• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran dan Pembahasan

Pertemuan pertama berlangsung selama 2x45 menit dimulai dari pukul 09.30 sampai pukul 11.00 WIB, pada pokok bahasan menyebutkan kedudukan 2 buah garis (sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan). Kegiatan pembelajaran diawali dengan memeriksa kehadiran siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran selanjutnya adalah peneliti melakukan apersepsi, langkah utama yang dilakukan oleh peneliti adalah mengingatkan siswa tentang konsep titik, garis, dan bidang dengan menggambarkan kubus ABCD.EFGH di papan tulis lalu mencoba untuk meminta siswa untuk menyebutkan titik, garis, dan bidang yang ada pada gambar kubus tersebut. Sebagian besar siswa sudah dapat menyebutkan titik, garis, dan bidang yang ada pada gambar kubus tersebut dengan tepat. Selanjutnya peneliti melakukan proses pembelajaran dengan menerapkan 7 komponen utama yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu pemodelan, bertanya, konstruktivisme, menemukan, masyarakat belajar, penilaian autentik, dan refleksi.

Sebelum siswa dapat menyebutkan kedudukan dua buah garis (sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan), siswa terlebih dahulu harus mengetahui pengertian dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan. Peneliti mengarahkan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pemikirannya tentang pengertian garis yang saling sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan dengan menampilkan contoh nyata tentang dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit dan bersilangan dengan menunjukkan contoh nyata yang ada pada kehidupan sehari-hari yaitu gambar rel kereta api yang lintasannya saling sejajar untuk menunjukkan dua buah garis yang saling sejajar, beberapa rel kereta api yang lintasannya saling

berpotongan untuk menunjukkan dua buah garis yang saling berpotongan, jam dinding yang menunjukkan pukul 12.00 untuk menunjukkan dua buah garis yang saling berhimpit, dan dua buah garis yang terletak pada bagian sisi depan dari sebuah rumah dan garis yang lain terletak pada sisi samping rumah untuk menunjukkan dua buah garis yang saling bersilangan. Peneliti menampilkan gambar-gambar tersebut dengan menggunakan bantuan LCD. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu pemodelan karena peneliti berusaha untuk menampilkan contoh dari kedudukan dua garis yang saling sejajar, berpotongan, dan bersilangan yang ada pada kehidupan sehari- hari.

Peneliti mengajukkan beberapa pertanyaan kepada siswa supaya siswa lebih mudah untuk mengkonstruksi pemikirannya, menyelidiki dan menemukan sendiri tentang pengertian dua buah garis yang saling sejajar, berpotongan, berhimpit dan bersilangan. Pertanyaan-pertanyaan yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut: P : Bagaimanakah jarak antara rel kereta api tersebut?

S : Jaraknya sama.

P : Jika garis tersebut diperpanjang tanpa batas, apakah kedua garis tersebut akan saling bertemu di suatu titik?

S : Enggak.

P : Mengapa kalian dapat mengatakan bahwa jika kedua garis tersebut diperpanjang tidak akan saling bertemu di suatu titik? S : Karena lintasan rel kereta api tersebut memiliki jarak yang sama

jadi gak mungkin bertemu di suatu titik.

P : Gambar rel kereta api tersebut adalah contoh dua buah garis yang sejajar. Sekarang dapatkah kalian menjelaskan tentang definisi dua buah garis sejajar?

S : Dua garis yang kalau diperpanjang gak akan bertemu disuatu titik.

P : Bagaimanakah notasi dari dua buah garis yang sejajar?

S : (Tidak ada siswa yang tahu bagaimana notasi/ lambang dari dua buah garis yang saling sejajar sehingga peneliti memberitahukan lambang dari dua buah garis yang saling sejajar adalah //) P : (Peneliti meminta siswa untuk memperhatikan gambar litasan rel

kereta api yang kedua). Terdapat berapa jalur lintasan pada gambar rel kereta api tersebut?

S1 : Ada 3. S2 : Ada 4. S3 : Ada 5.

P : (Peneliti meminta siswa untuk mencoba menghitung kembali ada berapa banyak lintasan rel kereta api tersebut)

S : Yang benar ada 4 lintasan.

P : Coba kalian lihat lintasan rel kereta api yang telah diberi tanda warna kuning! Sekarang kita misalkan jika lintasan rel kereta api yang telah diberi tanda warna tersebut adalah dua buah garis maka dapat digambarkan seperti apa? (Peneliti meminta salah seorang siswa untuk menggambarkan kedua garis tersebut dipapan tulis).

S : (Siswa yang peneliti tunjuk maju untuk menggambarkan kedua garis berdasarkan lintasan rel kereta api yang sudah diberi tanda warna kuning)

P : Apabila garis tersebut diperpanjang tanpa batas, apakah kedua garis tersebut akan saling bertemu di suatu titik?

S : (Ada siswa yang menjawab tidak akan memotong dan ada siswa yang menjawab akan memotong).

P : (Karena peneliti melihat banyak siswa yang masih bingung maka peneliti meminta salah seorang siswa untuk memperpanjang kedua garis yang telah dibuat sebelumnya). Bagaimana apakah kedua garis tersebut memotong di suatu titik?

S : Iya memotong.

P : Gambar rel kereta api tersebut adalah contoh dua buah garis yang berpotongan. Sekarang dapatkah kalian menjelaskan tentang definisi dari dua buah garis yang berpotongan?

S : Dua garis yang kalau diperpanjang akan memotong di suatu titik. P : (Peneliti meminta siswa untuk memperhatikan gambar jam dinding yang terdapat pada PPT). Jarum panjang dan jarum pendek pada jam dinding tersebut berada pada angka berapa? S : Di angka 12.

P : Sekarang kita misalkan jika jarum panjang dan jarum pendek pada gambar jam tersebut adalah dua buah garis maka kedua garis tersebut dapat digambarkan seperti apa? (Peneliti menunjuk salah seorang siswa menggambarkan kedua garis berdasarkan kedua jarum jam tersebut di papan tulis).

S : (Salah seorang siswa menggambarkan dua garis yang diminta dipapan tulis)

P : Apabila kedua garis tersebut diperpanjang tanpa batas, apakah yang terjadi? Apakah kedua garis tersebut memiliki titik potong? S : (Ada siswa yang menjawab ada dan beberapa siswa yang

menjawab tidak)

P : Untuk yang menjawab kedua garis tersebut apabila diperpanjang akan memiliki titik potong, berapakah jumlah titik potongnya? S : Ada banyak.

P : Apa alasannya sehingga kalian dapat mengatakan bahwa kedua garis tersebut memiliki banyak titik potong ?

S : Karena kedua garisnya saling menempel

P : Kedua garis tersebut saling menempel atau disebut juga dengan saling berhimpit. Gambar jam yang menunjukkan pukul 12.00 tersebut adalah contoh dua buah garis yang berhimpit. Sekarang dapatkah kalian menjelaskan tentang definisi dari dua buah garis yang berhimpit?

S : Dua garis yang punya banyak titik potong.

P : (Peneliti meminta siswa untuk memperhatikan gambar dua buah garis yang terletak pada bagian sisi depan dari sebuah rumah dan garis yang lain terletak pada sisi samping rumah). Dimisalkan sisi-sisi pada tembok rumah tersebut adalah sebuah bidang, apakah garis-garis yang berada pada tembok tersebut jika diperpanjang sampai tak berhingga memiliki titik potong?

S : (Ada siswa yang menjawab kalau kedua garis yang ada pada sisi tembok yang berbeda tersebut memiliki titik potong dan ada beberapa siswa yang mengatakan tidak memiliki titik potong) P : Apakah garis-garis yang berada pada tembok tersebut jika

diperpanjang sampai tak berhingga akan sejajar? S : Tidak.

P : Apakah garis-garis yang berada pada tembok tersebut jika diperpanjang sampai tak berhingga akan berhimpit?

S : Tidak.

P : Apakah garis-garis yang berada pada tembok tersebut terletak pada satu bidang yang sama?

S : Tidak.

P : Alasannya mengapa tidak?

S : Karena garis yang satu ada di bagian tembok depan dan garis yang lain di bagian tembok samping.

P : Gambar dua buah garis yang berada pada tembok rumah tersebut adalah contoh dua buah garis yang bersilangan. Sekarang dapatkah kalian menjelaskan tentang definisi dari dua buah garis yang bersilangan?

Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu bertanya, konstruktivisme, dan menemukan karena peneliti berusaha untuk mengembangkan pemikiran siswa tentang kedudukan dua garis yang saling sejajar, berpotongan, dan bersilangan melalui pertanyaan- pertanyaan yang membimbing siswa untuk menemukan dan merumuskan sendiri tentang definisi garis sejajar, berpotongan, dan bersilangan.

Karena siswa sudah mengetahui pengertian dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan maka peneliti meminta siswa untuk menyebutkan pasangan-pasangan garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan berdasarkan gambar limas segi empat beraturan yang telah peneliti gambarkan dipapan tulis. Sebagian besar siswa sudah dapat menyebutkan pasangan- pasangan garis yang diminta dengan tepat. Supaya siswa dapat lebih memahami materi yang telah dipelajari, peneliti meminta siswa untuk mengerjakan LKS 1 secara berkelompok.

Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok diskusi dengan cara meminta siswa menghitung 1–4. Perhitungan dimulai dari siswa yang duduk di bangku paling belakang sebelah kanan. Karena siswa yang ada di kelas VIIC berjumlah 26 orang, maka ada 2 kelompok yang anggotanya terdiri dari 5 orang dan 4 kelompok terdiri dari 4 orang. Setelah kelompok terbentuk, peneliti membagikan LKS 1

kepada masing-masing siswa. LKS 1 berisi permasalahan terkait menyebutkan kedudukan dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, bersilangan serta menyebutkan ciri-ciri dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan. Peneliti meminta siswa untuk mendiskusikan permasalahan yang terdapat pada LKS 1 bersama teman sekelompok. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu masyarakat belajar karena peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang heterogen dengan harapan setiap siswa dapat menjadi sumber belajar. Siswa yang sudah paham dapat memberikan penjelasan kepada teman satu kelompoknya yang masih belum paham dan siswa yang belum paham diharapkan tidak merasa segan untuk bertanya kepada teman satu kelompoknya yang sudah paham.

Peneliti berkeliling untuk melihat partisipasi masing-masing siswa didalam kelompok. Ketika berkeliling, peneliti melihat masih banyak siswa yang belum dapat menggambarkan balok dan memberi nama balok tersebut. Oleh karena itu peneliti miminta salah seorang siswa untuk menggambarkan balok ABCD.EFGH di papan tulis tetapi siswa tersebut masih mengalami kesulitan, maka itu peneliti meminta siswa tersebut untuk meminta bantuan pada salah satu temannya. Setelah waktu yang ditentukan untuk mengerjakan LKS 1 sudah habis, peneliti meminta beberapa kelompok untuk maju mempresentasikan

hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Tidak ada kelompok yang mau maju mempresentasikan hasil diskusinya, maka peneliti menunjuk salah satu kelompok. Peneliti memberikan kesempatan kepada kelompok yang tidak mempresentasikan hasil diskusinya untuk bertanya maupun menanggapi hasil diskusi kelompok yang mempresentasikan di depan kelas tetapi tidak ada siswa yang bertanya dan mereka mengatakan kalau jawaban kelompok tersebut sudah benar. Ketika ada kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, peneliti berusaha untuk memberikan penilaian terhadap hasil yang dipresentasikan oleh kelompok. Peneliti menilai bahwa kelompok tersebut sudah mampu menyebutkan kedudukan dua buah garis (sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan), tetapi masih terdapat beberapa siswa mengalami kesulitan untuk menyebutkan dan membedakan antara garis berpotongan dan bersilangan. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu penilaian autentik karena peneliti berusaha untuk memberikan penilaian kepada kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas dan kepada siswa yang lain. Peneliti berusaha untuk menilai apakah siswa sudah paham dengan materi yang dipelajari pada hari tersebut atau belum.

Peneliti mengajak siswa untuk membuat rangkuman tentang materi yang sudah dipelajari pada hari tersebut secara lisan untuk

mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari pada hari tersebut. Siswa menanggapi ajakan dari peneliti dan mengatakan bahwa pada hari tersebut mereka telah belajar tentang menentukan kedudukan dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, dan bersilangan. Peneliti meminta siswa untuk menyebutkan definisi dari dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, serta bersilangan dan siswa sudah dapat mendefinisikannya tetapi masih belum tepat. Oleh karena itu peneliti mencoba untuk menegaskan kembali tentang definisi dari dua buah garis yang sejajar, berpotongan, berhimpit, serta bersilangan. Sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti meminta siswa untuk menyampaikan kesan mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa mengungkapkan bahwa belajarnya menyenangkan, materinya lumayan mudah dimengerti, dan santai. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu refleksi karena peneliti meminta siswa untuk menyampaikan apa saja yang sudah dipelajari pada hari tersebut dan meminta kesan siswa selama proses pembelajaran. Dengan refleksi diharapkan siswa dapat mengetahui sejauhmana mereka paham tentang materi yang telah dipelajari pada hari tersebut dan kesulitan apa yang mereka alami.

2. Pertemuan II

Pertemuan kedua berlangsung selama 2x45 menit atau dua jam pelajaran yang dimulai dari pukul 10.15 sampai pukul 11.45 WIB, pada pokok bahasan memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis-jenis sudut. Kegiatan pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam, memeriksa kehadiran siswa, dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran selanjutnya adalah peneliti melakukan apersepsi, langkah utama yang dilakukan oleh peneliti adalah mengingatkan siswa tentang materi yang telah dipelajari sebelumnya, yaitu menyebutkan kedudukan dua buah garis (berhimpit, sejajar, berpotongan, dan bersilangan) dengan cara meminta siswa untuk menyebutkan kedudukan dua buah garis (berhimpit, sejajar, berpotongan, dan bersilangan) berdasarkan gambar kubus yang peneliti gambar di papan tulis. Selanjutnya peneliti melakukan proses pembelajaran dengan menerapkan 7 komponen utama yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu pemodelan, bertanya, konstruktivisme, menemukan, masyarakat belajar, penilaian autentik, dan refleksi.

Sebelum siswa dapat memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis-jenis sudut, siswa terlebih dahulu harus mengetahui definisi sudut. Peneliti mengarahkan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pemikirannya

tentang definisi sudut dengan menampilkan contoh nyata sebuah sudut yang ada pada kehidupan sehari-hari, yaitu gambar jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00, orang yang sedang memanah, kue ulang tahun yang sudah dipotong sehingga potongan tersebut membentuk suatu sudut, daerah pojok dari lapangan sepak bola, dan kursi malas terbuat dari bambu. Peneliti menampilkan gambar-gambar tersebut dengan menggunakan bantuan LCD. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu pemodelan karena peneliti berusaha untuk menampilkan contoh dari sudut yang ada pada kehidupan sehari- hari. Peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa supaya siswa lebih mudah untuk mengkonstruksi pemikirannya, menyelidiki dan menemukan sendiri bagaimana memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis- jenis sudut. Pertanyaan-pertanyaan yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut:

P : Apakah yang dapat kalian lihat dari gambar tersebut?

S : Jam dinding, kursi, bolu, orang memanah, lapangan sepakbola. P : Coba kalian perhatikan jam dinding tersebut! Jam dinding

tersebut menunjukkan pukul berapa? S : Jam 07.00.

P : Apa sajakah yang terdapat pada gambar jam dinding tesebut? S : Angka, jarum panjang, jarum pendek.

P : Misalkan jarum panjang dan jarum pendek yang terdapat pada gambar jam dinding tesebut adalah sebuah sinar garis maka bagaimanakah titik pangkal dari kedua garis tersebut?

S : Sinar garis itu yang seperti apa mbak?

P : Sinar garis itu contohnya sinar pada senter. (Peneliti menampilkan gambar seseorang yang sedang menghidupkan

senter). Sinar yang berasal dari senter tersebut memiliki titik pangkal atau tidak?

S : (Salah seorang siswa menjawab dengan ragu-ragu). Ada . P : Apakah yang lain setuju bahwa sinar yang berasal dari senter

tersebut memiliki titik pangkal? S : Setuju.

P : Jika kalian setuju, dimanakah letak titik pangkalnya? S : Dibagian senter yang mengeluarkan sinar.

P : Panjang sinar senter tersebut terbatas atau tidak terbatas? S : Tidak terbatas.

P : Iya benar, lalu bagaimanakah pengertian dari sinar garis? S : Garis yang memiliki pangkal.

P : Masih kurang tepat, adakah yang ingin melengkapi jawaban teman kalian?

S : Garis yang memiliki pangkal dan panjangnya tidak terbatas. P : (Peneliti menegaskan kembali definisi sinar garis dan

menanyakan kembali pertanyaan yang peneliti ajukan sebelumnya, yaitu misalkan jarum panjang dan jarum pendek yang terdapat pada gambar jam dinding tesebut adalah sebuah sinar garis maka bagaimanakah titik pangkal dari kedua garis tersebut?).

S : Titik pangkalnya saling bertemu.

P : Titik pangkalnya saling bertemu atau saling berhimpit? S : Berhimpit.

P : Gambar jarum panjang dan jarum pendek yang terdapat pada gambar jam dinding tersebut adalah contoh dari sebuah sudut. Berdasarkan gambar jarum panjang dan jarum pendek yang terdapat pada gambar jam dinding dan kursi malas yang terbuat dari bambu tersebut, bagaimanakah definisi dari sebuah sudut? S : Sinar garis yang punya titik pangkal dan titik pangkalnya

berhimpit.

Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu bertanya, konstruktivisme, dan menemukan karena peneliti berusaha untuk mengembangkan pemikiran siswa tentang sudut melalui pertanyaan- pertanyaan yang membimbing siswa untuk menemukan dan merumuskan sendiri tentang definisi sudut.

Siswa sudah mengetahui definisi sudut, maka peneliti meminta siswa untuk mengerjakan LKS 2 secara berkelompok supaya siswa lebih memahami bagaimana cara memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis- jenis sudut. Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok diskusi dengan cara meminta siswa menghitung 1–4. Perhitungan dimulai dari siswa yang duduk di bangku paling depan sebelah kanan. Karena ada seorang siswa yang tidak hadir maka siswa di kelas VIIC berjumlah 25 orang. Ada 1 kelompok yang anggotanya terdiri dari 5 orang dan 5 kelompok terdiri dari 4 orang. Setelah kelompok terbentuk, peneliti membagikan LKS 2 kepada masing-masing siswa. LKS 2 berisi permasalahan terkait memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis-jenis sudut. Peneliti meminta siswa untuk mendiskusikan permasalahan yang terdapat pada LKS 2 bersama teman sekelompok. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu masyarakat belajar karena peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang heterogen dengan harapan setiap siswa dapat menjadi sumber belajar. Siswa yang sudah paham dapat memberikan penjelasan kepada teman satu kelompoknya yang masih belum paham dan siswa yang belum paham diharapkan tidak merasa segan untuk bertanya kepada teman satu kelompoknya yang sudah paham.

Peneliti berkeliling untuk melihat partisipasi masing-masing siswa didalam kelompok. Ketika berkeliling, peneliti melihat beberapa siswa tidak membawa busur derajat dan beberapa siswa masih mengalami kebingungan ketika mengukur besar sudut dengan menggunakan busur derajat. Ketika mengukur besar sudut dengan busur derajat, siswa bingung harus melihat angka yang ada dibagian bawah atau atas busur derajat. Oleh karena itu peneliti miminta siswa yang sudah tahu bagaimana cara mengukur besar sudut dengan menggunakan busur derajat untuk mengajarkan kepada temannya yang masih belum paham. Setelah waktu yang ditentukan untuk mengerjakan LKS 2 sudah selesai, peneliti meminta beberapa kelompok untuk maju mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Peneliti memberikan kesempatan kepada kelompok yang tidak mempresentasikan hasil diskusinya untuk bertanya maupun menanggapi hasil diskusi kelompok yang mempresentasikan di depan kelas tetapi tidak ada siswa yang bertanya dan mereka mengatakan kalau jawaban kelompok tersebut sudah benar. Ketika ada kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, peneliti berusaha untuk memberikan penilaian terhadap hasil yang dipresentasikan oleh kelompok. Peneliti menilai bahwa kelompok tersebut sudah mampu memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis-jenis sudut. Bagian

pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu penilaian autentik karena peneliti berusaha untuk memberikan penilaian kepada kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas dan kepada siswa yang lain. Peneliti berusaha untuk menilai apakah siswa sudah paham dengan materi yang dipelajari pada hari tersebut atau belum.

Peneliti mengajak siswa untuk membuat rangkuman tentang materi yang sudah dipelajari pada hari tersebut secara lisan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari pada hari tersebut. Siswa menanggapi ajakan dari peneliti dan mengatakan bahwa pada hari tersebut mereka telah belajar tentang bagaimana memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis-jenis sudut. Peneliti meminta siswa untuk menyebutkan cara memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menyebutkan menentukan jenis-jenis sudut. Siswa sudah dapat menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan tetapi masih belum tepat, oleh karena itu peneliti mencoba untuk menegaskan kembali tentang bagaimana memberikan nama pada sudut, mengukur besar sudut dengan busur derajat, dan menentukan jenis-jenis sudut. Sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti meminta siswa untuk menyampaikan kesan mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa mengungkapkan bahwa

belajarnya menyenangkan tetapi masih lumayan sulit untuk mengukur besar sudut dengan busur derajat. Bagian pembelajaran di atas termasuk dalam komponen utama dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu refleksi karena peneliti meminta siswa untuk menyampaikan apa saja yang sudah dipelajari pada hari tersebut dan meminta kesan siswa selama proses pembelajaran. Dengan refleksi diharapkan siswa dapat mengetahui sejauhmana mereka paham tentang

Dokumen terkait