• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis 1. Pembelajaran Inkuiri

a. Pengertian Pembelajaran Inkuiri

Inkuiri yang dalam bahasa inggris inquiry, berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.5 Pembelajaran inkuiri menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam memperoleh informasi, sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan yang diperolehnya dengan pengetahuan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa tersebut. Dengan demikian model pembelajaran inkuiri merupakan model pemrosesan informasi yang melibatkan seluruh kemampuan siswa dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencari, menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analitis sehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

Menurut Zulfiani dalam Dwirahayu mengungkapkan inkuiri yang juga berarti mengajukan pertanyaan yang bermakna, yang melibatkan pemaknaan, performa dengan operasi intelektual untuk menghasilkan pengalaman yang mudah dipahami.6 Pertanyaan yang bermakna adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa pada kegiatan penyelidikan sehingga siswa memperoleh pengalaman secara langsung dalam proses kegiatan tersebut. Dengan kata lain, inkuiri adalah proses aktif pencarian informasi melalui kegiatan ilmiah seperti mengajukan pertanyaan, pengumpulan data, pelaksanaan penyelidikan dan penarikan kesimpulan.

5

Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 135

6

Gelar Dwirahayu dan Munasprianto Ramli, Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi, (Jakarta: PIC UIN, 2007), h. 6

Menurut Alberta, pembelajaran berbasis inkuiri adalah sebuah proses dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, mengajukan pertanyaan, penyelidikan secara luas, dan kemudian membangun pemahaman baru, pengertian dan pengetahuan. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan yang baru bagi siswa dan mungkin dapat digunakan untuk menjawab sebuah pertanyaan, mengembangkan solusi atau mendukung suatu keadaan atau pendapat. Pengetahuan itu biasanya dikomunikasikan kepada orang lain dan mungkin merupakan hasil dari suatu rangkaian kegiatan.7

Salah satu prinsip pembelajaran inkuiri adalah siswa dapat mengkonstruksi sendiri pemahamannya dengan melakukan aktivitas aktif. Dalam proses belajar mengajar, inkuiri ini digunakan sebagai metode pengajaran yang memungkinkan ide siswa berperan dalam suatu investigasi yang akan dilakukan oleh pembelajar/siswa.8

Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.9 Dalam proses pembelajaran ini siswa dapat berpikir secara kritis dan analitis melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengajak siswa untuk terlibat aktif sehingga pembelajaran berpusat pada siswa. Teknik yang dipergunakan guru dalam menstimulus agar siswa dapat terlibat aktif dalam proses pencarian pemahaman sangat menentukan keberhasilan suatu proses inkuiri. Inkuiri sebagai suatu proses penyelidikan membantu siswa untuk mempelajari konsep-konsep biologi bukan hanya sekedar dalam bentuk produk namun sebuah proses. Pembelajaran inkuiri adalah suatu metode pembelajaran biologi

yang menekankan dan mengarahkan siswa pada proses pencarian

7

Alberta, Focus On Inquiry: A Teacher’s Guided to Implementing Inquiry-Based Learning, (Canada: Learning and Teaching Resources Branch, 2004), h. 1

8

Zulfiani, Tonih feronika, Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2009), h. 121

9

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009), Cet.6, 2009, h. 194

informasi atas pertanyaan atau permasalahan yang diajukan sehingga mendukung adanya aktivitas hands on dan keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan dan memahami konsep-konsep yang diajarkan. Selama proses belajar mengajar, guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang bersifat open-ended, sehingga memberi peluang siswa untuk melakukan penyelidikan mereka sendiri, menemukan jawaban-jawaban yang mungkin diperoleh melalui serangkaian kegiatan aktif siswa dan mengarahkan siswa untuk merekonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki.

b. Karakteristik Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran yang menekankan perkembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) anak menurut Piaget seperti yang dikutip Wina Sanjaya dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu kematangan, pengalaman-pengalaman fisik, pengalaman sosial, dan equilibrasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, yakni :

1. berorientasi pada pengembangan intelektual 2. prinsip interaksi

3. prinsip belajar

4. prinsip belajar untuk berpikir 5. prinsip keterbukaan10

Kegiatan ilmiah merupakan intisari dalam pembelajaran inkuiri. Inkuiri sebagai metode yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan intelektual memiliki hubungan yang erat dengan proses-proses inkuiri. Inkuiri ilmiah lebih tepat dikaitkan dengan tahapan-tahapan tindakan para saintis yang mengarahkan mereka pada pengetahuan ilmiah. Dalam kegiatan ilmiah para saintis melakukan pengamatan, menemukan masalah, melakukan hipotesis, bereksperimen,

10

mengumpulkan data berdasarkan instrumen yang dibuatnya dan membuat kesimpulan.11

Hinrichsen & Jarsett dalam Program Report The Northwest Regional Educational Laboratory seperti yang dikutip Zulfiani dalam Dwi Rahayu menyatakan empat karakter inkuiri, yaitu:

1) Proses koneksi yang meliputi konsiliasi, pertanyaan dan observasi 2) Desain eksperimen

3) Investigasi

4) Membangun pengetahuan berdasarkan hasil eksperimen.12

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.13 11 Zulfiani, op.cit., h. 15 12 Ibid., h. 18 13

Menurut peneliti berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, intisari pembelajaran inkuiri adalah proses inkuiri. Sehingga karakteristik-karakteristik utama inkuiri mencakup hal-hal yang mengarahkan pada kegiatan berinkuiri. Salah satu peran guru dalam mengarahkan siswa untuk berinkuiri adalah pertanyaan. Sedangkan metode-metode yang dapat dilakukan dalam pembelajaran inkuiri adalah metode yang tidak lepas dari adanya kegiatan ilmiah seperti observasi, investigasi, demonstrasi atau eksperimentasi.

c. Tingkatan-tingkatan Inkuiri

Dalam Standard for Science Teacher Preparation seperti yang dikutip Zulfiani terdapat 3 tingkatan inkuiri, yakni:

1) Discovery/Structured Inquiry

Dalam tingkatan ini tindakan utama guru ialah mengidentifikasi permasalahan dan proses, sementara siswa mengidentifikasi alternatif hasil.

2) Guided Inquiry

Tahap guided inquiry mengacu pada tindakan utama guru ialah mengajukan permasalahan, siswa menentukan proses dan penyelesaian masalah.

3) Open Inquiry

Tindakan utama pada Open Inquiry ialah guru memaparkan konteks penyelesaian masalah kemudian siswa mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.14

Menurut Colburn pembelajaran inkuiri adalah penciptaan kondisi kelas dimana siswa berada dalam situasi bebas berpendapat, pembelajaran berpusat pada siswa dan adanya aktivitas hands-on. Berdasarkan pengertian ini, maka pembelajaran inkuiri terdiri dari beberapa jenis pendekatan, yaitu:

1) Structured Inquiry (inkuiri terstruktur). Dalam inkuiri terstruktur, guru menyediakan tujuan, petunjuk, dan prosedur kegiatan tetapi

14

tidak memberitahukan hasil. Siswa diharapkan menemukan sendiri hubungan antar variabel ataupun alternatif lainnya berdasarkan data yang dikumpulkan.

2) Guided Inquiry (inkuiri terbimbing). Guru hanya menyediakan alat dan bahan serta permasalahan yang akan diteliti siswa. Siswa merancang sendiri prosedur pemecahan masalahnya.

3) Inquiry Open-ended. Pendekatan ini mirip dengan pendekatan terbimbing, dengan tambahan siswa merumuskan sendiri permasalahannya yang akan diteliti.

4) Learning Cycle. Siswa dilibatkan dalam suatu aktivitas dimana siswa dikenalkan pada konsep yang baru, kemudian konteks penggunaan dan penerapan konsep tersebut disesuaikan dengan fenomena yang biasa ditemukan oleh siswa.15

d. Keunggulan Pembelajaran Inkuiri

Teknik inkuiri ini memiliki keunggulan yang dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

2) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.

3) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.

4) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

5) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. 6) Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang. 7) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. 8) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.

15

Alan Colburn, An Inquiry Primer, (Science Scope, 2000) diakses pada 10 Desember 2010 dari http://www.experientiallearning.ucdavis.edu/module2/el2-60-primer.pdf, h. 42

9) Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar yang tradisional.

10) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.16 Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa model pembelajaran inkuiri disarankan untuk membelajarkan biologi, yaitu sebagai berikut:

1) Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk mata pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar biologi.

2) Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan guru. 3) Model pembelajaran inkuiri biologi dirancang dengan memadukan

ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.17

e. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri

Langkah-langkah dalam pembelajaran inkuiri, disajikan sebagai berikut:

1) Penyajian masalah

Pada tahap ini siswa dihadapkan pada situasi teka-teki. Rumusan masalah didapat setelah siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan ini merupakan stimulus yang efektif untuk mendorong siswa berpikir dan memulai belajar.

2) Pengumpulan dan verifikasi data

Pada tahap ini siswa merancang jawaban sementara (hipotesis), selanjutnya merancang kegiatan untuk menguji kebenaran jawaban sementara yang telah dibuat.

3) Mengadakan eksperimen atau pengumpulan data

16

Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet.7, h. 76 17

Made Wena, Strategi pembelajaran inovatif kontemporer:suatu tinjauan konseptual operasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), Cet. 4, h. 67

Pada tahap ini siswa melaksanakan kegiatan yang telah dirancang dan mengobservasi fakta yang muncul, mencatat datanya, dan melakukan interpretasi terhadap data hasil pengamatan.

4) Merumuskan penjelasan

Pada tahap ini siswa menentukan apakah jawaban sementara yang telah disusun sebelumnya terbukti kebenarannya.

5) Mengolah analisis tentang proses inkuiri

Pada tahap ini siswa melakukan refleksi terhadap cara-cara mereka saat melakukan kegiatan untuk membuktikan kebenaran jawaban sementara. Hasil yang diharapkan dari tahap ini adalah siswa mengetahui cara pemecahan masalah yang paling baik.18

Proses inkuiri memiliki banyak hal-hal penting saat awal. Namun faktanya siswa tetap akan melewati fase-fase inkuiri sepanjang penyelidikan. Adapun fase inkuiri meliputi :

1) Inquiry Phase (fase berinkuiri)

Fase awal ini mengajak siswa untuk memikirkan topik dan mengundang siswa melakukan kerja ilmiah serta mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan.

2) Verifikasi/Hipotesis

Fase dimana siswa diajak untuk mengawali penelitian dan eksplorasi serta mengungkapkan hipotesis-hipotesis yang nantinya akan diselidiki.

3) Eksperimentasi/Analisis Data

Pada fase ini, siswa berusaha dalam penelitian secara teliti, dan pengumpulan data (observasi, pengukuran), untuk mempelajari data-data dan untuk menganalisa data-data.

18

Nuryani Rustaman, Materi Pokok Strategi Pembelajaran Biologi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), Cet.1, h. 12-19

4) Implementation Phase (fase implementasi)

Pada fase ini, siswa diharuskan mengorganisasi data dan menganalisa, menggambarkan kesimpulan dan menformulasikan penjelasan-penjelasan.19

Langkah-langkah yang digunakan dalam penyajian materi dengan model pembelajaran inkuiri adalah fase berhadapan dengan masalah, fase pengumpulan dan pengujian data, fase pengumpulan data dalam eksperimen, fase formulasi penjelasan dan fase analisis proses inkuiri.20

2. Pembelajaran Inkuiri Terstruktur a. Pengertian Inkuiri Terstruktur

Menurut Harlen, inkuiri terstruktur adalah pembelajaran discovery (penemuan) yang dimodifikasi dimana siswa menerima dan mendapatkan petunjuk-petunjuk untuk prosedur yang digunakan, selanjutnya mengumpulkan data, mengorganisasi data, serta mendapatkan serangkaian pertanyaan yang mengantarkan kepada kesimpulan (solusi dari sebuah masalah).21

Menurut Colburn, pendekatan inkuiri terstruktur adalah pembelajaran dengan guru menyediakan tujuan, petunjuk, dan prosedur kegiatan tetapi tidak memberitahukan hasil. Siswa diharapkan menemukan sendiri hubungan antar variabel ataupun alternatif lainnya berdasarkan data yang dikumpulkan.22

Dalam inkuiri terstruktur, petunjuk praktikum berisi masalah, prosedur-prosedur kerja tanpa analisis hasil dan kesimpulan sehingga

19

The Acces Center, Science Inquiry, U.S Office of Special Education Program diakses pada 29 Mei 2011 dari http://www.k8accesscenter.org/documents/ScienceInquiry-PDF.pdf h. 9-11

20

I Made Wirtha dan Ni ketut Rapi, Pengaruh Model Pembelajaran dan Penalaran Formal Terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah Siswa SMAN 4 Singaraja, Jurnal penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 2008, h. 20

21

Wayne Harlen, The Teaching of Science, (Great Britain: David Fulton Publisher, 1992), h. 47 22

siswa dituntut untuk menemukan hubungan atau membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis siswa.23

Metode inkuiri dikembangkan melalui pendekatan heuristik yang memandang saintis sebagai penemu (discoverer). Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual. Menemukan merupakan inti dari proses kegiatan pembelajaran kontekstual. Dengan demikian dapat diketahui bahwa inkuiri terstruktur yang berciri pada pembelajaran penemuan memerlukan teknik atau alat bantu yang dapat menstimulus siswa untuk terlibat dalam pembelajaran. Pembelajaran melalui penemuan memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman sehingga membantu siswa dalam memahami dan menguasai konsep. Melalui verifikasi yang ditemukan siswa selama pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa untuk mencapai pemahaman konsep yang diharapkan.

Dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur guru memiliki peran untuk memilih topik/bahasan, pertanyaan dan menyediakan materi beserta prosedur kerja. Akan tetapi dalam proses pembelajarannya siswa diharuskan menganalisis hasil dan menarik kesimpulan dari kegiatan ilmiah yang telah dilakukan.

b. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri Terstruktur

Alberta mengemukakan enam fase dalam inkuiri, yaitu : Planning, retrieving, processing, creating, sharing, dan evaluating. 1) Planning (perencanaan).

Siswa harus memahami bahwa tujuan pokok pembelajaran berbasis inkuiri adalah untuk mengembangkan kemampuannya. Pembelajaran inkuiri dimulai dengan ketertarikan siswa atau keingintahuannya terhadap suatu pokok bahasan. Untuk siswa yang

23

Laura B.Buck, dkk, Characterizing the Level of Inquiry in the Undergraduated Laboratory, Journal of College Science Teaching, 2008, diakses pada tanggal 29 Mei 2011 dari http://www.chem.purdue.edu/towns/Towns%20Publications/Bruck%20Bretz%20Towns%202008 pdf, h. 54

sedikit atau tidak sama sekali mempunyai latar belakang pengetahuan dari pokok bahasan yang akan dipelajari, guru harus memberikan informasi atau latar belakang pengetahuan yang akan memotivasi siswa.

2) Retrieving (mengungkapkan kembali).

Tahap selanjutnya siswa mulai memikirkan informasi yang mereka punya dan yang mereka inginkan. Siswa mungkin perlu mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelidiki informasi yang telah mereka temukan. Pada fase ini siswa aktif mencari informasi yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari. Guru membantu siswa memahami bahwa informasi yang telah mereka dapatkan baik itu dari buku perpustakaan, majalah ataupun internet, dihasilkan oleh orang yang dipercaya. 3) Processing (proses).

Fase ini dimulai ketika siswa telah menemukan fokus untuk berinkuiri. Fokus tersebut adalah aspek dari pokok bahasan/topik sehingga siswa menentukan untuk melakukan investigasi/ penyelidikan. Pada fase ini siswa memilih dan mencatat informasi yang berhubungan dengan topik yang dibahas, dan informasi yang menjawab pertanyaan siswa.

4) Creating (menciptakan).

Pada fase ini, siswa mengorganisasi dan mensintesis informasi dan gagasannya mereka mengembangkan dan memperbaiki laporan serta merumuskan jawaban, solusi, dan kesimpulan. Pada fase ini siswa menghasilkan produk yang tertuang baik dalam bentuk oral, visual, tulisan, gerak maupun multimedia.

5) Sharing (bertukar pendapat).

Pada fase ini siswa mempresentasikan produk inkuiri mereka kepada guru ataupun teman mereka. Fase ini harus menjadi kesempatan bagi siswa untuk mempertimbangkan peran anggota diskusi guna meningkatkan pengalaman diskusi. Dalam

mempresentasikan produknya mungkin siswa akan gugup, mereka merasa khawatir bahwa teman-teman yang lain tidak memahami dan menghargai karya mereka. Karena itu, guru harus mengajarkan siswa untuk menghargai karya orang lain untuk mendukung fase ini.

6) Evaluating (evaluasi).

Pada fase evaluasi, menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses penilaian seperti dalam penyelidikan untuk menghasilkan produk. Penekanan ini terletak pada penilaian pemahaman siswa terhadap proses dan terhadap penguasaan konsep.24

Siklus inkuiri yang termodifikasi meliputi lima tahapan adalah, sebagai berikut :

1) Challange (Tantangan) adalah fase dimana siswa diberikan deskripsi-deskripsi masalah.

2) Initial Thoughts (pemikiran-pemikiran awal) adalah fase dimana siswa-siswa menyediakan pemikiran-pemikiran awal berdasarkan sebuah masalah.

3) Resources (Pencarian data) adalah fase dimana siswa dapat mempelajari masalah.

4) Self Assesment adalah fase dimana siswa-siswa menjawab beberapa pertanyaan untuk mendapat umpan balik dalam pengetahuan siswa.

5) Wrap up (akhir) adalah tahap akhir dimana siswa-siswa dapat melihat kembali pemikiran-pemikiran awal mereka (hipotesis) dan memberikan kesimpulan atas modul yang telah diberikan guru.25

3. Pertanyaan Produktif dalam Pembelajaran Inkuiri Terstruktur

24

Alberta, op.cit., h. 11-13 25

Hogyeong, Jeong dkk, Analysis of Productive Learning Behaviors in a Structured Inquiry Cycle Using Hidden Markov Models, Institute for Software Integrated System, Vanderbilt University, dari http://educationaldatamining.org/EDM2010/uploads/proc/edm2010_submission_59.pdf diakses pada 29 Mei 2011, h. 82

a. Definisi dan Fungsi Pertanyaan

Menurut G.A. Brown dan R.Edmondson dalam Udin Winataputra mendefinisikan pertanyaan sebagai segala pernyataan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan).26

Dalam proses belajar mengajar, bertanya memegang peranan penting, sebab pertanyaan yang tersusun baik dengan teknik pelontaran yang tepat akan:

1) Meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan belajar mengajar 2) Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu murid terhadap sesuatu

masalah yang sedang dibicarakan

3) Mengembangkan pola berpikir dan cara belajar aktif dari siswa, sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya

4) Menuntun proses berpikir murid, sebab pertanyaan yang baik akan membantu murid dalam menentukan jawaban yang baik dan

5) Memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas.27

Dalam aktivitas pembelajaran, kegiatan bertanya dapat dilakukan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan orang lain dan sebagainya. Kegiatan bertanya dalam pembelajaran berguna untuk:

a) Menggali informasi, baik informasi administrasi maupun akademis b) Mengecek pemahaman siswa

c) Memecahkan persoalan yang dihadapi d) Membangkitkan respon kepada siswa

e) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa f) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

26

Udin S. Winataputra, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001), Cet.4, h. 7.7

27

Marno, M.Idris, Strategi dan Metode Pengajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), Cet.5, h. 115

g) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru h) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa

i) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa28

Menurut Harlen lebih jauh mengungkapkan bahwa pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran, yang menjadi ciri dari model sebuah pembelajaran. Pertanyaan dalam pembelajaran digunakan untuk berbagai macam tujuan, diantaranya adalah untuk mengontrol siswa, sebagai informasi, untuk menguji daya ingat siswa, untuk mendorong siswa berpikir, untuk mengarahkan dan menuntun pada arah tertentu, dan untuk mengungkapkan gagasan siswa.29

b. Pengertian Pertanyaan Produktif

Guru sangat dianjurkan untuk mengajukan pertanyaan dalam proses pembelajaran. Bertanya merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai guru karena sampai saat ini kegiatan bertanya masih dianggap metode yang efektif sebagai selingan metode ceramah. Pertanyaan yang efektif lebih potensial daripada metode mengajar yang lain, terutama jika ingin mendorong siswa berpikir dan bernalar. Selanjutnya diketahui juga bahwa dengan menggunakan pertanyaan yang efektif berarti guru mendorong siswa untuk berpikir dan bernalar sehingga belajar menjadi terpusat pada diri siswa.30

Peningkatan pertanyaan yang menyangkut kualitas pertanyaan akan tertuju pada proses berpikir yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Pertanyaan yang hanya mengharapkan jawaban berupa fakta atau informasi akan mengakibatkan proses berpikir yang lebih rendah pada penjawab pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban dimana jawaban tersebut harus diorganisasi

28

Kunandar, Guru Profesional : Implementasi KTSP dan sukses dalam sertifikasi guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 310

29

Wayne Harlen, op.cit, h. 109 30

Nuryani Y.Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2005), Cet.1, h. 206

atau disusun dari fakta-fakta atau informasi sebelumnya membutuhkan proses yang lebih tinggi dan kompleks.31 Dengan demikian kualitas suatu pertanyaan akan bersangkut paut dengan jenis-jenis pertanyaan itu.

Beberapa pengelompokkan pertanyaan telah dilakukan Sheila Jelly seperti yang dikutip Ari Widodo, pertanyaan dibedakan menjadi dua yakni pertanyaan produktif dan non produktif. Pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan melalui kegiatan atau pengamatan, sedangkan pertanyaan non produktif adalah pertanyaan yang jawabannya didasarkan pada buku atau sumber kedua lainnya.

Tabel 2.1 Perbedaan antara Pertanyaan Produktif dan Pertanyaan Nonproduktif

Pertanyaan Nonproduktif Pertanyaan Produktif a) Mendorong munculnya

pengertian sains sebagai informasi

a) Mendorong munculnya pengertian bahwa sains adalah cara kerja b) Jawaban diperoleh dari

sumber kedua misalnya dari bacaan

b) Jawaban diperoleh dari pengamatan langsung yang menuntut tindakan

pengamatan/percobaan c) Cenderung menekankan

bahwa ada jawaban tertentu

c) Mendorong munculnya kesadaran bahwa jawaban

31

Pertanyaan Nonproduktif Pertanyaan Produktif

yang benar yang berbeda bisa saja benar,

tergantung konteksnya. d) Anak yang mempunyai

kemampuan verbal yang baik cenderung lebih aktif dan banyak menjawab

d) Hampir semua anak bisa menjawab pertanyaan32

Sedangkan menurut Nuryani Y.Rustaman pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Sebaliknya pertanyaan nonproduktif memerlukan jawaban terpikir dan yang diucapkan, yang tidak selalu mudah

Dokumen terkait