BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Deskripsi Tes Hasil Belajar
a. Deskripsi Tes Kemampuan Awal Siswa
Sebelum melaksanakan penelitian, tes awal diberikan kepada masing-masing
siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Adapun data skor dari hasil belajar
pada pengamatan awal dapat dilihat dalam tabel 4.10 berikut ini:
Tabel 4.10
Rekapitulasi Nilai Siswa Kelas VIID SMP Negeri 7 Palopo Nama Siswa Nilai Awal Siklus I Siklus II
Ade Putri 40 65 75 Arfin Saputra 55 70 80 Armed Gessa 20 55 75 Diana 25 50 83 Emildion 65 75 85 Fadillah 68 75 85 Fadly 37 50 75 Febriani 75 85 90 Imanuela 63 75 80 Jibran Patalo 40 65 75 Martha Elsye 65 75 87 Mawar Putri 45 55 75 Muh. Gofar 83 90 100 Muh. Ikram 40 65 80 Muh.Yani 25 50 75 Natalia Randa 71 80 90 Rifal Juvannes 45 60 80 Rihard Saputra 32 60 80 Rini Paseru 40 60 80 Rivaldi 37 55 75 Valentian 38 67 85 Yandri Wahyu 65 75 75 Yulfi Balisa 50 65 85 Yusna 55 70 80 Ade Putri 56 70 85
A. Nur Huda 20 50 82
Rata-rata 48,27 65,85 81,42
Tabel 4.11
Deskripsi Hasil Tes Kemampuan Awal Siswa
Statistik Nilai Statistik
N Mean Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum Sum 26 48,27 17,478 305,485 63 20 83 1255
Berdasarkan tabel 4.11 yang menggambarkan tentang distribusi skor hasil
kemampuan awal siswa, nilai rata-rata siswa adalah 48,27, varians sebesar 305,485,
standar deviasi sebesar 17,478, nilai terendah 20, nilai tertinggi 83 dan rentang skor
sebesar 63.
Jika skor hasil belajar tes kemampuan awal siswa dikelompokkan kedalam
lima kategori maka diperoleh tabel distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar
matematika siswa sebagai berikut:
Tabel 4.12
Perolehan Persentase Kategorisasi Tes Kemampuan Awal Siswa
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0-59 Sangat rendah 18 69,23% 60-69 Rendah 5 19,23% 70-79 Cukup 2 7,7% 80-89 Tinggi 1 3,84% 90-100 Sangat Tinggi 0 0% Jumlah 26 100%
Berdasarkan tabel 4.12 diperoleh gambaran bahwa dari 26 jumlah siswa yang
menjadi subjek penelitian terdapat 18 siswa atau sebesar 69,23% yang mendapat nilai
termasuk kategori sangat rendah, 5 orang siswa atau sebesar 19,23% siswa yang
mendapat nilai termasuk kategori rendah, 2 orang siswa atau sebesar 7,7% yang
mendapat nilai termasuk kategori cukup, 1 orang siswa atau sebesar 3,84% yang
mendapat nilai termasuk kategori tinggi, dan tidak ada siswa yang termasuk dalam
kategori sangat tinggi.
Jika dikaitkan dengan kriteria ketuntasan hasil belajar, maka hasil belajar
matematika siswa dikelompokkan kedalam dua kategori sehingga diperoleh skor
frekuensi dan persentase seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 4.13
Distribusi dan Prsentase Kriteria Ketuntasan Tes Kemampuan Awal Siswa
No. Skor Kategori Frekuensi Persentase
1 < 75 Tidak Tuntas 23 88,46%
2 ≥ 75 Tuntas 3 11,54%
Jumlah 26 100%
Persentase ketuntasan hasil belajar matematika siswa pada dapat diamati
dalam diagram seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut ini:
11.54%
88.46%
Tuntas Tidak tuntas
Gambar 4.1
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Matematika
Berdasarkan gambar 4.1 digambarkan bahwa persentase ketuntasan Hasil
belajar matematika siswa menunjukkan11,54% siswa mencapai ketuntasan dan
88,46%siswa tidak mencapai ketuntasan.
b. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I
Siklus I dilaksanakan selama 3 kali pertemuan, dengan 2 kali tatap muka dan
1 kali evaluasi dipertemuan akhir siklus. Berdasarkan prosedur penelitian tindakan
kelas, ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan pada siklus I yaitu sebagai
berikut :
1) Tahap Perencanaan
Peneliti melakukan observasi untuk memperoleh gambaran tentang keadaan
kelas, karakteristik siswa secara umum dan kemampuan siswa dalam mata pelajaran
matematika. Adapun kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan ini adalah
sebagai berikut:
(a) Menetukan materi yang akan diajarkan.
(b) Membuat rencana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipeSnowball Throwingberbantuan media sederhana.
(c) Membuat media sederhanakan berupa poster.
(d) Membuat format observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas
(e) Membuat dan menyusun alat evaluasi.
(f) Menyusun lembar observasi kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran
matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipeSnowball Throwingberbantuan media sederhana.
(g) Membuat tes hasil belajar siswa.
2) Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana
pembelajaran. Langkah-langkah dalam pelaksanaan tindakan adalah:
(a) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
(b) Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua
kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
(c) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing
kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman
sekelompoknya.
(d) Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan
satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan
oleh ketua kelompok.
(e) Siswa membentuk kertas tersebut seperti bola dan dilempar dari satu siswa
ke siswa yang lain selama ± 15 menit.
(f) Setelah siswa mendapat satu bola, ia diberikan kesempatan untuk menjawab
(g) Guru mengevaluasi dan menutup pembelajaran.
3) Hasil Observasi Siklus I
Kegiatan observer terhadap aktivitas guru dibantu oleh seorang observer
untuk mempermudah agar penelitian lebih objektif. Observernya yaitu guru bidang
studi, sedangkan aktivitas siswa dilakukan oleh peneliti sendiri.
(a) Hasil observasi aktivitas guru
Hasil observasi aktivitas guru dari observasi pada siklus I dirangkum secara
singkat dalam tabel berikut:
Tabel 4.14
Observer Aktivitas Guru Siklus I Jenis
Kegiatan Aktivitas Guru
Pertemuan Siklus I I II Kegiatan Awal
1. Dimulai dengan salam, berdoa, mengecek kehadiran siswa dan menyiapkan siswa untuk mengikuti pembelajaran.
4 4
2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 3 3 3. Guru menyampaikan cara belajar yang akan
ditempuhyakni: kooperatif tipe Snowball
Throwing berbantuan media sederhana
(poster), aktivitas guru dan siswa pada kegiatan pembelajaran tersebut.
3 3
4. Guru mengaitkan dengan materi sebelumnya (review).Dan mengajukan pertanyan dengan tanya-jawab lisan
3 3
1. Guru menyampaikan informasi materi pelajaran secara singkat. Informasi tersebut berupa: “Anak-anak, hari ini kita akan belajar
Kegiatan Inti
materi tentang PLSV dengan berbantuan media poster.
2. Guru mengarahkan siswa duduk dalam
kelompok masing-masing. Anggota kelompok harus heterogen terutama dalam kemampuan akademik.
3 4
3. Guru memanggil masing-masing ketua kelompok maju kedepan untuk diberikan penjelasan materi pembelajaran dengan menggunakan media poster dalam menyampaikan materi pembelajaran.
4 4
4. Setelah masing-masing ketua kelompok diberikan penjelasan materi pembelajaran menggunakan media poster, Guru
mengarahkan masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian masing-masing ketua kelompok menjelaskan materi yang telah dijelaskan oleh guru kepada teman sekelompoknya.
3 3
5. Setelah masing-masing ketua kelompok menjelaskan materi kepada teman sekelompoknya, Guru memberikan satu lembar kerja untuk menuliskan satu
pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang telah dijelaskan oleh ketua kelompok.
3 3
6. Masing-masing siswa membentuk kertas tersebut seperti bola, Guru mengarahkan siswa dalam pelemparan kertas tersebut ke satu siswa ke siswa yang lain.
3 3
7. Setelah siswa mendapat satu bola, Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas tersebut secara bergantian. Guru bersama-sama siswa membahas jawaban dari siswa tersebut.
8. Guru mengakui usaha dan prestasi individu
maupun kelompok. 4 4
Kegiatan Penutup
1. Guru memberi siswa pekerjaan rumah (PR)
pada bahan ajar. 4 4
2. Guru memberikan motivasi kepada siswa
untuk selalu belajar. 3 3
3. Guru menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan dilaksanakan tes evaluasi pada akhir siklus I.
3 3
4. Guru menutup pelajaran dengan do’a dan
mengucapkan salam. 4 4
Jumlah 53 55
Rata-rata
3,31 3,43
Rata-rata Aktivitas Guru Siklus I 3,37
Berdasarkan tabel 4.14diperoleh bahwa rata-rata aktivitas guru pada siklus I
dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing
berbantuan media sederhana yaitu 3,37. Dengan menggunakan aturan pembulatan,
maka nilai 3,37 dibulatkan menjadi 3. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa
aktivitas guru pada siklus I berada pada kategori “baik”.
(b) Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Hasil observasi aktivitas siswa dari observer pada siklus I dirangkum secara
singkat dalam tabel berikut:
Tabel 4.15
Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
Kriteria Penilaian Pertemuan ke- Tes Siklus I Rata-rata Persentase (%) I II
Kehadiran siswa 26 26 26 100% Perhatian siswa terhadap media
sederhana (poster). 5 5 5 19,23%
Perhatian siswa terhadap penjelasan
masing-masing ketua kelompok 15 19 17 65,38%
Bekerja sama dalam kelompok 13 16 14,5 55,76%
Siswa yang mengajukan pertanyaan pada selembar kertas terkait materi pembelajaran.
15 19 17% 65,38%
Siswa yang menyelesaikan pertanyaan
yang terdapat pada selembar kertas 15 18 16,5 63,46%
Keaktifan siswa dalam kelompok. 9 10 9,5 36,53%
Keseriusan siswa dalam memperhatikan penjelasan guru terkait jawaban dari siswa.
11 13 12 46,15%
Rata-rata Total 56,48%
Berdasarkan tabel 4.15diperoleh kesimpulan bahwa persentase aktivitas siswa
pada siklus I dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipeSnowball
Throwing berbantuan media sederhana yaitu 56,48%. Berdasarkan kriteria
keberhasilan tindakan aktivitas siswa ini masih tergolong kategori “baik” dengan interval skor 51 – 75.
4) Tes Hasil Belajar Siswa Siklus I
Pada akhir siklus I dilaksanakan tes hasil siklus I. Adapun rekapitulasi tes
hasil belajar siklus I pada siswa kelas VII D SMP Negeri 7 Palopo dapat dilihat pada
Tabel 4.16
Statistik Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Siklus I
Statistik Nilai Statistik
N Mean Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum Sum 26 65,85 11,109 123,415 40 50 90 1712
Berdasarkan tabel 4.16 yang menggambarkan tentang distribusi skor hasil tes
belajar sikluk I, nilai rata-rata siswa adalah 65,85, standar deviasi sebesar 11,109,
varians sebesar 123,415, nilai terendah adalah 50, nilai tertinggi adalah 79 dan
rentang skor sebesar 40.
Jika skor hasil belajar siswa pada tes akhir siklus I dikelompokkan ke dalam
lima kategori maka diperoleh tabel distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut:
Tabel 4.17
Distribusi Frekuensi Hasil Tes Siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89 90 – 100 Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi 7 8 8 2 1 26,92% 30,77% 30,77% 7,7% 3,84% Jumlah 26 100%
Berdasarkan tabel 4.17 diperoleh gambaran bahwa dari 26 jumlah siswa yang
menjadi subjek penelitian terdapat 7 siswa atau sebesar 26,92% yang mendapat nilai
termasuk kategori sangat rendah, 8 orang siswa atau sebesar 30,77% siswa yang
mendapat nilai termasuk kategori rendah, 8 orang siswa atau sebesar 30,77% yang
mendapat nilai termasuk kategori cukup, 2 orang siswa atau sebesar 7,7% yang
mendapat nilai termasuk kategori tinggi, 1 orang siswa atau sebesar 3,84% yang
mendapat nilai termasuk kategori sangat tinggi.
Jika dikaitkan dengan kriteria ketuntasan hasil belajar, maka hasil belajar
matematika siswa setelah penerapan modelpembelajaran kooperatif tipeSnowball
Throwing berbantuan media sederhana pada siklus I dikelompokkan ke dalam dua
kategori sehingga diperoleh skor frekuensi dan persentase seperti yang ditunjukkan
pada tabel berikut:
Tabel 4.18
Distribusi dan Persentase Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar Matematika SetelahPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif TipeSnowball
Throwing Berbantuan Media SederhanaPada Siklus I
No Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 < 75 Tidak tuntas 18 69,23%
2 ≥ 75 Tuntas 8 30,77%
Persentase ketuntasan hasil belajar matematika siswa pada dapat diamati
dalam diagram seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut ini:
Gambar 4.2
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
Berdasarkan gambar4.2 digambarkan bahwa persentase ketuntasan hasil
belajar matematika siswa menunjukkan30,77% siswa mencapai ketuntasan dan
69,23%siswa tidak mencapai ketuntasan. Ini berarti, setelah dilakukan penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing berbantuan media
sederhanahasil belajar matematika siswa kelas VIIDSMP Negeri 7 Palopopada siklus
I belum mencapai ketuntasan klasikal. Oleh karena itu penulis melanjutkan ke siklus
II.
5) Refleksi
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing berbantuan
media sederhana pada materi persamaan linear satu variabel sudah menunjukkan
keberhasilan dengan meningkatkan nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa 30.77%
69.23%
Tuntas Tidak tuntas
pada tes siklus I yaitu 65,85 dibanding dengan nilai rata-rata siswa sebelum tindakan
sebesar48,27. Akan tetapi keberhasilan yang dicapai pada siklus I belum memenuhi
indikator keberhasilan penelitian yang telah ditentukan sebelumnya yaitu tuntas
secara klasikal 80% dari jumlah siswa yang tuntas.
Berdasarkan hasil observasi dari observer dapat dikatakan bahwa aktivitas
belajar siswa pada siklus I terdapat beberapa kendala. Hal ini terlihat dari tingkah
laku siswa yang bermacam-macam, seperti siswa yang mengganggu temannya pada
saat proses pembelajaran, keaktifan siswa yang masih rendah dikarenakan siswa
kurang minat pada saat proses pembelajaran, beberapa siswa tidak mengamati
penjelasan ketua kelompok, kurangnya kerjasama siswa dengan siswa yang lain, serta
rendahnya kemampuan ketua kelompok dalam menjelaskan materi yang diajarkan
karena belum terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball
Throwing dan ketua kelompok masih terlihat malu-malu dalam menjelaskan materi
kepada anggota kelompoknya, sehingga mempengaruhi anggota kelompok dalam
pembuatan soal. Jadi, guru membimbing beberapa anggota kelompok dalam
pembuatan soal.
Pada pertemuan selanjutnya, sebelum ketua kelompok diberikan penjelasan
terkait materi pembelajaran dengan berbantuan media sederhana (poster)
masing-masing aggota kelompok diarahkan untuk membaca buku agar siswa dapat
memahami materi dan siswa dapat mempertanyakan terkait materi yang belum di
pahami serta dapat mengurangi kegaduhan siswa di dalam kelas karena semua siswa
kelompok guru memberikan pujian kepada ketua kelompokkarena sudah berani untuk
memberikan penjelasan kepada teman kelompoknya.
c. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II
Siklus II dilaksanakan selama 3 kali pertemuan, dengan 2 kali tatap muka dan
1 kali evaluasi dipertemuan akhir siklus. Kegiatan pada siklus II ini adalah
mengulang kembali kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan pada siklus I dengan
melakukan perbaikan-perbaikan yang masih dianggap kurang pada siklus I.
1) Perencanaan
Menyusun rencana dan merumuskan masalah berdasarkan analisis pada siklus
I.
2) Pelaksanaan
Peneliti melaksanakan pembelajaran siklus II menggunakan langkah-langkah
yang telah dibuat.
3) Hasil Observasi Siklus II
(a) Hasil Observasi Aktivitas Guru
Hasil observasi aktivitas guru dari dua observer pada siklus II dirangkum
secara singkat dalam tabel berikut :
Tabel 4.19
Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II Jenis
Kegiatan Aktivitas Guru
Pertemuan III IV
Kegiatan Awal
1. Dimulai dengan salam, berdoa, mengecek kehadiran siswa dan menyiapkan siswa untuk mengikuti pembelajaran.
4 4
Siklus II
2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 4 4 3. Guru menyampaikan cara belajar yang akan
ditempuhyakni: kooperatif tipe Snowball
Throwing berbantuan media sederhana
(poster), aktivitas guru dan siswa pada kegiatan pembelajaran tersebut.
3 4
4. Guru mengaitkan dengan materi sebelumnya (review).Dan mengajukan pertanyan dengan tanya-jawab lisan
4 4
Kegiatan Inti
1. Guru menyampaikan informasi materi pelajaran secara singkat. Informasi tersebut berupa: “Anak-anak, hari ini kita akan belajar materi tentang PLSV dengan berbantuan media poster.
3 4
2. Guru mengarahkan siswa duduk dalam kelompok masing-masing. Anggota kelompok harus heterogen terutama dalam kemampuan akademik.
4 4
3. Guru memanggil masing-masing ketua kelompok maju kedepan untuk diberikan penjelasan materi pembelajaran dengan menggunakan media poster dalam menyampaikan materi pembelajaran..
3 4
4. Setelah masing-masing ketua kelompok
menggunakan media poster, Guru
mengarahkan masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian masing-masing ketua kelompok menjelaskan materi yang telah dijelaskan oleh guru kepada teman sekelompoknya. 5. Setelah masing-masing ketua kelompok
menjelaskan materi kepada teman sekelompoknya, Guru memberikan satu lembar kerja untuk menuliskan satu
pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang telah dijelaskan oleh ketua kelompok.
4 4
6. Masing-masing siswa membentuk kertas tersebut seperti bola, Guru mengarahkan siswa dalam pelemparan kertas tersebut ke satu siswa ke siswa yang lain.
4 4
7. Setelah siswa mendapat satu bola, Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas tersebut secara bergantian. Guru bersama-sama siswa membahas jawaban dari siswa tersebut.
3 4
8. Guru mengakui usaha dan prestasi individu
maupun kelompok. 4 4
Kegiatan Penutup
1. Guru memberi siswa pekerjaan rumah (PR)
pada bahan ajar. 4 4
4
2. Guru memberikan motivasi kepada siswa
3. Guru menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan dilaksanakan tes evaluasi pada akhir siklus I.
4 4
4. Guru menutup pelajaran dengan do’a dan
mengucapkan salam. 4 4
Jumlah 58 64
Rata-rata 3,62 4
Rata-rata Aktivitas Guru Siklus II 3,81
Berdasarkan tabel 4.19diperoleh bahwa rata-rata aktivitas guru pada siklus II
dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing berbatuan
media sederhana yaitu 3,81. Dengan menggunakan aturan pembulatan, maka nilai
3,81 dibulatkanmenjadi 4. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa aktivitas guru pada
siklus II berada pada kategori “sangat baik”.
(b) Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Hasil observasi aktivitas siswa dari dua observer pada siklus II dirangkum
secara singkat dalam tabel berikut :
Tabel 4.20
Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II
Kriteria Penilaian Pertemuan ke- Tes Siklus II Rata-rata Persentase (%) III IV Kehadiran siswa 26 26 26 100%
Perhatian siswa terhadap media
sederhana (poster). 5 5 5 19,23%
Perhatian siswa terhadap penjelasan
masing-masing ketua kelompok 22 26 24 92,30%
Bekerja sama dalam kelompok 22 25 23,5 90,38%
pada selembar kertas terkait materi pembelajaran.
Siswa yang menyelesaikan pertanyaan
yang terdapat pada selembar kertas 20 26 23 88,46%
Keaktifan siswa dalam kelompok. 17 23 20 76,92%
Keseriusan siswa dalam memperhatikan penjelasan guru terkait jawaban dari siswa.
19 22 20,5 78,84%
Rata-rata Total 79,80%
Berdasarkan tabel 4.20diperoleh kesimpulan bahwa persentase aktivitas siswa
pada siklus II dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipeSnowball
Throwing berbantuan media sederhanayaitu 79,80%. Berdasarkan kriteria
keberhasilan tindakan, aktivitas siswa ini masih tergolong kategori ”sangat baik”
dengan intervasl skor 76-100.
4) Tes Hasil Belajar Siswa Siklus II
Pada akhir siklus II dilaksanakan tes hasil siklus II. Adapun rekapitulasi tes
hasil belajar siklus II pada siswa kelas VII D SMP Negeri 7 Palopo dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.21
Deskripsi Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Siklus II
Statistik Nilai Statistik
N Mean Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum Sum 26 81,42 6,113 37,374 25 75 100 2117
Berdasarkan tabel 4.21yang menggambarkan tentang distribusi skor hasil tes
belajar sikluk II, nilai rata-rata siswa adalah 81,42, standar deviasi sebesar 6,113,
varians sebesar 37,347, nilai terendah adalah 75, nilai tertinggi adalah 100 dan
rentang skor sebesar 25.
Jika skor hasil belajar matematika siswa siklus II jika dikelompokkan kedalam
lima kategori maka diperoleh tabel distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar
matematika siswa sebagai berikut:
Tabel 4.22
Distribusi Frekuensi Hasil Tes Siklus II
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89 90 – 100 Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi 0 0 9 14 3 0% 0% 34,62% 53,85% 11,53% Jumlah 26 100%
Berdasarkan tabel 4.22 diperoleh gambaran bahwa dari 26 jumlah siswa yang
menjadi subjek penelitian tidak ada siswa yang mendapat nilai kategori sangat rendah,
dan rendah, 9 orang siswa atau sebesar 34,62% siswa yang mendapat nilai termasuk
kategori cukup, 14 orang siswa atau sebesar 53,85% siswa yang mendapat nilai
termasuk kategori tinggi dan 3 orang siswa atau sebesar 11,53% siswa yang
mendapat nilai termasuk kategori sangat tinggi.
Jika dikaitkan dengan kriteria ketuntasan hasil belajar, maka hasil belajar
matematika siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipeSnowball
0% 20% 40% 60% 80% 100%
Tidak Tuntas Tuntas
kategori sehingga diperoleh skor frekuensi dan persentase seperti yang ditunjukkan
pada tabel berikut:
Tabel 4.23
Distribusi dan Persentase Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar Matematika SetelahPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif TipeSnowball
Throwing Berbantuan Media Sederhana Pada Siklus II No Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 < 75 Tidak tuntas 0 0%
2 ≥ 75 Tuntas 26 100%
Jumlah 26 100%
Persentase ketuntasan hasil belajar matematika siswa dapat diamati dalam
diagram seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut ini
Gambar 4.3
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II
Berdasarkan gambar 4.3 bahwa persentase ketuntasan hasil belajar
matematika siswa menunjukkan100 % siswa mencapai ketuntasan dan 0% siswa
tidak mencapai ketuntasan.
Pada siklus II untuk mengatasi minat belajar siswa, guru memberikan hadiah
kepada siswa sehinggaperhatian dan semangat siswa untuk belajar semakin
memperlihatkan kemajuan serta semakin berkurangnya siswa yang melakukan
kegiatan lain saat proses pembelajaran berlangsung. Ini terlihat dari antusias dan rasa
ingin tahu siswa untuk menanyakan materi yang kurang dipahami.
Berdasarkan deskripsi hasil penelitian pada siklus II, maka dapat dikatakan
bahwa pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe Snowball Throwingberbantuan media sederhana (poster) dapat meningkatkan
aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar siswa.
Pada kegiatan kelompok, pemahaman materi yang disampaikan penulis
kepada masing-masing ketua kelompok pada materi persamaan linear satu variabel
dengan berbantuan media sederhana (poster) sudah mengalami peningkatan terlihat
dari kemahiran masing-masing ketua kelompok dalam menjelaskan materi sehingga
masing-masing anggota kelompok mampu membuat pertanyaan terkait materi
persamaan linear satu variabel dan mampu menjawab pertanyaan yang dibuat oleh
kelompok lain.