• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

4.1. Deskripsi Karakteristik Responden

Berikut adalah gambaran umum tentang responden. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. XYZ yang masih aktif bekerja. Total keseluruhan untuk populasi yaitu karyawan yang berjumlah 40 orang. Seluruh responden dipilih karena penelitian ini menggunakan metode sensus, yaitu cara pengumpulan data yang mengambil setiap elemen populasi atau karakteristik yang ada dalam populasi. Pada penelitian ini karakteristik responden dianalisa secara deskriptif dan faktor yang dianalisa meliputi jenis kelamin, usia responden, status pernikahan, latar belakang pendidikan dan masa kerja. Tabel karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 8. Karakteristik Respoden

Sumber : Data diolah (oktober 2010) 4.1.1 Jenis Kelamin

Jenis kelamin responden menjelaskan bahwa responden didominasi oleh responden laki-laki yaitu sebanyak 31 orang atau 77,5%, sedangkan jenis kelamin wanita sebanyak 9 orang atau 22,5%.

Karakteristik Jumlah

(Orang) %

Jenis Kelamin Laki-laki 31 77.5

Perempuan 9 22.5

Usia Responden

21-30 tahun 25 62.5

31-40 tahun 14 35

> 40 tahun 1 2.5

Status Pernikahan Belum Menikah 22 55

Sudah Menikah 18 45

Tingkat Pendidikan

SLTA/Setingkat 7 17.5

D III/D II/ Setingkat 18 37.5

D IV/ Sarjana 15 17.5

Pasca Sarjana 0 0

Masa Kerja

1-2 tahun 16 40

3-5 tahun 19 47.5

6-15 tahun 5 12.5

> 15 tahun 0 0

43

Hal ini menunjukkan bahwa jumlah karyawan yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan karyawan wanita pada PT. XYZ ini. Karakteristik responden menurut aspek jenis kelamin terhadap kinerja (prestasi kerja) dari hasil pengamatan, wawancara, dan observasi selama peneliti melakukakan penelitian pada PT. XYZ, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kinerja karyawan menurut jenis kelamin responden, yaitu responden yang memiliki prestasi kerja tinggi lebih banyak berasal dari responden wanita.

Karyawan wanita terlihat lebih rajin dan lebih disiplin dalam menyelesaikan segala pekerjaan, dan selain itu mereka juga memiliki kemampuan teknis yang baik dalam bekerja, para karyawan wanita juga terlihat lebih memahami masalah-masalah pekerjaan secara teliti, meskipun tidak semua karyawan wanita berprestasi tinggi, namun dari hasil wawancara dengan para responden, bahwa memang karyawan wanita yang berjumlah lebih sedikit ini, bekerja dengan selalu memperhatikan bagian-bagian rinci pekerjaan, dan keterampilan dalam bekerja, kerapihan, juga kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Sebaliknya, responden yang prestasi kerjanya rendah berasal dari responden pria. Dari hasil pengamatan dan wawancara kepada para responden pria dapat disimpulkan bahwa keuletan, ketepatan waktu dan kerapihan masih dinilai kurang dan belum optimal. Hal ini mungkin saja terjadi jika dipengaruhi oleh beberapa faktor atau alasan tertentu yang membuat prestasi kinerja para karyawan pria merosot.

4.1.2 Keterkaitan Hubungan dan Pengaruh Antara Jenis Kelamin Responden Dengan Kinerja.

Karyawan wanita dan pria sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang konsisten dalam hal keterkaitan hubungan antara jenis kelamin dengan kinerja, dan aspek jenis kelamin ini kemungkinan dapat mempengaruhi peningkatan atau penurunan kinerja. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk hal kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif,

motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar, tetapi karena setiap manusia diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya maka hal tersebut dapat menjadi alasan utama untuk membuat kesimpulan bahwa jenis kelamin pria maupun wanita bisa menciptakan peningkatan ataupun menciptakan penurunan kinerja.

Karyawan wanita biasanya lebih bersedia untuk mematuhi wewenang, sedangkan karyawan pria biasanya lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya daripada wanita dalam memiliki pengharapan untuk sukses, tetapi perbedaan ini sangat kecil. Dengan seiring berjalannya waktu maka akan terciptanya peningkatan kadar partisipasi wanita dalam bekerja. Oleh sebab itu diasumsikan tidak ada perbedaan yang berarti dalam hal pencapaian kinerja antara pria dan wanita. Permasalahan yang akan membedakan antar jenis kelamin adalah, apabila karyawan wanita sudah berumah tangga dan sudah memiliki anak. Para wanita yang sekaligus memiliki tanggung jawab rumah tangga ini, biasanya memiliki tingkat kemangkiran yang tinggi.

Oleh karena itu dari hasil analisis karakteristik responden ini dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin dan kinerja tidak ada hubungannya.

4.1.3 Usia Responden

Responden dalam penelitian ini sangat beragam apabila dilihat dari karakteristik berdasarkan usia yang dikelompokkan kedalam tiga jenis jawaban yaitu: (a) 21-30 tahun, (b) 31-40 tahun dan (c) diatas 40 tahun, dari hasil data usia responden, yang paling banyak dalam penelitian ini yaitu responden pada tingkat usia 21-30 tahun, sebanyak 25 orang atau 62,5%, sedangkan untuk tingkat usia 31-40 tahun sebanyak 14 orang atau 35% dan yang paling sedikit adalah usia responden diatas 40 tahun yaitu hanya 1 orang responden atau 2,5%.

Karakteristik responden dilihat dari aspek usia, asumsi yang ada adalah memiliki hubungan erat dan pengaruh dengan prestasi kerja (kinerja) karyawan, sehingga variabel ini juga sering mendapat perhatian untuk dikaji lebih jauh. Analisis ini penting dilakukan agar dapat diketahui kelompok umur responden manakah yang memiliki

45

prestasi kerja rendah atau tinggi. Dengan demikian, kelompok umur itulah yang perlu diberikan perhatian agar tercapainya tujuan perusahaan.

Berdasarkan hasil pengamatan dan melihat fakta yang ada, responden yang berprestasi kerja paling tinggi berasal dari responden yang berusia 31-40 tahun. Sebaliknya, responden yang memiliki prestasi kerja rendah lebih banyak berasal dari responden usia 21-30 tahun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tua usia responden maka prestasi kerjanya semakin tinggi dan hal ini merefleksikan bahwa aspek usia memiliki hubungan dan pengaruh terhadap penurunan ataupun peningkatan kinerja.

4.1.4 Keterkaitan Hubungan dan Pengaruh Antara Usia Responden Dengan Kinerja.

Hubungan dan pengaruh antara usia dan kinerja merupakan isu yang makin penting untuk dibahas. Keyakinan yang meluas dan beredar dimasyarakat saat ini adalah bahwa kinerja merosot dengan seiring meningkatnya usia, namun pada realitanya menunjukkan terdapat kualitas positif yang dibawa orang tua kedalam pekerjaan mereka khususnya, pengalaman, pertimbangan, etika kerja yang kuat, dan komitmen terhadap mutu, meskipun terdapat juga sisi negatifnya yakni para pekerja usia tua dianggap kurang luwes dan terkadang menolak teknologi baru.

Terdapat pula asumsi lain mengenai hubungan dan pengaruh antara usia dengan kinerja yakni bahwa usia juga berhubungan terbalik dengan kemangkiran. Bagaimanapun juga, jika pekerja yang lebih tua kecil kemungkinan untuk berhenti bekerja, biasanya mereka menunjukkan kemantapan yang lebih tinggi dengan masuk kerja secara lebih teratur.

Pada penelitian yang dilakukan dengan cermat maka menemukan bahwa hubungan usia dengan absensi sebagian merupakan fungsi apakah kemangkiran itu dapat dihindari atau tidak.

Hal ini juga terbukti pada penelitian yang dilakukan pada PT. XYZ

yaitu, hasil penelitian menyatakan pada tingkat usia responden yang lebih tua memiliki tingkat kedisiplinan absensi yang lebih baik dari pada tingkat usia responden yang berusia muda, kebanyakan mereka yang mangkir adalah para karyawan usia muda.

Karyawan berusia tua lebih mempunyai tingkat kemangkiran yang lebih rendah dibanding karyawan yang berusia lebih muda.

Tetapi pada kasus tertentu seperti karyawan dengan usia tua sangat rentan dengan kesehatan yang lebih buruk dibanding karyawan muda sehubungan dengan faktor penuaan, dan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pemulihannya bila terjadi cidera.

Dalam hal kinerja bekerja, keyakinan yang meluas bahwa kinerja menurun dengan semakin bertambah tua seseorang. Asumsi ini di percaya dengan alasan bahwa keterampilan seorang individu, terutama kecepatan, kecekatan, kekuatan dan koordinasi mengikis/menurun dengan berjalannya waktu, dan bahwa kebosanan pekerjaan yang berlarut-larut dan kurangnya rangsangan intelektual semuanya diduga menjadi pengaruh menurunnya prestasi kerja usia tua. Tetapi bukti yang terjadi pada penelitian ini berlawanan dengan kayakinan asumsi diatas. Pada PT. XYZ karyawan yang berusia diatas 30/31-40 tahun setelah dilakukan pengamatan, menyatakan bahwa usia dan kinerja tidak ada hubungannya. Kesimpulannya bahwa tuntutan dari kebanyakan pekerjaan, bahkan untuk pekerjaan dengan persyaratan yang berat, tidak membuat kemerosotan keterampilan fisik atau apa pun yang disebabkan oleh usia, jika ada suatu kemerosotan karena usia, biasanya sering diimbangi oleh pengalaman yang dimiliki oleh pekerja usia tua. Maka dari uraian diatas peneliti membuat kesimpulan bahwa terbukti dari hasil uji karakteristik responden, pada aspek usia menyatakan bahwa usia tidak memiliki hubungan dan pengaruh terhadap kinerja.

4.1.5 Status Pernikahan.

Dari data status pernikahan menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini yang berstatus belum menikah lebih banyak dari

47

pada responden yang berstatus sudah menikah. Hal ini terlihat dari jumlah data yang berstatus belum menikah yaitu sebanyak 22 orang atau 55%, sedangkan untuk yang berstatus menikah sebanyak 18 orang atau 45% dan yang berstatus janda/duda tidak ada atau 0%.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti karakteristik responden PT. XYZ menurut aspek status pernikahan terhadap prestasi kerjanya menunjukkan bahwa responden yang prestasi kerja dan persentasenya lebih tinggi berasal dari responden yang berstatus menikah.

Sebaliknya, responden yang prestasi kerjanya rendah lebih banyak persentasenya berasal dari mereka yang berstatus belum menikah. Hal ini diduga karena responden yang belum berkeluarga atau belum menikah belum mempunyai tanggung jawab keluarga sehingga usaha-usaha yang dilakukan berkaitan dengan pekerjaannya lebih ringan.

Hal ini akan dapat berakibat pada prestasi kerja yang lebih rendah.

4.1.6 Keterkaitan Hubungan dan Pengaruh Antara Status Pernikahan Dengan Kinerja.

Para karyawan yang berstatus menikah diduga memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan karyawan yang belum menikah, hal ini karena perkawinan memaksakan peningkatan tanggung jawab seorang karyawan yang dapat membuat suatu pekerjaan yang tetap menjadi lebih berharga dan penting. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat keterkaitan hubungan dan pengaruh antara status pernikahan dengan kinerja.

4.1.7 Latar Belakang Pendidikan

Dari data di atas, diperoleh bahwa responden dengan latar belakang pendidikan SLTA/Setingkat dengan jumlah 7 orang atau 17,5%, DIII/DII/Setingkat sebanyak 18 orang atau 45%, sedangkan DIV/Sarjana sebanyak 15 atau 37,5% dan Pasca Sarjana 0%. Jadi latar belakang pendidikan karyawan pada perusahaan ini yang paling banyak jumlahnya adalah lulusan DIII/DII/Setingkat.

Berdasarkan analisis dan pengamatan peneliti pada karakteristik responden PT. XYZ. Menurut aspek latar belakang

pendidikan terakhir terhadap prestasi kerjanya menunjukkan bahwa responden yang memiliki prestasi kerja paling tinggi persentasenya, yaitu pada responden yang berpendidikan DIV/Sarjana. Sebaliknya, responden yang memiliki prestasi kerja paling rendah berasal dari responden yang berpendidikan SLTA. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan, seperti halnya yang berpendidikan DIV/Sarjana maka prestasi kerjanya semakin tinggi.

Hasil wawancara secara mendalam diketahui bahwa karyawan yang memiliki ijasah SLTA tidak diakui dalam status kepegawaiannya sehingga hal ini menyebabkan prestasi kerjanya rendah. Dari hasil analisis karakteristik responden dan dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan hubungan dan pengaruh signifikan antara tingkat pendidikan dengan prestasi kerja karyawan (kinerja).

4.1.8 Keterkaitan Hubungan dan Pengaruh Antara Latar Belakang Pendidikan Dengan Kinerja.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa semakin tinggi latar belakang pendidikan yang dimiliki seorang karyawan biasanya memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan karyawan yang tingkat latar belakang pendidikannya rendah, hal ini karena tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap wawasan, pengetahuan, keterampilan bekerja yang dapat mencerminkan bagaimana orang tersebut mampu bekerja dengan baik. dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat keterkaitan hubungan dan pengaruh antara latar belakang pendidikan dengan kinerja.

4.1.9 Masa Kerja

Deskripsi data responden yang terakhir adalah mengenai masa kerja responden pada PT. XYZ. Data dikelompokkan kedalam empat jenis jawaban, yang pertama adalah masa kerja 1-2 tahun, 3-5 tahun, 6-15 tahun dan masa kerja diatas 15 tahun. Dari hasil data kuesioner, diketahui bahwa responden dengan masa kerja 1-2 tahun sebanyak 16 orang atau 40%, masa kerja 3-5 tahun sebanyak 19 orang atau 47,5%, kemudian dengan masa kerja 6-15 tahun sebanyak 5 orang atau 12,5%

49

dan masa kerja diatas 15 tahun tidak ada atau 0%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu menunjukkan responden dengan masa kerja 3-5 tahun lebih banyak yaitu berjumlah 19 orang.

Karakteristik responden menurut aspek masa kerja terhadap prestasi kerjanya bahwa responden yang memiliki prestasi kerja yang tinggi paling banyak berada pada kelompok masa kerja 6-15 tahun, sebaliknya responden yang memiliki prestasi kerja yang rendah berada pada kelompok masa kerja 1-2 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masa kerja yang semakin lama menentukan prestasi kerja karyawan, karena dengan masa kerja yang semakin lama responden/karyawan memiliki pengalaman kerja semakin banyak sehingga dapat merasakan hakikat dan makna kerja yang sebenarnya dalam bekerja.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin lama masa kerja responden, maka semakin tinggi prestasi kerjanya. Jika dilihat dari nilai analisis karakteristik responden, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara masa kerja dengan prestasi kerja karyawan.

4.1.10 Keterkaitan Hubungan dan Pengaruh Antara Masa Kerja Dengan Kinerja.

Karakteristik responden yang terakhir yang akan dibahas adalah masa kerja. Pada riset-riset sebelumnya, para peneliti memberi kesimpulan bahwa terhadap hubungan masa kerja dengan kinerja adalah positif, artinya masa kerja diekspresikan sebagai pengalaman kerja. Hal ini mendeskripsikan apabila seorang karyawan memiliki masa kerja lebih lama maka karyawan tersebut dapat diramalkan memiliki pengalaman kerja yang lebih banyak dan kemungkinan kinerjanya juga baik. Pada penelitian ini hasil yang diperoleh dari analisis karakteristik responden yang telah dilakukan adalah pada variabel masa kerja memiliki hubungan dan pengaruh dengan kinerja.

Berdasarkan hasil pengamatan pada penelitian ini peneliti berkesimpulan bahwa aspek karakteristik responden masa kerja

memiliki keterkaitan hubungan dan pengaruh terhadap penurunan dan peningkatan kinerja.