• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Diskusi rencana anestesi dengan pasien atau wali yang bertanggung jawab

3.7. METODE ANALISIS DATA

4.1.2. Deskripsi Karakteristik Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam periode waktu September – Oktober 2019 dengan jumlah responden sebanyak 67 pasien yang akan menjalankan operasi elektif yang telah memenuhi kriteria inklusi di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara untuk mengetahui hubungan kecemasan pada visit pre-anestesi dengan tekanan darah sebelum tindakan anestesi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa pasien yang menjalani operasi elektif terbanyak di RS USU adalah perempuan dengan jumlah sampel 40 orang (59,7%) sedangkan untuk jenis kelamin laki-laki didapatkan jumlah sebanyak 27 orang (40,3%).

Dari data tersebut didapatkan sebanyak 38 pasien (56,7%) yang menjalani operasi mayor dan 29 pasien (43,3%) yang menjalani operasi minor. Untuk tindakan anestesi didapatkan 50 pasien (74,6%) menjalani tindakan anestesi umum sedangkan 17 pasien (25,4%) menjalani tindakan anestesi regional berupa anestesi spinal. Pada status fisik ASA didapatkan sebanyak 37 pasien (55,2%) dengan ASA 1, 27 pasien (40,3%) dengan ASA 2, dan 3 pasien (4,5%) dengan ASA 3.

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi variabel penelitian.

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Jenis Kelamin :

Laparoskopi cholecystectomy Eksisi right ear

Status Fisik ASA : mendominasi pasien yang menjalani operasi elektif dengan jumlah 65 orang (97%) sedangkan pada takikardi dan bradikardi didapatkan masing-masing 1 orang (1,5%). Pada tingkat kecemasan didapatkan kecemasan ringan sebanyak 41 orang (61,2%), kecemasan sedang sebanyak 17 orang (25,4%), dan kecemasan berat sebanyak 9 orang (13,4%).

Tabel 4.2. Tabulasi silang jenis kelamin dengan tingkat kecemasan.

Jenis Kelamin Tingkat Kecemasan

Total p value kecemasan ringan sebanyak 17 orang (63%), kecemasan sedang sebanyak 7 orang (25,9%), dan kecemasan berat sebanyak 3 orang (11,1%). Pada pasien berjenis kelamin perempuan yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 24 orang (60%), kecemasan sedang sebanyak 10 orang (25%), dan kecemasan berat sebanyak 6 orang (15%). Pada tabulasi silang diatas didapatkan hasil tidak signifikan dengan p value 0,938 (>0,05).

Tabel 4.3. Tabulasi silang jenis operasi dengan tingkat kecemasan.

Jenis Operasi Tingkat Kecemasan

Total p value

Dari tabel 4.3 didapatkan bahwa pasien yang menjalani operasi major dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 16 orang (42%), kecemasan sedang sebanyak 15 orang (39,5%), dan kecemasan berat sebanyak 7 orang (18,4%); sedangkan pada pasien yang menjalani operasi minor dengan kecemasan ringan sebanyak 25

orang (86,2%), kecemasan sedang sebanyak 2 orang (6,9%), dan kecemasan berat sebanyak 2 orang (6,9%). Pada tabulasi silang diatas didapatkan hasil yang signifikan dengan p value 0,01 (<0,05).

Tabel 4.4. Tabulasi silang jenis anestesi dengan tingkat kecemasan.

Jenis Anestesi Tingkat Kecemasan

Total p value sedang sebanyak 11 orang (22%), dan kecemasan berat sebanyak 7 orang (14%);

sedangkan pada pasien yang menjalani tindakan anestesi spinal didapatkan pasien dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 9 orang (52,9%), kecemasan sedang sebanyak 6 orang (35,3%), dan kecemasan berat sebanyak 2 orang (11,8%). Pada tabulasi silang diatas didapatkan hasil tidak signifikan dimana p value 0,512 (>0,05).

Tabel 4.5. Tabulasi silang status fisik ASA dengan tingkat kecemasan.

PS ASA Tingkat Kecemasan

Total p value

PS ASA: Physical Status American Society of Anesthesiologist

Pada tabel 4.5 didapatkan pasien dengan ASA 1 yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 20 orang (54,1%), kecemasan sedang sebanyak 12 orang (32,4%), dan kecemasan berat sebanyak 5 orang (13,5%). Pada pasien dengan ASA 2 didapatkan pasien yang dengan kecemasan ringan berjumlah 18 orang (66,7%), kecemasan sedang berjumlah 5 orang (18,5%), dan kecemasan berat dengan jumlah 4 orang (14,8%); sedangkan pada status fisik ASA 3 hanya didapatkan pasien dengan kecemasan ringan dengan jumlah 3 orang (100%). Pada tabulasi silang diatas didapatkan hasil tidak signifikan dikarenakan p value 0,586 (>0,05).

Tabel 4.6. Tabulasi silang denyut nadi dengan tingkat kecemasan.

Denyut Nadi Tingkat Kecemasan

Total p value (24,6%), dan kecemasan berat sebanyak 9 orang (13,8%); sedangkan pada denyut nadi takikardi diapatkan 1 orang (100%) dengan kecemasan ringan; dan denyut nadi bradikardi didapatkan 1 orang (100%) dengan kecemasan sedang. Pada tabulasi silang diatas didapatkan hasil tidak signifikan dimana p value 0,629 (>0,05).

Tabel 4.7. Tabulasi silang tingkat kecemasan dengan tekanan darah.

Tekanan Darah Tingkat Kecemasan

Total p value darah tetap sebanyak 5 orang (15,6%); sedangkan pasien dengan kecemasan berat yang mengalami tekanan darah meningkat sebanyak 7 orang (20%) dan tekanan darah tetap sebanyak 2 orang (6,3%). Distribusi frekuensi pasien dengan tekanan darah meningkat sebanyak 35 pasien (52,2%) dan tekanan darah tetap sebanyak 32 pasien (47,8%). Pada tabulasi silang ini dapatkan hasil yang signifikan dengan p value 0,028 (<0,05).

4.1.3. PEMBAHASAN

Berdasarkan perhitungan statistik menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan aplikasi SPSS v.25.0 didapatkan hasil yang siginifikan dengan p value

<0,05 berupa tingkat kecemasan dengan jenis operasi dan tekanan darah, sedangkan hasil yang tidak signifikan dengan p value >0,05 yaitu tingkat kecemasan dengan jenis kelamin, jenis anestesi, PS ASA, dan denyut nadi.

Dalam penelitian Mulugeta et al. (2018), didapatkan bahwa perempuan memiliki hasil yang signifikan terhadap kecemasan preoperasi dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan lebih sensitif terhadap peristiwa yang menakutkan dan terdapat perbedaan dalam fluktuasi hormon, sehingga perempuan cenderung lebih mengekspresikan kecemasan mereka dibandingkan laki-laki.

Beberapa penelitian mendukung teori ini seperti Celik dan Edipoglu (2018), Kumar et al. (2019), Khalili et al. (2019) dan Jawaid et al. (2007); akan tetapi terdapat juga penelitian yang tidak mendukung hal tersebut seperti Ebirim et al.

(2010), Ekinci et al. (2017) dan penelitian ini, yang didapatkan bahwa laki-laki lebih cemas dibandingkan perempuan. Alasan yang mungkin adalah kurangnya pemerataan dalam distribusi antara laki-laki dengan perempuan.

Pada penelitian ini, didapatkan hubungan yang signifikan antara jenis operasi dengan tingkat kecemasan yang berarti semakin besar operasi yang akan dijalani maka semakin tinggi kecemasan yang dialami pasien. Faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan dalam kecemasan pre-operasi sebelum operasi elektif berupa usia, jenis kelamin, dukungan keluarga, dan jenis operasi (Almalki et al, 2017). Beberapa penyebab lain yang sering menyebabkan pasien mengalami kecemasan pre-operasi yaitu takut akan mati, takut akan komplikasi, dan takut dengan hasil operasi yang tidak terduga (Bedaso dan Ayalew, 2019). Penyebab ini mungkin disebabkan oleh adanya perasaan negatif seperti ketakutan akan cacat akibat kehilangan organ dan/atau fungsi tubuh (Yilmaz et al., 2012). Walaupun penelitian ini sejalan dengan penelitian Jafar et al. (2009) dan Nigussie et al.

(2014), terdapat juga penelitian yang tidak mendukung seperti penelitian Matthias dan Samarasekera (2012) dan Doñate et al. (2015).

Pada tingkat kecemasan dengan jenis anestesi didapatkan p value >0,05; yang berarti tidak ditemukan hubungan antara tingkat kecemasan dengan jenis anestesi.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khalili et al. (2019), akan tetapi terdapat beberapa penelitian yang menyatakan bahwa jenis anestesi berhubungan dengan tingkat kecemasan seperti yang dilakukan oleh Celik dan Edipoglu (2018), yang menyatakan bahwa pasien yang menjalani tindakan anestesi umum memiliki kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan

pasien yang menjalani anestesi regional, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti takut akan sakit pascapoperasi, terbangun pada saat operasi, takut akan mati, dan takut akan jarum dan intervensi.

Pada penelitian Kumar et al.(2019) dan Caumo et al.(2001) didapatkan bahwa semakin tinggi status fisik ASA pasien maka semakin tinggi pula kecemasan yang dialami pasien. Hal ini dikarenakan status fisik ASA merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan kecemasan pre-operasi, dengan faktor risiko lainnya berupa riwayat kanker, depresi, jenis kelamin wanita, trait-anxiety level, rasa sakit, tingkat pendidikan, perokok, gangguan pskiatri, penundaan jadwal operasi, dan persepsi diri (Nigussie et al, 2014). Akan tetapi, terdapat juga beberapa penelitian yang tidak mendukung seperti penelitian Erkilic et al. (2017) dan Jawaid et al., (2007). Pada penelitian ini sendiri, didapatkan hasil yang tidak signifikan antara status fisik ASA dengan tingkat kecemasan dikarenakan p value

>0,05, yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara PS ASA dengan tingkat kecemasan.

Kecemasan dapat menyebabkan peningkatan kadar katekolamin melalui peningkatan rangsangan simpatis. Peningkatan katekolamin ini mempengaruhi cardiac output (CO) dengan meningkatkan kontraktilitas dan denyut nadi (Manjunatha et al., 2017). Fell et al. (1986) menyatakan bahwa kecemasan dan pelepasan adrenalin yang diinduksi oleh stress dapat menyebabkan peningkatan denyut nadi dan CO sebelum operasi. Akan tetapi pada penelitian ini, tidak ditemukan hubungan antara kecemasan operasi dengan denyut nadi pre-operasi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ahmetovic-Djug et al. (2017) dimana denyut nadi pre-operasi dengan kecemasan tidak didapatkan hasil yang signifikan. Conceição et al. (2004) menyatakan bahwa denyut nadi dan tekanan darah bukanlah parameter yang baik untuk mengevaluasi kecemasan pre-operasi, dikarenakan pada hasil penelitiannya tidak terdapat perbedaaan yang signifikan antara pasien yang cemas dan tidak cemas dalam hal usia, tekanan darah sistolik dan diastolik, dan denyut nadi.

Dari hasil tabulasi silang 4.7 didapatkan p value <0,05, yang berarti H1 diterima. Maka terdapat hubungan antara kecemasan pada saat visit pre-anestesi

dengan tekanan darah sebelum tindakan anestesi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Alimansur et al. (2017), Ahmetovic-Djug et al. (2017), dan Chunhui et al. (2013); walaupun terdapat juga penelitian yang tidak mendukung seperti Conceição et al. (2004).

Kecemasan pre-operasi pada pasien yang menjalani operasi elektif merupakan hal yang umum terjadi. Kecemasan ini dapat berdampak buruk pada waktu pemulihan, kejadian komplikasi, dan ketidaknyamanan yang dirasakan pasien.

Salah satu cara untuk menurunkan kecemasan pre-operasi adalah dengan melakukan kunjungan pre-anestesi yang baik sebelum operasi (Dubey et al., 2018). Matthias et al. (2012) menyatakan bahwa visit pre-anestesi dapat menurunkan kecemasan pasien, dimana pada saat kunjungan yang dilakukan oleh dokter anestesi sebelum operasi memenuhi dua tujuan, yaitu untuk menyediakan informasi pada pasien sehingga dapat mengklarifikasi keraguan mereka tentang anestesi dan penyesuaian premedikasi oleh ahli anestesi, yang keduanya membantu menurunkan kecemasan.

Kecemasan dan ketakutan sebelum operasi dapat meningkatkan kadar hormone stress, menghasilkan respon metabolik yang tidak diinginkan sebelum anestesi, dan peningkatan kadar katekolamin sistemik yang tinggi mengakibatkan peningkatan tekanan darah (Lemos et al., 2019). Kecemasan akan merangsang hipotalamus untuk mensekresi ACTH agar merangsang korteks adrenal dalam mensekresikan kortisol. Peningkatan kadar kortisol dalam darah akan menyebabkan peningkatan renin, angiotensin II dan meningkatkan kepekaan pembuluh darah terhadap katekolamin, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah (Wahyuningsih, 2011). Selain itu, aktivasi pada saraf simpatis menyebabkan medula adrenalis mensekresi epinefrin dan norepinefrin, dimana kedua ini berperan dalam peningkatan frekuensi jantung dan peningkatan tekanan darah (Arini et al., 2017).

Dari hasil penelitian ini, adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

1. Tingkat kecemasan pada pasien yang menjalani operasi elektif di RS USU didapatkan kecemasan ringan sebanyak kecemasan ringan sebanyak 41 orang (61,2%), kecemasan sedang sebanyak 17 orang (25,4%), dan kecemasan ringan sebanyak 9 orang (13,4%).

2. Tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin yaitu: jenis kelamin laki-laki yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 17 orang, kecemasan sedang sebanyak 7 orang, dan kecemasan berat sebanyak 3 orang, dan untuk jenis kelamin perempuan yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 24 orang, kecemasan sedang sebanyak 10 orang, dan kecemasan berat sebanyak 6 orang. Tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan.

3. Tingkat kecemasan berdasarkan jenis operasi yaitu: operasi major dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 16 orang, kecemasan sedang sebanyak 15 orang, dan kecemasan berat sebanyak 7 orang, dan operasi minor dengan kecemasan ringan sebanyak 25 orang, kecemasan sedang sebanyak 2 orang, dan kecemasan berat sebanyak 2 orang. Didapatkan hubungan yang signifikan antara jenis operasi dengan tingkat kecemasan.

4. Tingkat kecemasan berdasarkan jenis anestesi yaitu: tindakan anestesi umum dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 32 orang, kecemasan sedang sebanyak 11 orang, dan kecemasan berat sebanyak 7 orang; dan tindakan anestesi spinal dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 9 orang, kecemasan sedang sebanyak 6 orang, dan kecemasan berat sebanyak 2 orang. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis anestesi dengan tingkat kecemasan.

5. Tingkat kecemasan berdasarkan status fisik ASA yaitu: ASA 1 yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 20 orang, kecemasan sedang sebanyak 12 orang, dan kecemasan berat sebanyak 5 orang. ASA 2 didapatkan pasien yang dengan kecemasan ringan berjumlah 18 orang, kecemasan sedang berjumlah 5 orang, dan kecemasan berat dengan jumlah 4 orang. ASA 3 didominasi oleh pasien dengan kecemasan ringan dengan jumlah 3 orang. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status fisik ASA dengan tingkat kecemasan.

6. Tingkat kecemasan dengan denyut nadi yaitu: pasien dengan denyut nadi normal yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 40 orang, kecemasan sedang 16 orang, dan kecemasan berat sebanyak 9 orang; sedangkan pada denyut nadi takikardi diapatkan 1 orang dengan kecemasan ringan; dan denyut nadi bradikardi didapatkan 1 orang dengan kecemasan sedang.

Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara denyut nadi dengan tingkat kecemasan.

7. Terdapat hasil yang signifikan antara kecemasan dengan peningkatan tekanan darah sehingga H1 diterima.

5.2. SARAN

Dari penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada dokter anestesi agar tetap melakukan kunjungan pre-anestesi sebelum operasi yang baik seperti yang telah dilakukan di RS USU dengan menjelaskan secara detail tentang anestesi yang akan dijalaninya guna menurunkan kecemasan pasien dan meningkatkan kualitas perawatan.

2. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti faktor-faktor yang menyebabkan pasien cemas seperti kurangnya pengetahuan pasien tentang operasi yang akan dijalani pasien, faktor dukungan keluarga, penundaan jadwal operasi, dan lain sebagainya. Walaupun telah banyak yang meneliti hal tersebut, masih belum terdapat faktor-faktor kecemasan pre-operasi di RS USU.

Archives, 71(5), p.330. https://doi.org/10.5455/medarh.2017.71.330-333 Alimansur, M. and Cahyaningrum, S.D., 2017. Efek Kecemasan terhadap

Peningkatan Tekanan Darah Penderita Pre OP ORIF. Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(1), pp.81-86. https://doi.org/10.32831/jik.v4i1.78

Almalki, M.S., Hakami, O.A.O. and Al-Amri, A.M., 2017. Assessment of Preoperative Anxiety among Patients Undergoing Elective Surgery. Egyptian Journal of Hospital Medicine, 69(4).

https://doi.org/10.12816/0041537

Ang-Lee, M., Apfel, C.C., Berkowitz, D.H., n.d. Charles B. Berde, MD, PhD 3115.

Annisa, D.F. and Ifdil, I., 2016. Konsep Kecemasan (Anxiety) pada Lanjut Usia (Lansia). Konselor, 5(2),pp.93-99. https://doi.org/10.24036/02016526480-0-00

Arini, F.N., Adriatmoko, W. and Novita, M., 2017. Perubahan Tanda Vital sebagai Gejala Rasa Cemas sebelum Melakukan Tindakan Pencabutan Gigi pada Mahasiswa Profesi Klinik Bedah Mulut RSGM Universitas Jember (The Alteration of Vital Sign as Students’ Anxiety Symptoms before Performing Tooth Extraction in. Pustaka Kesehatan, 5(2), pp.323-330.

Bedaso, A. and Ayalew, M., 2019. Preoperative anxiety among adult patients undergoing elective surgery: a prospective survey at a general hospital in Ethiopia. Patient safety in surgery, 13(1), p.18.

https://doi.org/10.1186/s13037-019-0198-0

Bloomfield, D.A. and Park, A., 2017. Decoding white coat hypertension. World journal of clinical cases, 5(3), p.82.

Butterworth, J.F., Mackey, D.C., Wasnick, J.D., Morgan, G.E., Mikhail, M.S., Morgan, G.E., 2013. Morgan and Mikhail’s clinical anesthesiology.

Caumo, W., Schmidt, A.P., Schneider, C.N., Bergmann, J., Iwamoto, C.W., Bandeira, D. and Ferreira, M.B.C., 2001. Risk factors for preoperative anxiety in adults. Acta Anaesthesiologica Scandinavica, 45(3), pp.298-307.

https://doi.org/10.1034/j.1399-6576.2001.045003298.x

Celik, F. and Edipoglu, I.S., 2018. Evaluation of preoperative anxiety and fear of anesthesia using APAIS score. European journal of medical research, 23(1), p.41. https://doi.org/10.1186/s40001-018-0339-4

Chang, C.Y., Goldstein, E., Agarwal, N. and Swan, K.G., 2015. Ether in the developing world: rethinking an abandoned agent. BMC anesthesiology, 15(1), p.149. https://doi.org/10.1186/s12871-015-0128-3 Chunhui, L., Ju-Xiang, L., Hai, S., Weitong, H., Qiang, P. and Xiaoshu, C., 2013.

ASSA13-14-26 Preoperative Anxiety is Associated with Higher Blood Pressure in Patients Waiting For Surgery. Heart, 99(Suppl 1), pp.A66-A66.

Conceição, D.B.D., Schonhorst, L., Conceição, M.J.D. and Oliveira Filho, G.R.D., 2004. A pressão arterial e a freqüência cardíaca não são bons parâmetros para avaliação do nível de ansiedade pré-operatória. Rev Bras Anestesiol, 54(6), pp.769-773. https://doi.org/10.1590/S0034-70942004000600003

Doñate Marín, M., Litago Cortés, A., Monge Sanz, Y. and Martínez Serrano, R., 2015. Preoperative aspects of information related to patient anxiety scheduled for surgery.Enfermería Global, 14(1), pp.170-180.

Dubey, R.K., Prasad, R.S., Bharti, A.K., Mishra, L.D. 2018. Fears And Doubts Among Patients Attending Pre-Anaesthetic Check-Up (Pac) Clinic: A Correlation With Their Educational Status.

Ebirim, L.A. and Tobin, M., 2010. Factors responsible for pre-operative anxiety in elective surgical patients at a university teaching hospital: A pilot study. The internet journal of Anesthesiology, 29(2), pp.1-6.

Ekinci, M., Gölboyu, B.E., Dülgeroğlu, O., Aksun, M., Baysal, P.K., Çelik, E.C.

and Yeksan, A.N., 2017. The relationship between preoperative anxiety levels and vasovagal incidents during the administration of spinal anesthesia. Revista brasileira de anestesiologia, 67(4), pp.388-394.

Erkilic, E., Kesimci, E., Soykut, C., Doger, C., Gumus, T. and Kanbak, O., 2017.

Factors associated with preoperative anxiety levels of Turkish surgical patients: from a single center in Ankara. Patient preference and adherence, 11, p.291.

Fell, D., Derbyshire, D.R., Maile, C.J.D., Larsson, I.M., Ellis, R., Achola, K.J. and Smith, G., 1986. Measurement of plasma catecholamine concentrations: an assessment of anxiety.British Journal of Anaesthesia, 57(8), pp.770-774.

Gupta, A. and Gupta, N., 2011. Patient's experiences and satisfaction with preanesthesia services: A prospective audit.Journal of anaesthesiology, clinical pharmacology, 27(4), p.511. https://doi.org/10.4103/0970-9185.86597

Hall, J.E., 2011. Guyton and Hall textbook of medical physiology. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier, 107, p.1146.

Jadin, S.M.M., Langewitz, W., R Vogt, D., Urwyler, A., 2017. Effect of Structured Pre-anesthetic Communication on Preoperative Patient Anxiety.

J Anesth Clin Res 8. https://doi.org/10.4172/2155-6148.1000767

Jafar, M.F. and Khan, F.A., 2009. Frequency of preoperative anxiety in Pakistani surgical patients. Journal of the Pakistan Medical Association, 59(6), p.359.

Jawaid, M., Mushtaq, A., Mukhtar, S. and Khan, Z., 2007. Preoperative anxiety before elective surgery. Neurosciences,12(2), pp.145-148.

Khalili, N., Karvandian, K., Ardebili, H.E., Eftekhar, N. and Nabavian, O., 2019.

Predictive Factors of Preoperative Anxiety in the Anesthesia Clinic: A Survey of 231 Surgical Candidates.Archives of Anesthesia and Critical Care.

Kumar, A., Dubey, P.K. and Ranjan, A., 2019. Assessment of Anxiety in Surgical Patients: An Observational Study.

Lemos, M.F., Lemos-Neto, S.V., Barrucand, L., Verçosa, N., Tibirica, E., 2019.

Preoperative education reduces preoperative anxiety in cancer patients undergoing surgery: Usefulness of the self-reported Beck anxiety inventory. Brazilian Journal of Anesthesiology (English Edition) 69, 1–6.

https://doi.org/10.1016/j.bjane.2018.07.004

Lynn, P., Taylor, C., LeBon, M., 2011. Taylor’s clinical nursing skills: a nursing process approach. Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.

Manjunatha, S.M., Hazra, R., Das, A., Chakraborty, S., Bose, R., Garain, S. and Purkait, D., 2017. Effect of pre-anesthetic anxiety and heart rate on propofol dose requirement for induction: A correlation study. Asian Journal of Medical Sciences, 8(2), pp.64-68.

Matthias, A.T. and Samarasekera, D.N., 2012. Preoperative anxiety in surgical patients-experience of a single unit. Acta Anaesthesiologica Taiwanica, 50(1), pp.3-6.

McDowell, I., 2006. Measuring health: a guide to rating scales and questionnaires. Oxford University Press, USA.

Mulugeta, H., Ayana, M., Sintayehu, M., Dessie, G. and Zewdu, T., 2018.

Preoperative anxiety and associated factors among adult surgical patients in Debre Markos and Felege Hiwot referral hospitals, Northwest Ethiopia. BMC anesthesiology, 18(1), p.155.

Nigussie, S., Belachew, T. and Wolancho, W., 2014. Predictors of preoperative anxiety among surgical patients in Jimma University specialized teaching hospital, South Western Ethiopia. BMC surgery, 14(1), p.67.

Paryanto, P., 2009. Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif Selama Menunggu Jam Operasi Antara Ruang Rawat Inap Dengan Ruang Persiapan Operasi Rumah Sakit Ortopedi Surakarta.

Singla, D. and Mangla, M., 2015. Patient's knowledge and perception of preanesthesia check-up in rural India.Anesthesia, essays and researches, 9(3), p.331. https://doi.org/10.4103/0259-1162.158008

Townsend, C.M., Sabiston, D.C. (Eds.), 2004. Sabiston textbook of surgery: the biological basis of modern surgical practice, 17th ed. / Courtney M.

Townsend Jr. ... [et al.]. ed. Saunders, Philadelphia.

Vaughn, F., Wichowski, H. and Bosworth, G., 2007. Does preoperative anxiety level predict postoperative pain?. AORN journal, 85(3), pp.589-604.

https://doi.org/10.1016/S0001-2092(07)60130-6

Videbeck, S.L., 2011. Psychiatric-mental health nursing. Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, PA.

Wahyuningsih, Z., Nugroho, S.H.P., 2011. Hubungan Cemas Dengan Peningkatan Tekanan Darah Pada Pasien Pre Operasi Di Ruang Bourgenvil Rsud Dr.Soegiri Lamongan .

Weiser, T.G., Regenbogen, S.E., Thompson, K.D., Haynes, A.B., Lipsitz, S.R., Berry, W.R. and Gawande, A.A., 2008. An estimation of the global volume of surgery: a modelling strategy based on available data. The Lancet, 372(9633), pp.139-144. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(08)60878-8

Williams, L., n.d. Preoperative Assessment and Management, 2nd Edition 812.

Yilmaz, M., Sezer, H., Gürler, H. and Bekar, M., 2012. Predictors of preoperative anxiety in surgical inpatients.Journal of clinical nursing, 21(7‐8), pp.956-964.

Zollo, R.A., Lurie, S.J., Epstein, R. and Ward, D.S., 2009. Patterns of communication during the preanesthesia visit.Anesthesiology: The Journal of the American Society of Anesthesiologists, 111(5), pp.971-978.

Nama : Christine

NIM : 160100155

Tempat / Tanggal lahir : Medan / 25 November 1998

Agama : Budha

Nama Ayah : Hau Chen

Nama Ibu : Weng Feng Hui

Alamat : Jl. Sutrisno Dalam No. 3B, Medan Riwayat Pendidikan :

1. TK Sutomo 1 Medan (2002-2004) 2. SD Sutomo 1 Medan (2004-2010) 3. SMP Sutomo 1 Medan (2010-2013) 4. SMA Sutomo 1 Medan (2013-2016)

5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2016 – Sekarang) Riwayat Organisasi :

1. Staf Pendidikan dan Profesi PEMA FK USU Periode 2016 2. Staf Pendidikan dan Pelatihan MIND FK USU Periode 2016

3. Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat MIND FK USU Periode 2019

Riwayat Pelatihan :

1. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2016

2. Peserta LKMM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiwa) FK USU 2016

3. Peserta Balut dan Bidai TBM FK USU 2016

4. Peserta Seminar Dokter Keluarga dan Workshop Sirkumsisi Scoph PEMA FK USU 2016

5. Peserta Seminar Kanker Prostat dan Workshop Sirkumsisi Scora PEMA FK USU 2017

6. Peserta BBS (Basic Surgical Skill) TBM FK USU 2017 Riwayat Kepanitiaan :

1. Anggota Acara Kathina MIND FK USU 2016

2. Anggota Soal PEMA Medical Olympiad FK USU 2017

3. Anggota Publikasi dan Dokumentasi Waisak MIND FK USU 2017 4. Wakil Koordinator Peralatan dan Tempat MMB FK USU 2017 5. Anggota Administrasi dan Kesekretariatan IMO 2017

6. Anggota Peralatan dan Tempat Pengabdian Masyarakat Scora PEMA FK USU 2018

7. Wakil Koordinator Acara Waisak MIND FK USU 2018 8. Bendahara Kathina MIND FK USU 2018

9. Anggota Kakak Asuh PKKMB FK USU 2019

10. Ketua Baksos Pengabdian Masyarakat MIND FK USU 2019

Lampiran B. Halaman Pernyataan Orisinalitas PERNYATAAN

Hubungan Kecemasan Pada Visit Pre-Anestesi Dengan Tekanan Darah Sebelum Tindakan Anestesi di RS USU

Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Sarajana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penelitian ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanski lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Medan, 10 Desember 2019 Penulis,

Christine 160100155

Lampiran C. Lembar Informasi Penelitian

LEMBAR PENJELASAN

Dokumen terkait