BAB IV ANALISIS DATA
MODEL KOMUNIKASI PASANGAN NIKAH USIA DIN
A. Deskripsi Subyek Penelitian 1 Profil Tempat Penelitian
a. Letak dan luas
Desa Morombuh merupakan salah satu desa yang ada di pulau Madura, desa ini terletak di kecamatan Kwanyar kabupaten Bangkalan. Secara geografis kabupaten Bangkalan terletak pada 7°0′LU 113°20′BT / 7°LS 113,333°BT, memiliki jumlah 127 pulau dengan luas 5,168 km².
Luas wilayah 1.144, 75 km² terbagi dalam 8 wilayah kecamatan, dengan luas area 1,260 dan populasi kurang lebih 907, 255 penduduk. Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980- an.
Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburban bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan
Surabaya. Jembatan Suramadu yang sudah beroperasi sejak 10 Juni 2009,
diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.1 Desa Morombuh ini dipimpin oleh seorang kepala desa (Kades) atau yang
juga lazim disebut oleh orang Madura sebagai Bapak Kalebun. Bapak
Kalebunlah yang menangani segala pemerintahan yang ada di desa Morombuh tersebut.
b. Demografi
Wilayah Madura memiliki angka demografi yang cukup tinggi dengan populasi 3.647.000 dan kepadatan 706/km².2 dari data statistik yang diperoleh oleh penulis ketika melakukakn penelitian, maka jumlah keseluruhan penduduk desa Morombuh kecamatan Kwanyar kabupaten Bangkalan berjumlah kurang lebih 2500 jiwa, yang terdiri dari 1.025 kepala keluarga.3
Dengan demikian data statistik yang ada di desa Morombuh tersebut merupakan data yang bersifat relatif, yang masih bisa berubah-ubah, yang hingga saat ini memungkinkan akan terjadinya suatu perubahan.
c. Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan faktor utama dalam suatu masyarakat untuk menciptakan tatanan sosial yang lebih mapan. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang ada dalam masyarakat tersebut maka akan semakin tinggi dan semakin dinamislah mobilitas masyarakat, sosial masyarakat tersebut.
Dari data yang didapatkan, jumlah penduduk yang ada di desa Morombuh tersebut sedikit sekali yang mencapai pada taraf pendidikan yang setingkat dengan sekolah menengah atas. Apalagi yang sampai pada lulusan perguruan tinggi, maka dari jumlah penduduk yang ada di desa Morombuh mayoritas tingkat pendidikannya hanya berakhir pada tingkat SLTP saja, dan bahkan
2
Ibid
3
tingkat sekolah dasar (SD) yang menduduki jumlah terbanyak dalam tingkat kelulusannya.
Akan tetapi walaupun tingkat pendidikan masyarakat Morombuh mayoritas hanya berhenti di tingkat sekolah dasar saja, namun masyarakat desa Morombuh mayoritas masyarakatnya sudah mengenyam pendidikan non formal, seperti pendidikan yang ditempuh di pondok pesantren, Langgar (Musholla) dan lain sebagainya.
Namun dengan berjalannya roda kehidupan yang terus berkembang dari tahun ke tahun, sedikit banyak merubah pola pikir masyarakat desa Morombuh bahwa betapa pentingnya pendidikan. Kini masyarakat Morombuh dapat melanjutkan pendidikannya sampai tingkat sekolah menengah atas (SMA). Namun tak banyak pula yang sampai ke tingkat perguruan tinggi.
Hal ini dikarenakan mereka lebih senang mencari kerja, baik mencari kerja dikawasan Madura sendiri dan bahkan banyak sekali yang merantau ke pulau, bahkan negara-negara yang lain. Di samping itu juga pengaruh biaya pendidikan yang dominan yang cenderung bersifat mahal.Lebih-lebih biaya pendidikan yang tingkatannya lebih tinggi, sehingga masyarakat tersebut enggan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.4
d. Perekonomian
Tinggi rendahnya kesejahteraan dalam suatu masyarakat dapat diukur oleh laju pertumbuhan ekonominya, apabila semakin tinggi tingkat pendapatan perekonomian dalam suatu masyarakat maka akan mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi juga dalam kehidupan masyarakat setempat, begitu juga sebaliknya. Apabila tingkat pendapatan perekonomian dalam masyarakat semakin rendah maka kedudukan di mata masyarakat semakin rendah juga.
Dari data yang dihimpun oleh penulis dalam penelitian di lapangan tingkat perekonomian masyarakat desa Morombuh bisa dikatakan cukup bervariatif, yaitu ada yang berprofesi sebagai pegawai swasta, guru, buruh tani, kuli kapur, kuli bangunan, naum penghasilan yang diperoleh dari pertanian yang paling utama dibanding penghasilan yang lain.
Selain masyarakat desa Morombuh menjadi petani, namun ada juga masyarakat yang lain (dengan prosentasi yang tidak sedikit) adalah berprofesi sebagai wiraswasta ataupun mereka membuka usaha sendiri seperti pertokoan dan penyediaan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat setempat seperti bengkel, warung kopi, warung makan, dan lain sebagainya.5
e. Agama
Dalam konteks sosio-religiusitas, mayoritas warga masyarakat desa Morombuh memeluk agama islam, mereka yang mayoritas islam sudah membentuk kultur dan budaya dengan ciri khas dan karakter masing-masing kelompok. Di desa Morombuh ini terdapat beberapa rutinitas kegiatan-kegiatan yang pada umumnya berdasarkan ke agamaan sehingga kegiatan tersebut tertuju pada kemajuan syi’ar islam, mislanya seperti mereka mengadakan Haul setiap
5
satu tahun sekali. Dengan demikian citra tentang kepatuhan, ketaatan orang Madura pada agama islam yang dianut tentu sudah lama terbentuknya.6
2. Profil Informan
1. Profil Rukayah dengan Hasin
Informan pertama ini bernama Rukayah yang memiliki suami bernama
Hasin. Rukayah menikah dengan Hasin pada usia 15 tahun namun disamarkan menjadi 17 tahun. Sedangkan Hasin berusia 17 tahun.
Pernikahan Rukayah dengan Hasin ini tidak berbeda dengan pernikahan yang terjadi pada pasangan Homsiatul Aini dengan Imam Syafi’i, mereka menikah karena perjodohan dari kedua orang tua mereka agar beban yang ditanggung oleh orang tua Rukayah dapat menjadi ringan.
Perjodohan tersebut terjadi karena ekonomi keluarga Rukayah saat itu sangat minim, sehingga orang tua Rukayah memutuskan menikahkan Rukayah dengan Hasin yang dibilang cukup mapan untuk menghidupi Rukayah. Dalam keluarga ini Rukayah hanya menjadi ibu rumah tangga saja dan mengurusi kedua buah hatinya, sedangkan sang suami Hasin bekerja sebagai karyawan pabrik di surabaya.
Perekonomian dalam keluarga ini termasuk dalam kelas bawah karena penghasilan yang diperoleh hanya dari satu pihak saja yaitu dari sang suami. Rukayah dan Hasin memiliki pendidikan terakhir hanya sampai sekolah menengah pertama saja. Mereka memilki 2 anak dari hasil pernikahannya yang mencapai 4 tahun.
2. Profil Siti Ulfiyah dengan Taufik Hidayat
Informan kedua ini bernama Siti Ulfiyah. Siti memiliki suami yang bernama Taufik Hidayat yang bekerja sebagai penjual ayam potong di pasar. Siti dan Taufik menikah karena perjodohan dari orang tuanya, karena pada saat itu Siti sudah lulus dari madrasah tsanawiyah sebuah pondok pesantren, sehingga orang tua Siti memutuskan untuk menikahkan Siti dengan Taufik. Siti menikah dengan Taufik pada usia 15 tahun, sedangkan Taufik berusia 18 tahun.
Saat ini Siti sudah memiliki 3 orang anak dari hasil pernikahannya yang menginjak 3 tahun. Siti yang memiliki riwayat pendidikan sampai sekolah menengah pertama (SMP) ini hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja dan mengurusi 3 orang anaknya. Penghasilan yang diperoleh hanya dari sang suami. Lain halnya dengan sang suami (Taufik) yang memiliki tingkat pendidikan sampai sekolah tinggi menengah (STM).