• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PENYAJIAN DATA PENELITIAN TERAPI REALITAS UNTUK

A. Deskripsi Umum Objek Penelitian

3. Deskripsi Klien

55

sederhana dan Kediaman Ketua RT tidak jauh dari rumah klien, Selisih 3 rumah dari rumah klien.

2. Deskripsi Konselor

Konselor dalam hal ini adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Program Studi Bimbingan Dan Konseling Islam, dalam penelitian, peneliti juga berperan sebagai seorang konselor yang berusaha membantu memecahkan masalah Klien atau objek dalam penelitian ini.

Adapun biodata konselor pada konseling dalam membantu

mengendalikan emosi marah seorang remaja adalah Rivia

Fathimatuzzahro, yang akrab dipanggil Rivia. Dilahirkan di Lamongan 25 Desember 1995. Berasal dari Desa Deket Wetan Lamongan, Berjenis kelamin perempuan yang sekarang sedang menempuh study di prodi Bimbingan konseling islam fakultas Dakwah dan komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

3. Deskripsi Klien a. Data Klien

Adapun biodata klien pada penelitian ini adalah nama disamarkan menjadi Rian, dilahirkan di Lamongan 04 Oktober 2000. Yang sekarang berumur 17 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan beragama Islam. Berasal dari Desa Deket Wetan Lamongan. Klien saat ini memiliki status sebagai pelajar kelas 1 MA di MA. Matholi’ul Anwar, Sungelebak Karanggeneng Lamongan.

56

b. Latar Belakang Keluarga

Rian lahir dari keluarga yang sederhana, ayahnya memiliki toko elektronik di Lamongan dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Rian merupakan anak terakhir dari Empat bersaudara. Ayah dan Ibu Rian adalah tokoh masyarakat di desanya Desa Deket Wetan Lamongan. Rian adalah anak bungsu yang memiliki 2 kakak laki-laki yang sudah berkeluarga dan 1 kakak perempuan yang sekarang masih bekerja diluar kota. Keluarga Rian adalah keluarga yang di sungkani masyarakat juga dipandang harmonis, terbukti ketika ada momen apapun selalu berkumpul.

Rian adalah anak bungsu, anak satu satunya yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya karena saudaranya yang lain berada di luar kota. Maka dari itu perhatian lebih yang didapatkan Rian dari kedua orang tuanya. Apapun yang dibutuhkan Rian selalu dilengkapi, apapun yang diinginkan Rian hampir semuanya terpenuhi. Dia terbiasa hidup dengan pelayanan dari seorang ibu.

Rian satu satunya anak yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Karena Rian adalah anak bungsu. Jadi, semua aktivitas sehari-seharinya Rian hampir tidak pernah lengah dari pengawasan kedua orang tuanya. Mulai dari pagi bangun tidur sampai malam. Dikarenakan kedua orang tua Rian tidak memiliki kesibukan diluar hingga berhari-hari. Hanya saja kedua orang tuanya terutama ayahnya tidak pernah memaksa kehendaknya atau mengengkang Rian.

57

c. Latar Belakang Pendidikan

Rian sekarang duduk di bangku sekolah kelas 1 MA (Madrasah Aliyah) Rian sekarang mondok di pondok pesantren Matholi’ul Anwar Sungelebak Lamongan. Disana Rian mengambil jurusan keagamaan sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya dan juga tentunya dengan kemauan Rian sendiri. Karena latar belakang kedua orang tua Rian adalah dari pesantren juga dan sekarang menjadi tokoh masyarakat di desanya maka pendidikan keagamaan yang diutamakan oleh kedua orang tuanya.

Selain itu, Rian adalah anak terakhir yang masih duduk di bangku sekolah yang masih memungkinkan untuk memantabkan ilmu agamanya, Maka harapan kedua orang tua Rian adalah Rian menjadi penerus ayahnya menjadi tokoh masyarakat didesanya. Itu alasan lain mengapa kedua orang tua Rian menginginkan Rian menuntut ilmu di pesantren selain menghawatirkan pergaulan remaja zaman sekarang. d. Latar Belakang Ekonomi

Keluarga Rian merupakan keluarga yang sederhana, semua yang dibutuhkan tercukupi. Ayah Rian selain menjadi tokoh masyarakat juga memiliki toko elektronik yang menjual perlengkapan elektronik juga melayani servis. Ibunya Rian hanya ibu rumah tangga. Dalam hal ekonomi saat ini orang tua Rian hanya membiayai Rian sekolah di pesantren, karena ketiga saudara Rian sudah memiliki hasil

58

masing-masing. Namun terkadang ketiga saudara Rian juga masih memberi sebagian hasil dari mereka kepada Rian dan ibunya.

Secara ekonomi status mereka tergolong orang yang berkecukupan, karena bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari hari tanpa kekurangan.

e. Latar Belakang Keadaan Lingkungan

Klien dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang

berpendidikan, sehingga dalam urusan pendidikan adalah nomor satu bagi keluarga ini. Dengan ekonomi yang berkecukupan maka kedua orang tua Rian menyekolahkan Rian di pesantren dengan biaya lebih mahal dibanding sekolah umum karena ada biaya tempat tinggal dan uang makan setiap bulannya.

Dalam bidang keagamaan keluarga Rian tergolong sebagai keluarga yang agamis, setiap sholat lima waktu ayahnya mewajibkan jama’ah di masjid ataupun di rumah jika ada kepentingan yang mendesak. Dan ayahnya mewajibkan membaca Al-qur’an setiap selesai sholat fardhu

Dalam kehidupan bermasyarakat, Klien hidup di desa yang penduduknya kebanyakan menuntut ilmu minimal sampai S1. Namun mayoritas semuanya sekolah umum tidak di pesantren. Itu lah yang membuat Rian tergoda untuk sering pulang dari pesantren. Karena melihat teman temannya yang menurut Rian kebanyakan bisa bebas di rumah

59

f. Kepribadian Klien

Rian merupakan seorang yang mempunyai kepribadian baik, senang, suka berbagi namun karena Rian tidak bisa mengendalikan emosinya, menyebabkan orang kurang nyaman jika bergaul dengan Rian. Kepribadiannya yang mudah tersinggung, egois dan emosi yang meledak-ledak itulah yang selama ini menimbulkan masalah bagi Klien. Karena mudah tersinggung akhirnya Rian tidak bisa membedakan mana nasihat, mana becanda, dan mana yang marah. seringkali Rian merespon nasihat dari kedua orang tuanya atau siapa pun adalah bentuk marah kepada dirinya. Dan banyak teman-temannya yang kurang nyaman jika becanda sama Rian karena dia mudah tersinggung dan mudah marah. sekalinya ia marah pasti sambil berekspresi dan lama untuk meredakan marahnya. Seringkali teman-teman Rian menganggap dan mengejek Rian seperti anak kecil karena tidak bisa diajak becanda. Dari ejekan teman-temannya itulah Rian tersinggung dan terpancing untuk marah dan berlebihan.

Dokumen terkait