386)

kekerasan saat mabuk

seperti memukul aa’burjo,

makantidak bayar dan memukul teman yang tidak disukai (4/ID/102-110) 5. Saat mabuk lebih berani

untuk memukul orang yang tidak disukai dan buat rusuh (4/ID/118-125) 6. Saat mabuk lihat orang lain

tidak suka dan langsung buat keributan (4/ID/138- 140)

7. Sering komsumsi alkohol dengan teman (4/ID/277- 281)

8. Saat mabuk sering

terpengaruh dengan teman melakukan tindakan kekerasan (4/ID/285-289)

Bentuk Perilaku Agresi Fisik :

1. Tawuran itu paling lempar-lempar saja(1/YD/52) 2. Kalau tawuran saling

adu kekuatan dan

Fisik :

1.Penyerangan janti sampai menewaskan 1 orang warga, penyerangan di babar sari,

penyerangan terhadap OBOR, dan penyerangan terhadap TERAS serta

Fisik :

1.Sering pajak orang, tawuran dengan teman, minum mabuk, dan pajak ojek (3/RS/15-18) 2.Pajak di circle K dan

Fisik :

1. Merusak barang (dandang, piring, dan gelas) dan

memukul aa’burjo

(4/ID/62-64)

saling baku tumbuk (1/YD/167-169) 3. Adu pukul, ada yang

bawa parang dan saling serang (1/YD/256-260) 4. Hanya memukul saja

(595)

5. Lebih banyak tindakan (memukul) dari pada kata-kata (1/YD/614-615)

pernah Menikam orang saat dalam kondisi mabuk di Liquid (2/JB/809- 819)

2.Melakukan penodongan

menggunakan parang di tempat jualan (indomart, alfamart, full time, circle K) untuk meminta uang dan minuman (2/JB/935-953) 3.Sring fiti orang, lempar orang, dan

keroyok orang sampai parah (2/JB/981-985)

4.Pukul orang, sering lempar orang, menikam orang, memiliki kartupel yang isinya potongan beton, sangkur dan pisau (2/JB/1300- 1310)

Verbal :

Melakukan bullying atau mengejek dan menyindir dengan kata-kata (2/JB/1333-1342)

warung makan (3/RS/148-154) 3.Melakukan

penyerangan dan saling lempar (3/RS/106-107) 4.Pukul orang, pukul

orang menggunakan alat (botol, kayu dan hamar) (3/RS/ 390-392)

Verbal :

Memaki menggunakan kata-kata makian dari daerah (3/RS/393-402)

dan keluar darah (4/ID/363- 371)

Verbal:

C. Rangkuman Tema Temuan Penelitian

Dokumen terkait