PROGRAM DESAIN
2.3 Deskripsi Tapak
Pemilihan sebuah lokasi tapak menjadi salah satu aspek yang penting dalam merancang sebuah desain bangunan karena keberadaan lokasi ini juga memberikan dampak besar seperti apa nantinya rancangan desain kita. Untuk setiap fungsi bangunan ada beberapa kriteria lokasi tersendiri yang harus dipenuhi dalam rangka memaksimalkan fungsi tersebut.
Berdasarkan objek rancang yang diusulkan, yaitu rest area/hub, dimana objek ini berkaitan erat dengan permasalahan mobilitas penduduk, maka kriteria lahan dalam perancangan ini adalah sebagai berikut:
1. Bisa diakses dengan mudah dari segala arah
2. Target massa yang akan mengunjungi objek rancang dapat tertampung
3. Visibilitas lahan tampak jelas
Gambar 2.1 Alternatif Site 1 Sumber : maps.google.co.id
Gambar 2.2 Alternatif Site 2 Sumber : bumn.go.id
16
Ada dua lahan yang dipilih oleh penulis, seperti yang ditunjukkan di atas.
Site 1 berada di KM 40 dari Pekanbaru menuju Dumai. Site ini berada setelah Minas, memasuki sesi 2 dari Tol Pekanbaru-Dumai. Sedangkan site 2 terletak di sebelah jalan tol sesi 1 Pekanbaru-Dumai. Tepatnya jalan tol setelah Minas.
Penulis memilih kedua lahan tersebut dikarenakan lokasi yang cukup strategis.
Kedua lahan tersebut akan dibandingkan dengan kriteria yang sudah ditentukan sehingga penulis dapat menentukan lahan mana yang lebih sesuai dengan kriteria lahan dan rancang
Tabel 2.3 Penilaian alternatif lokasi
Kriteria Site 1 Site 2
Existing SPBU, Masjid -
Aksesibilitas √ √
Fungsi lain di sekitar tapak
Pencapaian Dekat dengan perkotaan dan industri
Berada di Jalan Toll Road Pekanbaru-Kandis-Duma
Visibilitas √ √
Sumber : Analisa Penulis
Berdasarkan penilaian yang dilakukan pada tabel penilaian alternatif lokasi di atas, maka lokasi yang dipilih dalam merancang rest area/hub ini adalah KM 40 Pekanbaru-Minas
17 2.3.1 Kajian Lingkungan
a. Gambaran Umum Lokasi
Site berada di Jalan Lintas Timur Sumatera KM 40 dengan luas kurang lebih 11.028 m². Site tersebut berbentuk persegi dengan jarak pada masing masing sisinya, yaitu:
a. Sisi A : 90,76 m b. Sisi B : 105,66 m c. Sisi C : 114,05 m d. Sisi D : 111,04 m
Gambar 2.3 Site 1 Sumber : Google Maps
Gambar 2.4 Tapak Objek Desain Sumber : Ilustrasi Pribadi
18 b. Batasan Lahan
Lahan memiliki orientasi menghadap ke arah selatan.
Lingkungan merupakan kawasan lahan sawit dengan batas lahan sebagai berikut:
a. Utara : Lahan sawit
b. Selatan : Jalan Lintas Timur Sumatera c. Timur : Lahan sawit
d. Barat : Warung dan rumah warga
Gambar 2.5 Lingkungan Sekitar Lahan Sumber : Google Maps
19 c. Fungsi Lahan Sekitar
Fungsi dari bangunan sekitar lokasi lahan ditandai dengan kode warna, yaitu:
a. Bidang Kuning : Kawasan industri b. Bidang Biru : Rumah warga c. Hijau : Lahan Sawit
Dikarenakan pada konteks perancangan tidak begitu banyak bangunan pada sekitar lahan, maka rancangan yang dibuat memiliki aksen atau ke khasan agar menjadi vocal point pada daerah tersebut.
d. Aksesibilitas
Kendaraan yang melewati site tersebut meliputi kendaraan pribadi, truk-truk/trailer-trailer, dan sepeda motor. Oleh karena itu diperlukannya banyak parkir untuk variasi kendaraan yang akan melewati site ini.
Gambar 2.6 Fungsi Lahan Sekitar Sumber : maps.google.co.id
20 e. Sirkulasi Kendaraan
Lokasi site hanya satu sisi yang bersinggungan langsung dengan jalan yaitu sisi A, dan jalan itu adalah jalan utama. Di sekitar site merupakan lahan sawit dan perumahan warga Jalan ini banyak dilalui truk dan kendaraan pribadi. Oleh karena itu pemberian ring road pada site agar setiap sudut site bisa dimanfaatkan lebih efektif
f. Arsitektur di Sekitar Tapak
Arsitektur dari Riau sendiri dipengaruhi dari dua daerah, yaitu Sumatra Barat dan Malaysia karena posisinya berdekatan. Maka dari itu terdapat percampuran bentuk dari arsitektur riau ini sendiri.
Bentuk dari arsitektur Riau ini juga dipengaruhi dari kondisi geografis dari daerah ini sendiri. Provinsi Riau dialiri oleh empat sungai besar, yaitu Sungai Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri. Hulu dari sungai-sungai ini adalah Sumatera Barat, dan muaranya adalah Selat Malaka. Pada daerah aliran sungai-sungai ini muncul permukiman dengan bentuk rumah tradisional yang berbeda.
Gambar 2.7 Jenis-Jenis Rumah Tradisional Riau Sumber : Google Maps
21 g. Iklim
Riau memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 milimeter per tahun, serta rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari.
Dan juga pada tabel berikut menunjukkan jumlah titik api yang ada di konteks perancangan ini. Maka dari itu, pada bulan-bulan tertentu perlu adanya treatment khusus pada penghawaan, karena pada bulan yang titik apinya tinggi, maka akan terjadi peningkatan suhu juga.
Tabel 2.4 Keadaan Suhu dan Titik Api
Bulan
Sumber : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru
22
h. Peraturan dan Data Pendukung Rencana Struktur Ruang Kota Dumai
Rencana Jaringan Jalan Tol
Pemerintah Provinsi Riau terus berupaya membangun Tol Pekanbaru - Dumai guna mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah itu. Proyek Tol Pekanbaru - Dumai merupakan rencana besar Pemerintah Provinsi Riau sebagai salah satu strategi menuju visi Riau 2020. Karena itu, keberadaan tol ini diyakini dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi terutama akses menghubungkan tiga kawasan industri yang tengah dikembangkan di Riau yaitu Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru, Kawasan Industri Buton di Kabupaten Siak, dan Kawasan Industri Dumai di Kota Dumai. Masalah usulan FTZ yang belum ditanggapi dan rendahnya mobilitas kendaraan menjadi kendala pembangunan tol ini. Rencana tahun 2032 adalah tersambungnya tiga kawasan Industri itu yang diprediksi dapat mendongkrak percepatan pertumbuhan ekonomi di Riau karena ketiganya dapat ditempuh dalam waktu cepat.
Bagi kalangan pemerintah daerah, kota Dumai berada pada posisi yang sangat strategis karena memiliki pelabuhan laut berskala internasional dan adanya Bandara Pinang Kampai yang diharapkan bisa menjadi potensi baru bagi pertumbuhan ekonomi Riau.
Tabel 2.5 Perkiraan Luas Wilayah Pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai
Kota Pekanbaru 83,7 ha, panjang 8,37 km Kabupaten Siak 442,0 ha, panjang 44,20 km Kabupaten Bengkalis 530,6 ha, panjang 53,14 km Sumber: analisis penyusun, 2009
23
Gambar 2.8 Perspektif Rencana Jalan Tol Kota Dumai Sumber: analisis penyusun, 2006
Peraturan KDB, KLB, KDH, dan GSB
Peraturan Daerah Kabupaten Siak Nomor 3 Tahun 2012 Bagian Ketiga
Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan, Serta Ketinggian Bangunan
Pasal 20
(1) Penentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) serta ketinggian bangunan (jumlah lantai) dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2.6 Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan, Serta Ketinggian Bangunan
Kapling lebih dari 300 m2 Kapling 150-300 m2 Kapling kurang dari 150
m2
24
2 Perkantoran 60% 1-3 0,6-2
3 Perdagangan dan Jasa di Pusat kota
70-80% 2-3
1,4-2,6 4 Perdagangan dan Jasa di
Sub Pusat Kota
60-70% 1-3
0,6-2,3