HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.6.4 Deskripsi Jawaban Pembayaran Klaim Penjaminan
Tabel 4.14
Jawaban Responden Terhadap Pembayaran Klaim Penjaminan
No Pernyataan SP P CP KP TP Total
% % % % % %
1 LPS melakukan pembayaran klaim penjaminan atas simpanan layak bayar nasabah penyimpan selambat-lambatnya 5 hari kerja sejak verifikasi dimulai
7,0 22,0 25,0 37,0 9,0 100,0
2 Pembayaran klaim dilakukan setelah menentukan simpanan
5 Klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika data simpanan tidak tercatat pada Bank
10,0 17,0 30,0 30,0 6,0 100,0
6 Klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika nasabah penyimpan merupakan pihak yang diuntungkan secara tidak wajar
8,0 12,0 32 34,0 9,0 100,0
7 Klaim penjaminan simpanan tidak layar bayar jika nasabah
9 Apabila nasabah mempunyai rekening gabungan (joint account) bersama nasabah lain, maka untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo pada rekening gabungan dibagi sama besar diantara para pemilik rekening tersebut
8,0 12,0 28,0 33,0 19,0 100,0
10 Apabila nasabah penyimpan juga mempunyai kewajiban kepada bank, maka pembayaran klaim penjaminan terhadap nasabah tersebut akan terlebih dahulu diperhitungkan kewajibannya (set off)
8,0 11,0 24,0 29,0 28,0 100,0
Pada tabel 4.14 dapat diketahui 7% responden menyatakan sangat paham bahwa LPS melakukan pembayaran klaim penjaminan atas simpanan layak nasabah penyimpan selambat-lambatnya 5 hari kerja sejak verifikasi dimulai, 22%
menyatakan paham, 25% menyatakan cukup paham, 37% menyatakan kurang
sebagian besar responden sudah paham bahwa LPS melakukan pembayaran klaim penjaminan atas simpanan layak nasabah penyimpan selambat-lambatnya 5 hari kerja sejak verifikasi dimulai.
Sebanyak 6% responden menyatakan sangat paham bahwa pembayaran klaim dilakukan setelah menentukan simpanan layak bayar atau verifikasi dalam w paham, 28% menyatakan cukup paham, 41% menyatakan kurang paham, dan 11% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden belum paham bahwa pembayaran klaim dilakukan setelah menentukan simpanan layak bayar atau verifikasi dalam waktu 90 hari kerja terhitung sejak bank dicabut izin usahanya.
Sebanyak 3% responden menyatakan sangat paham bahwa LPS wajib mengumumkan tanggal dimulainya pengajuan klaim sekurang-kurangnya 2 surat kabar berperedaran luas, 16% menyatakan paham, 25% menyatakan cukup paham, 46% menyatakan kurang paham, dan 10% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden belum paham bahwa LPS wajib mengumumkan tanggal dimulainya pengajuan klaim sekurangkurangnya 2 surat kabar berperedaran luas. Sebanyak 6% responden menyatakan sangat paham bahwa jangka waktu pengajuan klaim oleh nasabah kepada LPS adalah 5 tahun sejak bank dicabut izin usahanya, 12% menyatakan paham, 27% menyatakan cukup paham, 44% menyatakan kurang paham, dan 11% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden belum paham bahwa jangka waktu pengajuan klaim oleh nasabah kepada LPS adalah 5 tahun sejak bank dicabut izin usahanya.
Sebanyak 7% responden menyatakan sangat paham bahwa klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika data simpanan tidak tercatat pada bank, 19% menyatakan paham, 38% menyatakan cukup paham, 30% menyatakan kurang paham, dan 6% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden sudah paham bahwa klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika data simpanan tidak tercatat pada bank.
Sebanyak 10% responden menyatakan sangat paham bahwa klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika nasabah penyimpan merupakan pihak yang diuntungkan secara tidak wajar, 17% menyatakan paham, 30% menyatakan cukup paham, 34% menyatakan kurang paham, dan 9% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden sudah paham bahwa klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika nasabah penyimpan merupakan pihak yang diuntungkan secara tidak wajar.
Sebanyak 8% responden menyatakan sangat paham bahwa klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika nasabah penyimpan menyebabkan keadaan bank menjadi tidak sehat, 12% menyatakan paham, 32% menyatakan cukup paham, 37% menyatakan kurang paham, dan 11% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden sudah paham
bahwa klaim penjaminan simpanan tidak layak bayar jika nasabah penyimpan menyebabkan keadaan bank menjadi tidak sehat.
Sebanyak 12% responden menyatakan sangat paham bahwa apabila
untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo seluruh rekening tersebut dijumlahkan, 12% menyatakan paham, 30% menyatakan cukup paham, 37%
menyatakan kurang paham, dan 9% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden sudah paham bahwa apabila seorang nasabah mempunyai beberapa rekening simpanan pada satu bank, maka untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo seluruh rekening tersebut dijumlahkan.
Sebanyak 8% responden menyatakan sangat paham bahwa apabila nasabah mempunyai rekening gabungan (joint account) bersama nasabah lain, maka untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo pada rekening gabungan dibagi sama besar diantara para pemilik rekening tersebut, 12% menyatakan paham, 28% menyatakan cukup paham, 33% menyatakan kurang paham, dan 19% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden belum paham bahwa apabila nasabah mempunyai rekening gabungan (joint account) bersama nasabah lain, maka untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo pada rekening gabungan dibagi sama besar diantara para pemilik rekening tersebut.
Sebanyak 8% responden menyatakan sangat paham bahwa apabila nasabah penyimpan juga mempunyai kewajiban kepada bank, maka pembayaran klaim penjaminan terhadap nasabah tersebut akan terlebih dahulu diperhitungkan kewajibannya (set off), 11% menyatakan paham, 24% menyatakan cukup paham, 29% menyatakan kurang paham, dan 28% tidak paham. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan sebagian besar responden belum paham bahwa apabila
nasabah penyimpan juga mempunyai kewajiban kepada bank, maka pembayaran klaim penjaminan terhadap nasabah tersebut akan terlebih dahulu diperhitungkan kewajibannya (set off).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden rata-rata sudah paham pembayaran klaim penjaminan. Hal ini ditunjukkan ratarata sebanyak 7,5% responden menyatakan sangat paham mengenai pembayaran klaim penjaminan, 14,7% menyatakan paham, 28,7% menyatakan cukup paham, 36,8%
menyatakan kurang paham, dan 12,3% menyatakan tidak paham.
Tabel 4.15
Pemahaman Nasabah Mengenai Pembayaran Klaim Penjaminan
Pekerjaan SP P CP KP TP Total
% % % % % %
Pegawai Swasta
10,4 34,8 27,0 23,5 4,3 100,0 Peagawai negeri
11,0 17,0 28,0 43,0 1,0 100,0 Wiraswasta 5,64 19,49 28,72 33,85 12,31 100,0
Mahasiswa 14,4 17,8 28,9 35,6 3,3 100,0
Dari tabel 4.15 diketahui bahwa untuk responden yang pekerjaannya pegawai swasta, 73,0% menyatakan paham mengenai pembayaran klaim penjaminan dan 27,0% tidak paham. Untuk responden mahasiswa, 58,34%
menyatakan paham dan 41,67% tidak paham. Untuk responden yang pekerjaannya pegawai negeri, 45,0% menyatakan paham dan 55,0% tidak paham.
Untuk responden yang pekerjaannya wiraswasta, 37,5% menyatakan paham dan 62,5% tidak paham.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nasabah yang memiliki pekerjaan pegawai swasta, mahasiswa, dan pegawai negeri memiliki tingkat pemahaman yang paling banyak mengenai pembayaran klaim penjaminan, sedangkan nasabah yang berwiraswasta banyak yang belum paham.
4.7 Analisis Crosstab
Analisis crosstab merupakan salah satu fasilitas yang ada pada program SPSS yang bisa menampilkan kaitan antara dua atau lebih variabel, atu sampai dengan menghitung apakah ada hubungan antara baris (sebuah variabel) dengan sebuah kolom (sebuah variabel lainnya). Di sini akan dibahas dua hubungan, yaitu:
Hubungan antara Gender/Jenis Kelamin dengan Tingkat Pemahaman