BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Penelitian
1. Perkembangan Investasi Properti di Kota Makassar Tahun 2004-2016
Investasi menjadi penting diperlukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil karena investasi mampu mendorong peningkatan permintaan barang modal, pendapatan per kapita masyarakat, serta mewujudkan pembangunan nasional. Sebagai gerbang Kawasan Industri Timur, Kota Makassar menjadi tolak ukur pertumbuhan ekonomi dengan letak yang strategis, pertumbuhan bisnis yang sangat cepat dikarenakan fungsi logistik, fungsi transportasi, dan fungsi perdagangannya yang saling berpengaruh, serta pertumbuhan penduduk yang tinggi diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Dengan kondisi serta peluang tersebut, Kota
Makassar mampu menyita atensi penanam-penanam modal untuk melakukan investasi.
Tabel 4.1
Perkembangan Investasi Properti Di Kota Makassar Tahun 2004-2016 Tahun Jumlah Nilai Investasi Sektor Properti
(Rupiah) 2004 68,331,356,352 2005 759,181,347 2006 256,523,767 2007 332,966,270 2008 1,466,586,141 2009 174,063,691 2010 102,086,102 2011 835,354,133 2012 466,530,868 2013 1,556,482,170 2014 1,545,640,691 2015 1,030,629,416 2016 852,146,196
Sumber: BKPMD Prov. Sulawesi Selatan (data diolah) Tahun 2017
Pada tabel 4.1 diatas tercatat jumlah investasi terkhusus pada sektor properti di Kota Makassar mengalami turun-naik selama periode 13 tahun. Tercatat pada tahun 2004 ke tahun 2005 mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar Rp.63,331,356,352 turun ke angka sebesar Rp.759,181,347. Penurunan yang signifikan terjadi kembali pada tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar Rp. 1,466,586,141 turun ke angka Rp. 174,063,691.
Pada tahun 2007 ke tahun 2008 tercatat investasi properti mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar Rp. 332,966,270 naik ke angka Rp. 1,466,586,141. Peningkatan yang signifikan terjadi kembali pada tahun 2012 ke tahun 2013 yaitu sebesar Rp.466,530,868 naik ke angka sebesar Rp.1,556,482,170. Peningkatan tersebut dikarenakan laju pertumbuhan ekonomi Kota Makassar pada tahun-tahun sebelumnya rata-rata 7,70%, dan ditunjang perbaikan sarana dan prasarana penunjang oleh Pemkot Makassar. Sebagaimana terlihat pada perbaikan jalan masuk di kawasan Tanjung Bunga pada tahun tersebut menjadi jalan beton, yang kemudian berimplikasi pada; Pertama, semakin tertatanya kawasan properti pertama dan terlengkap di Kota Makassar. Kedua, kawasan tersebut masih menjadi pilihan investasi terbaik pada tahun yang sama. Terbukti dengan masuknya pengembang terbesar Asia untuk berinvestasi pada sektor properti di Kota Makassar seperti Agung Podomoro Land dan Putra Jakarta Mandiri dengan total investasi yang besar.
2. Perkembangan Suku Bunga Kredit di Kota Makassar Tahun 2004-2016
Suku bunga kredit merupakan salah satu faktor yang mampu menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi pada penanaman modal atau investasi dan dapat menentukan jenis-jenis investasi yang akan memberikan keuntungan serta dapat dilaksanakan para penanam-penanam modal. Pada tabel 4.2 menunjukkan suku bunga kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi yang berlaku dan menjadi acuan menurut bank umum. Kemudian pada tabel tersebut yang menjadi fokus utamanya adalah suku
bunga kredit investasi, dimana dapat dilihat adanya perubahan yang tidak jauh berbeda dan cenderung tetap pada tahun-tahun tertentu selama periode 13 tahun.
Tabel 4.2
Perkembangan Suku Bunga Kredit Di Kota Makassar Tahun 2004-2016 Tahun Suku Bunga Kredit
Investasi (Persen)
Suku Bunga Kredit Modal Kerja (Persen)
Suku Bunga Kredit Konsumsi (Persen) 2004 14,05 13,41 16,57 2005 15,66 16,23 16,83 2006 11,75 15,07 17,58 2007 8,5 13 16,13 2008 8,5 14,9 16,4 2009 7 13,2 16,52 2010 6,5 13,2 15,16 2011 6,5 12,42 14,4 2012 5,75 11,76 13,8 2013 6,25 11,65 13,1 2014 7,5 12,60 13,33 2015 7,5 12,66 13,77 2016 11,55 11,88 13,8
Sumber: BPS Prov. Sulawesi Selatan (data diolah) Tahun 2017
Tercatat pada tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami penurunan tingkat suku bunga kredit yaitu 11,75% ke angka 8,5%. Dimana hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh perubahan kebijakan oleh Bank Sentral dalam hal ini Bank Indonesia yang bertujuan untuk memberi stimulus juga demi stabilnya iklim investasi yang kemudian akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Kemudian pada tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami kenaikan sebesar 7,5% ke angka 11,55%. Naiknya
suku bunga kredit dikarenakan biaya-biaya operasi perbankan yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha bank masih tinggi dan meningkatnya Non Performing Loan atau kredit bermasalah, dimana hal tersebut memicu kenaikan yang tipis untuk suku bunga kredit.
3. Perkembangan Inflasi di Kota Makassar Tahun 2004-2016
Kenaikan harga-harga yang tinggi dan terus-menerus atau yang disebut inflasi pada perekonomian akan berakibat buruk terhadap segala sektor pada perekonomian. Inflasi dalam suatu perekonomian akan selalu berlaku, maka pemerintah perlu menyusun langkah-langkah untuk menstabilkan harga-harga tinggi yang berlaku dalam perekonomian dan seterusnya akan mewujudkan perekonomian yang stabil.
Tabel 4.3 menunjukkan inflasi yang berlaku di Kota Makassar pada tahun 2004-2016. Tercatat kenaikan inflasi secara signifikan terjadi pada tahun 2004 dan 2005 yang masing-masing sebesar 6,47 persen dan 15.2 persen. Kemudian pada tahun 2008 dan 2009 inflasi mengalami penurunan secara signifikan yang masing-masing sebesar 11,06 persen dan 2,78 persen. Gejolak krisis keuangan global telah mengubah tatanan perekonomian dunia. Tercatat krisis global yang berawal di Amerika Serikat pada tahun 2007, mulai terasa imbasnya pada tahun 2008 di Indonesia dan negara sekitar. Laju inflasi pada tahun 2009 sesuai dengan yang ditargetkan Bank Indonesia berada di level single digit yang tercapai, hal ini salah satunya disebabkan oleh turunnya harga jual bahan bakar minyak. Juga berkat langkah-langkah yang diambil pemerintah serta kebijakan Bank Sentral dapat mengembalikan gairah perekonomian yang pada akhirnya menurunkan tingkat harga-harga yang tinggi.
Tabel 4.3
Perkembangan Inflasi Di Kota Makassar Tahun 2004-2016
Tahun Inflasi (Persen)
2004 6.47 2005 15.2 2006 6.60 2007 6.59 2008 11.06 2009 2.78 2010 6.96 2011 3.79 2012 4.30 2013 8.38 2014 8.36 2015 3.35 2016 3.05
Sumber: BPS Prov. Sulawesi Selatan (data diolah) Tahun 2017
4. Tingkat Pengembalian Modal di Kota Makassar Tahun 2004-2016
Suatu kegiatan investasi dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila penanaman modal atau investasi yang dilakukan untuk masa depan adalah lebih besar daripada nilai modal yang diinvestasikan. Jika nilai awal penanaman pada modal dibagi dengan nilai modal yang dihasilkan maka diperoleh tingkat pengembalian modal atau rate of return (dinyatakan persen per tahun). Adapun tingkat pengembalian modal akan memberikan gambaran kepada para penanam-penanam
modal mengenai jenis-jenis investasi yang mempunyai prospek yang baik untuk dilaksanakan.
Tabel 4.4 Tingkat Pengembalian Modal
Dari Investasi Properti di Kota Makassar Tahun 2004-2016 Tahun Tingkat Pengembalian Modal (Persen)
2004 7% 2005 63% 2006 19% 2007 21% 2008 69% 2009 7% 2010 4% 2011 25% 2012 12% 2013 34% 2014 37% 2015 21% 2016 16%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2017
Tabel 4.4 menunjukkan tingkat pengembalian modal dari investasi terkhusus sektor properti di Kota Makassar selama periode 13 tahun. Tercatat pada tahun 2009 mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2008 yaitu sebesar 69% ke angka 7%. Gejolak krisis keuangan global yang terjadi pada awal tahun 2007 berdampak juga pada investasi sektor properti yang merupakan investasi yang padat modal. Hal ini terbukti pada tahun 2008 ke tahun 2009 yang mengalami penurunan yang
signifikan. Pada tahun 2004 ke tahun 2005 mengalami peningkatan yaitu sebesar 7% ke angka 63%. Peningkatan sektor properti tahun 2004 ke tahun 2005 diakibatkan oleh nilai kapitalisasi proyek properti yang mengalami lonjakan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Investasi disektor properti menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dari dampak yang sangat luas yang dimiliki oleh sektor properti sehingga apabila investasi ini pertumbuhannya tinggi maka pada gilirannya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi khususnya di Kota Makassar.
C. Analisis Statistik