• Tidak ada hasil yang ditemukan

Botani Tanaman Jeruk Besar (Pamelo)

Tanaman jeruk besar (Citrus grandis (L.) Osbeck) termasuk ke dalam famili Rutaceae. Famili Rutaceae memiliki sekitar 1 300 spesies yang dikelompokkan menjadi 7 sub famili dan 120 genus. Genus Citrus memiliki 16 spesies yang diantaranya adalah jeruk besar atau pamelo (Setiawan, 1993). Jeruk besar sering disebut jeruk bali, jeruk cikoneng, limau makan atau limau besar, dan pummelo. Klasifikasi tanaman jeruk besar sebagai berikut sebagai berikut (Rukmana, 2009). Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rutales Famili : Rutaceae Genus : Citrus

Spesies : Citrus grandis (L.) Osbeck atau Citrus maxima Merr Tanaman jeruk besar merupakan tanaman menahun (perennial) dengan karakteristik tinggi pohon antara 5 m - 15 m. Batang tanaman kuat dengan diameter 10 cm - 30 cm dan berkulit agak tebal. Kulit bagian luar berwarna cokelat kekuning-kuningan, sedangkan bagian dalamnya berwarna kuning. Pohon jeruk pamelo memiliki banyak percabangan yang terletak saling berjauhan dan merunduk pada bagian ujungnya. Cabang yang masih muda bersudut dan berwarna hijau, namun lama-kelamaan berubah menjadi bulat dan berwarna hijau tua (Rukmana, 2009).

Batang pohon jeruk besar ada yang berduri dan ada yang tanpa duri. Penanaman pohon yang berasal dari biji menyebabkan pohon berduri pada awal pertumbuhannya, namun setelah dewasa duri akan menghilang. Tanaman yang berasal dari perkembangbiakan secara vegetatif tidak memiliki duri sejak awal pertumbuhannya karena berasal dari pohon dewasa (Setiawan, 1993).

Daun tanaman jeruk besar berbentuk bulat telur dan berukuran lebih besar daripada jenis jeruk lain. Daun muda berwarna hijau muda kekuningan dan kemudian berubah menjadi hijau tua. Antara daun dan batang dihubungkan oleh tangkai daun yang bersayap lebar (Setiawan, 1993).

Tanaman jeruk besar mulai berproduksi pada umur 4-6 tahun, tergantung pada varietas dan pemeliharaan. Produktivitas jeruk ini sangat bervariasi sesuai varietas, umur, dan tingkat pertumbuhan tanaman yang didukung oleh lingkungan. Satu pohon jeruk pamelo dapat menghasilkan 75-200 buah (Setiawan, 1993).

Ciri khas jeruk besar adalah buahnya yang berukuran besar dan berkulit tebal sehingga tahan lama disimpan atau diangkut dalam jarak jauh. Buah berbentuk bulat atau seperti bola yang tertekan dan berkulit agak tebal sampai tebal, berisi 11-16 segmen. Warna daging buah bervariasi yaitu merah jambu, putih, hijau muda, atau kekuning-kuningan. Daging buah bertekstur keras sampai lunak, berasa manis sampai sedikit asam, dan berbiji sedikit (Rukmana, 2009).

Jeruk Besar Kultivar Nambangan

Jeruk Nambangan merupakan jeruk pamelo yang populer karena termasuk jenis unggul. Jeruk ini berasal dari daerah Nambangan, yaitu sebuah kelurahan di Kodya Madiun, Jawa Timur. Akibat adanya perluasan kota, sentra produksi jeruk Nambangan bergeser ke kabupaten Magetan, tepatnya di desa Sukomoro, desa Tamanan, dan desa Tambak Mas. Jeruk Nambangan mulai berbuah pada umur 3-4 tahun setelah tanam. Buahnya bulat pendek, kulit buah kuning kehijauan. Daging buah berwarna merah muda dan menjadi merah hingga jingga setelah tua. Jeruk ini memiliki rasa manis asam dan segar, serta daging buah banyak mengandung air. Jeruk ini lebih tahan dalam penyimpanan, dengan suhu kamar, penyimpanan dapat berlangsung selama 4 bulan. Setelah penyimpanan kulit buah menjadi sedikit keriput namun daging buah tetap segar dan banyak mengandung air (Setiawan, 1993).

Perbanyakan Tanaman dengan Stek

Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan

menjadi tanaman baru. Sebagai alternatif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar (Widiarsih et al., 2008).

Tanaman yang dihasilkan dari stek biasanya mempunyai sifat persamaan dalam umur, ukuran tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan sifat-sifat lainnya. Selain itu juga dapat diperoleh tanaman yang sempurna yaitu tanaman yang mempunyai akar, batang, dan daun yang relatif singkat (Wudianto, 2002).

Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor internal yaitu tanaman itu sendiri dan faktor eksternal atau lingkungan (Widiarsih et al., 2008).

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Stek 1. Faktor Tanaman

a. Umur Tanaman Induk

Opuni-Frimpong et al. (2008) menyebutkan bahwa umur tanaman induk berpengaruh terhadap pengakaran pada stek. Stek yang berasal dari tanaman muda akan lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman yang berumur lebih tua.

b. Jenis Tanaman

Keberhasilan dengan cara stek bergantung pada kesanggupan suatu jenis tanaman untuk berakar. Ada jenis yang mudah berakar dan ada yang sulit berakar. Jaringan sklerenkim yang rapat merupakan penghalang pemunculan akar, dimana jaringan cincin sklerenkim pada tanaman berkayu jauh lebih banyak dibandingkan tanaman berbatang lunak (Hartmann et al., 1990)

c. Adanya Tunas dan Daun Pada Stek

Menurut Hartmann et al. (1990) adanya tunas dan daun pada stek berperan penting karena merupakan penghasil auksin endogen yang penting bagi perakaran. Auksin endogen ditransport dari ujung stek menuju ke pangkal stek.

d. Persediaan Bahan Makanan

Persediaan bahan makanan sering dinyatakan dengan perbandingan antara persediaan karbohidrat dan nitrogen (C/N ratio). Bahan stek yang mengandung karbohidrat tinggi dan nitrogen cukup akan membentuk akar dan tunas (Hartmann et al., 1990).

2. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek diantaranya adalah media perakaran, suhu, kelembaban, dan cahaya (Hartmann et al., 1990).

a. Media Perakaran

Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan akar, memberi kelembaban pada stek, dan memudahkan penetrasi udara pada pangkal stek. Media perakaran yang baik menurut Hartmann et al. (1990) adalah yang dapat memberikan aerasi dan kelembaban yang cukup, berdrainase baik, serta bebas dari patogen yang dapat merusak stek.

b. Suhu dan kelembaban

Suhu berpengaruh terhadap kerja enzim, suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan degradasi pada beberapa enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk setiap jenis tumbuhan. Kelembaban tinggi dapat mengurangi transpirasi pada stek Hartmann et al. (1990).

c. Cahaya

Menurut Hartmann et al. (1990) Intensitas cahaya yang terlalu tinggi membahayakan daun pada stek, menghambat perakaran, dan menurunkan pertumbuhan akar. Rochiman dan Harjadi (1973) menambahkan bahwa stek yang diberi naungan akan berakar lebih banyak daripada yang menerima cahaya matahari langsung.

Peranan Zat Pengatur Tumbuh

Zat pengatur tumbuh adalah suatu bahan sintesis atau hormon tumbuh yang mempengaruhi proses fisiologis tanaman. Zat ini mengatur pertumbuhan

tanaman dengan cara meniru suatu hormon, mempengaruhi sintesis hormon, destruksi, translokasi, atau mungkin memodifikasi aktivitas hormonal (Hartmann et al., 1990).

Terdapat beberapa macam zat pengatur tumbuh diantaranya yaitu auksin, sitokinin, giberelin, dan etilen. Hartmann et al. (1990) menyebutkan zat pengatur tumbuh yang paling berperan pada pengakaran stek adalah auksin. Penggunaan zat pengatur tumbuh auksin bertujuan untuk meningkatkan persentase stek yang membentuk akar, memacu inisiasi akar, meningkatkan jumlah dan kualitas akar yang terbentuk, serta meningkatkan keseragaman dalam perakaran.

Menurut Watimena (1988) aktivitas auksin sintetik dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu kesanggupan senyawa tersebut untuk dapat menembus lapisan kutikula atau epidermis yang berlilin, sifat translokasi di dalam tanaman, pengubahan auksin menjadi senyawa yang tidak aktif di dalam tanaman (destruksi atau pengikatan), interaksi dengan hormon tumbuh lainnya, spesies tanaman, fase pertumbuhan, serta lingkungan (suhu, radiasi, dan kelembaban).

Auksin yang biasa dikenal yaitu indole-3-aceticacid (IAA), indole butyric acid (IBA) dan napthalene acetic acid (NAA). Menurut Kusumo (1984) penggunaan NAA dan IBA lebih baik daripada IAA. Auksin NAA dan IBA memiliki sifat kimia yang lebih stabil dan mobilitasnya di dalam tanaman rendah, sedangkan IAA dapat tersebar ke tunas-tunas dan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tunas tersebut. NAA memiliki kisaran konsentrasi yang sempit, sedangkan IBA memiliki kisaran konsentrasi yang lebih fleksibel.

Hartmann et al. (1990) menyatakan bahwa pemberian auksin NAA dan IBA dalam jumlah tertentu pada berbagai spesies tanaman yang berbeda dapat memberikan respon yang bervariasi. Pemberian auksin pada konsentrasi yang tepat dapat memacu perakaran namun pada konsentrasi tinggi dapat bersifat toksik bagi tanaman.

Beberapa hasil penelitian mengenai penggunaan NAA dan IBA pada stek beberapa jenis tanaman jeruk telah dilakukan. Penelitian Ferguson dan Young (1985) menunjukkan bahwa perlakuan zat pengatur tumbuh NAA dan IBA mampu meningkatkan perakaran pada stek tanaman jeruk Swingle Citrumelo.

Menurut Sabbah et al. (1991) penggunaan zat pengatur tumbuh NAA dan IBA pada stek batang C. sinensis, C. reticulata, dan beberapa jenis jeruk hibrida dapat meningkatkan persentase stek yang berakar serta jumlah dan kualitas akar yang dihasilkan tiap stek, namun terdapat variasi respon perakaran pada tiap jenis klon jeruk. Bhatt dan Tomar (2010) menambahkan penggunaan IBA juga dapat mempengaruhi perakaran stek pada C. auriantifolia Swingle.

Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh

Menurut Hartmann et al. (1990) terdapat tiga cara yang sering digunakan dalam aplikasi zat pengatur tumbuh yaitu Concentrated Solution Dip Method (pencelupan cepat), Dilute Solution Soaking Method (perendaman), dan Commercial Powder Preparation (pasta).

Pada metode pencelupan cepat, pangkal batang dicelupkan dalam larutan zat pengatur tumbuh dengan waktu yang cepat, yaitu sekitar lima detik. Konsentrasi yang digunakan pada metode pencelupan cepat berkisar antara 500 ppm hingga 10 000 ppm (Weaver, 1972; Hartmann et al., 1990).

Metode perendaman menggunakan dilakukan dengan merendam pangkal batang dalam larutan zat pengatur tumbuh selama kurang lebih 24 jam sebelum ditanam pada media. Konsentrasi yang digunakan bervariasi mulai dari 20 ppm untuk spesies yang mudah berakar hingga 200 ppm untuk spesies yang sukar berakar (Hartmann et al., 1990).

Pada metode pasta, pangkal batang diberi hormon yang terkandung dalam zat pembawa yang berupa serbuk inert misalnya tanah liat atau tepung. Konsentrasi yang digunakan berkisar 200 ppm hingga 1000 ppm untuk stek berbatang lunak dan untuk stek berkayu menggunakan konsentrasi lima kali lebih tinggi (Weaver, 1972).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan IPB, Bogor. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2011 hingga bulan Juli 2011.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cabang jeruk pamelo yang diambil dari tanaman induk jeruk pamelo kultivar Nambangan di Kebun Percobaan Cikabayan IPB, larutan stok auksin NAA dan IBA, fungisida, pupuk daun, dan media tanam berupa arang sekam. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah gunting stek, gelas plastik, hand sprayer, digital thermo-hygrometer, pot plastik, plastik sungkup, plastik mulsa, penggaris, jangka sorong dan alat tulis.

Metode Penelitian

Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dua faktor dengan lima ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah jenis auksin yaitu NAA dan IBA. Faktor kedua sebagai anak petak adalah konsentrasi auksin yang terdiri dari : K0 (kontrol), K1 (100 ppm), K2 (150 ppm), K3 (200 ppm), dan K4 (250 ppm). Total satuan percobaan adalah 50 satuan percobaan, setiap satuan percobaan terdiri dari 3 stek sehingga total stek yang digunakan sebanyak 150 stek.

Model rancangan percobaan yang digunakan:

Yijk= µ + αij+ ij+ τk+ (ατ)ik+ ijk Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan dari jenis auksin ke-i, kelompok ke-j, pada konsentrasi ke-k

μ = Nilai tengah

βj = Pengaruh dari kelompok ke-j

ij = Pengaruh galat percobaan jenis auksin ke-i pada kelompok ke-j τk = Pengaruh dari konsentrasi ke-k;

(ατ)ik = Interaksi antara jenis auksin ke-i dengan konsentrasi ke-k. ijk = Pengaruh galat percobaan jenis auksin ke-i, kelompok ke-j pada

konsentrasi ke-k

Data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (uji F) pada taraf 5%, dan apabila hasilnya berbeda nyata dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).

Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan alat dan bahan

Kegiatan persiapan meliputi persiapan tempat penyetekan yang terdiri dari pembuatan sungkup dan persiapan media tanam, persiapan larutan zat pengatur tumbuh auksin, dan persiapan bahan stek. Area penyetekan berupa rumah sungkup yang terbuat dari plastik. Penyungkupan dilakukan untuk menjaga agar kelembaban di area penyetekan tetap tinggi. Bahan stek berupa bagian pucuk dari cabang tanaman jeruk pamelo yang berwarna hijau tua. Cabang tanaman dipilih yang memiliki diameter sekitar 0.5 cm dan kemudian dipotong dengan panjang 20 cm untuk bahan stek. Jumlah daun dikurangi menjadi 3 helai pada tiap stek untuk mengurangi transpirasi dan disisakan hanya bagian sayap daun. Bahan stek direndam dalam larutan fungisida Dithane M-45 selama 15 menit dengan konsentrasi 2g/l untuk mencegah dari serangan bakteri dan cendawan.

2. Aplikasi zat pengatur tumbuh

Aplikasi zat pengatur tumbuh dilakukan sebelum stek ditanam pada media, aplikasi ini menggunakan metode perendaman (Dilute Solution Soaking Method). Pangkal stek direndam dalam larutan auksin sedalam 1 inchi selama 24 jam sesuai dengan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang telah ditentukan (Hartmann et al., 1990).

Gambar 1. Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh dengan Metode Perendaman 3. Penanaman stek pada media

Stek ditanam dalam pot plastik yang berisi media tanam berupa arang sekam. Stek diletakkan dalam rumah sungkup untuk menjaga kelembaban. Stek ditempatkan dibawah naungan paranet 65% untuk mengurangi kontak langsung dengan sinar matahari.

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan adalah kegiatan penyiraman pemupukan, dan pengendalian organisme penggangu tanaman (OPT). Penyiraman dilakukan ketika kelembaban media rendah. Pemupukan dilakukan seminggu sekali menggunakan pupuk daun Growmore dengan kandungan NPK 10-55-10, diaplikasikan pada daun dengan konsentrasi 2 g/l. Pengendalian OPT menggunakan fungisida dithane dengan konsentrasi 2 g/l.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan hingga 10 minggu setelah tanam (MST). Peubah yang diamati meliputi :

1. Persentase stek bertunas (%), diamati jumlah stek yang muncul tunas.

Persentase stek bertunas = Jumlah stek bertunas x 100% Jumlah stek total

2. Jumlah tunas (unit), pengamatan dilakukan terhadap jumlah tunas yang muncul pada tiap stek.

3. Panjang tunas (cm), diukur dari pangkal hingga ujung tunas. 4. Diameter tunas (cm), diukur diameter tunas pada pangkal tunas.

5. Jumlah daun (helai), pengamatan dilakukan pada jumlah daun yang telah terbentuk sempurna.

6. Persentase stek berkalus (%), pengamatan dilakukan pada stek yang tumbuh kalus. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian berlangsung yaitu pada 10 MST.

����������������������= �����ℎ������������

�����ℎ��������� x 100%

7. Persentase stek berakar (%), pengamatan stek berakar dilakukan pada stek yang masih segar dan telah tumbuh akar. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian berlangsung yaitu pada 10 MST.

���������������������= �����ℎ�����������

�����ℎ��������� x 100%

8. Jumlah akar (unit), diamati setiap stek terhadap jumlah akar primer. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian berlangsung yaitu pada 10 MST. 9. Panjang akar (cm), diamati panjang akar setiap stek yang dihitung mulai

pangkal hingga ujung akar terpanjang. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian berlangsung yaitu pada 10 MST.

10. Diameter akar (cm), pengamatan diameter akar dilakukan pada pangkal akar. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian berlangsung yaitu pada 10 MST. 11. Persentase stek berakar-bertunas (%), diamati jumlah stek yang muncul akar

dan tunas. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian berlangsung yaitu pada 10 MST.

��������������������� = �����ℎ�����������

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum

Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon induk jeruk pamelo yang sehat yang telah memasuki fase dewasa. Bahan stek diambil dari bagian pucuk pada cabang tanaman. Pada penelitian ini perbanyakan stek menggunakan teknologi sedehana non mist propagation system. Stek ditanam dalam media tanam berupa arang sekam dan diletakkan dalam rumah sungkup yang terbuat dari plastik bening untuk menjaga kelembaban. Areal penyetekan terletak di bawah naungan paranet dengan persentase naungan sebesar 65%.

Suhu rata-rata harian di dalam sungkup berkisar 26.4 – 31.9oC dengan rata-rata kelembaban relatif harian berkisar 78 – 89%. Kondisi ini memungkinkan stek untuk membentuk perakaran.

Pada minggu-minggu awal penyetekan, sebagian daun yang disisakan pada stek mengalami kelayuan dan kemudian gugur. Daun yang gugur kemudian digantikan oleh tunas baru yang muncul dari mata tunas pada ketiak daun, beberapa stek mulai tumbuh tunas pada 3 MST.

Serangan penyakit yang terjadi selama penelitian adalah serangan cendawan. Serangan cendawan dikendalikan dengan penyemprotan fungisida dithane dengan konsentrasi 2 g/l.

Gambar 2. (a) Area Pemeliharaan Stek, (b) Gejala Serangan Cendawan pada Stek

Hasil Analisis Ragam

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis auksin berpengaruh nyata pada peubah persentase stek berakar, namun tidak berpengaruh pada persentase stek berkalus, persentase stek bertunas, persentase stek berakar-bertunas, jumlah akar, panjang akar, diameter akar, jumlah tunas, panjang tunas, diameter akar, dan jumlah daun baru (Tabel 1).

Perlakuan konsentrasi berpengaruh nyata pada persentase stek berkalus, persentase stek berakar, persentase stek bertunas, persentase stek berakar-bertunas, panjang akar, diameter akar, panjang tunas, dan diameter tunas, namun tidak berpengaruh pada peubah jumlah akar, jumlah tunas, dan jumlah daun yang terbentuk (Tabel 1).

Tabel 1. Rekapitulasi Sidik Ragam terhadap Peubah yang Diamati pada 10 MST Peubah Perlakuan Jenis Auksin (J) Konsentrasi (K) Interaksi (J*K)

Persentase Stek Berkalus tn * tn

Persentase Stek Berakar * * tn

Persentase Stek Bertunas tn * tn

Persentase Stek Berakar-bertunas tn * tn Jumlah Akar tn tn tn Panjang Akar tn * tn Diameter Akar tn * tn Jumlah Tunas tn tn tn Panjang Tunas tn * tn Diameter Tunas tn * tn

Jumlah Daun Baru tn tn tn

Keterangan: * : berpengaruh nyata pada taraf 5%

Pembentukan Kalus

Kalus merupakan jaringan yang terbentuk sebelum tumbuhnya akar pada stek. Kalus terbentuk pada bagian dasar stek ketika ditempatkan dalam kondisi lingkungan yang mendukung. Kalus adalah massa yang tidak teratur dari sel-sel parenkim pada berbagai tahap lignifikasi. Pertumbuhan kalus adalah proliferasi dari sel-sel muda di dasar stek di wilayah kambium vaskular (Hartmann et al., 1990).

Gambar 3. Pembentukan Kalus pada Pangkal Stek Jeruk Pamelo Persentase Stek Berkalus

Perlakuan jenis auksin tidak berpengaruh pada peubah persentase stek berkalus pada 10 MST (Tabel 1). Jenis auksin NAA dan IBA memiliki kemampuan yang tidak berbeda dalam mempengaruhi pembentukan kalus pada stek jeruk pamelo (Tabel 2).

Tabel 2. Pengaruh Jenis Auksin dan Konsentrasi Auksin terhadap Persentase Stek Berkalus pada 10 MST

Perlakuan Persentase stek berkalus (%) Jenis Auksin NAA 20.00 IBA 32.00 Konsentrasi Auksin (ppm) 0 13.33 b 100 13.33 b 150 23.33 ab 200 43.33 a 250 36.67 ab Interaksi tn

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%.

Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berkalus pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 2 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berkalus yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol) dan 100 ppm, namun tidak berbeda dengan konsentrasi 150 ppm dan 250 ppm. Rataan persentase stek berkalus tertinggi diperoleh pada konsentrasi 200 ppm sebesar 43.33%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Febriana (2009) yang menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berkalus pada stek apokad. Stek yang diberi auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berkalus yang lebih besar dibandingkan dengan kontrol.

Menurut Hartmann et al. (1990) pada stek sering terjadi akar pertama muncul melalui kalus, sehingga mengarah kepada asumsi bahwa pembentukan kalus sangat penting untuk pengakaran. Namun pada kebanyakan jenis tanaman, pembentukan kalus dan pembentukan akar tidak bergantung satu sama lain.

Pembentukan Akar

Terbentuknya akar pada stek merupakan penentu keberhasilan stek batang. Akar merupakan organ tanaman yang penting karena memiliki fungsi yang cukup banyak, diantaranya sebagai penyangga batang dan penyerap unsur hara, mineral, dan air dari dalam tanah (Ashari, 1995). Akar yang terbentuk pada stek merupakan akar adventif (Hartmann et al., 1990).

Gambar 4. Akar Adventif yang Terbentuk pada Stek Jeruk Pamelo Persentase stek berakar

Perlakuan jenis auksin berpengaruh terhadap peubah persentase stek berakar pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 3 menunjukkan pemberian jenis auksin

IBA menghasilkan persentase stek berakar yang lebih besar dibandingkan jenis auksin NAA. Menurut Hartmann et al. (1990) IBA merupakan jenis auksin terbaik yang umum digunakan, karena tidak bersifat toksik bagi tanaman pada selang konsentrasi yang luas dan efektif untuk memacu perakaran pada sebagian besar tanaman. Selanjutnya Salisbury dan Ross (1995) menyatakan bahwa IBA lebih baik dalam memacu perakaran dibandingkan dengan auksin lainnya, konsentrasi IBA dapat bertahan pada tingkat yang tepat khususnya pada tahap pembentukan akar selanjutnya.

Tabel 3. Pengaruh Jenis Auksin dan Konsentrasi Auksin terhadap Persentase Stek Berakar pada 10 MST

Perlakuan Persentase stek berakar (%) Jenis Auksin NAA 14.67 b IBA 26.67 a Konsentrasi Auksin (ppm) 0 6.67 b 100 13.33 b 150 20.00 ab 200 36.67 a 250 26.67 ab Interaksi tn

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%.

Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berakar pada umur 10 MST (Tabel 1). Tabel 3 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berakar yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol) dan 100 ppm, namun tidak berbeda dengan konsentrasi 150 ppm dan 250 ppm. Konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berakar yang tertinggi sebesar 36.67%. Pemberian auksin dengan konsentrasi 100 ppm hingga 200 ppm menunjukkan adanya peningkatan persentase stek berakar, namun pada konsentrasi 250 ppm persentase stek berakar cenderung sedikit menurun.

Ferguson dan Young (1985) dan Sabbah et al. (1991) menyatakan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh pada stek beberapa spesies jeruk lebih efisien

dalam memacu perakaran. Selanjutnya Hartmann et al. (1990) menyatakan bahwa pemberian auksin NAA dan IBA dalam jumlah tertentu pada berbagai spesies tanaman yang berbeda dapat memberikan respon yang bervariasi. Pemberian auksin pada konsentrasi yang tepat dapat memacu perakaran namun pada

Dokumen terkait