BAB IV METODE PENELITIAN
4.5 Analisis Data
Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan Microsoft Office Excel dan software SAS. Sidik ragam dengan uji F terhadap variabel yang diamati dilakukan dengan mengetahui pengaruh interaksi antara berbagai perlakuan yang diberikan, dengan hipotesis sebagai berikut:
Pengaruh utama faktor
Ho : Pemberian pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jabon H1: Paling sedikit ada 1 dimana τi ≠ 0
Untuk pengambilan keputusan dari hipotesis yang diuji adalah:
F hitung ≤ F tabel; Terima Ho F hitung > F tabel; Tolak Ho
Jika hasil sidik ragam Uji F terdapat pengaruh yang nyata, maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan melakukan Uji Duncan karena perlakuan tidak hanya membandingkan dengan kontrol saja, tetapi juga antar perlakuan dosis pupuk yang berbeda untuk mengetahui apakah ada perbedaan di antara keduanya.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Parameter yang diukur dan diamati pada penelitian ini adalah pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah helai daun, serta diameter tajuk tanaman jabon.
5.1.1 Pertumbuhan tinggi tanaman jabon
Pertumbuhan tinggi diukur dua minggu sekali. Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter pertumbuhan tinggi dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter peningkatan tinggi jabon setiap dua minggu
* = berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5%; tn = tidak berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5 %
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa sumber benih berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi. Perlakuan dengan menggunakan dosis tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jabon. Faktor interaksi antara sumber benih dengan dosis hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada M4, dan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi pada M0, M2, M6 dan M8. Untuk mengetahui sumber benih dan interaksi pada M4 yang terbaik dilakukan uji Duncan yang disajikan pada Gambar 5 dan 6.
Hasil uji Duncan yang disajikan dalam bentuk diagram batang pada Gambar 5 dan 6 dapat dilihat bahwa bibit yang berasal dari sumber benih Malang yang lebih besar dibandingkan dengan bibit yang berasal dari sumber benih Sangatta memiliki tinggi 44,2 cm, sedangkan yang terkecil memiliki tinggi 35,2 cm. Faktor interaksi sumber benih dengan dosis dapat diinterpretasikan bahwa sumber benih yang berasal dari Malang dengan dosis 0 g, 15 g, 25 g, 35 g, dan 50 g memiliki nilai yang hampir sama dan tidak berbeda, begitu pula dengan sumber benih yang berasal dari Sangatta dengan dosis 0 g, 15 g, 25 g, 35 g dan 50 g memiliki nilai
yang hampir sama antar dosis tersebut. Tetapi interaksi yang terjadi antara dosis dengan sumber benih yang berasal dari Malang dan Sangatta memiliki nilai yang berbeda. Interaksi sumber benih dari Malang dengan dosis lebih baik dari interaksi sumber benih Sangatta dengan dosis.
Gambar 5 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh sumber benih terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jabon
Gambar 6 Hasil uji Duncan pengaruh interaksi sumber benih dan dosis pada minggu keempat terhadap pertumbuhan tinggi tanaman
Gambar 7 Pertumbuhan tinggi jabon pada setiap dua minggu (A= sumber benih; B= dosis pupuk)
Gambar 7 menunjukkan pertumbuhan tinggi setiap pengamatan pada tanaman jabon. Pengamatan pertumbuhan tinggi dilakukan setiap 2 minggu sekali selama 10 minggu (6 kali pengukuran). Berikut disajikan rekapitulasi pertumbuhan parameter tinggi jabon terhadap selisih pertumbuhan akhir dengan awal pada Tabel 2.
Tabel 2 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter tinggi pengamatan akhir- awal
Faktor Selisih Pengamatan Akhir-Awal
Sumber Benih tn
Dosis tn
S.Benih x Dosis tn
tn = tidak berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5 %
Tabel 2 di atas menujukkan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi jabon dengan menggunakan selisih pertumbuhan akhir-awal, baik itu pada sumber benih maupun terhadap dosis dan interaksi sumber benih dengan dosis. Gambar 8 menunjukkan perbandingan tinggi antara tanaman jabon pada pemupukan awal dengan tanaman jabon setelah pemupukan selama 8 minggu pada umur bibit 5 bulan.
0
Gambar 8 Tinggi tanaman jabon pemupukan awal (a), dan tinggi tegakan jabon setelah penanaman (b)
5.1.2 Diameter tanaman jabon
Parameter pertumbuhan yang kedua adalah pertumbuhan diameter tanaman jabon. Rekapitulasi hasil sidik ragam pertumbuhan diameter tanaman jabon pada setiap pengamatan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter peningkatan diameter jabon setiap dua minggu
Faktor
0 2
Minggu ke-
4 6 8
Sumber Benih tn tn tn tn tn
Dosis tn * tn tn tn
S.Benih x Dosis tn tn tn tn tn
* = berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5%; tn = tidak berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5 %
Dari Tabel 3 di atas diperoleh hasil bahwa faktor dosis pada M2 memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pertumbuhan diameter tanaman jabon, sedangkan dosis pada M0, M4, M6 dan M8 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter jabon. Faktor sumber benih dan interaksi sumber benih dengan dosis tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter tanaman jabon. Untuk mengetahui dosis pada M2 yang terbaik dilakukan uji Duncan yang disajikan pada Gambar 9.
a b
Gambar 9 Hasil uji Duncan pengaruh dosis pada minggu kedua terhadap pertumbuhan diameter tanaman jabon
Hasil uji Duncan yang disajikan dalam bentuk diagram batang pada Gambar 9 dapat dilihat dosis pemupukan 15 g memiliki perbedaan nilai dengan dosis 0 g, 25 g, 35 g, 50 g dan memberikan nilai yang terbesar dibandingkan dengan dosis yang lainnya. Pemaparan data deskriptif pertumbuhan diameter tanaman jabon pada setiap pengamatan disajikan pada Gambar 10.
Gambar 10 Pertumbuhan diameter jabon pada setiap dua minggu (A= sumber benih; B= dosis pupuk)
Gambar 10 menunjukkan pertumbuhan diameter setiap pengamatan pada tanaman jabon. Berikut disajikan rekapitulasi pertumbuhan parameter diameter jabon terhadap selisih pertumbuhan akhir dengan awal pada Tabel 4.
Tabel 4 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter diameter pengamatan akhir - awal
Faktor Selisih Pengamatan Akhir-Awal
Sumber Benih tn
Dosis tn
S.Benih x Dosis tn
tn = tidak berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5 %
Tabel 4 di atas menujukkan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter jabon dengan menggunakan selisih pertumbuhan akhir-awal, baik itu pada sumber benih maupun terhadap dosis dan interaksi sumber benih dengan dosis. Gambar 11 menunjukkan pengukuran diameter batang dilakukan menggunakan kaliper dan diukur 10 cm di atas permukaan tanah. Cara pengukurannya dapat dilihat pada gambar 11 serta pertumbuhan diameter batang pada minggu ke-8.
Gambar 11 Pengukuran diameter batang (a) dan pertumbuhan diameter
jabon pada minggu ke-8 (b) 5.1.3 Jumlah daun tanaman jabon
Kemudian parameter ukur pertumbuhan yang ketiga adalah pertumbuhan jumlah daun. Rekapitulasi hasil sidik ragam pertumbuhan jumlah daun tanaman jabon pada setiap pengamatan disajikan pada Tabel 5.
a b
Tabel 5 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter peningkatan jumlah daun
Dari Tabel 5 di atas diperoleh hasil bahwa faktor sumber benih memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pertumbuhan jumlah daun pada M2 sampai M8, sedangkan M0 tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman jabon. Faktor dosis dan interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pertumbuhan jumlah daun.
Untuk mengetahui sumber benih yang terbaik terhadap pertumbuhan jumlah daun pada M2-M8 dilakukan uji Duncan yang disajikan pada Gambar 12.
Gambar 12 Hasil uji Duncan pengaruh sumber benih terhadap pertumbuhan jumlah daun pada minggu kedua sampai kedelapan tanaman jabon
Hasil uji Duncan yang disajikan dalam bentuk diagram batang pada Gambar 12 dapat dilihat bahwa bibit yang berasal dari sumber benih Malang pertumbuhan jumlah daun lebih besar dibandingkan dengan bibit yang berasal dari Sangatta memiliki jumlah daun 25, sedangkan yang terkecil memiliki jumlah daun 6.
Pemaparan data deskriptif pertumbuhan jumlah daun tanaman jabon setiap pengamatan disajikan pada Gambar 13.
Gambar 13 Pertumbuhan jumlah daun jabon pada setiap dua minggu (A= sumber benih; B= dosis pupuk)
Gambar 13 menunjukkan pertumbuhan jumlah daun setiap pengamatan pada tanaman jabon. Berikut disajikan rekapitulasi pertumbuhan parameter diameter jabon terhadap selisih pertumbuhan akhir dengan awal pada Tabel 6.
Tabel 6 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter jumlah daun pengamatan akhir - awal dengan menggunakan selisih pertumbuhan akhir-awal terhadap pertumbuhan jumlah daun dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap dosis dan interaksi
Gambar 14 Hasil uji Duncan pengaruh sumber benih terhadap pertumbuhan jumlah daun terhadap selisih akhir dengan awal tanaman jabon
Gambar 14 menunjukkan sumber benih yang terbaik adalah sumber benih yang berasal dari Malang dengan jumlah daun 19 dan yang terkecil dari Sangatta dengan jumlah daun 8. Gambar 15 menunjukkan pertumbuhan jumlah daun minggu ke-4 dan jumlah dauun minggu ke-8, dari gambar terlihat sekali peningkatan pertumbuhan jabon.
Gambar 15 Pertumbuhan jumlah daun minggu ke 4 (a), pertumbuhan
jumlah daun minggu ke-8 (b)
5.1.4 Diameter tajuk tanaman jabon
Kemudian parameter ukur pertumbuhan yang terakhir adalah pertumbuhan diameter tajuk. Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter pertumbuhan diameter tajuk tanaman jabon pada setiap pengamatan disajikan pada Tabel 4.
0 5 10 15 20
Malang Sangatta
Pertumbuhan Jumlah Daun
Sumber Benih
a
b
a b
Tabel 7 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter peningkatan diameter
* = berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5%; tn = tidak berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5 %
Dari Tabel 7 di atas diperoleh hasil bahwa faktor sumber benih yang memberikan pengaruh nyata terdapat pada M4 sedangkan M0, M2, M6, dan M8 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter tajuk.
Faktor dosis dan interaksi sumber benih dengan dosis tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter tajuk. Untuk mengetahui sumber benih yang terbaik pada P3 dilakukan uji Duncan yang disajikan pada Gambar 16.
Gambar 16 Hasil uji Duncan pengaruh sumber benih terhadap pertumbuhan diameter tajuk pada pengamatan ketiga tanaman jabon
Hasil uji Duncan yang disajikan dalam bentuk diagram batang pada Gambar 16 dapat dilihat bahwa bibit yang berasal sumber benih dari Malang lebih besar dibandingkan bibit yang berasal dari Sangatta, memiliki diameter tajuk 33,9 cm dan sumber benih yang terkecil 29,8 cm. Pemaparan data deskriptif pertumbuhan diameter tajuk tanaman jabon setiap pengamatan disajikan pada Gambar 17.
27
Gambar 17 Pertumbuhan diameter tajuk jabon pada setiap dua minggu (A= sumber benih; B= dosis pupuk)
Gambar 17 menunjukkan pertumbuhan jumlah daun setiap pengamatan pada tanaman jabon. Berikut disajikan rekapitulasi pertumbuhan parameter diameter jabon terhadap selisih pertumbuhan akhir dengan awal pada Tabel 8.
Tabel 8 Rekapitulasi hasil sidik ragam parameter diameter tajuk pengamatan akhir-awal
Faktor Selisih Pengamatan Akhir-Awal
Sumber Benih tn
Dosis tn
S.Benih x Dosis tn
tn = tidak berbeda nyata menurut uji F pada taraf 5 %
Tabel 8 di atas menujukkan tidak ada faktor yang memilik pengaruh yang nyata terhadap sumber benih, dosis dan interaksi sumber benih dengan dosis.
Gambar 18 menunjukkan pertumbuhan diameter tajuk pada minggu ke-4 dengan minggu ke-7.
Gambar 18 Pertumbuhan diameter tajuk minggu ke-4 (a), pertumbuhan diameter tajuk minggu ke-7 (b)
5.1.6 Presentase hidup
Presentase hidup merupakan indikator tanaman pada tingkat ketahanan terhadap kondisi lahan kritis. Rekapitulasi hasil persentase hidup tanaman jabon pada tiap perlakuan disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Rekapitulasi hasil persen hidup tanaman selama 10 minggu
Perlakuan Jumlah Persen hidup tanaman
M2 M4 M6 M8 M10
A1B1 48 100,0 100,0 100,0 97,9 95,8
A1B2 48 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
A1B3 48 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
A1B4 48 100,0 97,9 93,8 93,8 93,8
A1B5 48 100,0 97,9 97,3 95,8 95,8
A2B1 48 100,0 100,0 100,0 95,8 95,8
A2B2 48 100,0 100,0 100,0 97,9 95,8
A2B3 48 100,0 100,0 93,8 91,6 89,5
A2B4 48 100,0 95,8 89,5 85,4 85,4
A2B5 48 100,0 93,8 79,1 75,0 75,0
Tabel 9 di atas dapat diartikan bahwa 2 perlakuan tanaman jabon yang mempunyai ketahanan hidup 100% yaitu interaksi sumber benih Malang dengan dosis 15 g dan 25 g, karena dari pengamatan di lapangan tidak ada terjadinya kematian. Perlakuan yang memiliki ketahanan hidup yang sangat kecil yaitu interaksi sumber benih Sangatta dengan dosis 50 g karena memiliki kematian terbanyak yaitu 12 tanaman jabon.
a b
5.1.7 Kondisi tanah
Pengambilan contoh tanah pada lokasi penelitian dilakukan pada awal penanaman jabon. Contoh tanah dianalisis di Laboratorium Seameo Biotrop dengan parameter uji antara lain pH tanah, C organik, N total, rasio C/N, P tersedia, K dan KTK tanah. Hasil analisis beberapa sifat kimia tanah asli di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10 Beberapa sifat kimia tanah pada tanah asli lokasi penelitian di lapangan
No Parameter uji Satuan Sample tanah Kriteria
(Hardjowigeno 1995)
Penelitian ini adalah penelitian pertama tentang pertumbuhan jabon dengan membedakan dosis pemupukan yang dilakukan pada lahan bekas tambang di PT.
KPC. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan dari jumlah dan dimensi tanaman/pohon, baik diameter, maupun tinggi yang terdapat pada suatu tanaman.
Pertumbuhan panjang atau tinggi merupakan pertumbuhan primer (initial growth).
Pertumbuhan panjang setiap harinya akan mengalami perubahan.
Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara dalam tanah. Melalui pemupukan unsur hara dalam tanah dapat dipenuhi. Lahan bekas tambang identik dengan tanah yang kritis sehingga diperlukan pengetahuan terhadap jumlah dosis pupuk yang sesuai pada tanaman jabon agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik. Pada penelitian ini hanya dibedakan dosis terhadap pupuk NPK karena pupuk NPK merupakan unsur hara makro yang diduga dapat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jabon dalam jangka waktu yang pendek, dosis pupuk NPK yang digunakan adalah 0 g, 15 g, 25 g, 35 g, dan
50 g. Selain pupuk NPK penanaman jabon juga diberikan kompos dan bahan organik dengan perbandingan 1:4 (w/w). Pada penanaman ini juga diberikan alcosorb untuk penyediaan air bagi tanaman jabon pada saat kekeringan, karena pada lahan bekas tambang kondisi kekeringan umumnya terjadi akibat dari bukaan lahan yang sangat besar sehingga persediaan air di dalam tanah berkurang.
Sumber benih adalah suatu tegakan hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman yang ditunjuk atau dibangun khusus untuk dikelola guna memproduksi benih bermutu. Tegakan benih teridentifikasi merupakan tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata yang digunakan untuk menghasilkan benih dan lokasinya dapat teridentifikasi dengan tepat dan tergolong kelas II. Tegakan benih provenan adalah tegakan yang dibangun dari benih yang provenannya telah teruji dan diketahui keunggulannya dan tergolong kelas V.
Jumlah tanaman jabon yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 480 tanaman yang terdiri dari 240 tanaman dari sumber benih Malang dan 240 tanaman dari sumber benih Sangatta. Tujuan membedakan 2 sumber benih ini untuk mengetahui sumber benih yang mana yang memiliki pertumbuhan yang baik pada lahan bekas tambang.
Pupuk NPK mengandung unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K).
Unsur nitrogen (N) bagi tanaman berguna untuk membantu proses pembentukan klorofil, fotosintesis, protein, lemak, dan persenyawaan organik lainnya. Volume nitrogen di udara sekitar 78%. Unsur fosfor (P) sangat berguna untuk pembentukan akar tanaman, bahan dasar protein, memperkuat batang tanaman serta membantu asimilasi dan respirasi, unsur kalium (K) berguna untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat, memperkuat jaringan tanaman, serta membentuk antibodi tanaman melawan penyakit dan kekeringan. Selain itu, untuk mengatur berbagai fungsi fisiologi tanaman seperti menjaga kondisi air di dalam sel dan jaringan, mengatur turgor, menutup stomata, mengatur akumulasi dan translokasi karbohidrat yang baru terbentuk .
Pengamatan terhadap parameter pertumbuhan dilakukan setiap dua minggu sekali selama sepuluh minggu. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa dari empat parameter pertumbuhan yang diamati, parameter pertumbuhan tinggi memiliki pengaruh yang nyata terhadap sumber benih pada minggu nol sampai
delapan, dan pada minggu ke-4 terhadap interaksi sumber benih dengan dosis parameter ini juga memiliki pengaruh yang nyata. Faktor dosis tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi jabon. Parameter pertumbuhan diameter berpengaruh nyata terhadap dosis pada minggu ke-2 dan tidak berpengaruh nyata terhadap dosis pada minggu 0, 4, 6, dan 8. Faktor sumber benih dan interaksi sumber benih dengan dosis tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter jabon. Parameter pertumbuhan jumlah daun memiliki pengaruh yang nyata terhadap sumber benih pada minggu dua sampai minggu ke-4, dan tidak berpengaruh nyata terhadap minggu nol.
Faktor dosis serta interaksi sumber benih dengan dosis pada pertumbuhan jumlah daun tanaman jabon tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman jabon. Parameter diameter tajuk memiliki pengaruh nyata terhadap sumber benih hanya pada minggu ke-2 saja sedangkan minggu 0, 4, 6, dan 8 tidak berpengaruh nyata dan pada diameter tajuk dosis serta interaksi sumber benih dengan dosis tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tajuk jabon. Berdasarkan kelima dosis pupuk NPK yang diberikan pada sumber benih Malang dan Sangatta, dosis yang paling bagus dalam membantu pertumbuhan tanaman jabon yaitu pupuk NPK dengan dosis 50 g (B5), serta sumber benih yang terbaik berasal dari Malang karena sumber benih dari malang merupakan sumber benih yang berasal dari kelas sumber benih V sedangkan Sangatta kelas sumber benih II. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal (sifat genetik/hereditas) dan intersel (hormonal dan enzim). Faktor eksternal air, tanah, dan mineral, kelembaban, udara, suhu udara, cahaya dengan sebagainya.
Pemberian pupuk NPK yang diamati selama 10 minggu ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan jumlah daun dan diameter tajuk tanaman jabon. Hal ini dapat diketahui dari hasil sidik ragam kedua parameter tersebut. Pertumbuhan jumlah daun tanaman jabon dengan NPK dosis 50 g (AZ) memiliki peningkatan pertumbuhan jumlah daun terbesar terhadap kontrol begitu pula pertumbuhan diameter tajuk. Pemupukan NPK memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jabon. Hal ini disebabkan karena rata-rata setiap peningkatan pertumbuhan masing-masing
parameter tersebut hasilnya hampir sama sehingga pada taraf uji 0,05 tidak berpengaruh nyata.
Nilai persentase tumbuh tanaman jabon pada setiap perlakuan menunjukkan ada 2 perlakuan yang memiliki persen tumbuh 100% dan beberapa perlakuan lainnya memiliki persen tumbuh berkisar 85,41%−97,91% sehingga dapat dikatakan memiliki persen tumbuh yang baik. Serta 1 perlakuan memiliki persen tumbuh 75%. Dari semua perlakuan tanaman jabon masih dapat hidup pada lahan yang kritis seperti pada lahan bekas tambang karena persen tumbuh tidak kurang dari 50%.
Sifat kimia tanah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa kimia dan terjadi didalam maupun diatas permukaan tanah sehingga akan menentukan sifat dan ciri tanah yang terbentuk dan berkembang setelah peristiwa kimia tersebut. Variabel yang termasuk dalam sifat kimia tanah adalah pH tanah, ketersediaan unsur hara makro dan kapasitas tukar kation (KTK). Pada penelitian ini unsur yang diamati adalah pH, C, N total, P tersedia, dan K serta unsur Al3+, Fe2O3 dan sulfida total. Menurut Hardjowigeno (2003) unsur C, N, P dan K merupakan unsur hara makro yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tanaman.
Hasil uji unsur-unsur tersebut dapat dilihat pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10, contoh tanah asli diambil pada lokasi penelitian menunjukkan parameter yang diukur memiliki nilai kandungan unsur yang rendah, sangat rendah dan unsur Al3+ sangat tinggi.
Unsur kimia tanah yang diamati adalah pH, C, N total, P tersedia, dan K serta Fe2O3, Al3+ dan sulfida total. Unsur C, N, P, dan K merupakan unsur hara makro yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tanaman. Kadar pH (H2O) tanah pada lokasi penelitian adalah 4,9. Hal ini menunjukkan nilai pH tanah masam.
Menurut Hardjowigeno (1985) pemupukan dengan dengan pupuk bermiliekivalen kemasaman akan meningkatkan kemasaman tanah. pH yang masam mengakibatkan unsur-unsur hara yang ditambahkan dari pupuk ke tanah tidak memberikan perubahan baik pada tanah. Pada kondisi pH yang masam, unsur hara susah untuk diikat oleh akar tanaman. Hardjowigeno (2003) menyatakan bahwa pH menentukan mudah tidaknya unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya usur
hara mudah diserap akar tanaman pada pH netral, karena pada pH netral unsur hara mudah larut dalam air.
Testur tanah yang didapatkan dari uji laboratorium adalah lempung liat berpasir dan mempunyai nilai KTK sebesar 8,92 emol/kg. Nilai KTK tersebut berarti tanah mempunyai kemampuan rendah untuk mengikat unsur-unsur hara.
Seperti nilai C organik, N total, P tersedia dan K dalam tanah sangat rendah.
Soepardi (1983) menyatakan bahwa tekstur dan KTK merupakan variabel yang saling berkaitan. Apabila tekstur tanah semakin kasar maka nilai KTK semakin rendah dan semakin rendah juga kemampuan tanah untuk menjerat unsur-unsur hara.
Nilai C organik dalam tanah menunjukkan jumlah bahan organik dalam tanah (Narendra dan Multikaningsih 2006). Kandungan N total pada penelitian ini sangat rendah. Hal ini diduga karena tanah tanpa vegetasi dan KTK rendah sehingga N dalam tanah mudah tercuci oleh air drainase.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Bibit dengan sumber benih berasal dari Malang dengan dosis pupuk NPK 50 g memberikan hasil terbaik.
2. Sumber benih dari Malang lebih baik dari pada sumber benih yang berasal dari Sangatta.
6.2 Saran
Perlu dilakukan pengamatan lanjutan di lapangan sampai berapa lama pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan kapan diberikan pemupukan lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim].h2011. Anthocephalusfcadamba. [terhubung berkala]. http://www.
agroforestry.net [15 Februari 2012].
[BRIK] Badan Revitaliasi Industri Kehutanan. 2003. Kelompok rimba campuran/kelompok komersial dua. [terhubung berkala]. http://brikonline.
com [21 Januari 2009].
Budi SW, Mansur I, Siregar IZ. 2004. Diktat Silvikultur. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.
Darajat. 2009. Genesa batubara. [terhubung berkala]. http://blog.unsri.ac.id/
darajat/batubara/genesa batubara/mrdetail/246.com [13 Oktober 2011].
[DIRJEN] Direktorat Jenderal Kehutanan, Departeman Kehutanan. 1980.
Pedoman Pembuatan Tanaman. Jakarta: Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi.
Dwidjoseputro. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT.Gramedia.
Fitzpatrick EA. 1986. An Introduction to Soil Science. Volume ke-2. New York:
Pergamon.
Hardjowigeno S. 1995. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
Kapisa N, Sapulata E. 1994. Informasi teknik tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq.). Buletin Penelitian Kehutanan 10(3):183-196.
Kartosudjono W. 1994. Lingkungan pertambangan dan reklamasi, Direktorat Pertambangan Umum. Jakarta: Departemen Pertambangan dan Energi Republik Indonesia.
[LBN] Lembaga Biologi Nasional. 1980. Kayu Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Leiwakabessy FM, Suwarno, Wahjudi UM. 2003. Kesuburan Tanah. Bogor:
Fakultas Pertanian IPB.
Mansur I, Tuheteru FD. 2010. Kayu Jabon. Jakarta: Penebar Swadaya.
Mansur I. 2010. Teknik Silvikultur untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang.
Bogor: Seameo Biotrop.
Martawidjaya A, Kartasujana, Kadir K, Prawira SA. 1981. Atlas Kayu Indonesia
Martawidjaya A, Kartasujana, Kadir K, Prawira SA. 1981. Atlas Kayu Indonesia