PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
A. DESKRIPSI SINGKAT
Prasarana dan sarana sering disebut infrastruktur yang artinya sebagai fasilitas fisik suatu kota atau negara, sering juga disebut pekerjaan umum. Infrastruktur fisik, baik yang digunakan dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat, meliputi semua prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi, perhubungan, irigasi, air bersih dan sanitasi serta pembuangan limbah.
Prasarana dan sarana merupakan bangunan dasar yang sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan manusia yang hidup bersama-sama dalam suatu ruang yang berbatas, agar manusia dapat bermukim dengan nyaman dan dapat bergerak dengan mudah dalam segala waktu dan cuaca, sehingga dapat hidup dengan sehat dan dapat berinteraksi satu dengan lainnya dalam mempertahankan kehidupannya (Departemen Kimpraswil).
Secara lebih lugas dapat dikatakan bahwa Infrastruktur (perkotaan) adalah bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya suatu sistem tatanan kehidupan sosial – ekonomi masyarakat. Infrastruktur merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
Sebagai suatu sistem, komponen infrastruktur pada dasarnya sangat luas dan banyak, namun secara umum terdiri dari 12 komponen sesuai dengan sifat dan karakternya, yaitu :
1. Sistem air bersih, termasuk bendungan, waduk, transmisi, instalasi pengolah air dan fasilitas distribusinya
2. Sistem manajemen air limbah termasuk pengumpulan, pengolah, pembuang, dan sistem pakai ulang
3. Fasilitas manajemen limbah padat atau persampahan
4. Fasilitas transportasi termasuk jalan raya, rel kereta api, dan lapangan terbang;
5. Sistem transit publik
6. Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusinya 7. Fasilitas gas alam
8. Fasilitas drainase/pengendalian banjir
9. Bangunan umum, seperti pasar, sekolahan, rumah sakit, kantor polisi, dan fasilitas pemadam kebakaran
10. Fasilitas perumahan
11. Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi dan stadion
Pembangunan infrastruktur merupakan bagian integral dari pembangunan suatu wilayah, baik di tingkat kota maupun propinsi. Pembangunan infrastruktur transportasi/perhubungan pedesaan untuk mendukung peningkatan aksesibilitas masyarakat desa seperti : jalan, jembatan perdesaan, titian dan tambatan.
Pembangunan infrastruktur yang mendukung produksi pertanian adalah irigasi pedesaan, dan pembangunan infrastruktur yang mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, meliputi : penyediaan air minum, dan sanitasi pedesaan.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim Untuk Infrastruktur, peserta diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan manfaat informasi cuaca dan iklim kepada masyarakat di sekitarnya khususnya bagi kegiatan pembangunan infrastruktur.
2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim Untuk Infrastruktur, peserta diharapkan dapat;
a Mengetahui dan memahami Informasi Cuaca dan Iklim bagi kegiatan pembangunan infrastruktur
b Memanfaatkan Informasi Cuaca dan Iklim untuk mengelola berbagai kegiatan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur
c Mengidentifikasi Informasi Cuaca dan Iklim yang relevan bagi pengambilan keputusan/kebijakan di bidang infrastruktur.
C. METODE
Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan praktek/simulasi serta evaluasi.
D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN
Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam pembelajaran ini, meliputi :
1. Infrastruktur a Pembangunan b Pemeliharaan
2. Data cuaca yang digunakan dalam pembangunan infrastruktur E. MEDIA
1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board dan kertas Flipchart 3. Spidol Warna
4. Mistar
5. Pensil / Ballpoin
Modul 10: PEMANFAATAN INFORMASI IKLIM UNTUK LINGKUNGAN DAN KESEHATAN
A. DESKRIPSI SINGKAT
Lingkungan dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berkaitan, lingkungan yang sehat mendorong terciptanya tingkat kesehatan yang tinggi. Untuk menciptakan kesehatan masyarakat perlu diciptakan lingkungan yang sehat pula.
Lingkungan tempat kita tinggal juga sangat dipengaruhi oleh cuaca dan iklim, demikian juga secara tidak langsung kesehatan juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim.
Perubahan iklim berdampak langsung pada naiknya suhu udara dan curah hujan, tak langsung pada berkurangnya air dan berubahnya eco-system. Dampak variasi ekstrim juga menekan keberlanjutan keanekaragaman hayati dan memperlemah ketahanan eko-sistem. Perubahan iklim sangat mempengaruhi pola distribusi pest.
Berkurangnya gelombang dingin menumbuhkan pest dan vector penyakit. Suhu naik merangsang populasi bakteri penyakit dan perpindahan virus yang semula dihambat oleh suhu yang rendah. Perubahan suhu ekstrim mendorong angin tumbuh menjadi hurricanes yang merusak tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan. (Emil Salim, 2007).
Informasi cuaca dan iklim sangat diperlukan untuk pengendalian lingkungan dan kesehatan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Wilayah perkotaan yang cenderung padat penduduknya, penataan lingkungan kota yang belum baik dan rendahnya taraf hidup masyarakat, sering mengabaikan faktor lingkungan yang kurang sehat. Sehingga daerah-daerah yang rentan terhadap banjir, kekeringan menjadi daerah penyebaran vektor penyakit (vector-borne diseases) yang dipicu oleh faktor cuaca/iklim.
Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit perlu dikenali kondisi iklim di lingkungannya. Sebagai contoh, penyebaran nyamuk Aides Aigepty, penyebab demam berdarah dengue (DBD), di suatu tempat terjadi pada bulan-bulan Paberuari – Maret, yaitu pada akhir musim hujan dan menjelang musim kemarau. Pada saat itu hujan terjadi sesekali sehingga menyebabkan genangan. Namun sebaliknya, di tempat lain DBD terjadi pada bulan yang berbeda.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mempunyai jaringan pengamatan cuaca yang digunakan untuk memberikan informasi iklim dalam jangka panjang. Namun jaringan pengamatan ini belum meliput pada daerah yang lebih kecil. Untuk itu diperlukan kerjasama dengan instansi lain (Pemerintah Daerah) dalam melakukan pengamatan cuaca dan iklim, sehingga akan memperoleh informasi iklim yang lebih detail.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim untuk pengendalian lingkungan dan kesehatan, peserta diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan manfaat informasi cuaca dan iklim kepada
masyarakat di sekitarnya khususnya bagi kegiatan pengendalian lingkungan dan kesehatan.
2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim untuk Pengendalian lingkungan dan Kesehatan, peserta diharapkan dapat;
a. Mengetahui dan memahami informasi cuaca dan iklim bagi kegiatan pengendalian lingkungan dan kesehatan;
b. Memanfaatkan informasi cuaca dan cklim untuk mengelola berbagai kegiatan pengendalian lingkungan dan kesehatan;
c. Mengidentifikasi informasi cuaca dan iklim yang relevan bagi pengambilan keputusan/kebijakan di pengendalian lingkungan dan kesehatan.
C. METODE
Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan praktek/ simulasi serta evaluasi.
D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN
Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam pembelajaran ini, meliputi :
1. Hubungan lingkungan, kesehatan dan cuaca/iklim
2. Pengendalian lingkungan dan antisipasi kesehatan mengacu pada informasi cuaca dan iklim.
a. Identifikasi pengaruh cuaca dan iklim terhadap lingkungan dan kesehatan, b. Kebijakan yang mempertimbangkan faktor cuaca dan iklim,
3. Informasi yang digunakan dalam pengendalian lingkungan dan kesehatan E. MEDIA
1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board dan kertas Flipchart 3. Spidol Warna
4. Mistar
5. Pensil / Ballpoin