• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian

Penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode pembelajaraan kooperatif tipe TGT ini dilaksanakan di kelas XI IPS 3 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dengan jumlah siswa 32 orang. Sebelum dilaksanakan penelitian ini, peneliti telah melakukan observasi dan wawancara lisan dengan guru mata pelajaran akuntansi untuk mengetahui kondisi awal kegiatan pembelajaran di kelas XI IPS 1 dan XI IPS 3. Untuk observasi pendahuluan dan pelaksanaan penelitian membutuhkan waktu 2 x 45 menit atau dua jam pelajaran. Berikut ini adalah uraian hasil observasi pendahuluan penerapan metode pembelajaran kooperatif pada masing-masing siklus. 1. Observasi Pendahuluan

Observasi pendahuluan dilaksanakan pada hari Rabu, 19 Oktober 2011 pada jam keenam sampai ketujuh (pukul 11.15-12.45) untuk kelas XI IPS 1. Hari Selasa, 18 Oktober 2011 dan hari Kamis, 20 Oktober 2011 pada jam keempat sampai kelima (pukul 09.30-11.00) untuk kelas XI IPS 3. Guru mitra dalam penelitian ini adalah Bapak H. Franky Ari Andri P, S.Pd sebagai guru bidang studi akuntansi. Setelah melalui diskusi, guru mitra dan peneliti menentukan untuk mengadakan penelitian di kelas XI IPS 3. Jumlah siswa kelas XI IPS 3 sebanyak 32 siswa. Materi yang

dipelajari pada saat observasi pendahuluan ini adalah jurnal penyesuaian. Berikut adalah uraian hasil observasi terhadap guru, kelas, dan siswa: a. Observasi Guru (observing teacher)

Pada kegiatan awal pembelajaran guru mengucapkan salam, dan memeriksa kesiapan siswa. Kemudian guru melakukan kegiatan apersepsi atau mengulang kembali materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Hal ini dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk merangsang perhatian siswa dalam memasuki materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan metode pembelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan sesekali menulis di papan tulis. Pertanyaan yang diberikan oleh guru, kadang ditanggapi oleh beberapa siswa tetapi pada umumnya siswa kurang aktif, sibuk dengan diri sendiri, berbicara dengan teman sebangku maupun teman yang ada di depan dan di belakangnya, bahkan bermain HP. Hal ini dikarenakan guru kurang menggunakan metode belajar yang bervariasi, hanya sebatas menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, guru tidak menggunakan simulasi atau permainan untuk menyampaikan materi pelajaran. Selanjutnya pada akhir pembelajaran guru memberikan kesimpulan dan memberi motivasi serta tugas untuk dikerjakan di rumah. Menurut guru mata pelajaran akuntansi, motivasi belajar siswa masih kurang. Rangkaian kegiatan guru tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini (lampiran 26 halaman 206) :

Tabel 5.1

Hasil Observasi Kegiatan Guru dalam Proses Pembelajaran

No Deskripsi Ya Tidak Keterangan

1 Guru membuka pelajaran  Mengucapkan salam 2 Guru memeriksa kesiapan siswa  3 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran  Telah disampaikan di pertemuan sebelumnya 4 Guru melakukan apersepsi  5 Guru menggunakan

metode belajar yang bervariasi

 Metode ceramah dan tanya jawab 6 Guru memberikan tugas  7 Guru menggunakan media  Papan tulis

8 Guru menegur siswa  9 Guru memberikan penghargaan kepada siswa  Masih perlu ditingkatkan 10 Guru memunculkan

rasa ingin tahu

 Mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi 11 Guru menggunakan simulasi dan permainan 

12 Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas di depan kelas

13 Guru berinteraksi dengan siswa

 Mengarahkan

siswa

apabila siswa men jawab pertanyaan 14 Guru menutup pelajaran  Mengucapkan salam penutup dan memberi motivasi

b. Observasi Siswa (observing student)

Sebelum memulai pembelajaran siswa terlebih dahulu mempersiapkan diri dan alat-alat yang digunakan untuk mengikuti pembelajaran. Setelah semua siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran, guru memulai membuka pembelajaran dengan menyampaikan materi yang akan dipelajari pada hari itu. Pada awal pelajaran, semua siswa terlihat kurang fokus dan tidak bersemangat, kemudian guru memicu konsentrasi siswa dengan soal-soal. Pada pertengahan pembelajaran guru memberikan pertanyaan kepada siswa, ada 47% siswa yang antusias untuk menjawab pertanyaan tetapi ada juga yang bersifat pasif sehingga terpaksa guru harus menunjuk siswa. Siswa tampak kurang aktif dalam pelajaran dan hanya terdapat 12,5% siswa yang bertanya tentang materi yang sedang diajarkan. Dalam proses pembelajaran berlangsung ada beberapa siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri, ngobrol dengan teman, tidur-tiduran dan bermain handphone. Beberapa siswa hanya menjawab jika mendapat giliran saja dan suasana kelas menjadi sangat tidak terkendali sehingga 50% siswa mendapat beberapa teguran dari guru. Dalam proses pengerjaan soal dari guru, 78% siswa hanya mengerjakan soal apabila mendapat giliran menjawab soal saja. Peneliti menduga kondisi seperti ini dikarenakan siswa merasa bosan dengan rutinitas mereka, juga kondisi yang tidak memungkinkan karena pelajaran dilaksanakan pada siang hari. Dengan keadaan dan kondisi yang seperti ini akan

mengganggu teman-teman lain yang berniat dan serius untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Rangkaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini (lampiran 27 halaman 208)

Tabel 5.2

Hasil Observasi Kegiatan Siswa dalam Proses Pembelajaran

No Deskripsi Ya Tidak Keterangan

1 Siswa siap

mengikuti proses pembelajaran

 Buku tulis dan alat

tulis, ringkasan materi 2 Siswa memperhatikan penjelasan guru 

Hanya pada awal pembelajaran 3 Siswa menangga pi pembahasan pembelajaran  47% siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru 4 Siswa mencatat

hal-hal penting  5 Siswa mengerjak

an tugas/latihan soal dengan baik

 78% siswa mengerjakan jika mendapat giliran menjawab saja 6 Siswa mendapat teguran dari guru

 50% siswa mengobrol dan mengganggu teman lainnya dan mendapat teguran dari guru 7 Ada persaingan yang sehat dari diri siswa  8 Siswa aktif dalam proses pembelajaran  Hanya ada 12,5% siswa yang bertanya tentang materi yang dipelajari.

Selain wawancara peneliti menggunakan instrumen kuesioner untuk mengukur tingkat motivasi siswa pra-implementasi tindakan (based- line), dan melihat hasil tes siswa sebelum penerapan metode untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa pra-implementasi tindakan (based-line). Untuk mengetahui tingkat motivasi siswa pra- implementasi tindakan (based-line), peneliti menggunakan kuesioner untuk mengetahui tinggi rendahnya motivasi belajar. Interpretasi data motivasi belajar dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.3

Analisis Motivasi Belajar Siswa Pra-Implementasi (Based- Line)

Hasil perhitungan pengkategorian dapat dilihat pada lampiran 40 halaman 266. Dari data tersebut tampak bahwa persentase siswa yang memiliki motivasi belajar sangat tinggi adalah 0%, persentase siswa

9 Siswa menjawab pertanyaan guru

 10 Siswa mendapat

penghargaan dari guru baik verbal maupun non verbal

 Apresiasi masih

perlu ditingkatkan

No Interval Frek. Frek. Relatif

(%) Interpretasi 1 85 - 100 0 0% Sangat Tinggi 2 73 - 84 8 25% Tinggi 3 65 - 72 5 15,63% Sedang 4 57 - 64 4 12,5% Rendah 5 ≤ 56 15 46,87% Sangat Rendah Total 32 100%

yang memiliki motivasi belajar tinggi adalah 25%, persentase siswa yang memiliki motivasi belajar sedang adalah 15,63%, persentase siswa yang memiliki motivasi belajar rendah adalah 12,5%, dan persentase siswa yang memiliki motivasi belajar sangat rendah adalah 46,87%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai motivasi belajar yang sangat rendah yaitu sebanyak 15 siswa atau 46,87%.

c. Observasi Kelas (observing class)

Secara fisik ruang kelas sudah cukup memadai dan nyaman untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dalam kelas terdapat 1 papan tulis besar, 1 papan presensi dan piket kelas, 1 buku untuk mengetahui proses kemajuan setiap mata pelajaran, 1 meja dan 1 kursi guru, meja dan kursi yang digunakan untuk 32 orang, 1 papan pengumuman kelas, ventilasi yang baik dan lingkungan yang bersih sehingga mendukung proses pembelajaran. Pada saat itu jumlah siswa yang hadir sebanyak 32 orang siswa. Suasana kelas pada awal pembelajaran masih kurang kondusif, terlihat hampir semua siswa belum cukup siap untuk mengikuti pelajaran. Pada pertengahan pembelajaran ada beberapa siswa yang malah asyik dengan kegiatannya sendiri, ngobrol dengan teman, main handphone dan tidur-tiduran. Hal ini dapat disebabkan karena suasana yang panas dan siswa mulai bosan dan mengantuk. Tidak ada kegiatan yang menarik dalam proses pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi

siswa untuk belajar. Walaupun demikian guru tetap bijaksana dengan memberikan teguran apabila sikap siswa melampaui batas serta memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memancing partisipasi siswa. Pada akhir pelajaran guru memberikan tugas dan kesimpulan, guru memberikan motivasi dan mengucapkan salam. Rangkaian keadaan kelas tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini (lampiran 28 halaman 210):

Tabel 5.4

Hasil Observasi Kondisi Kelas dalam Proses Pembelajaran

No Deskripsi Ya Tidak Keterangan

1 Fasilitas di dalam kelas mendukung proses pembelajaran

 Papan tulis, meja dan bangku 2 Kondisi kelas mendukung proses pembelajaran  Perlu dikondusifkan dengan berbagai pertanyaan 3 Siswa membuat keributan/kegaduhan  4 Siswa mengerjakan latihan soal  78% siswa mengerjakan jika mendapat giliran menjawab saja

5 Siswa aktif bertanya pada guru jika mengalami kesulitan

 Hanya ada 12,5%

siswa yang bertanya tentang materi yang dipelajari.

7 Adanya kegiatan yang menarik dalam proses pembelajaran

8 Adanya sumber belajar dalam kelas yang mendukung proses pembelajaran

Berdasarkan hasil observasi terhadap guru, siswa dan kelas, berikut ini akan disajikan analisis situasi pembelajaran dari hasil observasi pendahuluan. Selama proses pembelajaran berlangsung guru menggunakan metode ceramah dan metode tanya jawab. Metode ceramah merupakan metode yang paling sering digunakan oleh guru untuk menyampaikan dan menjelaskan materi pembelajaran. Selain dipandang mudah diterapkan, metode ceramah juga menghemat waktu dan tenaga. Sedangkan metode tanya jawab digunakan oleh guru untuk merangsang pengetahuan siswa dan memicu konsentrasi siswa. Kedua metode tersebut memang sudah baik apabila diterapkan dalam proses pembelajaran, akan tetapi penggunaan metode tersebut secara rutin dan tidak adanya kegiatan yang menarik dalam pembelajaran tentunya akan menimbulkan kebosanan pada diri siswa. Pada saat observasi awal dalam pembelajaran guru memberikan latihan soal untuk dikerjakan di dalam kelas, dan dibahas secara bergiliran bersama para siswa. Pada awalnya hal tersebut membuat kelas menjadi sedikit lebih kondusif, namun karena guru memberikan soal lagi setelah soal-soal pertama selesai dibahas dengan cara yang sama, siswa terlihat malas dan bosan sehingga membuat kelas menjadi gaduh kembali. Terlihat bahwa ketika siswa diminta untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru ada satu atau dua orang siswa yang menjawab, namun ada beberapa siswa yang masih bersikap acuh tak acuh, asyik berbicara dengan teman-temannya di luar materi pembelajaran dan main

handphone. Kurangnya penghargaan oleh guru yang diberikan kepada siswa menyebabkan tidak adanya semangat dan hasrat untuk berkompetisi antar siswa dan kurangnya pengawasan menyebabkan ada beberapa siswa yang tidur-tiduran di dalam kelas tanpa mengerjakan apapun.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menemukan beberapa permasalahan pembelajaran salah satunya yaitu rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga akan berdampak juga pada hasil belajar siswa. Hal ini tampak pada kurangnya hasrat dan keinginan berhasil pada diri siswa, siswa kurang memiliki sikap terhadap harapan dan cita-cita masa depan, tidak adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan kondisi lingkungan yang kurang kondusif untuk belajar. Peneliti menduga akar dari permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek diantaranya kebosanan siswa terhadap metode yang diterapkan oleh guru yang dirasa masih kurang bervariasi.

Dari permasalahan tersebut, menurut peneliti alternatif pemecahannya yaitu perlunya menciptakan suatu proses pembelajaran yang bervariasi dan menyenangkan yang dapat memotivasi siswa untuk belajar, misalnya dengan menggunakan metode dan media yang bervariasi sehingga proses pembelajaran menjadi harmonis dan suasana kelas menjadi lebih kondusif. Ada berbagai model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dimana masing-masing model memiliki langkah-langkah yang bervariasi.

Peneliti bekerja sama dengan guru mitra bermaksud menerapkan suatu metode pembelajaran alternatif disamping metode ceramah dan tanya jawab, yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games- Tournaments (TGT). Dalam metode ini ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan yaitu pembentukan kelompok, pelaksanaan games dan tournaments serta pemberian penghargaan kepada kelompok. Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan pengantar materi pelajaran terlebih dahulu, dapat dilakukan dengan metode ceramah maupun tanya jawab. Setelah itu, guru akan mernbentuk siswa ke dalam kelompok- kelompok kecil sebagai tempat untuk berdiskusi dalam pelaksanaan games. Di dalam kelompok tersebut diharapkan siswa akan saling berinteraksi dalam memecahkan soal-soal latihan yang nantinya akan diberikan oleh guru dalam games maupun tournaments. Dengan adanya model pembelajaran ini diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih bersemangat lagi dalam belajar. Dan pemberian penghargaan kepada kelompok yang aktif dan mengumpulkan nilai yang banyak akan mendorong siswa untuk berkompetensi secara sehat dengan kelompok lain. Dengan metode ini pembelajaran terpusat kepada siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pengawas selama proses pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan Kelas

Siklus pertama ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 17 November 2011 pada jam pelajaran keempat sampai kelima (pukul 09.30-

11.00). Materi pembelajarannya adalah jurnal penutup dan posting buku besar perusahaan jasa. Peserta pembelajaran adalah siswa kelas XI IPS 3. Siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran adalah sebanyak 32 orang. Adapun metode pembelajaran yang diterapkan adalah metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Berikut ini disajikan uraian/deskripsi tahap-tahap penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT:

a. Perencanaan

Pada bagian perencanaan tindakan, peneliti melakukan beberapa hal yaitu menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP), membagi siswa ke dalam kelompok, dan membuat lembar nilai kelompok.

1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP)

Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) sesuai dengan materi yang telah disepakati oleh peneliti dan guru mitra. Setelah RPP selesai dibuat maka RPP diserahkan kepada guru pamong untuk dipelajari. Materinya adalah tentang Jurnal Penutup dan posting buku besar Perusahaan Jasa. Penyampaian materi ini akan dilakukan 2 kali pertemuan (2 x 45 menit). Waktu tersebut sudah termasuk penyampaian materi dan pelaksanaan test. Selain membuat RPP peneliti juga mempersiapkan segala media pembelajaran seperti membuat handout, membuat kotak-kotak berisi pilihan soal dan jawaban, lembar jawab yang digunakan saat games dan membuat lembar kerja siswa untuk tournament.

Selain menyusun RPP, peneliti meminta guru pamong untuk membagi siswa ke dalam kelompok berdasarkan nilai ulangan yang diperoleh siswa. Pemetaan bertujuan untuk membagi siswa dalam kelompok yang heterogen berdasarkan hasil belajar sehingga setiap anggota kelompok terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, berkemampuan sedang dan yang berkemampuan rendah. Jika jumlah siswa sebanyak 32 siswa maka kelompok akan dibagi dalam 6 kelompok sebagai berikut:

Tabel 5.5

Daftar Pembagian Kelompok

No Nama Siswa Kel. Ket.

1 A.M. ERGIG DIBITIANTO

I Harta

2 ANDREAS PRABU MAHESWARA

SYIWANA

3 ARDIYAN WISNU ADI

4 DIONISIUS BIMANA WINTANG PRADIPTA

5 RIO ADI NUGRAHA RIYANTESTY

6 YUSTINUS CHRISTIAN WIDYO GURITNO

7 AGUSTINUS SETYO PRAMONO

II Kewajiban 8 ELYADA ADI JOESIANTA

9 FELIX LIDWINO

10 MAHESA SANTOSO UTOMO

11 STEFANUS KRISNA PRIMANTARA

12 YOHANES DAVIN DWI ATMOKO

13 ARDY RADITYA HENDRAWAN

III Modal 14 GLANLAY GABRIEL SANTOSO

15 KEVIN IRWANTO

16 NATHANAEL OSCAR AURELIUS PRASETYA

17 RIMTADO JULIUS CAESARIO TAMPUBOLO

18 BONAVENTURA BIONOV VAVA

19 CORNELIUS RICKY MADEWA

20 IMMANUEL AGUNG YOGA

RADIKTYA

21 LAURENSIUS ADITYA JOSHUA WIDYANA

22 LIBERTUS PRAYOGO

23 EDOARDUS ANGGER RELO PAMBUDI

V Beban 24 GILBERTUS ADIN SURYA GUMILANG

25 OSVALDO RIO NUGROHO

ARITONANG

26 RAPHAEL RAGAN RAYPUTERA

27 YULIUS BAYU WICAKSONO

28 ANGGA ARDIANDI

VI Prive 29 GREGORIUS AGUNG BRILLIANT

30 RAYNALDO SUDIRA

31 STEFANUS SANE ALEXANDER

32 WILIBRORDUS KEVIN ROMARIO

3) Membuat lembar nilai kelompok

Setelah peneliti membagi siswa ke dalam kelompok maka peneliti membuat lembar nilai kelompok sebagai berikut (lampiran 19 halaman 189):

Tabel 5.6

Lembar Penilaian Kelompok

Keterangan SKOR Kel I Kel II Kel III Kel IV Kel V Kel VI Games (soal 1-9) Pelanggaran Total games Turnamen: 100 100 100 100 100 100

Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Soal 5 Soal 6 Soal 7 Pelanggaran Total skor cerdas cermat TOTAL Tambahan TOTAL AKHIR JUARA 4) Materi pembelajaran

Materi pembelajaran ini adalah jurnal penutup. Berdasarkan materi pembelajaran tersebut, penulis selanjutnya melakukan pengemasan materi dalam bentuk games dan tournament (lampiran 21 halaman 191).

5) Lembar kerja siswa

Lembar kerja siswa berisi soal-soal yang terdiri dari pre-test dan post-test yang berguna untuk membandingkan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan PTK (lampiran 24 halaman197)

6) Uang-uangan

Uang-uangan kertas digunakan sebagai dasar perhitungan poin kelompok dalam mengerjakan soal. Tiap-tiap kelompok wajib menginvestasikan uang tersebut pada saat menjawab pertanyaan (lampiran 22 halaman 195).

7) Meja permainan

Jumlah meja permainan ada 6 buah. Meja permainan disesuaikan dengan jumlah kelompok. Ditambah satu meja lagi untuk meja investasi saat tournament.

8) Papan nama kelompok

Papan nama kelompok diletakkan di atas meja kelompok yang digunakan sebagai identitas dari setiap kelompok.

9) Nomor urut pengerjaan

Dalam turnamen setiap kelompok mendapatkan nomor urut pengerjaan yang terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 10. Tiap-tiap anggota kelompok maju mengambil soal berdasarkan nomor urut yang didapat.

10) Kartu pertanyaan dan jawaban

Dalam permainan terdapat kartu pertanyaan dan kartu jawaban yang nantinya akan dijodohkan. Sedangkan pada saat turnamen, soal akan dibacakan oleh guru dan siswa akan menjawab pada lembar jawab.

Lembar ini digunakan untuk menempelkan jawaban dan soal pada saat games, (lampiran 23 halaman 196 ).

12) Hadiah

Hadiah dimaksudkan sebagai penghargaan bagi kelompok yang memperoleh nilai tertinggi, setelah skor permainan dan turnamen diakumulasikan. Hadiah yang diberikan berupa alat tulis dan makanan ringan.

13) Peneliti menyusun dan menyiapkan instrumen pengumpulan data, yang meliputi:

(a) Instrumen (kuesioner) untuk mengetahui motivasi belajar siswa. Kuesioner akan diberikan kepada siswa sebelum dan sesudah pembelajaran. Instrumen ini tersedia pada lampiran 3 dan 4 halaman 156-162.

(b) Instrumen observasi terhadap kegiatan guru di kelas pada saat penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Instrumen ini tersedia padalampiran 5 halaman 163.

(c) Instrumen observasi terhadap kegiatan siswa di kelas pada saat penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Instrumen ini tersedia padalampiran 6 halaman 164.

(d) Instrumen observasi terhadap keadaan kelas pada saat penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Instrumen ini tersedia padalampiran 7 halaman 165.

(e) Instrumen refleksi terhadap kegiatan guru selama mengikuti proses pembelajaran. . Instrumen ini tersedia pada lampiran 11 halaman 171.

(f) Instrumen refleksi terhadap kegiatan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Instrumen ini tersedia pada lampiran 12 halaman 172.

b. Tindakan

Pertemuan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 17 November 2011 dengan alokasi waktu 2 x 45 menit, pukul 09.30 -11.00 atau 2 jam pelajaran. Jumlah siswa yang hadir 32 orang. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT guru dibantu oleh peneliti.

1) Pada kegiatan awal, sebelum memulai pelajaran guru menyapa siswa dan memeriksa kesiapan siswa. Guru melakukan apersepsi singkat pada awal pembelajaran. Sebelum pembelajaran tipe TGT dimulai, guru memastikan apakah siswa telah duduk bersama dengan kelompoknya masing-masing. Daftar nama-nama kelompok dan anggotanya telah diumumkan pada pertemuan sebelumnya. Untuk mengukur kemampuan awal siswa, peneliti melaksanakan tes berupa 15 soal pilihan ganda. Hasil tes tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.7

Analisis Hasil Belajar Siswa Pra-Implementasi (Based- Line) No Interval Frek. Frek. Relatif (%) Interpretasi 1 81 – 100 0 0% Sangat Tinggi 2 66 – 80 3 9,37% Tinggi 3 56 – 65 0 0 Sedang 4 46 – 55 0 0 Rendah 5 ≤ 55 29 90,63% Sangat Rendah Total 32 100%

Pengkategorian hasil pre-test dapat dilihat pada lampiran 41 halaman 269. Dari data tersebut tampak bahwa persentase siswa yang memiliki hasil belajar sangat tinggi adalah 0%, persentase siswa yang memiliki hasil belajar tinggi adalah 9,37%, persentase siswa yang memiliki hasil belajar sedang adalah 0%, persentase siswa yang memiliki hasil belajar rendah adalah 0%, dan persentase siswa yang memiliki hasil belajar sangat rendah adalah 90,63%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai hasil belajar yang sangat rendah yaitu sebanyak 29 siswa atau 90,63%.

2) Pada kegiatan inti, guru menjelaskan secara singkat tentang metode pembelajaran kooperatif tipe TGT dan materi pelajaran yang akan dipelajari, mengemukakan alur pembelajarannya. Jumlah kelompok sebanyak 6 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa yang memiliki hasil belajar belajar

yang sangat bervariasi (sangat tinggi, tinggi, rendah, dan sangat rendah). Sebelum siswa masuk dalam kelompok guru

mereview kembali materi yang telah dipelajari pada minggu

yang lalu secara singkat. Siswa telah menerima handout dan telah diminta mempelajari materi tersebut sebelumnya. Guru memulai proses pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menjelaskan prosedur games yang akan dilaksanakan bersama. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam memahami prosedur permainan, oleh karena itu siswa dan guru menyelenggarakan simulasi sederhana yang dilakukan sebelum kelas memulai pembelajaran dengan metode ini. Saat pembelajaran kooperatif tipe TGT dimulai, guru mengawasi jalannya proses pembelajaran. Siswa terlihat bingung saat metode TGT diterapkan. Hal ini terlihat ada beberapa kelompok yang masih sibuk dan memberikan pertanyaan kepada guru. Suasana kelas pada awalnya sedikit ramai dan kurang berjalan sesuai aturan main, namun pada saat pembahasan, situasi kelas dapat dikendalikan. Situasi kelas lebih tenang saat dimulainya tournament karena masing-masing siswa berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan- pertanyaan yang diberikan oleh guru dan mulai menjelaskannya kepada anggota yang lain dalam kelompok. Mereka yang berani mengemukakan pendapat di kelompok pada umumnya adalah

yang tergolong berhasil belajar tinggi. Setelah mendapat beberapa penjelasan dari guru dan mengalami pengerjaan soal secara individu, siswa diminta untuk mengikuti tournament dengan materi yang sama secara berkelompok. Siswa menggunakan uang-uangan palsu sebagai modal dan infestasi pada setiap soalnya. Siswa mampu mengikuti tournament dengan baik sesuai prosedur yang telah dibuat sebelumnya. Terjadi diskusi yang baik dalam kelompok saat waktu mengerjakan soal dimulai dan kerja sama yang baik dalam setiap kelompok.

3) Pada kegiatan penutup, guru melakukan pembahasan singkat

Dokumen terkait