TEMUAN PENELITIAN DAN ANALISA DATA
A. Deskripsi Informan
Setelah pengambilan data melalui metode wawancara, maka selanjutnya data yang diperoleh harus dianalisis sehingga dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini. Proses analisis data ini dilakukan dengan menjelaskan gambaran umum subjek penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan analisis data.
Dalam penelitian ini, ada 8 orang yang menjadi informan atau subjek penelitian yaitu remaja Desa Cisetu dengan batasan usia 15-19 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Nama-nama subjek penelitian ini menggunakan inisial, dikarenakan untuk menjaga kerahasiaan subjek.
Untuk waktu dan tempat wawancara, penulis bersepakat dengan para informan, bahwa seluruh informan bersedia diwawancara pada tanggal 25 April 2010, pada sore hari di sebuah pos ronda dekat tempat biasa mereka berkumpul.
Seluruh subjek adalah berjenis kelamin laki-laki, penulis memilih salah satu kelompok remaja di Desa Cisetu kemudian mengadakan pendekatan dan menjelaskan kepada mereka tentang penelitian ini. Setelah melakukan hal tersebut, didapat delapan remaja pria yang bersedia menjadi informan, sedangkan dari pihak perempuannya, penulis tidak mendapatkan
informan dari pihak perempuannya, dengan alasan bahwa mereka tidak bersedia menjadi informan. Karena untuk menjadi informan harus tidak adanya keterpaksaan, maka penulis tidak mendapatkan informan perempuan.
Tabel 4
Data singkat informan
No. Nama Usia Agama Pendidikan
terakhir Aktifitas
Jenis Kelamin
1 E K 18
tahun Islam SMK Pelajar Laki-laki
2 R R 15
tahun Islam SMP Pelajar Laki-laki
3 A Z 18
tahun Islam SMA Pelajar Laki-laki
4 I 16
tahun Islam SMP Pelajar Laki-laki
5 R N 15
tahun Islam SMP Pelajar Laki-laki
6 A S 17
tahun Islam SMP Bekerja Laki-laki
7 R H 18
tahun Islam SMP Bekerja Laki-laki
8 H P 18
tahun Islam SMA Bekerja Laki-laki
1. E K (18 tahun)
Remaja pria ini yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA mengaku sering mengakses situs pornografi terutama film porno.
“..ya, handphone saya suka dipakai buat mengakses porno, terutama mengakses gambar porno dan menyimpan koleksi film porno dari internet atau lewat Bluetooth..”.1
1
E K mengenal pornografi di internet sejak kelas 3 SMP dan menghabiskan waktu sekitar 2 jam di internet dengan intensitas waktu 2-4 kali dalam seminggu.
“…ya kalau mengakses internet bisa sampai dua jam juga dan dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali, tapi tidak semuanya saya akses untuk melihat porno…”.2
E K mengaku sering berfantasi erotis, hampir setiap malam sebelum tidur, namun jarang melakukan onani hanya sekitar satu kali dalam seminggu.
“…Kalau melakukan onani, jarang paling ya sekitar seminggu sekali, kadang lebih dan kadang tidak, tapi ya, sekitar seminggu sekali lah saya melakukannya. Kalau melakukan fantasi erotis, ya sering sekali, hampir tiap malam, sebelum tidur..”3
Jika sedang berduaan dengan pasangannya mereka sering melakukan ciuman dan pelukan,. Namun diantara perilaku lainnya, E K lebih sering melakukan ciuman.
“…Melakukan pelukan dan ciuman dengan pasangan pun sering. Bercumbu dan bersetubuh saya tidak pernah melakukannya. Namun seringnya ciuman…”
Pemuasan nafsu seksual setelah mengakses pornografi adalah menghubungi atau menemui pasangannya. E K merasa lebih terpengaruh oleh film porno dibandingkan dengan gambar atau artikel porno.
2. R R (15 tahun)
2
Wawancara Pribadi dengan E K, Cisetu, tanggal 25 April 2010 3
Remaja berusia lima belas tahun ini telah mengenal pornografi sejak kelas dua SMP dari teman-temannya.
“…Saya mengenal pornografi internet sejak kelas dua SMP dari teman-teman saya…”4
R R menghabiskan waktu 1-2 jam di warnet dan sekitar setengah jam untuk mengakses pornografi.
“…Pengertian pornografi saya tidak tahu, tapi pornografi internet adalah pornografi yang ditayangkan oleh media internet. Bentuk-bentuk pornografi yang ada di internet yang saya tahu adalah gambar porno dan film porno sedangkan bahayanya saya tidak tahu…”5
Sedangkan tentang dampak dari pornografi ia tidak bisa menyebutkannya. Bentuk pornografi yang sering diakses adalah gambar porno. Artikel porno tidak pernah ia akses.
“…Pornografi yang sering saya akses di internet adalah gambar porno dan film porno dan yang lebih sering saya akses adalah gambar porno…”6
R R memilliki koleksi gambar dan film porno, namun koleksi gambar porno lebih banyak dibandingkan dengan koleksi film porno.
Ketika ditanya tentang bentuk perilaku seksual, R R hanya menyebutkan bahwa bentuk perilaku seksual adalah ciuman saja. R R mengaku jarang melakukan onani dan hanya melakukan sekitar 2 kali dalam seminggu. R R belum pernah melakukan ciuman, pelukan, rabaan, apalagi bercumbu, ia hanya pernah bergandengan tangan dengan
4
Wawancara pribadi dengan R R, Cisetu, 25 April 2010 5
Wawancara pribadi dengan RR, Cisetu, 25 April 2010 6
pasangannya. Setelah melihat pornografi R R sering berfantasi erotis dan terkadang melakukan onani. Walaupun ia R R lebih sering mengakses gambar porno, tapi ia merasa lebih terpengaruh oleh film porno.
3. A Z (18 tahun)
A Z yang tercatat sebagai pelajar kelas 3 SMA ini belum pernah mengakses artikel porno dan bentuk pornografi lainnya, ia hanya mengakses gambar dan film porno saja. Namun ia lebih suka film porno karena lebih detail dan lebih nyata.
“…Pornografi yang pernah saya akses di internet adalah gambar dan film porno dan yang lebih sering saya akses di internet adalah film porno, karena film porno lebih jelas dan lebih nyata, lagipula untuk mendownloadnya tidak susah …”7
A Z tidak memiliki komputer pribadi namun memiliki laptop keluarga dengan layanan internetnya, A Z pernah memakainya untuk mengakses pornografi. A Z mengenal pornografi internet sejak kelas 1 SMA. ia mencari sendiri namun mengetahui alamat situs porno dari teman-temannya. Ia bisa menghabiskan waktu untuk internetan di warnet sekitar 1-2 jam.
A Z pun mengetahui tentang perilaku seksual. Dalam menyalurkan hasrat seksualnya setelah mengakses pornografi, ia kerap berfantasi erotis, namun lebih sering menghubungi pasangannya atau menemui pasangannya. Saat berdua dengan pasangannya, mereka kerap melakukan
7
rabaan dan ciuman. AZ pun mengaku telah melakukan beberapa kali persetubuhan dalam melepas hasrat seksualnya.
“…Semuanya itu sudah pernah saya lakukan semua. melakukan onani sekitar 2-3 kali seminggu namun lebih seringnya hanya membayangkan melakukan seksual saja, tidak sampai melakukan masturbasi. Saya juga pernah melakukan pelukan, rabaan, bercumbu, bahkan pernah juga beberapa kali melakukan ML…”8
4. I (16 tahun)
Remaja yang berusia 16 tahun ini tidak mengetahui pengertian pornografi dan mengetahui bentuk-bentuk pornografi sebatas gambar porno dan film porno saja. Sedangkan menurutnya, bahaya pornografi adalah bisa menimbulkan penyakit menular seksual. I yang juga masih tercatat sebagai murid kelas 3 SMP ini sering mengakses film porno dan memiliki koleksinya di handphone. I mengaku sering mengakses pornografi di warnet terutama di warnet yang tertutup. Ia telah mengenal pornografi internet sejak kelas 2 SMP dari teman-temanya. I bisa menghabiskan waktu 1-2 jam di warnet dengan intensitas waktu 3 kali dalam seminggu.
Dalam pengakuannya ia menuturkan bahwa ia jarang melakukan onani hanya 1 kali dalam seminggu, berfantasi erotis pun jarang, hanya jika ketika mengakses pornografi saja. Dalam memuaskan hasrat seksualnya setelah mengakses pornografi, ia kerap berfantasi erotis kemudian menghubungi atau menemui pasangannya. jika berpacaran, I
8
sering melakukan pelukan dan rabaan, namun lebih sering melakukan ciuman. Bercumbu dan bersetubuh dilakukan tergantung kondisi yang ia anggap memungkinkan. Karena kerap mengakses film-film porno, I mengaku meniru gaya-gaya dari film-film porno yang telah ia lihat dalam melakukan relasi seksual dengan pasangannya.
5. R N (15 tahun)
RN yang masih tercatat sebagai murid kelas tiga SMP ini tidak mengetahui pengertian pornografi namun mengetahui bentuk-bentuknya, hanya saja ia menyebutkan dua macam, yaitu gambar porno dan film porno. Yang sering ia akses adalah film karena ia menganggap film porno gampang untuk ditiru.
”... Pornografi di internet yang pernah saya akses atau ditonton adalah gambar dan film porno saja. Yang lainnya saya tidak pernah mengakses. Yang lebih sering di akses adalah film porno. Karena film porno gampang ditiru, lebih nyata, lebih jelas, dan lebih membangkitkan hasrat seksual saya…”9
R N telah mengenal pornografi sejak SD, namun mengenal pornografi di internet sejak kelas 2 SMP. R N telah mengetahui bentuk- bentuk perilaku seksual.
“…Kalau pelukan sih pernah, pegangan tangan sering. Kalau ciuman dan rabaan, tidak pernah apalagi bercumbu atau bersetubuh. Namun yang lebih sering saya lakukan dengan pasangan saya adalah pelukan…”10
9
Wawancara pribadi dengan R N, Cisetu, 25 April 2010. 10
Dalam menyalurkan hasrat seksualnya setelah mengakses pornografi, R N kerap melakukan fantasi erotis dan terkadang melakukan onani. Dalam pengakuannya, ia melakukan onani sekitar 1-2 kali dalam seminggu.
6. A S (17 tahun)
A S tidak mengerti tentang pengertian pornografi namun ia menyebutkan bentuk-bentuk pornografi adalah film porno dan gambar porno. Yang sering diakses oleh A S adalah film porno karena film menurut dia bisa langsung dilihat secara nyata dan lebih jelas.
”… Yang saya akses di internet hanya gambar porno dan film porno dan yang paling sering diakses adalah film porno. Karena film porno bisa langsung dilihat, sangat menyenangkan, lebih nyata, dan lebih detail jadi hasrat seksual saya jadi bangkit…”11
A S adalah penjaga warung internet (warnet) sehingga ia memiliki komputer khusus untuk dirinya dengan memiliki layanan internet. Pemilik warnet tidak memeriksa isi komputer A S, sehingga A S bebas mengakses pornografi. Ia telah mengenal pornografi internet sejak kelas 2 SMP dari teman-temannya.
Ia tidak mengetahui pengertian perilaku seksual namun mengetahui bentuk-bentuk perilaku seksual. Menurut pengakuannya, ia melakukan persetubuhan hingga 2-3 kali dalam seminggu.
“…Saya tidak melakukan masturbasi, memang sih saya sering berkhayal melakukan hubungan seksual, tapi tidak pernah sampai melakukan onani. Kalau pelukan ciuman, bercumbu, bahkan sampai
11
melakukan penetrasi pun saya sering. Namun saya tidak melakukan masturbasi atau onani. Tapi yang lebih sering saya lakukan adalah ciuman, tiap ketemu pasti disempetkan untuk berciuman. Berhubungan badan pun sering, bisa sampai 2 atau bahkan 3 kali dalam seminggu…”12
Menurut A S, dalam menyalurkan hasrat seksualnya setelah mengakses film porno, ia menelpon pacar untuk sekedar ngobrol mesra atau pergi menemuinya dan melakukan relasi seksual.
7. R H (18 tahun)
R H yang hanya berpendidikan SLTP tidak mengetahui pengertian pornografi dan tahu bentuk-bentuknya sebatas gambar porno dan dan film porno. Yang sering diakses oleh remaja yang telah bekerja sebagai buruh dagang kredit ini adalah film porno karena ia menganggap lebih jelas, lebih nyata, dan gampang ditiru.
“…Ya artikel porno, gambar porno, dan film porno semuanya sudah pernah saya akses. Dan yang lebih sering saya tonton adalah film porno, dengan mengakses film porno, bisa lebih membangkitkan hasrat seksual, karena lebih jelas dan lebih nyata serta gampang ditirunya…”13
R H pun menyimpan koleksi film di handphone dan sering dipakai untuk melihat film porno. R H mengenal pornografi sejak SD dari teman- teman. R H lebih sering menonton film porno lewat handphone yang ia simpan hasil downloadan dari internet dan lewat kaset DVD dibandingkan dengan mengakses pornografi diwarnet. Jika menonton film porno lewat
12
Wawancara pribadi dengan A S, Cisetu, 25 April 2010 13
DVD, R H bisa menghabiskan waktu berjam-jam bahkan menurutnya bisa sampai lima jam.
R H mengaku sering melakukan onani, pelukan, ciuman, rabaan, bahkan pernah sampai bersetubuh.
“…Iya, saya pernah melakukan semua itu, kalau onani jelas sering pelukan, ciuman, bercumbu, bahkan sampai ML pun saya pernah…”14
Saat berdua dengan pasangannya, R H lebih sering melakukan ciuman. Ia mengaku melakukan persetubuhan 2 kali dalam sebulan terakhir ini. Ia pernah mengakses artikel porno di internet namun membaca buku porno sering karena ia memiliki koleksi artikel atau buku porno. Ketika mengakses pornografi, baik itu gambar porno, artikel, R H terkadang melakukan onani. namun setelah melihat film porno, segera menghubungi pasangannya untuk melakukan obrolan mesra atau bertemu untuk melakukan relasi seksual. Namun jika hal itu tidak terlaksana, maka ia langsung melakukan onani.
8. H P (18 tahun)
Remaja berusia 18 tahun ini berstatus sebagai pelajar SMA. H P suka mengakses film porno namun tidak suka gambar porno dan artikel porno, Ia tidak merasa tertarik dengan gambar dan artikel porno menurutnya gambar dan artikel pornno tidak menimbulkan rangsangan atau nafsu birahi.
14
“…Kalau saya tidak mengakses gambar porno atau yang lainnya. Pornografi di intenet yang saya akses hanya film porno saja karena bagi saya gambar porno sama sekali tidak menarik dan tidak menimbulkan gairah seksual saya…”15
H P memiliki banyak koleksi film porno. Orang tua tidak pernah memeriksa handphonenya. Ia mengenal pornografi sejak kelas 1 SMA. Untuk mengakses internet, ia bisa menghabiskan waktu 1-2 jam di warnet.
Menurut pengakuannya, ia kerap melakukan persetubuhan, tergantung pada kondisi yang mereka anggap memungkinkan untuk melakukannya.
”… Iya, saya pernah melakukan semua itu, kalau onani jelas sering, pelukan, ciuman, bercumbu, bahkan sampai ML pun saya pernah. Bahkan bisa dikatakan sering, karena saya bercumbu dengan wanita bisa sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu. Dan kalau kondisinya memungkinkan, maka tidak hanya melakukan cumbuan, tapi juga melakukan penetrasi..”16
Untuk menyalurkan nafsu birahi setelah melihat film porno, ia selalu berkhayal dan melakukan onani, namun jika ia merasa tidak kuat menahan nafsu ia menemui pacarnya untuk melakukan rabaan, ciuman dan sebagainya. Yang sering ia lakukan dalam pacaran adalah ciuman. H P mengaku bahwa semua gaya berpacaran atau berperilaku seksual mengikuti gaya-gaya yang ada di film porno yang ia lihat.
15
Wawancara pribadi dengan H P, Cisetu, 25 April 2010. 16
B. Analisis Pengaruh Pornografi Media internet terhadap Perilaku Seksual