• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian

1. Faktor Lingkungan di Lokasi Penelitian

Secara geografis lokasi penelitian merupakan daerah pesisir laut dangkal dengan kedalaman berkisar 1-2 meter. Kondisi ombak di wilayah ini tergolong lemah dan masih dipengaruhi oleh pasang surut. Faktor lingkungan lain yang diukur dalam penelitian ini tercantum pada Tabel 4.1. Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Faktor Lingkungan di Lokasi Penelitian

Berdasarkan data pada Tabel 4.1 terlihat bahwa kisaran faktor lingkungan yang teramati selama penelitian relatif kecil. Sementara itu fluktuasi yang paling terlihat pada faktor kecepatan arus karena dipengaruhi oleh kecepatan angin setempat.

2. Kurva Pertumbuhan

Berdasarkan data pengukuran dengan indikator biomassa basah terlihat bahwa setiap minggu pengukuran pertumbuhan talus ujung selalu lebih tinggi dibandingkan dengan talus tengah, baik pada Eucheuma cottonii maupun Eucheuma spinosum sebagaima yang disajikan pada Gambar 4.1.

No. Faktor Lingkungan Hasil Pengukuran

1, Suhu (0C) 27 – 30

2. Salinitas (ppt) 34 – 38

3. pH 8 – 7

4. Kedalaman (cm) 100-220

40

Gambar 4.1 Kurva Pertumbuhan Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum pada setiap pemanenan

3. Pertumbuhan Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum

Perbandingan produktivitas Eucheuma cottonii berdasarkan asal talus yang ditanam dengan indikator biomassa tercantum pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Rerata Biomassa Basah dan Biomassa Kering Talus Ujung Berdasarkan Jenis Spesies yang Ditanam

Perlakuan

Waktu Pemanenan

Rerata Biomassa Basah (gram) Kering (gram)

Eucheuma cottonii Panen ke-1 147 13.03 Panen ke-2 217 15.74 Panen ke-3 293 29.00 Panen ke-4 368 29.36 Panen ke-5 494 42.68 Eucheuma spinosum Panen ke-1 140 19.6 Panen ke-2 181 22.37 Panen ke-3 222 28.40 Panen ke-4 260 35.60 Panen ke-5 273 37.22

Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap rerata biomassa basah talus ujung sebagaimana yang tercantum pada Tabel 4.1 terlihat bahwa

Eucheuma cottonii menunjukan produktivitas yang berbeda dengan

0 100 200 300 400 500 600 1 2 3 4 5 E.cottonii Ujung E.cottonii tengah E.spinosum ujung E.spinosum tengah Gr Minggu ke-

41

Eucheuma spinosum. Pada pengukuran pertama Eucheuma cottonii memiliki

berat basah 147 gram sedangkan Eucheuma spinosum 140 gram. Begitupula dengan pengukuran selanjutnya ditemukan hasil serupa, dimana Eucheuma

cottonii menunjukan biomassa basah yang lebih besar. Hal serupa terlihat

pada hasil pengukuran biomassa kering. Konsistensi perbedaan tersebut secara visual dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan 4.3.

Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Biomassa Basah (Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari bagian Ujung Talus.

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Biomassa Kering (Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari bagian Ujung Talus. . 0 100 200 300 400 500 600 1 2 3 4 5 E. cottonii E.spinosum 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 45.0 1 2 3 4 5 E. cottonii E.spinosum Minggu ke- Minggu ke- Gr Gr

42 Pada pengamatan terhadap talus tengah terlihat adanya produktivitas yang berbeda antara Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum sebagaimana yang tercantum Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Rerata Biomassa Basah dan Biomassa Kering Talus Tengah Berdasarkan Jenis Spesies yang Ditanam

Perlakuan

Waktu Pemanenan

Rerata Biomassa

Basah (gram) Kering (gram)

Eucheuma cottonii Panen ke-1 128 11.9 Panen ke-2 200 15.7 Panen ke-3 224 22.6 Panen ke-4 276 24.7 Panen ke-5 410 35.9 Eucheuma spinosum Panen ke-1 132 18.4 Panen ke-2 165 20.2 Panen ke-3 209 26.2 Panen ke-4 238 32.5 Panen ke-5 263 34.6

Berdasarkan data pada Tabel 4.3 dan grafik pada Gambar 4.3 terlihat bahwa ada perbedaan produktivitas antara Eucheuma cottonii dengan

Eucheuma spinosum yang ditanam dari talus tengah. Rerata pengukuran

biomassa basah pada pemanenan pertama diperoleh nilai 128 dan 132 gram masing-masing untuk Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum. Sementara itu untuk biomassa kering menunjukkan hasil yang serupa, yakni 11,9 dan 18,4 gram. Pada pemanenan kedua terlihat hasil yang berbeda, dimana untuk biomassa basah diperoleh nilai 200 dan 165 gram masing-masing untuk

Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum. Sementara untuk biomassa kering

diperoleh hasil 22.6 dan 20.2 gram. Hal ini menunjukkan bahwa Eucheuma

cottonii menunjukkan hasil yang lebih besar dari pada Eucheuma spinosump

43 menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan Eucheuma cottonii. Fluktuasi ini terulang pada pemanenan berikutnya, dimana untuk biomassa basah

Eucheuma cottonii selalu menunjukkan hasil yang lebih tinggi, kecuali pada

pemanenan pertama. Sementara pada biomassa kering Eucheuma spinosum menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan Eucheuma cottonii, kecuali pada panen kelima. Data tersebut dapat digambarkan dalam bentuk grafik seperti yang tercantum pada Gambar 4.4 dan Gambar 4.5.

Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Biomassa Basah (Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari bagian Tengah Talus.

Gambar 4.5 Grafik Perbandingan Biomassa Kering Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari bagian Tengah Talus. 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 1 2 3 4 5 E.cottonii E.spinosum 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 1 2 3 4 5 E.cottonii E.spinosum Minggu ke- Minggu ke- Gr Gr

44 B. Pengujian Hipotesis

Pengujian statistik untuk analisis inferensial dalam upaya membuktikan hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan uji t (Independet-sample t Test).

Uji t independen (Independent-Sample T Test) dilakukan untuk melihat ada tidaknya perbedaan produktivitas Alga Eucheuma cottonii dan

Eucheuma spinosum. Uji dilakukan dengan menggunakan program SPSS

ver. 16.0. Hasil uji t pada taraf kepercayaan 95% untuk melihat perbedaan produktivitas Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari ujung talus tercantum pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Uji Hipotesis perbedaan produktivitas Eucheuma cottonii dengan

Eucheuma spinosum yang ditanam dari ujung talus pada Taraf

Kepercayaan 95%

Biomassa t hitung t tabel df Sig (1 arah) Keterangan Basah 9.982 1.859 8 0.0001 Tolak H0 Kering 2.095 1.859 8 0.069 Tolak H0

Berdasarkan hasil analisis data yang tercantum pada Tabel 4.8 terlihat bahwa nilai t hitung untuk biomassa basah adalah 9.982>1.859 dari t tabel pada taraf kepercayaan 95%, yakni. Data ini juga diperkuat dengan hasil analisis SPSS yang memberikan nilai probabilitas (sig) sebesar 0.001 jauh lebih kecil dari α=0.05. Hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak yang berarti ada perbedaan produktivitas antara Eucheuma cottonii dengan

Eucheuma spinosum yang ditanam dari ujung talus.

Hasil analisis terhadap biomassa kering memberikan nilai t hitung 2.095>1.859 dari t tabel. Begitu pula dengan output SPSS dengan nilai probabilitas 0.0069. Nilai tersebut berada di bawah nilai sig 0.05

45 (0.0069<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa pada biomassa kering H0 juga ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan produktivitas antara Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari ujung talus.

Pada pengujian hipotesis untuk perbedaan produktivitas Eucheuma

cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari bagian tengah talus

tercantum pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Uji Hipotesis perbedaan produktivitas Eucheuma cottonii dengan

Eucheuma spinosum yang ditanam dari Tengah talus pada Taraf

Kepercayaan 95%

Biomassa t hitung t tabel df Sig (1 arah) Keterangan

Basah 4.696 1.859 8 0.002 Tolak H0

Kering 3.266 1.859 8 0.011 Tolak H0

Berdasarkan hasil analisis data yang tercantum pada Tabel 4.9 terlihat bahwa nilai t hitung 4.696 > t tabel 1.859. Sementara nilai probabilitas untuk biomassa basah adalah 0.002. Nilai ini lebih kecil dari α=0.05 (0.002<0.05). Kedua hasil analisis tersebut menunjukan bahwa H0 ditolak yang berarti ada perbedaan produktivitas antara Eucheuma cottonii dengan

Eucheuma spinosum yang ditanam dari bagian tengah talus.

Hasil analisis terhadap biomassa kering menghasilkan nilai t hitung 3.266>1.859 dari nilai t tabel. Data pembanding dari output SPSS memberika nilai probabilitas 0.011. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai sig 0.05 (0.011<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa pada biomassa kering H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan produktivitas antara

Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum yang ditanam dari ujung

46 C. Pembahasan

Pertumbuhan pada organisme multiseluler didefinisikan sebagai pertambahan ukuran yang mecakup pertambahan jumlah, volume dan bobot sel (Salisbury dan Ross, 1995 : 65). Berdasarkan teori tersebut, pertumbuhan dapat diukur dan bersifat kuantitatif. Akumulasi dari pertumbuhan sebagai akibat dari proses pertambahan jumlah sel dapat diukur melalui perubahan biomassa sesuai dengan perubahan waktu.

Hasil analisis deskriptif pada produktivitas Eucheuma cottonii dan

Eucheuma spinosum dengan indikator biomassa basah dan biomassa kering

menunjukan pola pertumbuhan yang hampir serupa. Pertumbuhan cenderung bergerak lambat di awal dan tidak terlihat perbedaan pertumbuhan yang mencolok antara bagian ujung talus dan bagian tengah talus. Berdasarkan hasil pengukuran pada minggu pertama terhadap rerata biomassa basah talus ujung terlihat bahwa Eucheuma cottonii menunjukan produktivitas yang tidak jauh berbeda dengan Eucheuma spinosum. Pada pemanenan pertama Eucheuma

cottonii memiliki berat basah 147 gram sedangkan Eucheuma spinosum 140

gram. Begitu pula pengamatan pada talus tengah pemanenan pertama diperoleh nilai 128 dan 132 gram biomassa basah untuk Eucheuma cottonii dan

Eucheuma spinosum. Hal ini karena pada tahap awal proses metabolisme

masih menyesuaikan dengan kondisi lingkungan untuk beralih dari fase dorman ke aktif. Selain itu, proses metabolisme lebih diarahkan pada proses restitusi (penyembuhan luka). Akumulasi substansi fenolik dan proteinaceus pada bagian sel-sel korteks dan medulla di lapisan sel di bawah luka untuk membentuk lapisan sel baru membutuhkan waktu beberapa hari (Harrison and

47 Lobban, 1994 : 66). Oleh karena itu, proses metabolisme untuk membentuk sel-sel apikal baru menjadi berkurang. Hal ini berlaku baik pada perlakuan dengan bagian ujung talus maupun bagian tengah talus.

Produktivitas pada dasarnya ditentukan oleh faktor-faktor tertentu, baik faktor internal sel maupun faktor eksternal, Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan terkait dengan sifat genetik suatu organisme dan menjadi penentu pola pertumbuhan yang utama (Salisbury dan Ross, 1995 : 66). Setiap organisme multiseluler memiliki pola produktivitas yang berbeda-beda. Hal ini ditentukan oleh letak titik tumbuh pada organisme tersebut. Begitu pula dengan Alga. Pada genus Eucheuma pola produktivitas bersifat multiaksial, dimana setiap percabangan memiliki titik tumbuh sendiri-sendiri. Keberadaan titik tumbuh ini pada dasarnya dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan terutama auksin yang dihasilkan pada ujung tunas (Harrison and Lobban, 1994 : 63).

Berdasarkan hasil analisis data produktivitas yang meliputi indikator biomassa basah dan biomassa kering pada Eucheuma cottoni menunjukan adanya perbedaan produktivitas bagian ujung dan tengah talus. Pada pengukuran biomassa basah perbedaan rata-rata adalah 56.2 gram dengan rentang 29.1 hingga 83.3 gram. Hasil serupa terlihat pada hasil pengukuran biomassa kering yang menunjukkan perbedaan rata-rata 3.81 gram. Secara keseluruhan data ini menunjukkan bahwa produktivitas bibit yang berasal dari ujung talus lebih baik dari pada bagian tengah talus.

Perbedaan produktivitas dari bibit yang berasal dari bagian ujung talus dan tengah talus dapat dijelaskan dari teori titik tumbuh. Menurut (Harrison

48 and Lobban, 1994 : 63) produktivitas Alga dipengaruhi oleh keberadaan substansi pertumbuhan, utamanya auksin yang berada di ujung tunas. Meskipun produktivitas Eucheuma bersifat multiaksial namun Eucheuma

cottonii memiliki jumlah tunas yang lebih banyak pada talus di bagian ujung,

dibandingkan bagian tengah talus. Oleh karena itu, adanya titik tumbuh yang relatif lebih banyak mempercepat laju pertumbuhan dibandingkan dengan pada bagian tengah talus yang pada dasarnya sebagian besar sel-sel telah terdiferensiasi menjadi sel dewasa.

Pertumbuhan Eucheuma spinosum, meskipun hasil analisis deskriptif menunjukan adanya perbedaan rata-rata produktivitas bagian ujung talus dengan bagian tengah talus. Perbedaan produktivitas bagian ujung talus dan bagian tengah talus pada Eucheuma spinosum dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan morfologi spesies tersebut. Titik tumbuh berada pada ujung talus sehingga cenderung tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan bagian tengah talus. Selain itu, perbedaan pertumbuhan yang tampak dari hasil analisis deskriptif dapat diakibatkan oleh perbedaan lama waktu yang diperlukan untuk membangun sel-sel baru pada daerah pemotongan, dimana pada ujung talus hanya terdapat satu titik pemotongan, sementara bagian tengah terdapat dua wilayah sayatan. Hal ini menyebabkan talus tengah membutuhkan waktu lebih banyak untuk memperbaiki sel-sel yang telah rusak dan membangun sel-sel baru.

Hasil analisis inferensial untuk melihat adanya perbedaan produktivitas antara Euchema cottonii dengan Euchema spinosum, baik pada bagian ujung talus maupun tengah talus. Berdasarkan analisis statistik

49 inferensial terlihat bahwa Ho selalu ditolak pada seluruh indikator yang digunakan yang meliputi biomassa basah dan biomassa kering. Hal ini menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan produktivitas antara kedua spesies tersebut.

Produktivitas Alga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti cahaya matahari, suhu perairan (Dawes, 1974: 79), gerakan air (Sulistijo, 2002: 67), kedalaman dan salinitas (Parerengi dkk, 2010: 28) serta faktor internal yang berasal dari alga sendiri. Namun, dalam penelitian ini faktor eksternal diasumsikan homogen pada seluruh perlakuan sehingga tidak mempengaruhi perbedaan produktivitas pada kedua spesies. Oleh karena itu, perbedaan produktivitas yang teramati dalam penelitian lebih mengacu pada faktor internal.

Faktor internal yang mempengaruhi produktivitas alga diantaranya adalah titik tumbuh yang menentukan penambahan sel-sel baru pada talus. Titik tumbuh ini umumnya berupa jaringan sel-sel muda yang selalu membelah dan berada pada bagian tunas (Sutrian, 2004: 11). Secara morfologi Euchema

cottonii memiliki sebaran mata tunas yang lebih banyak dibandingkan dengan Euchema spinosum. Hal ini menyebabkan perbedaan pertumbuhan sel-sel baru

pada kedua spesies ini yang berakibat pada perbedaan laju produktivitas keduanya karena setiap sel merupakan unit fungsional untuk menjalankan fungsi metabolism.

Faktor internal lain yang mempengaruhi produktivitas alga adalah kadar klorofil yang terkandung dalam sel yang berperan dalam menyerap cahaya matahari (Campbell, 2012: 154) dan luas permukaan talus yang

50 menentukan laju penyerapan nutrisi, daerah penerimaan sinar matahari dan penyerapan karbondioksida. Secara morfologi Eucheuma cottonii yang ditanam dalam penelitian ini memiliki warna yang lebih hijau dibandingkan dengan

Euchema spinosum yang cenderung berwarna kekuningan. Perbedaan warna

ini merupakan gambaran perbedaan kadar klorofil yang terkadung dalam sel. Warna yang lebih hijau pada Eucheuma cottonii menunjukkan kadar klorofil yang lebih tinggi dibandingkan dengan Eucheuma spinosum yang memiliki pigmen aksesoris lebih dominan.

Perbedaan kadar klorofil pada Eucheuma cottonii dan Eucheuma

spinosum berdampak pada efektifitas penyerapan cahaya untuk fotosintesis.

Hal ini juga didukung oleh kondisi morfologi Eucheuma cottonii yang memiliki ukuran talus dan memiliki luas permukaan lebih besar sehingga memiliki bidang penyerapan yang lebih besar pula. Oleh karena itu, Eucheuma

cottonii memiliki laju fotosintesis yang lebih besar daripada Eucheuma spinosum. Hal ini pada akhirnya menyebabkan perbedaan produktivitas pada

51 BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Bagian talus ujung dan talus tengah ada perbedaan produktivitas yang signifikan antara Eucheuma cottonii dengan Eucheuma spinosum.

2. Eucheuma spinosum memiliki produktivitas yang lebih tinggi dilihat dari

biomassa kering talus, baik pada ujung maupun talus tengah, dengan rerata 26.0 gram untuk Eucheuma cottonii dan 28.5 gram untuk Eucheuma

spinosum pada talus ujung, sementara pada talus tengah rerata produktivitas

adalah 22.2 gram untuk Eucheuma cottonii dan 26.4 untuk Eucheuma

spinosum.

B. Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan panjang talus alga, dengan menggunakan metode rakit apung dan biomassa bibit yang samadi perairan Desa Sombano Kaledupa Kabupaten Wakatobi.

52 DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, dan Liviawati, 1993. Budidaya Rumput Laut dan cara Pengolahannya. Bhratara. Jakarta.

Apriyana, D, 2006. Studi hubungan Karakteristik Habitat terhadap Kelayakan

pertumbuhan dan kandungan Karagenan Alga Eucheuma spinosum di

Perairan kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep.Tesis (tidak

dipublikasikan). Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Asjan, 2014.Pengaruh Berat Bibit Terhadap Pertumbuhan dan Kadar Keraginan

Rumput Laut Euchema spinosum yang dipelihara Menggunakan Metode

Kurungan Rakit Jaring Apung Diperairan Desa Tanjung

Tiram.Skripsi.Uviversitas Halu Oleo.Kendari.

Asmadin, 2009.Rumput Laut Indonesia Jenis Dan Upaya Pemanfaatannnya. Unhalu Press.Kendari.

Atmadja, W. S., A. Kadi., Sulistijo, dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-

Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi. LIPI. Jakarta.

Atmadja, W. S dan Sulistijo, 1977.Usaha pemanfaatan bibit Stek Alga Laut

Eucheuma Spinosum (L) J. Agradh di Pulau-pulau Seribu untuk

dibudidayakan.Dalam : Teluk Jakarta, Sumberdaya, Sifat-sifat Oseanologis serta permasalahannya. Editor : M. Hutomo, K. Romimohtarto dan Burhanuddin. LON-LIPI, Jakarta.

Atmadja, W. S. A.,Kadi., Sulistijo, dan Rachmaniar, 1996. Pengenalan Jenis-

Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi. LIPI. Jakarta.

Anggadireja, J.T, Zatnika A, Istini, S., 2006. Rumput Laut. Swadaya.Jakarta. Bhatt, J. J., 1978. Oceanography Exploring the Planet Ocean. D’von Nonstrand

Company. Toronto.

Campbell. N. A, dan Reece. J.B, 2012.Biologi. Edisi Kedelapan. Jilid 2.Erlangga. Jakarta.

Dawes, C. J., 1981. Marine Botany.John Wiley and Sons. University of South Florida. New York.

Dawes, C. J., J. W. LaClaire, and R. E. Moon, 1974.Culture Studies onEucheuma

nudum J. Agarth, carrageenan producing red alga from Florida.

Aquaculture.

53 Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006.Revitalisasi perikanan. Jakarta.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Sangihe. 2006. Wilayah Perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Doty, M. S., 1973. Eucheuma Farming for Carrageenan.Univ. Hawaii. Sea Grant Report.Unihi Seagrant.United States of Amerika.

Doty, M.S., dan E. P. Glenn, 1981. Aquatic Botany.Photosynthesis and

Respiration of the Tropical Red Seaweeds, Eucheuma striatum (Tambalang and Elkhorn Varieties) and E. denticulatum.Elseiver

Scientific Publishing Company. Amsterdam.

Effendy, H., 2003. Telaah Kualitas Air.Kanisisus.Yogyakarta.

Fritz, G. J. 1986. The Stucture and Reproduction of The Algae Volume 2. Vicas Publisher House

Iba., Dedy, P., dan Abdul R., 2013. Pengaruh Jarak Tanam dan Bobot Bibit Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Menggunakan Metode Vertikultur.Jurnal Minat Indonesia.Vol. 03 No. 12 Sep. 2013 (94-112).

Indriani, H., dan E, Sumiarsih, 1999. Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran

Rumput Laut (cetakan 7), Penebar Swadaya, Jakarta.

Kadi, Ahmad. (2004). Potensi Beberapa Rumput Laut Di Beberapa Perairan Pantai Indonesia.

Kamlasi, Y. 2008. Kajian Ekologis Dan Biologi Untuk Pengembangan Budidaya

Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Di Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang.Bogor : IPB

Kartasapoetra, A. G. 1989. Pembentukan Perusahan Industri. Jakarta: Pt Bina Aksara

Kordi, K. M. G. H., 2011. Kiat Sukses Budidaya Rumput Laut di Laut dan

Tambak.Yogyakarta: Penerbit ANDI

Kuhl, A. 1974. Phosphorus in : Stewart W. D. P. (ed). Algae Phisiology and

Biochemistry .

Legit, D., 2014.Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Kadar

Keraginan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Strain Coklat Menggunakan Bibit Hasil Kultur Jaringan dengan Metode Long Line.Skripsi.Uviversitas Halu Oleo.Kendari.

54 Lobban. C. S. and P. J. Harrison. 1994. Seaweed Ecology and Physology.

Cambridge University perss. Cambridge.

Mukti, E. D. W., 1987. Ekstraksi dan Analisa Sifat Fisika-Kimia Karaginan Dari

Rumput Laut jenis Eucheuma cattonii.Skripsi (tidak

dipublikasikan).Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi.Fakultas teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nursid.1988. Geografi Ekonomi Masyarakat Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara Nontji, A., 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Poncomulyo, T, dkk.2006. Budi Daya dan Pengolahan Rumput Laut.Jakarta Selatan.PT Agro Media Pustaka.

Parenrengi A. M, Madeali, N Rangka, 2010.Penyediaan benih dalam menunjang

pengembangan budidaya rumput laut. Workshop Rumput

Laut.Makassar.

Safilu, 2015. Pedoman Penulisan Proposal Penelitian dan Skripsi. Universitas Halu Oleo. Kendari.

Salisbury, F. B., dan Ross, W. C, 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3.Edisi keempat.ITB. Bandung.

Shadhori, S., 1995.Budidaya Rumput Laut. Balai Pustaka. Jakarta.

Soegiarto, A. W., Sulistijo., dan H., Mubarak, 1978. Rumput laut (Algae)

Manfaat.Potensi dan Usaha Budidayanya.Lembaga Oseanologi

Nasional.LIPI. Jakarta.

Soegiarto, A. W., Sulistijo., dan H. Mubarak. 1978. Rumput laut (Algae) Manfaat.

Potensi dan Usaha Budidayanya.Lembaga Oseanologi Nasional.LIPI.

Jakarta.

Sukirman, L., 2014. Pertumbuhan Thallus Baru pada Rumput Laut (Euchema

cottonii) dengan Metode Kurungan Jaring Apung Diperairan Pantai Lakeba Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggra. Skripsi.Uviversitas

Halu Oleo.Kendari.

Sulistijo, dan W. S., Atmadja, 1996.Perkembangan budidaya Rumput Laut di

Indonesia. Puslitbang Oseanografi LIPI. Jakarta.

Sulistijo, 2002.Penelitian Budidaya Rumput Laut (Algae Makro/Seaweed) di

Indonesia. Pidato Pengukuhan Ahli Penelitian Utama Bidang

Akuakultur, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

55

Supit, S. D., 1989. Karakteristik Pertumbuhan dan kandungan Caragenan

Rumput Laut (Eucheuma cattonii) yang berwarna Abu-abu Cokelat dan Hijau yang Ditanam di Goba lambungan Pasir Pulau Pari. Karya Ilmiah

(tidak dipublikasikan). Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutrian, Y. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuhan-Tumbuhan Tentang Jaringan Sel

Dan Jaringan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Syahputra, Y., 2005. Pertumbuhan dan kandungan karaginan Budidaya Rumput

Laut Eucheuma cattonii pada Kondisi Lingkungan yang Berbeda dan Perlauan Jarak Tanam di Teluk Lhok Seudu.Tesis (tidak di

publikasikan). Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tim PS., 2003.Rumput Laut. Swadaya. Jakarta.

Winarno, F. G. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar harapan. Jakarta.

Yusuf, M.I., 2004. Produksi, Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput

Laut Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty (1998) yang Dibudidayakan Dengan Sistem Air Media dan Tallus Benih Yang Berbeda. (Disertasi)

Program Pasca Sarjana Universitas Hasanudin, Makassar.

Zatnika, A., dan W. I., Angkasa, 1994.Teknologi Budidaya Rumput Laut. Makalah pada seminar Pekan Akuakultur V.TimRumput Laut BPPT. Jakarta. Zatnika, A., dan W. I., Angkasa, 1994.Teknologi Budidaya Rumput Laut. Makalah

56

Lampiran 1. Data Mentah Hasil Penelitian

Pengaruh Asal Talus Terhadap Produktivitas Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum Di Perairan Desa Sombano Kaledupa Kabupaten Wakatobi

No. Panen ke-

Eucheuma cottonii Eucheuma spinosum

Basah Kering Basah Kering

Ujung Tengah Ujung tengah Ujung Tengah Ujung Tengah

Bobot/Gram Bobot/Gram Bobot/Gram Bobot/gram Bobot/Gram Bobot/Gram Bobot/Gram Bobot/gram

1. Pemasangan 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 100 100 0 0 2. 1 140 120 11.64 10.51 130 120 17 17.13 150 120 12.39 10.69 140 130 23.91 18.88 145 130 13.23 11.65 150 140 20.92 19.17 150 140 14.23 13.07 150 140 19.82 19.74 150 130 13.66 13.01 130 130 16.34 17.03 3. 2 220 210 15.24 15.45 175 160 22.02 20.93 220 200 16.02 16.38 180 170 23 21.11 220 180 16.71 13.58 180 170 22.04 20.51 215 210 16.46 18.48 170 165 21.31 19.35 210 200 14.01 14.74 200 160 23.29 18.96 4. 3 260 250 23.67 23.79 210 190 25.29 23.95 320 210 35.38 16.35 230 190 29.92 24.17

57 300 210 30.51 23.16 215 220 26.34 27.99 300 250 28.56 27.22 240 215 30.39 26.19 285 200 26.87 22.29 215 230 27.17 28.68 5. 4 340 330 28.76 30.21 170 220 27.37 31.53 360 210 27.92 19.02 320 250 42.24 36.65 390 230 32.78 19.45 290 270 38.78 42 390 330 31.13 30.51 270 230 33.93 23.35 360 280 26.22 24.06 250 220 35.67 29.14 6. 5 440 440 38.26 33.86 280 270 37.91 44.38 530 470 45.99 38.57 280 290 39.75 29.49 470 380 37.44 39.07 270 265 34.06 36.11 500 430 47.07 37.46 275 240 34.04 32.59 530 330 44.01 30.36 260 250 39.44 30.34

No. Panen ke-

faktor-faktor lingkungan Suhu (0C) Salinitas (ppt) pH Kedalaman (cm) Kec. Arus (m/s) 1. Penanaman 29 35% 7 107 1-32 2. 1 28 37 8 157 - 3. 2 27 37 7 130 - 4. 3 27 38 7 120 - 5. 4 28 38 8 150 1-27 6. 5 30 34 7 260 1-40

58

59

63

Lampiran 4. Lokasi Penelitian Rumput Laut Eucheuma cottonii dan Eucheuma Spinosum U U S Keterangan : : Stasiun Penelitian : Desa Sombano

Dokumen terkait