DESKRIPSI UPACARA ADHI TIRUWILA 3.1 Latar Belakang dan Tujuan Pelaksanaan Upacara
Umat Hindu percaya bahwa alam semesta dengan bintang, dan benda- benda di ruang angkasa yang tidak terlihat oleh, sebenarnya di dalam tubuh Ida Sanghyang Widhi. Bumi ini tidak lebih dari sebuah sel dalam tubuh-Nya. Cara yang paling mudah dan paling indah untuk mendekati Tuhan adalah melalui rasa.
Untuk membangkitkan rasa cinta kepada Tuhan maka diperlukan suatu kondisi tertentu, kondisi yang dapat membuat agar rasa keTuhanan muncul dan hidup dengan mantap. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu membuat Kuil di tempat-tempat yang indah, bersejarah atau yang dapat membangkitkan kekaguman akan kebesaran Tuhan, disamping dekat dan mudah dicapai umat- Nya.
Yo devo’ gnam yo’ psu Yo visnam bhuvana mavivesa Ya osadhisu yo vanaspatisu tasmai Devaya namo namah
(Svetasvataropanisah II.7)15
Dalam kondisi yang demikian maka orang akan mudah mengagumi dan menghormati Tuhan, dan rasa ego atau keakuan mulai lenyap diganti rasa kagum dan hormat maka konsentrasi pikiran kepada Tuhan pun akan lebih mantap dan terpusat. Bahan dan bentuk Kuil pun tidak dibuat menyerupai rumah tempat Terjemahan :
Sujud pada Tuhan yang ada dalam api, yang ada di air, yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh- tumbuhan, yang ada dalam pohon kayu.
15
tinggal ataupun gedung. Bagi umat Hindu Kuil adalah kahyangan tempat memuja kekuasaan Tuhan, karena itu dibuatlah Kuil dengan bentuk dan bahan berbeda dengan yang lain, sehingga bila kita memasuki kuil maka perasaan pun seperti masuk ke kahyangan, dan Tuhan pun seperti ada di Kuil tersebut.
Perwujudan rasa hormat tersebut terlihat pada etika hidup masyarakat Hindu dimana arah kaja yaitu gunung dianggap sebagai hulu (kepala). Gunung dan matahari terbit adalah merupakan kiblat (arah) dimana umat Hindu menundukkan kepala kehadapan Ida sanghyang Widhi pada saat bersembahyang, sebagai perwujudan rasa bakti. Gunung dikenal dengan nama Acala Lingga yang berarti tempat Tuhan yang tidak bergerak, karena kenyataannya gunung memang tidak dapat dipindahkan sehingga umat Hindu yakin gunung adalah sebagai linggih Ida Sanghyang Widhi.
Di samping arah gunung, arah matahari terbit yaitu arah timur adalah arah yang dianggap suci. Letak bangunan Kuil umat Hindu sebagian besar terletak di arah timur menghadap ke barat, sehingga umat yang sembahyang pun akan menghadap ke timur. Hal ini didasari oleh keyakinan umat Hindu bahwa matahari adalah simbol kekuasaan Ida Sanghyang Widhi, karena matahari mempunyai pengaruh yang besar terhadap hidup dan keselamatan umat manusia. Karena kekuatan yang diciptakan matahari menyebabkan bumi berputar, aingin dan air beredar. Dengan sinar matahari semua makhluk bias hidup, bila matahari tidak ada maka bumi pun mati.
Maka pada waktu sembahyang, umat Hindu mencakupkan tangannya memuja Tuhan ke arah matahari terbit (timur) atau ke arah gunung. Tempat darimana Ida Sanghyang Widhi telah menyampaikan kasih berupa anugerah yang
berlimpah kepada semua makhluk, darimana datangnya kasih tersebut melalui itu pula umat Hindu menundukkan kepala menyatakan terimakasih.
Bagi umat Hindu penyucian suatu tempat suci (Kuil) adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan. Sebuah tempat suci harus tetap dijaga kesuciannya karena merupakan Sthana (tempat tinggal) dari Ida Sanghyang Widhi. Adapun hal yang melatarbelakangi upacara adalah disebabkan karena adanya rasa syukur dan kekaguman umat Hindu Tamil pada masa lampau kepada Dewi Dhurga sebagai Dewi yang sudah berjasa melawan keangkara maut dan penyakit supaya pada masa lampau penyakit itu tidak diturunkan kepada umat Hindu, karena penyakit cacar dan kolera dapat menyebabkan kematian.
Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu Tamil merayakan upacara ini yang bertujuan untuk meyenangkan hati nenek mereka (Dewi Dhurga). Kemudian permohonan yang dilakukan Dewi Dhurga kepada Dewa Hindu dikabulkan, maka mereka membuat perayaan ini sebagai ungkapan syukur mereka kepada Dewi Dhurga.
Dikatakan upacara Adhi Tiruwila karena pengertian Adhi yaitu Bulan dan Tiruwila adalah panas. Maka Adhi Tiruwila adalah bulan panas yang mereka anggap karena banyak para umat pada masa lampau terkena penyakit yang dapat mematikan masyarakat terutama penyakit cacar dan kolera. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu Tamil ini menyediakan bubur pada saat upacara dilaksanakan karena bubur bagi mereka dapat mendinginkan suasana yang panas pada masa lampau.
3.2 Tempat Pelaksanaan Upacara
Dalam membahas tempat pelaksanaan upacara Adhi Tiruwila, penulis akan menyebutkan satu-persatu seperti yang penulis saksikan pada saat upacara dilaksanakan. Tempat awal upacara Adhi Tiruwila dilaksanakan di Kuil dan Aula Shri Singgamma Kali Koil yang diselenggarakan mulai pagi sampai dengan siang hari. Di dalam Kuil tepatnya di Altar telah dipersiapkan patung Dewa Ganesha (sebagai Guru), Dewa Murga (sebagai Pengawal), dan Dewa Singgamma Kali (sebagai Ketua) sebagai alat perantara umat Hindu Tamil kepada Ida Sang Hyang Widi (Tuhan Yang Maha Esa) untuk setiap permohonan setiap umat pada saat acara persembahyangan. Dan dibagian bawah Altar adalah sebagai tempat sesajen atau persembahan jemaat kepada Dewa16
Upacara Adhi Tiruwila dilaksanakan setiap akhir bulan Juli hingga pertengahan bulan Agustus yang dilaksanakan sekali dalam setahun, yang artinya acara puasa dimulai sejak akhir bulan Juli hingga pertengahan bulan Agustus
Hindu.
Pada malam harinya, upacara Adhi Tiruwila dilaksanakan di Kuil yang jaraknya tidak jauh dari Kuil Shri Singgamma yaitu kira-kira 100 Meter. Kemudian pada hari Minggu, upacara Adhi Tiruwila dilaksanakan di pinggir Sungai Deli dan setelah upacara selesai kembali lagi ke Kuil Shri Singgamma Kali Koil.
3.3 Komponen Upacara 3.3.1 Saat Upacara
16
Dewa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu div yang berarti sinar cahaya (nur). Dewa-dewa yang dihubungkan untuk satu aspek tertentu dari fenomena alam semesta ini. Tiap aspek dikuasai oleh satu dewa atau lebih dengan ciri-ciri atau lambang-lambangnya yang khusus pula. Dewa-dewa diciptakan sebagaimana alam semesta ini, untuk mengendalikannya. Dewa bukanlah Tuhan.
dimana perhitungan lamanya berpuasa minimal 21 hari sampai pelaksanaan upacara.
3.3.2 Benda-benda dan Alat-alat Upacara
Dalam membicarakan benda-benda dan alat-alat upacara, penulis membaginya dalam enam bahasan yaitu : (1) Dhupa dan Dipa, (2) Puspa (bunga), (3) Tirtha/toya (air suci), (4) Powedan, yaitu benda-benda yang dipakai untuk mendukung jalannya upacara, Yadnya (kurban suci), dan (6) Banten (sesajen). Di dalam kitab Wedaparikrama (1989:34) yang mula-mula disebutkan dari semua jenis alat perlengkapan upacara adalah dhupa dan dipa. Dhupa (kewangen) adalah sejenis harum-haruman yang dibakar, yang berbau harum harum (wangi). Kewangen sebagai lambang Omkara yang merupakan huruf suci umat Hindu. Kewangen dipergunakan untuk memuja Sanghyang Widhi dalam wujud Purusa dan Pradana Ardanareswari sebagai pemberi anugrah, sedangkan fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan dan juga untuk mohon waranugraha.
Pada upacara Adhi Tiruwila, wujud dari kewangen yang dimaksud adalah daun sirih. Dalam persembahyangan daun sirih tersebut diartikan untuk mengharumkan nama Tuhan. Sedangkan dipa/agni (api) dalam upacara Adhi Tiruwila yaitu sebatang lidi yang telah diberikan unsur kimia agar dapat menyala terus. Tetapi yang terpenting adalah untuk mengadakan api dengan asapnya dan untuk membuat harum dipakai kemenyan, kulit duku, kayu cendana dan sebagainya. Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu wangi artinya harum, mendapat awalan ‘ka’ dan akhiran ‘an’ menjadi kewangian, lalu disandikan menjadi kewangan yang artinya keharuman. Fungsi kewangen dapat diartikan
untuk mengharumkan nama Tuhan dan juga untuk mohon waranugraha (anugrah).
Api adalah lambang dari Dewa Agni. Api selalu dipergunakan dalam setiap upacara. Mulai dihidupkan pada permulaan upacara. Adapun dari pada api adalah:
1. Sebagai lambang sinar suci Ida Sanghyang Widhi yang menyinari alam semesta beserta isinya dengan penuh kebijaksanaan dan memberi kehidupan kepada alam semesta ini. Dalam Isa Upanisad mantra 18 disebutkan sebagai berikut: “Agne naya supatharaye asman.wisma ni dena wayunani widman. Yuyudy asmay juhura am. Enobhuistam tenama uktim widhena”.
Terjemahan : “Oh Tuhan, kuat laksana api, Maha Kuasa tuntunlah kami semua, segala yang hidup ke jalan yang baik, segala tingkah laku menuju kepada-Mu yang bijaksana, jauhkan dari jalan yang tercela yang jauh dari pada-Mu, baik penghormatan maupun kata-kata yang hamba lakukan.
2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja.
3. Api sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat.
4. Api sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Api dengan sinarnya yang menyala adalah merupakan penerangan dalam alam ini.
3.3.2.2 Puspa (Bunga)
Puspa (bunga) merupakan bentuk sesajen yang paling mudah dan murah. Bagi umat Hindu, puspa dipakai untuk keperluan sembahyang dan membuat beraneka ragam canang17
Percikan air suci kepada umat dalam upacara bertujuan untuk mendapatkan kesehatan, ketentraman (damai di hati), kebahagiaan dan lain-lain. Air dianggap mempunyai kekuatan untuk melenyapkan pengaruh jahat. Demikian pentingnya air dalam kehidupan beragama sehingga upacara keagamaan tidak pernah lepas dari pada penggunaan air. Air yang telah disucikan disebut dengan . Untuk kesucian dan kebersihan dalam pembuatan canang dipetik bunga yang masih segar bukan yang jatuh dari pohon. Ini menyatakan bahwa umat memberikannya dengan penuh keikhlasan sebagai wujud rasa terimakasih dan bakti kepada Ida Sanghyang Widhi.
Puspa ini memiliki dua fungsi yang penting yaitu sebagai simbol Ida Sanghyang Widhi dan sebagai sarana persembahan. Bunga sebagai sarana persembahan maka bunga dipakai untuk mengisi upacara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sanghyang Widhi ataupun roh leluhur untuk menyatakan rasa bakti yang tulus dan suci.
3.3.2.3 Tirtha/Toya (Air Suci)
Air memegang peranan penting dalam upacara keagamaan. Air untuk memelihara kebersihan, untuk pedupaan, untuk pembabtisan dan lain-lain. Air sebagai lambang pelebur dosa dan menghabiskan noda-noda sehingga badan menjadi suci dan bersih, air juga merupakan simbol amerta (hidup). Semua peralatan upacara harus diperciki air suci sebelum upacara dimulai.
17
tirtha/toya. Penyucian dilakukan oleh Guru Kal. Tirtha merupakan sarana untuk sembahyang yang penting, berfungsi untuk menyucikan diri.
3.3.2.4 Upakara
Menurut Guru Kal, kumpulan dari seluruh alat-alat upacara yang dipergunakan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan Hindu Tamil disebut dengan upakara. Adapun yang termasuk ke dalam kelompok upakara adalah: (1) penjor, (2) daun nimi (3) pajeng, (4) bendera, (5) ciwamba.
3.3.2.4.1 Penjor
Pada awal pelaksanaan upacara Adhi Tiruwila, di depan pintu pagar halaman depan Kuil dipancangkan dua dua buah penjor di kiri dan kanan pintu yaitu sebagai pernyataan selamat datang kepada umat Hindu Tamil dan juga kepada masyarakat yang menyaksikan upacara. Penjor adalah suatu karya seni yang bernilai religius, yang terbuat dari sebatang bambu dan dihias sedemikian rupa serta di isi dengan berbagai perlengkapan tertentu. Penjor selaku sarana atau perlengkapan upacara adalah sebagai lambang gunung yang tinggi (tempat suci). Dari aspek estetik, penjor memberi rasa keindahan bagi yang melihatnya karena penjor dibuat seindah-indahnya sehingga suasana menjadi lebih semarak. Penjor selalu dipasang sebelum hari pelaksanaan upacara yaitu sehari sebelum upacara.
3.3.2.4.2 Daun Nimi
Daun nimi adalah daun yang langka untuk ditemukan bahkan sebagian kecil orang saja yang mengenalnya. Daun nimi juga dapat dijadikan untuk obat yang dapat menyembuhkan 41 jenis penyakit hanya dengan merebus dan meminum air rebusannya. Daun ini mempunyai peranan dan pengaruh untuk kesucian, senjata alam gaib untuk memusnahkan semua roh jahat. Daun nimi
dibentuk sedemikian rupa sebagai ganti patung Dewi yang dihiasi bunga yang berwarna-warni yaitu: merah, putih dan ungu.
Setelah patung dewi terbentuk, mereka membuat lambang yang terbuat dari besi di ujung dedaunan yang telah dibentuk yang disebut Trisula yaitu tiga gerak yang harus disucikan yaitu: pikiran, perkataan atau ucapan dan perbuatan. Dan di ujung Trisula tersebut ditancapkan jeruk nipis yang bertujuan supaya upacara itu tidak kasar tetapi adem dan dingin. Setiap mengawali upacara, Guru kal membunyikan lonceng menandakan upacara sedang dilaksanakan dan menyambut kedatangan para jemaat yang hadir baik juga masyarakat yang menyaksikan upacara Adhi Tiruwila.
Penggunaan daun dalam upacara berfungsi sebagai:
a. Sarana untuk kelengkapan dan kesempurnaan untuk dipersembahkan. b. Sarana untuk dapat mengkonsentrasikan diri dan sarana untuk memuja
Hyang Widhi beserta manifestasinya.
c. Suatu cetusan hati nurani yang suci diiringi dengan rasa bakti untuk dipersembahkan kehadapan-Nya.
d. Sarana untuk menyampaikan rasa terimakasih ke hadapan Ida Sanghyang widhi atas anugerah-Nya.
e. Sarana penyucian diri lahir batin untuk terbebas dari kotoran dan mara bahaya.
Buah-buahan juga merupakan sebagai sarana dalam upacara Adhi Tiruwila. Jenis buah-buahan banyak digunakan oleh umat Hindu sebagai persembahan dan sebagai wujud rasa terimakasih ke hadapan Ida Sanghyang Widhi.
Dalam agama Hindu sarana persembahan berupa buah-buahan yang disebut dengan phalam. Kata phalam berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya sebiji buah-buahan. Dari kata phala ini, maka ada jenis buah-buahan yang digunakan yang disebut: phala gantung dan phala bungkah. Phala gantung adalah jenis buah-buahan dari suatu pohon tertentu, seperti: buah kelapa, pisang, mangga, rambutan, apel, pinang, salak dan jenis buah-buahan lainnya. Phala bungkah adalah suatu hasil yang diperoleh dari suatu tanaman tertentu. Jenis phala bungkah ini berupa umbi-umbian, seperti: umbi ketela rambat, keladi, kentang, kunyit, jahe, kencur, lengkuas maupun jenis umbi lainnya.
3.3.2.4.3 Pajeng/Tedeng
Pajeng/Tedeng adalah sejenis payung yang hanya digunakan untuk upacara-upacara keagamaan saja. Payung ini merupakan payung kebesaran, terbuat dari kain dengan dasar warna merah kemudian diberi ukuran dengan benang warna emas, dibawahnya terdapat umbul-umbul dari benang. Sedangkan pegangannya terbuat dari kayu sebesar kepalan tangan orang dewasa dan diberi cat warna merah.
3.3.2.4.4 Bendera
Bendera dalam upacara Adhi Tiruwila terdiri dari tiga warna yaitu: kuning, putih dan coklat. Dipasang di depan kuil. Tiang dari bendera ini dibuat dari bambu yang masih utuh dengan ujungnya. Dipilih bambu yang lengkungan ujungnya tampak lemas dan indah.
3.3.2.4.5 Ciwambha (Argha)
Ciwambha merupakan tempat air suci (tirtha). Ciwambha adalah lambang Ida Sanghyang Widhi dan dilambangkan dengan penciptaan dan kehidupan.
Ciwambha di isi air sebagai amerta. Melalui proses konsentrasi air ini dijadikan air suci (tirtha) untuk dipakai melengkapi upacara tersebut.
3.3.3 Pendukung Upacara 3.3.3.1 Guru Kal
Pimpinan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan upacara Adhi Tiruwila adalah seorang Guru Kal yaitu Bapak Silin. Sebagai pemimpin upacara Guru Kallah yang berhak menyampaikan mantra (doa) atas nama seluruh umat Hindu Tamil. Selain itu dalam pelaksanaan upacara ini hanya Guru Kal yang dapat memberikan nasehat dan bimbingan serta penjelasan mengenai pelaksanaan upacara.
Dalam hal pakaian, pakaian yang dikenakan oleh Guru Kal berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh umat. Hal yang paling jelas adalah pada saat melaksanakan tugasnya dimana Guru Kal memakai pakaian yang berupa kain yang terbuat dari sutra yang berwarna putih dan orange.
3.3.3.2 Panitia dan Jemaat
Pada upacara Adhi Tiruwila selain Guru Kal, upacara ini juga didukung oleh panitia dan jemaat yang hadir, baik jemaat yang dari dalam maupun yang dari luar Kuil Shri Singgamma. Bahkan dalam hal ini, jemaat yang mengikuti jalannya upacara adalah merupakan jemaat yang tidak pernah sembahyang di Kuil tersebut.
Mereka sangat senang menyaksikan upacara Adhi Tiruwila disebabkan oleh karena ada acara nazar atau niat yang dilakukan dengan upacara cucuk lidah dan cucuk badan. Upacara Adhi Tiruwila tidak memiliki susunan kepengurusan, melainkan dibawah pimpinan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
Umat Hindu Tamil yang mengikuti upacara Adhi Tiruwila ini sebagian besar adalah etnis Tamil, selain itu adalah etnis lain yang beragama Hindu antara lain etnis Jawa, Karo, Toba, Simalungun dan lain sebagainya.
3.4 Kronologis Upacara
Pada tahap pertama upacara ini disebut dengan Shakti Kargem. Pelaksanaan upacara ini dilaksanakan pada hari Jumat pukul 10.00 wib s/d selesai yaitu penaikan bendera yang di dominasi warna kuning dan gambar singa berwarna coklat sebagai lambang Dewi Dhurga yang memiliki sakti atau kekuatan. Setelah itu Guru Kal membacakan mantra dan membunyikan lonceng pertanda upacara akan dimulai. Selanjutnya, setelah bendera dikibarkan semua jemaat masuk ke dalam Kuil untuk bersembahyang untuk memohon restu kepada Ida sanghyang Widhi supaya sepanjang upacara ini dimulai sampai dengan selesai tidak ada yang mengganggu demi kelancaran upacara Adhi Tiruwila tersebut yang di pimpin oleh Guru Kal.
Setelah acara sembahyang selesai, semua jemaat memakan bubur yang sudah disediakan oleh kaum wanita sambil mendengarkan musik hiburan yang dimainkan oleh pemusik yang berasal dari Malaysia. Para pemusik dengan atraktifnya memainkan alat musiknya sambil disaksikan oleh jemaat yang tinggal di Kuil. Sementara Guru Kal bersama jemaat yang sudah dipilih oleh panitia, berjalan keliling sekitar Kuil sampai ke wisma tempat dimana mereka akan makan selama upacara tersebut berlangsung.
Setelah itu, pada siang hari pukul 13.00 wib s/d selesai semua jemaat dan orang-orang sekitar Kuil diundang untuk makan bersama di wisma tersebut. Kemudian acara kembali dimulai pada malam hari pukul 19.00 wib s/d pukul
00.00 wib. Para jemaat berkumpul kembali di Kuil dengan menggunakan pakaian yang rapi, yang wanita kebanyakan memakai sari dan yang pria memakai kemeja, kaum pria yang ikut dalam panitia memakai kaus berwarna kuning yang sudah di Desain sebelum acara dilaksanakan.
Acara pada malam hari dilaksanakan di belakang Kuil yang berada di dekat Kuil Shri Singgamma Kali. Guru Kal dan panitia merangkai patung Dewi Dhurga yang dibuat dari daun nimi dan bunga yang berwarna-warni yaitu merah, putih, dan ungu dan dirangkai di dalam kendi yang berisi susu lembu yang dicampur dengan bubuk kunyit, bubuk cendana, dan minyak wangi.
Kemudian Guru Kal membacakan mantra sampai panglima yang sudah dipilih oleh panitia sebanyak tiga orang kemasukan oleh Dewa mereka. Setelah itu, panglima yang sudah kemasukan itu berdiri diatas samurai yang sangat tajam dengan berkata-kata bahasa sansekerta dan membuat bhiputi di kening orang yang dipilihnya sebagai tanda rasa kasih sayangnya kepada orang tersebut. Setelah ketiga panglima yang kemasukan tersebut selesai berdiri diatas samurai, panitia dan semua orang yang menyaksikan upacara itu berjalan keliling di sekitar Kuil yang dipandu oleh panglima. Arak-arakan ini bertujuan mengunjungi orang yang sedang sakit dan Dewi Dhurga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit yang dikunjungi pada waktu berkeliling.
Banyak jemaat dan orang-orang yang non beragama Hindu ikut mengiringi arak-arakan membawa Dewi Dhurga. Menurut peneliti, jumlah orang yang ikut dalam arak-arakan ini adalah lebih kurang sekitar 1000 orang. Ketika ada yang sakit, panglima memandu untuk berhenti di depan rumah jemaat yang sedang sakit. Dalam acara ini, musik juga berperan penting untuk menyenangkan
hati Dewi Dhurga, dan juga sebagai penghormatan kepadanya. Para pemain musik berasal dari Malaysia. Ensamble musik yang mereka gunakan adalah Uremee Melam dan Nagasvaram. Saat mengiringi arak-arakan, pemain musik dengan atraktifnya memainkan musiknya.
Alasan mengapa pemain musik dipanggil dari Malaysia oleh panitia, karena ada jemaat Kuil yang berekonomi menengah keatas memberikan sumbangan kepada panitia, supaya upacara Adhi Tiruwila lebih meriah. Umat Hindu Tamil yang hadir pada upacara Adhi Tiruwila, bukanlah berasal dari Medan saja, melainkan dari berbagai kota bahkan ada yang dari luar negeri, seperti: Jakarta, Bali, Tebing Tinggi, Malaysia dan Singapura.
Setelah selesai berkeliling, para jemaat kembali ke Kuil untuk mengadakan persembahyangan untuk berdoa mengucap syukur atas jasa dan kebaikan Dewi Dhurga yang sudah selesai berperang menyembuhkan orang- orang yang sakit. Sebelum masuk kedalam Kuil, panitia terlebih dahulu memecahkan kelapa muda yang sudah disediakan guna untuk menyambut kepulangan Dewi Dhurga kembali ke Kuil dan juga merupakan syarat dalam upacara ini. Setelah selesai acara persembahyangan, jemaat kembali ke rumah mereka masing-masing untuk beristrahat karena pada keesokan harinya acara dilanjutkan kembali.
Pada tahap kedua, keesokan harinya yaitu pada hari Sabtu, acara dimulai pada pukul 11.00 wib s/d 14.00 wib. Acara ini dinamakan Trobathi Amma. Dalam persiapan acara ini, panitia dan Guru Kal mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat patung Dewi Dhurga yang lebih besar lagi dan juga mempersiapkan sesajen yang sudah dibawa oleh jemaat ke Kuil.
Patung Dewi Dhurga yang mereka bentuk dihias dengan bunga yang berwarna-warni yang dibuat diatas tandu yang besar sebagai tempat Dewi Dhurga untuk dibawa berkeliling pada malam harinya. Panitia juga bekerjasama dengan aparat keamanan untuk mengatur lalulintas pada saat arak-arakan dan juga selama