METODE PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Kota Padangsidimpuan pada masa ini dapat didekati melalui tiga jalur utama, yakni: dari dan ke arah Tarutung/Rantau Prapat (utara), Bukit Tinggi (selatan), Sibolga (barat). Koneksi (interchange) tiga jalur utama ini terletak di Tugu Siborang pada masa ini. Pada masa lalu, jalur utara dan selatan di Siborang merupakan lalu lintas pergerakan pasukan dalam Perang Padri (1816-1833). Sebelah timur Siborang ini merupakan daerah pertanian/persawahan yang subur dan menjadi lumbung beras; sedangkan sisi sebelah barat sungai Batang Ayumi merupakan areal tegalan/kebun penduduk. Ke arah hulu kebun-kebun penduduk ini terdapat areal persawahan yang sangat luas: mulai dari Kampung Salak / Sigiring-Giring hingga wilayah Hutaimbaru/Siharangkarang. Saat itu, jalur dari dan ke Sibolga dari Siborang belum tersambung--jalur perdagangan Sipirok-Sibolga dilakukan via Batunadua-Hutaimbaru dan jalur Pijorkoling / Angkola Jae ke Sibolga dilakukan di hilir jembatan Siborang.
Ketika Belanda menduduki wilayah Padangsidimpuan (datang dari arah Mandailing / Air Bangis), pasukan Belanda membangun jembatan Siborang dan jembatan Sigiringgiring yang mengakibatkan daerah Siborang menjadi sebuah persimpangan utama yang menghubungkan lalu lintas utara, selatan dan barat dari dan ke benteng Padangsidimpuan. Sehubungan dengan pemindahan ibuKota Keresidenan Tapanuli dari Air Bangis (daerah Pasaman) ke Padangsidimpuan pada tahun 1884 wilayah Kota Padangsidimpuan pada masa kini wilayah ini sebelumnya adalah semacam
40
tanah ulayat dari empat area komunitas marga Harahap: yang berada di arah utara adalah Batunadua/Pargarutan, di arah selatan adalah Pijor Koling, di arah barat adalah Hutaimbaru / Angkola Julu; dan satu lagi dan merupakan inti komunitas marga Harahap yakni di arah tenggara adalah Sidangkal / Simarpinggan. Penduduk asli marga Harahap di Sidangkal ini sudah sejak lama melakukan aktvitas berladang dan berburu di areal yang kini menjadi pusat Kota Padangsidimpuan.
4.1.1. Luas, Letak Geografis dan Kondisi Topografis
Kota Padangsidimpuan merupakan salah satu Kabupaten / Kota dari 28 Kabupaten / Kota di Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis Kota Padangsidimpuan berada pada koordinat 010 28’,19’’ – 010 18’ 07’’ Lintang Utara dan 990 18’ 53’’ - 990 20’ 35’’ Bujur Timur. Kota Padangsidimpuan memiliki luas area 14.685,680 Ha, ketinggian berkisar ± 522,8 m di atas permukaan laut, dengan batas – batas wilayahnya sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan.
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan.
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batang Angkola Kabupaten Tapanuli Selatan.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Angkola Selatan Kabupaten Tapanuli Selatan.
Peta administrasi Kota Padangsidimpuan seperti terlihat pada gambar berikut:
Sumber: BAPPEDA Kota Padangsidimpuan, 2014
Gambar. 4.1. Peta Administrasi Kota Padangsidimpuan
Wilayah administratif Kota Padangsidimpuan terdiri dari 6 Kecamatan, 42 Desa dan 37 Kelurahan. Posisi Kota Padangsidimpuan memiliki akses darat yang memadai dan cukup strategis, karena berada pada jalur utama bagian Barat menuju IbuKota Provinsi Sumatera Utara, terdapat dua jalur :
Timur/Selatan : menuju IbuKota Mandailing Natal, Panyabungan dan ke Propinsi Sumatera Barat berlanjut ke IbuKota Negara, Jakarta.
Timur/Utara : menuju Langga Payung Kabupaten Labuhan Batu yang terhubung dengan Trans Sumatera Highway jalur Timur/Utara yang dapat menghubungkan semua IbuKota Provinsi di pulau Sumatera dan ke pulau Jawa.
Posisi Kota Padangsidimpuan yang berada pada lintas tengah Sumatera antara 9 (sembilan) Kabupaten dan Kota yaitu Kabupaten Pasaman Timur, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Padanglawas, Kabupaten Padanglawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga
Kondisi fisik topografi Kota Padangsidimpuan sangat beragam mulai dari datar bergelombang hingga curam. Secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :
- Wilayah yang relatif dasar hingga landai dengan kemiringan lereng berkisar 0-8 % terdapat seluas ± 4.666,70 Ha atau 34,72 % dari luas total wilayah Kota. Wilayah ini pada umumnya terdapat pada bagian tengah Kota, seperti Kecamatan Padangsidimpuan Utara dan Padangsidimpuan Selatan serta pada areal persawahan yang terdapat di Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara.
1) Wilayah bergelombang dengan kemiringan lereng berkisar antara 8 – 15 % terdapat 2.457,56 Ha atau 18,29 % dari luas total Wilayah
Kota, yang terdapat di Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara.
2) Wilayah yang curam dengan kemiringan lereng berkisar antara 15 – 25 % terdapat 2 .925 Ha atau 21.76 % dari luas total wilayah Kota, yang terdapat pada bagian Utara Kota, seperti Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru dan Padangsidimpuan Angkola Julu.
3) Wilayah yang sangat curam dengan kemiringan 25 – 40 % terdapat seluas 2.175 Ha atau 16,18 % dari luas total Kota. Daerah ini umumnya terdapat pada bagian Timur dan Selatan Kota, seperti Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua dan Padangsidimpuan Tenggara.
4) Wilayah yang terjal dengan kemiringan di atas 40 % terdapat seluas 1.215,66 Ha atau 9,05 % dari luas total wilayah Kota.
Daerah ini merupakan gunung – gunung yang terdapat pada pinggiran dan tengah Kota.
4.1.2. Kondisi Demografi
Jumlah penduduk Kota Padangsidimpuan pada tahun 2012 berrdasarkan data yang dipublikasi resmi berjumlah 198.809 jiwa. Jumlah penduduk tersebut tersebar pada wilayah seluas 146,85 km2 maka kepadatan penduduknya mencapai 1.354 jiwa/km2. Kecamatan Padangsidimpuan Utara merupakan kecamatan yang paling tinggi kepadatan penduduknya yang mencapai 4.339 jiwa/km2 disusul oleh Kecamatan Padangsidimpuan Selatan yang mencapai 3.987 jiwa/km2. Sementara itu kecamatan lainnya memiliki tingkat kepadanya yang beragam. Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu yang
hanya 275 jiwa/ km2 . Secara lebih rinci tentang kondisi persebaran penduduk di Kota Padangsidimpuan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 4.1. Jumlah Penduduk Kota Padangsidimpuan dan Sebarannya Menurut Kecamatan Tahun 2012
Kecamatan Luas Wilayah
(km2) 1. Padangsidimpuan Tenggara 27,69 31 526 1 139 2. Padangsidimpuan Selatan 15,81 63 029 3 987 3. Padangsidimpuan Batunadua 37,74 19 660 521 4. Padangsidimpuan Utara 14,09 61 140 4 339 5. Padangsidimpuan Hutaimbaru 22,34 15 713 703 6. Padangsidimpuan Angkola Julu 28.18 7 741 275
Jumlah/Total 2012 146,85 198 809 1 354
Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan, 2014
Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa pada tahun 2012 jumlah rumah tangga di Kota Padangsidimpuan adalah 45.148 rumah tangga dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga 4,40 orang. Bila jumlah penduduk terbanyak ada di Kecamatan Padangsidimpuan Utara, namun jumlah rumah tangga paling banyak di Kota ini berada di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan yaitu 14.284 rumah tangga. Adapun jumlah rumah tangga paling sedikit berada di Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu yaitu 1.766 rumah tangga. Sebaran rumah tangga di Kota Padangsidimpuan secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 4.2. Jumlah dan sebaran rumah tangga di Kota Padangsidimpuan Tahun 2012
Kecamatan Jumlah 1. Padangsidimpuan Tenggara 31 526 6 853 4,60
2. Padangsidimpuan Selatan 63 029 14 284 4,41 3. Padangsidimpuan Batunadua 19 660 4 558 4,31 4. Padangsidimpuan Utara 61 140 14 077 4,34 5. Padangsidimpuan Hutaimbaru 15 713 3 610 4,35 6. Padangsidimpuan Angkola Julu 7 741 1 766 4,38
Jumlah/Total 2012 198 809 45 148 4,40
Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan, 2014
Jika dilihat dari distribusi penduduk menurut kelompok usia, terlihat jelas bahwa mayoritas penduduk Kota Padangsidimpuan masuk dalam kategori produktif yaitu mayoritas berusia di bawah 50 tahun. Secara lebih rinci data yang diperoleh menunjukkan bahwa kelompok usia 15 -19 tahun adalah kelompok usia tertinggi jumlahnya yang mencapai 24.061 jiwa. Sedangkan jumlah kelompok usia terkicil adalah kategori usia di atas 75 tahun yang hanya mencapai 1821 jiwa. Lebih jelas tentang pembagian penduduk Kota Padangsidimpuan berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel beirkut ini:
Tabel. 4.3. Distribusi penduduk Kota Padangsidimpuan menurut kelompok umur
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah 0 - 4 10 691 10 586 21 277
5 - 9 10 361 9 851 20 212
10 - 14 11 199 10 806 22 005 15 - 19 11 621 12 440 24 061
20 - 24 9 093 10 617 19 710
25 - 29 7 531 7 820 15 358
30 - 34 7 000 7 039 14 039
35 - 39 6 162 6 604 12 766
40 - 44 5 841 6 535 12 376
45 - 49 5 487 5 727 11 214
50 - 54 4 611 4 794 9 405
55 - 59 3 121 3 305 6 426
60 - 64 1 691 2 057 3 748
65 - 69 1 066 1 500 2 566
70 - 74 751 1 074 1 825
75 + 615 1 206 1 821
Jumlah 2012 96 841 101 968 198 809 Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan, 2014
Sementara itu, sex Ratio antara jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan Kota Padangsidimpuan mencapai sebesar 94,97 persen. Hal tersebut berarti jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding jumlah penduduk laki-laki sekitar 3,63 persen. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa rasio jenis kelamin penduduk di Kota Padangsidimpuan kondisinya tidak sejalan dengan urutan persebaran penduduknya menurut kecamatan. Data yang ada memperlihatkan bahwa rasio tertinggi antara laki-laki dan perempuan dapat dijumpai di kecamatan Padangsidimpuan Batunadua yang mencapai angka 99,07 % sedangkan rasio terendah dijumpai di kecamatan Padangsidimpuan Selatan yang hanya mencapai 69,76 %. Lebih jelas tentang kondisi perbandingan jenis kelamin penduduk menurut kecamatannya dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel. 4.4. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan rasio jenis kelamin menurut kecamatan tahun 2012
Kecamatan Lk Pr Jumlah Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan, 2014
Berdasarkan data yang ada dari sejak tahun 2007 terlihat bahwa penduduk Kota Padangsidimpuan mengalami pertumbuhan setiap waktunya. Jika dibandingkan dengan data tahun 2007 saja, maka pada tahun 2012 penduduk Kota ini sudah bertambah sebanyak 13.677 jiwa.
Ukuran lain yang dapat dilihat dan berkaitan dengan komposisi umur adalah angka ketergantungan (dependency rasio) yaitu beban yang harus ditanggung oleh penduduk yang berusia produktif (15 -64 tahun) secara ekonomi dalam menanggung penduduk yang tidak produktif (usia 0 -14 tahun dan 65 tahun keatas). Angka ketergantungan di tahun 2012 dan 2013 belum diperoleh, namuan bila merujuk pada data tahun 2011, maka terlihat sangat jelas bahwa angka beban ketergantungan penduduk Kota Padangsidimpuan masih di bawah angka ketergantungan propinsi. Sekalipun angka tersebut masih dibawah angka propinsi, namun kondisi ini tetap menunjukkan bahwa beban ketergantungan penduduk relative tinggi sebagaimana terlihat pada tabel berikut.
Tabel 4.5 Angka beban ketergantungan penduduk Kota Padangsidimpuan 2012
No Uraian Padangsidimpuan Sumatera Utara
1. Angka Beban Tanggungan Anak 50.12 51.67
2. Angka Beban Tanggungan Tua 4.92 6.18
Jumlah 55.03 57.85
Sumber : Kota Padangsidimpuan Dalam Angka 2013
Dari data di atas terlihat jelas bahwa pada tahun 2011 saja angka beban ketergantungan Kota Padangsidimpuan adalah 55,03 persen. Angka ini memiliki arti bahwa dari setiap 100 orang penduduk produktif di Kota Padangsidimpuan, mereka harus menanggung sekitar 55 – 56 orang penduduk tidak produktif. Sebagiaman disebutkan sebelumnya, sekalipun angka ini lebih kecil jika dibandingkan dengan angka beban ketergantungan Provinsi Sumatera Utara, namun jelas hal ini adalah sebuah permasalahan yang harus menjadi perhatian karena permasalahan ini akan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan baik kesehatan, pendidikan lapangan pekerjaan, dan lain sebagainya.
4.1.3. Perekonomian Kota Padangsidimpuan
Berbicara tentang perekonomian sebuah Kota maka akan bersinggungan dengan beberapa aspek ekonomi diantarannya adalah pembahasan tentang kondisi produksi yang ada. Secara garis besar aspek produksi di Kota Padangsidimpuan berkenaan dengan aktivitas industri, perdagangan, dan pertanian. Selain aspek produksi, perekonomian Kota juga dapat dilihat dari tingkat kesejahteraan masyarakat yang berkenaan dengan besaran biaya konsumsi yang dikeluarkan serta jumlah penerimaan dan pengeluaran anggaran Kota pada kurun waktu tertentu.
Tabel. 4.6 Banyaknya industri besar dan sedang menurut kecamatan tahun 2012
Kecamatan 2010 2011 2012
1. Padangsidimpuan Tenggara 3 3 3
2. Padangsidimpuan Selatan 1 1 1
3. Padangsidimpuan Batunadua 0 0 0
4. Padangsidimpuan Utara 0 0 0
5. Padangsidimpuan Hutaimbaru 0 0 0 6. Padangsidimpuan Angkola Julu 0 0 0
Jumlah/Total 4 4 4
Sumber: Dinas Koperasi, UKM, Perindag dan Pasar Kota Padangsidimpuan 2014
Dalam hal pertumbuhan Industri besar hampir tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Dinas Koperasi, UKM, Perindag dan pasar Padangsidimpuan mencatat belum ada pertambahan industri besar yang ada di Kota Padangsidimpuan dari mulai tahun 2010 sampai tahun 2012. Industri besar di Kota Padangsidimpuan hanya ada pada Padangsidimpuan Tenggara dan Padangsidimpuan Selatan sedangkan di kecamatan lain belum ada pertambahan untuk industri besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecamatan-kecamatan yang belum memiliki industri haruslah berbenah dan sangat memerlukan peran aktif pemerintah Kota Padangsidimpuan dalam mendukung dan memaksimalkan potensi dari setiap kecamatan dalam menunjang peningkatan perekonomian di masing-masing kecamatan. Sehingga arus investasi terutama dalam hal perkembangan industri dalam juga masuk ke dalam kecamatan-kecamatan yang memiliki potensi untuk perindustrian.
Tabel. 4.7 Jumlah tenaga kerja industri besar dan sedang menurut kecamatan tahun 2012
Kecamatan 2010 2011 2012
1. Padangsidimpuan Tenggara 240 240 240 2. Padangsidimpuan Selatan 233 233 233
3. Padangsidimpuan Batunadua 0 0 0 4. Padangsidimpuan Utara 0 0 0 5. Padangsidimpuan Hutaimbaru 0 0 0 6. Padangsidimpuan Angkola Julu 0 0 0 Jumlah/Total 473 473 473
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kota Padangsidimpuan 2014
Industri besar yang terdapat di kecamatan Padangsidimpuan Tenggara dan Selatan dapat menyerap 473 orang tenaga kerja. Hal ini tentu merupakan nilai positif dengan adanya industri besar dan sedang yang ada di Kota Padangsidimpuan . Dengan semakin banyaknya industri yang ada di Kota Padangsidimpuan maka akan semakin banyak tenaga kerja yang dapat diserap oleh perusahaan sehingga tentu berimbas positif terhadap pengurangan pengangguran di Kota Padangsidimpuan.
Kebutuhan pokok berupa makanan merupakan pengeluaran terbesar bagi sebagian besar masyarakat Kota Padangsidimpuan. Hal ini menandakan kebutuhan pokok seperti beras dan hasil pertanian lainnya sangat diperlukan di Kota Padangsidimpuan. Sehingga sektor pertanian juga mengambil andil besar dalam perekonomian Kota Padangsidimpuan.
Apsek penerimaan dan pendapatan belanja daerah Kota Padangsidimpuan memperlihatkan kondisi yang bervariasi dari masing-masing sektor. Dilihat dari perbandingan pendapatan dan pengeluaran diketahui kondisinya sebagai berikut:
Tabel. 4.8 Perbandingan pendapatan dan pengeluaran Kota Padangsidimpuan
Year Penerimaan Pengeluaran Pembiayaan 2012 540 468 368 527 246 070 20 430 522
2011 477 210 918 463 524 730 15 291 221 2010 375 676 077 356 260 243 5 737 346 2009 385 970 485 374 024 132 -2 044 791 2008 369 632 712 371 128 329 9 200 331
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kota Padangsidimpuan 2014
Aspek Penerimaan dan Belanja Daerah Kota Padangsidimpuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan yang menjadi modal dalam pengembangan perekonomian yang ada di Kota Padangsidimpuan. Penerimaan itu di dapat dari berbagai sektor seperti pendapatan asli daerah, pajak dan lain sebagainya.
Tabel 4.9 Realisasi penerimaan Kota Padangsidimpuan menurut jenis penerimaan
Jenis Penerimaan 2010 2011 2012
Pendapatan Asli Daerah 14 602 384 21 614 811 23 682 308 Bagian Dana Perimbangan 317 219 703 357 577 097 421 732 104 Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak 26 428 985 23 994 090 32 822 220 Dana Alokasi Umum (DAU) 270 129 118 308 014 507 364 923 284 Dana Alokasi Khusus (DAK) 20 661 600 25 568 500 23 986 606 Lain-lain Pendapatan yang
sah 43 853 989 98 019 010 95 053 956
Jumlah/Total 375 676 076 477 210 918 540 468 368
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kota Padangsidimpuan 2014
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan akibat timbulnya berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu wilayah/daerah. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tersebut menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mampu dihasilkan sangat tergantung pada faktor tersebut. Adanya keterbatasan tersebut menyebabkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bervariasi antar daerah. Dari sini dapat dilihat besaran nilai tambah dari masing-masing sektor ekonomi. Selain itu juga dapat dilihat sektor sektor yang berperan dalam pembentukan perekonomian daerah.
Produk Domestik Regional Bruto( PDRB) Kota Padangsidimpuan di dominasi dari sektor perdagangan, hotel, restoran serta pertanian. Kedua sektor ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup bagus. Hampir 40% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Padangsidimpuan dikuasai oleh kedua sektor ini. Hal ini menandakan konsernnya pemerintah Kota Padangsidimpuan dalam meningkatkan pendapatan dari kedua sektor yang dapat dikatakan sebagai sektor strategis di Kota Padangsidimpuan.
Tabel. 4.10. Produk domestik regional bruto Kota Padangsidimpuan menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2012
Lapangan Usaha 2012
1. Pertanian 406 579,26
2. Pertambangan & Penggalian/ 8 699,21 3. Industri Pengolahan 302 331,09 4. Listrik, Gas & Air Minum 15 010,23
5. Bangunan 133 780,95
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 582 684,20 7. Pengangkutan & Komunikasi 305 650,93 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 319 891,19
9. Jasa-Jasa 487 216,79
PDRB/GRDP 2 561 844,14
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kota Padangsidimpuan 2014