• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Data Pre-Test Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share Dan Model Pembelejaran Problem Based Learning Terhadap

HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data

1. Deskripsi Data Pre-Test Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share Dan Model Pembelejaran Problem Based Learning Terhadap

Kemampuan Berfikir Kritis Dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

Deskripsi masing-masing kelompok dapat diuraikan berdasarkan hasil analisis statistik tendensi sentral seperti terlihat pada rangkuman nilai pretes sebagai berikut :

a. Data Pre-test Kemampuan Berfikir Kritis pada Kelas eksperimen I (A1B1)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pre-test kemampuan berfikir kritis kelas eksperimen I, data distribusi frekuensi dapat diuraikan sebagai berikut: nilai rata-rata hitung (X) sebesar 29,56; Variansi = 115,34; Standar Deviasi (SD) = 10,40; Nilai maksimum = 55; nilai minimum = 10 dengan rentangan nilai (Range) = 45.

Tabel 4.1 Data Pre-test Kemampuan berfikir kritis pada Kelas eksperimen I (A1B1)

Dari tabel di atas Data Kemampuan Berpikir Kritis dengan model Pembelajaran Think Pair Share (A1B1) diperoleh bahwa terdapat perbedaan nilai masing-masing siswa, yakni terdapat siswa yang memiliki nilai yang tinggi, siswa yang memiliki nilai yang cukup dan siswa yang memiliki nilai yang rendah. Jumlah siswa pada interval nilai 9,5-17,5 adalah 5 orang siswa atau sebesar 20%. Jumlah siswa pada interval nilai 17,5-25,5 adalah 2 orang siswa atau sebesar 8%. Jumlah siswa pada interval nilai 25,5-33,5adalah 11 orang siswa atau sebesar 44%. Jumlah siswa pada interval nilai 33,5-41,5 adalah 4 orang siswa atau sebesar 16 %. Jumlah siswa pada interval nilai 41,5-49,5 adalah 2 orang siswa atau sebesar 8 %. Jumlah siswa pada interval nilai 49,5-57,5 adalah 1 orang siswa atau sebesar 4 %. Dari tabel di atas juga dapat diketahui bahwa 4 butir soal tes kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang telah diberikan kepada 25 siswa pada kelas eksperimen I maka diperoleh nilai siswa yang terbanyak adalah pada interval nilai 25,5-33,5 adalah 11 orang siswa atau sebesar 44%.

Berdasarkan nilai tersebut, dapat dibentuk histogram data kelompok sebagai berikut : Kelas Interval F Fr 1 9,5-17,5 5 20% 2 17,5-25,5 2 8% 3 25,5-33,5 11 44% 4 33,5-41,5 4 16% 5 41,5-49,5 2 8% 6 49,5-57,5 1 4% Jumlah 25 100%

Gambar 4.1 Histogram Data Pre-test Kemampuan Berfikir Kritis Matematika pada Kelas Eksperimen I (A1B1)

Selanjutnya kategori penilaian data kemampuan berfikir kritis matematika dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Tabel 4.2 Kategori Pre-test Penilaian Kemampuan berfikir kritis pada Kelas eksperimen I (A1B1)

No Interval Nilai Jumlah

Siswa Persentase Kategori Penilaian 1 0 ≤ SKBK < 45 22 88% Sangat Kurang 2 45 ≤ SKBK < 65 3 12% Kurang 3 65 ≤ SKBK < 75 0 0% Cukup 4 75 ≤ SKBK < 90 0 0% Baik 5 90 ≤ SKBK ≤ 100 0 0% Sangat Baik

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan berfikir kritis matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran TPS di atas diketahui bahwa terdapat 5 siswa yang memperoleh nilai 9,5 – 17,5 yaitu 1 orang memperoleh nilai 10, 1 orang memperoleh nilai 12, 1 orang memperoleh nilai 15, dan 2 orang memperoleh nilai 17. Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya namun kurang sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan

0 2 4 6 8 10 12 9,5-17,5 17,5-25,5 25,5-33,5 33,5-41,5 41,5-49,5 49,5-57,5

sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan berfikir kritis matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 2 siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 17,5 – 25,5 yaitu 2 orang yang memperoleh nilai 25, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya namun kurang sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan berfikir kritis matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 11 siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 25,5 – 33,5 yaitu 4 orang memperoleh nilai 27 dan 7 orang memperoleh nilai 30. Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya namun kurang sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 4 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 33,5 – 41,5 yaitu 1 orang memperoleh nilai 35 dan 3 orang memperoleh nilai 40, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 2 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang 41,5 – 49,5 yaitu 2 orang memperoleh nilai 45. Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 1 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang 49,5 – 57,5 yaitu memperoleh 55, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika

tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Dilihat dari lembar jawaban siswa, maka terlihat bahwa secara umum siswa telah mampu memahami soal yang diberikan. Berdasarkan teori Fascione, bahwa siswa yang memiliki kemampuan berfkiri kritis matematis dapat dilihat dari Siswa dapat memahami masalah yang ditunjukkan dengan menulis yang diketahui maupun yang ditanyakan soal dengan tepat (menginterpretasi), siswa dapat mengidentifikasi hubungan-hubungan antara pertanyaan, pernyatan-pernyataan dan konsep-konsep yang diberikan dalam soal yang ditunjukkan dengan membuat model matematika dengan tepat (menganalisis), siswa membuat strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal, lengkap dan benar dalam melakukan perhitungan (mengevaluasi), dan juga siswa dapat membuat kesimpulan dengan tepat sesuai dengan yang diharapkan (menginferensi). Meskipun siswa belum menjawab soal dengan benar, Kebanyakan dari siswa masih menyelesaikan soal tanpa mengubahnya ke dalam model matematika atau memisalkan dengan variabel terlebih dahulu. Selain itu, siswa cenderung tidak menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya sesuai permintaan soal, tidak menuliskan rumus sesuai permintaan soal dan juga siswa cenderung mempersingkat prosedur penyelesaian soal kubus dan balok. Pada akhir setiap jawaban siswa yag masih tidak menuliskan kembali kesimpulan jawaban penyelesaian.

b. Data Pre-test Kemampuan berfikir kritis pada Kelas Eksperimen II (A2B1)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pre-test kemampuan berfikir kritis kelas eksperimen II, data distribusi frekuensi dapat diuraikan sebagai berikut: nilai rata-rata hitung (X) sebesar 29,84; Variansi = 72,98; Standar Deviasi (SD) = 8,54; Nilai maksimum = 55; nilai minimum = 10 dengan rentangan nilai (Range) = 45.

Secara kuantitatif dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.3 Data Pre-Test Kemampuan berfikir kritis Pada Kelas Eksperimen II (A2B1)

Kelas Interval Kelas F F0

1 9,5-17,5 1 4% 2 17,5-25,5 9 36% 3 25,5-33,5 7 28% 4 33,5-41,5 7 28% 5 41,5-49,5 0 0% 6 49,5-57,5 1 4% Jumlah 25 100%

Dari tabel di atas Data Kemampuan Berpikir Kritis dengan model Pembelajaran Problem Based Learning (A2B1) diperoleh bahwa terdapat perbedaan nilai masing-masing siswa, yakni terdapat siswa yang memiliki nilai yang tinggi, siswa yang memiliki nilai yang cukup dan siswa yang memiliki nilai yang rendah. Jumlah siswa pada interval nilai 9,5-17,5 adalah 1 orang siswa atau sebesar 4%. Jumlah siswa pada interval nilai 17,5-25,5 adalah 9 orang siswa atau sebesar 36%. Jumlah siswa pada interval nilai 25,5-33,5adalah 7 orang siswa atau sebesar 28%. Jumlah siswa pada interval nilai 33,5-41,5 adalah 7 orang siswa atau sebesar 28 %. Jumlah siswa pada interval nilai 41,5-49,5 adalah 0 orang siswa atau sebesar 0%. Jumlah siswa pada interval nilai 49,5-57,5 adalah 1 orang siswa

atau sebesar 4 %. Dari tabel di atas juga dapat diketahui bahwa 4 butir soal tes kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang telah diberikan kepada 25 siswa pada kelas eksperimen II maka diperoleh nilai siswa yang terbanyak adalah pada interval nilai 17,5-25,5 adalah 9 orang siswa atau sebesar 36%.

Berdasarkan nilai tersebut, dapat dibentuk histogram data kelompok sebagai berikut :

Gambar 4.2 Histogram Data Pre-Test Kemampuan berfikir kritis Pada Kelas Eksperimen II (A2B1)

Selanjutnya kategori penilaian data kemampuan berfikir kritis matematika kelas eksperimen II dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Tabel 4.4 Kategori Pre-test Penilaian Kemampuan berfikir kritis pada Kelas Eksperimen II (A2B1)

No Interval Nilai Jumlah Siswa Persentase Kategori Penilaian 1 0 ≤ SKBK < 45 24 96% Sangat Kurang 2 45 ≤ SKBK < 65 1 4% Kurang 3 65 ≤ SKBK < 75 0 0% Cukup 4 75 ≤ SKBK < 90 0 0% Baik 5 90 ≤ SKBK ≤ 100 0 0% Sangat Baik

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan berfikir kritis matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran PBL di atas diketahui bahwa terdapat 1

0 2 4 6 8 10 9,5-17,5 17,5-25,5 25,5-33,5 33,5-41,5 41,5-49,5 49,5-57,5

siswa yang memperoleh nilai 9,5 – 17,5 yaitu orang memperoleh nilai 10, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya namun kurang sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan berfikir kritis matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 9 siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 17,5 – 25,5 yaitu 2 orang yang memperoleh nilai 22 dan 7 orang memperoleh nilai 25, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya namun kurang sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan berfikir kritis matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 7 siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 25,5 – 33,5 yaitu 3 orang memperoleh nilai 27 dan 4 orang memperoleh nilai 30. Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya namun kurang sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal

tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 7 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 33,5 – 41,5 yaitu 2 orang memperoleh nilai 35, 3 orang memiliki nilai 37, 2 orang memperoleh nilai 40, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 1 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang 49,5 – 57,5 yaitu memperoleh 55, Siswa tersebut menuliskan unsur diketahui dan ditanya sesuai dengan permintaan soal, membuat model matematika tetapi kurang sesuai dengan permintaan soal, tidak menggunakan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal tetapi tidak lengkap, dan tidak membuat kesimpulan sesuai dengan konteks soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I memiliki kategori yang kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan berfikir kritis matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Dilihat dari lembar jawaban siswa, maka terlihat bahwa secara umum siswa telah mampu memahami soal yang diberikan. Berdasarkan teori Fascione, bahwa siswa yang memiliki kemampuan berfkiri kritis matematis dapat dilihat dari Siswa dapat memahami masalah yang ditunjukkan dengan menulis yang diketahui maupun yang ditanyakan soal dengan tepat (menginterpretasi), siswa dapat mengidentifikasi hubungan-hubungan antara pertanyaan, pernyatan-pernyataan dan konsep-konsep yang diberikan dalam soal yang ditunjukkan dengan membuat model matematika dengan tepat (menganalisis), siswa membuat strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal, lengkap dan benar dalam melakukan perhitungan (mengevaluasi), dan juga siswa dapat membuat kesimpulan dengan tepat sesuai dengan yang diharapkan (menginferensi). Meskipun siswa belum menjawab soal dengan benar, Kebanyakan dari siswa masih menyelesaikan soal tanpa mengubahnya ke dalam model matematika atau memisalkan dengan variabel terlebih dahulu. Selain itu, siswa cenderung tidak menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya sesuai permintaan soal, tidak menuliskan rumus sesuai permintaan soal dan juga siswa cenderung mempersingkat prosedur penyelesaian soal kubus dan balok. Pada akhir setiap jawaban siswa yag masih tidak menuliskan kembali kesimpulan jawaban penyelesaian.

c. Data Pre-Test Kemampuan pemecahan masalah Pada Kelas eksperimen I (A1B2)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pre-test kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen I, data distribusi frekuensi dapat diuraikan sebagai berikut: nilai rata-rata hitung (X) sebesar 28,8; Variansi = 73,5; Standar

Deviasi (SD) = 8,57; Nilai maksimum = 50; nilai minimum = 17 dengan rentangan nilai (Range) = 33.

Secara kuantitatif dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.5 Data Pre-Test Kemampuan pemecahan masalah Pada Kelas eksperimen I (A1B2) Kelas Interval F Fr 1 16,5-22,5 7 28 2 22,5-28,5 6 24 3 28,5-34,5 6 24 4 34,5-40,5 4 16 5 40,5-46,5 1 4 6 46,5-52,5 1 4 Jumlah 25 100

Dari tabel di atas Data Kemampuan pemecahan masalah dengan model Pembelajaran Think Pair Share (A1B2) diperoleh bahwa terdapat perbedaan nilai masing-masing siswa, yakni terdapat siswa yang memiliki nilai yang tinggi, siswa yang memiliki nilai yang cukup dan siswa yang memiliki nilai yang rendah. Jumlah siswa pada interval nilai 16,5-22,5 adalah 7 orang siswa atau sebesar 28%. Jumlah siswa pada interval nilai 22,5-28,5 adalah 6 orang siswa atau sebesar 24%. Jumlah siswa pada interval nilai 28,5-34,5 adalah 6 orang siswa atau sebesar 24%. Jumlah siswa pada interval nilai 34,5-40,5 adalah 4 orang siswa atau sebesar 16 %. Jumlah siswa pada interval nilai 40,5-46,5 adalah 1 orang siswa atau sebesar 4%. Jumlah siswa pada interval nilai 46,5-52,5 adalah 1 orang siswa atau sebesar 4 %. Dari tabel di atas juga dapat diketahui bahwa 4 butir soal tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang telah diberikan kepada 25 siswa pada kelas eksperimen II maka diperoleh nilai siswa yang terbanyak adalah pada interval nilai 16,5-22,5 adalah 7 orang siswa atau sebesar 28%.

Berdasarkan nilai tersebut, dapat dibentuk histogram data kelompok sebagai berikut :

Gambar 4.3 Histogram Data Pre-Test Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Pada Kelas Eksperimen I (A1B2)

Selanjutnya kategori penilaian data kemampuan pemecahan masalah matematika dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Tabel 4.6 Kategori Pre-test Penilaian Kemampuan pemecahan Masalah Siswa pada Kelas Eksperimen I (A1B2)

No Interval Nilai Jumlah

Siswa Persentase Kategori Penilaian 1 0 ≤ SKBK < 45 23 92% Sangat Kurang 2 45 ≤ SKBK < 65 2 8% Kurang 3 65 ≤ SKBK < 75 0 0% Cukup 4 75 ≤ SKBK < 90 0 0% Baik 5 90 ≤ SKBK ≤ 100 0 0% Sangat Baik

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran TPS di atas diketahui bahwa terdapat 7 siswa yang memperoleh nilai 16,5 – 22,5 yaitu 3 orang memperoleh nilai 17, 1 orang memperoleh nilai 20, dan 3 orang memperoleh nilai 22. Siswa menuliskan diketahui dan ditanyakan soal dengan benar tetapi belum lengkap, menuliskan rumus penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai permintaan soal, tidak

0 1 2 3 4 5 6 7 8 16,5-22,5 22,5-28,5 28,5-34,5 34,5-40,5 40,5-46,5 46,5-52,5

dapat menyelesaikan soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I ini memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan pemecahan masalah matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 6 siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 22,5 – 28,5 yaitu 4 orang yang memperoleh nilai 25 dan 2 orang memperoleh nilai 27. Siswa menuliskan diketahui dan ditanyakan soal dengan benar tetapi belum lengkap, menuliskan rumus penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai permintaan soal, tidak dapat menyelesaikan soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I ini memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan pemecahan masalah matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 6 siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 28,5 – 34,5 yaitu 4 orang memperoleh nilai 30 dan 2 orang memperoleh nilai 32. Siswa menuliskan diketahui dan ditanyakan soal dengan benar, menuliskan rumus penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai permintaan soal, tidak dapat menyelesaikan soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I ini memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan pemecahan masalah matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 4 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 34,5 – 40,5 yaitu 2 orang memperoleh nilai 35, 2 orang yang memperoleh nilai 40, Siswa menuliskan diketahui dan ditanyakan soal dengan benar, menuliskan rumus penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai permintaan soal, tidak dapat menyelesaikan soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I ini memiliki kategori yang sangat kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan pemecahan masalah matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 1 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang 40,5 – 46,5 yaitu memperoleh nilai 45. Siswa menuliskan diketahui dan ditanyakan soal dengan benar, menuliskan rumus penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai permintaan soal, tidak dapat menyelesaikan soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I ini memiliki kategori yang kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan pemecahan masalah matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Berdasarkan tabel distribusi data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di atas diketahui bahwa terdapat 1 orang siswa yang memperoleh nilai pada rentang 46,5 – 52,5 yaitu memperoleh nilai 50, Siswa menuliskan diketahui dan ditanyakan soal dengan benar, menuliskan rumus penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai permintaan soal, tidak dapat menyelesaikan soal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas eksperimen I ini memiliki kategori yang

kurang untuk mengerjakan soal-soal dari kemampuan pemecahan masalah matematis yaitu pada materi kubus dan balok.

Dilihat dari lembar jawaban siswa, maka terlihat bahwa secara umum siswa telah mampu memahami soal yang diberikan. Berdasarkan teori Polya, bahwa siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis dapat dilihat dari kemampuannya dalam memahami masalah (menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya), merencanakan penyelesaian (rumus), melaksanakan rencana sesuai dengan prosedur penyelesaiannya dan memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaiannya. Meskipun siswa menjawab soal dengan benar, namun ada beberapa siswa mengalami kesulitan dalam mengubah informasi berbentuk uraian yang tertera di soal ke dalam bahasa matematika.Kebanyakan dari siswa masih menyelesaikan soal tanpa mengubahnya ke dalam model matematika atau memisalkan dengan variabel terlebih dahulu.Selain itu, siswa cenderung tidak menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya sesuai permintaan soal, tidak menuliskan rumus sesuai permintaan soal dan juga siswa cenderung tidak menyelesaikan soal kubus dan balok. Pada akhir setiap jawaban siswa yang masih tidak menuliskan kembali kesimpulan jawaban penyelesaian.

d. Data Pre-Test Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Pada Kelas Eksperimen II (A2B2)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pre-test kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen II, data distribusi frekuensi dapat diuraikan sebagai berikut: nilai rata-rata hitung (X) sebesar 34,76; Variansi = 95,69; Standar Deviasi (SD) = 9,78; Nilai maksimum = 72; nilai minimum = 20 dengan rentangan nilai (Range) = 52.

Secara kuantitatif dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.7 Data Pre-Test Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Pada Kelas Eksperimen II (A2B2)

Dari tabel di atas Data Kemampuan pemecahan masalah dengan model Pembelajaran Problem Based Learning (A2B2) diperoleh bahwa terdapat perbedaan nilai masing-masing siswa, yakni terdapat siswa yang memiliki nilai yang tinggi, siswa yang memiliki nilai yang cukup dan siswa yang memiliki nilai yang rendah. Jumlah siswa pada interval nilai 19,5-28,5 adalah 6 orang siswa atau