BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi narasumber
Jumlah narasumber dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Yang terdiri dari mahasiswa program studi Ekonomi Islam angkatan 2017 dapat dilihat pada table 1.4
Table 1.4
Deskripsi Narasumber
NO NAMA JURUSAN PERAN
1 Reni wahyuni ningsih Mahasiswa Ekonomi Islam Informan
2 Selfiani Mahasiswa Ekonomi Islam Informan
3 Khalisa nur Mahasiswa Ekonomi Islam Informan 4 Nurul fauziah Mahasiswa Ekonomi Islam Informan
5 Milawati Mahasiswa Ekonomi Islam Informan 6 Rezkyayu zhalsabilah Mahasiswa Ekonomi Islam Informan
7 Rahmat Mahasiswa Ekonomi Islam Informan
8 Sulkarnain Mahasiswa Ekonomi Islam Informan 9 Imam wahyudi Mahasiswa Ekonomi Islam Informan 10 Sarda ayu asgari Mahasiswa Ekonomi Islam Informan
C. Hasil Penelitian
1. Penerapan Konsep Khiyar pada jual beli online shop dalam perspektif Ekonomi Islam
Secara teoritis, dalam ekonomi Islam ada pemisah antara fiqih mu’amalah dan Ekonomi Islam. Fiqih mu’amalah menetapkan kerangka di bidang hukum ekonomi Islam, sementara ekonomi Islam mengkaji proses kegiatan manusia yang berkaitan dengan produksi, konsumsi, dan distribusi dalam masyarakat.
Akan tetapi, dalam literatur ekonomi Islam, selama ini masih mencampuradukkan antara analisis fiqih dalam ekonomi dan analisis ekonomi dan fiqih.45
Adi Warman Karim (2012) menggambarkan bentuk transaksi seperti di atas sebagai illat dari riba, bahwa riba dilarang karena menjadikan hal yang seharusnya tidak pasti menjadi pasti dalam bukunya riba, gharar, dan kaidah ekonomi syariah dinyatakan:“ resiko untung dan rugi dalam bisnis pasti ada,
45 Monzer Kahf, Islamic Economic Analytical of the function of the Islamic Economic System, terj. Machnum Husein, Ekonomi Islam Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), h. 6.
menjadikan pasti sesuatu yang diluar kendali manusia adalah bentuk kedzaliman, padahal justru itulah yang terjadi pada riba naisah, yakni perubahan sesuatu yang seharusnya tidak pasti menjadi pasti”46
Sebelum membahas prinsip-prinsip jual beli dalam Islam, penting kiranya terlebih dahulu untuk mengurai beberapa prinsip-prinsip ekonomi Islam. Hal tersebut menjadi penting karena jual beli adalah bagian dari aktivitas ekonomi.
Sehingga prinsip-prinsip dalam ekonomi Islam juga menjadi bagian yang cukup penting untuk diketahui.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh peneliti, sampai saat ini belum ada literatur yang secara khusus memberikan pembahasan mengenai prinsip jual beli dalam Islam secara tegas dan rinci. sekalipun ada, pembahasan mengenai prinsip jual beli tersebut masih bersifat parsial dan terbatas pada prinsip-prinsip ekonomi Islam. Untuk itulah, penulis berusaha merangkum untuk kemudian merumuskan prinsip jual beli tersebut berdasarkan literatur dan rujukan ke dalam satu rumusan tersendiri.
Dalam konteks transaksi ini, Mursal dan Suhadi mengemukakan bahwa terdapat prinsip-prinsip dalam aktivitas dan transaksi ekonomi yang sejalan dengan al-Qur’an dan hadits. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagi berikut47; a. Prinsip Tauhid
46Adiwarman Karim dan Oni Syahroni. riba, gharar, dan kaidah ekonomi syariah, (Jakarta : 2015), hal. 6.
47 Mursal dan Suhadi, “Implementasi Prinsip Islam dalam Aktivitas Ekonomi:
Alternatif Mewujudkan Keseimbangan Hidup”, Jurnal Penelitian, Vol. 9, No.1 (Februari:
2015), h. 71-84.
Implementasi dari prinsip ini adalah kesadaran bahwa segala bentuk usaha yang dilakukan oleh manusia harus tetap bergantung kepada Allah Swt.
Prinsip tauhid ini ditegaskan oleh al-Qur’an dalam surat al-Ikhlash. Selain itu, menurut Quraish Shihab, prinsip tauhid dalam aktivitas ekonomi akan
mengantarkan kepada manusia untuk meyakini bahwa kekayaan apapun yang dimiliki oleh seseorang sejatinya adalah milik Allah swt.
b. Prinsip Amanah
Dalam dunia usaha, amanah atau kepercayaan menjadi hal yang penting dalam pengembangan berbagai bidang usaha. Prinsip amanah ini sejalan dengan QS al-Baraqah ayat 283. Selain itu, dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Saw pernah mengingatkan kepada dua orang yang melakukan bisnis untuk saling menjaga amanah dan tidak saling mengkhianati. Apabila keduanya tetap komitmen dalam menjaga amanah, maka Allah akan menjadi pihak ketiga sebagai penolong mereka.
c. Prinsip Kebolehan
Prinsip kebolehan ini bertolak dari sebuah kaidah ushul bahwa hukum mu’amalah (termasuk jual beli) pada dasarkan adalah boleh. Prinsip kebolehan tersebut memberikan ruang seluas-luasnya bagi manusia untuk berkreasi dalam bidang ekonomi, termasuk dalam transaksi jual beli sepanjang hal tersebut tidak keluar dari koridor yang telah ditetapkan oleh hukum
syariat.
d. Prinsip Kerelaan
Prinsip kerelaan ini berdasar pada QS an-Nisa’ ayat 29 yang menegaskan bahwa setiap transaksi perniagaan hendaknya dilakukan dengan suka sama suka atau saling rela. Namun, perlu ditegaskan bahwa kerelaan ini tidak berlaku umum untuk segala bentuk transaksi. Transaksi yang secara tegas dilarang oleh Islam sekalipun dilakukan dengan saling rela tentu tidak dapat dibenarkan.
e. Prinsip Maslahah
Apabila dihubungkan dengan aktivitas perdagangan, menyediakan
berbagai kebutuhan masyarakat tidak semata- mata berbicara soal keuntungan meteriil semata, melainkan ada tuntutan idealisme dalam melayani dan
membantu orang lain untuk mendapatkan kebutuhan mereka. Selain itu, menjalankan suatu bisnis tidak hanya berlindung di bawah legal formal suatu tindakan, tetapi juga harus memperhatikan efek negatif yang dapat
ditimbulkan dari bisnis tersebut.
Dalam Islam masl} ahah disebut juga dengan istilah kesejahteraan, yaitu sebuah konsep kesejahteraan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik ekonomi individu maupun kelompok kolektif, serta dalam rangka mewujudkan maqasi} d syariah.
f. Prinsip Keadilan
Secara harfiah, adil bermakna “sama”. Sementara menurut KBBI, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak pada yang benar dan sepatutnya. 83 Atau dengan kata lain adil adalah meletakkan sesuatu
pada tempatnya, secara proporsional, setara atau seimbang. Muara dari adil adalah untuk mencapai keseimbangan. Dalam konteks perekonomian, yang dimaksud dengan adil adalah adanya keseimbangan dalam setiap aspek kegiatan perekonomian, mulai dari produksi, distribusi, dan konsumsi.
g. Prinsip Kejujuran
Prinsip kejujuran ini berdasar pada QS al-mut}affifin ayat 1- 3 yang memberikan kecaman kepada orang-orang yang berlak u curang dalam perdagangan, yaitu orang-orang yang menerima takaran dari orang lain meminta untuk dipenuhi, tetapi apabila mereka menakar untuk orang lain justru mereka menguranginya.
Selain beberapa prinsip di atas, dalam kegiatan mu’amalah, terdapat 4 (empat) asas yang harus diperhatikan agar proses transaksi dalam kegiatan mu’amalah dapat berjalan dengan baik serta sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Asas-asas tersebut yaitu
h. Asas rida’iyyah (asas saling rela). Yakni segala bentuk transaksi hendaknya dilakukan atas dasar “suka sama suka” dan terbuka. Sebab dalam al-Qur’an dengan tegas diterangkan bahwa segala bentuk transaksi yang mengandung unsur pemaksaan tidak diperbolehkan. Keberadaan asas ini menjadi hal yang sangat mendasar dalam semua kontrak komersiil dalam Islam. Oleh sebab itulah, dalam implementasinya, asas saling rela ini harus ditunjukkan dalam bentuk penyataan ijab dan qabul
i. Asas manfaat, yaitu transaksi yang dilakukan harus memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang bertransaksi dan tidak merugikan keduanya atau merugikan
salah satu diantara keduanya. Itulah sebabnya Islam melarang transaksi yang mengandung mad}arat/mafsadat seperti jual beli benda-benda yang
diharamkan dan jual beli barang-barang yang membahayakan.
j. Asas keadilan, yaitu transaksi yang dilakukan harus dijalankan dengan adil, baik oleh penjual maupun pembeli. Asas keadilan ini sejalan dengan ajaran al-Qur’an yang sangat menjunjung tinggi keadilan serta anti terhadap
kedzaliman.
k. Asas saling menguntungkan, yaitu segala bentuk transaksi yang dilakukan tentu harus memberi keuntungan kepada semua pihak, baik pembeli maupun penjual. Tidak dibenarkan apabila keuntungan hanya dinikmati oleh satu pihak saja, sementara pihak lain tidak diuntungkan.
Konsep uang dalam ekonomi Islam berbeda dengan konsep uang dalam ekonomi konvensional. Menurut ekonomi Islam uang adalah uang bukan capital. Karena sebagaimana dikatan oleh Ibnu Khaldun dalam Adiwarman bahwa kekayaan suatu Negara tidak ditentukan oleh banyak uang, tetapi ditentu oleh tingkat produksi Negara dan neraca pembayaran yang positif.
Bisa saja suatu Negara mencetak uang sebanyakbanyaknya, tetapi bila hal itu bukan merupakan refleksi pesatnya pertumbuhan sector produksi, maka uang itu tidak ada nilainya. Sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan atas factor produksi lainnya.48
48 Adiwarman A. Karim. Ekonomi Islam. Suatu Kajian Kontemporer. (Gema Insani Jakarta, 2001), h. 55.
Jual beli online pada dasarnya banyak memberikan kemudahan kepada para pembeli dalam melakukan transaksi jual beli barang berupa barang dan jasa. Namun kegiatan ekonomi kehidupan jual beli online yang terjadi saat ini telah menjadi kebutuhan oleh masyarakat untuk mempermudah proses
pembelian yang dilakukan oleh pelanggan atau pembeli. Jual beli suatu barang yang dilakukan secara online pun seharusnya memenuhi prinsip dan asa jual beli dalam ekonomi Islam sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Sehingga transaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang sedang melangsungkan akad jual beli terhindar dari berbagai macam dampak buruk baik dri aspek penipuan, ketidakpuasaan, maupun cacat barang yang terjual.
Hampir disemua kalangan masyarakat telah menggunakan jasa jual beli online dengan konsep ekonomi Islam yang belaku dan dikategorikan halal untuk keperluan kehidupan masyarakat terutama diperkotaan. Disatu sisi dengan adanya jual beli online shop ini memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi jual beli atau yang biasa disebut sebagai COD (cash on delivery). Kesepakatan dalam jual beli online dilakukan oleh kedua belah pihak tanpa bertemu langsung, atau biasa proses negosiasi harga suatu barang dan jasa dilakukan dengan komunikasi berupa aplikasi seperti Chat, telepon, sms, Whatssapp dan sebagainya.
Prosedur dalam melakukan pembelian secara online di online shop tentunya selain gambar yang disuguhkan oleh toko online. Juga perlu diperhatikan deskripsi suatu produk sehingga barang yang sudah dibeli oleh konsumen di keranjang pembelian tidak mengalami cacat barang atau
ketidakpuasaan pelanggan, jika suatu barang tersebut sudah ada ditangan pembeli. Konsep khiyar secara bersamaan mengikuti prosedur pembelian di online shop memberikan berbagai pilihan bagi konsumen antara melanjutkan atau membatalkan suatu transkasi yang akan dilakukan. Namun, fakta yang ditemukan oleh penulis melihat pengguna online shop menjadi mayoritas dalam memenuhi kebutuhan masyarakat memungkinkan banyak pembeli lebih memilih untuk membelanjakan uangnya ke online shop. Dikarenakan banyak kemudahan dan kualitas barang yang bagus dengan tingkat harga sesuai standar yang ada.
Oleh sebab itu, konsep Khiyar dalam jual beli online dtinjaudari perspektif ekonomi Islam adalah bagaimana konsumen dalam melakukan jual beli online tidak hanya menganggap bahwa jual-beli online bukanlah hanya sebatas proses tukar menukar, tetapi juga meliputi harta/barang jual yang halal, juga praktik usaha halal yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata tapi juga mengedepankan nilai-nilai dan tata cara jual-beli dalam Islam. Maka pada saat itu pula konsep Khiyar berlaku pada jual beli online untuk mencapai ridho Allah swt sebelum melakukan transaksi jual beli.
Konsep jual beli dalam perspektif ekonomi Islam ini adalah proses yang dimana terjadi tukar menukar barang yang mempunyai nilai sesuai dengan kesepakatan bersama. Sedangkan Jual beli dalam Islam hampir sama dengan jual beli pada umumnya hanya saja didalam transaksinya berdasarkan al-Qur’an dan Hadist. Online shop adalah proses jual beli barang atau jasa melalui Internet dimana dalam proses transaksinya penjual dan pembeli tidak
saling bertatap muka dalam proses transaksi barang dan jasa. Oleh sebab itu, di dalam Islam Khiyar disyariatkan di dalam proses jual beli harus sesuai dengan perintah agama dengan berlandaskan al-Qur’an dan hadits untuk kesempurnaan jual beli dalam Islam.
Berdasarkan beberapa uraian di atas, baik yang menyangkut prinsip
ekonomi Islam maupun asas-asas dalam transaksi jual beli online shop dengan praktek khiyar dalam Islam. Peneliti memberikan kesimpulan bahwa transaksi jual beli online yang merupakan bagian dari kegiatan ekonomi harus
dilaksanakan dengan berpedoman pada prinsip tauhid, prinsip akhlak, prinsip keseimbangan, prinsip kebebeasan individu, prinsip keadilan, dan prinsip shahih, serta memperhatikan asas-asas dalam jual beli dimana konsumen atau pelanggan memenuhi syarat dan rukun jual beli dalam Islam untuk mencapai kemaslahatan bersama.
D. Praktik Khiyar dalam Jual Beli Online Shop dalam Perspektif Ekonomi Islam
Jual beli online dibolehkan dalam Islam asalkan sesuai dengan hukum Islam. Hukum Islam adalah hukum yang lengkap dan sempurna,
kesempurnaan sebagai ajaran kerohanian telah terbukti dengan seperangkat aturan-aturan untuk mengatur kehidupan termasuk didalamnya menjalin hubungan dengan pencipta dalam bentuk ibadah dan peraturan antara sesama manusia yang di sebut muamalah.
Kemudian jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam al-qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam surat (QS An-Nisa’ ayat [4]:29) yang berbunyi:
Q.S. An-Nisa ayat 29:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu”.
Berdasarkan beberapa penjelasan berbagai dasar hukum yang telah disebutkan di atas membawa kita kepada suatu kesimpulan bahwa jual beli adalah suatu yang di syariatkan dalam Islam. Maka secara pasti dalam prakteknya ia tetap dibenarkan dengan memperhatikan persyaratan yang terdapat dalam jual beli itu sendiri yang tidak melanggarkan ketentuan dan syariat Islam. Praktek jual beli secara online di online shop memenuhi rukun dan syarat dalam jual beli seperti: tentang penentuan suatu pilihan dari pihak pembeli maupun penjual. Praktek khiyar ini memberikan pilihan untuk menukarkan atau mengembalikan barang yang telah sepakati bersama dalam suatu transaksi jual beli online disebabkan oleh
cacat terhadap barang yang dijual, atau ada perjanjian pada waktu akad, atau karena sebab yang lain.
Kemudian dengan penerapan jual beli online shop yang mengutamakan konsep Khiyar serta terbentuknya rasa saling percaya antara pelanggan dan penjual sesuai syariat Islam, disampaikan juga dalam wawancara mengenai pentingnya konsep Khiyar pada jual beli online yang berlandaskan kaidah dan syariat jual beli ekonomi Islam bahwa:
Iya penting, agar suatu akad dapat kita teruskan atau batalkan ketika dalam proses berbelanja online tidak sesuai kesepakatan yang di tentukan atau tidak sesuai dengan kaidah syariah. karena segala sesuatu yang kita lakukan itu harus berlandaskan pada syariat-syariat Islam begitu juga dalam jual beli baik langsung ataupun online. Dan juga selain kita sudsh mendapatkan banyak kemudahan dari Online shop syariat Islam juga sangat membantu dalam bermuamalah.49
Berdasarkan hasil wawancara yang dikemukakan diatas peneliti menarik suatu kesimpulan dasar bahwa segala bentuk jual beli yang dilakukan secara online seharusnya berlandaskan dengan syariat Islam yang telah ditetapkan.
Kemudian jual beli online harus sejalan dengan penerapan konsep Khiyar pada jual beli online shop sangat penting diterapkan agar antara penjual maupun pembeli tidak merasa di rugikan dalam proses transaksi tersebut. Maka dari itu penerapan praktik Khiyar sesuai dengan syariat sangat penting dilakukan pada jual beli online yang akan dilakukan.
Penerapan Khiyar dalam jual beli online adalah hal yang perlu dipertimbangkan dan juga dipahami dalam berbisnis, baik oleh penjual ataupun pembeli. Khiyar dalam konteks jual beli bisa memiliki beberapa maksud diantaranya adalah hak memilih yang diberikan kepada dua belah pihak (penjual dan pembeli). Praktek khiyar atau pilihan yang demikian ini adalah hak yang
49Reni Wahyuni ningsih, Wawancara yang dilakukan dengan mahasiswa prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, pada tanggal 27 Oktober 2021.
dimiliki oleh pembeli berada pada dua pilihan antara melanjutkan proses transaksi atau justru membatalkannya karena konsumen atau pembeli tidak berkomunikasi secara langsung untuk memperjelas kualitas barang yang tersedia pada toko online shop. Jadi yang terpenting dalam penerapan konsep khiyar dalam jual beli tidak diukur pada tawar menawar yang terjadi untuk menyepakati transaksi yang telah dilakukan oleh dua belah pihak. Sehingga khiyar pada dasarnya akan membantu dalam hal memilih dalam transaksi jual beli serta memberikan perlindungan hak-hak konsumen dalam dunia media sosial sekaran ini.
Sistem jual beli online tentunya memiliki sisi positif maupun sisi negatif karena mekanisme jual beli online yang sedikit berbeda dengan jual beli secara langsung. Keterbatasan media dalam praktik jual beli online inilah yang tidak sedikit menimbulkan kerugian diantara penjual maupun pembeli.
Adapun berbagai jenis jual beli online yang ada salah satunya adalah dengan penyerahan barang dibelakang yaitu akad salam atau dalam jual beli online sering disebut pre order ialah sebuah akad dimana barang akan diproduksi atau dibuat sesuai dengan pesanan yang ada. Oleh sebab itu, adanya hak khiyar saat akan terjadinya akad dapat menghindarkan adanya kerugian diantara kedua belah pihak sebelum mereka sepakat untuk melanjutkan akad. Maka dengan itu khiyar sebagai hak bagi penjual maupun pembeli haruslah diterapkan dalam setiap transaksi terlebih dalam jual beli online sebagai sebuah bukti kesempurnaan syariat Islam dalam mengatur sebuah jual beli.
Praktek jual beli online di online shop, dalam sistem pembayaran, penyedian barang sama dengan istishna’ yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat,
shani’).50 istishna’ pembayarannya dapat di muka, dicicil atau di belakang ketika selesai melakukan akad.
E. Penerapan Khiyar dalam Jual Beli Online Shop di Kalangan Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam
1. Pengetahuan Mahasiswa tentang Khiyar dalam jual beli online shop Penerapan konsep Khiyar pada jual beli online shop pada dasarnya harus dibarengi dengan pengetahuan pembeli terhadap konsep Khiyar tersebut sehingga mampu memberikan sumbangsih terhadap penerapan konsep khiyar tersebut.
Sebagai pembeli atau konsumen tentu harus mengetahui semua informasi mengenai berbagai macam produk dan jasa yang di tawarkan.
Pengetahuan tentang khiyar menjadi penting dikalangan mahasiswa dalam melakukan jual beli online yang sedikit banyak memilik pemahaman tentang akad jual beli dalam ekonomi Islam. Maka dalam proses transaksi jual beli online shop, pembeli dengan pemahaman tentang khiyar yang dimiliki mengerti bagaimana menciptakan transaksi barang dan jasa melalui online shop yang berdasar pada hak untuk memilih antara melanjutkan atau justru sebaliknya membatalkan dengan dalil al-Qur’an dan hadits dalam Islam.
Untuk lebih jelasnya dalam transaksi jual beli online shop yang sesuai dengan konsep khiyar yang diketahui oleh kalangan mahasiswa berdasar pada wawancara yang dilakukan yang mengatakan bahwa:
Konsep khiyar menurut saya adalah proses akad dengan hak-hak pembeli dan penjual, dimana pembeli bebas memilih untuk melanjutkan atau justru membatalkan akad yang sedang berlangsung berdasarkan kesepakatan bersama.51
50 Adiwarman A. Karim, Bank Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 126.
51Reni Wahyuni Ningsih, Wawancara yang dilakukan dengan mahasiswa prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, pada tanggal 27 Oktober 2021.
Hasil wawancara yang diperoleh diatas tentang pengetahuan khiyar yang dimiliki oleh mahasiswa tentang penerapan Khiyar itu sendiri dalam jual beli online dapat disimpulkan bahwa pengetahuan mahasiswa tentang konsep Khiyar pada jual beli online shop masih sangat minim. Mengenai konsep Khiyar dikalangan mahasiswa ditemukan beberapa mahasiswa yang hanya mampu menjelaskan mengenai arti Khiyar tetapi pada praktik Khiyar sebagian mahasiswa belum mampu menjelaskan dengan baik tentang Khiyar pada jual beli online. Hal ini memberikan suatu pemahaman khiyar yang dilakukan terhadap jual beli online shop yang sedang berlangsung dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Namun karena kurangya pengetahuan mahasiswa tentang konsep Khiyar maka dalam praktek penerapannya proses transaksi yang akan dilakukan dapat di telaah baik-baik. sebelum membeli kita melihat terlebih dahulu deskripsi barangnya serta melakukan pengecakan kualitas barang dengan harga yang ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar pembeli bisa lebih mudah memutuskan untuk melakukan proses pembelian. Terkadang pula mahasiwa menemukan berbagai macam ketidakjelasaan terhadap barang yang dipasarkan demi menghindari praktek penipuan untuk menjamin kepuasan pelanggan dan penjual dalam proses transaksi tersebut.
Sedangkan menurut hasil wawancara yang dilakukan terkait pengetahuan mahasiswa terhadap jual beli yang sesuai dengan konsep Khiyar mengatakan:
“Konsep Khiyar menurut saya adalah proses akad untuk pembeli dan penjual dimana pembeli memiliki hak untuk melanjutkan dan membatalkan.Terkait dengan konsep khiyar pada jual beli online itu sangat penting karena seperti yang kita ketahui jual beli online memiliki beberapa kelemahan, sehingga jika konsep khiyar diterapkan maka akan sangat membantu menjaga kepercayaan pembeli pada penjual”.52
52 Selfiani, Wawancara yang dilakukan dengan mahasiswa prodi Ekonomi Islam Fakultas
52 Selfiani, Wawancara yang dilakukan dengan mahasiswa prodi Ekonomi Islam Fakultas